Ultimate Love
Pairing : HoMin / YunJae / slight YooSu
Rate : T - M
Length : 3 of ?
Warn : uhmm... enjoy!J
Changmin melangkahkan kakinya lebar-lebar penuh emosi. Rasanya dia ingin memaki semua orang yang menghalangi jalannya. Dengan tergesa-gesa diarahkannya laju mobilnya ke apartemen Jaejoong. Dia tidak masalah bila Yunho meniduri wanita lain. Atau sekedar iseng menggoda pria lain. Tapi, Kim Jaejoong is a big no no.
Jung Yunho sangat berarti baginya. Di rengkuhan lelaki itu, dia telah berubah begitu banyak. Dia tidak seliar dulu. Memang, dia masih suka iseng tidur dengan wanita lain seperti dengan Hyemi waktu itu. Tapi sebenarnya hal itu sudah jarang dilakukannya. Kemarin, dia tergiur mulut beracun Park Yoochun yang meledeknya sebagai 'bocah ingusan' sejak berada di ketiak Yunho. Argh! Dasar germo sialan!
Dan yang paling mencolok, dia benar-benar tidak berhubungan dengan pria mana pun sejak bersama Yunho! Dia itu sangat gampangan sebelum bertemu Yunho. Pergi ke klub tiap malam. Hangover. Terbangun di pagi hari dengan 'entah-siapa-orang-yang-tidur-disebelahnya' hampir menjadi rutinitas kehidupannya.
Biang iblis sepertinya bisa berubah sedrastis itu karena seorang pria. Hanya ada dua kemungkinan.
Entah Yunho adalah jelmaan malaikat..
Entah Changmin jatuh cinta terlalu dalam..
Digedor-gedornya apartemen Kim Jaejoong.
Dimana lelaki itu? Changmin benar-benar kesal. Sudah cukup kesabarannya selama ini. Menahan-nahan emosi setiap dia mengetahui kalau Yunho diam-diam masih menemui Jaejoong.
Cklek. Pintu apartemen Jaejoong perlahan-lahan terbuka. Changmin sudah siap menonjok siapa saja yang berada dibalik pintu itu.
Tangannya hampir saja mengenai kulit pria yang sangat kaget di depannya.
Hampir!
Berterimakasihlah kepada refleks Changmin yang bagus. Tinjunya tidak mengenai pria itu.
"Junsu.." ucap Changmin sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"astaga! Apa yang kau lakukan disini Min-a?" lelaki yang bernama Junsu shock melihat Changmin.
"mana Jaejoong, Su!" amarah Changmin kembali naik ke ubun-ubun.
Junsu mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu betul kenapa Changmin bisa sampai seperti ini.
"dia tidak ada. Setengah jam lalu dia pergi"
"apa?" Changmin memasang wajah kecewanya.
"jangan-jangan kau salah paham soal telepon genggam Yunho.."
Changmin lumayan kaget. Kenapa Junsu bisa tahu?
"semalam Yunho ke sini. Saat baru datang, Jaejoong ambruk karena mabuk. Mungkin ponselnya tertinggal saat menggotong Jaejoong" jelas Junsu.
Mendengar Yunho datang kemari tadi malam sontak membuat Changmin mengatupkan rahangnya.
"lalu kenapa kau ada disini?" Changmin berupaya bertanya dengan nada sewajarnya.
"Yak! Kau lupa kalau aku sekretaris Jaejoong? Aku orang pertama yang dihubungi Yunho. Aku menginap disini mengurusi bossku semalaman" Junsu memasang wajah cemberutnya.
"jadi Yunho…"
"iya, sepupuku yang bodoh.. Yunho-mu itu tidak menginap" ucap Junsu gemas.
Mendengar penjelasan Junsu sepercik rasa bahagia mengisi dadanya.
"aku pulang Su. Salam buat bibi" Changmin meninggalkan Junsu begitu saja.
"dasar bocah tengik.." gumam Junsu sambil kembali menutup pintu.
Sebenarnya mereka saling ter-connected. Yoochun adalah sahabat Jaejoong sekaligus partner-in-crime Changmin di dunia malam. Junsu adalah sepupu Changmin sekaligus sekretaris pribadi Jaejoong. Selain fakta bahwa Junsu adalah sepupu Changmin yang masih menjadi sebuah rahasia, mereka sama-sama tahu posisi masing-masing.
.
.
.
Jaejoong melangkahkan kakinya cepat-cepat.
Seorang waiters tersenyum saat berpapasan dengannya. Jaejoong membalas dengan senyum singkat seperti biasa. Mata Jaejoong langsung tertuju pada sudut ruangan. Bagus pikirnya, meja favoritnya kosong. Suasana pub tidak begitu ramai, mungkin karena belum tengah malam. Sesekali Jaejoong melirik arlojinya. Jaejoong baru saja meraih gelas tequila ketika pria yang dinantinya tiba.
"boo.." sapa Yunho.
Jaejoong mendongak keatas.
Pria itu selalu saja sama tampannya. Bahkan dengan lengan kemeja yang digulung asal-asalan dan celana formal seperti itu. Yunho-nya memang yang terbaik.
"duduk Yun.."
"….."
"aku membawa ini.." Jaejoong mengeluarkan handphone dari sakunya. Milik Yunho.
"oh. Ada padamu ya?" Yunho meraih benda itu.
Entah bagaimana, mereka diam. Canggung.
Jaejoong melirik Yunho. Dilihatnya pria itu meneguk bir.
"Yun, minggu depan aku ke Brussel. Kau mau ikut?" ucap Jaejoong ragu.
"….."
"tidak lama. Hanya lima hari. Kau punya waktu?"
Jaejoong sangat berharap Yunho bisa pergi. Yunho sangat sibuk. Kalaupun ada waktu senggang, pasti sudah dirantai dengan bocah tengik sialan bernama Shim Changmin. Hanya ini kesempatan yang dia punya. Sebut saja itu semacam honeymoon. Menghabiskan waktu berdua. Hanya dia dan Yunho. Ahh.. pasti seru. Memikirkannya saja sudah membuat Jaejoong bersemu.
Yunho tidak merespon apa-apa. Daritadi hanya sibuk minum saja.
Jaejoong menghela napas.
Jaejoong merasa sedikit kesal. Kenapa dirinya sampai begitu bodoh dihadapan pria ini. Melupakan harga dirinya seperti ini. Setengah memohon agar pria itu mau pergi bersamanya..
"boleh juga"
Jaejoong tersentak.
Dia berhalusinasi atau apa?
Tapi segera dibuangnya jauh-jauh pikiran itu. Melihat senyum lembut Yunho, benar-benar membuatnya sadar. Yunho mengiyakan ajakannya.
Senyum sumringah menghiasi wajah Jaejoong. Dia menghambur ke pelukan Yunho.
Rasanya hangat seperti biasa.
Yunho mengusap puncak kepalanya. Dan mencium rambutnya sekilas.
Ditatapnya mata pria itu. Entah bagaimana mata sekecil itu selalu berhasil membuatnya berdebar-debar. Seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta.
Ya.. jatuh cinta.
Jaejoong sangat sadar kalau dia mencintai pria ini dalam kadar yang berlebihan. Terus terang dia tidak peduli. Kalaupun cinta seperti ini bisa membuatnya terbunuh, dia akan menerimanya dengan senang hati.
Asalkan bersama Yunho..
Jung Yunho miliknya.
Jaejoong memindahkan seluruh tubuhnya ke atas pangkuan Yunho. Dia melingkarkan lengannya pada leher pria itu.
Ah, malam ini harus jadi miliknya. Hanya dia dan Yunho.
Yunho menarik rahang Jaejoong agar menghampiri bibirnya.
"mmpphhh.."
Bibir itu, selalu saja sama manisnya.
Jaejoong mencintai segala yang dimiliki pria tampan itu.
Bau mint yang menguar dari tubuh pria itu.. bibir kecil berbentuk hati.. dan ciuman penuh hasrat itu..
"Yunho.. mmpphh.. I miss you.." desah Jaejoong dengan bibir yang sedikit membengkak dan mata besar yang berkilau dibawah lampu yang temaram.
Yunho meneguk ludahnya.
"I miss you too.. my boo.."
Dan mereka kembali membagi desah. Membagi kenikmatan dengan tangan nakal yang menyusup di sela-sela kemeja Yunho yang telah terbuka sebagian.
Malam ini hanya milik mereka.
.
.
Shim Changmin menghisap rokoknya. Membuang asapnya dengan penuh penghayatan.
Matanya tidak sedetikpun teralih dari satu titik di sudut ruangan.
.
.
.
Yunho adalah lelaki yang pintar dalam banyak hal. Karir misalnya.
Namun tentu saja dia bodoh untuk beberapa hal. Cinta misalnya.
Sudah hampir satu tahun dan untuk memilih Changmin atau Jaejoong saja dia tidak bisa.
Yunho tahu dia telah menjadi pria yang jahat. Dia membuat Jaejoong terombang-ambing tidak jelas. Sebenarnya waktu itu dia telah mengakhiri hubungannya dengan Jaejoong. Seharusnya masalah selesai kan?
Tapi bukan itu yang terjadi.
Jaejoong datang pada suatu hari setelah beberapa bulan mereka berpisah. Lelaki itu memintanya untuk kembali. Jaejoong menyentuh hati Yunho.
Yunho yang bodoh.
Yunho yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Yunho yang selalu tidak tega pada Jaejoong.
Dan ibarat benang kusut, sejak itu dia terjebak cinta segitiga yang ruwet seperti ini.
Dia terjebak dengan bocah egois bernama Shim Changmin dan pria innocent bernama Kim Jaejoong.
.
.
"tidak enak!" Changmin menghentakkan sumpitnya di meja.
Suara Changmin seakan menyadarkan Yunho dari lamunannya.
"aku mau makan dirumah Yoochun saja!" Changmin hendak beranjak dari kursinya saat tangan Yunho menahannya.
"kita delivery order saja ya?" ucap Yunho kemudian.
Changmin punya selera makan yang mengerikan. Mulutnya seperti vacuum cleaner saja. Mungkin kapasitas perut Changmin setara dengan perut dua gajah dewasa. Yunho hanya bisa menahan geli saat melihat Changmin makan dengan lahapnya. Tuhan tidak adil. Saat dia harus rajin fitness untuk membentuk otot perut, pria dihadapannya justru bisa makan sesuka hati tanpa takut gemuk. Lihat saja, tubuh Changmin tetap saja kurus. Metabolisme yang bikin iri.
"kenapa? Tidak pernah lihat orang makan?" ucap Changmin dengan mulut penuh makanan.
"dasar bocah.." ledek Yunho.
.
.
Changmin berbaring di pangkuan Yunho. Tangannya menelusuri perut pria itu. Ada enam kotak disana. Keras..
Yunho sedikit menggeliat karena geli.
"payah.." ejek Changmin.
Mendengar itu, Yunho meletakkan majalah yang dibacanya. Dia menindih Changmin.
"sekarang ayo kita buktikan siapa yang payah" Yunho menyeringai.
Yunho membawa Changmin pada ciuman yang panas. Lidah yang saling berbelit. Saliva yang menetes. Semua terjadi dalam ciuman panjang itu. Ketika Yunho mulai melepas tautan diantara mereka, Changmin segera menarik tengkuknya. Ciuman itu kembali berlanjut.
"kau..mmpphh..ingin.., mmpphh..aku..mmpphh.. kan..mmpphh?" Tanya Changmin disela-sela ciuman mereka.
Yunho menggigit bibir bawah Changmin. Sesekali dihisapnya bibir bagian atas pria yang berbaring dibawahnya itu. Dengan sengaja dimasukkannya saliva miliknya pada bibir Changmin yang sedikit terbuka.
"hanya… hmphhh.. kau…hhmmph.. sayang..hhmph.."
Yunho mulai menyusuri garis rahang pria yang berbaring dibawahnya. Mulai menyesap dan memberi tanda. Dia merasa puas dengan mahakarya yang dibuatnya. Ada satu.. dua.. ah tidak, ada empat bercak kemerahan berkumpul di sudut leher Changmin.
Yunho mulai memberi gigitan kecil pada telinga pria yang diklaim sebagai miliknya itu..
Ayo mendesah Changmin.. ayolah..
"kenapa kau ingin pergi dengan Jaejoong?"
Yunho terkejut. Reflek melepaskan gigitan menyenangkan..
Suara yang ditangkap telinganya bukanlah sebuah erangan frustasi.
Mata mereka bertemu.
"kau tahu darimana?"
"pergilah" Changmin mengucap pelan.
Yunho diam tanpa ekspresi.
Changmin menggeser tubuhnya. Berupaya melepaskan diri dari tubuh Yunho. Dengan pelan dia mulai mendudukkan tubuhnya.
"Aku tahu ini tidak akan berhasil. Rasanya tidak mungkin untuk menunggu pria itu melepaskanmu Yunho"
"…."
"kalau aku jadi dia, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Ah tidak! mungkin aku akan menyekapmu di ruang bawah tanah agar kau tidak menemui pria lain"
"…."
"Jaejoong mencintaimu. Tidak ada keraguan mengenai itu"
"…."
"sedangkan aku? Aku bahkan tidak tahu kita ini apa.."
Yunho seakan menjadi bisu. Dia lupa bagaimana cara berbicara. Sedari tadi dia hanya bisa diam mendengar perkataan Changmin. Ditatapkan kedua bola mata pria yang lebih muda darinya itu. Sambil mengira-ngira isi pikiran pria yang menjadi penyangga hatinya selama hampir satu tahun.
Yunho tahu saat-saat seperti ini akan tiba. Saat dimana dia harus memilih.
.
.
.
Flashback..
"aku tidak suka ide ini boo.. kita pulang saja" ucap Yunho malas.
"Yunho ayooo…." Jaejoong menarik lengan Yunho manja.
Yunho menyerah. Dia mengikuti langkah Jaejoong. Kekasihnya ini memang keras kepala. Kalau sudah punya permintaan, sangat sulit untuk ditolak.
Mereka memasuki sebuah kamar hotel. Hari ini anniversary hubungan mereka. Jaejoong ingin memberi sebuah hadiah yang sebenarnya tidak disukai Yunho. Entah dapat ide darimana tiba-tiba Jaejoong ingin mereka melakukan threesome malam ini. Jaejoong bilang, mereka harus mendapatkan kenangan seks yang spesial. Tapi tetap saja Yunho berpikir ide ini gila. Bagaimana mungkin Jaejoong mengajak orang lain ikut bermain dalam hubungan badan mereka?
Rupanya Yoochun sudah ada di dalam kamar.
Tunggu dulu! Yoochun?
Jangan bilang kalau germo itu yang menjadi partner mereka. Astaga! Yoochun itu kan seme absolute! Membayangkan bajingan itu memasuki Jaejoong benar-benar membuatnya gila. Tidak! dia harus menyeret Jaejoong keluar dari kamar terkutuk ini!
Yoochun sepertinya bisa menebak pikiran Yunho.
"bukan aku yang melakukannya dengan kalian. Dasar pencemburu kau Jung Yunho!" ledek Yoochun.
Yunho menatapnya sengit.
"mana orangnya Chun?" Tanya Jaejoong antusias.
Cklek. Sebuah pintu dibelakang tempat Yoochun berdiri terbuka.
Sesosok lelaki tampan keluar.
"okay! Tugasku selesai. Have fun…" Yoochun kemudian keluar dari kamar sambil bersiul-siul.
Terdengar bunyi pintu kamar tertutup.
Jaejoong menatap pria di hadapannya dengan wajah puas. Park Yoochun benar-benar tahu apa yang dibutuhkannya. Seorang uke tampan untuk kadonya pada Yunho.
"siapa namamu?" Tanya Jaejoong ramah.
"Shim Changmin" balas lelaki itu sambil mengangkat sudut bibirnya.
Yunho hanya diam terkesima melihat lelaki itu.
Flashback end..
.
.
.
Jaejoong sudah tiba di aiport. Satu jam lagi waktu keberangkatan. Rasanya Jaejoong ingin berteriak seperti orang gila. Dia sangat sangat sangat sangat sangat bahagia….
Sudah lama sejak perjalanan terakhirnya dengan Yunho. Waktu itu mereka pergi bersama ke Thailand. Tapi apa yang terjadi? Yunho malah sibuk dengan pekerjaannya selama di sana. Kalaupun ada waktu berdua, paling jauh mereka habiskan dengan berjalan-jalan di Pattaya. Yang seperti itu, tidak boleh terulang. Untuk kali ini, Jaejoong benar-benar telah mempersiapkan segalanya. Sederet tempat wisata menarik telah diobservasi dengan teliti. Ah.. Kalau perlu, begitu tiba di Brussel dia akan merengek pada Yunho agar menghampiri kapel pernikahan terdekat.
Menikah dengan Yunho…
Jaejoong merasa pipinya memanas. Ini satu-satunya kesempatan untuk menginvasi Yunho. Dia harus berhasil. Siap-siap menangis kau Shim Changmin!
"boo.."
"ah! kau sudah datang Yunho.." senyum mengembang di wajahnya.
.
.
.
Tbc.
hm, nggak tahu mau bilang apa.
let's anticipating for next chapter.. *sok misterius*
Yah pokoknya I'll try my best.
REVIEWs-nya ditunggu… ^^
