Ties That Bind Us

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

.

.

Sasuke mengikuti langkah kaki Hinata menuju lantai atas setelah makan malam usai. Sebelum mereka mendekati kamar Hinata, Hinata berhenti dan berbalik menghadap Sasuke.

"Kau hanya akan tinggal di kamarku selama lima belas menit. Tidak lebih. Setelah lima belas menit itu, kau keluar dan katakan kepada pelayan yang berjaga bahwa kau lelah, permainannya terlalu sulit untukmu dan kau hanya ingin cepat tidur. Mengerti?" bisiknya menuntut.

Kening Sasuke berkerut. Dari cara Hinata berbicara, bagaimana anak perempuan itu memerintah lewat kata-katanya, mengingatkan Sasuke kepada Jiraiya dan orang dewasa lain di karnaval.

"Terserah," desis Sasuke. Ia akan melakukan apa yang Hinata katakan, namun itu bukan karena ia menuruti perkataan anak perempuan itu. Sama seperti Hinata, ia juga tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu lebih lama dengan Hinata.

Saat mereka masuk ke kamar, Hinata langsung mengarahkan telunjuknya, memberitahukan Sasuke letak meja caturnya yang berada di salah satu sisi kamar dekat jendela dengan tirai biru yang kini menutup celah pandang keluar ruangan.

"Duduklah di sana," titahnya.

Sasuke pun segera mengisi salah satu kursi yang disediakan, menunggu Hinata mengambil tempat di seberangnya. Namun, dilihatnya Hinata malah merangkak naik ke atas tempat tidur kemudian duduk di atas selimutnya setelah meraih salah satu buku yang terletak di nakas. Anak perempuan itu mulai membaca lagi.

Sasuke mendelik ke arah Hinata yang seluruh perhatiannya tercurah pada cetakan tinta di atas kumpulan kertas di genggamannya. Sepenuhnya anak perempuan itu mengabaikannya.

"Harusnya kita memainkan ini, kan?" Sasuke menyentuhkan ujung jarinya pada salah satu buah catur tertinggi yang berjejer di dekatnya.

Hinata menggeleng tanpa memisahkan kontak matanya dengan tiap kalimat pada buku di genggamannya. "Jika ayah masuk untuk melihat apa yang kita lakukan, kau bilang saja aku sedang mencari kutipan bagus yang ingin aku tunjukkan padamu."

"Cih..." Sasuke berdesis pelan sebagai balasan.

"Oh, aku keingatan satu hal," gumam Hinata, kepalanya yang menunduk seketika terangkat. Ia kemudian menengok ke arah Sasuke yang masih duduk di salah satu kursi catur. "Pindahkan sedikit posisi buah-buah caturnya. Jadi orang yang melihat akan mengira kita sungguh-sungguh bermain."

Setelah mengatakannya, Hinata kembali tenggelam di dalam dunia bacanya. Tanpa kata, Sasuke mencondongkan tubuh hingga sepenuhnya berhadapan dengan meja catur. Ia mulai memindahkan beberapa buah catur berwarna putih—yang kebetulan berada di sisi miliknya jika mereka benar bermain.

Sasuke agak tak menyangka bahwa buah-buah catur itu memiliki berat lebih dari yang ia perkirakan melihat betapa kecilnya mereka. Ia hanya baru menyadari bahan dasar logam yang digunakan saat ia menyentuhnya.

Gerakan mengacaknya berhenti sejenak saat Sasuke mengangkat buah catur terkecil dari semua jenis di atas papan. Berbeda dengan yang lainnya, buah catur itu memiliki lebih banyak jumlah. Sasuke memandangnya sesaat dalam kediaman. Berpikir bahwa buah catur itu begitu menggambarkan sosoknya. Begitu kecil dan terlihat tak berharga jika memandang dari kuantitasnya. Sama seperti Sasuke yang merupakan salah satu bocah dari banyaknya bocah yang terlupakan oleh dunia.

"Apa fungsi yang ini?" tanya Sasuke kepada Hinata. Hinata masih mengabaikannya dan Sasuke memutuskan untuk mengulang pertanyaannya dengan volume suara lebih tinggi. "Apa fungsinya ini?"

"Kau tidak perlu mempelajari cara bermainnya walaupun ayah menyarankan demikian." Hinata menyahut tapi tak menjawab pertanyaan Sasuke, tangannya mengebat lembar kertas, mengubah halaman bukunya. "Tidak ada gunanya untukmu."

"Aku tidak peduli soal cara mainnya," balas Sasuke, ia mengangkat tangannya yang menggenggam buah catur terkecil itu dan menggoyangnya ringan. "Aku bertanya apa fungsinya? Cara kerjanya?"

"Bisa tidak kau berhenti bicara padaku. Kau mengganggu konsentrasiku."

Sasuke bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Hinata. Ia menyodorkan buah catur pada genggamannya tepat di hadapan wajah Hinata hingga menghalangi aktivitas baca anak perempuan itu. Hinata mengangkat wajahnya dan mendelik kesal kepada Sasuke.

"Apa fungsinya?" tanya Sasuke lagi. Ia menyuarakan pertanyaan itu dengan nada dan ekspresi yang datar.

"Namanya pion." Hinata menjawab tak sabaran, ia mengambil buah catur itu dari tangan Sasuke. "Dan fungsinya..." Hinata mengacungkannya di hadapan wajah Sasuke sebelum menjentikkannya ringan hingga jatuh dan menggelinding di atas lantai. "... adalah untuk dikorbankan."

Tak begitu mengindahkan perbuatan Hinata, Sasuke memandang buah pion tadi. Kebetulan yang menyedihkan bahwa antara dirinya dan pion itu memiliki nilai yang sama, terlalu rendah hingga mudah untuk dikorbankan.

"Umm..." Hinata kembali bersuara. "Jangan lupa mengambilnya dan meletakkannya kembali di atas papan."

Sasuke mengabaikan Hinata. Tanpa memungut pion tadi, ia kembali ke meja catur dan duduk di kursi yang sama.

Hinata memandang bocah laki-laki itu tak percaya. "Kalau ayah masuk, dia akan bertanya kenapa pionnya ada di lantai!"

"Kalau begitu buat saja alasan lain dan katakan padanya," jawab Sasuke enteng.

Hinata mengatupkan bibirnya karena kesal, ditutupnya buku di pangkuannya keras-keras kemudian ia letakkan asal di atas selimut. Hinata turun dari tempat tidurnya untuk mengambil pion yang sengaja ia jatuhkan tadi kemudian bergerak ke meja catur di mana Sasuke dengan tampang tanpa dosanya memindahkan buah-buah catur yang ada secara benar-benar acak.

"Tidak boleh seperti itu!" tegur Hinata, ia menyingkirkan buah catur yang baru Sasuke pindahkan di salah satu petak dan menggantikan posisinya dengan pion yang tadi ia pungut.

"Kenapa tidak boleh?"

"Itu raja, Bodoh! Kalau kau meletakkannya di sana permainannya berakhir. Itu posisi skakmat," jelas Hinata gemas.

Sasuke menatap Raja berwarna hitam yang Hinata maksudkan dengan beberapa kali kedipan. Ia kemudian menengok Hinata, menyertakan cengiran ringan. "Jadi aku menang?"

"Tentu saja tidak!"

"Tapi milikku yang berwarna putih, kan?" Sasuke berujar, tangannya bergerak menunjukkan area papan miliknya yang didominasi dengan pasukan putih. "Itu artinya yang hitam milikmu. Dan karena rajamu terjebak, jadi akulah pemenangnya."

"Tapi kita tidak sedang bermain. Tidak ada yang menang."

"Artinya aku menang jika kita bermain tadi," balas Sasuke kukuh, masih dengan raut tanpa dosanya.

"Tidak! Kau tidak memenangkan apapun!" sergah Hinata gemas.

Sasuke menatap Hinata, punggungnya ia sandarkan di badan kursi yang ia duduki. "Kau hanya tidak menerima kekalahanmu," cibirnya.

Hinata menggumamkan gerutuan tanpa arti. "Bukan aku masalahnya, tapi kau. Caramu mengatur posisi buah caturnya saja sangat tidak masuk akal," jelas Hinata.

"Bagaimana bisa tidak masuk akal?"

"Karena... karena... uhhh!" Hinata mendudukkan dirinya dengan tergesa di kursi catur di seberang Sasuke. "Lupakan! Kembalikan saja semuanya ke tempat semula dan aku akan menunjukkan padamu cara yang benar untuk memainkannya. Aku akan menunjukkan padamu kalau kau sama sekali tidak punya kesempatan untuk menang di sini."

"Baiklah," balas Sasuke. Suasana hatinya membaik secara drastis melihat kekesalan Hinata. Ia mulai mengatur ulang posisi buah catur seperti posisi semula. Di depannya, Hinata bersandar di kursi dengan tangan terlipat dan wajah tertekuk, ekspresi yang membuat Sasuke semakin girang.

..

...

..

Jarum pendek jam sudah menunjukkan angka sebelas saat seorang pelayan—atas perintah Hiashi—masuk ke dalam kamar Hinata untuk menjemput Sasuke, memberitahukan bocah laki-laki itu agar segera beristirahat di kamarnya sendiri.

Sebelumnya, seperti yang sudah Hinata prediksikan, Hiashi secara pribadi menyempatkan diri untuk melihat keadaan mereka. Dan setelah mendapati keduanya tengah tenggelam dalam permainan catur, pria dewasa itu memutuskan pergi, enggan menjadi gangguan bagi keduanya.

Kali itu sudah memasuki permainan keempat mereka. Hinata memenangkan permainan pertama dengan cepat karena Sasuke yang kurang tanggap dalam memahami aturan mainnya. Permainan ketiga masih dimenangkan Hinata, dengan Sasuke yang sudah mulai memahami dasar-dasar langkahnya. Dan Hinata agak tak menduga di permainan keempat, Sasuke cukup mampu menahannya lebih lama.

"Sebentar lagi," ujar Hinata kepada pelayan yang menjemput Sasuke. "Aku hampir mengalahkannya lagi."

"Tapi, Nona Muda, Tuan jelas mengatakan—"

"Oh, baiklah." Hinata menyerah, memotong ucapan pelayan yang belum rampung dengan helaan napas panjang. Ia memandang Sasuke yang masih duduk di seberangnya. "Kita lanjutkan besok," tuntutnya. "Padahal tinggal sedikit lagi. Kau tinggal lima langkah menuju kekalahanmu," tambah Hinata, matanya meneliti tiap detail posisi buah catur yang tersisa di atas papan catur.

"Hn," sahut Sasuke pendek.

Saat hendak keluar, Sasuke mendengar Hinata meminta pelayan untuk membawa serta gelas-gelas mug kosong yang sejak tadi menemani permainan mereka. Dan lewat hal kecil itu, Sasuke mengasumsikan satu hal bahwa sepertinya Hinata merupakan penggemar teh.

"Selamat malam," ujar Sasuke ringan sebelum beranjak keluar tanpa menunggu Hinata membalas.

Hinata—yang tadi masih berbicara dengan pelayan—menghentikan kalimatnya dan menengok ke arah Sasuke dengan raut tenang namun sorot mata tak percaya. Yah, mengingat interaksi mereka, Hinata sebenarnya tak mengekspektasikan Sasuke memberikan sapaan ramah untuknya.

Dan untuk Sasuke, dalam perjalanan pendek menuju kamarnya ia memutuskan bahwa mungkin tak masalah baginya untuk tinggal satu hari lagi di rumah Hiashi. Mungkin besok ia memiliki kesempatan untuk mengalahkan Hinata dalam catur. Terlebih makan malam tadi begitu nikmat dirasanya, ia agak tak sabar menunggu pagi untuk mengetahui apa yang akan mereka siapkan sebagai menu sarapan.

..

...

..

Sasuke menggerakkan kudanya yang kemudian dihadiahkan cibiran pendek dari Hinata.

"Apa?" tanya Sasuke.

Hinata mengedikan bahunya ringan. "Kau benar-benar amatir."

"Aku salah langkah lagi?" tanya Sasuke. "Lalu kudanya harus aku taruh di mana?" Sasuke hendak mengambil kuda yang sama untuk menarik mundur langkahnya, namun gerakannya terhenti karena tamparan tangan kecil Hinata di tangannya yang terulur.

"Sudah berapa kali kubilang, sekali kau mengambil langkah, kau tidak boleh menariknya kembali!" omel Hinata.

"Kalau begitu kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau aku membuat langkah yang buruk?" protes Sasuke.

Hinata menghela napas. "Karena kita sedang memainkan permainan sungguhan. Mana mungkin aku menuntunmu sepanjang permainan," jelas Hinata sembari menggerakkan gajahnya. "Skak!"

"Huh?! Bagaimana bisa?" Sasuke tak terima kondisi terdesak yang dialami rajanya.

"Kita sudah bermain selama dua Minggu. Harusnya sekarang kau sudah terbiasa," tandas Hinata, telunjuk kanannya diarahkan langsung kepada gajah yang tadi ia gunakan. "Aku bisa menghentikan rajamu dengan berbagai pilihan langkah." Tangannya kemudian bergerak memberitahu Sasuke tentang jalur-jalur yang bisa Hinata gunakan untuk mematikan pergerakan raja milik Sasuke. "Kau harus mengorbankan pionmu untung menghalangi aku mematikanmu."

"Tidak mau!" sergah Sasuke keras kepala.

"Kau harus melakukannya, kecuali kau mau mengorbankan kudamu untuk menyelamatkan raja," Hinata menunjuk ke arah satu-satunya kuda putih milik Sasuke yang tersisa.

Tanpa pikir panjang, Sasuke menggerakkan kembali kudanya. Hinata menghela napas melihat keputusan Sasuke yang menurutnya aneh itu, namun ia tetap menggunakan gilirannya untuk melalap kuda yang Sasuke korbankan.

"Kau benar-benar pemain yang buruk," komentar Hinata. "Pada akhirnya aku akan tetap memakan pionmu. Tidak ada cara untuk menyelamatkannya."

Sasuke tak menjawab, matanya memelototi papan catur di depannya, mencari-cari kemungkinan untuk menyelamatkan pionnya. Namun Sasuke tak kunjung menemukannya. Giliran-giliran selanjutnya terlewati tanpa kata berarti hingga akhirnya Hinata kembali memerangkap raja Sasuke ke dalam keadaan skakmat.

"Ada peningkatan, kau menahan permainanku cukup lama." Hinata kembali berkomentar, punggungnya ia sandarkan di kursi. "Ayo main lagi. Aku masih punya satu jam sebelum tutorku datang."

Sasuke tak mengiyakan ajakan Hinata secara verbal. Ia menyetujuinya dengan segera mengatur ulang buah-buah catur mereka di atas papan. Di hari kedua permainan mereka, Hinata mengatakan tentang aturan bahwa yang kalah harus mengatur ulang posisinya. Sasuke tak tahu apa itu benar aturan dasar permainan catur atau hanya karangan Hinata semata. Tapi ia melakukannya tanpa protes. Ia mengatur ulang buah-buah catur itu setiap kali ia kalah dari Hinata. Yang artinya, setiap kali ia bermain dengan Hinata.

"Aku selalu ingin menanyakan ini," ujar Sasuke tanpa menghentikan kegiatannya menyusun pasukan catur hitam di area permainan Hinata. "Kenapa selalu ada pelayan yang menunggu di depan pintu kamarmu?"

Hinata berkedip satu kali sebelum merespons. "Memangnya aneh?" tanyanya balik. "Itu memudahkanku jika aku memerlukan sesuatu."

"Kenapa tidak menggunakan bel?"

"Dengan bel setidaknya aku harus menunggu lima menit sebelum pelayan datang."

"Lima menit menunggu terdengar jauh lebih mudah daripada duduk diam di depan kamar selama lima jam," gumam Sasuke rendah dan pelan, namun masih dapat Hinata dengar.

Hinata mendelik ke arah Sasuke. "Mereka bergantian setiap tiga jam."

"Kau yakin?" Sasuke mengangkat wajahnya. "Rasanya aku melihat orang yang sama selama seharian kemarin."

Hinata mendengus. "Kau hanya berpikir berlebihan," ujarnya, nada ragu mengikuti tiap getar katanya.

"Ada alasan lain, ya, kenapa mereka menunggu di depan?" tanya Sasuke lagi. Ia merasa memang ada alasan lain, sesuatu yang tak Hinata atau bahkan Hiashi katakan padanya.

Hinata diam sesaat, matanya ia arahkan ke jendela kaca yang menampilkan halaman belakang rumah. "Bukan hal penting sebenarnya. Hanya saja ayah terlalu mencemaskanku," akunya. "Dia ingin seseorang berada di dekatku, antisipasi kalau-kalau aku sakit mendadak. Padahal hal itu tidak mungkin terjadi." Hinata kembali mengarahkan pandangannya ke Sasuke—yang kini memandangnya meski belum menyelesaikan tugasnya. "Kadang ayah memang bertingkah berlebihan," ujarnya lagi.

Sasuke berpikir pasti membosankan untuk pelayan yang berjaga di depan kamar Hinata. Tapi kalau diingat-ingat bagaimana sosok Hiashi, Sasuke tak begitu terkejut jika pria itu memutuskan untuk mengambil langkah demikian. Hinata adalah segalanya bagi Hiashi, setidaknya itu yang Sasuke simpulkan selama ia tinggal bersama mereka.

Terkadang Sasuke juga terpikirkan, apakah orang tuanya memikirkannya? Mencemaskan kesehatannya? Tapi memikirkan soal hal itu hanya menempatkannya pada ujung rasa penasarannya, rasa penasaran tentang apa yang terjadi terhadap kedua orang tuanya. Apakah mereka sudah meninggal sejak awal atau memang mereka berniat melepasnya di panti asuhan?

Pertanyaan itu kemudian akan bercabang, menghasilkan pertanyaan lain. Dan Sasuke tak menyukainya, itulah kenapa ia lebih memilih untuk tak memikirkan masa lalunya.

.

to be continued...

.

.

p.s
Pion (Pawn), disebut juga Bidak/Anak/Askar/Prajurit
Gajah (Bishop), disebut juga Kuncup/Menteri