kyahooooo~~~~
adakah yang masih menunggu updetan fic ini?
ettooo.. ada gag? ada gag?
*celingak celinguk*
yah, to iu wake de, saya ucapkan terimakasih pada pembaca dan reviewer yang udah nyempetin diri mampir ke fic ini... oh, dan juga mulai dari sini rebiyunya saya bales lewat PM ya... ^^
selamat membaca bagi yang ingin membaca, bagi yang gag ingin membaca, douzo, ada tombol back di pojok sana..
yukkuri yonde kudasai, minna~~~
CHAPUTAA SAN : "KOKUHAKU-NODAYO"
~Normal P.O.V.~
Pemuda itu berlari menjauh dari pantai. Ia tak menggubris panggilan kedua kakaknya. Yang ia lakukan sekarang hanya berlari. Dan yang ada di pikirannya sekarang hanya pemuda berambut hijau tua yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.
Ia akui, ia jatuh cinta. Ia suka padanya. Walau diakuinya juga bahwa lelaki itu itu aneh, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa sosok nyentrik itu sudah menarik hatinya. Kemudian beberapa saat lalu—tidak—baru aja, ia melihat orang yang disukainya berciuman dengan orang lain. Mungkin inilah yang dinamakan sakit hati. Atau ini sudah jadi patah hati? Ia patah hati sebelum sempat mengutarakan perasaannya!?
Si biru itu mengusap matanya. Ia menangis. Bulir-bulir asin itu tanpa bisa dihentikan keluar dari mata sapirnya. Hatinya terlalu sakit untuk bisa menghentikan jatuhnya air mata itu. Ia mengepalkan tangan kanannya yang sedari tadi memegang dada bagian kirinya. Seakan dengan melakukan itu, dia bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang melandanya.
"Midorima-kun," bibirnya meluncurkan nama itu dengan nada perih.
*nanodayo*
Midorima duduk di hamparan pasir dengan pandangan lurus ke arah pantai. Memperhatikan ombak-ombak kecil yang bergulung menuju pesisir untuk kemudian mengalir lagi ke arah laut. Ia baru saja ditinggalkan oleh ketiga orang yang mengajaknya kemari. Walau dua orang di antaranya sudah menjelaskan alasan mereka harus pergi, tapi entah kenapa hatinya tak tenang. Aah, tentu saja. Orang yang disukainya tiba-tiba berlari pergi dari pantai, dan bahkan kedua kakaknya pun tak tahu alasannya. Mochiron, aitsu wa ochitsukanai—tentu saja dia tak bisa tenang.
Lelaki itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berdiri dari tempatnya duduk. Tidak ada artinya lagi dia di sini. Tak ada Kuroko yang diharapkannya. Ia juga masih shock dengan kelakuan Takao padanya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pergi dari situ. Setidaknya ia akan ke kamar mandi dan guyuran air dari shower akan membersihkan badannya—dan juga ketidaktenangannya.
Sekitar 30 menit, Midorima baru keluar dari kamar mandi umum yang memang disiapkan di pantai itu untuk mereka-mereka yang ingin membersihkan badan sehabis bermain pasir dan air laut atau sekedar untuk berganti pakaian. Kemudian ia kembali ke penginapan. Setelah memakai sebuah kaos berwarna putih dan tetap memakai celana renang ungu yang sudah dikeringkannya, ia kemudian ke ruang latihan.
Satu-satunya hal yang menurutnya dapat dilakukannya sekarang hanya bermain basket. Karenanya, ia segera mengambil keranjang basket di ruang penyimpanan dan kemudian melemparkan bulatan-bulatan orange itu ke dalam ring. Ia mengulanginya terus dan terus hingga seseorang masuk ke dalam ruang latihan itu. meninterupasi apa yang tengah ia lakukan.
"Wah, wah, bukankah seharusnya kau masih di pantai, Shin-chan?" ujar orang yang baru saja masuk. Midorima mengurungkan niatnya untuk melemparkan bolanya—yang ke sekian kali—lalu menoleh pada orang yang berbicara dengannya. Midorima tahu siapa yang orang itu karena sudah hapal siapa pemilik suara itu, tapi tetap saja dia tertegun begitu sosok Takao tertangkap oleh mata hijaunya.
"Nn? Doushita no?" tanya Takao dengan wajah polosnya melihat tak ada reaksi apapun dari Midorima selain diam.
"Ara, masaka... Shin-chan wa mada ano kisu o kangaeteru?—Eh, jangan-jangan, Shin-chan masih memikirkan tentang ciuman tadi?—" tebak Takao dengan nada jahil. Ia lalu menutup mulutnya menahan tawa yang pada akhirnya tawa itu pecah juga. Midorima masih diam saja.
"Maji!?—Eh, beneran!?—" Takao menaikkan suaranya pertanda kaget. Seketika ia menghentikan tawanya lalu menatap Midorima serius.
"Takao, saki no kisu wa dou iu imi nodayo?—Takao, ciuman yang tadi, apa artinya nodayo?" Midorima membuka suara. Meski nada suaranya tetap sama seperti saat-saat Midorima berbicara biasa, tapi Takao tahu, saat ini partnernya itu tengah bertanya dengan serius.
Takao berjalan mendekat. Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Midorima masih menatap Takao dengan tatapan serius meminta jawaban, sedang Takao menatap Midorima dengan mata penuh tekad.
"Hontou ni shiritai no ka, Shin-chan?—Kau benar-benar ingin tahu, Shin-chan?—" Takao bertanya sambil menatap lekat iris emerald itu.
"Atarimae nanodayo—Tentu saja nanodayo—" jawab Midorima.
"Naraba, kokuhaku suru yo. Ore.. Shin-chan ga suki..—Kalau gitu, aku akan mengaku. Aku.. menyukaimu, Shin-chan..—" Takao berkata dengan serius membuat Midorima membelakkan matanya tanda tak percaya.
"Ap-apa yang ka—?"
Pemuda bermata rajawali itu hanya tersenyum maklum menanggapi reaksi sang partner. Ya, dia tak akan kaget dengan reaksi Midorima yang seperti ini, karena selama ini dia berhasil menyembunyikan perasaan sukanya itu. Sebenarnya ia memang tak berniat mengungkapkannya, tapi saat ia tahu Midorima mulai memperhatikan Kuroko, niat itu hilang. Ia tak mau Midorima meninggalkannya. Ia ingin selalu berada di samping pemuda itu. Hanya itu yang ada dalam pikirannya.
"Aku bilang, aku menyukaimu, Midorima," sekali lagi Takao menungkapkan perasaannya. "Aku selalu ingin bersamamu, ada di sampingmu, itu yang selalu kupikirkan tentangmu."
Midorima masih diam. Ia memperhatikan si hawk's eye dan tak menemukan kebohongan di mata hitam itu. Yang ada di sana hanya tekad dan kejujuran, juga harapan yang dicoba disembunyikan.
"Kalau aku bilang, aku tidak memerlukan jawaban darimu dan hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja, itu bohong. Kau tau apa maksudnya, kan?"
Dan dengan kalimat itu, Takao berbalik. Ia melenggang keluar ruang latihan meninggalkan Midorima yang masih berdiri bergeming di tempatnya.
*nanodayo*
Kise dan Aomine tengah bingung sekarang. Keduanya sedari tadi memanggil Kuroko yang telah meringkuk di bawah selimut futonnya, tapi tak ada sahutan. Kuroko tetap diam tanpa suara. Hanya gerakan naik-turunnya selimut yang teratur yang menjadi tanda bahwa remaja manis itu ada di dalam sana.
"Haaaaaahh..." suara hembuasan napas berat terdengar dari Aomine. "Oi, Tetsu. Omae.. aitsu ga suki darou?—Hey, Tetsu. Kau.. menyukainya, kan?—" pertanyaan pertama dari Aomine itu membuat Kise berjenggit kaget dan berhasil membuat gundukan-Kuroko-di-bawah-selimut itu tersentak.
"Naraba kokuhaku shiro yo!—kalau begitu ungkapkan saja!—Kalau kau hanya seperti itu, dia tidak akan mengetahui perasaanmu, baka!" lanjut Aomine sarkatis.
"Aomine-kun wa nanimo shiranai desu—Aomine-kun tidak tahu apa-apa," jawab gundukan itu setelah terdiam beberapa saat.
"Aa, sou da. Ore wa nanimo shirané zo. Dakara omae hitori de shiro! Omae no chikara de yare!—Ah, kau benar. Aku memang nggak tau apa-apa. Makanya lakukan sendiri! Lakukan dengan kekuatanmu sendiri!"
Sekali lagi kata-kata Aomine berhasil membuat Kuroko tersentak. Sejenak, ruangan itu kembali sunyi hingga warna baby blue mulai menunjukkan dirinya dari balik selimut yang perlahan terbuka. Senyum lega Kise langsung terkembang. Tanpa ba-bi-bu lelaki itu langsung menerjang Kuroko yang mulai duduk di atas futonnya.
"Huaaaaa... Kurokocchi hidoi ssu. Ore shinpai da yo. Huuaaaaaaa.." rengekan Kise mulai terdengar.
"Gomen nasai. Mou daijoubu desu,"kata Kuroko yang ditujukkan pada Kise. Ia kemudian memandang Aomine. "Arigatou, Aomine-kun," ujarnya.
"Heh! Jangan bikin Kise khawatir lagi, baka!"
"Hai."
*nanodayo*
"Haaaaahhhhh..." hembusan napas berat berasal dari mulut seorang pemuda yang tengah duduk di bawah pohon. Lelaki itu tengah banyak pikiran. Sedari tadi ia hanya menatap warna hijau di hadapannya tanpa bergerak. Pikirannya sibuk mengingat pengakuan orang yang selama ini selalu ada di sampingnya, partnernya.
"Kenapa aku tak pernah menyadarinya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia kembali tenggelam dalam pikirannya.
"Midorima-kun," panggilan seseorang padanya membuatnya membuyarkan pikirannya. Ia mendongak dan mendapati Kuroko di hadapannya.
"Ku-Kuroko!" pekiknya kaget.
"Kenapa kaget begitu, Midorima-kun?"
"Tidak.. Tidak ada apa-apa," jawab Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya, tak menyadari Kuroko yang sudah duduk manis di sebelahnya.
"Midorim-kun, maaf tadi tiba-tiba pergi," ujar Kuroko. "Tiba-tiba perutku sakit," jelasnya bohong.
"Sa-sakit? Mou daijoubu ka?" tanya Midorima khawatir.
"Hai, daijoubu desu. Anoo.. Midorima-kun, mata basuketo o oshiete kuremasenka?—Maukah kau mengajari aku basket lagi?"
"Boleh," kata Midorima singkat.
"Jaa, ashita no yuugata mo ii?—Kalau begitu besok sore bisa?" pinta Kuroko. Midorima mengangguk menyanggupi.
"Arigatou," ujar Kuroko lega. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Tadi Kise-kun memintaku membantunya. "Mata ashita.." dan setelahnya Kuroko menjauh dari tempat itu, meninggalkan Midorima yang kembali menggalau memikirkan Takao.
*nanodayo*
Pagi ini Pelatih Shuutoku baru saja kembali dari Tokyou. Sepertinya urusannya sudah selesai. Setelah selesai makan pagi, lelaki paruh baya itu langsung menyuruh semua anak didiknya berlatih. Setelah berlari dan melakukan pemanasan, anak-anak basket Shuutoku berbondong bondong menuju ruang latihan.
Hari itu, sang pelatih memutuskan untuk melakukan latih tanding antara senpai dan kohai. Tapi mengingat banyaknya anggota klub basket itu, para anggotanya pun di bagi menjadi beberapa kelompok, jadi akan ada beberapa pertandingan. Bersyukurlah bagi Midorima, dia dan Takao dipisahkan dalam tim berbeda. Jujur saja, lelaki hijau itu belum menyiapakan hatinya untuk berpartner kembali dengan si hitam. Sejak semalam saja, pemuda pencetak three point itu tidak mengatakan apapun pada orang yang jadi teman sekamarnya itu.
Pertandingan pertama dimulai. Dua tim yang sudah ditentukan pun masuk ke lapangan untuk bertanding. Sedangkan yang menunggu giliran, duduk di sekitar court dan memperhatikan. Tapi tidak untuk si hijau nyentrik itu. Dia memilih duduk di bagian pojok ruangan dan mulai menggalau lagi.
"Takao ni hayaku henjishinakya—Aku harus segera memberi jawaban ke Takao," pikirnya. "Demo.. donna kotae o iwanakereba naranai-nanodayo!?—Tapi.. jawaban seperti apa yang harus kukatakan-nanodayo!?"
"Haaaahhhh..." pemuda itu menghela napas. "Wakaranai na.." itulah kesimpulan yang keluar dari mulutnya.
"Hoi, Midorima! Giliranmu!" teriakan dari salah satu senpainya membuat Midorima harus beranjak dari tempatnya ndepis(?). Ia segera menuju lapangan dan tak berapa lama kemudian, pertandingan dimulai.
Dua puluh menit berlalu dan pertandingan usai. Kini giliran kelompok selanjutnya untuk bertanding. Midorima mendekati pelatihnya. Ia meminta izin keluar, dan tentu saja diperbolehkan oleh pelatihnya.
Pemuda itu berjalan keluar. Ia menjauh dari ruang latihan hanya untuk menemukan sebuah pohon untuknya kembali merenung. Eh, kok kayaknya Shin-chan sering banget duduk di bawah pohon, ya? Aa, maa ii ka.. *dasar author tak bertanggung jawab!*
Entah berapa lama ia ndepis di tempat itu. pikirannya melayang. Matanya menatap kosong rumput di bawahnya hingga sebuah suara yang ia kenal tertangkap indra pendengarannya.
"Heh! Kau yakin?" suara pertama terdengar dan walau tidak yakin, Midorima tahu siapa pemilik suara itu. Dan jika tebakannya benar, maka suara dari orang yang telah menarik hatinya akan ia dengar sebentar lagi.
"Hai. Mou Kimatandesu—Iya. Sudah kuputuskan," dan memang seperti dugaannya.
Midorima memejamkan matanya. Ia hanya merasakan orang-orang itu berjalan melewatinya. Tak ingin melihat mereka. Karena bila ia melihatnya...
"Ganbatte, Kurokocchi! Kurokocchi nara, kitto dekiru."
Ya, bila dia melihatnya, yang akan dia lihat hanya mereka yang tengah bermesraan dengan si biru. Seperti saat ini. Si kuning tengah memeluknya erat, sedang si biru tua tengah mengusap kepalanya lembut. Midorima tak suka ini! Dia ingin, dialah yang ada di samping si biru. Dialah yang memluknya erat. Dialah yang mengusap lembut kepalanya! Hanya dia, dan bukan orang lain.
"Ore wa baka nanodayo!" Midorima merutuk dirinya sendiri. "Mou ii. Mou iinda! Kono kimochi.. tomaranakereba naranainda!—Sudah. Sudah cukup. Perasaan ini.. harus kuhentikan!"
"Tabun.. Takao to tsukiattara, Kuroko o wasureru kamo shirenai—Mungkin.. Bila aku bersama Takao, aku akan melupakan Kuroko..."
.
.
.
.
つづく。。。
dou desuka, minna-san?
ada protes?
kritik?
saran?
douzo, rebiyu onegaishimasu...
