(Last Chapter)

Jaejoong menyerah di pelukan Ummanya. Ia diliputi kesedihan luar biasa. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin, menjeritkan Yunho bukan pembunuh sampai suaranya habis. Tidak mungkin seorang Yunho membunuh! Yunho orang paling paling paling baik yang pernah Jaejoong temui.

Kalau namja itu memang jahat, dia bisa menyerang Jaejoong kapan saja dia mau, dia pasti sudah menyandera Jaejoong dan memberontak karena makanan yang diberikan Jaejoong hanyalah strawberry, strawberry dan strawberry. Namja itu punya kesempatan seminggu ini untuk menjahatinya.

Kalau namja itu jahat, dia tidak mungkin mau membantu Jaejoong membuat PR dan membersihkan kamar mandi, tidak mungkin juga menawarkan diri untuk dikurung di dalam kamar mandi. Mengejar Jaejoong di tengah hujan deras dan membuat dirinya dikenali.

Kalau namja itu jahat, tidak mungkin pelukannya terasa begitu hangat, tidak mungkin ia mau bersedih untuk Jaejoong.

Tidak mungkin Jaejoong membutuhkannya saat ini…

"Maafkan aku Yun…." Lirih Jaejoong.

Jaejoong kembali jatuh tidak sadarkan diri di pelukan Ummanya. Tubuhnya masih sangat lemah, demamnya sangat tinggi. Umma Kim menyelimutinya dengan selimut hangat kesayangan Jaejoong yang bermotif hello kitty dan membetulkan letak kain kompres yang berada di kening namja cantik itu. Ia memandang miris anak semata wayangnya, menyadari betul bahwa ia sudah sangat sering menelantarkan putra tunggalnya yang dulu sangat manja itu.

.

.

Jaejoong terbangun keesokan harinya. Kamarnya terasa sangat sepi. Jendela balkonnya terbuka lebar, membuat udara segar bebas masuk. Jaejoong melihat jam dinding yang bertengger di atas tv kamarnya. Jam 10.00 AM, pantas saja perutnya keroncongan. Dia terlambat bangun, belum sarapan dan lagi-lagi tidak masuk sekolah.

Jaejoong menoleh ke kamar mandi yang tertutup. Yunho juga pasti kelaparan. Untung saja namja tampan itu tidak menggedor-gedor pintu meminta makan. Jaejoong tersenyum, kemudian bangun dari tempat tidur dan berjalan untuk membuka pintu kamar mandi.

Eh? Tidak dikunci?

Kamar mandi kosong. Jaejoong tertegun.

Seketika ia tersadar.

Jung Yunho sudah ditangkap polisi.

Jaejoong terduduk di pinggir ranjangnya, menatap poster DBSK yang tertempel di dinding kamarnya, doe eyes indahnya terfokus menatap sang leader, Uknow yang terlihat seperti sedang tersenyum ke arahnya. Pandangannya menerawang. Jung Yunho dan Uknow DBSK memang sangat mirip!

Kemudian pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk. Jaejoong menoleh dan mendapati Ummanya berdiri dengan wajah khawatir.

"Bagaimana keadaanmu, sayang? Sudah baikan?" tanya Ummanya, sambil mengusap-usap rambut Jaejoong.

Jaejoong tersenyum dan mengangguk.

Apa usapan seorang Umma sebegitu ajaibnya? Mengapa kegalauan Jaejoong tiba-tiba hilang begitu Umma cantiknya menyentuh dan mengusap rambutnya pelan?

"Umma, saranghae.." lirih Jaejoong sendu.

"Nado.."

"Umma bohong! Kalau Umma benar mencintaiku, kenapa Umma selalu meninggalkan aku sendirian di rumah?" desak jaejoong.

Ummanya menghela nafas pelan, ia menatap putra semata wayangnya dalam, seperti tengah berpikir dan hendak mengambil sebuah keputusan yang cukup berat.

"Baiklah, mulai sekarang Umma tidak akan meninggalkan baby lagi." bisik Ummanya serius.

"Kembali menjadi Ummaku yang dulu? Yang berada di rumah 24 jam dan menemaniku?" tanya Jaejoong penuh harap.

Ummanya mengangguk sambil mengecup pelan bibir cherry putranya yang sangat cantik itu.

"Berarti Umma bisa selalu memasak makanan kesukaanku!" seru Jaejoong tiba-tiba sambil tersenyum lebar.

"Nde, umma akan selalu memasak untukmu!" balas Ummanya bersemangat.

"Yeay! !"

"Dan kau harus menghabiskannya. Kau sangat kurus, baby.." terselip nada penyesalan yang amat dalam dari suaranya.

Jaejoong mengangguk. "Pastinya!" ujarnya ceria, mencoba mengusir rasa bersalah ummanya.

Jaejoong kembali memandangi poster DBSK. Walaupun ia sudah memandanginya sejak ia bangun tidur, tetap saja ia senang memerhatikannya.

"Hmmm… siapa itu, sayang?" tanya umma cantiknya dengan suara menggoda.

"DBSK. Idolaku!" Jawabnya riang.

"Ada yang kau suka?"

"Nde.."

"Siapa?"

"Leadernya."

"Yang mana?" tanya Ummanya sambil tersenyum.

"Yang itu." Jawab Jaejoong sambil menunjuk namja paling tampan di dunia bagi Jaejoong. (nado bagi author.)

Ummanya tampak berpikir sejenak.

"Seperti pernah lihat."

Jaejoong terkikik. "Dia memang mirip seseorang."

"Benarkah? Mirip siapa?" tanya Ummanya penasaran.

Jaejoong menoleh. "Janji Umma tidak akan marah?"

"Janji."

"Yaksok?"

"Yaksoke! Ayo cepat katakan, mirip siapa?"

"Buronan!"

"Buronan? Maksudmu Jung Yunho?"

.

Hening sebentar.

.

"Kok umma tau?

Terdengar suara tawa ummanya.

"Umma kan juga nge-fans sama buronan tampan itu!"

.

Hening lagi.

.

"UMMAAAAA…? ? ?"

"Hahahaa.. Umma kan juga membaca koran dan mengikuti berita, baby. Makanya Umma tahu, bahwa ada kasus pembunuhan yang melibatkan seorang namja muda nan tampan sebagai tersangkanya." Jawab Ummanya sambil tertawa.

Jaejoong merunduk malu. Selera dia dan ummanya memang selalu sama.

"Dan si tersangka pembunuhan itu sudah lama sekali buron. Umma sangat kaget ketika menemukannya masuk ke dalam kamarmu!" lanjut ummanya.

'Dia memang sudah beberapa hari ini ada bersamaku, Umma.' gumam Jaejoong dalam hati.

.

BRAAKKKK..

Tiba-tiba pintu kamar Jaejoong menjeblak terbuka dan dengan tidak sopannya dua orang bernama Kim Junsu dan Shim Changmin menghambur masuk. Junsu langsung memeluk Jaejoong sampai namja cantik itu merasa sesak karena kehabisan nafas.

"Joongie, apa kau baik-baik saja?" tanya Junsu dengan suara bergetar.

Jaejoong membalas pelukan Junsu dan berusaha bersikap ceria. "Iya, aku baik-baik saja Suie, seperti yang kau lihat."

"Hyung…" sapa Changmin lesu.

"Minnie, kau tidak ingin memelukku?" tanya Jaejoong setelah Junsu melepaskan pelukan eratnya.

"Ngg.. Ak.. Aku malu.." jawab Changmin malu-malu sambil melihat ke arah Umma Kim yang masih duduk di pinggir ranjang Jaejoong.

Umma Kim tertawa seakan mengerti kecanggungan Changmin, "Baiklah, kalau begitu Umma keluar dulu membuatkan minuman dan camilan untuk kalian. Dan kau Shim Changmin, kau ini masih saja seperti dulu, tidak pernah berubah." Ledek Umma Kim.

Changmin berjalan ke hadapan Jaejoong dan duduk di pinggir ranjang hyung kesayangannya.

"Hyungie, sebenarnya kau menganggap kami apa selama ini?" tanyanya datar, namun suaranya terdengar menuntut.

Jaejoong terhenyak, tidak bisa menjawab.

"Kenapa Hyung? kenapa semuanya harus disembunyikan sendiri? Kenapa hyung tidak pernah cerita pada kami? Kami tau hyung sedang banyak masalah. Dan aku yakin hyung tidak sedang baik-baik aja. Aku sangat menyayangimu, Hyung. Berbagilah dengan kami, jangan disimpan sendiri. We're here for you, Hyung…"

Jaejoong tertunduk. Perasaan bersalah menyergapnya. Jaejoong membuang pandangannya kemana saja kecuali ke mata kedua sahabat baiknya.

Kim Junsu sudah menangis sejak tadi dan Changmin juga terlihat berusaha menahan air matanya.

"Hyung…" desak Changmin.

Jaejoong menoleh. "Maafkan aku, Minnie.." Jaejoong memeluk Changmin erat. Dongsaengnya yang satu ini memang selalu terlihat cuek dan santai. Tapi sebenarnya dia adalah orang yang paling peka. Dia selalu mengerti dan selalu menyediakan badannya untuk menjadi tameng kedua sahabatnya, Kim Jaejoong dan Kim Junsu.

Dan kini mereka bertiga berada di atas kasur Jaejoong. Junsu duduk di samping kanan Jaejoong, menyandarkan kepalanya di bahu kanan namja cantik itu. Lalu Changmin berada di samping kiri Jaejoong dengan kepala yang berada di atas Changchang (boneka gajah Jaejoong, yang namanya terinspirasi dari nama Changmin sendiri.)

Jaejoong menghela napas dan memandang sahabat-sahabatnya. Sepertinya memang sudah terlanjur banyak yang Jaejoong sembunyikan dari semua orang.

"Ceritanya panjang sekali.." kata Jaejoong mulai buka suara sambil tersenyum.

Junsu dan Changmin terlonjak senang. Junsu segera menegakkan kepalanya, siap mendengarkan.

"Hari ini waktuku khusus untukmu Joongie! Begadang pun tidak masalah!" ujar Junsu bersemangat. Jaejoong semakin mengembangkan senyumnya.

Jaejoong memang benar-benar bodoh. Bisa-bisanya ia menyembunyikan semuanya dari Junsu dan Changmin. Bisa-bisanya ia menyalahkan semua orang, sempat iri pada Changmin, sempat iri pada Junsu., merasa malu dengan keadaan keluarganya, lalu memilih sendiri dan menyembunyikan semuanya. Padahal disini ada orang-orang yang selalu menyayanginya. Changmin, Junsu, Ummanya, Ahjumma Song dan ….. Jung Yunho.

Kenapa Jaejoong harus memendam semuanya sendiri?

"Tapi aku bingung mau mulai dari mana?" jawab Jaejoong yang mendatangkan seruan kecewa dari para penonton(?)

"Pokoknya harus diceritakan semua dari awal, titik!" pinta Junsu tegas.

"Hmm.. oke, Jadi begini -" Jaejoong mulai bercerita.

Junsu dan Changmin mendengarkan cerita Jaejoong dengan sangat serius, sesekali mereka tertawa keras, sesekali mulut mereka ternganga lebar, dan tak jarang ekspresi wajah mereka berubah aneh.

" Wajah kalian terlihat pabo! Hahaha.. sudah, sudah, aku tidak kuat melanjutkan. Aku tidak kuat! Hahahaha.." tawa Jaejoong meledak.

"Memasukkan namja asing ke kamar! Ya ampun, Kim! Buronan pula… ya ampun! Ya ampun! Ya ampuuuun! Aku tahu Jung Yunho itu tampan, keren, dan aku akui aku sempat tergila-gila dibuatnya, tapi jangan sampai lupa harga diri dong, masa tidur sekamar dengan namja yang kau tidak tahu asalnya." Omel Junsu.

"Dia tidur di kamar mandi kok, Suie!" sela Jaejoong membela diri.

"Itu juga tidak boleh! Masa namja setampan itu disuruh tidur di kamar mandi?!" Lanjut Junsu.

Jaejoong dan Changmin serempak memutar matanya malas.

"Si bebek berisik sekali nde hyung." Bisik Changmin pada Jaejoong.

Jaejoong mengangguk.

Junsu malah terus mengoceh dengan wajah bersemu merah, karena terlalu menggebu-gebu.

"Tapi kau yakin dia tidur di kamar mandi dan tidak melakukan apapun terhadapmu, Hyung?" selidik Changmin.

"Tentu saja!" jawab Jaejoong cepat.

"Jadi dia betul-betul tidur di kamar mandi?" Junsu masih emosi, karena menurutnya namja setampan Jung Yunho pantang tidur di kamar mandi..

"Iya, dia tidur di kamar mandi!" Jawab Jaejoong tegas.

.

"Siapa bilang dia tidur di kamar mandi?" tanya Ummanya begitu masuk ke kamar Jaejoong sambil membawa nampan penuh camilan.

Changmin langsung mengambil inisiatif membantu Umma Kim, membawakan nampan tersebut dan menaruhnya di lokasi yang paling strategis, yaitu di hadapannya.

"Ummaa…" Jaejoong kebingungan.

"Malam itu hujan lebat plus disertai kilat. Umma berniat ke kamarmu dan menemanimu. Ketika umma masuk, kamarmu sangat gelap. Dan begitu umma menekan sakelar lampu, maka terlihatlah kalian berdua terlelap di kasur. Kau dan namja tampan itu tertidur, dia tertidur sambil memelukmu dan jemari kalian saling bertautan. Untung jantung umma kuat, kalau tidak umma pasti sudah pingsan, karena serangan jantung!" jelas Ummanya.

Kim Jaejoong membuka mulutnya lebar ketika mendengar pengakuan ummanya tentang kejadian dimana ia pingsan itu. Apa benar Yunho memeluknya? Jaejoong sendiri tidak tahu, yang jelas memang ia merasa hangat.

"Umma kaget sekali. Namja itu merengkuh pinggangmu dan menggenggam tanganmu erat sekali. Kemudian umma menjerit dan berlari keluar memanggil appamu. Namja asing itu bangun. Wajahnya terlihat jelas bahwa dia juga sangat kaget. Appamu langsung menghubungi polisi, lalu ketika umma dan appa kembali ke kamarmu, kami melihat namja tampan itu masih tenang-tenang saja di kamarmu, dia memang tidak lagi di atas ranjang, tapi duduk di karpet, berlutut memandangimu."

Junsu dan Changmin ikut tegang mendengar keseluruhan cerita Umma kim.

"Apa benar begitu kejadiannya, Ahjumma?" tanya Junsu.

"Apa aku terlihat seperti mengarang cerita, eoh?" tanya balik Umma Kim.

Ketiganya menggeleng.

"Joongie/Hyung…" Junsu dan Changmin memangil Jaejoong yang terlihat melamun secara bersamaan.

"Apa?" sahut Jaejoong pelan.

"Benar begitu?" tanya Changmin, mewakili Junsu dan Umma Kim.

"Aku tidak tahu." Jawab Jaejoong, dia sangat merindukan Yunho sekarang. pelukan hangat itu. Ternyata bukan sekedar mimpinya.

"Kau betul-betul cari gara-gara, Joongie. Dia itu tersangka kasus pembunuhan!" cerocos Junsu.

"Dia tidak bersalah, Suie!" jawab Jaejoong agak keras.

"Joongie Hyung.. aku tidak habis pikir denganmu. Kau menyembunyikan seorang buronan. Kalau sampai polisi tahu bahwa selama ini kau membantu menyembunyikannya, kau pasti akan terseret kasus hukum juga hyung."

"Itu tidak mungkin, Changmin." Umma Kim menyela. "Namja buronan itu bilang dia menyelinap masuk lewat jendela kamar Jaejoong. Jaejoong tidak ada sangkut pautnya sama sekali."

"Tapi Yunho tidak bersalah. Aku percaya padanya." Jaejoong berkata sendu.

Ummanya duduk di samping ranjang Jaejoong, menggantikan Changmin yang sedang sibuk dengan camilan-camilannya. "Umma tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan buronan tampan itu, sayang. Tapi kalau dia memang benar tidak bersalah, dia pasti akan selamat dan segera dibebaskan, baby. Jangan terlalu khawatir." kata Ummanya pelan, seakan mengerti keresahan putra cantiknya.

Jaejoong tertunduk malu.

Kenapa sih sekarang perasaannya mudah sekali diketahui orang?

Melihat Jaejoong tersipu dengan wajah nyaris memerah, Junsu dan Changmin langsung menggodanya. "Ciye, ternyata memang kau ini mengidolakan si buronan tampan ya?"

"Ternyata baby Umma sudah besar, ya.." Umma Kim ikut menggoda putra cantiknya.

Jaejoong mendengus dan memandang ke arah poster favoritenya.

Uknow …

Jung Yunho….

.

.

Jaejoong berjalan ke dapur menuju lemari es besar yang ada di pojok ruangan itu, melihat-lihat apa yang bisa ia makan.

Pir….

Apel….

Jeruk….

Pisang…

Cokelat…

Strawberry..

Sejak Jung Yunho pergi dua hari yang lalu, tidak ada yang memakan strawberry-strawberry di kulkas kamarnya, dan sekarang Jaejoong harus melihat buah itu berada di sana, seakan-akan tertempel tulisan "MAKANLAH AKU".

Jaejoong terduduk di lantai. Lagi-lagi ia teringat Jung Yunho. Jaejoong tak bisa mengontrol pikirannya akhir-akhir ini. serasa otaknya sudah diisi folder berisi wajah Yunho, senyuman Yunho, nyanyian Yunho, tatapan Yunho.

Yunho, Yunho, Yunho….

Tanpa sadar tangan Jaejoong naik, bergerak mengambil sebuah strawberry. Ia menelan ludah. Sejak kecil ia tidak pernah suka strawberry yang dimakan langsung. Sekarang pun strawberry bukan buah yang menarik minatnya untuk dimakan. Tapi kenapa saat ini tangannya bergerak dengan sendirinya mengambil buah itu?

Sesuatu dalam diri Jaejoong mendorongnya untuk menggigit daging berwarna merah pekat itu. Jaejoong mengerjab, kemudian mengunyah pelan-pelan, seakan-akan tersimpan berlian di dalam strawberry yang dilahapnya.

Manis….

Garing….

Sedikit sepat….

Jaejoong mengerjap lagi. Mengedikkan bahu.

'Segar juga.'

Jaejoong kemudian mengambil mangkuk buah itu dan membawanya ke meja makan.

Ahjumma Song memandangi Jaejoong sambil tersenyum penuh rahasia. Tangannya asyik mengaduk adonan kue yang mengental. Jaejoong serasa malu dipandangi dengan ekspresi seperti itu, seakan-akan Jaejoong salah masuk ke toilet pria di sebuah mall. (Eh? Memangnya di toilet mana Jaejoong seharusnya berada?)

"Apa sih, Ahjumma.." renggut Jaejoong.

"Mmmm…," gumam Ahjumma Song panjang. Tangannya tidak berhenti mengaduk.

Jaejoong mengernyitkan kening. "Aiishhh… Ahjumma gak jelas deh!"

Ahjumma Song tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. Ia meletakkan mangkuk berisi adonan di meja dan duduk di seberang Jaejoong.

"Cinta itu ajaib ya, Tuan muda.." katanya. Suaranya terdengar seperti menggoda.

Jaejoong mendongak cepat. Wajahnya langsung memerah. "Ahjumma, ngomongin apa sih?" tanya Jaejoong, pura-pura jengkel sambil terus memakan satu per satu strawberry dari mangkuk buahnya dengan garpu.

Dadanya berdebar-debar keras. Entah mengapa ia merasa Ahjumma Song sedang membicarakan dirinya dan Yunho. Tusukan garpunya menjadi berkali lipat lebih sadis dari sebelumnya.

Ahjumma paruh baya itu semakin tersenyum-senyum melihat cara makan tuan mudanya yang mendadak penuh dengan keganasan(?)

"Ahjumma bilang, cinta itu ajaib… bisa membuat orang yang tidak suka strawberry jadi suka."

Kali ini giliran garpu Jaejoong yang terlepas dari tangannya dan terjatuh berkelontang ke mangkuk.

"Cinta?!"

Ahjumma Song mengendikkan bahunya, tersenyum sambil menggerak-gerakan alisnya dan melenggang ke dapur untuk menaruh adonan ke oven, sedangkan Jaejoong masih melongo dan kemudian tidak jadi melanjutkan acara makannya. Ia mendorong mangkuk buah yang masih berisi beberapa strawberry merah-merah di dalamnya.

Tidak lama, Ahjumma Song kembali duduk dihadapan Jaejoong dan menyodorkan sebuah kertas yang dilipat, kelihatannya seperti sebuah surat.

"Tuan muda, ini surat dari si Buron." Bisiknya.

Jaejoong sempat tidak merespon, mata indahnya membesar,

'Apa telingaku tidak salah dengar?'

"Tuan muda Joongie, Hallooo.." Ahjumma Song mendadak khawatir melihat ekspresi tuan mudanya seperti ayam tetangga yang habis menelan karet.

Jaejoong mengambil surat itu dari tangan Ahjumma Song, lalu memasang wajah juteknya, "Ahjumma tidak baca, kan?" tanyanya galak.

Ahjumma Song menggeleng cepat, ia cukup berakal sehat untuk tidak mentertawai perubahan emosi tuan mudanya, percayalah, dia sudah kebal.

Jaejoong manggut-manggut. "Bagus!" kemudian ia memasukkan surat itu secara hati-hati di sakunya, entah takut terlipat atau tergores, sepertinya surat itu precious sekali baginya.

"Aku ke kamar dulu. Kalau kuenya sudah jadi antarkan ke kamarku ne, jumma. Oia, terima kasih dan tolong jangan bilang Umma ya." Bisiknya di akhir kalimat.

Jaejoong berlari ke kamar dan mengunci pintu kamarnya, lalu ia berbaring telungkup di atas kasurnya dan membuka lembaran kertas yang berisikan tulisan tangan Yunho. Tulisan yang sangat rapi. Jaejoong tahu itu. Yunho pernah membantu mengerjakan PR-nya waktu itu.

.

Joongie,

Maaf ya, aku pergi tanpa pamit. Bahkan aku belum sempat bilang terima kasih buat semuanya dan minta maaf karena selalu merepotkanmu.

Ketika aku pergi, kau sedang sakit. Kemarin kau pingsan setelah hujan-hujanan, kau juga tidak bangun-bangun sampai hampir malam.

Maaf, aku melanggar perintahmu. Malam itu aku tidak tidur di kamar mandi, karena kau terus mengigau, suhu tubuhmu sangat tinggi. Aku bingung harus apa, jadi yang bisa aku lakukan hanya berbaring di sampingmu, memeluk tubuhmu yang menggigil, mengenggam tanganmu sampai kau tenang. Dan aku ketiduran.

Aku tidak sadar bahwa kamarmu tidak dikunci, akhirnya Ummamu melihat aku. Dan polisipun sudah berkumpul di depan rumahmu karena ternyata sebelumnya ada seseorang yang melihat aku ketika melompat keluar dari pagar rumahmu. Mereka tidak memberiku kesempatan untuk menunggumu sadar, aku hanya sempat menuliskan surat ini, dan menitipkannya pada pembantumu.

Joongie, kau harus cepat sehat dan makan yang banyak, (seperti temanmu yang aku tidak tahu namanya itu). Jadilah Jaejoong yang kuat dan tidak cengeng. Jangan pernah menangis sendirian. Tersenyumlah.

Jung Yunho.

.

Jaejoong merasakan matanya memanas, kalau bukan karena kebodohannya berlari berhujan-hujanan ketika itu, pasti Yunho tidak akan mengejarnya, tidak akan ada yang tahu keberadaannya, dan dia tidak akan berada di penjara saat ini.

Mata basah Jaejoong terhenti ke poster di dinding. Tadi Jaejoong tidak memerhatikan poster itu dengan jelas, namun sekarang Jaejoong menemukan tulisan di poster itu. Tampaknya tulisan itu ditulis dengan spidol permanen oleh Yunho. (Siapa lagi?)

To shine always! Everything about beauty is one. It's beautiful when the inside is beautiful as well. – Jung Yunho

.

.

Jaejoong sedang duduk bersantai sambil menonton TV di ruang keluarga ketika Appanya pulang. Pria itu terlihat kaget. Tidak biasanya Jaejoong duduk-duduk di sana. Ruang keluarga itu sudah lama tidak dipakai.

"Joongie? Sedang apa?" Appanya mengelus rambut Jaejoong.

Jaejoong memandangi wajah tampan Appanya. Namja keturunan China itu terlihat sangat tampan diusianya yang semakin matang. Namun ada bekas lipstick di sudut bibir Appanya. Lagi-lagi hatinya terasa sakit seperti diiris tipis-tipis. Ingin rasanya ia menepis tangan appanya kuat-kuat, namun Jaejoong tidak melakukannya. Ia masih berusaha menghormati appanya.

"Menunggu Appa," kata Jaejoong dingin.

Appanya tersenyum manis.

"Appa.." panggilnya.

"Ada apa Joongie? Kau perlu uang?"

'uang? Apa aku terlihat butuh uang?'

Jaejoong menggeleng.

"Ada bekas lipstik di bibirmu, Appa." ujar Jaejoong sambil menatap appanya.

Appanya terkejut. Ia mengusap bibirnya dengan tangan, kemudian memandang jarinya.

"Hmm.. Appa mandi dulu ya." katanya.

Jaejoong masih memandangi Appanya yang mulai berjalan menjauh.

"Aku sudah tahu semuanya, Appa." Nada suara Jaejoong terdengar datar.

Appanya kembali menoleh. Wajahnya seperti topeng, tanpa ekspresi.

"Tahu apa?" suaranya terdengar dingin. Entah pergi ke mana ekspresi manisnya tadi.

"Minggu lalu aku tidak sengaja melihatmu masuk ke dalam Bungalow di golf Lake bersama seorang yeoja." jawab Jaejoong dingin dengan segala emosi yang tersisa.

Betapa sulitnya mengucapkan kalimat itu. Jaejoong menelan ludah kuat-kuat sambil mengepalkan tangan. Betapa sulitnya menahan kesedihan yang sudah mulai merayap naik ke tenggorokannya. Ingin sekali Jaejoong menjerit keras-keras, melepaskan beban berat di hatinya.

Appanya kelihatan sangat panik.

"Apa maksudmu, Joongie? kau pasti salah lihat." tanya Appanya berkilah.

"Tolong jangan bohongi aku lagi, Appa. Dikhianati sudah cukup menyakitkan." bisik Jaejoong pahit.

Jaejoong teringat kalimat yang ditulis Yunho dalam suratnya. Namja cantik itu berusaha menguatkan diri dan tidak menangis. Ia menarik napas kuat sambil gemetar menahan emosi.

Appanya hanya bisa menunduk dalam-dalam.

"Mianhae.. Mianhae.. Appa khilaf." Bisik Appanya lirih.

Jika Jaejoong tahu ternyata berbicara jujur akan sesakit ini, ia pasti tidak akan mau bicara seperti ini.

"Khilaf?" ulang Jaejoong getir, "Mau sampai kapan Appa khilaf? Hari ini? besok? Bulan depan? Sampai aku dan Umma pergi dari kehidupan appa? Sebegitu bencinya Appa padaku dan Umma?"

Wajah appa tampak memelas, sampai-sampai Jaejoong berubah iba padanya. Namun ia pun teringat, dirinya juga terluka.

"Tidak, Joongie. Tidak seperti itu! Appa sangat menyayangimu dan Ummamu! Appa tidak tahu akan seperti apa jadinya hidup Appa kalau kalian pergi…"

"Appa egois! Appa seenaknya saja mempermainkan perasaan kami! Apa itu yang disebut sayang? Appa jarang pulang. Sekalinya di rumah, Appa sama sekali tidak peduli pada kami, tidak pernah bertanya bagaimana kabar kami. Yang Appa tanya hanya apakah aku butuh uang, uang dan uang.. Apa itu yang disebut sayang?" suara Jaejoong bergetar, antara marah dan sedih. Sakit tak terhingga.

Jaejoong berlari melewati appanya. Jaejoong menyentak tangan pria itu yang berusaha menggapai bahunya. Di ruang depan Jaejoong berpapasan dengan Ummanya. Yeoja cantik itu menangis dan memandangi Jaejoong dengan tatapan terluka. Jaejoong melewatinya dan berlari keluar menuju kamarnya.

Jaejoong menjerit sekuat-kuatnya di sana.

"AKU BENCI APPAAAAAAAA! ! ! !"

Jaejoong melirik ke arah meja nakas samping tempat tidurnya, disana ada tiga frame photos kecil berbentuk kotak. Bingkai foto pertama diisi dengan foto umma dan appa yang tengah mengapit dirinya ketika mereka berlibur sekeluarga di Barcelona. Bingkai foto kedua diisi dengan foto dirinya, Junsu dan Changmin di kolam renang belakang rumahnya.

Lalu bingkai ketiga berisi..

Seharusnya berisi fotonya sendiri. Loh?

Kemudian baru disadarinya apa yang aneh.

Bingkai fotonya kosong!

Kemana perginya foto itu? Kenapa bingkainya kosong?

Mungkin foto itu jatuh sendiri? Tidak mungkin! Bingkainya saja tidak terbuka. Bagaimana bisa foto itu keluar sendiri?

Mungkin Changmin atau Junsu mengambilnya? Tidak mungkin juga! Lagipula untuk apa mereka mengambil foto Jaejoong diam-diam? Mereka kan tidak mungkin nge-fans sampai segitunya.

Mungkin fotonya diambil Ummanya kemarin. Untuk ditaruh didompet barangkali. Jaejoong tersenyum. Masalah selesai. Pasti begitu, umma yang mengambil foto itu lalu lupa memberitahu.

Jaejoong merasa puas dengan jawaban yang ia temukan. Jung Yunho sama sekali tidak terpikir jadi pelakunya. Jaejoong kan tidak mau terlalu kege-eran. Bukan berarti Jaejoong tidak ingat pada si buronan tampan itu (malah Yunho adalah orang pertama yang muncul di benaknya saat ia berusaha keras mengusir bayangannya).

Sudah cukup beberapa hari belakangan ini Jaejoong selalu teringat pada Yunho kapan pun di mana pun. Sudah cukup Jaejoong merasa dirinya aneh karena terus berdebar-debar setiap mengingat cengiran namja berkulit eksotis itu. Sudah cukup setengah mati Jaejoong merindukannya.

.

.

Perasaan Jaejoong bercampur aduk hari ini. Tepat hari ini kedua orang tuanya akan bercerai. Dua jam lagi pengadilan akan dimulai, Jaejoong tidak pernah pergi ke pengadilan dan tidak tahu apa yang harus dipakainya. Setelah sepersekian menit berkutat dengan pikirannya yang tidak juga bisa jernih, Jaejoong memilih memakai celana skinny jeans putih dan kemeja santai berwarna biru terang. Ada yang bilang warna biru bisa menenangkan hati dan Jaejoong sangat mengharapkannya sekarang.

Tapi sebenarnya kebingungan memilih pakaian hanyalah hal kecil jika dibandingkan kesedihan, kegalauan, kegelisahan, dan perasaan senada lain yang harus Jaejoong rasakan. Hari ini orangtuanya akan bercerai dan Jaejoong tidak tahu harus melakukan apa. Sepertinya tidak aneh jika seorang yang berada di posisi Jaejoong merasakan hal ini. siapa sih yang mau orangtuanya bercerai? Dalam keadaan normal siapapun (siapapun dibelahan dunia manapun) pasti berharap hubungan keluarganya terjalin harmonis.

Tapi di sisi lain, Jaejoong merasa ini pilihan terbaik bagi keluarganya. Tidak ada yang bisa memaksakan cinta, jika cinta itu sendiri sudah pergi entah kemana. Sedih membayangkan dulu orangtuanya pernah dengan wajah penuh kebahagiaan menandatangani surat yang mengikat mereka berdua, tapi sekarang malah memutuskan menandatangani surat lain yang akan memisahkan mereka.

Jika tahu itu yang akan terjadi, Jaejoong benar-benar bertekad menjadi pihak penentang pernikahan orangtuanya dulu. Tapi kemudian ia menyadari ia bahkan belum lahir saat itu. Lagipula kalau orangtuanya benar-benar batal menikah, Jaejoong tidak akan pernah ada.

Dan jika Jaejoong tidak terlahir ke dunia, itu berarti Yunho akan menjadikan kamar orang lain sebagai tempat persembunyiannya. Entah mengapa Jaejoong merasa tidak sudi. Jaejoong memandangi pintu kamar mandinya dengan syahdu, pikiran ngawur Jaejoong sekarang sudah melayang entah kemana.

Jaejoong berlama-lama di kamar, berharap jika mereka terlambat datang, pengadilan akan marah dan mencoret nama mereka dari daftar pengguna jasa pengadilan. Itu artinya orangtuanya kedua orangtuanya tidak akan bisa bercerai. Kalaupun bisa, pasti tidak akan sah secara hukum.

Tapi apa lagi sih yang diharapkan Jaejoong? Jelas-jelas appa sudah tidak menyayangi dia dan ummanya lagi. Jelas-jelas appanya terlihat enggan tinggal bersama mereka, ia menghindari berpandangan mata dengan Jaejoong dan menghindari kontak dengan Ummanya. Dan jelas-jelas kedua orangtuanya sudah memutuskan bercerai.

Jaejoong menghela napas. Setelah mengerling singkat ke poster kesayangannya, akhirnya namja cantik itu keluar juga dari kamar. Setidaknya Jaejoong ingin menghargai umma yang sudah meminta izin sekolah karena Jaejoong tidak masuk hari ini.

Lagipula ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

.

.

Jaejoong memandang ke luar jendela tanpa benar-benar memperhatikan suasana di luar mobil. Appa dan ummanya duduk di depan. Membisu. Tidak satu pun dari mereka berniat membuka suara.

Mungkin tadi orangtua Jaejoong juga tidak tahu harus memakai baju apa untuk perdi ke pengadilan, jadi mereka memakai pakaian formal untuk ke kantor.

Pikiran Jaejoong menerawang. Terbersit bayangan wanita berbibir tebal dan berbadan molek. Pikiran itu begitu nyata, sehingga Jaejoong bisa mencium parfum wanita itu, pasti seperti parfum mobil yang dipasang appa (mungkin saja, kan? wanita itu sering bolak-balik naik mobil appa, pasti bau parfum mobil menempel di tubuhnya). Wajah wanita itu sumringah begitu mendengar appa akan bercerai, bibirnya (yang bahkan lebih besar daripada bibir Jaejoong saat bengkak) bergerak-gerak penuh haru (yang akan dianggap seksi oleh para pria), kemudian wanita itu memeluk appa Jaejoong.

Yuck!

Tanpa sadar hidung Jaejoong basah dan matanya berlinang. Jaejoong membersit hidungnya dan mengerjabkan mata beberapa kali, berusaha menghilangkan mimpi buruk itu dari pikirannya.

Satu-satunya yang bersuara di mobil itu hanyalah radio. Si penyiar bercuap-cuap ceria, mempermasalahkan suhu kota yang meningkat setiap waktu namun wajah tiga makhluk di dalam mobil tampak madesu, seakan penyiar itu baru saja mengumumkan berita duka cita.

Intro lagu terdengar, menggantikan suara penyiar yang berjanji akan kembali bercuap-cuap setelah lagu habis.

Jaejoong tidak terlalu memerhatikan lagu yang memenuhi kesunyian mobil itu. Pikirannya kembali menerawang dalam suasana hati yang semakin buruk. Merasa capek dengan pikiran ruwet, Jaejoong memutuskan memfokuskan telinganya pada lagu.

.

Mideoyo..

chonnune banhandanun marur mideoyo
Gudaeyegen anirago marhaejiman
Narur gyongsorhage baraburggabwa

Gamchwowassur bbunijyo..

.

Yah, mungkin inilah kenyataan hidup yang harus diterimanya, memang seharusnya ditakdirkan dan benar-benar terjadi.

Kehadiran Yunho….

Perubahan sikap umma…

Penyelewengan appa….

Perceraian orangtuanya…

Jaejoong ingin kabur. Namun ia tidak bisa. Satu-satunya jalan hanyalah menghadapi semua itu. Jaejoong menarik napas panjang, membulatkan tekad.

'Tenang saja Joongie… masih banyak yang menyayangimu.' Gumamnya dalam hati.

Umma….

Ahjumma Song….

Sahabat-sahabatnya….

Jung Yunho...

Lagi-lagi namja itu muncul. Jaejoong tidak bisa berhenti memikirkannya. Bukan karena Ahjumma Song yang menggodanya setengah mati kemarin, bukan juga karena sahabatnya Junsu yang adalah fans berat namja buronan itu, apalagi karena namja tampan itu mirip seseorang yang sekarang lagunya sedang diputar di radio. Entah karena apa.

Jaejoong menghela napas.

.

I believe in you gutaer barabonun i shison gadur
Naega gago inun gutaer hyanghan maum modu dama bonaeri
Nomu swibge durgigo shipji anhun nae maum argo inayo

Gutae narur hurjjok ttonaborir goman gathun turyourggaji
Gudae….

.

Tampaknya Jaejoong memang telah jatuh cinta pada Uknow gadungan itu.

.

.

Appanya memarkir mobil di pelataran gedung pengadilan yang sangat ramai pada hari itu. Jaejoong dengan lesu berjalan mengikuti kedua orangtuanya memasuki gedung. Appanya menegur seorang satpam di sisi pintu yang sedang duduk membaca Koran. Satpam itu terlonjak berdiri.

"Selamat pagi. Bisa dibantu?" Petugas berseragam itu menyentuh topinya dengan sikap hormat yang terlatih.

"Selamat pagi. Ini kenapa ramai sekali, ada apa?" tanya appa Kim sambil menyunggingkan senyum kecil di wajah tampannya yang mulai terlihat menua.

"Hari ini sedang ada pengadilan besar. Kasus pembunuhan direktur perusahaan yang melibatkan….. "

Bahkan sebelum satpan itu menyelesaikan kalimatnya, Jaejoong sudah menyadari siapa yang sedang diadili. Jantungnya berdebar cepat sekali. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Jaejoong meremas jarinya dengan cemas.

Jung Yunho.

Jaejoong berada di gedung yang sama dengan buronan tampan itu. Aneh rasanya, sudah hampir seminggu ini kamarnya sepi tanpa Jung Yunho. Sekarang jarak mereka begitu dekat. Jaejoong jadi merinding membayangkan ruang pengadilan Yunho penuh sesak wartawan dan pengunjung.

Apa Jung Yunho baik-baik saja?

Jaejoong kembali bergidik. Menurut film-film, penjara bukanlah tempat yang menyenangkan. Bahkan mungkin lebih menyeramkan daripada rumah hantu, karena penghuni-penghuni penjara masih hidup dan dapat menyerangnya kapan pun mereka mau.

"Menakjubkan," gumam Appa sambil bersiul pelan. Dia seperti siswa yang sedang melakukan karyawisata ke pengadilan, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang akan bercerai. Jaejoong merasa lega sekaligus sedih melihat ini. Appa memang tidak bergerak ke sana kemari karena gugup, tapi sayangnya tidak terlihat sedikitpun sedih.

Umma melongo dengan mulut terbuka dan mata ingin tahu namun memilih tidak berkomentar apa pun.

Jaejoong merasa jantungnya seperti berhenti berdetak ketika matanya terhenti pada sosok di depan meja tinggi hakim yang membelakangi dirinya. Memang benar pengadilan itu penuh sesak. Para pengunjung menyaksikan hakim dengan penuh minat sepeti menonton sirkus. Para wartawan menjeprat-jepretkan kameranya dari sisi-sisi tembok, membuat ruangan seakan-akan terkena halilintar berpuluh-puluh kali. Seorang namja lumayan muda berdiri di seberang meja hakim sebagai pengacara, bergaya menantang dan tampak kecil jika dibandingkan meja hakim yang tinggi. Walaupun tubuhnya berbalut jubah hitam yang sama seperti yang dipakai hakim dan penuntut, Jaejoong rasa-rasanya dapat menduga selera berpakaian pria itu. Pasti eksentrik seperti gayanya.

Suasana di dalam ruangan sangat ribut, sehingga hakim penuh wibawa yang tadinya terlihat sabar itu mulai mengetuk-ngetuk palunya dengan jengkel. Namun sosok yang menjadi perhatian utama sidang itu sepertinya tetap tenang.

Jaejoong berani bertaruh, bahkan dalam jarak puluhan meter, sosok itu adalah Jung Yunho. Jaejoong bisa mengenali namja itu, entah karena rambutnya yang selalu berantakan dan panjangnya melewati kerah, atau karena posisi kakinya yang khas dan terlihat nyaman ketika sedang duduk.

"Joongie.." Umma memanggilnya pelan.

Jaejoong tersadar dari lamunannya. Bukan Yunho yang menjadi masalah sekarang. Namja cantik itu segera mengikuti orangtuanya yang sudah berjalan jauh di depan. Bahkan Appa sudah nyaris masuk ke ruangan lain. Jaejoong menarik napas dalam-dalam dan pasrah. Ia mengikuti orangtuanya masuk ke sana.

Inilah akhir keluarganya.

Hakim yang menangani orangtua Jaejoong tampak sangat berbeda dengan hakim yang tadi dilihatnya di ruang sidang Yunho. Perawakannya jauh berbeda. Pria di meja tinggi itu bertubuh tambun, tua, dan bertampang tidak sabaran. Ia berkali-kali melirik arlojinya, seperti ibu-ibu yang takut ketinggalan arisan.

"Ayo! Ayo! Kita mulai!" serunya tidak sabar.

Jaejoong duduk di kursi pengunjung paling depan. Tadi Umma meminta izin untuk ke toilet dan sekarang baru kembali. Semua orang di ruangan menoleh memerhatikan dirinya. Jaejoong melirik ke Appa yang duduk di seberang.

Sekilas Jaejoong merasakan tatapan lembut Appa ketika menatap Umma.

Apa Jaejoong salah lihat?

Ummanya tampak tidak sehat. Jaejoong melihatnya berjalan agak terhuyung. Tanda-tanda sakit di wajah Umma tersamar karena ia itu memulas make-up lengkap. Namun raut wajahnya sudah cukup memperlihatkan keadaan yang tidak sehat.

Sebelum Jaejoong sempat berpikir apa-apa lagi, Ummanya tiba-tiba ambruk di tengah jalan. Jaejoong berdiri panik, namun seseorang sudah lebih dulu melesat menuju Umma.

Appa….

Appanya segera menarik tubuh rapuh itu ke pangkuannya, kemudian menggendongnya hati-hati.

"Ada apa? Ada apa?" lengking hakim itu.

Jaejoong melihat raut wajah Appa yang khawatir luar biasa sebelum pria itu berlari keluar ruangan dan menghilang di balik pintu dengan Umma di gendongannya.

Hakim sekarang berdiri dan mengangkat tangannya, terlihat gusar.

Appa sudah berada jauh di depan ketika Jaejoong hendak berlari menyusulnya. Dari belakang Jaejoong melihat punggung appa bergerak-gerak dan kaki Umma yang terkatung-katung di samping tubuh appa. Tadi appa begitu panik dan tanpa ba-bi-bu langsung mengangkat umma dengan penuh kasih. Setidaknya begitulah yang dilihat Jaejoong dan ini membuat perasaannya tak terlukiskan lagi, seakan-akan segala masalah diangkat begitu saja dari hatinya. Jaejoong tak bisa berhenti tersenyum seiring kakinya berayun.

"Jadi bagaimana sekarang?" tuntut si hakim. Asistennya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Perlahan Jaejoong menoleh ke arahnya, tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu belakangan ini, ia benar-benar merasa lega. Wajah Appanya tadi itu, tidak usah lagi dijelaskan dengan kata-kata. Jelas-jelas Appa masih menyayangi Umma. Jaejoong yakin itu.

"Tidak lihat? Jelas-jelas pengadilannya batal!" seru Jaejoong girang tidak lupa lidahnya mehrong ke arah si hakim tua itu dan buru-buru melangkahkan kakinya ke luar ruangan terkutuk itu karena kalau tidak cepat-cepat, Jaejoong bisa ditinggal appanya yang tadi sudah seperti diburu setan.

Kemudian Jaejoong sempat-sempatnya membayangkan dirinya yang ketinggalan dan duduk di pinggir tangga menyender pada tembok ruang pengadilan, sendirian, menunggu appa kembali menjemputnya, kemudian dibentak dan ditawarkan tumpangan oleh si hakim tidak sabaran tadi.

Jaejoong menampar-nampar pipinya sendiri dan akhirnya ia berlari menyusul Appa tanpa menoleh-noleh lagi pada hakim yang sudah mencak-mencak. Lebih baik ia tidak mengganggu acara arisan si hakim.

Jaejoong setengah mati berharap dengan kejadian ini nama keluarganya benar-benar dicoret selamanya dari daftar pengguna jasa pengadilan. Selamanya.

Lalu keluarganya akan kembali seperti semula.

Atau apakah harapannya terlalu muluk?

.

.

.

Tbc

One last chapter to go..

Satu chapter setelah ini, maka END..

Mianhae, kalau chapter ini terkesan datar dan membosankan, tidak ada YUNJAE scene di dalamnya. Karena sengaja part ini lebih membahas keluarga Jaejoong.. aku sadar akan hal itu, jeonmal mianhe..

Maaf untuk keterlambatan Update, aku sempet sakit satu minggu. Dan chapter ini juga sudah dirombak sebanyak 4 kali. Tapi tetep gak berhasil dapet feel yang aku mau. Tolong dimaklum ya.

Dan

"Mari saling menghargai"

Mind to give me a review? Typing one or two sentences won't hurt you, but it makes me happy and thankful.

Khamsahamnida.. :-)