Chapter 3
Sehun POV.
"Aku sama sekali tidak takut padamu Sehun."
Gila! Apa yang ada di pikiran si mesum ini sebenarnya. Suara itu membuat desiran darahku mengumpul di kepala. Nafasku tercekat sepersekian detik karena menyadari posisi canggung ini. Darahku memanas, dan lidahku kelu. Pikiranku tak berjalan dengan benar. Semua terasa acak.
Nafasnya menggelitik tengkukku dengan irama menggoda. Aku bahkan bisa mendengar nafas beratnya. Ku eratkan peganganku pada meja marmer dapur karena sungguh, mungkin jika ia menjauh dariku, tubuhku akan merosot kebawah karena saat ini kakiku berubah menjadi jeli.
"Kau manis Sehun."
Si manusia mesum menjilat tengkukku sekali lagi. Aku bisa membayangkan bahwa sekarang ia sedang menyeringai. Tawa rendah terdengar olehku. Percayalah itu bukan tawaan biasa, orang normal tidak akan tertawa seperti itu. Ia menarik wajahku agar menghadap padanya dan tertawa miring dengan tatapan elang.
Cupp..
"Apa setelah ini kau mau menonton film? Aku harus mengerjakan sesuatu jadi aku tak bisa menemanimu." Kemana si bajingan mesum yang telah melecehkanku tadi? Auranya berubah sempurna setelah ia mencium ujung hidungku. Seringaian dan tatapan elang itu lenyap dalam hitungan detik digantikan dengan senyuman tampan yang selalu ia tunjukkan padaku.
Aku tidak mengerti. Bagaimana ia bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun? Nada suaranyapun berubah. Nada rendah yang menakutiku berubah menjadi lebih hidup dan hangat. Aku tidak menjawab karena kejadian barusan masih mengagetkanku.
Aku merasa terancam dengan kejadian barusan. Bagaimana jika tiba-tiba ia berbuat sesuatu yang mengerikan? Jangan-jangan dia yang mengidap bipolar. Kemungkinan-kemungkinan aneh mulai terbentuk dalam kepalaku. Kai berjongkok dan mengambil tongkatku yang terjatuh ke lantai, lalu menyodorkannya padaku.
"Aku pikir kau belum sepenuhnya sadar Sehun. Kau menatapku seolah aku mahluk neraka." Aku mendengar suaranya. Dia memang mahluk neraka. Tapi mulutku sangat tidak mau diajak berkompromi dan lebih memilih untuk diam. Aku menerima tongkat jalanku dan Kaipun berjalan menuju ruang keluarga.
"Jika kau mau menonton film, kemarilah akan ku tunjukkan bagaimana menyalakan tv." aku mengikuti Kai dari belakang. Aku tau ia menyadari bahwa aku berjalan di belakangnya. Kai mendudukkan dirinya di atas sebuah sofa kulit berwarna coklat tua. Aku juga duduk di sana. Hanya saja, jarak kami lumayan jauh. Aku kipikir sekitar dua meteran.
"Perhatikan." Kai memencet salah satu tombol yang kuyakini itu tombol power, lalu tv besar itu menyala. Ia kembali meraih remot lain dan memencet beberapa tombol sesuai menu yang tertera di layar tv, dan saluran tv itu berubah menjadi monitor komputer yang bisa digerakkan dengan mouse. Ia membuka sebuah website untuk menonton film dan memberikan mouse itu kepadaku.
"Aku yakin kau tau bagaimana cara memilih filmkan?" Aku mengangguk. Ia berjalan melewatiku.
"Aku di ruang kerja jika kau mencariku." Ia mengatakan itu tanpa menoleh padaku. Sok keren sekali dia. Setelah Kai pergi ke lantai dua, aku meraba telinga dan tengkukku. Tepat dimana Kai meninggalkan sentuhannya. Aku bahkan merasa baunya menempel di tubuhku.
Dan dengan tak tau malunya, otakku mengulang kejadian tadi tanpa sadarku. Aku bisa gila jika seperti ini terus. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kukeluarkan. Aku berusaha menjernihkan pikiranku secepat mungkin. Karena aku yakin, terlalu banyak memikirkan si bajingan mesum itu tak baik untuk kesehatanku.
.
.
.
Author POV.
Hari Sabtu adalah hari favorit semua orang. Mulai dari pelajar, pekerja, hingga orang tua. Tidak dipungkiri jika semua orang sibuk juga sangat menyukai hari ini. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu dengan menyusun hal-hal yang menyenangkan. Dan hal-hal menyenangkan itu biasanya berawal dengan bangun telat.
Dalam kamar mewah itu terlihat seorang wanita sedang tidur dengan pulas dengan posisi terlentang. Sinar matahari tak bisa menembus ruangan itu karena jendela yang terutup oleh tirai. Semalaman ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan berakhir dengan tertidur pukul 2 pagi.
"Sehun.." Kai memanggil Sehun dari luar. Ia membawa sebuah nampan berisi sarapan pagi untuk dua orang. Kai merasa Sehun masih belum bangun. Ia membuka pintu kamar Sehun. Gelap, itu yang menyambut Kai. Ia melangkahkan kakinya memasuki kamar si wanita dan dengan pelan dan hati-hati agar nampannya tidak tumpah.
Tangan kanannya meraba maraba dinding sebagai tumpuan jalan. Ia tau dinding itu akan membawanya ke nakas meja sebalah ranjang. Kai berjalan hingga ia menemukan dimana letak meja kecil itu, dan meletakkan nampannya di sana.
Dengan lengkah besar ia menuruti feeling-nya dan berjalan menuju jendela. Dalam sekali tarikan tirai itu terangkat sempurna. Sinar matahari siang menyinari kamar si wanita. Tubuh wanita itu terbungkus selimut tebal.
"Heungghh.." Sehun meregangkan tubuhnya dan berusaha menutupi wajahnya dengan bantal. Ia tau siapa yang telah mengganggu tidurnya.
"Sehun bangunlah, apa kau tidak lapar?" Kai berjalan menghampiri Sehun dan menarik bantal itu.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Sehun tanpa membuka mata.
"10.30." Sehun membuka mata kirinya. Di samping ranjang Kai sedang berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Apa kau sudah mandi?" Sehun bertanya saat melihat tampilan Kai. Kai berjalan ke sisi lain ranjang besar itu dan mengambil nampan dari atas nakas.
"Sudah. Dan aku juga baru selesai olah raga." Kai menempatkan dirinya di samping Sehun yang masih tidur terlentang.
"Bangun Sehun. Breakfast in bed." Kai meletakkan nampan berisi makanan itu di antara tubuh mereka. Sehun mendudukkan tubuhnya dan menarik selimut itu menjauh. Kai kembali harus melotot karena tampilan Sehun.
Wanita cantik itu mengenakan sebuah kaos putih tanpa lengan berleher rendah hingga belahan dada itu telihat jelas. Warna putih itu membuat puting Sehun terlihat jelas dari luar. Dan sebuah celana tidur pendek yang bisa dibilang celana dalam berwarna biru muda berbahan katun. Celana dalam itu memang tidak bisa dibilang seksi karena ini tipe high waist, tapi karena berbahan katun, membuat lekukan bentuk kewanitaan Sehun tercetak sempurna di sana.
"Ahh aku lapar sekali." Kai tersadar karena ucapan Sehun. Ia mengalihkan pandangannya ke arah piring makanan mereka. Pancake dengan selai coklat dan beberapa potong alpukat dan pisang. Serta dua cangkir teh inggris melengkapi sarapan atau brunch mereka.
"Kau menyukainya?" Sehun mengangguk. Ia melahap masakan Kai dengan santai, ia menikmati rasa manis dan tekstur lembut dalam mulutnya. Beberapa waktu kemudian mereka selesai dengan acara makan mereka. Sehun sesekali bercerita tentang-buku-buku yang ia baca dan Kai hanya menanggapi omongan Sehun sekenanya.
"Aku suka teh ini."
"Aku juga."
"Ada apa denganmu?" Sehun meletakkan cangkir kosongnya kembali ke atas nampan.
"Tidak ada, Sehun apa kau mau jalan-jalan?" Kai menatap wajah Sehun.
"Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Aku bosan dan tidak memiliki kegiatan. Jadi apa kau mau ikut?"
"Memangnya kita akan kemana?"
"Aku yakin kau akan menyukai tempat ini. Segera mandi dan bawa beberapa gaun. Aku pikir kita akan menginap di sana." Sehun mengangkat satu alisnya.
"Aku akan membunuhmu jika kau berusaha membuangku." Kai menarik nafasnya dalam. Sehun memang tidak pernah berubah.
"Aku bersumpah akan memotong penisku jika aku membuangmu."
"Hiiii kau jorok sekali sih." Sehun menutupi wajahnya.
"Kau yang memancingku. Sudah cepat mandi sana. Jika sudah selesai pergilah ke kamarku, dan segera pilih beberapa gaun. Mengerti?" Sehun mengangguk dan Kai keluar segera.
.
.
.
Dan disinilah Kai. Di dalam kamar mandi lebih tepatnya. Sedang melakukan kegiatan yang sangat familiar olehnya dalam beberapa waktu terakhir. Begitu selesai dengan kegiatannya ia segera menaikkan celananya.
"Shittt.."
Celana dan boxernya terkena cairan putih miliknya. Bisa dibilang barusan ia keluar banyak. Ia segera melemparkan celananya ke bak khusus pakaian kotor, lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Sial memang nasibnya siang ini, berniat menyalakan kran air tapi malah kran itu terlepas hingga air tersembur kearahnya.
"Fuck fuck fuck fuck..." Kai segera meletakkan kembali kran itu agar lubang air tertutup, dan berhasil. Semburan air itu terhenti. Kai mengamati sekitarnya. Genangan air tercipta di atas lantai.
"Terima kasih tuhan. Engkau menguji kesabaran hamba dengan baik. Hamba menunggu yang selanjutnya." Kai mengacungkan jempolnya menghadap langit-langit kamar mandinya seolah tuhan mendengarnya. Ia menarik pakaiannya dan melemparkannya pada bak pakaian.
Kai meraih alat pel yang ia simpan di laci bawah wastafel dan mulai mengepel. Tak disangka seorang CEO kaya dan sukses mengalami kesialan yang tidak keren. Setelah lantai dan wastafelnya kering, Ia berjalan keluar kamar mandi tanpa handuk sambil bersiul.
Ia berdiri di depan cermin panjang dalam walk in closet-nya untuk mengamati penampilannya. Rambut basahnya ia tarik ke belakang dan butiran-butiran air terlihat menempel pada kulitnya. Ia meraih handuk kecil dan segera mengeringkan tubuhnya. Kai berjalan menuju sebuah almari, namun belum sampai ia meraih knop almari, teriakan seorang wanita mengagetkannya.
"YYYAAAA..!" Sehun berdiri di antara kamar Kai dan closet pria itu dengan wajah yang tertutup dua tangannya. Kai sama kagetnya dengan Sehun, ia bahkan sampai mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ya..! ini bukan hutan!" Kai membalas teriakan Sehun.
"Kau.. telanjang?" Sehun mengecilkan suaranya. Kai baru sadar akan keadaannya kali ini. Ia kembali kaget dengan penampilannya. Dengan gerakan cepat ia menutup kejantanannya dengan tangan kirinya.
"Jika kau malu, berbaliklah Sehun." Kai mengatakannya dengan nada datar. Dan segera memilih dan mengenakan pakaiannya. He keeps it cool. Sehun berbalik dengan cepat.
"Apa kau melihatnya?" Kai bertanya pada Sehun sambil mengenakan celana jeans-nya.
"Kau pikir aku buta?!" Si sinis Sehun kembali.
"Ya sudah biasa saja, akukan hanya bertanya."
"Sebenarnya dimana letak otakmu? Bukankah kau sudah mandi tadi? Atau kau melakukannya untuk menjebakku?"
"Kurang kerjaan sekali aku menjebakmu. Lagi pula, seharusnya kau senang telah melihat milikku yang berharga." Sehun melotot, pria ini sangat percaya diri.
"Senang apanya, aku merasa sial. Itumu sangat menjijikkan." Sehun masih bergidik saat secara tiba-tiba bayangan milik Kai muncul di kepalanya.
"Menjijikkan? Para wanita menyukai ini. Kau lugu sih Sehun, jika kau bandingkan ukurannya dengan ukuran rata-rata pria aku yakin kau akan kagum." Sehun mendengar suara Kai menutup almarinya.
"Sushi dengan salmon segar diatasnya dan salad rumput laut yang lezat. Sushi dengan salmon segar diatasnya dan salad rumput laut yang lezat. Sushi dengan salmon segar diatasnya dan salad rumput laut yang lezat. Sushi dengan salmon segar diatasnya dan salad rumput laut yang lezat.." Sehun merapalkan kalimat itu untuk mengalihkan pikirannya. Kai tertawa mendengar rancuan absurd Sehun, ia merasa terhibur oleh wanita ini.
"Dasar gila! Cepat selesaikan urusanmu dan temui aku di luar." Kai melalui tubuh Sehun dan berjalan ke luar kamar. Setelah Kai ke luar Sehun dengan segera menuju almarinya untuk memilih-milih pakaiannya dengan merapalkan kalimat sushi-nya agar bayangan tubuh Kai tidak kembali.
.
.
.
Sehun mengikuti Kai dari belakang. Mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai 3. Atau lebih tepatnya ke atap rumah Kai. Angin berhembus kencang. Sehun berjalan pelan, kini pandangannya bertatapan langsung dengan laut lepas. Rumahnya.
"Kita mau kemana sebenarnya." Tanya Sehun.
"Kau akan tau." Kai menyamakan langkahnya dengan Sehun dan menggandeng tangan wanita itu begitu ia menyadari Sehun tak henti-hentinya menatap lautan.
"Kita akan naik ini?!" Sehun menunjuk sebuah helikopter dengan wajah skiptisnya.
"Ya, perjalanan kita akan memakan waktu lama jika ditempuh dengan mobil. Dan kurasa helikopter bukanlah hal buruk. Perkenalkan, namanya Diana Roxy." Kai membukakan satu pintu untuk Sehun.
"Aku pikir aku ingin muntah."
"Ayolah Sehun. Ini tidak seburuk yang kau bayangkan." Kai mengenakan sabuk pengaman Sehun dan menggenggam tangannya.
"Apa kita akan terbang sangat tinggi?" Sehun menatap Kai dengan pandangan memelasnya.
"Sehun dengarkan aku, selama ada aku kau akan baik-baik saja. Pegang ucapanku." Kai mencium tangan Sehun beberapa kali dan menutup pintu helikopter itu. Kai meletakkan barang-barang mereka di bangku belakang dan berpindah ke kursi kemudi.
Ia memasang sabuk pengamannya dan menyalakan beberapa tombol. Sehun terlihat tidak baik. Ia bergerak-gerak tak nyaman karena gelisah. Ini pengalaman pertama baginya. Selama ini ia hanya mengamati -benda yang orang-orang sebut sebagai helikopter- dari laut. Dan tidak terbayangkan sedikitpun olehnya untuk bedara di dalam benda itu.
Cupp..
"Aku akan menjagamu. Kau tak perlu takut." Kai mengecup leher Sehun dan berbisik di telinga wanita itu. Sehun menoleh pada Kai, dan Kai kembali mengecup pipi putih itu. Kai memakaikan sebuah headphone pada Sehun sebelum ia kembali ke posisi duduknya.
Sehun mendengar percakapan Kai dengan orang lain dari headphone-nya. Seperti orang pusat yang akan mengoperasikan jalur perjalanan mereka. Sehun tidak mendengarkan dengan baik percakapan mereka, karena pikirannya teralihkan dengan baling-baling helikopter yang tiba-tiba berputar dengan kencang.
Sehun memejamkan matanya saat suara memekakkan telinga itu terdengar. Kai melirik pada Sehun sekilas, kemudian ia mengalihkan kembali fokusnya pada helikopter yang ia kemudikan. Sehun mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman saat ia rasa helikopter itu sudah tak menapak tanah.
Telinganya memekak karena tekanan udara yang berubah drastis. Rasanya seperti akan tuli. Kai menerbangkan Diana Roxy semakin tinggi. Sehun masih memejamkan mata. Saat Kai merasa ketinggiannya stabil, ia mematikan beberapa mesin dan mengubahnya cara kemudinya menjadi autopilot.
"Sehun buka matamu." Kai menyentuh tangan Sehun. Kulit wanita itu berubah menjadi sangat dingin, wajar saja jika merasa grogi pasti jari kaki dan tanganmu akan berubah dingin. Sehun membuka matanya pelan. Mereka terbang diatas gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Apa kau merasa tidak baik?" Kai mencium tangan Sehun. Entah kebiasaan yang dimulai dari kapan, tapi ia selalu melakukan itu saat Sehun merasa gelisah.
"Aku pikir ini tidak terlalu buruk." Sehun berusaha tersenyum sedikit.
"Pemandangan ini akan jauh lebih indah di malam hari."
"Lain kali ajak aku terbang dimalam hari kalau begitu."
"Aku akan sering mengajakmu melakukan hal-hal menyenangkan." Sehun mengamati pemandangan dibawahnya. Gedung-gedung tinggi seolah seukuran dengan miniatur. Gumpalan awan putih membuat suasana menjadi sangat menyenangkan. Sehun kagum dengan sekitarnya. Kata mengagumkan atau menakjubkan tak akan seimbang dengan kenyataan yang sebenarnya.
Pemandangan perkotaan itu berubah seiring waktu. Gedung-gedung tinggi berubah menjadi pemandangan alam yang indah. Bukan pantai, tapi pegunungan. Pegunungan dengan lembah hijau yang terlihat subur. Ranting-ranting pepohonan yang tertiup angin seolah melambai pada alam sekitarnya. Sungai dengan air yang jernih menjadi penghiasnya.
"Ini indah sekali.." Sehun terkagum-kagum dengan pemandangan dibawahnya.
"Aku tau kau akan menyukainya." Kai merendahkan ketinggian Diana Roxy. Diujung bukit itu Sehun melihat ada sebuah rumah mewah berukuran sedang dengan arsitektur abad pertengahan.
"Siapa yang memiliki rumah di area terpencil seperti ini?" Sehun menoleh pada Kai.
"Ini bukan area terpencil Sehun. Ini adalah salah satu vacation resort terkenal di Amerika."
"Lalu dimana rumah-rumah lainnya?"
"Kebanyakan vila-vila di area seperti ini tidak berdekatan. Karena fungsi vila ini untuk berlibur dan untuk orang-orang yang sangat menyukai privasi."
"Hhmm.. dapat dimengerti." Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya. Di atas rumah itu terlihat sebuah helipad berbentuk lingkaran. Sehun mulai merasa takut karena mesin Diana Roxy yang berubah menjadi lebih keras seiring Kai merendahkan posisi mereka. Sehun kembali memejamkan matanya saat getaran itu menghebat. Dan beberapa menit setelahnya mesin itu berhenti.
"Apa pendapatmu tentang penerbangan ini?" Kai melepas headphone Sehun.
"Sudah berapa lama kau mengemudikan helikopter?"
"Lebih dari sepuluh tahun kurasa."
"Baguslah, paling tidak aku tau kau profesional dalam bidang ini."
"Memangnya mengapa?"
"Kau tidak lihat aku hampir mati?!" Kai tidak membalas perkataan Sehun. Ia turun dan mengambil tongkat jalan Sehun serta tas peralatan mereka. Kai membantu Sehun turun dari Diana Roxy. Di depan pintu masuk berdiri seorang pria tua.
"Selamat datang tuan dan nona." Orang itu membungkukkan punggungnya.
"Terimakasih Jack."
"Saya telah menyiapkan segala kebutuhan tuan dan nona untuk hari ini dan besok."
"Terima kasih"/ "Bagus." Jawaban yang berbeda itu menunjukkan kepribadian mereka.
"Mengapa kau selalu bersikap manis pada orang lain dan tidak padaku?"
"Karena kau pantas mendapatkannya." Mereka berjalan mengikuti Jack.
"Aku bahkan membantumu melakukan apapun, apa begini caramu berterima kasih?"
"Maaf tuan, nona, ini adalah kamar nona Sehun. Sesuai permintaan tuan, saya menyiapkan kamar nona Sehun di lantai satu. Dan kamar tuan di sebelahnya. Bahan makanan telah siap di salam kulkas. Semoga tuan dan nona menikmati liburan anda."
"Thank Jack. Kau bisa pergi. Aku akan menghubungimu jika membutuhkan sesuatu." Jack membungkukkan badanna sebelum keluar. Rumah mewah lain milik Kai Kim yang berada di perbukitan dengan hawa yang sejuk dan menyenangkan. Bukankah wajar bagi seorang pengusaha kaya memiliki rumah mewah di bebagai tempat?
"Masuklah Sehun." Kai membukakan pintu kamar Sehun dan ikut masuk kedalamnya.
"mengapa kita disini? Bukankah kita akan jalan-jalan?"
"Memang." Jawab Kai sambil berjalan menuju arah jendela. Kai meletakkan tas Sehun di lantai dekat sebuah meja.
"Tapi disini sama saja dengan di rumah. Kita tetap berada dalam rumah. Aku tidak tau kau berubah menjadi sebodoh ini." Sehun memutar matanya. Sehun berjalan menuju Kai.
"Kita akan melakukan kegiatan yang tidak bisa kita lakukan di rumah Sehun. Percayalah." Kai menghadap Sehun.
"Like what?" Sehun mengerutkan keningnya.
"Menonton tv." Dan Kai merasa tonjokan keras pada pinggang kirinya.
"Aaww.. Kau ini sebenarnya preman atau apa sih?" Sehun tidak menjawab, ia mengabaikan Kai sepenuhnya.
"Aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari pada ini kepadamu jika kau membuat pengorbananku menaiki Diana Roxy terbuang sia-sia." Sehun berdiri di depan Kai.
"Pengorbanan pantatku?! Aku yang membawamu kesini, dan kau hanya duduk diam menikmati pemandangan. Jangan bertingkah seolah kau tak menikmati perjalanan tadi, dasar wanita jadi-jadian."
"Awwww.. jangan menggigitku!" Kai berteriak saat ia merasa Sehun menancapkan giginya di dada kiri Kai.
"Kau yang memulai!" Sehun meninggikan suaranya dan berjalan menjauh.
"Ah ya sudahlah. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu, jika kau tertarik ikut aku jika tidak aku bisa pergi sendiri." Kai berjalan menuju pintu kamar Sehun.
"Memangnya kemana?" Sehun mengikuti Kai.
"Ikut saja." Mereka berjalan menuju halaman belakang rumah megah itu. Rumah megah yang sebenarnya Kai sewakan untuk tempat berlibur. Sehun terperangah melihat pemandangan di sana. Pegunungan hijau menyapa indra penglihatannya. Pepohonan dengan daun berbagai warna menghiasi taman kecil itu. Air mancur dengan tiga patung putri menjadi pusat taman belakang ini.
Sehun kagum dengan pemandangan di hadapannya. Bukan lautan luas yang berkarang, tapi daratan tinggi yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Lokasi yang sangat cocok untuk menenangkan diri. Rumah ini terletak diujung sebuah tebing yang sama sekali tidak terjal. Tanah yang dilapisi rerumputan hijau dengan bunga warna-warni kecil menjadi hal yang tak luput dari perhatian Sehun.
"Ahh indah sekali.." Sehun berjalan dan melepas alas kakinya.
"Sudah kubilang kau akan menyukai ini." Kai mendudukan diri di atas rerumputan hijau itu. Sehun menempatkan diri di samping Kai. Gips dikakinya membuat pergerakan Sehun sedikit terganggu.
"Ahh sulit sekali duduk di tanah dengan gips ini." Kata Sehun setelah ia menempatkan pantatnya di rerumputan dengan sempurna.
"Kau harus memakainya terus agar cepat sembuh Sehun." Kata Kai sambil mengusap gips kaki Sehun.
"Aku tau." Sehun menidurkan dirinya, dan Kai mengikuti pergerakan Sehun.
"Sehun, kau tau aku adalah pria yang selalu berpikir rasional. Dan tak pernah terbesitkan di kepalaku bahwa mahluk seperti kalian benar-benar nyata." Kai memandang langit cerah dengan burung-burung yang berterbangan di atas mereka.
"Ya, maaf untuk mengatakan ini tapi yang kau percayai itu tidak benar." Sehun mengarahkan pandangannya menghadap Kai.
"Banyak sekali film-film yang memuat cerita tentang para mermaid yang menggoda pelaut saat mereka berlayar dan berakhir dengan berita kematian." Kai berusaha memancing agar Sehun mau bercerita lebih jauh tanpa batas pertanyaan.
"Aku tidak tau ada film seperti itu, tapi aku tidak bisa mengelaknya." Jawaban Sehun membuat Kai menegang, Sehun tidak menyalahkan pernyataan Kai.
"Dalam film itu para mermaid akan terpancing oleh senandungan para nelayan pada malam hari. Dan para nelayan itu akan terhipnotis dengan kecantikan mereka." Kai melanjutkan ceritanya.
"Dan saat mereka terpancing mendekat pada kami, kami akan menarik mereka kedasar laut hingga mereka mati tenggelam." Sehun melanjutkan cerita Kai. Mau tak mau Kai harus percaya pada cerita Sehun.
"Tidakkah itu terdengar jahat? Kalian tidak memikirkan bahwa nelayan-nelayan itu memiliki keluarga yang harus dinafkahi." Kai menahan keterkejutannya dengan baik. Ia berusaha menjaga perkataan agar ia tak terdengar mencuri informasi dari Sehun.
"Itu adalah satu-satunya cara untuk membuat kami tetap hidup. Dengan membuat manusia percaya." Sehun mengalihkan pandangannya dari Kai.
"Kalian seperti mengorbankan nyawa mereka untuk bertahan hidup." Terdengar sekali jika Kai tidak setuju dengan alasan Sehun.
"Bukankah memang begitu cara alam bekerja? Kalian para manusia menamainya dengan rantai makanan." Seperti biasa Sehun selalu memiliki kalimat yang tepat untuk menanggapi perkataan lawan bicaranya.
"Tetap saja kalian membunuh sesuatu yang hidup untuk kelangsungan hidup kalian."
"Lalu bagaimana dengan manusia yang berburu hewan-hewan laut untuk dikonsumsi? Bukankah hewan laut itu hidup? Bahkan di dunia ini banyak manusia yang membunuh manusia lainnya. Bukankah mereka lebih buruk dari kami?" Sehun terpancing dengan lingkaran argumen yang Kai ciptakan.
"Tidak semua manusia membunuh manusia lainnya Sehun. Tapi bukankah manusia selalu ada dipuncak rantai makanan? Manusia diciptakan untuk hidup di dunia dan bebas mengeksplorasi semua hal yang ada di bumi."
"Manusia selalu lekat dengan sifat egois dan percaya diri. Mereka akan mempercayai sesuatu yang mereka anggap benar tanpa mengetahui dengan pasti situasi apa yang sebenarnya terjadi. Manusia memiliki rantai makanan yang mereka ciptakan, sama halnya dengan kami." Sehun mulai merasa darahnya mengalir dengan cepat.
"Kau benar, kami memang egois dan sangat percaya diri." Kai membawa kedua tangannya untuk menyangga kepalanya di atas tanah.
"Begitu juga kami. Kami adalah mahluk yang egois dan selalu berpikir bahwa kami adalah mahluk terbaik di dunia kami. Dan kami akan melakukan apapun untuk kelangsungkan hidup kami."
"Sepertinya kalian sangat menyukai daging manusia." Bukan sebuah pertanyaan, hanya sebuah opini dari Kai. Dengan maksud terselubung. Mengorek informasi dengan menyatakan opini yang belum tentu benar. Kai memang pintar bermain taktik.
"Daging manusia mengandung banyak darah, dan menurut kami darah manusia tidak memiliki rasa yang lezat. Aku yakin kau cukup pintar untuk mencerna maksudku." Kenyataan lain menghantam Kai, mereka tidak membunuh para nelayan untuk dimakan.
"Beberapa menit yang lalu kau mengatakan bahwa dengan membunuh manusia kalian bisa bertahan hidup. Aku yakin aku tidak salah mendengar." Kai menoleh pada Sehun, ia melihat pergerakan Sehun yang terlihat gelisah.
"Dulu, dalam sebuah kapal nelayan sederhana, biasanya terdapat tiga atau empat orang. Kami akan menarik orang-orang itu dan meninggalkan seseorang untuk menyebarkan cerita tentang apa yang baru saja terjadi." Sehun mengatakan itu dengan mata terpejam, ia menahan sesuatu yang menyakiti tubuhnya.
"Jika boleh aku simpulkan, kalian mengambil nyawa demi tersebarnya cerita tentang keberadaan kalian." Kai tersenyum sarkastik pada Sehun yang masih memejamkan mata.
"Setiap ada manusia yang percaya dengan keberadaan kami, seorang mermaid akan terlahir." Fakta yang tidak rasional membuat Kai tak berkedip. Sehun menghadapkan kepalaanya pada Kai.
"Aku tidak ingin membicarakan ini, kau membuat badanku kembali sakit." Sehun meletakkan nada rengekan kecil dalam kalimatnya. Kai yang tersadar langsung menarik Sehun mendekat. Ia menarik dan menaruh kepala Sehun agar berbantalkan lengannya. Kai memiringkan posisi Sehun agar mereka bisa saling berpelukan.
"Tenanglah aku disini." Kai menciumi wajah Sehun. Sehun memejamkan matanya. Ia berusaha memusatkan pikirannya pada tiap sentuhan yang Kai berikan. Bagaimana permukaan bibir lembut itu menyentuh kulit panasnya dan bagaimana kedua lengan kokoh Kai yang memerangkap tubuhnya dalam pelukan intim.
"Kaii.."
Sehun melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Kai agar mereka semakin erat. Ciuman Kai berpindah ke telinga kiri Sehun. Suara kecupan-kecupan basah itu membuat Sehun meremang. Suara Sehun seolah menjadi penyemangat Kai. Nafas Sehun terdengar memberat. Dan pegangannya pada pinggang Kai mengerat.
Kai membawa kakinya untuk memerangkap tubuh Sehun dan mendorong tubuh bagian bawah Sehun semakin mendekat padanya tanpa membuat kaki kanan Sehun terjepit. Pergerakan yang bagus, karena Sehun sama sekali tidak protes dan hanya mengikuti aturan permainan Kai. Kai menyampingkan rambut Sehun yang menutupi area leher.
Dan di sana Kai mulai mengukir lukisan kesat matanya. Bibir dan lidah itu sebagai kuas dan saliva sebagai tintanya sedangkan kulit Sehun berperan sebagai kanvas putih. Sehun sedikit tersentak saat merasa lidah itu bermain dan menyapa lembut kulitnya. Namun tidak dipungkiri ia menikmati kegiatan yang sedang si lidah kerjakan.
Kecupan basah itu membuat Sehun gila. Ia merasa ada sesuatu aneh dalam dirinya yang tak menginginkan kegiatan ini berhenti. Beberapa hari yang lalu ia merasa sangat tidak senang saat Kai memainkan lidahnya di area telinganya, dan sekarang ia bahkan tidak memberi penolakan sedikitpun dan terkesan sangat menerima.
Kai memindahkan posisinya. Sehun terlentang beralaskan rerumputan sedangkan Kai mengukung tubuh ramping Sehun di bawahnya. Sehun membuka matanya saat merasa Kai hanya memperhatikan Sehun dari jarak yang sangat dekat.
"Aku pikir para nelayan itu tidak normal jika tidak terhipnotis dengan kecantikanmu." Sehun bersemu. Kai melihat pipi putih bersemburat merah, ia langsung menciumi kedua sisinya bergantian. Ia menarik dua lengan Sehun agar memeluk lehernya. Dan Sehun kembali menurut. Kai berhenti saat bibir Sehun menyentuh dagunya.
"Sehun, aku tau ini terdengar kurang ajar, tapi bolehkan aku mencium bibirmu?"
Kai menatap Sehun dengan air muka serius. Sehun terpaku dengan pandangan mata Kai yang mengarah dari menatap bibirnya dan berpindah menatap matanya. Lidah Sehun kelu, dan otaknya membeku. Ia tak bisa merangkai kalimat apapun saat memandang iris colkat itu. Pandangan Sehun berpindah pada bibir tebal yang sering menjamah kulitnya. Sehun menelan ludahnnya, dan itu membuat Kai tersenyum karena tingkah polos si wanita cantik.
"Jika kau keberatan aku tidak akan memaksa Sehun." Kai mencium hidung mancung Sehun sekilas. Saat ia hendak menyingkir dari atas tubuh Sehun, ia merasa lengan Sehun mengerat.
"Cium bibirku." Dan dua kata dari Sehun itu membuat Kai menghentikan niatnya untuk menyingkir dari atas Sehun. Kai tersenyum dan mengecup bibir merah muda yang selalu ia inginkan. Ia mengecupnya dengan lembut seolah menikmati tekstur kenyal bibir ranum itu. Sehun belum terbiasa dengan kegiatan mereka kali ini. Ia tak tau harus berbuat seperti apa.
Mau membalaspun ia tak bisa, ia belum berani menggerakkan bibirnya. Lagi pula ia juga tidak tau bagaimana ia harus membalas ciuman Kai. Sehun hanya diam dan membiarkan Kai bermain-main dengan bibirnya.
Kai mengecup bibir atas dan bibir bawa Sehun bergantian. Ia tersenyum dalam tiap kecupannya. Setelah puas dengan kecupan, Kai mengajak lidah dan giginya ikut serta dalam permainannya kali ini. Bibir bawah itu ia kulum lembut, lidah itu membelai permukaan bibir Sehun dengan sapuan pelan. Kai mengapit bibir Sehun diantara giginya dan menariknya pelan karena gemas.
Sehun tidak membalas dan Kai mengerti mengapa. Seolah diberi mainan baru, fokus Kai hanya pada bibir itu. Jilat, kulum, gigit, hisap dan kecup, begitu seterusnya. Kai bisa merasakan nafas Sehun yang menyapa wajahnya, ia tau Sehun mulai rileks. Bibir atas dan bawah itu ia kulum bersamaan. Menghisap mereka dengan lembut supaya Sehun tidak kesakitan.
Kai merasa bagian privatnya mulai tumbuh karena kegiatan intim mereka. Sesak dan sakit mulai ia rasakan. Tapi katakanlah ia berego tinggi. Ia masih tak memperdulikan itu, sepertinya Kai sangat fokus dalam kegiatannya kali ini. Angin berhembus kencang, langit mulai gelap. Kai menghentikan kegiatannya.
"Sehun.." Sehun membuka matanya.
"Kau sangat manis." Kai mengusap lelehan saliva di ujung bibir Sehun dengan ibu jarinya.
"Kau sangat pintar berciuman. Apa kau sering melakukannya?" Sehun mengeluarkan suaranya.
"Aku pria dewasa Sehun. Tentu aku pernah melakukannya." Mereka masih bertahan dengan posisi Kai yang menindih tubuh Sehun dan kedua lengan Sehun yang masih mengalung pada leher Kai.
"Aku tidak menyukainya." Sehun mengerutkan hidungnya. Sehun yang seperti ini sangat menggemaskan untuk Kai.
"Apa yang tidak kau sukai?" Kai menunjukkan senyuman miringnya pada Sehun. Ia tak menyangka Sehun akan mengatakan itu segamblang ini.
"Aku tidak menyukai saat kau melakukan hal-hal yang kau lakukan padaku pada wanita lain." Sehun mengalihkan pandangannya.
"Lalu?" Kai menarik wajah Sehun agar mengarah kepadanya.
"Jangan melakukan itu selain padaku." Sehun menarik tangannya menutupi wajahnya. Kai terkekeh karena Sehun sangat menggemaskan.
"Apa aku tidak boleh berbicara pada wanita lain?" Kai menarik tangan Sehun menjauh dan mengecup bibirnya sekilas.
"Kalau itu boleh." Sehun membawa tangannya memainkan anak rambut Kai.
"Lalu apa yang tidak boleh?" Kai mengecup hidung Sehun.
"Ahh entahlah.. lupakan saja." Sehun mendorong tubuh Kai menjauh. Ia mendudukkan dirinya dan meraih tongkat jalannya. Kai tersenyum karena tingkah Sehun. Kai berdiri dan menyesuaikan langkahnya dengan Sehun yang berjalan di depannya. Pipi Sehun memerah, Kai yakin semburat merah kali ini tidak menimbulkan rasa sakit apapun untuk Sehun.
.
.
.
"Apa kau menikmati makan malamnya?" ada alasan tak kesat mata yang membuat mereka kali ini tidak saling melontarkan kalimat-kalimat pedas atau saling mengejek.
"Aku menikmatinya." Sehun mengatakannya dengan wajah yang tertunduk.
"Apa kau ingin minum? Besok hari Minggu, jadi kurasa tidak ada salahnya jika kita menikmati malam ini dengan sedikit alkohol." Kai menuangkan anggur ke delam gelasnya.
"Aku pikir segelas saja cukup."
"Segelas? kita lihat saja apa segelas cukup untukmu." Kai menuangkan minuman itu untuk Sehun.
"Mengapa kau tidak pindah ke sini saja? dari pada di Malibu." Sehun mulai berani bertanya pada Kai.
"Di sini memang nyaman, tapi tempat ini terlalu jauh dari kantorku. Sebelumnya aku tinggal di sebuah perumahan mewah. Suasana yang selalu sama kadang membuatmu sangat jenuh, saat kau melihat ke luar jendela kau akan mendapati rumah-rumah lain. Tidak ada sesuatu yang menarik."
"Dan kau memutuskan pindah ke Malibu karena lautnya?"
"Tepat. Deburan ombak itu memberi kesan tenang dan menyejukkan."
"Apa kau selalu tinggal sendirian?" Sehun merasa ia belum cukup tau banyak tentang Kai, dan ia merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk bertanya.
"Ya, selama 15 tahun terakhir aku selalu tinggal bersama Brenda. Dia yang mengurus rumah. Dan kali ini aku ingin tinggal sendirian. Tapi sepertinya rencana itu kau gagalkan." Kai terkekeh kecil.
"Kau akan bebas setelah dua bulan, tenang saja." Sehun mengangkat satu alisnya dan tersenyum memamerkan taring kecilnya.
"Bagaimana mungkin 15 tahun sendirian dan hanya bersama Brenda, apa kalian sepasang kekasih?" Kai tersedak anggurnya.
"Tidak Sehun, Brenda memiliki keluarga dan telah memiliki dua orang putra. Ia hanya bekerja padaku sampai pukul 5 sore, dan setelahnya ia akan pulang."
"Ia bilang ia sangat dekat denganmu."
"Ya, kami sangat dekat. Saat suaminya meninggal, ia sangat terpuruk dan itu yang membuatku tergugah untuk membantunya." Kai memandang Sehun.
"Membantunya dalam bentuk?"
"Dalam bentuk finansial. Aku yang membiayai kedua putranya hingga ke universitas."
"Kau lumayan juga."
"Tentu saja, kau pikir aku orang jahat?"
"Bukan begitu, bagiku kau terlihat seperti fuckboy yang membeli semuanya dengan uang."
"Fuckboy?Itu dulu Sehun." Kai terkekeh mendengar kata itu dari Sehun.
"Apa yang membuatmu memutuskan melepas gelar terpandangmu itu?"
"Karena sekarang aku memiliki bayi besar yang selalu ingin diperhatikan." Kai tersenyum miring.
"Benarkah? Siapa?" Sehun berpura-pura tak mengerti makud Kai, ia kembali menegak minumannya.
"Seorang wanita cantik yang selalu merengek saat akan ditinggal kerja. Ia bisa berubah dari wanita yang sangat manja dan manis menjadi wanita yang sangat galak dan berkalimat pedas." Sehun tertawa kecil karena kalimat Kai.
"Dan wanita itu bukan bayi Kai. Dia seorang wanita dewasa."
"Kau benar, ia memang wanita dewasa. Tapi bagiku ia tidak lebih dari remaja labil yang masih dalam masa puber."
"Masa puber!? Wanita itu berumur ratusan tahun diatasmu. Bagaimana bisa kau mengatakan itu?" Sehun tertawa dalam air muka tidak percayanya.
"Benarkah? Ia bahkan merona saat kucium bibirnya."
"KAAIII..!" Sehun memekik saat dengan gampangnya ia bercerita tentang kejadian siang tadi. Wajah Sehun kembali memerah, dan hal itu membuat tawaan Kai pecah.
"See? Sepertinya kita harus lebih sering melakukannya, agar kau terbiasa." Kai masih menggoda Sehun. Sehun segera meraih piringnya dan berjalan menuju dapur.
"Hei hei apa kau marah, ayolah Sehun.." Sikap Sehun membuat Kai tak ingin berhenti menggodanya. Sehun mengabaikan Kai sepenuhnya. Ia berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh pada pria itu. Kai berjalan mengikuti Sehun dengan santai dengan senyum yang mengembang. Sehun memasuki kamarnya tanpa berbicara apapun pada Kai. Ia segera meraih sebuah buku dan duduk di atas ranjangnya.
"Buku apa yang kau baca?" Sehun masih tidak menjawab.
"Hei aku bertanya padamu." Kai memposisikan tubuhnya sejajar dengan Sehun lalu merebut buku itu.
"Sisa pertanyaanmu habis siang tadi. Aku tidak akan menjawab pertanyaan apapun darimu." Sehun menunjukkan nada sinisnya. Tapi sungguh, di mata Kai Sehun sangat menggemaskan. Merajuk dengan nada manja selalu menjadi Sehun favorit Kai.
"Kau menyadarinya?" Kai terkekeh karena Sehun menyadari introgasinya siang tadi.
"Tentu saja, kau pikir aku bodoh?!"
"Kau pintar." Kai mengusap kepala Sehun, dan secara otomatis Sehun menundukkan kepalanya agar Kai bisa lebih mudah mengusapnya.
"Dan juga cantik dan menggemaskan." Kai masih mengusap kepalanya. Sehun menikmati belaian-belaian itu.
"Mendekatlah." Kai menarik tubuh Sehun agar bersandar padanya. Ia memeluk tubuh Sehun dengan lengan kiri dan membelai sisi kiri kepala Sehun dengan tangan kanannya.
"Karena tadi aku banyak bertanya, sekarang kau boleh menanyaiku. Tentang apapun, dan tanpa batas pertanyaan." Ada sebuah almari besar dengan cermin lebar di hadapan mereka, membuat mereka bisa melihat satu sama lain tanpa harus menengokkan kepala.
"Mengapa kau senang tinggal sendiri?" awal yang baik.
"Karena aku sudah dewasa, dan seorang manusia dewasa tidak tinggal dengan orang tua mereka." Kai tak berhenti mengusap Sehun.
"Tidakkah kau jenuh jika hidupmu hanya sekitar pergi ke kantor dan pulang ke rumah?"
"Aku memiliki kegiatan lain Sehun. Jika pekerjaanku selesai tepat waktu aku akan mengunjungi club malam atau minum dengan teman di kafe."
"Apa yang kau lakukan di club malam? Kau senang berdansa?" Sehun memejamkan matanya.
"Bisa dibilang tidak. Karena 85% tujuanku pergi ke club bukan untuk berdansa."
"Untuk mencari wanita?" Sehun membuka matanya dan tatapan mereka bertemu melalui cermin.
"Itu tujuan lain, tapi minum juga salah satu tujuanku ke sana." Kai menelan ludahnya setelah menjawab pertanyaan Sehun.
"Apa aku boleh ikut jika kau pergi ke club? Aku ingin mencobanya." Sehun mendongakkan kepalanya pada Kai.
"Mencoba apa?"
"Kau tau, berdansa dengan pria terdengar menyenangkan." Sehun menggigit bibirnya saat mengatakan itu.
"Satu-satunya pria yang akan berdansa denganmu saat itu adalah aku." Kai berhenti mengusap kepala Sehun dan membalas tatapan Sehun.
"Aku tidak mau denganmu. Kau sering mencoba wanita lain, dan aku juga ingin dengan pria lain." Sehun protes pada Kai.
"Percayalah kau tidak akan menyukai mereka. Berdansa yang kau maksud berbeda dengan berdansa yang terjadi dalam club."
"Aku tidak mengerti." Sehun menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mengajakmu ke club dan di sana kau akan mengerti." Kai mengecup bibir itu sekilas. Dan Sehun terpaku seketika.
"Apa kau sering berciuman dengan wanita?" pertanyaa spontan muncul dalam benak Sehun karena Kai yang tiba-tiba menciumnya.
"Tidak juga, aku bukan tipe pria yang senang mencium wanita saat kami sedang melakukan itu."
"Melakukan apa?" Kai harus mengerti bahwa Sehun sangat polos dengan kata-kata yang ambigu.
"Kau tidak tau?"
"Jika aku tau aku tidak akan bertanya." Sehun menyundul dagu Kai dengan kepalanya pelan.
"Aku bukan tipe pria yang senang mencium wanita, jika kami tidak terlalu dekat."
"Aku yakin kita tidak terlalu dekat. Jadi jangan terlalu sering menciumku."
"Bukankah posisi kita sangat dekat sekarang? Lagi pula kita telah melihat seluruh tubuh satu sama lain." Kai kembali membelai Sehun. Sehun memandang Kai dari cermin depannya dengan mata melotot. Kai tertawa karena Sehun tiba-tiba menutup wajahnya dengan bantal. Kai menarik bantal Sehun. Tapi Sehun memeluk bantalnya erat. Kai menggelitiki Sehun hingga bantal Sehun terbuang ke lantai.
"Kaii berhentiii!"
"Baiklah baiklah.." Kai tertawa melihat Sehun yang berantakan. Sehun merengut, ia meraih tongkat jalannya dan berjalan menuju balkon. Pukul delapan malam seharusnya langit mulai gelap, tapi saat kau berada di belahan dunia lain dengan empat musim, di musim panas jam delapan malam akan terasa seperti jam tiga sore.
"Tadi pagi aku tidak sengaja melihatmu.. emm.. telanjang..." Sehun menundukkan kepalanya. Ia tau Kai berada di belakangnya.
"Aku tau." Kai meraih dagu Sehun agar melihat ke arahnya dan mengecup lembut bibir itu.
"Sehun apa kau keberatan jika mulai sekarang aku akan sering mencium bibirmu? Kau membuatku kecanduan." Kata Kai sambil mengusap bibir ranum Sehun. Sehun tidak menjawab, ia mengangguk setelah beberapa detik.
"Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, tapi kurasa aku akan terbiasa dengan hal itu." Sehun menghadapkan tubuhnya pada Kai. Kai tersenyum, ia menarik tubuh Sehun mendekat dan mengecup bibir Sehun lagi. Sehun masih belum terbiasa. Ia hanya bisa diam dan tak tau harus berbuat apa.
Tangannya ia letakkan pada dada bidang Kai. sedangkan Kai meraih pinggang ramping Sehun dan membelainya pelan. Mereka memejamkan mata. Menikmati suasana yang memanas. Nafas mereka beradu, Kai menyesuaikan nafasnya dengan nafas Sehun. Ia bukan tipe pria yang senang mencium, tapi bukan berati ia pencium yang payah. Kai menjilati bibir Sehun berulang kali hingga terdengar suara kecipakan khas orang berciuman.
Kai menarik Sehun agar duduk di atas meja di balkon itu, lalu ia duduk di kursi balkon dan menempatkan dirinya di antara kaki Sehun. Ia memeluk pinggang Sehun agar Sehun mendekat padanya. Sehun menaikkan kakinya ke atas kursi Kai hingga tubuh Kai terapit oleh kedua kaki Sehun. Kai meraih kedua lengan Sehun agar memeluk tubuhnya.
Ciuman Kai pindah ke leher Sehun. Ia menggigit dan menghisapnya pelan. Sehun merasa geli, tapi ia tak ingin berhenti. Ini adalah salah satu kegiatan yang tak pernah ia lakukan. Ia menikmati perasaan aneh saat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang hanya karena lidah Kai yang menyentuh tubuhnya. Kai menjilat dan mengecup leher Sehun pelan. Sehun memeluk tubuh Kai erat. Tubuhnya menegang saat jemari Kai membelai pinggangnya.
"Kaii..aku-"
TBC
Eeeeaaaaa.. ngak jadi NC XD
Full Kaihun nih guys.. gtw mood author naik turun soalnya jadinya gini deh.
Buat kalian yang nungguin NC, sabar dulu ya.. pelan-pelan biar ceritanya enak..
Disini rahasia mermaid aku ungkap pelan-pelan, bagi yang ngerasa ceritanya terlalu bertele-tele ya maap..
Chapter ini Sehunnya author bikin nggak terlalu garang, karena di ff ini dia itu polos banget dan nggak pernah dianeh-anehin sm cowok. Jadi Sehun itu intinya lagi bingung.
Makasih yang udah nungguin dan ngasih review, dan makasih juga yang udah nyempetin mampir tapi cm baca doang.
Sampai ketemu di chapter depan dan mohon reviewnya temen-temen XOXO..
Third story of Redaddict
