Nonohana: Yo! Sekarang giliran saya untuk update chapter 3~

All: Ho…

Nonohana: Apa maksudnya itu?

All: Bukan apa-apa~

Nonohana: Siapapun, tolong bacakan warning dan disclaimer!

Mukuro: Kufufu~ Disclaimer, cerita KHR beserta semua karakter nya, adalah milik Amano Akira-sensei. Nonohana dan juga Lucielle hanya memiliki fanfic ini dan OC yang merupakan diri mereka sendiri, meskipun bukan nama asli~

Nonohana: Kejam amat...

Gakudera: Cih! Warning kegajean yang amat sangat, typo dan OOCness!

Nonohana: Kalau yang di bintangin itu nama toko-toko nya~ Dan juga kalimat-kalimat yang kurang pantas!

All: Nanti readers juga tahu sendiri…

Nonohana: /sweat drop/ Ya sudah! Ini chapter 3 nya~ enjoy~


Chapter 3

Time to Shopping

"Wo! Jadi ini yang namanya angkot to the extreme ya?" Tanya Ryohei dengan suara toanya.

"Onii-san… bisa tolong kecilkan suaramu? Penumpang yang lain jadi tergangu…" kata Tsuna.

"Cih! Lawn head itu memang selalu berisik juudaime, jadi lupakan saja dia…" kata Gokudera sambil duduk dengan laknatnya.

"Untung tadi Squalo udah gak ada ya… kalau gak bisa-bisa nih angkot punya klakson baru yang bunyinya VOI!" kata Nindya yang berhasil membuat semua orang disitu kecuali Reborn dan Xanxus sweat drop.


With Arya, Futa, Lambo and Squalo

"HUATSYI!" Squalo bersin dengan suara toanya.

"Ada apa Squalo-nii?" tanya Futa.

"Masuk angin?" tanya Arya gak peduli.

"Jangan bikin Lambo-san repot ya!" kata Lambo.

"VOI! Kalian berisik sekali! Kalian kayak sedang berbicara bahwa bakal ada kebakaran!" Suara toanya Squalo berhasil membuat ibu-ibu rumah tangga mengira ada kebakaran.

"Ada apa, ada apa? Ada kebakaran?" tanya salah satu ibu rumah tangga yang pertama kali keluar karena suara toanya Squalo.

"Masa sih? Dimana dimana?" tanya salah satu ibu rumah tangga yang rupanya Cuma ingin numpang exis di tv kalau lagi kebakaran.

"Loe bego sih! Cepetan kabur!" kata Arya yang langsung ngegendong lambo (dengan cara kepalanya yang dipegang) dan mengajak Squalo dan Futa lari.


Back to the Angkot

"Iya ya…" kata Aisya.

"Tambah lagi kalau ada Mukuro… nih angkot punya lagu baru yang bunyinya kufufu terus…" kata-kata Nindya sukses bikin semua orang yang ada disitu jaw drop, kalau Xanxus ama Reborn cuma sweat drop.


With Diesty, Mukuro, Chrome and Hibari

"Hatsyi." Mukuro bersin pelan.

"Mukuro-sama apa anda baik-baik saja?" tanya Chrome.

"Muku-sama kau tidak apa-apa kan?" tanya Diesty.

"Kenapa hanya bersin? Kalau perlu kau mati sekalian." Kata Hibari.

"Kufufu Kyouya jangan begitu, nanti bagimana dengan chrome?" kata Mukuro.

"Kami kurossu!" Hibari mulai marah.

"Mama, mama! Lihat deh ma! Ada 2 cowok ganteng lagi berantem." Kata bocah umur 5 tahun.

"Hush kamu ini ngomong apasih?" kata sang sang ibu yang belum melihat wajah Mukuro dan Hibari.

"Tapi lihat deh." Kata anak itu sambil nunjuk dengan jari telunjuknya.

"Wah kau benar! Jangan-jangan artis baru lagi?" kata sang ibu kaget.

"Wah ada artis? Mana, mana?" tanya ibu-ibu yang lain.

"Oh ya betul! Ganteng nih. Pasti mereka berdua artis." Kata salah satu ibu-ibu yang berhasil membuat ibu-ibu yang lain berkumpul.

"Kh… kalau begini gak bisa pulang… Muku-sama! Tolong buat ilusi kabut supaya kita bisa kabur!" kata Diesty sambil berusaha keluar dari banjir ibu-ibu itu.

"Kufufu… baiklah…" kata Mukuro sambil mengeluarkan first path skillnya.

"Nah ayo kita lari!" kata Diesty sambil menunjukkan jalan.


Back to the Angkot

"Ah! Kalau gitu aku, Gokudera, Bianchi-san dan Levi-san pergi duluan ya…" kata Aisya yang turun dari angkot.

"Kalau begitu sampai nanti Reborn…" kata Bianchi sedih.

"Aku permisi duluan bos." Kata Levi yang turun dari angkot dan membungkukkan badannya 45 derajat.

"Juudaime… saya permisi dulu… maaf saya tidak beguna sebagai tangan kanan juudaime!" kata Gokudera yang meneriaki Tsuna didalam angkot yang mulai meninggalkannya.

"Nah kalau kalian pisahnya dimana?" tanya Reborn.

"Kalau Aku, Nindya dan Renata nanti pisah di sumber arta." Kata Ghina.

"Itu dimana ya?" tanya Yamamoto.

"Itu tempat perhentian angkot ini." Kata Nindya.

"Apakah disitu ada vodka? Aku sudah pusing." Kata Xanxus.

"Di Indonesia minuman ber-allkohol dilarang." Jawab Renata.

"Apa kau bilang sampah!" kata Xanxus kaget.

"Ada kok tempatnya, tapi gak ada vodka, paling Cuma ada beer doang." Kata Nindya.

"Jenis apa saja?" tanya Xanxus.

"Ada *beep*, *beep*, *beep* ama *beep*. Memangsih beer yang kusebutkan tadi termasuk beer kelas atas semua, tapi rasanya kalah sama vodka dan wine." Jawab Nindya.

"Nindya-san tahu semua itu darimana?" tanya Tsuna sweat drop.

"Oh itu. Saudaraku ada yang nikah ama orang luar negeri yang kini udah jadi agama islam. Dulu dia sering minum vodka ama wine, terus dia pernah coba minum beer merek *beep*. Katanya rasanya kalah sama vodka. Tapi sekarangsih udah gak minum lagi." Jelas Nindya.

"Kalau jenisnya kau tahu darimana?" tanya Ghina.

"Darimana? Ya pasar gelaplah! Emangnya mau dimana lagi?" kata Nindya.

"Hm… boleh… dimana tempatnya?" tanya Xanxus.

"Hehe… nanti kukasih alamatnya sekalian ngerjain pekerjaan sambilan~" kata Nindya dengan dark aura dibelakangnya.

"Ushishi. Ternyata kau punya pekerjaan sambilan?" tanya Bel.

"Punya dong~" jawab Nindya.

"Apa itu?" tanya Reborn.

"Rahasia~" jawab Nindya yang gak nyadar mulai di interogasi.

"Bayarannya mahal?" tanya Mammon.

"Lumayan… sebulan bisa dapat uang lebih dari 3 juta rupiah…" kata Nindya.

"Pekerjaan apa itu to the extreme?" tanya Ryohei dengan suara toanya.

"Kan sudah dibilang rahasia!" kata Nindya.

"Kasihan si Nindy ya…" kata Ghina.

"Habisnya yang punya pekerjaan sampingan diantara kita semua Cuma dia doang sih…" kata Renata.

"Ah! Kita sudah sampai!" kata Nindya yang langsung turun duluan untuk keluar dari interogasi orang-orang KHR itu.

"Berarti sekarang kita misah… nanti kita akan ngumpul dirumah Nindya." Kata Ghina berusaha mengingatkan.

"Beres! Aku tinggal bilang Udin saja kok~" jawab Nindya.

"Aku sih, tak keberatan," Jawab Renata. "Sekalian bisa bolos les…" lanjutnya lagi yang berhasil bikin Ghina ama Nindya sweat drop.

"Ya udah ya! dadah!" kata Mereka bertiga yang mulai berpisah.


With Nindya, Yamamoto, Mammon and Lussuria

"Jadi udah pada ingat? Habis naik angkot nomor 20 naik angkot yang nomornya 08 ini." Jelas Nindya.

"Aku sudah hafal." Jawab Mammon.

"Haha! Ternyata kalau ingin kerumahmu Cuma naik angkot 2 kali ya? mudah sekali!" kata Yamamoto sambil tertawa.

"Ma~ tentu saja aku sudah hafal~" jawab Lussuria.

"Tolong jangan gunakan nada itu…" kata Nindya tanpa ekspresi.

"Kenapa~?" tanya Lussuria.

"Pikir saja sendiri." Jawab Nindya.

"Hahaha! Jangan begitu Nin kita semua ini kan teman!" kata Yamamoto sambil merangkul pundak Nindya.

"Si banci dan bayi matre tidak termasuk." Jawab Nindya dengan muka masam.

"Mu… siapa yang kau bilang bayi matre?" tanya Mammon.

"Coba tebak saja sendiri." Kata Nindya sambil berpikir. "Si banci dan Yamamoto sih aman saja tak menghabiskan uangku… tapi kalau si arcobaleno matre ini… *sigh* kira-kira berapa bulan lagi aku bisa beli duel disk?" pikir Nindya pasrah.

"Lihat deh cowok yang berambut hitam itu…" bisik salah satu anak perempuan dari sekolah entah berantah.

"Iya aku lihat. Keren ya…" jawab temannya lagi.

"Kalau gak salah tadi namanya Yamamoto…" kata anak cewek itu lagi.

"Jangan-jangan pacar cewek yang duduk disebelahnya…" kata temannya lagi.

"Gak mungkin. Yang cewek itu pasti lebih keren kalau jadi cowok…" kata cewek itu agak kencang sehingga Nindya bisa mendengarnya meskipun sedikit.

"CUKUP! Baru saja kemarin aku dan Ghina syok karena mendengar Diesty yang bilang aku ganteng kalau lepas kerundung! (ps: yang ini beneran lho.) Sekarang kumpulan anak perempuan ini lagi? GRR! Oh ya! itu saja!" pikiran Nindya menghasilkan ide jahat.

"Ni-Nindya-chan…" panggil Lussuria gemetaran karena merasakan dark aura dari Nindya.

"Permisi… kakak-kakak sekalian anak SMA 61 ya?" tanya Nindya sopan.

"Iya… memangnya kenapa?" jawab salah satu anak perempuan yang tadi lagi ngegosip.

"Wah! Kebetulan sekali… boleh saya minta no. HPnya dan juga alamat kakak-kakak sekalian. Jangan lupa nama kakak juga ya…" pinta Nindya.

"Buat apa ya?" tanya teman dari cewek itu.

"Kebetulan di sekolah saya sedang ada projek untuk mewawancarai anak SMA, nah kebetulan saya disuruh mewawancarai anak SMA 61, jadi saya minta tolong kekakak-kakak sekalian untuk membantu saya…" kata Nindya.

"Hm… apa bayarannya?" tanya cewek yang tadi.

"Tentu saja kalau bagus hasilnya nama kakak bisa tersebar ke seluruh Indonesia, dan peluang menjadi artis semakin besar (A/N: Apa hubungannya coba?)." Kata Nindya seperti seorang penjual yang sedang mengincar mangsanya.

"Um… boleh deh (A/N: Yang ini bego pula mau-mau aja ditipu!)." Kata cewek itu memberikan semua yang dipinta Nindya.

"Aku juga deh!" kata teman dari cewek itu.

"Terimakasih banyak. Ah! Kiri! Nah kakak-kakak sekalian saya daan teman saya duluan ya… nah ayo Yamamoto-kun, Lussuria-san, Mammon-chan! Ayo kita turun." Kata Nindya yang masih berakting.

"Jangan lupa ya!" kata kumpulan cewek yang ditipu Nindya dengan nada setengah mengancam.

"Iya!" jawab Nindya dengan tersenyum polos.

"Oy… Nindy… kau gak apa-apa…?" tanya Yamamoto ketakutan.

"Tentu saja. Apa yang kau pikirkan Yamamoto?" tanya Nindya yang sudah balik kesifat asalnya.

"Mu… tadi kau berencana apa?" tanya Mammon penasaran.

"Hehe…" Nindya mulai tertawa misterius.

"Nindya-chan…" kata Lussuria ketakutan.

"Hehe… aku hanya akan memberi mereka sedikit(?) dari neraka siksaan ala Nindya Hussein Putri~" kata Nindya senang.


With Renata, Xanxus, Belphegor and I-pin

"Hoi sampah! Kapan kita sampai?" tanya Xanxus agak kesal.

"Habis ini tinggal naik 05 A. Sabar sedikit, stronzo." Balas Renata.

"Ushishishi, baru kali ini ada orang yang berani melawan bos. Ushishishi, tampaknya ini akan menarik." Kata Bel.

"Ah! Kiri." Kata Renata lagi.

"Kenapa sekarang sampah?" tanya Xanxus.

"Kita naik angkot 05 A itu." Kata Renata sambil menyetop angkot 05 A.

"Naik." Kata Renata.

"Maaf merepotkan." Kata I-pin.

"…" Renata terus memperhatikan I-pin dengan tajam.

"Ada apa sampah?" tanya xanxus agak marah.

"Ushishishi, apa kau menemukan sesuatu yang menarik?" tanya Belphegor.

"Nya?" I-pin hanya bisa bingung.

"Holy s**t! Nanti I-pin mesti dipisahin sama Hibari! Kalau gak nanti satu Grand Indonesia bisa hancur jadi puing-puing doang!" tiba-tiba Renata teringat sesuatu.

"Nya?" I-pin hanya bisa bingung.

"Memangnya kenapa cewek yang satu ini mesti dipisahin sama sampah (baca: Hibari) itu, sampah?" tanya Xanxus.

"… kau mengucapkan kata sampah 2 kali dalam 1 kalimat." Kata Renata.

"Ushishi tak apa-apakan. Bos itu memangnya punya kekhususan." Kata Belphegor.

"Kekhususan matamu buta. Daripada itu jangan mengeluarkan kata-kata sampah diangkot ini." Kata Renata.

"Kenapa?" tanya Belphegor.

"Soalnya nanti bisa-bisa saya yang dianggap bersalah." Kata Renata yang sedari tadi menahan amarah karena penumpang yang lain ngomongin dia, I-pin, Xanxus dan Belphegor.

"Ushishi tampaknya disini bakal ada target baru~" kata Belphegor yang udah nyiapin knifenya.

"Jangan bego! Nanti bisa-bisa gw yang gak bersalah ini dimasukin ke penjara juga!" kata Renata sambil berusaha menahan Belphegor menjadikan para penumpang angkot sasaran latihan lempar knifenya.

"Nya?" I-pin hanya bisa bingung karena sedari tadi dia udah dipakain ear plug sama Renata buat gak ngedengar perkataan penumpang yang ada diangkot.

"Ushishi tampaknya pangeran sudah kehilangan minatnya." Kata Belphegor yang akhirnya berhasil dibujuk ama Renata supaya para penumpang yang lain gak jadi korban knifenya Belphegor.

"Fiuh… akhirnya sudah tenang." Kata Renata. "EH!"

"Mati kalian dasar sampah!" kata Xanxus sambil menyiapkan tangannya yang sudah ada flamenya.

"A****t loe Xanxus! Loe mau bikin kita semua mati gara-gara flame loe apa? Cepat hilangkan itu flame!" kata Renata.

"… berisik sampah!" kata Xanxus dengan tangannya yang masih mengeluarkan flame.

"Maniak stronzo! Loe dengar gak?" kata Renata. "Eh… Kiri bang!"

"Kenapa tiba-tiba mobil jelek ini berhenti sampah?" tanya Xanxus dengan flame yang sudah menghilang entah kemana.

"Kita sudah sampai. Tinggal jalan sedikit doang." Kata Renata sambil melepas ear plugnya I-pin.

"Ushishi kira-kira gimana reaksi keluargamu melihat kami?" tanya Belphegor.

"Entahlah." Kata Renata sambil berpikir "Kalau I-pin sih masih bisa diterima, tapi kalau 2 orang ini… entah gimana nasibnya."


With Ghina, Tsuna, Reborn and Ryohei

"Maaf merepotkanmu Ghina-san." Kata Tsuna.

"Gak apa-apa kok!" kata Ghina.

"Ngomong-ngomong Ghina! Rumahmu udah mau sampai to the extreme belum?" tanya Ryohei.

"Uh… masih agak lama…" jawab Ghina.

"Oy Ghina. Apa orangtuamu tidak keberatan untuk menampun kami?" tanya Reborn.

"Gak apa-apa kok! Lagian masih ada sisa 1 kamar lagi dirumahku. Dan kasur nya bertingkat." Kata Ghina.

"Ho begitu…" kata Reborn.

"*BEEEEEEEEEEEEEPPPPPPP*" tiba-tiba supir angkot menyetel lagu.

"Inikan lagu dangdut!" pikir Ghina sweat drop.

"Ghina? Ini lagu apa to the extreme? Lagunya enak didengar to the extreme!" kata Ryohei sambil mulia menikmati lagu dangdut itu.

"Ini lagu khas Indonesia Ryohei. Namanya Dangdut…" jawab Ghina sweat drop.

"Woh! Jadi namanya dangdut! Namanya keren to the extreme!" kata Ryohei.

"Onii-san…" kata Tsuna sweat drop.

"… dasar bodoh…" kata Reborn pelan.

"Ghina apa kau punya lagu dangdut to the extreme dirumahmu?" tanya Ryohei.

"Gak! Lagunya alay." Jawab Ghina tegas.

"Kau tidak seru to the extreme ah Ghina!" kata Ryohei.

"Memang gak!" jawab Ghina yang bikin Tsuna sama Ryohei Sweat drop.

"Ah! Kiri!"

"Sudah sampai?" tanya Reborn.

"Gak kok! Habis ini mesti jalan masuk kedalam gangnya. Agak jauh sih." Kata Ghina.

"Kalau begitu aku akan sambil berlari to the extreme." Kata Ryohei.

"Mending kau hapal jalannya." Kata Ghina.

"Daripada itu lebih baik kita cepat." Kata Reborn sambil naik ke pundak Ghina.

"Baiklah!" kata Ghina sambil mulai memimpin jalan.


Diesty's House

"Kita sudah sampai!" kata Diesty senang.

"Kufufu… akhirnya sampai." Kata Mukuro yang udah kepanasan dari tadi.

"Assalamu 'alaikum!" Kata Diesty sambil masuk kerumahnya.

"Permisi." Kata Chrome.

"Kufufu…" Mukuro hanya berkufufu ria.

"…" Hibari sih no coment aja.

"Yak sekarang tinggal ganti baju abis itu kerumahnya Nindy!" kata Diesty sambil masuk kekamarnya untuk ganti baju.

"Hm… kira-kira kita bakal tidur dimana?" tanya Mukuro kepada Chrome.

"Lebih baik kalau anda tanyakan langsung ke Diesty-san." Jawab Chrome.

"…" Hibari hanya diam sambil berpikir juga.

"Nah ayo berangkat!" kata Diesty yang sudah memakai baju berwarna hitam lengan pendek dan juga celana jeans warna biru gelap, ditambah tas selempang kecil.

"Sebelum itu aku ingin bertanya dulu Diesty-san." Kata Mukuro.

"Apa itu Muku-sama?" tanya Diesty senang.

"Kami bakal tidur dimana?" tanya Mukuro.

"Ya disini! Nanti tinggal kukasih kasur saja." Kata Diesty yang menunjukkan ruang keluarganya.

"Aku tak mau tidur satu kasur dengan 2 orang yang mempunyai rambut nanas." Kata Hibari.

"Tapi Cuma ini sisa tempatnya." Kata Diesty.

"Hm…" Hibari mulai menuju ke sofa dimana tumpukan cucian kering ditaruh disitu dan menyingkirkan semuanya dari atas sofa itu.

"Ah! Cucian ibuku!" kata Diesty kaget.

"Aku tidur di sofa ini saja." Kata Hibari.

"Te-terserah deh!" kata Diesty sweat drop.

"Um… bukannya lebih baik kalau sekarang kita kerumahnya Nindya-san?" Kata Chrome mengingatkan.

"Ah! Benar juga!" kata Diesty.

"Kufufu kira-kira disana Tsunayoshi sudah datang belum?" Kata Mukuro.

"Daripada itu mendingan sekarang kita buru-buru!" kata Diesty sambil memakai sendal sepatunya.


Arya's House

"Vooii! Jadi disini rumahmu?" kata Squalo.

"Berisik! Kecilkan suara toamu." Kata Arya.

"Hah?" Squalo hanya bisa bingung.

"Tolong dimaklumin saja Arya-nii. Squalo-nii itu mendapat ranking nomor 1 untuk suara yang paling keras di mafia." Jelas Fuuta.

"Saya tahu…" kata Arya. "Oh ya! gw lupa kalau ada si Fuuta disini… apa gw sekalian minta dilihat rankingnya aja kali?"

"Oy. Aku ganti baju dulu. Kalian duduk aja di sofa." Kata Arya sambil mulai berjalan untuk ganti baju.

"Nyahahaha! Apakah disini ada permen?" kata Lambo. "HA! Ada anggur! Yippie! Lambo-san sangat suka anggur." Kata Lambo yang sudah bersiap-siap untuk menelan anggur bohongan yang biasanya dipakai buat pajangan ruang tamu.

"… Oi aho ushi! Itu bukan anggur!" kata Arya yang langsung mengambil anggur yang sudah siap dilahap oleh Lambo.

"Hua! Itu anggurnya Lambo-san!" kata Lambo sambil berusaha merebut anggur bohongan itu.

"Berisik!" kata Arya sambil menjambak rambut Lambo.

"Oy! Daripada lama mendingan pada langsung kerumahnya Nindya sekarang ajalah." Kata Arya. Kini pakaiannya berupa kaus hitam normal dengan celana jeans longgar.

"Vooiiii! Kita sudah pergi sekarang?" tanya Squalo.

"Iya." Kata Arya yang udah keluar pagar rumahnya bersama Lambo dan Fuuta.

"Vooi! Tunggu!" kata Squalo yang langsung berlari keluar.


Aisya's House

"Hah… jadi habis makan kita akan kerumahnya Nindya." Kata Aisya yang capek karena berhasil membujuk orangtuanya agar Gokudera, Levi dan Bianchi boleh tinggal sementara disana.

"Kalau begitu aku bisa bertemu dengan Juudaime?" tanya Gokudera senang.

"Ya… kau bisa bertemu dengan Tsuna." Kata Aisya yang sedang makan.

"Sebagai rasa terimkasih sudah membiarkan kami tinggal disini bagaimana kalau aku menyiapkan sarapan setiap pagi?" tawar Bianchi.

"Bianchi-san lebih baik tak usah menyentuh dapur saja…" kata Aisya sambil sweatdrop

"Aku setuju akan hal itu." Kata Gokudera.

"… yak sudah selesai! Nah ayo kita berangkat kerumahnya Nindy!" kata Icha yang kini sudah memakai baju putih lengan panjang, kerudung warna putih serta rok warna pink yang panjang, disertai dengan tas kecil.

"Akhirnya aku bisa bertemu Juudaime lagi." Kata Gokudera.

"Reborn~ kita akan bertemu lagi~" kata Bianchi.

"Bos…" kata Levi.

"Kok aku dapat orang yang agak tidak normal ya?" pikir Aisya.

"Kalau begitu ayo berangkat." Kata Aisya sambil mulai memimpin jalan.


Nindya's House

"Assalamu 'alaikum!" kata Nindya yang langsung masuk kerumah tanpa membereskan sepatunya terlebih dahulu.

"Jadi ini rumahmu Nin?" tanya Yamamoto.

"Iya." Jawab nindya.

"Ma~ apakah kau punya koleksi baju?" tanya Lussuria.

"Sebenarnya sih gak mau, tapi terpaksa sih." Jawab Nindya.

"Ternyata kau memang benar orang kaya." Kata Mammon.

"Berisik! Mbak! Makanannya udah jadi belum?" kata Nindya dengan amat sangat tidak sopan sambil melempar tas sekolahnya.

"Tumben pulangnya terlambat?" tanya Ipah sang asisten orangtua Nindya (baca: pembokat.) yang baru datang dari dapur.

"Ada sedikit urusan." Jawab Nindya.

"Ngomong-ngomong mereka siapa Non?" tanya Ipah.

"Ha… gak penting… nanti saya jelasin kamu bingung sendiri." Kata Nindya sambil mulai naik kelantai atas untuk mengganti bajunya.

"Haha! Permisi." Kata Yamamoto.

"Maaf kalau merepotkan~" kata Lussuria.

"Mohon bantuan uangnya." Kata Mammon.

"Kalian tunggu dibawah aja. Aku cuman sebentar." Kata Nindya yang sedang berjalan kekamarnya.

"Huwa! Ini namanya apa?" tanya Yamamoto takjub melihat makanannya.

"Ini… beef steak…" jawab Ipah ragu.

"Huwa! Tampaknya enak." Kata Yamamoto.

"Kau tahu dimana biasanya dia menyimpan uang?" tanya Mammon.

"Maaf sekali adik kecil… tapi saya tidak tahu." Jawab Ipah sweat drop.

"Kalau tempat kumpulan baju~?" tanya Lussuria.

"Biasanya baju Non Nindya ada dikamarnya." Jawab Ipah.

"Baiklah kalau begitu!" Lussuria langsung naik kelantai 2 untuk masuk kekamarnya Nindya.

"Gak apa-apa tuh?" Katanya Yamamoto.

"Entahlah…" jawab Mammon.

"Nindya-chan! Aku masuk ya!" kata Lussuria yang main nyelonong masuk kekamar Nindya.

"Tung-" belum selesai Nindya berbicara Lussuria sudah masuk kekamar Nindya dan melihat Nindya tanpa kerudung.

"Dasar banci! Gw udah bilang tunggu! Sana pergi kebawah!" kata Nindya sambil menendang Lussuria keluar.

"Nindya-chan… kau cowok ya?" tanya Lussuria.

"Mati sana, you *Beep*!" teriak Nindya.

"Mereka kenapa ya?" tanya Yamamoto sweat drop.

"Mungkin ada suatu rahasia yang bisa dijual." Kata Mammon sambil menyiapkan kameranya.

"Nah. Soupnya udah jadi~" kata Ipah senang.

"Aduh~ Nindya-chan jahat… aku kan Cuma bercanda…" kata Lussuria.

"Kalau kau sampai membongkarkan hal tadi… akan kusiksa kau…" ancam Nindya yang kini sudah memakai baju kemeja lengan panjang warna biru dengan panjang setengah paha dan celana jeans kain warna putih beserta kerudung berwarna biru muda dan tas kecil juga laptonya + modem.

"Hahaha!Tampaknya ada hal seru terjadi!" kata Yamamoto.

"Gak juga… daripada itu mendingan kita makan sekarang aja." Kata Nindya yang sudah duduk dimeja makan sambil memainkan laptopnya(?)

"Sedang apa kau Nin?" tanya Yamamoto yang mulutnya penuh dengan makanan.

"Bukan apa-apa~" kata Nindya sambil tersenyum.

Access success. Ready to transfer data

Transponders berhasil terhacking

"Hm… ternyata gampang" kata Nindya sambil melahap makanannya.


Renata's House

"Ngerti! Jadi jaga omongan kalian waktu ada orangtuaku!" kata Renata mengingatkan Xanxus.

"Kh… kenapa aku harus tinggal di rumah yang seperti ini?" kata Xanxus.

"Daripada tinggal dijalanan." Kata Renata.

"Ushishi tampaknya untuk sementara waktu kita harus menahan diri bos." Kata Belphegor.

"Nya?" lagi-lagi I-pin hanya bingung.

"Ya… meskipun begitu yang diterima dengan lapang dada cuma I-pin doang sih." Kata-kata Renata berhasil membuat Belphegor sweat drop.

"Renata! Jadi gak kerumahnya Nindya?" panggil ayah Renata.

"Iya! Bentar lagi! Renata lagi siap-siap!" padahal Renata sudah siap daritadi dengan memakai baju berwarna abu-abu, celana berwarna hitam, kerudung putih dan tas kecil.

"Nanti di mobil jangan sekali-kali ngucapin kata-kata yang tidak pantas!" peringat Renata.

"Aku mengerti sampah!" kata Xanxus yang langsung turun kelantai bawah untuk segara masuk kemobil.

"Dasar maniak stronzo." Kata Renata.

"Ushihi daripada itu, Renata aku suka dengan manga ini." Kata Belphegor sambil memegang manga 'HellSing'.

"Ho… aku punya sampai no.3, mau baca nanti di mobil?" tawar Renata.

"Ushishi tampaknya boleh. Manga ini menyenangkan untuk dibaca." Kata Belphegor.

"Ya… banyak adegan berdarahnya sih, makanya seru." Kata Renata.

"Renata! Kamu ngapain lagi sih? Xanxus ama I-pin saja sudah siap! Ayo berangkat kasihan Nindya ama yang lain kelamaan nunggunya!" kata Ayah Renata.

"Iya ini Renata turun!" kata Renata sambil mengajak Belphegor untuk segera berangkat.

"Dasar sampah!" komentar Xanxus dalam hati.

"Nanti pas kalian beli baju papa mampir ke mall yang diseberangnya. Biar kalian gak keganggu." Kata ayah Renata.

"Makasih pa…" jawab Renata gak niat didalam mobil


Ghina's House

"Reborn-san, Tsuna, Ryohei, Inilah rumahku!" kata Ghina saat tiba di rumahnya

"Rumah yang tidak terlalu besar.." komentar Reborn

"Ya Memang~" kata Ghina

"Ayo masuk!" ajak Ghina

"Assalamu 'alaikum!" Ghina mengucapkan salam saat membuka pagar rumahnya

"Permisi..." kata Tsuna

"Ah... Ga ada orang.. Jadi pasti kuncinya di..." Ghina mencari kunci rumahnya. Di sekitar pintu masuk

"Aku penasaran dalam nya seperti apa to the extreme..." kata Ryohei

"Oh~ Ada!" kata Ghina dengan senangnya. Ia pun membuka pintu rumahnya

"Wah... Rumah yang rapih.." komentar Reborn

"Rumahnya bersih to the extreme!" kata Ryohei

"Ah... Berlebihan..." kata Ghina pelan

"Maaf, sebentar, ya... Aku mau taruh tas dulu... Kalian duduk di situ saja dulu.." kata Ghina sambil berjalan ke kamarnya

Beberapa menit kemudian...

"Yosh! Nanti kita ke rumah Clea dulu, ya!" kata Ghina yang baru saja keluar kamarnya dengan pakaian lengan panjang warna putih dan celana hitam nya. Plus kerudung berwarna putih

"Rumah orang yang bernama Clea ini tidak jauh, kan?" tanya Ryohei

"Enggak kok. Cuma jalan sedikit" kata Ghina sambil berjalan kebelakang, menaruh baju kotor nya

"Tsuna, kau harus belajar mandiri seperti itu" kata Reborn singkat

"A-ah.. I-iya..." kata Tsuna sambil sweatdrop

"Ay—Akh... sebentar, ada yang harus ku lakukan.." kata Ghina. Dia berlari ke kamar mandi. Tak lama kemudian, dia langsung masuk ke kamarnya

"Er... Ghina mau ngapain, itu?" tanya Tsuna

"Tidak tahu" jawab Reborn singkat

"Ah... Kapan kita berangkatnya to the extreme?" tanya Ryohei

"Ya... Bersabarlah sedikit..." kata Reborn. Tak lama kemudian, Ghina keluar dari kamarnya

"Yosh! Sekarang sudah siap! Ayo kita berangkat!" kata Ghina

"Tadi kamu ngapain to the extreme?" tanya Ryohei

"Er... Tadi aku melakukan kewajiban dari agamaku. Ya.. Beribadah" kata Ghina

"Oh..." kata Reborn pelan

"Tunggu... Mereka Atheis, ya?" pikir Ghina dalam hati, tapi, ia tidak menanyakan pertanyaan yang Ghina anggap kurang penting itu. Setelah meninggalkan sebuah catatan, Ghina pun berangkat ke rumah Clea


Clea's house

Mereka sudah berdiri di depan pagar berwarna hijau yang terbuka sedikit. Dengan beberapa pohon di sekitarnya.

"Er... Kalian tunggu di luar sebentar, ya.." bisik Ghina

"Kenapa?" tanya Reborn

"Ya... Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.." kkata Ghina

"Misalnya... Kalau dia lupa tentang kalian, nanti bisa-bisa dia langsung bilang 'Wah! Cowok uke!' pas liat Tsuna. Untung aja bukan Hibari.." kata Ghina

"Er... Kalau Hibari-san responnya gimana?" tanya Tsuna sambil sweatdrop

"Eto... Mungkin, clea bakal bilang 'Wah! Cowok keren' dan udah tau, kan responnya Hibari kayak apa..." kata Ghina

"Terus kayaknya kalau dia inget responnya tambah parah deh.." kata Ghina sambil sweatdrop

"Udah ah. Nanti kelamaan..." kata Ghina mengakhiri pembicaraan

"Permisi, Assalamu 'alaikum!" Ghina mengucapkan salam sambil membuka pintu pagar rumah tersebut, kemudian berlari-lari kecil ke pintu belakang rumah itu, Pintu yang biasanya terbuka dan sekarang memang sedang terbuka

"Permi- What the-" Ghina jawdrop

"Ah... Ada tamu? Clea-san! Ada tamu!" kata seorang laki-laki berambut kuning yang sedang duduk di meja makan di dekat dengan pintu belakang yang Ghina masuki

"Ah, Sebentar, Dino-san!" kata Clea yang seperti nya ada di kamarnya

"Di... no..." kata Ghina sambil sweatdrop

"Ah? Kau tahu namaku?" tanya Dino

"Tentu saja... Tolong bilangin Clea sebentar, ya. Saya mau manggil tamu lainnya..." kata Ghina sambil berjalan keluar untuk memanggil Tsuna, Reborn, dan Ryohei. Sebelum mereka masuk, pintu depan terbuka

"Ghina~ Lew-" Clea yang membuka pintu tidak melanjutkan kata-katanya

"Responnya sama denganku.." kata Ghina pelan

"Akh... Tamu-tamu yang menyenangkan~ Silahkan masuk!" kata Clea yang udah sadar dari pesta jawdrop nya

Ghina, Tsuna, Reborn, dan Ryohei pun masuk

"Permisi..." kata Tsuna

"Dino-san! Ada adik mu!" kata Clea

"Akh! Disini ada Dino-san?" tanya Tsuna kaget

"Sepertinya Gianinni membuat peluru tambahan..." kata Reborn

"Ah! Tsuna! Reborn!" kata Dino sambil berjalan ke arah Tsuna dan Reborn

"Ternyata kau juga datang, Dino.." kata Reborn

"Gimana kamu bisa nemuin dia?" tanya Ghina

"Eto... Tadi... Pas mau pulang, aku balik lagi ke kelas buat ngambil barang yang ketinggalan. Tiba-tiba, ada suara ledakan dari kelas. Pas aku kesana, ternyata ada Dino sama Romario~" jelas Clea

"Ku kira ga ada Romario... Dimana dia sekarang?" tanya Tsuna

"Dia ada di dapur" kata Dino sambil menunjuk ke arah dapur

"Oh, ya, Clea! Akan ku jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi!" Ghina pun mulai menjelaskan

"Oh... Jadi begitu... Terus, tadi kamu bilang kalian ngundi orang yang tinggal di rumah kalian, kan? Hasilnya gimana aja?" tanya Clea

"Seperti yang kau lihat, yang tinggal di rumah ku Tsuna, Reborn, dan juga Ryohei. Terus, Di rumah Nindya ada Marmon, Yamamoto, sama Lussuria. Temenku, namanya Arya, dia dapet Fuuta, Lambo, dan Squalo. Kalau Renata dapet Xanxus, I-pin, Belphegor. Temen ku, Aisha, dapet Gokudera, Bianchi, dan Leviathan. Terus..." Ghina tidak melanjutkan kata-katanya

"Eh, tunggu... berarti sisanya... di rumah Diesty..." kata Clea

"Yup. Di rumah anak itu ada Mukuro, Hibari, dan Chrome" kata Reborn

"What the-? Kenapa Mukuro, Hibari, sama Chrome serumah?" protes Clea

"Ya... Kalau di undi ulang, kejadiannya bakal persis kayak si author. Ga selesai-selesai undiannya..." kata ghina sambil nunjuk-nunjuk author

"Lagi pula hasil sebenarnya itu Hibari, Tsuna, dan Mukuro" kata Reborn

"Ugh... Aku tidak suka kalau 18 tidak dengan D!" kata Clea

"Er... Clea-san... Boleh aku tanya, sebenarnya, apa arti dari kode-kode itu?" tanya Tsuna

"Ya! Aku sangat penasaran to the extreme!" timpal Ryohei

"Kayaknya lebih aman kalau kalian ga di kasih tahu soal kode itu... Kalian juga bakal illfeel kalau tahu.." kata Ghina sambil sweatdrop

"Oh.. Baiklah.." Tsuna ikut-ikutan sweatdrop

"Udah, ya, Clea! Aku pasti udah ditunggu Nindya.." kata Ghina

"Emangnya mau ngapain?" tanya Clea

"Mau beliin baju buat mereka..." Ghina nunjuk-nunjuk ke arah Tsuna

"Dino-san ga mau sekalian beli baju?" tanya Clea

"Wah... Boleh, deh.." kata Dino

"Kalau gitu, aku ganti baju dulu, ya~" Clea berlari ke kamarnya


Nindya's House

"Nindya-chan~ Kapan kita berangkatnya~?" tanya Lussuria

"Sabar, dong! Tinggal tunggu Diesty, Ghina, sama aisha, nih!" balas Nindya

"Lebih baik kau cepat, Sampah!" kata Xanxus

"*sigh* diam kau, maniak stronzo.." kata Renata pelan.

"Fuuta! I-pin! Ayo main!" ajak Lambo sambil berlari-lari

"Lambo! Jangan lari-lari disini..." kata Fuuta

"Vooii! Bisa enggak, itu sapi diem?" tanya Squalo

"Kayaknya enggak. Kalau mau, di injek. Aja. Palingan nanti nangis terus jadi pake Ten-years bazooka, terus jadi TYL yang agak ga mengganggu" kata Renata

"Oh..." kata Squalo pelan. Squalo mendekati Lambo dan menginjaknya

"Ah.. beneran di lakuin.." kata Nindya samil sweatdrop

"Gotta.. Stay... Calm... HUWEEEE!" Lambo nangis, ngeluarin ten-years bazooka, terus pake bazooka itu

"Kan, benar~?" Renata tersenyum

"Ah... Sepertinya diriku yang 5 tahun begitu menyusahkan..." kata Lambo TYL yang muncul dari balik asap

"Ya memang.." kata Arya

"Ah.. kira-kira, ini dimana?" tanya Lambo

"Siapa yang mau jelasin?" tanya Arya

"Kamu aja, ar..." kata Nindya males-malesan

"Ah.. Oke.." Arya pun menceritakan masalah itu kepada Lambo TYL

"O.. Jadi begi-" Lambo berhentik sejenak. Ia ketakutan melihat seseorang di depan pagar

"Romeo... Romeo!" seseorang yang ternyata Bianchi itu menyiapkan poison cooking andalannya dan berlari ke arah lambo TYL

Untungnya, Lambo TYL udah balik lagi sebelum Bianchi melancarkan jurusnya. Jadi, Nindya (atau pun penghuni rumahnya) ga perlu susah-susah bersihin kotoran bekas poison cooking laknat itu

"Assalamu 'alaikum~" kata Aisha

"Ah... Juudaime belum datang, ya?" tanya Gokudera

"Yo!" panggil seseorang di belakang Gokudera yang ternyata adalah Ghina

"Tuh, Juudaime mu ada di belakang" kata Ghina sambil menunjuk orang di belakangnya

"Juudaime! Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Gokudera

"Aku hanya ke rumah Ghina, kok.." kata Tsuna sambil sweatdrop

"Siapa itu?" tanya Gokudera saat melihat Clea

"Perkenalkan, nama ku Clea Lizberth" kata Clea memperkenalkan diri

"Dia pemegang ring arashi" kata Ghina

"Oh.." balas Gokudera singkat

"Bisa kah kita cepat selesaikan acara bodoh ini?" tanya Hibari

"Tenanglah Kyouya. Kau disini tidak boleh bersikap sembarangan!" kata Dino

"Kufufu… Kau benar…" kata Mukuro sambil tersenyum

"Kalau begitu, kita siap berangkat, kan?" tanya Diesty

"Sip! Pembagian mobilnya... Yang di mobil ku Hibari, Dino, Romario, Xanxus, Gokudera, Squalo, Mammon, dan Belphegor. Di mobil Renata ada Bianchi, Fuuta, I-pin, Lambo, Reborn, Lussuria, Tsuna, Leviathan, Ryohei. Eto... sisanya?" tanya Nindya

"Aku bawa mobil kok~" kata Clea

"Oh! Baguslah! Kalau begitu, Arya, Aisha, Ghina, Diesty, Mukuro, Yamamoto dan Chrome di mobil Clea" kata Nindya

"Eto... Emang muat?" tanya Ghina sambil sweatdrop

"Voooi! Aku ga mau sempit-sempitan!" protes Squalo

"Udah, ah, Dari pada ga di beliin baju.. Besok-besok ga akan di anterin! Nyasar ga nanggung. Di tipu ga nanggung. Mati ga nanggung!" kata Nindya

"Kayaknya orang kayak mereka susah deh, matinya..." kata Tsuna sambil sweatdrop

"Eh! Tunggu! Mendingan Gokudera jangan dimobilku deh! Nanti dia ribut!" kata Nindya yang sadar dengan pembagian yang dia buat sendiri.

"Iya juga ya… belum lagi isinya mobilmu hampir semuanya Varia…" kata Ghina.

"Eto… Gokudera kau ditukar sama Lussuria saja deh…" kata Nindya.

"Gak apa-apatuh? Kataku sih mendingan semobil dengan Gokudera yang ribut daripada Lussuria." Kata Arya sambil jaw drop.

"Gak apa-apa. Soalnya nantikan mobilku jadi yang paling seru~" kata Nindya yang berhasil bikin teman-temannya jaw drop

"Ayo, ah! Nanti ke buru malem.." kata Renata

Mereka pun masuk kedalam mobil masing-masing.


Clea's car

"Bakal jadi apa tuh keadaan di mobilnya Nindya?" kata Arya yang masih takjub dengan perkataan Nindya yang sebelumnya.

"Hahaha!Tampaknya di Mobilnya Nindya seru ya!" kata Yamamoto.

"Wah! Aku semobil dengan Yamamo-chi dan Muku-sama! Sayang gak ada Hibari sama Dino disini." Kata Diesty senang.

"Kenapa dimobilku gak ada Dino-san sama Hibari? Kan aku bisa jadi ngebayangin D18!" kata Clea yang ada dibangku paling depan.

"Haha! Lagi-lagi kode aneh muncul! Sebenarnya itu artinya apa ya?" tanya Yamamoto.

"Kau gak usah tahu aja deh Yamamoto." Kata Aisya.

"Ya sudah kalau begitu." Kata Yamamoto yang masih nyengir gaje.

"Kufufu tampaknya aku tidak satu mobil dengan Tsunayoshi…" Kata Mukuro.

"… apa anda merasa keberatan Mukuro-sama?" tanya Chrome.

"Kufufu aku sama sekali tidak keberatan." Kata Mukuro.

"Aku malah mau Dino, Hibari sama Mukuro satu Mobil." Kata Ghina.

"Gak boleh! 18 itu hanya milik D!" kata Clea.

"… iya deh…" kata Ghina sambil sweatdrop


Renata's car

"Nyahaha! Pemandangannya bagus!" kata Lambo sambil memperhatikan gedung-gedung pencakar langit.

"Lambo, jangan ribut nanti ini mobil jadi tambah sempit." Kata Fuuta.

"Wek! Kau hanya iri saja kan Fuuta!" kata Lambo.

"Berisik aho ushi!" kata Gokudera yang sudah lewat batas amarah.

"Tenanglah Gokudera-kun. Kalau kau ikut marah bisa-bisa kosentrasinya ayah Renata-san dalam menyetir bisa terganggu." Kata Tsuna.

"Kalau juudaime bilang begitu, pasti akan saya patuhi." Kata Gokudera sambil mulai duduk tenang. Lagi.

"Wuoh! Jadi ini yang namanya jalan tol to the extreme?" kata Ryohei.

"Nyahaha! Ahodera! Kau hanya takut dengan Lambo-san karena tak bisa melawankan!" kata Lambo.

"Kono aho ushi…" kata Gokudera yang sudah sangat marah.

"Lambo dame!" kata I-pin.

"Lambo! lebih baik kalau kau tidak mebuat Hayato-nii marah." Kata Fuuta.

"A… urusai! Lambo-san masih ingin melihat pemandangan." Kata Lambo.

"Bos… kenapa aku tidak satu mobil denganmu?" kata Levi yang sedang memojok.

"Reborn~ akhirnya kita bisa satu mobil." Kata Bianchi sambil memangku Reborn.

"Tsuna! Lakukan sesuatu. Mobil ini sudah kelewat ribut." Kata Reborn sambil nodongin Leon yang berubah jadi pistol.

"He! Kenapa harus aku?" kata Tsuna kaget.

"Cih berisik! Aku jadi gak bisa dengar lagu dengan tenang." Pikir Renata kesal.

"Renata, coba kau kasih anak kecil yang namanya Lambo itu sama coklat ini." Kata ayahnya Renata.

"Hah? Buat apa?" tanya Renata bingung.

"Kasih aja." Kata ayahnya Renata.

"Oy aho ushi! Mau gak nih coklat!" kata Renata sambil nunjuk-nujukkin coklat.

"Mau! Lambo-san sangat suka coklat!" kata Lambo yang langsung menyambar coklat yang dipegang Renata.

"Itadakimassu!" kata Lambo senang.

"Tuh kan jadi tenang." Kata ayahnya Renata.

"Iya juga ya…" kata Renata pelan.

"Kau harus belajar banyak dari ayahnya Renta Tsuna." Perintah Reborn.

"Eh?" Tsuna hanya bisa kaget.

"Padahal kalau mau bilang berisik, pasti berisikan mobilnya Nindy…" pikir Renata.


Nindya's Car

"Voi! Apa yang kaulakukan terhadap rambutku hah?" teriak Squalo.

"Jangan begitu Squ~ aku hanya mengangumi rambut mu yang indah ini~" kata Lussuria.

"Voi! Jauhkan tanganmu dari rambutku!" teriak Squalo lagi.

"Ushishi tampaknya di mobil ini kita lebih bebas dari pada dimobil Renata kan bos?" tanya Belphegor.

"Diam kau sampah!" jawab Xanxus.

"… kamikorosu!" kata Hibari marah.

"Kyouya tenang lah! Lagipula ini kan mobilnya Nindya-san." Kata Dino.

"Cih! Masih salah…" kata Nindya pelan.

"Teman-teman barunya non Nidya makin ajaib aja…" pikir Udin sambil sweat drop.

"Bos… apa anda baik-baik saja?" tanya Romario.

"Aku baik-baik saja Romaria… hanya…" kata Dino ragu.

"Hanya apa?" tanya semua orang yang ada disitu kecuali Nindya, Xanxus, Hibari dan Udin.

"Nindya-san kan diam dari tadi… rasanya aku merasakan hal buruk dengan yang dia sedang lakukan bersama laptopnya…" jawab Dino.

"Kekeke masah sih?" tanya Nindya sambil mengetik password.

"Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampah?" tanya Xanxus.

"Melakukan pekerjaan sambilan~" jawab Nindya.

Code Accept

Ready to trensfer data

"Akhirnya masuk juga!" kata Nindya senang.

"Hah?" kata Dino bingung.

"Tinggal ngasih infonya doang~" kata Nindya.

"… herbivore jangan berisik." Kata Hibari.

"Baik~" jawab nindya.

"Oi sampah! Mana alamat yang kau janjikan?" tanya xanxus.

"Ini." Kata Nindya sambil menyerahkan sebuah kertas kecil.

"Bos… alamatnya banyak banget…" kata Belphegor sambil sweat drop.

"Yak sudah masuk uangnya~" jawab Nindya.

"Mu…" Mammon hanya terbang mendekati Nindya.

"Hm… padahal udah ngerjain 5 quest tapi hanya dapat segini… gak apa-apalah~" kata Nindya.

"Mu… kau baru saja mendapatkan uang 1 juta jadi tabunganmu sekarang ada *Bunyi klakson mobil* ternyata aku bisa mengambil uangmu tanpa ragu-ragu…" jawab Mammon.

"Huah! Sejak kapan kau ada disini?" tanya Nindya kaget.

"Dari pada itu Nindya-san…" kata Dino.

"Apa?" tanya Nindya sambil mulai mematikan laptopnya.

"Pekerjaan sambilan apa yang bikin kau menghasilkan uang segitu dalam 1 hari?" tanya Dino sambil sweat drop.

"Ah kita sudah sampai! Ayo kita langsung ke mobilnya Clea dan Renata." Kata Nindya mengalihkan pembicaraan.

"Dia melarikan diri…" pikir semuanya yang ada disitu.


Ditempat parkir

"Yo Clea! Gimana tadi keadaan mobilnya?" tanya Nindya.

"Baik-baik saja." Jawab Clea.

"Tadi kita membicarakan D1869!" jawab Ghina.

"Apalagi itu?" tanya Reborn yang sudah dari tadi di bahu Nindya.

"Sejak kapan?" pikir Nindya kaget.

"I-itu bukan apa-apa kok!" kata Ghina gugup.

"Haha! Lagi-lagi kalian membicarakan code tidak jelas itu lagi ya?" tanya Yamamoto.

"Beritahu kami to the extreme!" kata Ryohei.

"Yo!" panggil Renata.

"Ah! Renata." Kata Ghina.

"Udah malam gimana kalau kita langsung ke M******i aja." Usul Renata.

"Boleh deh… lagian aku belum ngerjain PR IPA dari bu May." Kata Diesty.

"Cacat kau Dies… masa belum ngerjain PR?" kata Aisya kaget.

"Kalau boleh jujur aku juga belum ngerjain." Kata Arya dan Nindya berbarengan.

"Kalian bertiga cacat…" kata Ghina.

"Iya deh yang rajin~" kata Renata.

"Berisik ah! Mendingan kita langsung ke M******i aja!" kata Ghina.

"Ya udah…" kata yang lain.


M******i Departement Store

Nindya Side

"Nindya-chan~ aku mau yang ini~" kata Lussuria sambil menunjukkan tank top warna pink

"Pilih baju yang lebih normal, banci!" kata Nindya.

"Um… memang baju yang kayak gimana?" tanya Lussuria.

"Baju laki-laki!" kata Nindya marah.

"Haha! Tenang Nin. Aku sudah selesai memilihnya…" kata Yamamoto.

"Mu… aku juga sudah selesai." Kata Mammon.

"Masalah harga sih gak apa-apa… tapi tolong doh Mammon kau jangan terbang begitu…" kata Nindya sweat drop


Renata Side

"Sampah aku sudah selesai milihnya." Kata Xanxus.

"*Beep!* bajunya jangan yang mahal-mahal!" kata Renata.

"Ushishi aku sudah selesai." Kata Belphegor.

"Baju tahanan semua (baca: Baju yang strip-strip gitu…) tapi mahal gak tuh?" tanya Renata.

"Gak kok!" kata Belphegor.

"Nya…" kata I-pin.

"Baju anak kecil murah, jadi gak masalah." Jawab Renata.


Ghina Side

"Ghina-san! Segini saja cukup?" tanya Tsuna.

"Yak cukup Tsuna." Jawab Ghina.

"Aku ini hanya…" kata Reborn.

"Gak masalah!" jawab Ghina.

"Ghina! Aku sudah selesai memilih to the extreme!" kata Ryohei.

"Yak gak ada yang salah." Kata Ghina. "Hm… kenapa ada sarung tangan boxing?" Ghina Sweat drop.

"Ada masalah to the extreme?" tanya Ryohei.

"Gak!" jawab Ghina singkat.


Clea Side

"Clea-san! Segini saja cukupkan?" tanya Dino.

"Yak cukup Dino-san!" kata Clea.

"Baguslah. Oi Romario kau juga ikut memilih!" kata Dino.

"Aku sudah cukup dengan setelan jas ini saja bos." Kata Romario.

"Ya sudahlah!" kata Dino.


Diesty Side

"Kufufu aku rasa ini sudah cukup."kata Mukuro.

"Muku-sama~ anda sudah selesai memilihnya?" tanya Diesty.

"Kufufu…" jawab Mukuro.

"Diesty-san… aku sudah cukup dengan baju ini…" kata Chrome.

"Baiklah! Nah kalau Hibari-san?" tanya Diesty.

"Aku juga sudah selesai." Kata Hibari.

"Baiklah!" kata Diesty.


Aisya Side

"Aisya. Aku sudah selesai memilih." Kata Bianchi.

"… kalau begitu tinggal nunggu yang lainnya." Kata Aisya.

"Oi perempuan! Aku sudah selesai!" kata Gokudera.

"Baiklah~ ke…kenapa ada gambar tengkorak semua?" tanya Aisya.

"Hah?" kata Gokudera.

"Bukan… bukan apa-apa?" kata Aisya.

"Aku sudah selesai." Kata Levi.

"Ya sudah kalau begitu." Kata Aisya.


Arya Side

"Voooi! Arya! Kau dimana?" teriak Squalo.

"Disini!" jawab Arya.

"Aku sudah selesai memilihnya!" kata Squalo.

"Lambo-san juga sudah selesai!" kata Lambo.

"Aku juga!" kata Fuuta.

"Ya sudah! Kita ke kasir saja." Kata Arya.


Kasir

"Semuanya sudah selesai?" tanya Ghina.

"Iya! Seragamnya juga sudah!" kata Nindya.

"Ya sudah ayo kita bayar!" kata Renata.

"Biar aku saja yang bayarin. Aku bawa atm sama kartu kredit." Kata Nindya.

"Kau… punya…" Arya tak bisa melanjutkan kata-katanya.

"Makasih Nindy~" kata Diesty.

"Makasih Nindya!" kata Aisya.

"Semuanya berapa mbak?" tanya Nindya.

"Semuanya ada-" kata-kata mbak itu dikalahkan oleh suara squalo.

"Vooooiiii! Aku lapar!" kata Squalo.

"Baiklah ini mbak!" kata Nindya sambil memberikan kartu atmnya.

"Ini, silahkan tanda tangan disini." Kata kasir sambil memberikan sebuah struk dan pulpen

"Vooi! Aku lapar!" kata Squalo lagi.

"Iya juga ya… udah jam 6.30 malam…" kata Clea.

"Ya sudahlah kita makan aja. Aku yang traktir." Kata Nindya.

"Kau memangnya tak masalah menghabiskan uang sebanyak itu?" tanya Reborn.

"Gak apa-apa kok… lagian ini kan memang balasan dari itu…" kata Nindya.

"Itu?" pikir Ghina, Reborn dan Tsuna bingung.

"Nah karena anda sudah belanja banyak, harap tarik undian ini~" kata penjaga kasir.

"Aku aja yang narik ya!" kata Nindya.

"Terserah. Yang penting cepat." Kata Hibari.

"Eto… nah ini." Kata Nnindya.

"Selamat! Anda memenangkan tiket ke bali selama 3 hari 3 malam untuk sekeluarga!" kata si penjaga kasir lagi.

"Howa! Lucky!" kata Arya.

"Ushishi tampaknya dia lagi beruntung." Kata Belphegor.

"Nindya-nee itu mendapat ranking no. 1 untuk masalah keberuntungan dari semua mafia." Kata Fuuta.

"He?" Tsuna hanya bisa kaget.

"Tampaknya nanti dia bisa berguna." Kata Reborn.

"Wah… aku gak bisa pergi soalnya lagi hari sekolah… ah ya! dijual di pasar gelap aja~" kata Nindya.

"Anak-anak yang baik jangan meniru adegan ini ya~" kata Ghina.

"Ah! Ya! aku mesti pergi cari baju batik formal dulu buat Yamamoto, Lussuria dan Mammon. Kalian duluan aja ke D'L**** C*** nya!" kata Nindya.

"Memangnya kau mau kemana sampah?" tanya Xanxus.

"Aku mesti ke B**** K**** dulu!." Kata Nindya sambi mulai memimpin jalan.

"… ya sudah kalau begitu kita ke D*'L**** C***nya duluan aja!" kata Ghina sambil memilih jalan.


D'L**** C***

"Nindya nyuruh kita ngumpul di café yang kita gak tahu… bikin susah aja…" kata Ghina kesal.

"Gak apa-apakan… akhirnya kita nyampe…" kata Aisya berusaha menenangkan yang lain.

"Gak apa-apa dari mana? Kita udah capek-capek nyari sampai lantai 7, ternyata pas kita telfon dia ini tempat *Beep!* ada dilantai 2…" kata Renata dengan dark aura.

"Habisnya kalian pada gak mau nanya sama satpamnya sih…" kata Aisya lagi.

"Nanti kita malah disangka orang kampung…" kata Diesty.

"Hahaha…" Aisya hanya bisa tertawa sambil sweat drop.

"Pokoknya nanti dia harus mentraktir kita sampai bangkrut." Kata Arya.

"Oy sampah! Kapan kita bisa masuk?" tanya Xanxus gak sabaran.

"Lho? Kenapa kalian masih disini?" kata sebuah suara.

"Nih anak bisa datang tanpa kecapean ya?" tanya Renata dengan dark aura.

"Oy! Perempuan! Beraninya kau mengerjai kami sampai kami naik ke lantai 7!" kata Gokudera marah.

"Ma ma Gokudera tenanglah." Kata Yamamoto berusaha menenangkan Gokudera.

"Ngerjain? Bukannya tadi pas kita mau ke M******* kita ngelewatin ini Café?" kata Nindya bingung.

"Ah…" mereka yang ada disitu mulai mengingat.


Flash Back

"Nanti kita makanya disini saja ya~" kata Nindya sambil menunjuk D'L**** C***.

"Terserah saja~" kata Diesty.

"Yang lain setuju gak?" tanya Nindya pada semua yang ada disitu.

"Asal disitu ada coffe yang enak aku tidak keberatan." Kata Reborn.

"Kami masih belum mengetahui tempat ini secara detail jadi kami ikut-ikut saja…" kata Tsuna mewakili semuanya.

"Baiklah! Berarti sudah diputuskan~" kata Nindya senang.

End Flash Back


"Jangan-jangan kalian lupa ya?" tanya Nindya.

"Kufufu tampaknya tempat ini hanya ada dinding berwarna putih…" kata Mukuro.

"Wangi coffenyaa tercium…" kata Reborn senang.

"Tempatnya bagus ya~" kata Ghina senang.

"Ah! Disitu ada tempat kosong!" kata Diesty.

"Kenapa kita gak minta meja kita digabung saja?" tanya Aisya.

"Ushishi tampaknya disini kita bisa bersenang-senang~" kata Belphegor.

"Huh! Kalau ditempat yang seperti ini sudah pasti tidak ada Vodka." Kata Xanxus.

"Oy Reborn! Kau jangan menyiksa Lambo terus!" kata Tsuna berusaha melerai Reborn yang ingin memukul Lambo dengan Leon yang jadi palu besar.

"Ayo Romario kita minta tolong sama pelayannya untuk menyatukan mejanya." Kata Dino.

"Voooii! Aku tidak peduli akan hal itu! Aku sudah sangat lapar sekarang!" kata (baca: teriak) Squalo.

"Sudah kuduga mereka semua lupa…" kata Nindya sambil jaw drop.

"Haha! Ayo kita masuk!" kata Yamamoto.

"Hah! Tempatnya bagus ya Nindy~" kata Arya sambil mulai menjatuhkan badannya kekursi yang empuk.

"Jangan mecoba mengalihkan pembicaraan…" kata Nindya kesal.

"Silakan~" kata sang pelayan sambil menyerahkan menu.

(A/N: Bagian ini juga saya skip~ soalnya malas~ /Plak!/)

"Makanannya lama ya?" kata Arya.

"Mendingan sabar aja, soalnya kan yang mesan banyak." Kata Ghina sambil melirik anggota varia, lebih tepatnya Squalo.

"Voooi! Apa maksudmu?" kata Squalo yang merasa dilihati oleh Ghina cs.

"Daripada itu bagaimana kalau kita membuka topik baru." Kata Reborn.

"Topik apa?" tanya Nindya yang baru mematikan laptopnya.

"Soal code yang kalian bicarakan…" kata Reborn dengan dark aura.

"Eh… buat apa?" tanya Aisya dengan muka horor.

"Code yang pertama kalian bicarakan yaitu 18276," kata Reborn yang membuat Ghina cs pada keselek semua. "18 itu Hibari, kan?" kali ini semuanya pada memasang tampang horor. "27 itu dame Tsuna. Dan 69 itu si kepala nanas, kan?" kata Reborn berhasil membuat Ghina cs sukses keselek berjaamaah.

"Siapa maksudmu dengan kepala nanas? Disini ada 2 orang berkepala nanas." Kata Gokudera.

"Siapa lagi kalau bukan si sexual harrasment itu." Kata Reborn sambil melirik Mukuro.

"Terus X itu Xanxus, kan? Terus S itu Squalo, kan? Terus R itu adalah aku sendiri bukan? La-" kata-kata Reborn di potong oleh Nindya, "Ah! Mari kita ganti topiknya!"

"Vooooiiii! Jangan diganti! Aku ingin tahu!" kata Squalo.

"Kalau begitu lanjut. L itu ada 3 si aho ushi, banci, dan muka gurita, B itu Belphegor dan Bianchi, M itu mammon, F itu Fuuta-" kini kita dipotong oleh pikiran Ghina.

"Tapi si Fran juga F. oh ya! mereka belum ke future ya?"

"Yamamoto itu 80, Gokudera 59, D itu Dino, Chrome 96, dan Ryohei 30." Reborn akhirnya menyelesaikan pembicaraannya.

"Wah makannanya datang!" kata Nindya senang.

"Nah sekarang kalian bisa menjelaskan soal k-" kata Reborn dipotong lagi oleh Arya.

"Kah! Perutku sakit! Bunyinya pom pom pom!" dan Reborn berhasil membuat Reborn mengubah Leon menjadi palu dan…

"Berisik! Jangan potong pembicaraanku!" kata Reborn yang memukul kepala Arya. Arya tewas pingsan seketika.

"Ja-jadi silakan lanjutkan…" kata Aisya sweat drop

"Jelaskan soal penggabungan code itu." Kata Reborn langsung to the point.

"Kombinasi code itu maksudnya pairing…" kata Diesty ragu membuat orang-orang KHR hujan local berjamaah.

"Jadi…" kata Reborn ragu.

"Biar aku yang menjelaskan!" kata Nindya.

"Oy… gak apa-apa kasih tahu mereka." Kata Arya sambil berbisik.

"Dari pada dibunuh ditempat…" kata Nindya.

"Voiii! Cepat!" kata Squalo.

"Um… kita mulai dari 27…" kata Nindya.

"Eh! Aku?" kata Tsuna kaget.

"Biasanya 27 di pairingin hampir sama semua orang, kecuali sama Levi, Bianchi, dan Lussuria." Kata Nindya yang sukses bikin orang-orang KHR pada mual masal.

"Beneran! Masa sampai Reborn dan Lambo?" kata Tsuna kaget.

"Iya… tapi kalau sama Lambo yang 10 atau 20 tahun kemudian. Kalau buat pairing 27, paling banyak sama 18. Kalau sama Reborn, pas Rebornnya udah sembuh dari Arcobalenno c-" tiba-tiba Nindya dipukul oleh Reborn.

"Nah lanjut yang lain…" kata Reborn tenang.

"Sakit…" keluh Nindya.

"Kebanyakan… atau malah hampir semua 27 jadi uke." Kata Ghina tegas.

"Juudaime… jadi… uke?" kata Gokudera horor.

"Iya! Sampai sama semua perempuan dia juga kebanyakan jadi uke…" lanjut Diesty.

"Apa aku seburuk itu…" kata Tsuna sambil mojok.

"Sekarang giliran 18!" kata Ghina senang.

"Hm…" meskipun gak minat Hibari tetap mendengarkan.

"Biasanya kalau gak sama D, 27 dan 69! Tapi aku lebih perfer ke D1869." Kata Ghina.

"Gak boleh! D itu hanya untuk 18! 69 sama 27 saja sana!" kata Clea.

"Tsuna buang aja sana…" kata Renata pelan.

"Juudaime tidak boleh dibuang!" kata Gokudera marah.

"Mendingan mana, sama si carnivore sinting itu atau sama si sexual harrasment?" tanya Renata.

"Ukh… juudaime lebih baik tidak bersama ke-2 orang itu…" kata Gokudera menyerah.

"Nah kalau X biasanya sama 27 atau gak S!" kata Diesty.

"Vooooiiii! Kenapa aku sama bos sampah ini?" tanya Squalo marah.

"Mana kutahu~" jawab Aisya.

"Haha! Kenapa kita jadi bahas pairing yaoi begini?" tanya Yamamoto sweat drop.

"Iya juga ya… si Bianchi jarang dipairingin sama Reborn. Paling gak dia yuri sama Kyoko kalau gak Haru…" kata Nindya cuek.

"…" Bianchi hanya diam seribu bahasa ketika mendengarkan percakapan mereka diam-diam (mereka beda meja, soalnya, kalau enggak, besok di headline koran ada tulisan 'Grand Indonesia meledak tiba-tiba'.)

"Kalau Belphegor biasanya sama Fran…" kata Arya.

"Ushishi siapa itu Fran?" tanya Bel.

"Nanti juga tahu sendiri." Kata Renata.

"Oh ya! kita melupakan Yamamo-chi!" kata Diesty.

"Haha! Sekarang giliranku kenaya?" tanya Yamamoto sambil sweat drop.

"Iya biasanya 80 itu jadi semenya 59~" kata Diesty.

"/Cough!/ Aku dipasangin sama yakyu baka ini? Tidak mungkin! Itu *BEEP!*, *BEEP!*, *BEEP!* tidak mungkin!" kata Gokudera marah.

"Uh… justru disitulah hintnya…" kata Aisya.

"…" Gokudera terdiam dan kemudian… "Kita berteman saja Yamamo-chan~!" sambil mengeluarkan aura damai.

"AH~" Diesty dan Ghina fangirling.

"Huek!" Aisya, Nindya dan Arya muntah ditempat.

"… Gokudera… itu malah nambah hint." Kata Renata.

"F***k!" Gokudera kembali kesifat awalnya dan mulai melempar garpu sebagai ganti dynamite kesayangannya.

"Hua!" Yamamoto menghindar dengan luwesnya dan garpu itu mulai melayang kearah Ryohei yang dari tadi aman dan tentram.

"! To the extreme!" Ryohei meninju garpu itu yang kini sudah jadi debu.

"Ryohei dari tadi kau diam kenapa?" tanya Ghina heran.

"Tadi aku lagi dengerin lagu dangdut di Mp3 to the extreme!" kata Ryohei.

"Lagu apa?" tanya Nindyayang langsung menyambar salah satu ear phonenya Ryohei

"Bang Toyib, bang toyib kenapa… abang gak pulang-pulang…"

Nindya langsung sweatdrop. Sedetik kemudian, dia langsung ngakak

"Buset! Sejak kapan Ryohei suka lagu dangdut! Hahahaha!" Nindya hanya bisa tertawa ngakak sambil memegangi perutnya yang mulai sakit.

"Silakan makananya~" kata beberapa pelayan yang menjejerkan makanan mereka.

"Asoy! Lagu dangdut memang enak!" kata Ryohei sambil makan.

"Hahaha! Stop! Perut gw sakit! Hahahaha! Gak bisa berhenti!" Nindya ngakak diikuti sweat drop semua pengunjung yang ada disitu.

"Kalian makan saja!" kata Reborn tegas dan akhirnya Nindya berusaha berhenti (meskipun masih ketawa juga) dan akhirnya mereka pun makan dengan suasana yang amat tidak damai ini dan pulang

To be continued


Nonohana: Fuh~ akhirnya selesai!

Ryohei: Bang toyib, bang toyib kenapa gak pulang-pulang to the extreme?

Nonohana: Stop! Hahaha! Bagi para Readers jangan lupa R&R! Sisanya saya serahkan ke LucyLucielle-sama! Hahaha! Stop! (Ngacir keluar studio sambil ngakak)

Lucielle: Yeah~ Giliran saya!

Ryohei: Hmmphh-!

Lucielle: tenang saja, si boxing maniak itu sudah ku atur~

Lambo: Nyahahahahaha! Lambo-san akan membantu mu! Kau pasti tidak bisa apa-apa tanpa Lambo-san!

Lucielle: … SIAPA YANG MASUKIN NI AHO USHI?

All: *nunjuk crew*

Lucielle: *death glare* Gaji mu kupotong, ya…

Crew: Akhh! Jangan! Saya masih punya dua istri (?) dan 4 anak!

Lucielle: Dasar tukang poligami…. *sweatdrop*

Lambo: Jadi… Mana permennya?

Lucielle: Tuh, kamu jalan kesana, terus buka tirainya. Nanti kamu ketemu deh, sama istana permennya

Lambo: Nyahaha! Akhirnya aku bisa mendapat kan sebuah istana permen!

Lucielle: Yak kita la—

Crew: Bukannya di belakang tirai itu ada *insert something that wiill make Lambo cry or die, maybe?*

Lucielle: Review nya Cuma dua, nih?

Crew: Aku dikacangin…

Ryohei: *udah berhasil ngelepas iketannya* Sabar to the extreme, ya!

Lucielle: Baiklah~ saya jawab, ya~? Yosh, pertama, dari Shi no Aria!

Q1: Saya minta detail OC-OCnya!

A1: A-a-ah... Baiklah...

Oozora:

Nama: Ghina Putri Oktavian

Umur: 13 tahun

Ulang tahun: 11 Oktober

Penampilan: sekolah: Tentu saja pake seragam lengan panjang plus kerudung. Lalu memakai kacamata dengan frame warna merah maroon dan hitam. Rumah: Biasanya pake baju santai dan tentu saja (karena baju santai) kerudungnya di lepas. Rambutnya hitam panjang, biasanya di kuncir.

Hare:

Nama: Nindya Hussein Putri

Umur: 14 tahun

Ulang tahun: 23 Februari

Penampilan: Sekolah: Seragam dengan lengan panjang (yang emang kepanjangan) plus kerudung. Pake kacamata dengan frame warna hitam. Rumah: Lepas kerudung (seperti yang sidah dtulis di atas). Rambutnya pendek (banget) sampe kadang-kadang di kira cowok

Kaminari:

Nama: Aisha Mardatila

Umur: 14 tahun

Ulang tahun: 3 Juli

Penampilan: Anak yang biasanya seragamnya paling lengkap. Dengan kerudung yang selalu ia pakai(bahkan di rumah). Di rumah, ia biasanya pake rok

Arashi:

Nama: Clea Lizberth

Umur: 14 tahun

Ulang tahun: 3 Februari

Penampilan: Sekolah: Pake kerudung dan juga seragam engan panjang tentunya. Dirumah, biasanya lepas kerudung. Rambut belakangnya pendek. Makin kedepan makin panjang.

Ame:

Nama: Diesty Dewantari

Umur: 14 tahun

Ulang tahun: 24 Juli

Penampilan: Di sekolah, dia satu-satunya dari 6 anak cewek ini yang ga pake kerudung. Rambutnya pendek. Pakai kaca mata dengan lensa warna pink

Kiri

Nama: Aria Setyadi

Umur: 14 tahun

Ulang tahun: ? (ga pernah mau ngasih tau)

Penampilan: Ya... Layaknya cowok biasa... Rambutnya tentu saja pendek. Dan juga... muka nya Arya tipe uke. /plak/

Kumo

Nama: Renata Larasati

Umur: 13 tahun

Ulang tahun: 14 Januari

Penampilan: Sekolah: Pakai kerudung, dan juga pakai kacamata dengan frame warna merah dan hitam. Rumah: Biasanya lepas kerudung. Rambutnya hitam pendek

Sudah puas~?

Q2: Good job, Ghina! 27 BUANG AJA KE LAUT! TUKER SAMA 96! JADI 189669!

A2: nanti kau di gebukin FG nya 27 lho~ /plak/

Q3: Emang orang Indonesia kuat latihan sama VARIA?

A3: Seperti kata Yamamoto, kalau di coba, kita tidak akan tahu~

Lucy: Selanjutnya, Dari pemilik fanfic ini, Nonohana Kizure!

Q1: Pertama saya masih nemuin beberapa typo~ /Plak/

A1: Ahaha~ Saya bakal lebih teliti~

Q2: Tampaknya kita gagal bikin sosok misteriusnya Arya~ /Plak!/

A2: *sweatdrop* D**n, tolong maaf kan kami karena telah membuat chara u OOC~ *di tendang karena nulis nama temen*

Q3: Tampaknya Ghina gak kalah cerobohnyaa sama Tsuna... /PLAK!/

A3: Eh? EH? *nampar Nonohana* BAGIAN MANANYA?

Q4: Uangnya Reborn berapatuh? O_O;

A4: Hoh? Bukannya udah ku sebutin? Uangnya itu *ada suara Lambo jerit-jerit* rupiah... Jelas kan? /plak/

Q5: Pas pembagiannya saya jadi ketawa~ kenapa gak dibikin kayak yang asli kita undian perilakunya? (Saya langsung melempar kertas undian yang ada tulisan nama Lussuria lho!)

A5: Ohoh... Saya lupa. Yang saya kasihan tuh si Renata... Tadinya dapet Lambo walaupun udah di undi ulang..

Q6: Reaksi mereka kalau tahu arti code itu bagaimana?

A6: Ahaha~ Sudah saya usulkan ketika di ketik dan hasilnya sudah ada di atas~

Q7: Terakhir... Kita lupa masukin nama Squalo yang dibagian "aku berpisah dengan Mukuro-san, Chrome-san, Hibari-san, Fuuta, dan Lambo" harusnya disitu juga ada Squalo! /Plaak!/

Lucielle: A-ah... Iya... *sweatdrop*

Squalo: Vooiii! Kenapa kau lupa memasukan namaku?

Lucielle: Eto... Mungkin karena saya waktu itu emang ga mau nginget-nginget fanfic XS rating M yang saya baca

Squalo: XS? Tunggu... Kalau di lihat dari Code yang kau jelaskan sebelumnya... S itu... X itu... Rating... M?*mual sendiri*

Lucielle: Yup. Lemon~

Squalo: LEMON? *muntah di tempat*

Lucielle: Haha... ternyata kode pairing ampuh buat ngalahin dia.. Eh, Squalo tau artinya lemon?

Squalo: *pingsan*

Lucielle: Ahaha~ Tampaknya aku harus membereskan yang satu ini~ Ryohei! Bawa dia ke kamar paling ujung! Kalau bantuin nanti ku kasih satu album lagu dangdut baru!

Ryohei: Oke!

Crew: Eto... Author-san... Bukannya kamar Squalo-san itu deretan ke tiga dari kanan?

Lucielle: Hm? Ya memang.

Crew: Dan kamar paling ujung... *mual*

Lucielle: Kamarnya Xanxus~ *ketawa laknat* Udah, ya, readers~ Saya mau masang kamera di kamar Xanxus sebelum terlambat~ *ngacir*

Crew: A-ah! Author-san! Eto... Readers yang terhormat, mohon klik tombol oren di bawah ini! Kami(?) berharap para readers tidak hanya membaca~! Arigatou!