AN/ okey semua, aku belum bisa update cerita aku yang satunya. Masih belum bisa menulis seperti biasanya, belum dapet moodnya, belum bisa balik ke alur ceritanya (mesti dibaca lagi mungkin yaa), belum ada waktunya (alesan banget ini mah)…
tapi aku mencoba menulis ini karena lagi galau. Hahaha. Semoga menghibur,,,,
"Hermione belum datang?" Tanya Ron melirik jam tangannya.
Harry menggelengkan kepala.
"Bukankah seharusnya dia pulang senin kemarin. Apa ada masalah?" Tanya Neville. Harry mengerutkan keningnya.
Sudah beberapa minggu ini Hermione semakin jarang untuk berkumpul bersama mereka. Semenjak mereka lulus dari Hogwarts, mereka selalu berkumpul pada jumat malam. Saat mereka lelah bekerja seminggu penuh. Mereka berkumpul untuk bercengkrama. Hanya Harry, Ron, Hermione, Neville dan Draco awalnya.
Setelah berkhianat dari Voldemort, Draco dan kedua orang tuannya lambat laun diterima kembali di masyarakat. Mereka bergabung bersama orde. tahun ketujuh yang mereka ulang, membuat Draco ikut ke dalam lingkaran persahabatan mereka. Awalnya Harry ingin berterima kasih atas bantuan Narcissa, kemudian dengan perlakuan diskriminatif pada Draco di Hogwarts mereka mencoba berteman dengan Draco, dan karena hubungan Narcissa dan Andromeda kembali membaik, Harry dan Draco semakin akrab.
Walaupun Draco juga masih berteman baik dengan Blaise dan Theo, dan beberapa anak Slytherin lainnya tapi berteman dengan Gryffindor sedikit ekslusif untuknya. Terutama karena merekalah yang menerimanya pertama kali, ketika semua orang membalikkan badan kepadanya.
"Seharusnya dia sudah sampai. Tadi aku mampir ke kantornya, dan Linda bilang dia sudah pulang," kata Draco tampak khawatir.
"Draco, Hermione bukan anak kecil lagi. Mungkin saja dia akan memberi kita kejutan. Membawa kencannya mungkin!" kata Astoria acuh, tapi membuat Draco sedikit mendesir.
"Itu hal luar biasa jika benar terjadi," jawab Ginny menanggapi.
Kedua wanita itu sulit untuk di katakan. Ginny, walaupun lebih dulu berteman baik dengan mereka namun kadang Draco merasa bahwa dia iri dengan keberadaan Hermione di kelompok mereka. Sedangkan Astoria, sebagai kekasih Draco, yang mau tidak mau akhirnya di ajak ke perkumpulan ini merasa cemburu dengan Hermione.
"Kalian ini kenapa? Bukannya senang. Lagipula, bukankah itu bagus. Akhirnya dia membawa kencannya ke pertemuan kita ini. Itu tandanya kali ini hubungannya benar-benar serius," kata Astoria kesal karena tidak mendapat respon yang diinginkan dari pria-pria itu.
"Ouch, jangan kau ingatkan aku berapa sering dia berganti pasangan," jawab Ginny Sedikit mengejek.
"Astoria…" Draco memperingatkan.
"Memang benar kan? Dia tak pernah bertahan lebih dari satu bulan," balas Astoria menyebalkan.
"Ya. Akan lebih baik kalau dia bisa menemukan pasangan yang cocok untuknya. Jadi dia tidak merasa terasing sendiri," kata Ginny mengiyakan. Mereka berdua akan menjadi sangat dekat ketika sudah menyinggung Hermione. Seperti ada ikatan aneh yang membuat mereka bersatu.
"Dia tidak terasing, Ginny!" kata Harry mengeram. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hermione adalah orang yang paling dekat dengan Harry. Mungkin ini juga yang membuat Ginny semakin agresif jika membicarakan Hermione.
"Terserahmu sajalah. Astoria, apakah kau akan datang pembukaan toko baru Pansy?" kata Ginny mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja. Dia bahkan memberikan undangan tambahan. Apakah kau mau ikut?" jawab Astoria. Kemudian kedua wanita ini mulai mengobrol panjang lebar tentang pembukaan toko baru Pansy.
"Hai semua!" seru Hermione.
Draco bisa melihat bahwa gadis itu kelelahan. Wajahnya pucat dan dia tampak semakin kurus dari sebelumnya. Hatinya mendesir hanya melihat wajahnya. Tanpa sadar Draco sudah berdiri dari kursinya dan memeluk gadis itu.
"Hai," sapanya. "Kau sehat?" Tanya Draco melepaskan pelukan.
"Tidak pernah lebih baik," jawab Hermione tersenyum dan kemudian memeluk Harry.
Draco kembali duduk di kursinya. Astoria melirik ke arahnya, dia cemburu. Bukan tanpa alasan.
"Kau terlihat kurus," kata Draco ketika Hermione sudah duduk di sebelahnya.
"Thank you, Malfoy," jawab Hermione sarkas.
"Maksudku bukan berarti kau dulu gemuk, hanya saja.."
"Ya..ya ..aku tahu.." potong Hermione. Draco tampak malu, dia tidak pernah memperhatikan orang begitu detail. Tapi tidak kepada Hermione, setiap detail dari gadis ini akan selalu dia ingat.
"Tara..aku membawa ini," kata Hermione berteriak antusias mengeluarkan seperti biasa Crème Brulee dari tasnya.
"Oh…"
Draco mengambil kue dari keranjang yang Hermione buka, tapi sebelum dia dapat mengambilnya, Astoria menarik tangannya.
"Draco, jangan makan itu," katanya ketus. Draco paling tidak suka jika diperlakukan seperti itu. Dia bukan anak kecil yang perlu diatur dan diperintah seperti itu.
"Memangnya kenapa?" tanyanya kesal.
"Tidak apa-apa, hanya saja kau baru memakan cheesecake. Nanti kau kebanyakan lemak," kata Astoria seakan dia sangat menyebalkan.
"Astoria, lemak ini tidak akan membuatku menjadi gemuk," jawab Draco kesal. Dia paling tidak suka ketika ada orang yang mencoba menyuruh-nyuruhnya seperti ini.
"Aku sedang menolongmu untuk tidak makan kue itu. Kau sadarkan betapa buruk rasanya," timpal Astoria tak tampak tergangu.
"Astoria," kata Draco hampir membentak.
"Apakah rasanya seburuk itu?"tanya Hermione. Draco sudah akan menjawab, namun Ron menjawab lebih dulu.
"Eh… sebenarnya jauh lebih baik dari jamur yang sering kau buat saat kita berkemah."
Good job weasley.
"Ya, Harry muntah saat pertama kali mencobanya," kata Ginny menimpali.
"Ginny!" tegas Harry. Draco tidak mengerti kenapa Ginny menjadi jauh lebih mengesalkan akhir-akhir ini.
"Memang benar kan?" katanya membela diri.
"Tapi itu bukan karena kue yang dibuat Hermione," kata Harry membela diri.
"Bentuknya memang tidak menarik, tapi rasanya tidak terlalu buruk," kata Neville pada Luna mencoba menengahi, tapi Luna memandangnya tidak fokus.
"eh hem," jawab Luna mengangguk.
"Em, kalian tidak perlu memakannya," kata Hermione memotong. Draco merasa bahwa Hermione memotong pembicaraan karena dia tidak ingin berdebat. "Aku permisi ke toilet sebentar," kata Hermione pamit.
Astoria langsung melambaikan tongkatnya sehingga Crème Brulee yang dibawa Hermione menghilang. Draco merasa sangat marah. Crème Brulee itu memang tidak begitu enak, bahkan benar kata mereka buruk saat pertama kali Hermione membawanya. Tapi belakangan sudah jauh lebih baik, bahkan bisa diterima. Draco tau bahwa itu adalah resep dari almarhum ibu Hermione. Dia bercita-cita untuk bisa membuatnya. Dan karena Hermione tidak memiliki bakat memasak, Draco tau bahwa Hermione butuh perjuangan untuk membuatnya.
"Aku permisi sebentar," kata Draco.
Draco menaiki tangga menuju ke loteng. Dia yakin ada Hermione di sana. Atap Grimauld Place adalah tempat Hermione sering sambangi, terutama setelah putusnya hubungan mereka. Berbeda dengan Draco, ini merupakan pertama kali dia menyambangi atap sejak terakhir kali mereka putus beberapa bulan yang lalu.
"Hei," kata Draco
"Hei," jawab Hermione agak terkejut. Draco yakin bahwa Hermione tidak menyangka bahwa dia akan mendatanginya.
Mereka diam menatap langit. Mungkin ini pertamakalinya mereka berdua saja sejak perpisahan mereka. Rasanya amat canggung dan aneh.
"Yang tadi, maafkan mereka ya," kata Draco pelan.
Hermione menatapnya, Draco merasa malu dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa aku harus memaafkan. Mereka tidak salah. Mereka hanya berkata jujur," jawab Hermione berbohong.
"Kalaupun mereka jujur, tidak seharusnya mereka mengatakannya seperti tadi," kata Draco kukuh. Dia merasa mereka bersikap tidak adil terhadap Hermione. Mereka bahkan tidak pernah mencobanya ketika Hermione membawa Crème Brulee. Bahkan mereka tidak tau betapa buruk rasanya ketika Hermione pertama kali membuat Crème Brulee. Saat itu mereka masih di Hogwarts.
"Berarti kau mengakui bahwa kue itu tidak enak," kata Hermione menarik kesimpulan.
"Tidak juga, aku selalu memakannya kan?" kata Draco tidak sabar.
"Huh, seharusnya kau mengatakan dengan jujur. Jadi aku bisa memperbaiki sedikit demi sedikit. Setidaknya aku tidak akan malu jika bertemu mom nanti," kata Hermione kesal.
"Granger…" kata Draco tidak sabar. Itu kan hanya kue, apanya sih yang jadi masalah kalau enak dan tidak enak? Lagipula dia selalu memakannya, walaupun pada awalnya itu adalah hal yang sangat sulit.
Hermione mendengus dan memalingkan muka. Draco tidak mengerti dimana letak permasalahan ini. Dia merasa perlu menghibur Hermione karena apa yang di katakan Astoria dan Ginny sudah kelewatan dan menyinggung perasaannya.
"Draco, apakah kau mencintainya?" tanya Hermione tiba-tiba.
"Granger…" Draco agak terkejut ketika Hermione mengatakannya. Ini sudah lebih dari setahun yang lalu ketika mereka putus. Draco tidak yakin harus menjawab apa. Dia dan Astoria sejak mereka masih kecil sudah dijodohkan, Draco sudah tau hal itu dan mereka mempunyai hubungan yang baik. Tapi ketika perang terjadi, keluarga Greengrass tidak ingin berhubungan dengan apapun yang berhubungan dengan Voldemort dan pelahap maut, ayah Astoria memutuskan hubungan mereka.
Namun kemudian keluarga Malfoy berbalik arah ke pihak Dumbledore. Sejak itupula Draco menjadi dekat dengan Harry dan Orde tentu saja. Perlahan Draco memiliki perasaan untuk Hermione, dan mereka pun berpacaran. Tapi mereka merahasiakannya karena walaupun orang tua Draco ada di Orde, tapi mereka masih menginginkan bahwa Draco tetap meneruskan kemurnian darah.
Lalu setelah perang selesai Lucius langsung menyambut kembali perjodohan antara Draco dan Astoria. Selain untuk menjaga nama baik keluarga Malfoy, tapi karena Lucius tau bahwa Draco menyukai Hermione. Dan secara tidak langsung Lucius menolak tegas. Awalnya Draco tidak mau, tapi karena ibunya membujuk, Draco menjadi luluh. Draco memutuskan hubungannya dengan Hermione, dia merasa lebih cepat lebih baik, karena hubungan mereka cukup kuat dan intim.
Lebih baik mereka putus sebelum hubungan mereka semakin kuat. Draco meminta untuk terus bersahabat. Awalnya tidak begitu sulit, walaupun mereka tidak lagi berpacaran tapi mereka masih saling memberi dukungan dan karena hubungan mereka tidak pernah benar-benar di ketahui oleh yang lain. Mungkin bedanya hanya tanpa hubungan intim. Hermione orang pertama yang memeluknya ketika mereka dinyatakan lulus menjadi Auror. Atau Draco adalah orang yang selalu di sampingnya ketika Hermione kecelekaan ketika bertugas, yang kemudian membuatnya pindah ke departemen kerjasama internasional.
Tapi setelah Ginny dan Astoria lulus dan setelah itu Draco secara resmi berpacaran dengan Astoria. Draco mengajak Astoria ikut dalam pertemuan mereka, itu benar-benar terasa nyata, bahwa mereka bukan lagi sepasang kekasih. Hermione tidak pernah tau alasan yang sebenarnya mengapa Draco menginginkan berpisah. Draco mengatakan bahwa mereka lebih baik menjadi teman. Dan semua orang tau bahwa sebelumnya Draco berpacaran dengan Astoria. Jadi dengan kata lain, Draco membiarkan Hermione berpikir bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah kesalahan.
"Cukup jawab saja pertanyaanku apa susahnya," kata Hermione memaksa.
"Ya," kata Drao tegas, dia tidak suka ketika orang memaksakan pendapat kepadanya.
Hermione menganggu dan menatap nya sedih. Dia ingin sekali mengatakan bahwa dia berbohong. Tapi akan lebih banyak orang yang terluka, kedua orang tuanya, Astoria, kedua orang tua Astoria.
"Granger," kata Draco mencoba membujuk.
Hermione mengeleng.
"Setidaknya aku bisa tenang. Aku menyadarinya, hanya saja masih egois untuk tidak mengakuinya," kata Hermione sedih. "Bahkan,sampai saat ini kau masih memanggilku Granger dan kau tidak pernah mengatakan mencintaiku sekalipun. Sekarang waktunya untuk move on. Bukan begitu?" tanya Hermione.
Hermione tersenyum sedih. Matanya berbinar, walaupun tidak meneteskan air mata. Draco ingin mengatakan tidak. Dia ingin bilang bahwa Hermione tidak boleh berpindah. Dia ingin Hermione terus mencintainya dan tidak pernah move on. Tapi itu egois.
"Her-"
"Lebih baik kita masuk. Mereka sudah terlalu lama menunggu," kata Hermione berpaling dan berjalan masuk ke dalam. Draco menanyakan pada dirinya sendiri apakah keputusannya itu benar.
…
"Apakah Hermione tidak datang?" Tanya Ron melirik jam dinding yang menunjukan pukul 9 malam.
Biasanya Hermione tidak pernah setelat ini. Draco merasa bersalah dan teringat percakapan mereka beberapa minggu yang lalu.
"Kenapa dia tidak mengatakan apapun? Setidaknya kan kita bisa makan lebih cepat," kata Ron mengambil ayam panggang dan mulai memakannya.
"Atau kita bisa pergi menonton opera. Kita sudah meluangkan waktu untuk berkumpul di sini, setiap minggu," kata Astoria kesal. Dan itu membuat Draco semakin kesal.
"Mungkin ada yang sedang dia kerjakan," kata Neville
"Pantas saja, dia tidak mendapatkan pasangan, Hermione terlalu sibuk," kata Ginny ketus.
"Entah apa yang dia cari. Mungkin kita bisa mengenalkannya dengan seorang pria. Bagaimana menurutmu, Draco?" kata Astoria tiba-tiba.
"Eh, kurasa itu bukan ide yang baik!" kata Draco, tidak suka dengan topik yang dibicarakan.
"Lagipula, Hermione bisa mencari pasangannya sendiri," kata Harry. Harry juga tidak begitu antusias.
"Ya, dia berganti pasangan sama seperti dia berganti baju," kata Astoria.
"Apa maksudmu?" tanya Ron bingung dengan mulut penuh.
"Ron, habiskan makananmu saja," jawab Harry segera. Draco melirik pada Harry yang nampak tak nyaman. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.
"Mungkin mereka terlalu tinggi untuk Hermione, Astoria, bagaimana kalau kita carikan dia pria yang tidak terlalu tampan," kata Ginyy menawarkan.
"Maksudmu kenapa hubungan Hermione tidak pernah bertahan lama karena mereka kecewa, dia tidak sesuai ekspetasi," kata Astoria girang. Matanya melebar penuh antusias yang membuat Draco menjadi kesal.
"Ya aku rasa seperti itu," kata Ginny menyendok es krim.
"Ginny, bagaimana mungkin kau bisa bicara seperti itu!" kata Harry panas.
"Oh, Harry. Aku sudah mengatakannya berulang kali. Tobias, kau tau, teman satu klub ku mengatakan bahwa Hermione tidak terlalu memuaskan di tempat tidur. Dan kau tau, mereka bahkan hanya berkencan tidak lebih dari satu minggu," kata Ginny lantang. Astoria menutup mulut dan hampir mengikik seakan mengatakan 'apa kau yakin?'
"Itu tidak bisa dibilang kencan," kata Harry membela.
"Just one night stand? Oh, itu lebih mengerikan," jawab Ginny menyebalkan.
"Bisakah kita tidak membicarakannya? Kalian membuat nafsu makanku hilang," kata Ron melempar garpunya ke piring.
"Lagipula dia tidak terlalu cantik, mungkin kata-katamu benar, Ginny," kata Astoria.
"Apa kalian tidak bisa diam," kata Draco tanpa menyadarinya. Dia meregangkan tangannya yang menggenggam gelas terlalu erat.
…
"Draco," panggil Blaise sambil melambaikan tangan.
"Kau ada masalah? Tidak biasanya kau mengajak minum kami mendadak dan jumat malam," kata Theo nyengir.
"Memangnya kenapa kalau jumat malam?"tanya Draco heran.
"Draco, kami bukan orang bodoh. Kami tau jumat malam adalah waktumu untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatmu," jawab Blaise.
"Kalian juga sahabatku," kata Draco meringis, tidak percaya bahwa ada orang lain yang menyadarinya.
"Ya, kami tau. Mana mungkin kau bisa hidup tampa kami," kata Theo.
"Jadi kenapa kau mengajak kami?"tanya Blaise setelah Draco meminum gelas keduanya.
"Tidak ada hal yang special. Hanya ingin saja," jawab Draco. Sejujurnya karena dia kesal dengan percakapan tadi. Ginny dan Astoria mengatai Hermione.
"Kau tidak berkumpul dengan mereka?"tanya Blaise
"Aku baru saja dari rumah Harry," jawab Draco mengangkat tangannya memanggil pelayan untuk menambah minuman. "Jadi bagaimana kabar kalian?"
"Sama seperti biasanya," kata Blaise.
"Draco apakah benar kalau kau akan bertunangan dengan Astoria?"tanya Theo.
Draco menganggu, "Beritanya sudah tersebar."
"Tidak juga, aku hanya sekedar mendengar. Jangan lupa undang kami," kata Theo.
"Tentu. Dari siapa kau mendengarnya? Kurasa tidak banyak yang tau tentang hal ini,"tanya Draco.
"Granger," jawab Theo mudah.
"Hermione."
Theo mengangguk.
"Beberapa bulan yang lalu. Hanya percakapan biasa. Dia baru tau kalau kita sedikit dekat," kata Theo bergurau.
"Kau ada pekerjaan dengannya?" tanya Draco menyelidik. Gadis ini benar-benar tidak bisa membuatnya tenang.
"Lebih dari sebuah pekerjaan," jawab Theo.
"Pekerjaan yang lebih mengairahkan," kata Blaise nyengir.
"Maksud kalian?"tanya Draco bingung.
"Draco, aku minta maaf karena dia sahabatmu, tapi aku tidak pernah membicarakan urusan wanita," kata Theo sopan.
"Kau berkencan dengannya?"tanya Draco tidak percaya. Diantara banyak pria, Theo? Tapi bukankah lebih baik daripada Tobias tadi.. atau Blaise yang playboy. Tapi Theo? Bahkan Draco tidak bisa menerimanya.
Theo mengeleng.
"Beberapa kali aku tidur dengannya, tapi tidak pernah benar-benar berkencan dengannya," jawab Theo.
"Kau…"
"Draco sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku tidak menjelekannya. Aku ingin mengencaninya, tapi dia yang tidak mau. Aku tidak bertindak mempermalukan atau menghinanya okey," jawab Theo lagi ketika dia menyadari bahwa Draco sudah siap menyerangnya.
"Mungkin kau bukan tipenya, Theo. Draco, apa kira-kira aku punya kesempatan?" tambah Blaise bergurau.
"Apa dikepala kalian hanya ada pikiran kotor?" tanya Draco marah.
"Draco, jaga bicaramu, kami tidak sedang merendahkannya," kata Blaise mencoba menjelaskan.
"Tapi kalian membicarakannya, menggunjingkannya," bantah Draco.
"We are sorry okey! but, we always talked about women," kata Blaise.
"Shit…"
"Draco, kau mau kemana?" tanya Blaise bingung.
Draco menggebrak meja dan kemudian dia keluar dari bar. Blaise mencoba menahannya tapi dia kesal dengan dua sahabatnya itu. Dia tidak pernah tau kalau Hermione ternyata berhubungan dengan Theo. Dan entah kenapa hal itu membuatnya marah. Walaupun sedikit banyak dia mendengar Hermione berkencan dengan orang lain, tapi dia tidak menyangka bahwa Hermione berhubungan dengan orang yang dekat dengannya.
…
"dok dok dok."
Draco mengetuk pintu apartemen Hermione. Sudah sangat lama dia tidak pernah lagi berkunjung ke sini. Dia pun sebenarnya sudah menahan diri untuk tidak datang. Tapi dia tidak bisa, dia ingin marah dan mengkonfrontasi Hermione mengenai hubungannya dengan Theo. Mungkin malah bisa membuat mereka saling menjauh.
"sebentar," Draco mendengar Hermione menjawab.
"Draco?" tanya Hermione bingung mendapatinya di depan pintu apartemen. Draco langsung masuk ke dalam.
"Kau mabuk." Kata Hermione membantu Draco yang hampir terjatuh dan membawanya ke sofa.
Draco hanya menggelengkan kepalanya.
"Draco, kenapa kemari?" tanya Hermione bingung.
"Kenapa kau tidak datang ke rumah Harry?" tanya Draco sederhana.
Draco melihat Hermione menelan ludah sebelum menjawab dengan lugas.
"Aku sibuk."
Draco mendengus. Gadis ini sangat buruk ketika berbohong.
"Sibuk? Atau kau baru selesai merayu pria," kata Draco kejam. Setelah kalimat itu segera juga dia ingin menariknya, namun egonya ternyata lebih besar.
"Apa?" tanya Hermione tak percaya, matanya melebar kaget. Draco yakin melihat matanya terluka oleh ucapannya, tapi sekali lagi ego tak bisa dikalahkan.
"Ow… semua orang membicarakannya, Granger. Bagaimana kau berganti pria seperti berganti sepatu..oh, salah, berganti baju," kata Draco mendekatkan mukannya.
Plak
Hermione menamparnya, dia pantas untuk mendapatkan tamparan itu tapi, dia tidak siap untuk mendapatkannya.
"Beraninya kau," kata Draco melirik.
"Keluar," kata Hermione tegas menunjuk pintu. Matanya sudah berkaca-kaca.
Draco mengaruk wajahnya dengan kedua tangan, frustasi.
"Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kau bilang kau akan move on?" tanya Draco keras kepala.
"Keluar," jawab Hermione sudah menangis.
"Tidak. Sebelum kau mengatakannya," kata Draco menantang.
Mereka saling pandang, tidak ada yang ingin mengalah. Namun kemudian Hermione dengan tegas mengarahkan tangannya ke arah pintu keluar dan berkata, "Keluar."
"Shit," kata Draco memukul meja. Dia keluar dengan sambil membanting pintu.
…
Dia tau bahwa dia seharusnya tidak melakukan hal itu. Tapi entah apa yang merasukinya semalam sehingga bisa-bisanya dia mendatangi Hermione dan menghinanya. Dia merasa sangat rendah karena hal itu.
Dan disini dia sekarang. Menunggu Hermione di ruang kerjanya. dia tidak yakin kenapa bisa menjadi seperti ini hubungan mereka. Mereka berjanji akan menjadi teman baik. Tapi nyatanya, Draco sendiri yang tidak terima karena Hermione memiliki hubungan dengan pria lain. Dan semua menjadi kacau.
Hermione masuk keruangan. Dia agak terkejut karena mendapatinya di sana. Namun dengan yakin dia mengambil tempat duduk di depannya. 'apa yang terjadi padanya, dia sangat pucat dan kurus' atau mungkin karena Draco tidak terlalu memperhatikannya. Dia merasa sangat bersalah sekarang. Draco harus menghentikan omong kosong ini. Kalau Hermione sudah move on darinya maka dia harus menerimanya. Toh ini adalah keputusan yang dia ambil. Dia tidak bisa egois.
"Granger, aku minta maaf," kata Draco tidak lama ketika mereka saling menatap.
Hermione tidak menjawab dan masih menatapnya aneh. Sesuatu terasa tidak benar.
"Hermione, aku minta maaf," kata Draco lirih.
Hermione menarik nafas dalam.
"Bagaimana mungkin kau bisa mengataiku seperti semalam?" tanya Hermione.
"Aku minta maaf," jawab Draco. Dia tidak punya alasan yang tepat untuk itu.
Hermione mengusap air matanya yang menetes. Draco merasa sangat menyedihkan. Bagaimana dia malah membuat gadis yang dia cintai menjadi bersedih seperti ini.
"Hermione," Draco memanggil.
"Kau tau, kau sudah dua kali menyebut namaku," katanya tersenyum.
Hermione mengangguk. "Accepted."
Hanya dengan melihat senyumnya, Draco merasa bebannya terasa lebih ringan.
"Draco, boleh aku minta suatu hal?" tanya Hermione sambil berpikir.
"Apapun," kata Draco cepat.
"Bisakah, nanti malam berkencan denganku?" tanyanya malu.
"Her,"
"Hanya berkencan. Hanya nonton film, seperti yang kita jadwalkan waktu itu. Malam ini saja," katanya memaksa. Draco merasa bersalah. Malam dimana seharusnya mereka pergi menonton film, malam itu malah menjadi malam Draco memutuskan hubungan mereka.
Draco sudah mengambil keputusan. Dia tidak bisa mengecewakan kedua orang tuanya. Dan perasaannya terhadap Hermione harus dia tahan. Dan dia tidak ingin membiarkan Hermione merasakan sesuatu lebih dalam lagi dari yang seharusnya. Ini harus dihentikan, karena semakin lama, semakin banyak yang akan tersakiti.
"Baiklah," kata Draco.
Hermione tersenyum.
…
"Draco," kata Hermione mengahampiri mereka.
Hermione memakai rok span diatas lutut, dengan stoking hitam, dan jaket merah menutupi kemeja yang hitam juga. Udara musim gugur yang mulai dingin. Rambutnya ditata sangat rapi, menyisahkan beberapa yang bergelombang membingkai wajahnya. Dia hampir berlari dan tersenyum cantik sekali. Tapi kemudian senyum itu memudar mengetahui siapa yang ada bersamanya.
"Hai, Hermione," kata Astoria melambaikan tangan kirinya, dan yang satunya otomatis memeluk lengan Draco.
"Harry, Ginny, Astoria?" tanya Hermione memandang Draco bingung. Draco merasa malu, dia melihat Hermione terluka oleh hal ini. Ini bukan kencan yang dijanjikannya.
"Ron dan Luna tidak bisa ikut," kata Harry santai, melihat-lihat sekeliling.
"Oh, akhirnya kita mematahkan tradisi lama kita. Walaupun bukan jumat malam, setidaknya kita tidak hanya berkumpul dirumah Harry," kata Astoria lebih ceria dari biasanya.
"Ya, aku bosan. Selalu bersih-bersih sesudahnya," jawab Ginny bersemangat.
"Tunggu sebentar, Draco ayo kita membeli tiketnya, kau berjanji untuk mentraktir," kata Hermione menarik tangan Draco menjauh dari mereka.
"Kenapa kau membawa mereka?" tuntut Hermione.
"Granger, mereka juga rindu denganmu, sudah dua minggu kau tidak ikut acara makan-makan kita. Aku tak bisa menolak ketika mereka ingin ikut," kata Draco beralasan.
"Mereka ingin ikut, karena kau yang mengajaknya?" tanya Hermione.
"Granger," kata Draco mengeram. Dia tidak ingin membuat pertengkaran di tempat ramai seperti ini. Sulit menjelaskannya pada yang lain terutama tidak ada yang tau mengenai masa lalu mereka.
"Jangan mencoba mengelak, Draco. Bukan kah aku hanya ingin sekali saja berkencan denganmu," kata Hermione. Dia benci ketika gadis ini sudah mulai menangis. Kenapa akhir-akhir ini dia mejadi sangat melankolis.
"Granger, kau tau aku orang yang setia. Bahkan ketika bersamamu pun aku jujur padamu. Dan itu berlaku untuk semua orang yang berhubungan denganku," kata Draco tegas.
Dia ingin menarik kata-katanya. Hermione melangkah mundur.
"Aku mengerti," katanya lirih.
Hermione kemudian meninggalkannya untuk mengantri tiket. Draco mencoba untuk mengikuti tapi ada orang lain yang mendahuluinya. Dia menunggu ditempatnya, tercabik antara ingin mengikuti Hermione, atau lebih baik kembali ke tempat yang lain.
Tapi ditengah pikiran yang rumit itu, tiba-tiba Hermione sudah menghampirinya. Mungkin dia menggunakan sihir agar mendapat antrian lebih cepat. Matanya sudah merah, Draco yakin dia tadi sempat menangis.
"Ini tiket kalian, selamat menikmati," kata Hermione memberikan tiket ke tangan Draco. Draco mengerutkan kening ketika mendapati empat tiket di tangannya. Dia mencoba mengejar Hermione tapi dia sudah pamit dengan Harry dan pergi menjauh.
...
Draco sedang meminum gelasnya yang entah keberapa. Hari ini seharusnya waktu berkumpul mereka. Tapi Harry mendadak mengatakan bahwa dia sibuk dan tidak bisa datang dan menawarkan rumahnya kalau mereka masih ingin berkumpul. Tapi Ginny bukanlah tuan rumah yang ramah, dia hanya ramah pada Astoria entah kenapa. Jadi Draco lebih memilih untuk bertemu dengan Neville dan Ron di Leaky Couldron menemani Neville yang sedang mencoba merayu Hanna.
Dia merasa sangat pusing. Hermione tidak pernah lagi datang ke acara kumpul-kumpul mereka. setelah kejadian di bioskop yang berakhir dengan Hermione pergi lebih dulu. Gadis itu menghindarinya. Draco mencoba menemuinya di kantor keesokan harinya, dan mendapati sekertarisnya memberitahu bahwa Hermione ada tugas ke spanyol selama empat hari.
Tapi empat hari kemudian dia mendatanginya lagi dan Hermione menolak untuk bertemu dengannya. Dia mencoba mendatangi rumahnya tapi sama sekali tidak membuka pintu. Beberapa kali dia mendapatinya di kantin tapi seketika dia akan menghilang ketika Draco akan mendekatinya. dia sudah putus asa, mungkin lebih baik jika dia menjauh dulu, sehingga semuanya menjadi lebih tenang.
"Harry!" kata Ron kaget melihat patronus rusa jantan di sebelah kirinya.
Draco dan Neville juga langsung terjaga mencoba mendengar pesan yang akan disampaikan. Hampir tidak pernah Harry menggunakan patronus untuk mengirim pesan.
St mungo,
Hermione kritis.
Suara Harry mengema. Terbangun dari keterkejutannya Draco, Neville dan Ron mengacukan tongkat masing-masing dan langsung berdisapparete ke st Mungo.
"Harry!" teriak Ron ketika mendapati Harry duduk di depan ruangan yang ditunjukan oleh perawat kepada mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Neville dengan kegugupannya.
Sebelum bisa menjawab, salah satu penyembuh keluar dari ruangan. Mereka langsung siaga.
"Mr Potter, ada beberapa yang perlu saya jelaskan kepada anda. Bisa kita bicara di ruangan?" tanya penyembuh itu sopan. Harry mengangguk setuju dan mengikuti penyembuh itu.
Kemudian ada perawat yang keluar dari ruangan.
"Miss, bagaimana dengan teman kami?" tanya Ron.
"Apa kami bisa melihatnya?" tanya Neville.
"Maaf, tapi hanya Harry potter yang terdaftar sebagai wali pasien," jawab perawat itu.
"Lalu bagaimana dengan keadaanya?" tanya Draco.
"Maaf, saya tidak bisa memberitahu kalian. Mungkin penyembuh Smith sedang memberitahu wali pasien. Permisi."
Draco langsung terduduk. Kalau mereka tidak diperbolehkan masuk atau mengetahui keadaannya lalu untuk apa mereka ada disini? Apa Hermione tau bahwa dia sedang menghukumnya karena tidak bisa mengetahui keadaanya. Tidak tau bahwa dia baik-baik saja. Atau apakah ada sesuatu yang salah. Tidakkah dia mengerti bahwa ini lebih menyakitkan.
Tidak lama, Harry mendatangi mereka. Wajahnya pucat.
"Hermione koma," katanya pelan.
"Apa?" tanya Neville tidak percaya.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Ron.
"Kutukan Dolohov," jawab Harry singkat.
"Tapi itu sudah lama sekali, Harry. Bukankah seharusnya dia sudah sembuh?" tanya Ron lirih.
Kaki Draco terasa lemas. Dia terduduk di kursi, tapi masih mengikuti pembicaraan.
"Tidak sembuh seperti yang kita fikirkan," jawab Harry.
"Apa maksudmu, dengan tidak seperti yang kita fikirkan?" tanya Ron panas.
"Ya kutukan itu masih ada. Dan beberapa kejadian yang menimpanya membuat kutukan itu lebih reaktif dari sebelumnya. Dia sudah menderita. Awalnya dia tidak bisa merasa. Lalu semakin buruk dia merasa mual dan susah makan, dia pikir hanya sakit biasa, tapi setelah beberapa tes…" jawab Harry tidak selesai.
"Dia akan baik-baik saja," kata Draco lebih kepada dirinya sendiri.
Harry mengelengkan kepala.
"Dia sudah mengalami kelemahan fisik secara berangsur-angsur. Bulan yang lalu dia masuk rumah sakit, karena pingsan. Aku menemukannya di apartemen," kata Harry.
"Bulan lalu! Kau tidak mengatakannya kepada kami," kata Neville.
"Hermione yang memintanya," jawab Harry.
"Dan kenapa sekarang kau baru memberitahu kami?" tanya Draco meliriknya. Dia yakin tidak ingin mendengarnya.
"Karena Penyembuh baru saja mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan. Dia memberi waktu kita untuk… untuk mengucapkan selamat tinggal," kata Harry lirih.
"Bloody hell," Ron mengerutu. Dia langsung masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Neville.
Selamat tinggal?
"Draco," kata Harry memanggilnya.
Draco tidak mendengar, dia tidak ingin mendengar apapun. Kakinya melangkah menjauhi ruangan. Dia tidak ingin ada di sini. Dia ingin pergi. Dia tidak ingin mengucapkan selamat tinggal.
"Draco…" Harry menarik bahunya.
"Kenapa kau menurutinya. Kenapa kau tidak memberi tahu kami, Potter," kata Draco menolak tangan Harry. Draco tidak bisa menahan tubuhnya yang jatuh menyadar dinding. Dia tidak sadar dia menangis, ketika kepalanya sudah tertenduk bertemu dengan lututnya.
"Hermione…"
"Draco, Hermione menceritakan semuanya. Dia mengatakan padaku, tentang hubungan kalian," kata Harry. Apa Harry tidak bisa diam.
"Aku benar-benar bodoh," kata Draco.
"Draco, kumohon temui dia," kata Harry.
"Aku tidak mau mengucapkan selamat tinggal," teriak Draco.
"dia menunggumu, kumohon," Harry membujuk.
Draco mengelengkan kepala.
Tapi dia tidak menolak ketika Harry menariknya untuk berdiri dan membawanya ke ruangan Hermione. Ron dan Neville sudah menangis dan mengecup kening Hermione.
Dia tampak sangat kurus. Tidak ada lagi senyum yang biasanya terpatri.
"Hermione," kata Draco lemah, dia menarik tangan Hermione menangis dan mengenggamnya erat.
"Hermione, sweetheart, apakah sakit?" tanyanya.
Tangan Hermione dalam genggamannya merespon.
"Aku tidak ingin kau pergi," kata Draco.
Draco melihat ada air mata yang menetes dari mata Hermione yang tertutup. Dia tidak akan pernah lagi melihat matanya yang berbinar-binar penuh semangat. Bahkan dialah orang yang telah membuatnya selalu menangis.
"Hermione, aku menyukai namamu, sungguh. Aku memanggilmu, Granger, karena aku juga menyukainya terlebih ketika keningmu berkerut jika aku menggunakannya," kata Draco.
"Aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Aku minta maaf karena tidak pernah mengatakannya. Aku mencintaimu," kata Draco mencium kening Hermione. Gerakan tangan Hermione membuat air mata semakin deras mengalir.
"Kau ingin pergi?" tanya Draco di telinga Hermione dan tangan Hermione kembali merespon. Draco tidak bisa menahan lagi dia menangis, meraung, sampai dadanya terasa sesak.
Sekali lagi Draco mencium kening Hermione, mencium tangan yang ada digenggamannya dan membisikan kata terakhir untuk wanita yang dia cintai.
"I will be okey. I promise until we meet again. Good bye, Love."
