R.H.E.I.N.

Present~

ADMIRER LOVE OF HATRED

DON'T LIKE? KEEP READ!

Casts : YJ and the gank

Rated : M (for harshness)

Disclaimer : I own nothing except the story

Warning : Mengandung unsur KEKERASAN (thriller)

NB : BL, YAOI, OOC, inspired by movie 'She is On Duty'. Masih butuh banyak belajar.

(Saya senang jika ada yang memberi masukan mengenai gaya bahasa dan cara penulisan :D)

Balasan review (sengaja saya taruh diawal karena menjawab beberapa pertanyaan readers yang kurang jelas akan jalan ceritanya. Jika terganggu silahkan langsung skip ke cerita) :

nin nina : sankyu sudah review iya, nama hyungnya JJ Kangin (tapi bukan kandung, Kangin senior JJ di kepolisian). Changmin pakai marga 'Shim' padahal anaknya Jung Siwon, karena dia menyamarkan identitas untuk alasan keselamatan.

Vans ribet login : hai eon :D sankyu naa~ kalau kurang memuaskan saya minta maaf. Iya eon, mungkin bisa dibilang parody film SOD kali ya~ Cuma saya tambah-tambahin sana sini sama kasih konflik lain, hehe (sudah saya tambahkan di NB). SIAP EON! Chapter kali ini saya perhatikan benar-benar. Vanes eonni benar, penulisan EYD dan tidak adanya typo mempengaruhi minat baca readers I feel happy and a lot of thanks for you. For the suggests, critics, and reviews. Such a support!

CindyShim : kenapa ko blushing ._.a Kibum belum ada dipikiran saya untuk menjadi cast, tapi tidak menutup kemungkinan Yunho ketiduran di samping saya nih (?) trims reviewnya ^_^

Ichigo song : iyaaa saya tau saya pendeek -_- (?) Yunho will be shown in this chap! Just watch out XD Jae ga polos, rada arrogant aja :3 yang gila Kangin hyung sama saya ==V kalo gada tebece saya yang kempor DX sankyu reviewnya :3

Uknow01jj : terimakasih sudah review dan suka FF ini, hehe. Kemungkinan besar ada meningat latar pekerjan JJ adalah polisi. Saya akan berusaha membuat FF ini menarik

YunHolic : hehe mian eon XD sesuai sama fakta juga kan ._.v dulu Junchan pernah diolok-olokin sama member lain gegara English-nya logat korea -_-v thank you

1chidorasen : here the next eonni!

Michelle Jung : MinJae ya? Saya kepikiran buat pair itu eon, tapi lihat kedepan, hehe. Bukan, anak Siwon Changmin. Kemarin, Kangin (hyungnya JJ) hanya menggumamkan 'Jung Yunho', begitu. Masih bingungkah eon? Btw trims ya eon ^_^

Himawari Ezuki : Hai juga eon! It's okay, at least you gimme support by that review. Gomawo ne

Begitukah? Ya, chapter kemarin memang alurnya maju-mundur dan penceritaan secara global. Maaf jika tidak terlalu paham. Saya harap kedepannya lebih bisa dimengerti, saya akan berusaha ^_^

Nama saya Rhein

Nah! Itu yang kemarin" bikin saya bingung. Tanda baca antara tanda petik dan koma atau titik. Saya sudah baca beberapa novel dan ternyata selama ini saya salah -_-v hontouni arigatou gozaimasu! Masukan yang sangat berharga. Kedepannya semoga bisa lebih baik #bow

Mrs. Jungkim : terimakasih reviewnya Yunho akan muncul di chap ini ^_^)~

Adek gue aka Dommie XD : serius seolah dulu sana, banggain gue -_- (?) kenapa drabblenya? Kurang puas? Lain kali aku bikinin lagi. Mau pairing apa? XD

Great! Pair YunWon ya? Jadi kepikir nih XD #smirk #plak

IYA! Masa JJ doang yang bisa berduaan sama YH -_- aku juga mau dong :P (kita Cuma maen gapleh doang kok di kamar ._.v)

Mungkin kamu baca ulang atau semedi dulu kek sana biar mudeng. Biasalah~ yang nulis ini rada kopler, jadinya sesat wkwkw. Baik, ini saya update *pinjem suara Changmin*

.

.

.

.

Previous summary :

YUNJAE/YAOI/OOC. Kim Jaejoong, anggota kepolisian tim Athena harus menyamar sebagai mahasiswa untuk mendekati putra Jung Siwon yang introvert dan anti-sosial, Jung Changmin. Dikarenakan alasan keamanan, ia menyamar dengan memakai marga 'Shim' sehingga namanya menjadi Shim Changmin.

Jung Siwon merupakan tangan kanan Park Jinyoung, seorang gangster berpengaruh. Jung Siwon sudah menyerahkan diri ke kepolisian, namun kini ia bersembunyi karena Park Jinyoung mengincar nyawanya. Kepolisian mengincar Changmin untuk menuntun mereka pada Siwon yang merupakan kunci penangkapan Jinyoung.

.

.

.

"Mencoba menjadi jagoan huh?".

Mendengus keras.

"Kau pikir keren berkelakuan seperti tadi, hah!".

PLAK! Satu pukulan melayang.

"Bercerminlah! Lihat tampangmu, sangat tidak cocok menjadi penguasa sekolah".

"Dan jaga mulutmmu yang kotor! Kulindas mulutmu dengan buldozer jika berkata bitch lagi".

Ancaman yang membuat merinding,

"YOU GET IT?!".

"Nee….hiks….".

"Argh… appo….".

Empat orang namja dan dua orang yeoja berlutut di halaman sekolah dengan kedua tangan terangkat sejajar telinga ke atas dan wajah penuh darah juga memar. Rambut acak-acakan dan seragam yang kotor akan tanah. Kondisi mereka mengenaskan. Sedang di belakangnya, Jaejoong menoyor kepala mereka satu-satu.

See? The real kingka was taking care the situation now!

Jaejoong meludahkan permen karet yang sudah tidak ada rasanya dengan keras. Ia sebal pada beberapa mahasiswa yang sok menjadi jagoan. Tak tahu saja mereka siapa Kim Jaejoong sebenarnya.

Jaejoong berbalik menuju kelas yang sebentar lagi di mulai. Gerombolan mahasiswa yang kasak-kusuk di belakangnya membelah menjadi dua, bagai memberi jalan pada kingka mereka yang baru (sepertinya).

.

.

.

.

Istirahat kedua, Jaejoong beranjak ke kantin sendirian. Awal yang sedikit buruk baginya. Sedikit menyedihkan karena ia tak mempunyai teman. Menguatkan tekad bahwa tujuannya di sini hanya untuk mndekati Shim Changmin.

Sedikit beruntung karena kursi di depan meja Changmin kosong, dan itu dimanfaatkan Jaejoong untuk memulai langkah pertamanya.

Setelah menaruh baki makanan, Jaejoong menatap Changmin intens. Hidung mancung, bibirnya yang tak berbentuk, dan bambi eyesnya. Cukup menarik. Ia tak kalah tampan dengan Jaejoong. Di beberapa foto kiriman Boyoung, Jaejoong mendapati Changmin yang tersenyum, dan itu manis.

"Shim-Chang-Min…..," Changmin mendongak, seseorang menginterupsi acara makannya. Kim Jaejoong, mahasiswa baru itu mengeja tulisan di tag namenya.

"Hey! Aku teman barumu di kelas. Aku Kim Jaejoong. Mari kita berteman!", ujar Jaejoong ceria sambil mengulurkan tangannya, gesture jika berkenalan.

Tapi Changmin hanya menatapnya heran, lalu mengehela nafas jengah. Terlihat sekali bahwa ia enggan di ganggu. Iapun berdiri dan membawa baki makannya menjauh, mencari tempat lain.

"Cha-changmin! Kau mau kemana? Ya!" menepuk dahinya kesal. He completely introvert!

"Hah! Susah sekali mendekatinya. Tapi ia tinggi sekali. Dasar gigantisme!" Jaejoong mengeluh sendirian dan menyendok nasinya banyak-banyak. Ia pikir sikap Changmin semanis wajahnya.

"Aih, porsi ini sedikit sekali. Aku lapar~" terus bersungut-sungut dan menyendok penuh-penuh nasi ke dalam mulutnya, Jaejoong tak sadar seseorang kini duduk di depannya.

"Dia hanya sedikit pemalu….."

Suara bass gentian menginterupsi acara makan-nasi-banyak-karena-kesalnya. Jaejoong mendongak dan sukses melongo. Matanya membulat lebar. Mulutnya seakan kelu mengunyah nasi. Sadar sesadar-sadarnya bahwa beberapa butir nasi tercecer di bibirnya. Tapi ia setengah kehilangan kesadaran.

"Choi Yunho. Aku murid baru, salam kenal. Aku juga berada di kelasmu Jae," (Yunho at Wrong Number)

Rambut hitam kelam. Mata foxy tajam. Hidung bangir. Bibir hati. Tahi lalat jelek! #eh

"Jae, gwaenchanha?" Yunho mengibas tangannya di depan wajah Jaejoong, berharap namja itu membalas sapanya.

Terlupa sesaat akan misi mendekati Shim Changmin yang gagal. Jaejoong menelan ludahnya nasi yang memenuhi mulutnya denan kesulitan.

"Ah y-ye…."

"Let's be friend buddy," Yunho tersenyum dan memperlihatkan eye smile nya. Jaejoong meneguk ludah gugup.

"A-ah, y-ye." Mengumpat dalam hati. Buat apa gugup coba?

Jaejoong menyuapkan kuah kuning dalam mulutnya. Berusaha tenang dan memperbaiki posisi makannya. Jika di depan orang lain seperti ini entah kenapa table manner-nya kambuh.

Srak!

Seseorang duduk di kursi sebelah Jaejoong, Kim Junsu. Ia menyodorkan sebuah amplop pada Jaejoong.

"Yang tadi tolong dimaafkan. Aku ingin kita berteman dekat mulai sekarang, dan kau harus menjagaku". Jaejoong menatap kaget pada Junsu. Apa-apaan dia ini.

"Ini,"

"Buka saja," Jaejoong menatap sebuah amplop berwarna pink polkadot putih heran. Semakin heran ketika di dalamnya terdapat selembar cek senilai seratus ribu won.

"Untukmu. Kka, aku pergi dulu." Jaejoong mencibir, dikira ia bodyguard bayaran apa? Tapi tak urung dia menyimpannya juga di saku. Lumayan untuk pesta soju!

"Aku heran dengan universitas ini. Mereka masih mewajibkan mahasiswanya untuk memakai seragam. Kuno sekali bukan?." Jaejoong menatap Yunho dan mengangguk setuju, benar juga.

"Tak tahulah, mungkin untuk ketertiban," jawabnya sambil lalu.

.

.

Jaejoong menatap lapangan dari ruang kelasnya di lantai dua. Posisi bangku di belakang sepertinya berdampak pada semangatnya hari ini. Ia menguap lebar sekali hingga mendapati Yunho sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum kecil. Otomatis ia kembali focus pada buku paket matematika di meja. Yang ia tak mengerti sama sekali.

'Paboya~' Jaejoong merutuk dalam hati. Bagaiamana rupa dia waktu menguap tadi? Jelekkah?

Di depan, Shim Changmin menuliskan jawaban soal matematika rumit yang bahkan enggan dilihat oleh Jaejoong. Jenius. Fabulous. Bagaimana bentuk otaknya Jaejoong tak tahu. Dasar putra Jung!

"Aku tak tahu mengapa tak seperti biasa. Ada kesalahan kecil di jawaban Changmin kali ini." Jane seonsaengnim menatap Changmin. Sedang yang ditatap hanya tertunduk kikuk.

Kelas berdengung ribut.

"Ada yang bisa menyempurnakan?" tanya Jane seonsaengnim.

"Seonsaengnim, kalau Changmin saja tidak bisa mengerjakan, maka tidak ada yang bisa mengerjakan," ucap Junsu diamini sekelas.

"Alasan saja. Baiklah, kudengar ada murid baru di kelas ini….hm…..Kim Jaejoong. Mana Kim Jaejoong?"

Jaejoong yang terpanggil terkejut dan merebahkan kepalanya di meja. Hell! Apapun asal bukan eksak! Hatinya was-was. Gila, mau nulis apa di depan coba? Cara baca simbol-simbol matematika saja tak tahu!

"Kim Jaejoong. Yang mana Kim Jaejoong?"

"Y-ye?"

"Kudengar kau adalah murid top di sekolah sebelumnya. Soal seperti ini bukan apa-apa kan, maju dan kerjakan Kim Jaejoong"

"Y-ye? Ah…itu bukan…aku tidak seperti itu seonsaengnim…pasti sebuah kesalahan…a-aku…." Otak-pintar-menyusun-strategi-bertempurnya mendadak buntu. Alasan apa yang harus ia lontarkan? Jaejoong tersenyum kikuk pada Jane seonsaengnim.

"Tidak usah rendah hati seperti itu. Maju dan tunjukkan pada kami semua kecermelangan otakmu itu."

Kakinya bergetar ketika maju ke depan. Memang ia murid yang top di sekolahnya dulu. Tapi top sebagai kingka sadism, bukan smartisme(?) begini. Ini pasti ulah Kangin hyung!

Jaejoong menatap papan tulis hijau dengan kapur di tangan kanan dan penghapus di tangan kiri. Seriously he wanna die now! Sin…cos…tan….apalah itu? Ia tak mengerti sama sekali. Berulang kali merutuki Kangin tak berdampak apa-apa. Maunya lari ke luar kelas dan mencukur kepala Kangin hyung hingga mengkilat, sekalian juga mencabuti bulu kakinya.

"Kau bisa memulai Kim Jaejoong," ujar Jane seonsaengnim.

"Ba-baik."

Ragu, Jaejoong menghapus tiga baris jawaban terbawah Changmin. Matilah ia sekarang! Apa yang harus ditulisnya?

Kriiiingg!

"Baiklah, kita lanjut bab berikutnya minggu depan. Jangan lupa belajar. Sampai jumpa", Jane seonsaengmin melenggang keluar seiring bunyi bel penyelamat Jaejoong. Iapun menghela nafas lega.

Bersyukur dan berdoa dalam hati. Siapapun orang yang telah membunyikan bel, Jaejoong doakan agar mendapat cinta sejati! Tiga detik saja terlambat, Jaejoong yakin akan ngompol di tempat.

.

.

.

"Kau mau membunuhku atau apa? Sudah cukup buruk seharian ini aku di sekolah. Murid top? Yaaaa! Neo micheosseo?"

"Kau ingin menjatuhkan harga diriku? Pabo pabo! Hampr mati berdiri aku tadi"

'Changmin adalah murid top di kelas, akan lebih mudah mendekatinya jika imej mu juga murid top.'

"Tapi bukan matematika hyung!"

'Sudahlah, jalani saja tugasmu.'

PIP!

"Semuanya gila!" Jaejoong berteriak ke hapenya. How crazy he is now?

.

.

"Ini tempat tinggalmu sekarang. Mungkin suatu saat Changmin akan berkunjung, dan tempat ini kubuat senyaman mungkin." Kangin menggeret koper Jaejoong ke dalam kebuah apartemen yang tidak terlalu mewah namun apik dan nyaman. Mayoritas furniture berwarna hijau, jauh sekali dari imej seorang Kim Jaejoong.

Terdapat banyak pernak-pernik 'khas' seorang mahasiswa dengan banyak buku dan aksesoris layaknya remaja tanggung. Sangat berbeda dengan Jaejoong yang sebenarnya menyukai merah. Lagipula umurnya 23 kini! Yang benar saja.

"Hyung, banyak sekali tas di sini. Apa gunanya?" Jaejoong menunjuk beberapa ransel coklat dengan hastag nama hari. Untuk apa sebanyak ini?

"Hanya untuk jaga-jaga. Setiap tas berisi buku pelajaran yang berbeda dan beberapa perlengkapan. Hanya jaga-jaga," ujar Kangin, dan Jaejoong hanya bisa melengos.

"Terserah lah,"

"Jaejoong-a, nawa. Kka, lihatlah ini,"

Jaejoong menghampiri Kangin yang berdiri di jendela dan menyodorkan teropong high resolution dengan tripod.

"Ada apa?"

"Lihat dinding ber cat krem? Itu rumah Jung Siwon, tapi Changmin tinggal sendirian di sana."

"Whoa, rumah yang besar."

"Benar," Kangin meneguk sebotol mineral yang ia temukan di atas nakas.

"Hyung sengaja menempatkanku di sini. Pintar sekali, haha." Kangin tersenyum mendengar kekehan Jaejoong.

.

.

"Lahir di Seoul, 18 Februari. Hobi bermain computer, game….hhh….berubah menjadi pendiam sejak ibunya meninggal karena kanker payuadara…..menjadi sangat introvert…..". Jaejoong terus membaca note book yang diberikan Kangin tadi siang. Kini ia sedang berada di balkon kamar dengan taburan gemerlap bintang dilangit, menghiasi kelamnya malam.

Jaejoong menggumam sambil memperhatikan siluet yang nampak pada jendela-jendela besar kamar Changmin yang entah sedang melakukan apa. Daripada ia belajar pelajaran, menyelidiki seseorang seperti ini lebih menantang.

Serius deh, rutinitas para pelajar itu membosankan. Hanya teman-teman dekatnyalah yang dulu membuat ia bertahan hingga tingkat akhir dan lulus dari sekolah.

"Hhh….." Jaejoong menggerung pelan, meregangkan otot yang kaku karena udara dingin. Boxer abu-abu selutut dan sleeveless warna hitam sama sekali tidak membantu menghalau angin malam yang membelai kulit pucatnya.

"Hhh….." menggerung lagi. Ia menyusuri kulit lengan dengan telunjuknya. Sebagai seorang lelaki, apalagi anggota kepolisian, sedikit abnormal jika kulitnya pucat seperti ini. Ahh…haruskah aku melakukan tanning? Seperti Kangin hyung atau seperti Jung Siwon. Di folder foto yang berhasil di dapat Boyoung tempo hari, ada beberapa koleksi pribadi Jung Siwon. Termasuk diantaranya foto saat ia pergi berlibur ke Bunaken, Indonesia.

Terlihat sekali kulit tubuhnya yang kecoklatan di timpa sinar matahari dan berkilat indah karena air yang terciprat sewaktu surfing.

Juga enam kotak alias abs yang terlatih sempurna. Sempurna.

Jaejoong mengusap pelan perut datarnya. Tidak rata, ada bentuknya juga. Beberapa tahun di akademi militer tak pelak turut andil dalam pembentukan bentuk badannya. Bisep ada, trisep ada, six pack ada. Meski tidak berbonggol bonggol layaknya binaragawan, setidaknya pantas kok dipamerkan di jalan –maksudnya di umum.

Membayangkan bagaimana sendainya ia topless di tengah jalan ketika ada parade. Lalu para gadis akan berteriak merapalkan namanya dan berharap menjadi kekasihnya.

"Sepertinya aku harus tanning…atau berjemur," Jaejoong menggumam. Karena bosan ia menggigit ujung pen yang sedang ia bawa. Mengulumnya tanpa alasan jelas.

Ahh…sepi sekali malamnya kali ini, pikirnya.

"Buku apa itu?"

"A-ah?" suara bass menginterupsi ketenangan yang Jaejoong ciptakan. Seketika ia memuntahkan pen yang ia gigit. Menoleh ke kanan, mendapati seseorang di balkon sebelah tersenyum padanya.

"Hai Jae,"

"Kau? Mengapa di sini? Sedang apa?" tanya Jaejoong kaget. Serius deh, ia kaget mendapati Yunho berdiri di balkon sebelah tersenyum seperti itu.

"Aku tinggal di sini. Wae?" tanya Yunho balik.

"Ah, ani Choi Yunho-sshi," jawab Jaejoong kikuk.

"Hahaha, tidak usah terlalu formal. Panggil Yunho saja."

"Oke."

"Tadi itu buku apa Jae?" kini Yunho menopang dagunya pada tangan yang terlipat di pagar balkon, menatap Jaejoong yang menurutnya manis itu, dan juga tampan.

"O-oh…ini buku puisi Johan Wolfgang van Goethe. Aku penyuka puisi." Jawab Jaejoong dusta. Sampai ia jadi presiden pun, puisi adalah hal yang membosankan dan tidak menarik.

"Oh…keren sekali. Dia pujangga terkenal!"

"Ya, aku setuju Yunho." Jawab Jaejoong sekenanya. Kali ini dua rius, Johan Wolfgang atau siapapun itu ia tidak tahu! Benar pujangga atau bukan Jaejoong tidak tahu. Yang bisa ia pastikan bahwa nama Johan Wolfgang van Goethe adalah milik orang Jerman. (di kehidupan nyata, JWVG adalah benar seorang pujangga asal Jerman)

Mengetahui bahwa Yunho tinggal tepat di samping apartemennya, Jaejoong merasa aneh. Merasa bodoh akan dirinya. Fakta bahwa Yunho berada di dekatnya, 'rasa' bernama apa yang harus ia rasakan? Suka? Bahagia? Sedih? Cuek?

Jaejoong mengacak rambut frustasi. Apa-apaan dia ini!

.

.

Kedai Ramen 'Babeh Ah Song' 01.45 PM

Ciit!

Tiga mobil sedan hitam terparkir rapi di depan kedai yang jaraknya lumayan jauh dari jalan raya. Terkesan tersembunyi dan suram. Dindingnya terbuat dari rangkaian kayu dan kertas kuat dari Jepang asli. Beberapa umbul-umbul kecil berwarna-warni terlihat usang dan menggantung dengan mengenaskan. Tapi tak mengurangi jumlah pengunjung kedai. Dan jam istirahat siang seperti ini hampir tidak ada tempat duduk yang kosong.

Empat orang berjas hitam keluar dari mobil pertama dan ketiga. Disusul empat orang keluar dari mobil kedua. Dua lelaki berjas hitam, seorang wanita dengan rambut merah menyala dan blazer serta hotpant ketat berwarna hitam. Dan seorang lelaki paruh baya berambut hijau klimis yang terus memamerkan senyumnya. Lelaki berambut hijau tersebut berjalan masuk kedai diekori oleh si wanita dan sepuluh lelaki tadi menuju tempat kasir.

"Ah Song…! Lama tidak bertemu. Apa kabarmu?"

"Tuan Park…senang melihatmu kembali. Aku baik. Bagaimana dengan Erratic?" seorang pria gembul bertubuh pendek tersenyum sumringah pada lelaki berambut hijau. Kepalanya yang hampir botak dan senyumnya yang menjijikkan serta kaos oblong putih yang kusam membuat senyum lelaki berambut hijau makin lebar.

"Ah Song, penampilanmu makin tidak karuan. Ada apa?"

"Stok daging special ku sudah habis. Lama sekali kau tak berkunjung kemari, banyak pelanggan yang mencari sup andalanku. Sayangnya aku tak bias memenuhi permintaan mereka karena daging yang khusus dipakai untuk sup ini habis. Jinyoung-ah, syukurlah kau datang." Ujar lelaki gembul tersebut. Rahang lelaki berambut hijau atau Jinyoung mengeras.

"Sudah kuperingatkan jangan menyebut namaku Songie….."

Wus!

Ctak!

"Argh!"

Sebuah jarum kecil tertancap di kening Ah Song. Jinyoung tersenyum puas dan mengelus bibirnya perlahan.

"Meski tak lagi muda, tiupanku tetap mematikan Songie…." Jinyoung mencabut kembali jarum yang tertancap pada kening Ah Song yang masih meringis kesakitan. Nama aslinya, 'Jinyoung' adalah haram hukumnya terucap dari bibir manusia hina macam Ah Song.

"Kau tidak berubah Tuan Park…mianhae…ah, sebelum kalian masuk ke ruang bedah. Boleh aku menghabiskan waktu bersama noona cantik ini?" Ah Song melirik genit pada wanita berambut merah di sebelah Jinyoung.

"Hyosung, urus dia." Jinyoung berkata pada Hyosung –nama wanita tersebut –dan dibalas anggukan. Ah Song yang melihat reaksi tersebut memekik girang. Sudah lama ia tertarik dengan wanita yang selalu bersama Jinyoung tersebut. Wajahnya cantik dan menarik, badannya berisi dan montok. Siapa lelaki yang tak 'ingin'? Dan ini permintaan pertamanya pada Jinyoung. Tak menyangka bisa dikabulkan.

"Kemari noona," digenggamnya jemari Hyosung dan digiring menuju kantor kedai yang terlihat kumuh.

Sementara itu Jinyoung dan ke delapan lelaki ber jas hitam berjalan menuju sebuah pintu, dan masuk ke dalam dapur kedai. Masuk lagi ke dalam sebuah pintu menuju ruang penyimpanan bahan makanan. Terus berjalan menyibak tirai tempat penyimpanan daging. Menunduk sedikit masuk ke dalam lorong panjang yang akhirnya membawa mereka di sebuah tempat dengan remang lampu berwarna merah.

Terlihat sebuah kasur lipat khas rumah sakit dengan seseorang terbaring di atasnya, terikat oleh jalinan tali yang membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.

"Shinwoo-ah, long time no see." Jinyoung tersenyum mengejek dan membelai poni pria yang terbaring dengan lebam dan darah mongering di sekujur tubuhnya.

"Cuih!"

Ludah bercampur darah mengotori wajah Jinyoung.

"Ssibal! Pergi kau ke nerakamu Park!" matanya mengilat marah tapi badannya tak mampu bergerak. Jinyoung terkekeh sinis.

"Shinwoo sayang….nasibmu takkan begini jika kau menurut padaku dan tak berulah. Kau sangat berani Shinwoo sayang. Jika kau tak mengambil uangku, mungkin kita sudah berbulan madu sekarang. Aku sangat percaya dan cinta padamu. Tapi…kau dan Siwon baj*ngan itu berani menantangku. HOW DARE BOTH OF YOU! Cuih!" Jinyoung balas meludah pada badan Shinwoo.

"Makan semua cintamu, aku tak pernah mencintaimu….aku mencintai Sandeul. Sandeul yang malang…harus mati di tanganmu. Hahaha, bunuhlah aku! Aku ingin menemui Sandeul secepatnya." Ujar Shinwoo tersenyum manis.

Sekilas jantung Jinyoung berhenti berdetak. Ditatapnya wajah lelaki yang selama tiga tahun kebelakang berstatus sebagai kekasihnya. Memang benar, ia membunuh Sandeul pada kecelakaan yang ia rencanakan. Ia manusia sadis. Padahal saat itu status Sandeul adalah pasangan sah Shinwoo.

Kini fakta terucap langsung dari Shinwoo. Shinwoo tak pernah mencintainya. Haha. Lucu. Jadi ini? Shinwoo berpura-pura mencintainya, dan pada akhirnya menghancurkan dirinya. Dengan cara mengalih namakan seluruh asset atas nama Shinwoo.

Berhasil. Seluruh asset Jinyoung jatuh pada Shinwoo kecuali sebuah apartemen yang tidak ada harganya dengan jumlah asset yang telah dipindah tangankan. Jika para anggota Erratic tahu akan hal ini, habislah mereka.

Para anggota Erratic memang dikenal dengan loyalitas dan dedikasi tinggi juga berkemampuan. Bukan para gembel anarkis tak berpendidikan yang menjadi anggota gangster underground tersebut. Percayalah, mungkin saja diantara dosen kalian atau para pejabat daerah adalah anggota gangster Erratic. Tak heran jika darah mereka adalah darah mahal penuh gelimpangan uang dan emas.

Kekuatan mereka terbangun atas kekayaan IPTEK dan harta. Jika harta sudah tak ada, IPTEK tak bisa tertunjang lagi. Dan tinggal menunggu kematian Erratic.

Jinyoung menggeram keras mengingat fakta itu.

"Give me my lovely stuff….." ujar Jinyoung. Seorang lelaki memberinya pisau belati yang berkilat tajam di bawah keremangan lampu.

"Cepatlah Jinyoung sayang…Sandeul menungguku…" Shinwoo berucap lirih.

.

.

.

Chapter 3 selesai ciyaat XDD

Ini sudah panjang! 2k lebih ._.a

Jika ada yang kurang puas dengan chapter atau FF ini, minta dipuasin Yunpa sana. Ga tanggung muka jontor sama Jaema ya #plak

YJ moment sangat kurang….hehe, masih belum…apa mau langsung NC? -_- #plak

*ga ding, candaa*

Kritik, saran, bash, suggests, pujian(?), hinaan, duit jugak saya terima ._.

Tuwerimuakuasih saking terimakasihnya