.

.

The suffocating sadness that was far away is in my heart again

The initial letting go

Sighing by myself, regretting letting you go

(SM The Ballad – Breath)

.

.

Lu Han sudah sampai di depan kafe. Ia hampir mendorong pintu masuk, tetapi niatnya urung. Perhatiannya teralih dari aroma latte ke sebuah booth telepon. Benda itu memang sudah jarang ditemui, jadi tak mengherankan kalau ia bisa menyita perhatian Lu Han. Bukan masalah kuno atau tidaknya booth telepon itu yang diperhatikan Lu Han, melainkan bahwa di dalam booth telepon...

...ada telepon.

Dengan nomor asing.

Yang tidak akan dikenali telepon rumahnya.

Atau ponsel ayahnya.

Tanpa ia sadari betul mengapa, Lu Han memasuki booth, mengangkat gagang telepon, dan menekan tombol-tombol angka.

Lu Han memasukkan nomor ponsel Han Geng.

Terdengar nada sambung standar dan tiba-tiba saja, Lu Han merasa ia telah melakukan suatu kesalahan besar. Jantungnya berdegup tak teratur seperti sebelumnya, saat membawakan pidato di acara wisuda.

Aku menelepon Baba? Apa yang harus kukatakan? 'Baba, aku akan pulang'? Atau... 'Baba, aku minta maaf'?

Tidak. Baba tak akan memaafkanku semudah itu, Bodoh.

Atas alasan apa aku meneleponnya? Apa yang merasukiku?

Ah, Lu Han, kau pengecut! Kau bisa menghadapi banyak audience saat pidato, tetapi saat menghadapi ayahmu, kau gugup!

...Setelah dipikirkan lagi, bukan aku yang pengecut. Kemungkinan-kemungkinan jawaban Baba yang terlalu menakutkan. Aku tidak siap jika Baba

"Halo?"

Deg! Lamunan Lu Han buyar akibat suara di seberang, suara familiar yang pernah mengisi sebagian besar hidupnya. Lu Han terpaku. Suara ini...

"Lu, cepat turun dan makan. Mama dan Yi Xing menunggu."

"Kau salah menghitung paralaksnya. Seharusnya sudutnya lebih besar."

"Sini. Aku akan pacaran denganmu untuk malam ini sampai aku kembali ke Jiuquan."

"Halo? Komandan Zhao, ini Anda?"

Lu Han masih tak bisa mengatakan apapun. Hanya mendengar suara Han Geng membuatnya lumpuh. Lu Han sangat merindukan suara ini. Ingin ia menubruk si pemilik suara, mengacungkan ijazahnya, dan berkata, "Kita bisa terbang bersama!", tetapi tidak bisa. Pemuda itu sudah membuang semua kesempatannya bersama Han Geng karena sikapnya yang keterlaluan dulu.

"Lu Han, kaukah itu?"

Tak berjawab. Lu Han terlanjur menutup teleponnya segera setelah Han Geng mencapai akhir pertanyaannya.

Telapak tangan Lu Han berkeringat dingin dan gemetar, tertumpu ke gagang telepon yang sudah kembali ke 'sarang'. Memori-memori pahit menghujaninya kasar. Bagaimana gelegak amarahnya yang hebat berbenturan dengan Han Geng, bagaimana kepalan tangannya dibasahi percikan darah Han Geng, bagaimana sebuah lebam tercetak di wajah Han Geng karena pukulannya, dan...

...bagaimana ia meneriakkan sesuatu yang amat kejam pada Han Geng.

Sesuatu yang sangat menyakiti telinga.

Serangkaian kata yang bahkan tidak akan diucapkan penjahat paling kejam kepada ayahnya.

"Kenapa sulit sekali?" Lu Han bergumam, hampir berteriak kalau ia tidak sadar berada di tempat umum, "Kenapa sulit sekali hanya untuk meminta maaf?"

Lu Han menghela napas. Ia harus tenang—atau Xiu Min akan mempermalukannya lagi karena emosinya yang tak terkendali. "Berarti," simpulnya, "bukan sekarang waktu yang tepat untuk kembali. Tak apa. Akan ada kali lain."

Kapan kali lain itu datang pada Lu Han, jawabannya tak pasti.

"Aneh, kulihat tadi kau menelepon seseorang di booth depan," Xiu Min baru selesai membersihkan salah satu meja saat Lu Han memasuki kafe, "Ponselmu rusak?"

"Tidak. Pulsanya yang habis."

"Miskin."

Lu Han tertawa.

Xiu Min berhasil. Pancingannya untuk membuat Lu Han tertawa lumayan ampuh juga, walaupun hal itu tidak 'diniatkan' untuk jadi candaan. Niat Xiu Min hanya ingin menaksir suasana hati Lu Han lewat tawanya. Kesimpulan yang ia tarik, Lu Han tidak dalam kondisi yang baik. Lu Han tertawa dengan terpaksa—tampak dari tonenya yang sudah berbeda di telinga Xiu Min.

Ibu dan adiknya ada di kampus tadi. Itu hipotesis Xiu Min yang lebih khusus.

Dan dia berbohong soal pulsa habis. Ia pasti menelepon ayahnya.

Xiu Min mungkin punya kemampuan membaca pikiran.

"Kemampuanku dalam latte art berkembang pesat, kau tahu," Xiu Min pamer sedikit, "Mau kubawakan satu? Kau akan terkejut karena aku bahkan bisa membuat kaligrafi di atas latte sekarang."

"Menarik. Kalau gratis, aku pesan dua: buatku dan buatmu. Kalau tidak, aku tidak pesan."

Xiu Min memutar bola matanya ke atas sambil membuang napas kasar. "Aku akan berbaik hati untuk orang yang baru lulus."

"Hehe, terima kasih."

Xiu Min berlalu untuk membawakan pesanan Lu Han.

Saat menunggu, televisi di kafe berhasil menyita perhatian Lu Han.

"Selama dua dekade terakhir, pusat penelitian antariksa Jiuquan telah membuat perkembangan yang sangat pesat dalam menyempurnakan kondisi Mars supaya sesuai untuk kehidupan. Tim peneliti Mars telah berhasil memasang Transformed Atmosphere Adjusting Device (TAAD) dan menyesuaikan atmosfer Mars dengan atmosfer Bumi setelah delapan tahun mengalami kegagalan terus-menerus. Berikut adalah pernyataan dari wakil ketua tim peneliti Mars, Han Geng, pada media dalam konferensi pers Jumat 20 Maret lalu."

Mata Lu Han terfiksasi pada sosok di layar televisi: ayahnya.

"Atmosfer Mars yang tipis dan kandungan besi yang dominan di dalamnya menjadi kendala dalam pemasangan dan kerja adjusting device ini. Akan tetapi, TAAD telah ditransformasi agar sesuai dengan tekanan rendah. Sejauh ini, kami baru berhasil mengubah 1% atmosfer Mars menjadi sesuai dengan troposfer[1] Bumi. Hal ini memang belum memungkinkan untuk terjadinya cuaca seperti di Bumi, tetapi cukup kondusif untuk pendaratan penerbangan berawak."

Lu Han menghela napas panjang. Han Geng masih sangat mengagumkan di matanya. Cara bicaranya yang tegas dan berwibawa, kecerdasan yang tampak dari sorot matanya, semua selalu membuat Lu Han iri, tetapi juga hormat. Ya, bahkan hingga saat Lu Han sudah tidak bisa menemuinya lagi seperti saat ini, Lu Han masih sangat menghormati Han Geng.

"Umin, jangan lama-lama pacaran dengan gadismu! Setelah kau selesai pamer, cepat kembali bekerja!" teriak salah seorang pegawai perempuan dari dapur, mengagetkan Lu Han. Xiu Min, yang baru saja keluar untuk membawakan pesanan Lu Han, tertawa ringan. "Tenang, lima belas menit saja, kok!" timpal Xiu Min, lalu duduk di depan Lu Han setelah menyajikan dua cangkir kopi di meja. Alis Lu Han terangkat. "Kau? Pacaran? Dengan siapa?"

"Denganmu, bodoh. Jia mengira kau perempuan."

"Dan kau mengiyakannya?" tanya Lu Han, setengah memekik, lalu mendesis kesal. Xiu Min tertawa lagi. "Sudahlah, sudahlah. Ini pesananmu. Lihat? Aku bisa membuat kaligrafi di atas latte, 'kan?"

Lu Han menunduk dan mendapati secangkir kopi dengan kaligrafi 'gēng' di atasnya.

"Kenapa? Tidak suka?" Xiu Min duduk menghirup kopinya, "Kau harus berterima kasih padaku karena membuat sesuatu yang mengingatkanmu pada rumah. Kau pasti merindukan mereka, 'kan?"

"Tidak. Ini tidak mengingatkanku pada apapun," Lu Han mengangkat cangkirnya, "Bagus. Kemampuanmu memang berkembang pesat. Terima kasih sudah memberikan latte art spesial ini untukku."

Seiring Lu Han menghirup kopinya, Xiu Min mengangkat pandang. "Kau tidak bisa selamanya berbohong. Aku melihatmu saat ada berita tentang ayahmu. Ekspresi kagummu itu sangat jujur."

"Lalu?"

"Lalu, pulanglah dan tunggulah pengumuman penempatan kerja di rumah."

Lu Han meletakkan cangkirnya di atas meja. "Kalau kau begitu terganggu dengan keberadaanku di apartemenmu, aku bisa pergi ke tempat lain. Kau tak perlu menyuruhku pulang."

Xiu Min menepuk dahinya. "Bukan... argh, kau cerdas, tetapi hal sesederhana ini saja kau tidak mengerti. Begini," pemuda berpipi bulat itu menarik napas, "Lu, kau sahabatku dan kau punya masalah besar. Sebagai sahabat yang baik, aku mencoba untuk membantumu menyelesaikan masalahmu. Hanya itu. Aku tidak bermaksud mengusirmu."

"Jika yang kau maksud dengan masalah adalah hubunganku dengan ayahku, kau perlu tahu bahwa aku tidak menganggap itu masalah."

"Kalau begitu..."

Set! Tiba-tiba saja, Xiu Min menyahut ponsel di samping cangkir Lu Han. Si empunya ponsel tentu saja kaget. "Hei!"

Secepat kilat, Xiu Min menelusuri kontak dan menekan tombol hijau saat ia sampai di nomor Han Geng. "Sudah tersambung," Xiu Min mengacungkan ponsel tepat di depan wajah Lu Han, "Hubungi dia kalau kau memang tak bermasalah dengannya!"

"Apa yang kau lakukan?" Lu Han segera mengambil alih ponselnya dan menekan tombol merah.

"Lihat? Anak macam apa yang tidak berani menghubungi ayahnya?"

"Kau tidak mengerti!"

"Kau pikir kau sendiri mengerti?" Xiu Min menantang Lu Han, "Kau terlalu kekanakan untuk tidak mengakui kesalahanmu. Oke, aku memang tak tahu ceritamu, bagaimana kau bisa begitu anti pada ayahmu, tetapi apapun kesalahanmu, kau harus menghadapinya dan bukan lari darinya seperti ini!"

Akhirnya, Xiu Min berhasil membungkam Lu Han. Merasa dikalahkan, Lu Han bangkit, tak sedikitpun melirik Xiu Min atau kopinya yang tinggal separuh. "Aku pergi."

Setelah membayar pesanannya di kasir, Lu Han meninggalkan kafe tanpa sepatah kata. Ia melewati meja Xiu Min begitu saja. Xiu Min pun tidak mencegahnya pergi. Pegawai wanita yang tadi berteriak di dapur tertegun, lalu cepat menghampiri Xiu Min. "Kalian putus?"

Xiu Min menyeruput kopinya tanpa beban. "Tidak. Dia yang tidak bisa melupakan mantan kekasihnya, tetapi tidak mau mengaku."

Pegawai wanita itu menunjukkan ekspresi kaget, seperti wanita-wanita rumahan yang baru saja menonton berita perceraian artis. "Oh? Jangan bilang dia menjadikanmu tempat pelampiasan rindunya pada mantan kekasihnya! Itu sangat menyedihkan."

Xiu Min mengangkat bahunya cuek.

Seorang ayah akan memaafkan semua anaknya jika benar ia seorang ayah, Lu Han. Kenapa kau tidak paham juga?

Rupanya, apa yang dipikirkan Xiu Min sampai pada Lu Han, biarpun Lu Han sudah beberapa meter jauhnya dari kafe. Terbukti, apa yang ada di benak mereka bersambung.

Lu Han berdiri di tempat perhentian bus dan berpikir.

Seorang ayah akan memaafkan anaknya, tetapi aku bukan anak dari ayahku lagi, Xiu Min. Setidaknya, aku berpikir begitu.


-Past

Lu Han dan Yi Xing selalu pulang sekolah bersama. Hari itu pun tak berbeda. Lu Han dengan sabar menunggu adik pucatnya di halaman sekolah, dekat lapangan basket. Akan tetapi, setengah jam kemudian, Lu Han mulai cemas. Kelas Yi Xing harusnya berakhir pukul setengah empat; sekarang sudah hampir jam lima dan dia belum juga muncul. Apa dia pulang duluan karena aku telat menunggunya?, batinnya.

Kecemasan Lu Han berakhir saat Yi Xing muncul dari lorong utama sekolah. Pemuda pucat itu berlari menuju Lu Han dengan senyum cerianya yang biasa. "Gege, maaf lama!"

Lu Han segera berdiri dari kursi taman sekolah. "Xing, lama sekali! Ada pelajaran tambahan?" tanyanya saat menyampirkan lengannya di bahu Yi Xing.

"Tidak, Ge... Ouch!"

Refleks Yi Xing mengejutkan Lu Han. Yi Xing tiba-tiba saja menyingkirkan tangan Lu Han saat tangan itu tersampir di bahunya, seolah tangan Lu Han telah menyakitinya.

"Xing?"

Sadar bahwa dia melakukan sesuatu yang memancing kecurigaan, Yi Xing tersenyum kikuk. "Ah, ma-maaf, Ge... Hehe, tadi aku tak sengaja menepis tanganmu." katanya saat menyampirkan lengan Lu Han lagi pada bahunya, dengan lebih perlahan. Lu Han memandangi adiknya beberapa lama dalam sunyi dan membiarkan sang adik mengoceh tentang harinya, seperti biasa. Baru setelah Yi Xing diam, Lu Han angkat bicara.

"Kau kenapa? Sepertinya, aku melakukan sesuatu yang membuatmu sakit tadi."

"Tidak. Aku tidak apa-apa, kok. Aku hanya kaget," jawab Yi Xing ringan, "Tak usah khawatir. Aku tidak terluka, Ge."

Yi Xing mengatakan kalimat yang terakhir itu bukannya tanpa alasan. Entah kenapa, dia punya kecenderungan untuk terluka dan dilukai, jadi sebagai kakak, Lu Han tentu saja khawatir. Sudah lama Lu Han melakukan hal ini dan Yi Xing tahu hal itu sangat melelahkan Lu Han, tetapi Lu Han tidak mau berhenti. Ujungnya, yang bisa Yi Xing lakukan adalah menekankan bahwa ia baik-baik saja dan bisa menjaga diri.

Walaupun sebenarnya tidak demikian kondisi Yi Xing saat itu.

Lu Han menghela napas. "Maaf, aku mengganggu, ya?"

"Mengganggu apanya?" tanya Yi Xing. Mata beningnya memancarkan kepolosan anak-anak.

"Oh?" Lu Han menoleh pada Yi Xing, "Dengan sikap overprotektifku ini, kau tidak merasa terganggu?"

Yi Xing menggeleng cepat. Lesung pipit yang dalam tercetak di pipinya, membingkai senyumnya. "Aku malah senang. Karena ada Gege, aku merasa aman."

Respon Yi Xing menyenangkan Lu Han. Pemuda itu tersenyum tipis. "Syukurlah. Kupikir... kau tidak akan suka kalau aku terus melindungimu. Kau sudah cukup dewasa untuk menjaga dirimu, tetapi aku tetap tidak tenang kalau tidak menjagamu langsung. Maaf jika aku seperti ini."

"Tidak masalah," Yi Xing menerima perhatian kakaknya dengan tangan terbuka, tanpa perlawanan yang biasa ditunjukkan remaja seusianya, "Lagipula, aku tahu kau melakukan ini karena ingin melaksanakan perintah Baba juga, 'kan?"

Lu Han menarik Yi Xing lebih dekat dan memeluknya dari samping dengan sayang.

"Kau benar. Baba ingin aku menjagamu juga Mama selama ia pergi, jadi aku akan melakukannya."


Sebuah rahasia pasti akan terungkap; tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

Petang itu, sepulang latihan sepak bola, Lu Han sedikit gusar karena tidak menemui Yi Xing di sekolah. Tidak juga di rumah. Li Yin mengatakan anak itu sudah pulang, tetapi pergi lagi untuk suatu urusan. Lu Han juga mencoba untuk menghubungi ponsel Yi Xing—dan tidak diangkat.

"Jangan khawatir. Dia akan pulang sebentar lagi." ucap Li Yin saat menyiapkan makan malam di atas meja.

"Bagaimana bisa Mama berkata santai begitu? Yi Xing pergi tanpa mengatakan alasan ia pergi! Mama bahkan tak tahu ia sedang terlibat dalam urusan apa!" Lu Han meninggikan nada bicaranya.

Li Yin meletakkan setumpuk mangkuk nasi di meja makan, lalu menatap Lu Han kosong. "Mama tidak melakukan sesuatu tanpa alasan, Lu."

"Beritahu aku kenapa Yi Xing pergi kalau Mama memang mengetahuinya!"

"Bagaimana Mama bisa mengatakannya jika Yi Xing sendiri tak ingin memberitahumu?" Li Yin berucap tenang, "Sudahlah. Yi Xing tahu kapan dia berada dalam bahaya dan kapan tidak. Kau tak perlu cemas."

"Selalu, selalu seperti itu!" Lu Han tak bisa lagi menahan diri dari membentak Li Yin, "Kalian para orang tua selalu berlagak paham apa yang terjadi pada kami!"

"Kami memang paham, bukannya berlagak. Kenapa kau semarah ini pada Mama karena perkara kecil ini?"

"Perkara kecil? Yi Xing sudah berkali-kali dilukai anak seusianya sejak kecil karena fisiknya yang lemah dan kau menganggap itu perkara kecil?! Bagaimana kalau kali ini, ia mengalami hal yang sama? Mama tidak peduli hal itu karena Mama tidak tahu, 'kan?"

Li Yin menarik napas perlahan. Ia peduli. Ia tahu. Akan tetapi, percuma menentang seorang anak yang sedang marah membabi-buta seperti Lu Han. Permasalahan akan semakin runcing. Maka, dengan kelapangan hatinya, Li Yin mengunci mulutnya, menerima saja apa yang Lu Han tuduhkan padanya.

"Mama juga tak tahu kalau Yi Xing beberapa kali berangkat lebih pagi belakangan ini, 'kan? Menurut Mama, itu tidak aneh? Yi Xing menghindariku, menghindari kita, dan Mama tak mengetahuinya?" Bicara Lu Han mulai tak terarah, "Ataukah Mama mulai berubah menjadi seperti Baba yang menjauhkan diri dari kita semua?"

Li Yin sangat terpukul mendengar pertanyaan terakhir Lu Han. "Baba tak pernah menjauhkan diri dari kita. Kau tidak seharusnya menyalahkan Baba seperti ini. Yi Xing hanya..."

"Hanya apa?"

"Lu-ge... aku baru saja pulang beli masker..."

Suara ketiga menginterupsi perdebatan antara Lu Han dan Li Yin. Terkejut, Lu Han menoleh dan mendapati Yi Xing di luar ruang makan. Yi Xing mengenakan masker yang biasa dikenakan orang saat flu, juga mantel dengan butir-butir salju yang menandakan ia memang baru keluar rumah. Di tangan Yi Xing, ada kantung plastik dengan sekotak masker sekali pakai di dalamnya.

Lu Han menelan ludahnya kasar. Ia sudah bisa berpikir jernih sekarang dan sepenuhnya mengingat apa yang ia lakukan sebelum ini.

Emosi sesaat itu sangat mengerikan. Ia bisa muncul kapan saja, bahkan jika pemicunya hanya hal-hal sepele.

Untuk apa Lu Han semarah tadi pada Li Yin, mengatakan Li Yin tidak mengerti perihal anak-anaknya, bahkan menyeret Han Geng dalam hal ini, padahal Yi Xing hanya keluar sebentar untuk membeli masker?

Mata Yi Xing sangat jujur dan mata itu kini memancarkan ketakutan.

Namun, pada akhirnya, Yi Xing tetap tersenyum menenangkan. "Mama, makan malamnya sudah siap, ya? Ah, sayang sekali, aku masih belum terlalu lapar... Mama dan Lu-ge makan saja duluan. Nanti aku menyusul."

"A-ah," Li Yin mengangguk, "Baiklah. Nanti Mama akan antarkan makanan ke kamarmu kalau kau lelah."

"Tidak usah. Aku ganti baju dulu, belajar, baru makan."

Dengan itu, Yi Xing berlalu ke kamar.

Lu Han menarik kursinya dan duduk. Tertunduk. Dia tidak berani menatap wajah Li Yin, bahkan saat wanita itu menghidangkan semangkuk nasi dan sup untuknya.

Dan menepuk puncak kepalanya.

"Tidak apa-apa, Lu. Mama tidak marah."

Lu Han diam. Terus diam. Memasukkan suapan demi suapan tanpa sedikitpun bicara atau memandang Li Yin yang duduk di seberang meja. Lidahnya kelu, bahkan untuk sekedar minta maaf.

Bodohnya aku, sesal Lu Han dalam hati.


Hingga pagi menjelang di hari berikutnya, Lu Han masih belum mengatakan apapun pada Li Yin.

Lu Han terbangun dengan mata yang terasa sangat berat, enggan dibuka. Pagi di luar hari libur memang tak menyenangkan. Biasanya, Lu Han akan tertidur lagi setelah alarmnya berbunyi untuk yang pertama kali. Yah, tentu saja alarmnya sudah disnooze. Pagi ini, karena tak bisa tidur nyenyak, Lu Han tak melanjutkan tidurnya. Ia bangkit dari ranjangnya...

...dan tidak menemukan Yi Xing di kamar.

"Xing?"

Lu Han berjalan perlahan keluar kamar.

"...Mama tidak akan memberitahukannya pada Lu-ge, 'kan?"

Eh?

"Tidak, tetapi kamu harus benar-benar bisa menjaga dirimu, ya? Tidak akan lama. Kepindahanmu sedang dalam proses. Selama itu, hindari mereka."

Lu Han bersembunyi lagi di balik pintu kamarnya sebelum Li Yin dan Yi Xing mengetahui keberadaannya. Dari lubang kunci yang kecil, Lu Han mengamati apa yang terjadi di luar.

Yi Xing tidak mengenakan masker. Ada memar di sudut bibirnya.

"Iya, Mama. Aku tidak akan membuat Gege ataupun Baba khawatir lagi," Yi Xing, seperti biasa, menunjukkan senyum kekanakannya, "Selain itu, aku bisa melindungi Gege dengan cara ini."

Apa-apaan ini? Apa yang mereka bicarakan? Kenapa aku tak tahu apa-apa? Berbagai pertanyaan berebut muncul di benak Lu Han seperti badai. Ia terduduk di lantai, memikirkan apa yang mungkin terjadi di balik punggungnya.

Xing, lihat saja. Aku akan membalas apa yang telah mereka lakukan padamu!


Seperti yang Lu Han duga, sepulang sekolah, 'orang-orang itu' menunggu Yi Xing muncul di koridor utama sekolah. Koridor itu adalah tempat loker anak-anak kelas satu berada, jadi mustahil Yi Xing tidak muncul di sana saat pulang.

Koridor loker adalah tempat yang bagus untuk melakukan tindak senioritas terhadap Yi Xing.

"Nyali kalian besar juga untuk mengganggu adikku," Lu Han berucap lantang, membuat perhatian lawan-lawan bicaranya teralih padanya, "Kalian menunggu Yi Xing? Maaf, dia akan pulang denganku setelah ini dan tak ada waktu main dengan kalian."

Para anggota senior klub sepak bola—orang-orang yang membully Yi Xing selama ini—tampak terkejut, tetapi ketua mereka cepat memasang facade sinisnya. "Akhirnya kau mengetahui ini, Lu Han."

"Jika kalian punya urusan denganku, maka selesaikanlah denganku. Jangan seret adikku dalam masalah ini. Itu adalah tanda kepengecutan kalian, kalau kalian memikirkannya."

Sang ketua gerombolan—mantan ketua klub sepak bola yang tak suka dengan keahlian Lu Han di klub—menggeram marah. Dalam hati, ia menolak disebut pengecut, tetapi secara teknis, ia dan kelompoknya memang pengecut. Mereka sengaja menggunakan Yi Xing yang lemah untuk memancing Lu Han dalam sebuah perkelahian besar (dan bodoh) dengan asumsi bullying ini akan diketahui Lu Han setelah berlangsung cukup lama. Dengan begitu, mereka akan punya cukup waktu untuk memperbesar 'pasukan' dalam rangka melumpuhkan Lu Han selamanya (yang mereka tahu sulit karena Lu Han sangat ahli berkelahi). Ujung dari semua rencana itu adalah hari ini.

"Adikmu cukup tangguh untuk menahan siksaan dari kami dan tidak memberitahumu dalam jangka waktu yang panjang. Sungguh mengejutkan. Aku kasihan padanya yang melindungi kakak sebodoh kau, yang tidak menyadari kalau adiknya dibully sampai beberapa minggu kemudian. "

Lu Han mencengkeram kerah seragam sang ketua gerombolan dan membenturkan lawannya itu ke loker. Anak buah dari sang mantan ketua klub siap menghajar Lu Han, tetapi sang ketua menghentikan mereka. "Kurasa kau ingin mengakhiri apa yang kami lakukan pada adikmu," sang ketua terdengar menantang, "Kau siap untuk kami lumpuhkan?"

"Aku lebih dari siap untuk membunuh kalian, Sampah!"

"Tidak lucu jika kita menyelesaikannya di sini dan memancing reaksi para guru. Kita selesaikan ini di tempat yang sudah kami siapkan untukmu."

Detik selanjutnya, sang ketua melayangkan tinjunya pada Lu Han, cukup keras hingga Lu Han tersungkur. Lu Han mendapati dirinya diikat kencang-kencang dengan tali besar, lalu 'diseret' ke luar sekolah secepat mungkin.

Beberapa saat kemudian, Lu Han dilemparkan dengan kasar di atas tanah lapang tempat latihan klub sepak bola yang lama. Ikatannya dilepas dan segera setelah itu, ia meninju orang yang melepaskannya. Seseorang menangkap tangannya, tetapi Lu Han menyikut orang itu dari belakang. Perkelahian yang sangat timpang dimulai begitu saja tanpa sepatah kata; kemarahan Lu Han sudah terlalu tak terbendung untuk mengatakan sesuatu. Sikapnya yang meledak-ledak ini memancing reaksi dari kelompok besar yang sudah disiapkan untuk menghabisinya.

"Masih mau melawan lagi, Pucat?" Sang ketua gerombolan menginjak kepala Lu Han yang terkulai tak berdaya di rerumputan. Lu Han terbatuk. Sakit menusuknya dari berbagai penjuru, tetapi dia menolak untuk menyerah. Walaupun sulit, ia berusaha untuk mengangkat kaki yang menginjak kepalanya. Tekanan yang makin kuat ia dapatkan sebagai respon dari kaki itu, tak mau Lu Han bangkit sedikit juga.

Beruntung, sesaat kemudian, sebuah gaya yang cukup besar mendorong kaki itu—dan pemiliknya—menjauh dari Lu Han. Lu Han mendongak sedikit, tetapi ia langsung ditarik pergi oleh si penolong misterius. Tertatih, Lu Han mengikuti penolongnya itu.

"Sial! Ini belum selesai!"

Dari belakang, musuh hendak memukul kepala Lu Han dengan balok kayu panjang. Rasa sakit membuat Lu Han kurang awas dan tak sempat menghindar.

Namun, itu tak perlu dilakukan.

Han Geng, sang penolong misterius, berbalik. Ia menarik Lu Han ke belakang punggungnya, lalu menangkap balok kayu itu dengan satu tangan. Dalam sekejap, balok kayu panjang itu ada di tangannya. Digunakannya balok kayu itu untuk menjatuhkan lawan sang anak.

"Lu, masuk ke mobil!" perintah Han Geng. Tanpa pikir panjang, Lu Han masuk ke mobil Han Geng yang terparkir tak jauh dari 'medan pertempuran'. Ia terkejut mendapati Yi Xing di jok belakang. "Xing, kau..."

"Penjelasannya nanti saja! Cepat masuk!" sahut Yi Xing sambil bergeser untuk memberi Lu Han tempat. Lu Han masuk dan menutup pintu mobil. Getaran pintu mobil yang baru tertutup terasa menekan luka di kepala Lu Han.

"Augh..."

Yi Xing buru-buru mengeluarkan sapu tangannya dan mencoba menghentikan perdarahan di kepala Lu Han. Ia menghela napas berat saat melihat sapu tangannya memerah dengan cepat, pertanda bahwa darah yang keluar cukup banyak. "Gege, apa yang kau lakukan?"

Lu Han tertawa getir. "Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran."

"Untuk apa, Ge? Kau hanya menyakiti dirimu sendiri!"

"Daripada itu, Baba..."

Baik Lu Han maupun Yi Xing mengarahkan pandang ke luar jendela, tepat ketika Han Geng dipukul oleh lawannya. Napas Lu Han tertahan. Ia hampir saja membuka pintu dan menyusul ayahnya, tetapi ditahan Yi Xing.

Akhirnya, setelah menendang salah satu anak dan membanting satu anak yang lain, Han Geng bisa meloloskan diri dari kepungan.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Lu Han, kenapa kau bertindak gila seperti tadi?"

Hati Lu Han sakit sekali saat Han Geng membentaknya begitu keras. Luka di kepalanya ikut berdenyut nyeri. Yi Xing segera menekan luka itu, menghilangkan desis kesakitan kakaknya.

"Jangan marahi Lu-ge. Ini salahku," Yi Xing menjelaskan, "Orang-orang itu tidak suka pada Lu-ge. Mereka mengasariku supaya Lu-ge marah saat mengetahuinya. Lu-ge hanya ingin melindungiku, Baba, tetapi mereka curang dengan main keroyokan."

"Bagaimanapun, yang dia lakukan itu konyol. Berkelahi dengan sebegitu banyak orang, kau tak mungkin menang, Lu! Jangan celakai dirimu dan membuatku cemas!"

Kenapa?

Kenapa Han Geng begitu marah?

"Kau tak paham duduk permasalahannya," Lu Han berucap kosong, "lalu dengan seenaknya, kau mengatakanku bertindak konyol? Huh, menyebalkan."

Yi Xing merasa mobil berjalan lebih cepat—seiring dengan suasana tak menyenangkan yang mengitarinya.

"Apa kau lupa bagaimana harusnya kau bersikap padaku?!"

"Kaulah yang harusnya menjawab pertanyaan itu!" Lu Han membentak Han Geng balik, "Kau sendiri lupa bagaimana jadi ayah yang baik! Tak ada ayah yang seburuk kau! Aku bahkan lebih baik darimu dalam melindungi Yi Xing!"

"Gege, sudah..." Yi Xing menarik-narik lengan seragam Lu Han, tetapi Lu Han mengacuhkannya.

"Kau tak pernah mengingat kami, lalu apa yang kau harapkan dari kami? Agar kami selalu jadi anak manis? Walaupun itu bisa berujung kematian?"

"Ya! Menghindari pertarungan itu lebih baik bagimu! Jangan bersikap sok tahu, Bocah!"

"Mereka yang memulai dan aku berusaha menghentikannya! Aku harus terlibat atau Yi Xing akan terus disakiti!"

"Kau tidak bisa menyelesaikannya sendiri! Kau butuh—"

"—ayahku!"

Han Geng terdiam. Bukan itu lanjutan yang seharusnya dari kalimat terakhirnya, tetapi...

...itu masuk akal.

"Di mana kau saat kami membutuhkan? Kau melempar semua tugas pada Mama! Kau pikir mudah menjadi dirimu? Oh, jangan jawab. Kau pasti tak bisa membayangkan betapa sulit menjadi ayah karena kau bukan ayah kami!"

"Cukup!" Han Geng memukul sisi kemudinya dengan perasaan bercampur aduk, "Anak kurang ajar, tutup mulutmu!"

Tiba-tiba, Lu Han membuka pintu mobil—dalam keadaan mobil masih berjalan. Han Geng terkejut dan mendadak menepikan mobilnya.

Kaki Lu Han melangkah keluar mobil.

"Gege!" Yi Xing menahan Lu Han untuk pergi, tetapi gagal. Lu Han menepis tangan pucat Yi Xing, lalu berlari secepat yang ia bisa, menjauhi mobil. Sayang, belum seberapa jauh...

"Lu Han!"

...Han Geng mencengkeram bagian belakang seragam Lu Han.

Lu Han berbalik dan memukul ayahnya sekuat tenaga.

"Kesalahan terbesarku adalah memilikimu sebagai ayahku!"

Han Geng terhempas ke belakang segera setelah Lu Han memukulnya. Pegangannya lepas dan Lu Han berlari tanpa menoleh lagi. Seperti orang bodoh, Lu Han menghindari yang seharusnya tidak dihindarinya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana Yi Xing menangisinya di dalam mobil, bagaimana perasaan Li Yin yang belum sempat bertemu dengannya sebelum ia pergi, dan bagaimana penyesalan Han Geng yang sebenarnya ingin meminta maaf padanya.

-Past: End


Xiu Min baru saja menghidangkan pesanan untuk salah satu pelanggan setianya saat pintu masuk kafe terbuka. Pemuda itu menoleh ke sana dan mendapati seorang pemuda pucat yang tengah menggandeng seorang wanita bercepol rendah. Xiu Min terbelalak; ia sudah terlalu hapal wajah pucat itu, walaupun tidak mengenali wanita yang digandengnya.

"Xiu Min-ge, Lu-ge tadi ke sini? Apa dia sudah tidak ada?" tanya 'tamu' baru Xiu Min, Yi Xing, tersengal-sengal. Kelihatannya, ia dan wanita yang digandengnya—Li Yin—berlari menuju ke kafe supaya mereka bisa menemui Lu Han.

"Sayang sekali, dia sudah pergi sekitar satu jam yang lalu," sesal Xiu Min, "Kalian tahu dia ke sini?"

"Kami hanya mengira-ngira," Li Yin mengatur napasnya, "Karena kau temannya dan ini kafe tempatmu bekerja, kami sangat yakin dia akan ke sini setelah upacara kelulusan..."

Xiu Min tercenung. "Kalian juga tahu kalau hari ini adalah upacara kelulusannya? Kalian datang?"

"Tentu saja! Lu-ge adalah gegeku; tentu saja aku harus datang ke acara wisudanya!" kata Yi Xing. Li Yin mendukung pernyataan ini. "Sebagai keluarganya, walaupun tidak bertemu, kami mengawasinya dari jauh, jadi tentu kami tahu momen-momen penting di mana ia mengharapkan kedatangan kami. Yah, sayangnya..." wanita itu mengusap lehernya yang basah karena peluh, "...kami tidak langsung menyusulnya ke sini, sehingga aku harus kehilangan dia lagi..."

Li Yin memang tersenyum, tetapi ia pasti sangat kecewa. Bagaimana tidak? Ketika sang anak pertama pergi dari rumah, ia tak mengetahuinya dan tak sempat bertemu dengannya terakhir kali. Setiap saat ia hampir menemukan Lu Han, ia selalu terlambat beberapa menit, sehingga Lu Han keburu menghilang lagi. Yang mengejutkan adalah optimisme dari wanita itu, dilihat dari usahanya yang tak kenal lelah untuk bertemu anaknya, tak peduli apakah nanti Lu Han akan menghindarinya atau tidak.

"Bibi tidak usah khawatir. Lain kali kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan langsung menghubungi kalian." Xiu Min mencoba menghibur Li Yin, tetapi binar yang meredup di mata Li Yin sangat jujur. Satu-satunya yang bisa menghibur hati seorang ibu adalah anaknya, dalam hal Li Yin adalah Lu Han. Ini membuat Xiu Min tidak berhenti mengutuki temannya itu.

Dasar bodoh! Lihat ibu dan adikmu yang menderita di sini; cepatlah pulang dan berhentilah lari, Lu Han!

Namun, umpatan-umpatan itu jelas tak bisa diungkapkan. Xiu Min hanya bisa tersenyum sopan dan menawari dua tamunya untuk beristirahat sejenak di kafe.


[1] meteorologi: lapisan atmosfer terbawah Bumi yang komponennya memungkinkan untuk terjadinya cuaca