.
.
.
.
'Manusia itu misterius dan sulit untuk dipahami...'
.
.
.
'Karena pada dasarnya, Manusia memang sulit untuk memahami satu sama lain!'
.
.
.
.
"Jadi inikah yang namanya Occult Research Club?"
Ucap seorang pria paruh baya yang dalam balutan seragam khas pengajar di sekolah bernama Kuoh Academy. Duduk bertengger di batang pohon yang cukup rindang dengan pandangan mata yang tengah menelusuri apa yang ada didalam gedung sekolah lama yang sekarang dijadikan sebuah klub itu –
– Bukan kurang kerjaan sih, hanya saja ia penasaran pada seorang gadis berambut merah yang menjabat sebagai ketua di klub itu
Alasan? Dia Cuma penasaran saja pada seorang gadis populer yang awalnya menghina seorang pecundang malah tertarik pada pecundang itu sendiri!
*Kraaup!*
Menggigit pelan apel merah yang kini berada digenggamannya lalu mengunyahnya dengan tenang, pria paruh baya itu bernama Uchiha Madara – terlihat di Name Tag yang menempel di seragam bagian dada kirinya
"..."
"Yah, kurasa aku perlu mengawasi mereka"
Turun dari batang pohon yang rindang itu, Madara lalu berjalan mendekati ruangan klub itu sembari memakan apel merah ditangannya – mencoba menguping apa yang sedang dibicarakan para anggota klub yang menurutnya agak misterius itu
.
.
.
'Ini menarik. Jadi, apa yang akan mereka rencanakan?'
.
.
.
.
- [At Occult Research Club]
"Uzumaki Naruto? Bukankah dia siswa yang sering dihina itu?
Seuntai kalimat dengan nada datar keluar begitu saja dari seorang remaja tampan bersurai pirang yang duduk disofa itu. Meski ucapannya tak ada niat mengejek sedikitpun, hanya saja entah kenapa kalimat yang ia keluarkan terasa sedikit menyakitkan
Mata birunya menatap lurus kedepan, dari pantulan matanya terlihat seorang gadis berambut merah yang tengah duduk dengan manisnya disofa dengan senyum lembut yang selalu membentang diwajah cantiknya
"Yah, bukan karena aku kasihan terhadap Pecundang itu, tapi aku merasakan ada hal lain dalam dirinya!"
Ucap si gadis merah dengan nada yang terasa sedikit agak ambisius, hal itu membuat seorang gadis Ponytail disebelahnya hanya bisa tersenyum manis – Senyum Palsu Eh?
"Ara ara, Kurasa Buchou tertarik dengan si Culun itu~"
Ucap Akeno – gadis berambut Ponytail itu dengan nada yang terdengar menggoda telinga, telapak tangannya menyentuh lembut pipinya memberikan ekspresi yang sedap untuk dipandang dengan mata telanjang
"Tapi Buchou, bukankah kau kemarin menyuruh kami untuk mengawasi Hyoudou Issei?"
Kiba Yuuto – sosok remaja tampan bersurai pirang itu kembali bersuara untuk yang kedua kalinya, matanya melirik kesebelahnya – seorang gadis Loli berambut putih yang tengah asik memakan cemilan berupa Kue yang kiranya sangat mahal. Namanya adalah Toujou Koneko si Maskot Kuoh Academy
Rias Gremory – si gadis berambut merah yang duduk didepan Yuuto tersenyum simpul, mata Blue-Green miliknya mencoba menatap Yuuto dan Koneko secara bergantian yang membuat keduanya merasa sedikit penasaran
"Aku tidak menyuruh kalian berdua untuk mengawasi Pecundang itu, hanya saja aku harap kalian tidak terlalu dekat dengannya karena suatu alasan tertentu, kau sekelas dengannya kan Yuuto?"
"Aku tidak sekelas dengannya, dia kelas 2-B sementara aku kelas 2-C"
Sanggah Yuuto dengan halus saat Rias salah sangka tentangnya yang dikiranya Naruto adalah teman sekelasnya
"Tapi kenapa Buchou melarang aku untuk tidak terlalu dekat dengannya? Ini bukan karena dia itu seorang Pecundang bukan?"
Tanya Yuuto dengan nada yang terdengar sedikit penasaran. Dan jika dilihat dari raut wajahnya, mungkin ia tidak berpikir bahwa apa yang dikatakannya itu cukup menyakitkan bagi para Pecundang diseluruh dunia – dan kalimat yang ia keluarkan seolah dia memiliki derajat yang lebih tinggi dari seorang Pecundang
Menghina seorang Pecundang eh?
"Itu termasuk Yuuto, aku hanya ingin kau tidak terlalu dekat dengannya dan fokus terhadap Hyoudou Issei. Biarkan Akeno yang mengurusnya"
Ucap Rias dengan nada lembut sambil memperhatikan kedua budak manisnya – Yuuto dan Koneko yang tengah duduk manis memakan kue yang mahal. Pandangannya lalu beralih kesampingnya menatap Akeno – iblis yang menyandang kedudukan Queen dalam Peerage Rias sendiri
"Akeno, aku serahkan dia padamu!"
"Fufufu~ kau pasti mempunyai rencana bukan Buchou?"
"Tentu, akan kumanfaatkan dia dan akan kujadikan budak terburuk yang hanya mau menuruti dan selalu menuruti perintah tuannya!"
.
*Ckleeek...*
.
Percakapan antara Rias dan Akeno berhenti saat pintu ruangan klub mereka berbunyi – pertanda ada orang yang mencoba masuk kedalam. Semua pasang mata itu beralih ke pintu mencoba menyaksikan siapa sosok yang datang tanpa diundang
"Yosh Minna-san~ Konnichiwa!"
Ucapan dengan nada bersahabat itu keluar begitu saja dari bibir seorang pria paruh baya yang kini membuka pintu ruangan itu. Senyum yang terukir indah membingkai wajah tampannya, rambut panjangnya serta tubuh tegak dalam balutan seragam khas seorang pengajar membuatnya terlihat formal pada semua pasang mata itu
Semua anggota Occult Research Club itu terdiam dengan eskpresi datar saat pria itu – Uchiha Madara yang datang dengan sok akrabnya. Terlebih pada Rias – selaku ketua dari klub yang entah apa tujuannya ini, mata Blue-Green miliknya perlahan menajam menatap sosok Madara, namun kembali menjadi datar sesaat setelah Madara melangkahkan kakinya untuk yang pertama kalinya didalam ruangan itu
"Uchiha-sensei, ada perlu apa datang kemari? Kami sedang mengadakan rapat anggota"
Ucap Rias dengan nada yang terdengar formal, meski arti atau maksud yang sebenarnya dari perkataannya adalah untuk mengusir guru baru itu dari ruangan klubnya
Langkah kaki Madara berhenti, senyum masih senantiasa membingkai diwajahnya, pandangan matanya secara bergantian menatap seluruh anggota Occult Research Club itu dengan saksama
"Ah! Aku hanya tak sengaja lewat disini dan tak sengaja mendengar pembicaraan menarik kalian!"
"Apa maksudmu Sensei?"
Rias kembali bersuara, pandangan matanya kali ini menajam menatap Madara yang menurutnya agak aneh dan sedikit bertele-tele. Dia benar-benar tidak tahu apa maksud guru matematika itu datang kesini
"Aku hanya mencoba menebak, tapi –"
"– Kalian tidak mengincar kekuatan Naruto-kun hanya untuk kesenangan pribadi bukan?"
.
.
"A-Apa?"
.
.
.
'Dasar iblis! Tentu saja aku tahu hal itu!"
.
.
.
Seluruh anggota tak terkecuali Rias selaku ketua dari klub itu berdiri dengan raut wajah terkejut. Senyum penuh arti diwajah Madara seolah memaksa mereka untuk berbicara dengan jujur
Jujur? Sepatah kata itu tak pernah ada dalam kamus sesosok iblis!
"A-Apa yang kau katakan Sensei? Kami sedang rapat anggota, jadi untuk apa mengincar Uzumaki Naruto-san?"
Ucap Rias menyanggah walau kenyataannya dia tengah berbohong. Hal itu membuat Madara yang berdiri agak jauh didepannya tersenyum simpul dan mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa Rias dan para Peerage-nya tengah mengincar Naruto
Lagipula sejak kapan Rias memanggil Naruto dengan akhiran –san? Yang ia tahu, gadis berambut merah nan populer karena Oppainya yang besar itu memanggil Naruto dengan sebutan Pecundang!
"Benarkah?"
"T-Tentu saja! Apa hubungannya rapat kami dengan Uzumaki Naruto-san?"
.
.
.
'Iblis bodoh! Untuk apa aku percaya padamu?'
.
.
.
Madara tersenyum senang dengan kelopak mata yang menutupi iris hitam kelam bak kegelapan malam – sebuah senyum palsu yang bahkan tak disadari oleh semua anggota Occult Research Club yang masih tegak berdiri disana
"Sou ka!"
Tak betah terus dipandangi dengan Rias beserta teman-temannya dengan ekspresi yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata, Madara lalu memutar balik tubuhnya dan berjalan keluar menuju pintu, tapi sebelum ia benar-benar keluar dari pintu, ia berhenti dengan sebuah seringai tipis dibibirnya
"Kuharap kalian berkata jujur soal Naruto-kun, Karena jika kalian berani menyentuhnya tanpa seizinku..."
"...Jangan salahkan aku jika kalian akan mendapatkan masalah yang besar nantinya!"
::
::
::
::
::
::
::
::
::
:: [Stray Dogs!] ::
::
::
::
::
::
::
::
::
::
Siang ini angin berhembus agak kencang dari biasanya, mencoba merayu jiwa yang kini tengah terombang-ambing dibawa oleh kesendirian, cahaya matahari yang panas seolah menjadi penghangat bagi mereka yang memiliki jiwa yang sepi
Ini terasa begitu sejuk – berdiri dibelakang pagar pembatas tepat di atap sekolah dan menikmati suasana semacam ini memang terasa sejuk...
*Slip..*
Jari telunjuk itu mencoba membuka lembaran baru pada Light Novel yang kini tengah berada didalam pegangan tangannya, iris matanya yang senada dengan langit cerah memantulkan kanji-kanji yang ada didalam LN yang saat ini tengah ia baca
'Arigatou telah menyelamatkanku kemarin!'
Pecahan ingatan yang baru saja ia alami sebelumnya kembali masuk kedalam sel-sel otaknya. Membuatnya kembali teringat pada seorang gadis manis berambut coklat yang mengucapkan kata terima kasih padanya ditangga sekolah –
– Hyuuga Hanabi kah?
Awalnya Naruto tak pernah menyangka jika seorang pecundang tak berguna sepertinya akan menyelamatkan seorang gadis yang memiliki harga diri tinggi macam Hanabi – ia benar-benar tak pernah menyangka sebelumnya
Tapi yah, Naruto cukup senang saat melihat respon yang diberikan Hanabi padanya. Kebanyakan siswa lain selalu memandangnya dengan rendah dan mencapnya sebagai siswa yang aneh
Namun Hanabi terlihat begitu berbeda dengan lainnya dimata birunya. Ia bahkan tak pernah menyangka bahwa gadis yang sudah memiliki pekerjaan sebagai Model majalah remaja sepertinya menunduk dan berterima kasih pada remaja rendahan sepertinya
Karena biasanya orang – terutama gadis yang memiliki harga diri yang tinggi enggan untuk menunduk bahkan berterima kasih pada seseorang sepertinya, Contohnya? Ia tak perlu memutar kembali ingatannya, ingatan tentang Rias Gremory yang menghinanya saja masih membekas di ingatannya
"Gaki"
Pikirannya yang masih terfokus pada Hanabi buyar begitu saja saat seseorang memanggilnya dengan sebutan bocah. Hal itu memaksanya untuk menoleh kebelakang dan mendapati seorang pria paruh baya yang tengah berjalan kearahnya
"Madara-sensei! Berhentilah memanggilku seperti itu, aku ini punya nama"
Uchiha Madara – sosok yang kini dibicarakan Naruto itu perlahan tertawa pelan dan terus berjalan melangkah mendekati Naruto yang masih senantiasa berdiri di sana – dibelakang pagar pembatas
"Ah Sumanai, jadi apa yang kau lakukan disini?"
Madara kini berdiri disamping Naruto, memberikan sebuah pertanyaan pada remaja berambut pirang itu walau kenyataannya ia sudah tahu apa alasan Naruto berada disini. Ya, dia tahu kalau Naruto mencoba menyendiri dengan benda yang kini berada ditangannya
"Membaca Light Novel"
"Light Novel?"
"Ya, aku suka sifat Hero-nya di LN ini. Seorang Penyendiri yang sama sepertiku namun memiliki pemikiran yang jauh lebih pintar dibanding dengan diriku"
Ucap Naruto tersenyum simpul saat menatap LN yang kini berada ditangannya. Desiran angin yang memainkan rambut pirangnya yang disisir rapi membuat Madara yang berada disebelahnya tersenyum lalu memandangan jauh kedepan – mengamati pemandangan yang begitu indah
"Naruto, sebenarnya ada yang ingin kusampaikan padamu?"
"Hm?"
Naruto menoleh kearah Madara, sejenak mata birunya terpaku pada raut wajah yang tenang seolah tak memiliki beban apapun dengan pandangan mata yang jauh lurus kedepan
Kadang Naruto berpikir, guru matematikannya ini bisa dibilang orang yang cukup unik. Dia bisa menjadi sosok yang tenang saat orang yang berada disekitarnya sedang dalam masalah. Contohnya saja saat dirinya kemarin diselamatkan Madara, gurunya itu bisa dengan sebegitu tenangnya menghadapi makhluk aneh yang disebutnya sebagai Datenshi itu
Ia cukup kagum dengan sosok Madara, ia bisa menenangkan diri dengan sebegitu mudahnya seolah bisa memanipulasi Moodnya sendiri – berbanding terbalik dengan dirinya
"Apa yang ingin kau bicarakan Sensei? Kau tidak mengajakku untuk bunuh diri dan terjun dari atas sini bukan?"
"Tentu tidak bodoh, aku sedang tidak mood untuk melakukan bunuh diri"
Naruto sweatdropped ditempat, apa untuk melakukan bunuh diri membutuhkan mood yang baik? Kebanyakan orang yang memiliki mood yang buruk malah ingin melakukan bunuh diri
"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan Sensei?"
"..."
.
.
.
'Yah, kupikir sudah seharusnya aku mengubah jalan hidupmu...'
.
.
.
"Rias Gremory, gadis yang menghinamu saat kau datang ke sekolah tadi berniat untuk menjadikanmu sebagai budaknya"
"Huh?"
Alis Naruto terangkat sebelah ketika Madara mengatakan hal yang menurutnya cukup aneh – terlebih pada kata Budak
Etto... memangnya siapa Rias Gremory ini? Apa dia seorang Ojou-sama? Atau seorang gadis busuk yang memasang topeng berupa nama panggilan The Great Onee-sama yang dipuja-puja itu?
Naruto benar-benar tidak mengerti!
Yang ia tahu tentang Rias Gremory adalah – seorang gadis Bangsat yang telah mempermalukannya secara hina beberapa hari yang lalu dan diam-diam menghinanya ketika Naruto berangkat sekolah tadi
Lagipula ini terasa aneh jika disebut sebagai budak, akan lebih cocok disebut sebagai Butler jika Rias Gremory memang benar-benar seorang Ojou-sama. namun jika Rias Gremory memang benar-benar Bangsat yang suka memerintah orang-orang, maka ia pasti memerlukan seorang Budak bukan?
"Anoo.. Sensei? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan"
"Rias Gremory adalah seorang iblis, dan ia ingin menjadikanmu sebagai budaknya dengan cara menangkap atau mungkin membunuhmu lalu menghidupkan kembali menjadi seorang iblis"
"Hah?"
Yah, Naruto memang tergolong sebagai orang yang tidak pintar – atau jika dengan kata lain yaitu bego, dia perlu memproses apa yang dikatakan Madara barusan kedalam otaknya
Iblis katanya? Kemarin saja ia bertemu dengan manusia bersayap yang Madara sebut sebagai Datenshi, dan sekarang – Iblis? Apa nanti ada makhluk lain lagi seperti Youkai, Tenshi atau semacamnya?
Lalu? Dia akan dihidupkan lagi dan menjadi seorang iblis tulen? Ia tak habis pikir bagaimana cara menghidupkan orang mati. Karena yang ia tahu orang mati akan dikubur ke tanah dan dibiarkan terurai menjadi tanah dan juga, sepintar-pintarnya seorang dokter – mereka masih belum ada yang bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati
"Kau mungkin tidak percaya pada ucapanku barusan, tapi percayalah padaku. Sore ini Rias Gremory dan teman-temannya akan merencanakan sesuatu padamu jadi berhati-hatilah"
Melihat raut wajah serius Madara membuat Naruto terpaku untuk beberapa detik. Meski ucapannya yang sebelumnya terdengar seperti lelucon yang konyol, entah kenapa Naruto bisa percaya begitu saja pada ucapan Madara ketika menatap raut wajah guru matematikanya itu
Apa ini? Apa sekarang dia mulai percaya sepenuhnya pada Madara? mengingat ia tak pernah percaya pada siapapun ketika ia dibuang dan dijadikan anjing liar!
"Jadi, apa yang akan kulakukan jika mereka benar-benar melakukan sesuatu padaku?"
"..."
"Kau akan kencan dengan Hyuuga-kun pulang sekolah nanti bukan? aku ada rencana!"
"A-apa yang kau katakan Sensei! Aku tidak kencan dengan Hyuuga-san!"
Kedua pipi Naruto sempat memancarkan semburat merahnya saat Madara mengiranya bahwa ia akan berkencan dengan Hanabi, tapi semburat merahnya kembali menghilang saat Madara kali ini mulai serius
"Sudahlah dengarkan aku!"
"Ha'i!"
.
.
.
'Mereka merencanakan sesuatu terhadapmu bukan?'
.
'Jadi kita hanya perlu memanfaatkan rencana mereka saja!'
.
.
.
::
::
::
::
- [Unknown Place]
"Jadi, kau akan menemuinya?"
Alunan suara yang dingin itu bergerak dibawa angin, hingga sampai pada pendengaran sesosok pria paruh baya yang berperawakan cukup unik – rambut yang sepertinya tidak dicat sepenuhnya serta Yukata hitam yang menutupi tubuhnya
Senyum tipis terulas singkat pada wajah pria paru baya itu. Sejenak ia mengangkat tangan kanannya setengah naik dan melambai-lambai pada sesosok remaja yang berdiri tak jauh dari dirinya
"Tenang saja, aku tak akan pergi jauh kok! Pulang nanti akan kubelikan Yakiniku untukmu"
Si remaja hanya bisa tersenyum simpul, mata Blue-Ice miliknya sedikit menyipit saat pria paruh baya itu berbalik dan berjalan meninggalkannya disana
"Terserah kau saja, namun apa yang membuatmu ingin pergi menemuinya?"
"Hm?"
Pria paruh baya itu menoleh sejenak kearah remaja yang kembali bertanya padanya – lalu kembali menatap lurus kedepan dan kembali berjalan dengan santainya meninggalkan remaja tanggung itu
"Tidak ada maksud tersembunyi kok! Hanya saja –"
"– aku penasaran padanya, kenapa orang yang pernah mengukir sebuah Legenda sepertinya muncul kembali di dunia ini untuk yang kedua kalinya"
"..."
"Sou ka..."
.
.
.
'Mengukir Legenda huh?'
.
.
'Aku semakin penasaran padanya!'
.
.
.
.
- [Skip Time]
Matahari mulai condong kearah barat dengan langit yang berwarna oranye cerah – menandakan bahwa hari mulai sore, cahaya matahari yang menembus awan-awan terlihat begitu menakjubkan dan indah dipandang
Beralih ke Kuoh Academy – sekolah umum yang terletak di kota Kuoh. Terlihat seorang remaja pirang dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya tengah berjalan dengan menunduk, bayangan dirinya yang sedari tadi mengikutinya dari belakang seakan terlihat hina oleh para siswa maupun siswi disekitarnya
"Cih, aku muak melihatnya!"
"Hei tidakkah kau terlalu kelewatan? Yah walaupun aku setuju denganmu sih.."
"Kenapa si Culun memalukan itu masih disini sih?! Menyebalkan!"
"Lihatlah dia! Bahkan dia berjalan dengan kepala yang tertunduk hina!"
Ini sudah berkali-kali Naruto – remaja pirang yang berjalan dengan kepala tertunduk itu merasa dihina, keberadaannya sebagai seorang siswa yang ikut serta dalam sekolah ini seolah selalu dipojokkan oleh siswa lain dan selalu dibuat hina
Ini memalukan! Ia benar-benar kesal dengan keadaan macam ini – tangannya pun terkepal erat!
.
.
.
'Cobalah untuk mengubah hidupmu Gaki!'
.
.
.
Kepingan kecil ingatan mulai masuk kedalam pikirannya, membuat Naruto mengepalkan tangannya dengan erat – sangat erat. Langkah kakinya pun terhenti disana hingga membuat siswa yang berada dibelakangnya berhenti menghinanya
"Hei..."
Kepalanya menoleh kebelakang – menatap para siswa maupun siswi yang sedari tadi mengejeknya, mata birunya yang seolah kehilangan cahaya mulai menajam, senyum miring membuat para siswa dan siswi itu sedikit merasa merinding
"Kalian mengejekku?"
"..."
Pertanyaan dengan nada yang menggantung itu membuat para siswa yang menatapnya sedikit merasa ketakutan – terlebih pada senyum Naruto yang terlihat aneh tidak seperti biasa yang mereka lihat – senyum paksaan yang terlihat sangat menjijikkan dimata mereka
"K-Kau?"
"Sudah puas bukan? jadi untuk apa kalian berdiri disana?"
Senyum miring diwajahnya luntur seiring dengan raut wajah datar yang Naruto pasang sebagai topeng serta ucapan dengan nada yang terdengar seperti memerintahkan mereka untuk pergi, membuat para siswa yang awalnya mengejek Naruto kini malah bubar dengan bulu kuduk yang naik
"K-kenapa dia..?"
"Menyeramkan..!"
Menghela nafas pelan, pandangan Naruto kembali lurus kedepan mengabaikan para siswa yang mulai pergi dari sana dan melangkah pergi ke luar area sekolah. Naruto kembali berjalan dengan tenang sebelum suara seseorang yang memanggil namanya membuat langkah kakinya terhenti
"Uzumaki-senpai!"
Menoleh kearah belakang, senyum diwajahnya terlihat mengembang saat sesosok gadis berambut coklat panjang yang dibiarkan tergerai bebas tengah berlari kearahnya melewati kerumunan para siswa yang tadi mengejeknya. Gadis itu adalah adik kelasnya yang juga gadis populer yang tak sebanding dengan dirinya yang hina – namanya Hyuuga Hanabi
*Tap!*
"Gomen, aku terlambat!"
"Tidak kok! Aku baru saja ingin menunggu Hyuuga-san di gerbang sekolah"
Hanabi – gadis berambut coklat yang merupakan adik kelas dari Naruto itu terdiam beberapa detik saat Naruto tersenyum padanya dengan tangan yang terulur – memberikan sebuah sapu tangan yang berasal dari saku celananya
"Hyuuga-san?"
"H-Ha'i!"
Dengan gugup Hanabi menerima sapu tangan yang diberikan Naruto kepadanya, mengelap pelan wajahnya dengan sapu tangan yang diberikan Naruto. Hanabi lalu menoleh kebelakang – menatap para siswa yang tadi ia lewati
"Ne Senpai, kulihat mereka tadi berada disekitarmu, tapi sekarang mereka malah pergi, ada apa?"
"Sudahlah jangan dipikirkan! Jadi apa ada sesuatu hingga kau menyuruhku untuk menemuimu, Hyuuga-san?"
Hanabi menatap Naruto saat remaja pirang itu mengalihkan pembicaraannya. Kedua pipinya memerah sesaat saat pandangan matanya masuk kedalam iris Blue-Saphire yang indah bagaikan samudera lautan yang luas itu – sangat luas hingga kau tidak tahu apa yang ada dibaliknya
"S-Sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar, apa kau mau Senpai?"
*Glek!*
Yah, Naruto sebelumnya memang belum pernah berurusan lebih dalam dengan seorang perempuan, jadi wajar jika kedua pipinya kini memerah saat menatap ekspresi manis Hanabi yang memohon kepadanya untuk menemani putri keluarga Hyuuga itu jalan-jalan
Dulu ia pernah dekat dengan seorang perempuan meski itu Imouto-nya sendiri sih. Namun setelah ia diusir dan menjadi Anjing Liar, ia tak pernah lagi bertemu dengan Imouto-nya yang sekarang entah bagaimana rupanya
Atau mungkin saja, Imouto-nya juga membenci dirinya layaknya Uzumaki Menma – yang juga adalah adiknya, Otouto-nya sendiri!
"Senpai?"
"Ba-Baiklah"
"Yeaay!"
Dan sekarang, Naruto hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan si putri keluarga Hyuuga yang dikenal kaya itu saat tangannya ditarik oleh Hanabi, senyumnya terulas tipis diwajahnya ketika melihat raut wajah Hanabi yang terlihat antusias
.
.
.
"Jadi benar apa yang dikatakan Buchou"
Ucapan monolog itu seakan menyadarkan dirinya sendiri yang kini tengah bersembunyi dibalik batang pohon tak jauh dari tempat Naruto dan Hanabi yang kini mulai berjalan meninggalkan area sekolah
Himejima Akeno – siswi cantik dan seksi yang mengidap penyakit Masochist, rambut raven yang diikat Ponytail teralun lembut dibawa sang angin sore, kakinya mulai melangkah perlahan saat kini ia mulai kelua dari tempat persembunyiaannya
"Ara ara, aku penasaran kenapa Buchou sangat tertarik pada seorang Pecundang, meski dia sendiri membenci Pecundang itu setengah mati!"
.
.
.
'Sungguh, aku sangat penasaran sekali!'
.
.
.
::
::
::
Suara aliran sungai terdengar merdu seiring dengan cahaya matahari sore yang menembus awan-awan jauh dilangit sana, hamparan tanah yang ditumbuhi rumput-rumput hijau mulai bergoyang kesana kemari sejak seorang pria paruh baya yang dalam balutan seragam khas guru duduk diatasnya – menatap pemandangan yang berada jauh didepannya
*Swuuush!*
Uchiha Madara – sosok yang tengah duduk santai diatas rerumputan hijau itu mengulas senyum miring ketika tubuhnya merasakan sosok yang tidak dikenal dan sebuah benda yang berbahaya mengarah padanya. Meskipun begitu ia tetap saja duduk santai disana – seolah tak peduli sama sekali
*Craaaass!*
Benda berbahaya berupa Holy Spear yang melesat kearahnya lenyap begitu saja menjadi serpihan cahaya ketika ujung dari Holy Spear itu mengenai punggung seorang Madara. membuat sosok tak dikenal yang merupakan pemilik dari Holy Spear itu tersenyum simpul
"Uchiha Madara-san kah? Hisashiburi da ne!"
Salam hangat yang terlantun indah dari mulut sosok yang tak dikenal itu membuat Madara sedikit merasa risih, tiba-tiba muncul di belakangnya saja sudah membuatnya agak kesal – lebih dari itu, sosok itupun sok akrab pada dirinya
Mulai berdiri dari acara duduk bersantainya diatas hamparan rumput yang hijau itu, Madara lalu menoleh kearah belakang – didapatinya seorang pria paruh baya dalam balutan pakaian berupa Yukata berwarna hitam yang senada dengan warna rambutnya – meski rambutnya ada yang berwarna pirang sih
"Ada masalah apa hingga kau datang lagi padaku, Gubernur?"
Sosok yang ditatap oleh Madara adalah Azazel – pemimpin dari fraksi Datenshi. Penampilannya yang sederhana dengan wajah lucu dan rambutnya yang sepertinya tidak dicat sepenuhnya, serta pakaian berupa Yukata berwarna hitam yang mungkin hanya itu saja yang ia punya
Yah, mungkin begitulah yang pandangan Madara tentang Azazel. Karena terakhir kali ia bertemu dengan pemimpin salah satu fraksi ini, ia masih mengenakan Yukata berwarna hitam yang sekarang masih ia kenakan itu –
– Jadi, kesimpulan yang didapat Madara adalah, Azazel itu Miskin!
"Oh ayolah! Kita ini teman bukan?"
"Huh? Sejak kapan kita berteman? Aku kenal denganmu hanya karena aku pernah menjadi rekan kerjamu dulu, jadi aku belum bisa dikatakan sebagai temanmu"
Meski ucapan Madara barusan cukup menohok hati Azazel, namun tetap saja Gubernur dari fraksi Datenshi itu tetap berjalan kearah Madara – sikap sok akrabnya ternyata tidak mempan pada seseorang seperti Madara
Berhenti melangkah, keadaannya sekarang mulai menjadi serius ketika tatapan mata Azazel mulai menyipit saat Madara berbalik kearahnya dengan wajah datar – tentunya
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Madara-san"
"Cepatlah! Aku ada urusan penting setelah ini jadi aku tidak bisa meladenimu"
Azazel mengukir senyum tipis dan itu membuat Madara sedikit penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan padanya. Azazel pun kembali berbicara
"Kenapa kau kembali muncul dihadapan publik seperti ini? Ini bukan karena dosamu dimasa lalu itu bukan?"
"..."
*Sraas*
Bunyi suara ketika langkah kaki Madara mengenai rerumputan itu terdengar jelas ditelinga Azazel – membiarkan Madara yang kini jelas-jelas mengacuhkannya dengan berjalan melewatinya. Meskipun begitu Madara sempat menghentikan langkah kakinya saat dirinya sudah agak jauh dari Azazel
"Kau ingin tahu kan? Anggap saja aku mencoba menebus dosaku yang dulu agar hidupku menjadi lebih tenang"
"..."
"Begitukah?"
.
.
.
'Dasar manusia!'
.
.
'Mereka bahkan menyesali apa yang mereka perbuat dimasa lalu!'
.
.
.
.
.
Di lain tempat yang berbeda, terlihat sepasang manusia berbeda jenis tengah berjalan santai melewati trotoar jalan yang cukup sepi untuk suasana disore yang mulai gelap ini, langkah kaki mereka terlihat sangat gugup dengan kedua pipi yang sama-sama memerah
Uzumaki Naruto – salah satu dari manusia itu kini hanya bisa mengikuti alur yang tengah dijalaninya saja. Sebenarnya sih ia terlalu gugup untuk berjalan-jalan dengan seorang putri cantik macam Hanabi, namun apa daya ia hanya bisa pasrah karena inipun permintaan Hanabi sendiri
Bukan karena ia tidak punya niat untuk mengajak bicara sih, hanya saja ia bingung memikirkan hal apa yang pantas untuk dibicarakan dan ia juga sudah lama tidak berurusan dengan gadis seperti halnya yang ia lakukan sekarang
Lagipula ia sudah terbiasa mendapati perlakuan kasar berupa ejekan dari para gadis disekolahnya – karena itulah pandangannya terhadap perempuan sedikit berubah dan memaksanya untuk sulit berinteraksi dengan lawan jenisnya sendiri
Oh ya! Mungkin ia perlu menanyakan bagaimana sekolahnya hari ini? Dengan begitu ia punya sesuatu yang pantas untuk dibahas bukan?
"A-Anoo Hyuuga-san?"
"H-Ha'i?"
Menoleh kearah Naruto, Hanabi menanggapi Naruto dengan sedikit agak gugup – terlihat di kedua pipinya yang masih dihiasi oleh rona merah muda. Yah mengingat ini pertama kalinya ia jalan bersama seorang remaja laki-laki, jadi wajar jika masih ada rasa gugup pada dirinya
"Bagaimana dengan kelasmu hari ini?"
Oke! Naruto mungkin sekarang hanya bisa menghina diri sendiri didalam hatinya ketika menanyakan hal itu pada Hanabi – itu terdengar seperti orang tua yang menanyakan sesuatu tentang sekolah anaknya
Naruto memang tidak berpengalaman jika masalahnya berkaitan dengan seorang perempuan. Ia memang tidak ingin mencari masalah dengan perempuan sih, hanya saja menurutnya perempuan itu penuh dengan misteri yang sulit untuk dipecahkan
"Hari ini cukup menyenangkan Senpai! Bahkan wali kelasku bilang akan ada siswa baru besok"
Naruto tersenyum simpul. Dalam hatinya sih ia bersyukur Hanabi tidak terlalu sulit untuk diajak bicara, toh hal yang bisa dijadikan bahan pembicaraan hanya itu saja yang terlintas dikepala Naruto
"Jadi, kau tahu siapa yang akan jadi siswa baru dikelasmu?"
"Tentu saja! Dia adalah temanku sekaligus teman modelku juga, namanya Naruko"
"..."
Naruko... kah?
Naruto berhenti melangkah ketika Hanabi menyebutkan sebuah nama yang sederhana itu. Seketika ingatan tentang masa lalunya kembali masuk dan mengusik pikirannya saat ini, ingatan tentang seorang gadis kecil yang dulu menggenggam tangannya dengan sangat erat
Meski ia bisa mengingat hal itu, ia tak bisa mengingat bagaimana rupanya – ia benar-benar tak bisa mengingatnya dengan jelas dan itu terasa mengabur. Ia hanya ingat ketika gadis kecil itu menggenggam tangannya dengan erat –
Dan gadis yang dimaksud Naruto itu adalah Uzumaki Naruko – adik perempuannya sendiri!
Naruto tidak tahu apakah siswa baru yang dikatakan Hanabi adalah orang lain atau gadis didalam ingatannya – adik kandungnya. Namun jika Naruto boleh berharap, ia hanya berharap agar itu adalah orang lain –
- Adik perempuannya membencinya layaknya Menma bukan? meskipun itu masih kemungkinan, ia hanya tak ingin adik perempuannya itu melihat dirinya dan memaksa adiknya untuk menaruh dendam pada dirinya hanya karena keberadaaannya
Kau tahu bukan? di dunia ini pasti ada seseorang yang bisa merusak suasana disekitarnya walau hanya dengan menampakkan dirinya – dan dengan alasan itulah Naruto tak ingin membuat adiknya sendiri kerepotan karenanya
"Uzumaki-senpai?"
Tersadar dari ingatan lama yang mengusik kepalanya. Iris mata Blue-Saphire yang indah di sore hari itu memantulkan sebuah refleksi berupa wajah Hanabi yang tengah menatapnya dengan raut wajah penasaran
Mencoba tersenyum – meski itu terasa hambar. Naruto lalu kembali berjalan disisi Hanabi melanjutkan acara jalan-jalan mereka – melupakan hal yang baru saja terjadi, hal yang membuat ingatan masa lalunya yang dipaksa untuk masuk kembali kedalam kepalannya
"Naruko... kah?"
"Senpai? Kau mengatakan sesuatu?"
"Ah! Tidak kok!"
Kembali berjalan melupakan apa yang tadi berhasil mengganggu pikirannya, Naruto kembali melemparkan beberapa pertanyaan sekedar basa-basi kepada Hanabi agar jalan-jalan mereka tidak terasa canggung, namun meskipun begitu mereka tidak tahu jika keduanya tengah diikuti oleh seorang gadis berambut raven yang diikat ponytail – tengah bersembunyi ditempat yang tidak bisa dilihat oleh Naruto maupun Hanabi sendiri
::
::
::
::
"Baiklah, sampai disini saja Uzumaki-senpai!"
Nada suara yang terkesan feminim itu mengalun merdu dari bibir seorang Hanabi – gadis yang kini berada didepan Naruto. Raut wajahnya terlihat sangat senang meski itu hanya sekedar jalan-jalan bersama senpai yang berhasil menyelamatkannya dari bahaya kemarin
"Kau yakin sampai disini saja?"
Kini giliran Naruto yang bersuara, raut wajahnya terlihat sedikit khawatir pada putri keluarga kaya yang kini berdiri didepannya dengan senyum yang terpampang indah diwajah cantiknya – khawatir jika ada kejadian lain yang kembali menimpanya sama seperti yang kemarin
"Jangan khawatir, aku bisa jaga diri kok!"
Ucapan lembut dengan nada yang pasti keluar dari Hanabi seakan menghipnotis Naruto dan mencoba percaya pada Hanabi bahwa ia akan baik-baik saja. Terlukis sebuah senyum saat gadis didepannya itu mulai berpaling dan berlari kecil – menjauh darinya
"Mata Ashita! Senpai!"
Naruto mengangkat lengan kanannya keatas ketika Hanabi menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan berbalik sembari melambaikan tangan kearahnya. Hingga akhirnya tangan kanannya turun ketika sosok Hanabi sudah tak lagi ada dalam pandangan matanya
Dan...
Disini lah Naruto sekarang, berdiri sendiri tepat didepan taman kota yang lumayan luas, suasana pun terasa mulai sepi ketika cahaya penerang bumi mulai redup saat sang matahari mulai menenggelamkan dirinya dan memohon pada bulan untuk menggantikan dirinya yang beristirahat menerangi bumi
Naruto lalu membalikkan badannya lalu berjalan pelan masuk kedalam taman kota itu karena memang itulah satu-satunya jalan yang cepat untuk menuju apartemennya dibanding jalan yang lain, hingga sekitar beberapa menit saat ia tengah berada didalam taman yang luas itu. Langkah kakinya dihentikan oleh suara seorang gadis yang memanggilnya dengan cara yang kurang sopan
"Hei! Pecundang yang disana!"
Pecundang Huh?
Naruto mendongakkan kepalanya kedepan, samar-samar pandangan matanya mendapati seorang gadis berambut raven yang diikat Ponytail yang agak jauh didepannya. Kulit putih bersih yang masih bisa dilihat oleh Naruto meski hari sudah mulai gelap juga seragam sekolah yang terlihat sangat sempit hingga membuat sesak kedua Payudara yang dimiliki oleh gadis itu
Tapi tunggu dulu?
Seragam sekolah itu dari Kuoh Academy tempat Naruto sekolah bukan?
"Uzumaki Naruto, kan?"
Meski awalnya Naruto agak terkejut saat menyadari siapa gadis yang berada jauh didepannya itu. Raut wajahnya menjadi datar saat gadis itu perlaha berjalan mendekat kearahnya
"Himejima Akeno-senpai?"
Himejima Akeno – itulah yang Naruto tahu tentang gadis yang kini tengah berjalan kearahnya itu, seorang gadis yang ikut mengejeknya saat ia berangkat sekolah tadi. Seorang gadis dengan tampang seperti seorang Masochist, dan yang Naruto dengar dia merupakan sahabat akrab dari Rias Gremory
"ara-ara, kau tahu namaku ya?"
*Bzzzzttt!*
Reflek, Naruto langsung menghindar kesamping saat Akeno secara tiba-tiba menyerangnya dengan sebuah sihir petir melalui lingkaran sihir yang berada didepannya. Tentu saja itu membuat Naruto terkejut
Jadi benar apa yang dikatakan Madara – bahwa Rias dan gerombolannya berniat untuk menangkapnya dan membunuhnya!
Belum sempat untuk mengambil nafas lega, senyum miring Akeno membuat Naruto sedikit merasa ada hal yang tidak beres. Dan benar saja! Sebuah lingkaran sihir berwarna merah darah muncul tepat disampingnya mengeluarkan seorang gadis mungil dengan tinju yang siap dihantamkan kearahnya
*Duaaagg!*
Naruto terpental ketika tinju gadis Loli bersurai putih itu mencapai wajahnya. Menabrak dan bersandar pada pohon yang menjadi hantamannya, pandangan matanya sekilas melihat dua sosok asing disamping Akeno
Yang pertama adalah gadis Loli berambut putih yang tadi menyerangnya dan satunya lagi adalah seorang Bishounen yang menggenggam sebuah pedang yang ia tidak tahu terbuat dari apa
Toujo Koneko kah? – seseorang seperti Naruto memang tidak terlalu tahu tentang gadis Loli itu, yang ia tahu tentang si Toujo ini adalah dia seorang maskot dari sekolahnya – Kuoh Academy
Dan satunya lagi adalah Kiba Yuuto – Bishounen yang dipuja banyak gadis disekolahnya. Dikenal sebagai sosok yang ramah dan memiliki nilai akademik yang tinggi, disisi lain ia mempunyai paras yang menawan yang membuatnya senantiasa dikelilingi para gadis yang menyukainya
Harem kah?
Naruto awalnya masih tak percaya bahwa orang hina sepertinya akan berhadapan dengan sosok elit yang ada disekolahnya. Himejima Akeno – sosok yang sangat dikagumi oleh para siswa maupun siswi, Toujo Koneko – seorang gadis Loli yang dikenal sebagai maskot sekolah, dan Kiba Yuuto – seorang Bishounen yang amat merepotkan!
Lalu Dirinya?
Yah, meskipun situasinya sekarang agak berantakan. Tiga sosok siswa elit yang kini berdiri jauh didepannya memiliki tujuan yang tidak lain adalah menculiknya ataupun membunuhnya – itulah yang dikatakan Madara padanya
"Jadi inikah maksudmu tentang Merencanakan sesuatu? Madara-sensei?" Lirih Naruto yang tak dapat didengar oleh Akeno, Koneko maupun Yuuto yang masih senantiasa berdiri agak jauh didepannya
Mencoba berdiri dari posisinya yang sekarang, Naruto lalu menatap satu persatu teman dari Rias Gremory itu
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
Ucapannya memang tidak lantang, namun itu dapat terdengar jelas ditelinga mereka bertiga. Sorot mata Naruto tidak menggambarkan rasa takut sedikitpun walau kenyataannya ia bisa saja dikeroyok mereka bertiga tanpa ampun
"ara-ara..."
Kali ini Akeno mulai bersuara, raut wajah dengan senyum palsu ia hadirkan diwajahnya sembari melangkahkan kakinya beberapa kali kedepan seolah memberitahu kepada Koneko dan Yuuto yang berada disebelahnya bahwa Aku yang akan memulainya pertama kali!
"Kami tidak menginginkan apapun darimu Uzumaki-kun~ kami hanya menginginkan kematianmu!"
*Bzzztt!*
Sepasang tombak petir keluar begitu saja dari lingkaran sihir yang dibuat oleh Akeno sebelumnya, membiarkan petir itu melesat kearah Naruto dengan sangat cepat
Naruto yang melihat benda berbahaya menuju kearahnya – pun tidak diam saja, dengan gesit ia menghindar kesamping dan selamat dari serangan berupa petir itu
"Ara-ara, kau terjebak Uzumaki-kun~"
"A-Apa?!"
Terkejut? Tentu saja begitu, pasalnya ketika Naruto menghindar dari serangan Akeno dengan bergerak kesamping. Kini giliran Koneko yang sudah berada di sisi kirinya dengan kaki yang siap menendangnya
*Duaaagg!*
Lagi! Naruto lagi-lagi terpental akibat serangan dari Koneko hingga membuatnya terpental dan menabrak kembali pohon yang awalnya menjadi sandarannya itu. Kepalanya menunduk ketika tubuhnya menghantam pohon itu dengan tenggorokan yang serasa ingin mengeluarkan sesuatu – walau kenyataannya itu tak mengeluarkan apapun
"Nee~ dengarkan aku Uzumaki-kun!"
Naruto menatap tiga sosok didepannya yang terhalang oleh rambut pirangnya yang mulai acak-acakan dan menutupi raut wajahnya. Ketiga sosok itu adalah Akeno, Koneko dan juga Yuuto
"Akan kuberitahu kau satu hal, bahwa kau tak pantas untuk hidup di dunia ini!"
Cih! Inilah yang dibenci oleh Naruto. semua siswa maupun siswi disekolahnya selalu menyalahkan keberadaannya, menyalahkan dirinya yang tak bersalah apapun – mereka hanya benci pada dirinya yang tak bisa apa apa dan dianggap lemah –
- lebih dari itu, mereka semua membenci dirinya yang merupakan seorang anak buangan berjulukan Anjing Liar!
"Kehidupanmu sudah tak berguna lagi, para siswa maupun siswi disekolah saja enggan untuk menyapamu bahkan untuk menegurmu pun mereka tak ada niat. Dan itu tentunya akan menambah sampah pada sekolah!"
Untuk sekarang Naruto benar-benar kesal, entah kenapa saat ini kehidupannya disekolah merasa sangat direndahkan dan tentunya dihina habis-habisan didepan dirinya sendiri – meski memang begitulah kenyataannya
Dan ketika telinganya mendengar kata Sampah membuat hatinya merasa seperti mendidih. Sampah katanya? Ayolah! Apa seorang sampah tidak pantas untuk berada disekolah? Lalu apa gunanya tempat sampah jika sesosok sampah memang tidak diperbolehkan berada disekolah?
"Kau pasti berpikir bahwa masih ada yang peduli denganmu disekolah bukan? tapi kenyataannya itu adalah salah Uzumaki-kun!"
"Tak ada yang peduli dengan kehidupanmu disekolah, beberapa siswa saja membully dirimu yang lemah, dan para siswi pun memandangamu dengan tatapan rendah seolah memandangan seorang pecundang! Dan –"
"- Uzumaki Menma itu adikmu bukan? adikmu saja membenci dirimu Pecundang! Kakak macam apa yang membuat adiknya membenci dirinya sendiri?"
Tak sadar telapak tangan Naruto telah menggenggam erat dengan raut wajah yang kini tak bisa ditebak lagi oleh ketiganya. Ucapan Akeno yang dihantarkan kepadanya membuat tubuhnya berasa mendidih
Oke! Itu memang kenyataan yang kejam – kenyataan yang tak dapat untuk diubah lagi. Hanya saja ia tak ingin mendengar hal itu dari mulut seorang Akeno!
Meski sedikit, tapi ia masih percaya bahwa ada orang yang masih peduli dengannya – ia terus saja percaya walau kenyataannya sudah ia ketahui sejak dulu!
Dan jangan mempermasalahkan hubungannya dengan Menma! Ia tahu kalau otouto nya itu amat membencinya, namun kebenciannya itu bukanlah karena dirinya melainkan dari sebuah kesalahpahaman – kesalahpahaman yang tidak bisa ia jelaskan!
"Jadi inikah sosok yang dibicarakan Buchou? Kurasa ia lebih lemah daripada si mesum itu"
Uh... entah kenapa Naruto serasa diremehkan disini dan dibanding-bandingkan dengan seseorang yang tak dia kenal – yang tentunya ia tidak terlalu suka jika dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain
Suara kecil namun dengan nada khas perempuan itu terdengar jelas ditelinga Naruto. tak perlu menduganya pun Naruto sudah tahu bahwa suara itu adalah milik Toujo Koneko – si maskot sekolah dengan tampang Lolinya
"Aku tahu kehidupanmu yang seorang pecundang memang kejam Uzumaki-san, jadi biarkan kami mengambil alih kehidupanmu dengan membunuhmu disini!"
Sekilas iris mata Blue-Saphire yang kehilangan cahayanya itu menatap tajam dari belakang surai pirangnya – menatap sosok Kiba Yuuto yang berbicara seenaknya tentang kehidupannya
Mengambil Alih kehidupannya katanya? Ayolah! Kehidupannya bukanlah barang yang bisa dimanipulasi seenaknya
Rambut pirangnya bergoyang terbawa angin, tangannya terkepal erat dengan raut wajah yang tertutupi rambutnya yang acak-acakan. Bahkan sekeping ingatan memaksa masuk melalui ingatannya...
.
.
.
.
'Jadi, apa rencanamu Madara-sensei?'
.
.
'Kantan darou, kau hanya perlu menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan dan rasakan setiap kata yang mereka ucapkan!'
.
.
'Anoo Sensei? Aku tak mengerti apa yang kau katakan? Jadi apa hubungannya dengan memanfaatkan rencana mereka?'
.
.
'Kau tak perlu bertanya padaku, kau hanya perlu merasakannya saja nanti dan kau pasti tahu apa yang ingin kau lakukan nantinya!'
.
.
.
.
Jadi, inikah yang dimaksud dengan Rencana oleh Madara? ia tak menyangka bahwa guru matematika itu sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh Akeno, Koneko dan Yuuto padanya. Sejauh mana dugaan Madara hingga bisa setepat ini?
Naruto sekarang mengerti apa Rencana Madara. inilah yang direncanakannya, guru matematika itu bermaksud untuk membuat Naruto mengeluarkan kekuatannya untuk mengalahkan tiga sosok didepannya ini dengan ejekan mereka sebagai pemicunya –
- Dengan kata lain, Madara memaksa Naruto untuk menggunakan kekuatannya sebagai pelindung ataupun alat penyerangnya!
Kenapa harus ada pemicu? Mungkin saja Madara sudah tahu bahwa Naruto belum bisa menguasai kekuatannya sendiri hingga sulit mengeluarkannya jika dalam keadaan tenang
Lalu kenapa Madara harus memakai kata yang tak Naruto mengerti tentang rencananya? Jawabannya adalah Naruto akan bersikap seperti biasa tanpa rasa kesal ataupun marah jika dia sudah tahu bahwa tiga sosok didepannya pasti akan mengejeknya
Madara tahu betul bahwa Naruto sangat pintar bagaimana caranya menyembunyikan perasaannya. Karena itulah ia tak membeberkan rencananya secara langsung pada Naruto – ia ingin Naruto mengeluarkan kekuatannya bukan karena rencananya, melainkan karena dirinya sendiri!
"Jadi sekarang, biarkan kami membunuhmu disini Uzumaki-san!"
*Syuut!*
Naruto tersenyum miring ketika pedang yang berada digenggaman Yuuto kini tengah mengarah kearahnya. Kedua tangan yang awalnya terkepal erat itu perlahan melemas berbarengan dengan bibir yang bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu
"Sasuga Madara-sensei, sekarang aku tahu apa yang akan kulakukan! – "
"– Inoryoku : Rashoumon!"
*Sraaaass!*
"A-Apa?!"
Mereka bertiga – Akeno, Koneko serta Yuuto terkejut bukan main saat sebuah bayangan hitam yang membentuk sebuah garis panjang muncul dari tanah dan melilit tubuh mereka hingga membuat pergerakan mereka terhambat bahkan tak bisa bergerak sama sekali – dan lebih dari itu, pedang milik Yuuto yang tinggal sejengkal lagi untuk mengenai Naruto pun terpaksa berhenti ketika bayangan hitam itu ikut melilitnya
"Ne..."
Meski mereka bertiga tak bisa bergerak sama sekali karena bayangan hitam yang melilit tubuh mereka. Namun mata mereka masih bisa menangkap sosok Naruto yang kini mulai berdiri dari posisi awalnya
"Kalian mau mengambil alih kehidupanku bukan?"
*Glek!*
Mereka bertiga menelan ludah ketika menatap raut wajah Naruto – senyum miring yang terlihat cukup aneh dimata mereka dengan mata yang mata biru yang tajam menusuk pandangan mereka. Serta ucapan Naruto pun terasa seperti ejekan tersendiri bagi mereka bertiga – yaitu Akeno, Koneko, dan Yuuto
Mereka masih tak menyangka bahwa – seorang Pecundang yang mereka anggap lemah kini berubah sembilan puluh derajat dari sifat aslinya. Raut wajah yang sangat pintar menyembunyikan perasaan itu kini berubah menjadi wajah bak seorang Psycho berat
*Greett!*
"Kyaaah!"
Akeno dan Koneko menjerit tertahan saat bayangan hitam berbentuk garis yang melilit tubuh mereka terus saja mengerat dan menekan tubuh mereka, sedangkan Yuuto hanya bisa mengerang kesakitan saat pergerakan tubuhnya terus saja menyempit saat bayangan hitam itu terus saja mengerat dan mengerat
"Sakit bukan? jadi bagaimana jika aku yang mengambil alih kehidupan kalian bertiga Huh?"
Dan mungkin inilah akhirnya! mata mereka bertiga membulat sempurna ketika menatap tiga bayangan hitam berbentuk runcing nan tajam siap menusuk mereka bertiga tepat berada dibelakang Naruto – dan bukan itu saja, raut wajah Naruto yang kini menatap mereka bertiga seakan mengintimidasi
.
.
.
.
'Madara-sensei! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan!'
.
.
'Sudah kubilang kau pasti tahu apa yang kau lakukan nantinya, dan jika ada yang tidak beres maka aku akan datang kesana!'
.
.
'Kesana? Kesana mana Sensei? Dan apa maksudmu dengan apa yang akan kulakukan nanti? Memangnya apa yang akan kulakukan?'
.
.
'Baka! Kau akan tahu nantinya jadi kau hanya perlu mengalaminya saja! Aku tidak akan memberitahumu karena jika aku memberitahukannya maka semua rencanaku akan gagal nantinya bodoh!'
.
.
'Terserah kau sajalah Sensei!'
.
.
.
"Hentikan itu Naruto..."
Belum sempat mengarahkan bayangan hitamnya untuk menusuk Akeno, Koneko dan juga Yuuto. Ucapan pendek mencoba menginterupsi Naruto hingga membuat remaja pirang yang kini dalam keadaan yang cukup aneh – senyum miring dengan cahaya mata yang hampir hilang sepenuhnya – itu mengalihkan perhatiannya ke arah asal suara
Rasa terkejut mencoba menyadarkan dirinya saat dimata birunya kini terdapat pantulan siluet sesosok pria paruh baya yang masih dalam balutan seragam khas guru sekolah
"Madara-sensei?"
Itu benar! Sosok pria paruh baya yang dilihatnya itu adalah Uchiha Madara – sosok seorang guru matematika juga guru yang peduli dengan dirinya. Naruto masih saja setia menatap sosok Madara meski guru matematika itu perlahan berjalan kearahnya
Lain Naruto lain juga dengan Akeno, Koneko dan juga Yuuto. Meski bayangan hitam yang melilit tubuh mereka sedikit mengendur, tetapi tetap saja mereka tak bisa bergerak bebas dan hanya bisa menatap Naruto dan Madara tanpa melakukan perlawanan
"Apa yang kau lakukan disini Madara-sensei?"
"Dasar bodoh! Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku akan datang jika ada hal yang tidak beres?"
Menatap mata hitam kelam milik Madara entah kenapa membuat Naruto seakan tenggelam dalam kegelapan yang tak berujung – benar-benar gelap hingga sulit untuk mencari sebuah cahaya sebagai penerang
"Hal yang tidak beres? Apa maksudmu Sensei?!"
"Sudahlah, biar aku yang mengurus mereka bertiga!"
Madara melangkahkan kaki kanannya kedepan secara perlahan. Namun belum sempat kaki kanannya untuk menyentuh tanah, tiba-tiba sosoknya hilang dan muncul didepan Akeno, Koneko dan Yuuto yang kini tengah terlilit bayangan hitam milik Naruto
Mereka bertiga – Akeno, Koneko dan Yuuto masih tak percaya apa yang mereka lihat barusan. Apa itu? Apa itu semacam teknik kaki? Atau memang sosok didepan mereka ini memiliki kecepatan yang luar biasa?
"Ne Kimi-tachi, bukankah sudah kubilang agar kalian tak menyentuhnya tanpa seizinku?"
Raut wajah mereka bertiga perlahan mengeras, jadi ini yang dimaksud Madara dengan Masalah Besar saat mereka berada di ruang klub siang tadi
"Sebagai gantinya, aku akan melakukan sesuatu pada kalian!"
"Madara-sensei! Tungu! Apa yang kau-"
Perlahan ucapan mereka bertiga terputus ketika pandangan mata mereka koson dengan iris mata yang tak lagi mendapatkan seberkas cahaya – sehabis menatap langsung mata Madara yang kini berganti menjadi berwarna merah darah
"Inoryoku : Sharingan!"
.
.
.
.
'Inilah akhirnya jika kalian tak menuruti perkataanku...'
.
.
'Iblis Bodoh!'
.
.
.
.
::
::
::
::
"Jadi, sebenarnya apa rencanamu Madara-sensei?"
Kalimat berupa pertanyaan itu keluar begitu saja dari sosok remaja berambut pirang yang berjalan disebelahnya – berjalan menuju rumah mereka masing-masing meski rumah mereka memiliki arah jalan yang sama
Untuk sekarang keadaan berubah total. Naruto dan Madara kini tengah berjalan di pinggir trotoar jalan menuju rumah mereka masing-masing mengingat hari mulai gelap dan sudah sepantasnya untuk mereka mengistirahatkan tubuh yang sedikit agak lelah
Lalu bagaimana dengan keadaan Akeno, Koneko dan Yuuto ditaman? Untuk itu tenang saja, Madara dan Naruto sudah menyelesaikannya dengan baik – menyandarkan mereka bertiga pada batang pohon dan membiarkan mereka terlelap dalam mimpi setelah di hipnotis oleh Madara
"Rencanaku ya? Sudah kubilang aku hanya memanfaatkan rencana mereka"
"Tolong yang serius Sensei! Aku tak mengerti apa yang kau maksud!" ucap Naruto ketus
"Huh... dengarkan aku, dan kuharap otak begomu itu bisa mengerti Gaki –"
"– Rencanaku adalah mencoba menyadarkanmu bahwa kau masih memiliki kekuatan yang bisa kau gunakan dengan memanfaatkan rencana mereka"
"..."
Naruto terdiam beberapa detik saat Madara mencoba memberikan penjelasan simple yang lumayan pendek. Jika boleh jujur, sebenarnya ia belum benar-benar mengerti apa yang dikatakan oleh Madara. karena itulah ia tak berani bertanya dan memilih untuk diam
"Rencana mereka yang kumaksud disini adalah mereka bertiga tadi yang merupakan anak buahnya Rias. Rias Gremory memerintahkan mereka bertiga untuk menangkapmu dan membunuhmu dengan cara mengikutimu dari belakang"
"Tapi Sensei, saat mereka bertiga berhadapan denganku. Bukankah sebaiknya langsung saja membunuhku daripada menghinaku. Sebenarnya apa yang mereka lakukan?"
Madara tersenyum simpul. Itu memang pertanyaan yang sangat dan sangat pantas untuk Naruto tanyakan. Karena dengan pertanyaan itulah Naruto akan mengerti semuanya
"itu adalah naluri seorang iblis, Naruto. Mereka tahu bahwa kau hanyalah seorang pecundang yang lemah dan hanya bisa diam saat terjadi sesuatu padamu. Karena itulah mereka menghinamu habis-habisan dengan maksud untuk memprovokasi dirimu dan menyerahkan hidupmu pada mereka bertiga"
"Karena sifat mereka itulah, kau terbawa suasana dan membalikkan kata-kata mereka dengan kekuatan yang kau keluarkan itu. Itulah yang kumaksud memanfaatkan rencana mereka karena itu aku tak mau membeberkannya padamu"
"Begitukah..? tapi bagaimana kau tahu kalau aku akan mengeluarkan kekuatanku Sensei? Bagaimana kau tahu kalau aku berada ditaman dengan mereka bertiga? dan saat diatap sekolah siang tadi kau bilang bahwa Rias akan menangkap dan membunuhku juga, tapi kenapa Rias tidak ada disana?"
Madara memejamkan matanya saat Naruto bertanya padanya secara beruntun – pertanyaan yang harus ia jawab agar si pirang bego disampingnya itu tidak mati penasaran. Madara lalu kembali membuka matanya dan menoleh kearah Naruto
"Ini kepercayaanku padamu Naruto. Aku sangat tahu bahwa kau sangat benci ketika kau dijelek-jelekkan oleh orang lain didepan matamu namun kau tak bisa melampiaskan semua amarahmu itu didepan banyak orang. Karena itulah aku membiarkanmu sendirian daripada aku harus menjagamu dari mereka bertiga, karena jika begitu maka rencanaku tidak akan ada hasilnya –"
"– Dan bagaimana aku tahu kalau kau akan berada ditaman? Itu sangat mudah bagiku untuk menyadarinya. Aku tahu kalau kau akan jalan-jalan dengan Hyuuga Hanabi-san dan acara jalan-jalan itupun berakhir dengan caramu mengantarkan Hyuuga-san kerumahnya. Dari situ aku sudah tahu bahwa kau akan berada ditaman karena Hyuuga-san menyuruhmu untuk mengantarkannya sampai ditaman saja"
"Anoo Sensei? Kau sedang tidak bercanda bukan? bagaimana kau tahu kalau aku akan mengantarkannya kerumahnya walau hanya sampai ditaman saja?"
"Hahaha~ menebak seorang jomblo sepertimu itu sangat menyenangkan Naruto! Kau itu sangat jarang berhubungan dengan seorang perempuan. Karena itulah kau memilih untuk mengantarkannya kerumah daripada jalan-jalan dan mampir ketempat lain seperti Mall, Games Zone, ataupun tempat Karaoke – "
" – Karena kebanyakan orang yang sudah biasa berhubungan dengan seorang perempuan akan lebih memilih pergi ke tempat yang menyenangkan daripada harus mengantarkannya kerumah ketika diajak seorang gadis untuk jalan-jalan!"
*Twich!*
Oke! Naruto sekarang sangat kesal! Bisa-bisanya Madara menyindirnya habis-habisan begitu, Naruto maklum jika Madara bisa tahu bahwa ia memang sangat jarang berhubungan dengan seorang perempuan. Namun bukan itu masalahnya –
– Masalahnya adalah, bagaimana Madara tahu bahwa ia seorang Jomblo? Apa Madara sudah tahu betul luar dalam tentang dirinya? Memikirkannya saja sudah membuat Naruto kesal!
"Ingin kuberkata kasar padamu Sensei! Namun kuurungkan karena aku tahu bahwa kau itu masih menjadi guru matematikaku. Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau Hyuuga-san memintaku untuk mengantarkannya sampai ditaman saja?"
"Kau tahu? Hyuuga Hanabi itu adalah adik dari Hyuuga Hinata-sama! Dan aku tahu kalau rumah Hinata-sama berada didekat taman tempat kau mengantarkan Hyuuga Hanabi-san!"
"Hinata-sama?"
Naruto menaikkan alisnya sebelah? Hinata-sama katanya? Apa hubungan Madara dengan Hyuuga Hinata yang seorang idol itu? Atau jangan-jangan...
.
.
.
"Ah Gomen, aku terbawa suasana. Dia adalah penyanyi dan idol favoritku, karena itulah aku nge-fans berat padanya!"
Naruto Sweatdropped ditempat. Ternyata dugaannya benar bahwa Madara itu seorang Wota. Ia benar-benar tak menyangka bahwa guru matematika yang agak absurd disebelahnya ini tergila-gila pada seorang Idol
Yah, Naruto memang sempat kagum dengan rencana dan semua dugaannya yang berujung dengan kebenaran itu – dia benar-benar sangat kagum pada Madara. namun apa jadinya jika ia menyadari bahwa orang yang ia kagumi adalah seorang Wota?
Naruto jadi merasa aneh sendiri. Mengagumi seorang Wota? Yang benar saja! Dia hanya kagum pada rencana dan dugaan Madara. ia tidak kagum dengan sisi lain dari Madara!
"Lupakan tentang Hinata-sama mu itu Sensei! Jadi jawablah pertanyaanku yang ketiga tadi!"
"Gomen gomen! Tentang Rias Gremory bukan? aku yakin dia tidak akan datang tepat didepanmu karena ditempat lain ia mempunyai urusan dengan calon budaknya"
"Calon Budak?"
"Kau kenal dengan Hyoudou Issei bukan? si mesum yang memuja dada Rias dan dada Akeno itu?"
Mendengar nama dari Madara barusan mengingatkan Naruto pada seorang pelajar disekolahnya. Dia dikenal dengan sifatnya yang mesum dan suka mengintip tempat ruang ganti perempuan – sosok itu adalah Hyoudou Issei
"Memangnya kenapa Sensei?"
"Kau mungkin tidak percaya, tapi saat kau bertemu dengan Himejima Akeno ditaman tadi. Rias Gremory dan temannya yaitu Toujou Koneko dan Kiba Yuuto telah menyelesaikan misi mereka yaitu menjadikan Hyoudou Issei seorang Budak ditempat yang berbeda. Dan saat Himejima Akeno menyerangmu dengan petir menyebalkan itu. Disaat itulah Toujou Koneko dan Kiba Yuuto berteleport ke tempatmu berada dan ikut menyerangmu meninggalkan Rias ditempat lain dan menyelesaikan urusannya dengan Hyoudou Issei"
"Tapi Sensei! Bagaimana kau bisa tahu sejauh itu? Apa kau juga berada ditaman lebih dahulu dariku?"
Naruto kembali bersuara untuk yang kesekian kalinya. Walau ia sangat kagum dengan rencana maupun dugaan Madara, tapi ia masih tidak percaya pada dugaan Madara yang bisa sejauh itu – lebih jauh dari dugaannya yang sebelumnya
"Kau tidak perlu tahu Naruto. Yang perlu kau sadari sekarang adalah kau memiliki kekuatan yang dapat melindungimu dan masih ada orang yang peduli denganmu. Bukankah itu alasanmu mengapa kau mengeluarkan kekuatanmu pada mereka bertiga tadi?"
*Deg!*
Mata birunya membulat sempurna, detak jantungnya berdegup lebih cepat dari yang sebelumnya dengan emosi yang lumayan berlebih didalam hatinya – meski ia berusaha menenangkan emosi yang berlebih didalam dadanya
Jadi inikah Uchiha Madara yang Naruto kenal? Sosok guru matematika yang berhasil merencanakan sesuatu yang besar padanya, sosok guru yang agak absurd. Dan lebih dari itu – Madara adalah sosok guru yang satu-satunya peduli pada dirinya!
"Jadi, kau sebenarnya sudah tahu bahwa semua yang terjadi telah berada dalam dugaanmu, dan semua itu kau rencanakan hanya untuk membuatku menyadari itu bukan? Madara-sensei?"
"Ayolah! Aku ini gurumu tahu! Jadi apa salahnya jika aku memperdulikanmu? Kau itu siswaku yang berharga"
*Pluk!*
Dan begitulah... Naruto hanya bisa memejamkan matanya ketika tangan besar Madara mencapai puncak kepalanya sembari mengacak-acak rambut pirangnya dengan pelan. Ucapannya pun terdengar seperti sebuah candaaan namun meskipun begitu Naruto tahu bahwa Madara adalah salah satu orang yang peduli dengannya
Terdiam masing-masing untuk beberapa saat, terus berjalan dengan langkah yang serasi membelah sepinya hari yang gelap nan sunyi. Mereka berdua pun tenggelam dalam pikirannya masing-masing meski awalnya apa yang mereka bicarakan terasa sama seperti yang sebelumnya
"Ne Sensei? Satu pertanyaan terakhir dariku, sebenarnya apa yang kau lakukan pada mereka hingga bisa tertidur lelap seperti tadi?"
"..."
"Itu, tenang saja kok..."
.
.
.
.
'Aku hanya menghapus beberapa ingatan mereka...'
.
.
'Itu saja, tidak lebih!'
.
.
.
.
::
::
::
::
"Jadi, inikah yang kau maksud dengan urusan penting itu Madara-san?"
Meninggalkan Madara dan Naruto yang tengah menuju tempat tinggal mereka masing-masing. Keadaan kembali berganti. Berlatar sebuah langit yang gelap dipenuhi dengan bintang yang indah
Rambut berponi pirangnya berkibar terbawa angin, tubuhnya pun melayang dengan bantuan enam pasang sayap hitam yang menempel dipunggungnya. Pandangan matanya pun mengarah kebawah – sebuah taman tempat Akeno menyerang Naruto tadi
"Aku tak mengerti kenapa kau masih saja bermain dengan iblis yang bukan selevel denganmu..."
Ucapnya monolog sembari menatapi tiga sosok remaja berbalut seragam Kuoh Academy. Keadaan mereka bertiga memang baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun. Namun jika dilihat dari raut wajah mereka – seperti ada sesuatu yang hilang dari mereka entah apa itu ia tak tahu
"Sudahlah, aku harap ini bukan pertanda buruk bagimu Madara-san"
.
.
.
.
'Karena aku tahu seperti apa dirimu...'
.
.
'Kau tak akan mungkin mau bermain dengan orang lain tanpa ada alasan yang jelas bukan?'
.
.
'Uchiha Madara-san?'
.
.
.
.
::
::
::
:: [Page #03] ::
- Plan -
.
.
.
.
:: [Stray Dogs!] ::
::
:: [Disclaimer] ::
Not Own Anything!
::
:: [Genre] ::
Adventure, Supernatural, Angst[?]
::
:: [Rating] ::
M for Some Reason
::
:: [Warning] ::
OOC[?], Typo[!], Miss-Typo, Mainstream[?], Humor!Fail, Slight!BSD, Bahasa tidak baku, and More...
::
::
::
::
:: [To Be Continued..?] ::
[A/N] :: Oke! Ini update yang ketiga kalinya untuk Fic berjudul Stray Dogs!
Sebelumnya kalian boleh marah pada saya karena updatenya terlalu lama. Saya punya banyak alasan sebagai pembelaan saya jika kalian nantinya bakalan marah, mau dengar?
Yang pertama Mood dan ide yang gak sejalan [Ini nih yang bikin saya kesiksa –_- ] awalnya niat ngelanjutin fic dengan duduk sambil nyalain Lappy-chan. tapi pas Lappy-chan dah nyala, semua ide yang udah ketampung tiba-tiba aja ilang begitu aja yang buat saya jadi kesal – dan berakhir dengan dengerin lagu sambil baca Manga –_-
Yang kedua, saya lagi bikin Project baru berupa Oneshoot [yang mungkin akan selesai dan mampir ke Fandom sebelah] jadi harap maklum kalo updatenya kelamaan. Saya berusaha sebisa mungkin membagi pikiran saya jadi dua :v [Yang pertama ngakalin alur Fic Project dan yang kedua ngelanjutin Fic ini]
Dan setelah mendengar alasan saya, kalian mungkin berpikir bahwa kalian mengurungkan niat kalian untuk marah pada saya bukan? yap! Itu berarti kalian menghargai usaha saya! :v :v
Membahas tentang Chapter ini. Yah... ini merupakan Chapter terpanjang dari yang sebelumnya [Full Word :: 9,5k] jadi saya harap kalian bisa puas dengan update terbaru yang saya buat [Anggap aja ini permohonan maaf saya karena updatenya lama]
Di Chapter ini, Naruto udah nunjukin sifatnya yang mulai beda dari yang sebelumnya – yang Chapter kemarin Cuma bisa nerima keadaan kini berganti dengan sedikit melawan. Dan kemungkinan sih. Chapter selanjutnya sifat Naruto bakalan berubah seiring dengan penampilannya yang gak culun lagi :v
Soal Naruko? Oke! Dia bakalan masuk di Fic ini walau mungkin muncul diChapter depan. Di Chapter ini dia Cuma muncul di narasi bukan muncul secara fisik. Alasan kenapa saya menambahkan dia kedalam fic ini? Sederhana kok! Dia Chara cewek favorit saya!
Dan pembahasan yang penting yaitu Pairing. Oke! Ini bukan masalah serius sih bagi saya. Saya tahu kalau Reader semua kepingin Hanabi jadi Pairing Naruto bukan? kalian juga kepingin romance yang manis-manis gitu bukan? dan kalian juga kepingin Lime atau mungkin Lemon kecut bukan? :v :v
Jawaban saya tentang pembahasan Pairing adalah Tunggu aja Chapter depan! Mungkin aja harapan kalian bisa saya realisasikan walau nantinya ada hambatan berupa saingan Hanabi untuk ngerebutin Naruto :v
Dan tentang Madara. beberapa hal tentangnya saya buat agak mirip dengan Dazai Osamu. Bahkan tentang Rencana Madara itupun saya terinspirasi dari Dazai [udah nonton Anime BSD S2? Di episode terakhinya dijelasin bahwa semua yang telah terjadi sudah dalam rencana Dazai, bukankah dia terlalu hebat dalam menyusun rencana?]
Jadi, untuk kedepannya bakalan ada perubahan yang spesifik. Kuharap kalian rela menunggu kelanjutannya meski update yang tidak bisa ditentukan dan tidak bisa saya pastikan kapan rilisnya :v
Dan sebelum masuk kedalam tahap terakhir, sebaiknya saya balas review dulu biar para Reviewers kagak ngamuk :v
:: Sylvathein :: Memang suram sih :v Entah dibilang kelainan atau bukan, tapi gue emang lumayan suka ama MC yang diBashing habis-habisan apalagi ama fic Romance yang berujung NTR :v
Anjeer :v memang apa salahnya kalo gue nyebar Loli di FFn? :v toh gue Cuma menyadarkan mereka-mereka yang tidak tahu betapa sempurnanya dan indahnya anugerah tuhan berupa gadis Loli macam Hanabi, Kanna, Chino, Sagiri dan teman-temannya :v
Ngeroyokin ente bareng si Akairyuu? Oke! itu artinya sebagai sesama Lolicon bisa saling memahami dan saling bahu-membahu untuk menyerang ente :v karena itulah para Lolicon bisa jadi Solid :v [Orang normal kayak ente gak bakalan ngerti apa yang gue katakan :v :v ]
:: Hikasya :: Sankyuu pujiaanya kak! Gpp kok dan makasih deh atas supportnya!
:: Ashuraindra64 :: Harem atau Single? Kayaknya Single Pair deh. Saya gak terlalu suka sama MC yang terlalu bergantung pada banyak gadis :v
:: DarkLoot :: Soal Pair dah dijelasin tuh diatas sama balasan Review diatas. Btw soal Naruto yang agak Badass mungkin akan muncul di Chapter selanjutnya!
:: Ae Hatake :: kalo kamu udah baca Chapter ini kamu pasti tahu kalau Hanabi gak Cuma pengen berterimakasih aja bukan? pertanyaanmu yang kedua belum bisa saya jawab sekarang [Nanti jadi Spoiler :v ]
:: Deadly God :: New Line ya? Mungkin masih lama [Gomen kalo udah nunggu lama] bukan Down gegara Review di Fic itu sih [Jujur, saya malah senang dapet review yang begituan] tapi otak saya benar-benar ngadat untuk ngelanjutin Fic kesayangan saya itu~ jadi Gomen kalo belum bisa diupdate
:: Bayuateng21 :: FemSirzechs? Kayaknya gak bakalan deh :v
:: Aldy Hiraishin :: saya memang mengambil beberapa unsur Anime BSD namun untuk alur cerita tentu berbeda, dan soal Pairing sudah saya jelaskan diatas!
:: H3ndy :: Hee? Kamu bisa menduga sejauh itu padahal saya gak buat Naruto jadi begitu lho! serius deh! Semua dugaan kamu itu bakalan salah nantinya [bahkan dichapter ini pun sudah membalikkan apa yang kamu duga]
:: Yamamaru Taiki :: Niat saya memang begitu, karena sifat Naruto nantinya bakalan berubah dari yang sebelumnya. Kamu pasti ngerti kalo udah baca Chapter ini!
:: Ramadi Riswanto :: kekuatan Inoryoku itu berasal dari Anime/Manga Bungou Stray Dogs [sayang ngambil dari situ]
:: Pedofillgila :: Oke! pertanyaanmu terjawab pada Chapter ini!
:: Nesia Dirgantara :: pertanyaanmu sudah terjawab kok diChapter ini!
:: Watashi wa desu 31 :: Kabar saya baik kok! Dan syukur deh kalo kamu suka ama Fic baru saya ini [senang rasanya ada Reader yang setia ama saya :v ]
Btw semua saranmu akan kutampung terlebih dahulu dan akan kupertimbangkan nantinya. Sankyuu buat sarannya!
:: Naomi Yuichi :: Yah, bisa dibilang ceritanya agak berat sih. Bahkan Chapter ini pun menurut saya agak sulit untuk dipahami [Jadi harus berpikir keras untuk mengerti apa yang saya maksud pada cerita]
Rias dkk memang saya buat agak OOC. dan soal efek samping dari penggunaan kekuatan Naruto dan Madra pasti ada, tapi belum bisa saya bocorin untuk sekarang
Untuk Rival Naruto nanti pasti ada kok! Dan pertanyaanmu yang terakhir tentang kekuatan Madara – itu benar! Kekuatannya saya buat ada dua disini [Penjelasan kekuatannya sudah saya jelaskan di Chapter sebelumnya]
:: Sasaki Shigekuni :: Naruto punya sifatnya tersendiri di Fic ini, jadi mungkin gak sama deh kayak Akutagawa yang Badass [Padahal sih tujuannya Cuma pengen pengakuan dari si Dazai -_- ]
:: The Spirit Of Lightning :: Hei! kalau Naruto jadi membenci semua siswi disekolahnya nanti Naruto gak bakalan dapet Pairing loh! :v Naruto bakalan punya sifatnya sendiri kedepannya dan kujamin kamu pasti suka nantinya!
:: Cah Uzumaki :: tenang aja kok! Kedepannya Naruto pasti berubah – gak sama dengan yang sebelumnya. Jadi jangan bosen untuk nunguin kelanjutannya!
:: KAITO-KIDZ :: ini udah lanjut kok! Silahkan dibaca!
:: Guest :: Soal Pairing sudah saya jelaskan panjang lebar diatas dan dibeberapa Review diatas
sekuat apa kekuatan Naruto? Kamu bisa nonton Anime Bungou Stray Dogs – entar kamu tahu sekuat mana kekuatan Naruto. Dan Naruto lebih kuat daripada Maou kalo bukan Godlike? Itu sih udah masuk kedalam kategori Godlike menurutku
:: Tu332 :: Humor ya? Agak susah sih nyelipinnya, Cuma saya bakalan berusaha agar humornya gak terlalu garing :v
:: Onizaki Takaharu :: Untuk Chapter ini lumayan sedikit Scene Battle nya, Gomen kalo kecewa :v
Dan untuk Review belum sempat saya balas. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada kalian...
Dan sebagai ucapan terakhir, salam dan sampai jumpa di Chapter berikutnya~!
.
Bye Bee~
.
- Sign :: Kurosaki Kitahara
