Epilogue


Kilas balik menuju empat tahun lalu, di mana Jungkook baru merayakan ulang tahunnya yang ke dua belas dan Kim Taehyung baru saja memasuki usia awal dua puluhannya. Taehyung sudah bukan lagi remaja yang kasmaran mengejar-ngejar kembang desa. Sekarang, bahkan putri kepala desa yang mati-matian berusaha menarik perhatian Taehyung dengan kecantikan dan harta yang dimilikinya. Namun, apa daya semua hal tersebut tidak digubris Taehyung. Ia telah memiliki 'incaran'nya sendiri di kota sana.

Ialah seorang Jeon Jungkook, putra bangsawan dengan kehidupan hedon dan masa depan yang terjamin berkat gelar yang diwariskan ayahnya, beserta properti-properti kepemilikan ayahnya yang tersebar di seluruh penjuru kota. Ia bisa berkeliling kota setiap hari, berbalutkan pakaian dengan kualitas terbaik, tubuh yang harum semerbak, dan dengan berlembar-lembar kertas hijau di tas kecilnya, tentu saja ditemani oleh dua orang pelayan setianya. Singkatnya, kehidupan Jeon Jungkook sempurna.

Bocah yang baru memasuki masa remaja seperti Jungkook tentunya masih sangat mudah terpikat oleh berbagai hal. Misalnya saja ia yang baru-baru ini membentuk suatu ketertarikan terhadap pajangan meja yang terbuat dari kayu. Ia melihatnya di salah satu kios di tengah kota yang sedang dijaga oleh seorang pemuda berambut brunette bertubuh tegap dan berwajah tampan. Lengannya sedikit berotot dan kulitnya agak gelap. Lelaki ini pasti tukang kayu, pikirnya. Melihat hasil kerajinannya yang berjejer di atas meja kios itu, Jungkook langsung jatuh hati. Begitu pula ketika ia bertemu pandang dengan kedua mata elang itu.

Jungkook jatuh lebih dalam lagi.

Ia bahkan baru berusia dua belas tahun tiga hari yang lalu dan sekarang ia dapat merasakan jantungnya memompa darah sebegitu kencangnya hingga dadanya serasa akan meledak.

Untungnya, cinta pada pandangan pertama yang dirasakannya tidak bertepuk sebelah tangan. Pria di hadapannya pun balas melihat wajah polosnya dengan penuh kekaguman. Selama dua puluh satu tahun ia hidup, tidak pernah Kim Taehyung lihat anak kecil yang lebih memikat dari bocah bergigi besar di hadapannya ini. Rambut hitamnya yang ikal, mata bulatnya yang kecoklatan, bibir tipisnya yang merah, serta kulit halusnya yang seputih Edelweiss. Benar-benar jelmaan putri salju sungguhan, pikir Taehyung.

Dan pertemuan pertama mereka diakhiri dengan barang dagangan Taehyung ludes dibeli Jungkook. Meja kiosnya betul-betul kosong tak bersisa. Ia pulang ke desa dengan kantong tebal hari itu. Tapi sebelum ia pulang, Taehyung menyempatkan diri untuk mampir ke rumah mantan gurunya. Seorang tabib tua berkepala botak yang tidak menikah dan hidup bersama sepuluh ekor ikan koi-nya. Sewaktu masih bocah ingusan dulu, Taehyung belajar sekaligus bekerja pada tabib tua ini sebagai asistennya. Ya, Taehyung lumayan terlatih dalam bidang medis. Seringkali tabib itu mengobati prajurit yang terluka, anak-anak yang sakit, atau juga membantu persalinan wanita-wanita di kota. Taehyung selalu memperhatikan apa yang diajarkan tabib tua itu.

Tepatnya tiga tahun yang lalu, Taehyung memutuskan untuk berhenti. Ia tidak merasa puas dengan pekerjaannya. Taehyung ingin menemukan sesuatu yang benar-benar disukainya. Tabib tua itu membiarkan Taehyung melakukan apapun yang ia suka. Maka guru dan murid itu berpisah dengan damai. Setelah melalui beberapa minggu tanpa pekerjaan, Taehyung menyadari bahwa ia suka mengukir. Kedua tangannya berbakat menorehkan bentuk-bentuk mendetail pada potongan kayu yang digenggamnya. Betapa Taehyung dilanda euforia lantaran telah menemukan 'gairah'nya. Tahun-tahun berikutnya ia isi dengan pekerjaannya sebagai pengrajin kayu yang berjualan di tengah kota.

Mengenai Jungkook, ia terus menemui pemuda berkulit gelap itu sejak pertemuan pertama mereka. Bocah pemalu itu terus-terusan mengajak Taehyung berbicara dengan suaranya yang masih belum pecah. Ada pula hari-hari di mana ia berkeliling kota tanpa dikawal kedua pelayan wanitanya. Terkadang ia berhasil menyelinap keluar dari rumah mewahnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Jungkook merasa seakan-akan ia berjalan di atas padang bunga ketika ia menginjak tanah yang sama dengan Taehyung. Itulah cinta. Bahkan bunga bangkai pun dikira bunga mawar.

Hingga tiga musim semi terlewati, Jungkook telah memasuki usianya yang ke lima belas dan Taehyung, dua puluh empat. Hanya dalam waktu tiga tahun Jungkook banyak berubah. Tubuhnya makin berisi, wajahnya bertambah cantik, perilakunya yang makin anggun dan gemulai. Selama tiga tahun itu pula mereka terus menjalani hubungan gelap mereka, hubungan yang ditentang oleh kedua orang tua Jungkook. Hubungan yang berpotensi menghancurkan masa depan pemuda berwajah cantik itu. Begitu pula dengan Taehyung yang kerap kali menjadi bahan desas-desus masyarakat karena perbedaan status sosialnya dengan kekasih mudanya.

"Masih muda tapi sudah genit. Huh! Bangsawan tapi, kok tingkahnya seperti pelacur."

"Banyak lelaki dari kalangan atas yang ingin meminangnya, tapi ia menolak mereka semua demi pemuda tengil ini."

"Pria itu pasti penyihir. Tidak mungkin bocah berdarah biru manja itu mau atas keinginannya sendiri."

Dan masih banyak lagi.

Taehyung kebal dengan semua hujatan itu. Waktu di desa, ia sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk. Kehidupan di kota bukanlah apa-apa baginya yang sudah terbiasa makan garam desa setiap hari. Namun semua hal itu mempengaruhi Jungkook. Beratus-ratus kali Taehyung menyaksikan kekasihnya meneteskan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Jungkook tidak bisa berpura-pura menutup telinga begitu saja. Tak hanya itu saja permasalahan mereka. Banyak pemuda borjuis yang hendak melamarnya dengan segelimang harta mereka.

Tetapi apalah daya.

Hatinya sudah berlabuh pada Kim Taehyung sejak lama.

Dengan adanya kendala-kendala itu, Taehyung merasa harus melakukan sesuatu untuk melindungi kekasihnya dari hujatan para bedebah itu. Maka ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk memaksa Jungkook menikah dengannya dan tinggal bersamanya di desa. Jungkook, bocah yang polos dan selalu menuruti kata orang tua tentunya menolak mentah-mentah ide gila itu. Ia memang mencintai Taehyung, namun ia sadar akan statusnya dan adat yang memaksanya untuk berakhir menikahi pria berdarah biru pula. Takdirnya sudah ditentukan sejak ia lahir ke dunia ini. Menjadi submisif yang bertugas melahirkan dan mengurusi anak-anak dari siapapun pria kaya yang akan menjadi suaminya kelak.

Oh, Taehyung tidak menyerah begitu saja. Dirayunya Jungkook dengan segala kata-kata manisnya. Ia menjanjikan hidup bahagia seperti yang tertulis di buku dongeng. Pada akhirnya, Jungkook luluh juga. Memang ia sudah muak dengan kehidupan yang serba diatur. Memakai pakaian pun harus dipakaikan orang lain.

Pada hari itu, Jungkook tidak pulang ke rumah. Ia kabur begitu saja dengan Taehyung tanpa membawa apa-apa. Taehyung bilang semuanya bisa diatur nanti, yang penting mereka pergi ke desa sekarang. Betapa terkejutnya Jungkook, sesampainya mereka di desa, Taehyung menariknya menuju suatu gereja di dekat gerbang desa. Di sana, seorang pendeta telah menunggu dan beberapa orang wanita membantunya mengganti pakaian mahalnya dengan pakaian berwarna putih. Sebuah mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga dipakaikan di atas kepalanya. Mereka menikah secara dadakan di gereja kecil itu. Meskipun ia kaget, Jungkook tetap bahagia. Akhirnya ia memiliki suatu ikatan dengan cinta pertamanya.

Taehyung menciumnya untuk pertama kali hari itu. Setelahnya, ia mengangkat Jungkook dalam gendongannya, membawanya masuk ke dalam hutan di sekitar rumah kecilnya. Hal selanjutnya yang ia lakukan kepada Jungkook sangatlah tidak terduga. Celana hitam yang dikenakannya ditanggalkan begitu saja, lalu celana yang Jungkook kenakan ditarik turun dengan paksa. Jungkook bingung. Apa gerangan yang sedang dilakukan kekasihnya? Dirinya meronta-ronta, meminta Taehyung untuk berhenti. Sayangnya Taehyung telah dibutakan oleh nafsu. Ia membungkam Jungkook dengan ciuman kasarnya. Remaja tanggung itu hanya mampu mendesah dan berteriak pasrah dalam kenikmatan dan kesakitan yang diberikan Taehyung. Memang apa yang bisa dilakukan oleh submisif lemah sepertinya?

Lalu ia memaafkan Taehyung begitu saja.

Berminggu-minggu berikutnya ia mulai merasakan suatu perbedaan pada tubuhnya. Pagi mereka selalu diisi dengan suara muntahan Jungkook, siang mereka diisi dengan Jungkook merengek minta makan, dan malam mereka dipenuhi dengan keluhan Jungkook yang merasa kesepian di siang hari. Penyakit mual Jungkook terus berlangsung selama beberapa hari dan itu mulai membuat Taehyung khawatir. Di satu sisi, ia ingin mendatangkan seseorang untuk memeriksa keadaan Jungkook, namun di sisi lain ia tidak ingin siapapun menyakiti Jungkook. Kondisi Jungkook bertambah parah dalam kurun waktu beberapa hari. Akhirnya, mau tidak mau, ia memanggil seorang tabib wanita yang ada di desa itu untuk memeriksa istrinya.

Senangnya bukan main ketika Jungkook mengetahui bahwa sebuah nyawa sedang tumbuh di dalam rahimnya. Pemuda berusia lima belas tahun itu terus-terusan mengangkat pakaiannya sebatas perut dan mengusap gumpalan kecil di situ sambil berdiri di depan kaca. Taehyung selalu tertawa geli melihat kelakuan istrinya yang tidak sabar bertemu janin yang bahkan baru berusia beberapa bulan itu. Ia sendiri juga sudah tidak sabar menjadi seorang ayah.

Sekarang, bayi kecil mereka telah lahir dengan selamat. Ia sedang menyesap puting susu ibunya dengan rakus. Jungkook mengusap bagian belakang kepala bayinya dengan sayang. Rambut puteranya hitam lebat, persis miliknya. Tubuhnya masih bengkak pasca melahirkan beberapa bulan yang lalu. Namun semua itu tidak membuat rasa cinta Taehyung berkurang sedikitpun. Ia melihat istrinya sebagai sosok yang kuat dan rela berkorban.

Taehyung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jungkook. Dikecupnya leher mulus itu dengan lembut. Jungkook terkesiap. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Taehyung di kamar bayi mereka. Beberapa detik setelahnya, ia tersenyum ceria.

"Selamat pagi, istriku sayang."

Ia mengecup bibir Jungkook singkat.

"Selamat pagi juga, jagoan ayah."

Ia mengecup kening anaknya.

"Selamat pagi juga, ayah." Jawab Jungkook dengan suara pelan.

Ia berjinjit sehingga tinggi mereka berdua hampir sama.

Selanjutnya, pagi hari mereka ditutup dengan pagutan bibir keduanya dan mulut bayi kecil mereka yang masih menghisap puting Jungkook.

.

.

END