Sakura, namaku. Aku hanya bekerja sebagai florist bersama Pig di tokonya sendiri. Menghela napas kasar saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu kaca toko bunga ini. 'Dia' memakai kaus polos merah tua dan celana training hitam berdiri menjulang menggapai pintu. Membukanya
'Kling!' lonceng kecil berbunyi. Aku membuang muka dan kembali menggeluti kegiatanku menggunting tangkai bunga dahlia. Melirik lewat ekor mata. Si brengsek itu rupanya mendekatiku dengan wajah kalemnya, aku mendengus pelan. "Hell! Untuk apa ia kemari?! Belum puaskah?!" gumamku.
Badanku menegang saat sebuah telapak tangan menyentuh pundakku, hampir saja gunting terjatuh di lantai jika aku tak menggenggam erat sebagai pelampiasan. Terlalu dekat, si brengsek itu menatapku seperti biasa, intimidasi yang tak bisa terelakkan melihatnya menatapku tajam.
Aku tersenyum malas, "ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pelan dengan menjunjung frasa 'pembeli adalah raja'. Wajahnya masih menatapku dengan mata yang sangat aku benci. Tatapan dalam yang tak pernah aku mengerti.
"Ikutlah denganku." hanya itu yang keluar dari bibir tipisnya, sekali lagi, apa aku harus mengacuhkannya? Atau mengikuti instrukturnya, ah lupakan!
Bibirku melekung sebelah, seringai yang kuanggap meremehkan, "maaf tuan, saya sedang bekerja. Lebih baik anda mencari 'pekerja' lain untuk urusan anda," kataku menekan kata 'pekerja', dia tersenyum kecut dan si brengsek yang bernama Sasuke berjalan mundur selangkah cukup membuatku menghela napas pelan.
"Sakura! Aku hanya perlu dirimu!" tegasnya datar, untung saja aku bebal kata itu, jika tidak, seperti yang kemarin-kemarin, pasti aku sudah bertekuk lutut di depannya mendengar 'bahwa dia mmbutuhkanku', seraya berdecih aku memutar mata dan seketika melihat dua wanita pekerja Ino sedang menonton kami, aku menatap dua wanita itu garang dan mereka langsung pergi setelah membuang wajah.
Aku merasakan sebuah tangan menggenggam lenganku, wajahku menoleh dan melihat Sasuke sudah berputar dan berjalan cepat, pun aku ikut terseret bersama langkah kakinya yang tergesa memasuki mobil yang dahulunya adalah jemputanku. Hell! Mau apa dia?!
Aku menyentak tangannya agar terlepas sebelum si brengsek itu memaksaku masuk ke dalam mobil menjijikan itu.
"Jangan basa-basi! Apa maumu hah?!" tariakku dengan nada dalam. Sasuke menghela napas perlahan, melipat tangan dan bersandar pada pintu mobil.
"Kau memaksaku berbasa-basi, Sakura." apa-apaan itu?! Aku mendengus kesal.
"Apa maumu?!" kataku ulang, Sasuke menaikkan sudut bibirnya—brengsek sebenarnya apa maunya?!
"Bukankah kau kubeli?! Melupakannya nona? Munafik! Astaga! Ribuan Ryo aku beli dirimu dan aku hanya menikmatinya selama 3 bulan?" dia terdiam setelahnya—seolah dia menyesalinya, cih! Mana mungkin si brengsek itu bakal menyesalinya? Mataku membulat dan menatapnya tak percaya. Tertawa miris aku meluapkan sebuah tikaman yang tepat menusuk ulu hatiku.
"Yep! Tenang saja tuan, terima kasih sudah membeliku, besok 'aku akan membeli diriku sendiri' darimu, tenang saja, kau tak rugi bukan?" tanyaku miris, mataku memejam dan tetap memberinya senyum miris, ia tak berkutik seolah memang aku hanya 'barang' dan mengiyakan 'itu'.
"Hanya begitu? Lebih baik kau cari yang lain... 'Barang sepertiku' masih banyak bukan? Kunjungi saja Madam Isabelle," sindirku sambil memutar tubuh, memunggunginya dan hendak mengangkat kaki enyah dari pandangan si bedebah itu.
"Sak–"
Tubuhku berbalik dan mendapatinya memandangku kosong, tanganya tergantung seolah hendak menggapaiku, aku tersenyum kecut kala menyadari dua meter jarak di antara aku dan brengsek itu.
"Apa?! Sudah cukup tuan? Aku sedang mencari uang, tenang 'aku akan membeli diriku sendiri', jangan khawatir dengan uangmu." dan kakiku melenggang begitu saja setelah melihatnya memandangku sendu—cih! Aku benci kau memndangku kasihan!
Aku tahu, kau akan tertawa setelahnya. Tragis bukan?
Sendirian, tanpa tahu siapa keluargaku, hidup dijejali hutang karena aku sempat terserang self injure akibat terlalu menekan rasa kefrustasian lewat menyakiti tubuhku—membuatku sering bolak-balik rumah sakit mengobati luka yang kuciptakan sendiri, dan paling parah, aku hampir menegak racun tikus akibat tekanan masa laluku. Aku hampir diperkosa preman jalanan saat itu, membuatku mengundi diri dalam zonaku sendiri.
Hari itu, tanpa sengaja setelah aku ditemukan hampir bugil—karena hampir diperkosa, seorang wanita yang awalnya kuanggap malaikat menolongku tak ubahnya seorang succubus licik yang menjeratku ke dalam lelangan wanita portitusi di sebuah acara besar yang dihadiri manusia—pria pembisnis skala besar. Dan saat itu, aku terjual dengan harga fantastis dan menjadi budak birahi seorang Uchiha Sasuke.
Aku tahu, rasanya menjadi sebuah 'debu', aku tahu rasa sesak karena menjadi sebuah kata 'semu' karena dulu, aku menjadi orang di antara sepasang tunangan. Si brengsek itu memiliki tunangan yang sangat jelita hingga aku menganggap diriku hanya sebuah 'sampah' moral yang harus dibuang. Dengan bodohnya aku bertahan, mencintainya—brengsek, aku memang mencintainya karena memerlakukanku dengan sifat lembut dibalik aroganisnya.
"Ra..."
Aku tahu, bahwa sebuah 'sampah' harus dibuang, daripada didiamkan dan mengundang lalat mendekat atau sampai baunya terendus, bukankah itu buruk? Maka, aku pergi diam-diam setelah permainannya padaku. Pergi jauh dari kota di mana aku bernaung selama ini. Syukurlah, rupanya masih ada yang mau menampung 'sampah' sepertiku. Pergi tanpa uang dan mengandalkan kakiku, berjalan lebih dari puluhan kilo, memakan 'sampah' dan akhirnya bertemu Ino yang sedang memetik beberapa ranunculus untuk tokonya. Saat itu, aku hancur, kelaparan, kucel, kotor, bau dan dia membuka lebar tangannya memelukku dengan perasaan tulus—bukan simpati karena keadaaanku, sebab aku tak mau dikasihani.
"Sakura..."
Aku benar-benar menyayanginya, seperti aku menyayangi beberapa hal spesial yang hanya berada dalam anganku, dia menganggapku selayaknya adiknya, saudaranya karena ia anak tunggal.
"Sakura!" aku terperanjat saat sebuah tangan menepak bahuku. Ah, Ino...
Tersenyum kikuk aku padanya, "maaf aku melamun," terangku, Ino tersenyum sinis.
"Kau merugikanku, jangan melamun! Lihat bunga tulipku! Astaga! Ini impor dari Turki! Kau merusaknya!" sewotnya! Aku memandang tanganku! Ya Tuhan! Apa yang telah aku lakukan? Memeras kelopaknya hingga lecek! Ah, karena melamunkan masa suramku...
"Hehehe, maaf."
"Jangan diulangi, nanti aku bangkrut!"
Aku mengangguk-angguk, "baiklah-baiklah, nona Yamanaka!"
Aku mengelap pot bunga, lalu setelah bersih merangkai beberapa tangkai menjadi satu dan dibungkus untuk pemesanan acara pernikahan di kota Ame, setelah semuanya selesai, seperti saat ini, aku mengelap keringat dan membantu mengangkat beberapa karton berisi bunga ke dalam pick up.
Ino menepuk bahuku, sontak aku berbalik, rupanya ia membawa dua gelas tinggi perasan lemon, aku meraihnya.
"Ah, sudah Sakura, kau terlalu bekerja keras! Untuk apa klien menyewa pekerjanya? Sudah biarkan pria-pria itu melakukan tugasnya," kata ino sambil menarikku duduk di kursi anyaman rotan, menatap para pria yang mengangkut aster dan beberapa karton besar bunga azelea dan lavender.
Mataku bergulir melirik Ino yang duduk di sisiku, "sepertinya, toko kita benar-benar kehabisan bunga. Bahkan hampir seluruh bunga dipacking bukan?" tanyaku. Ino menggeleng pelan lalu meminum minumannya.
"Tidak, ranunculus, mawar hitam dan tulip masih ada," jawabnya. Aku mengangguk pelan.
"Ne, omset naik bukan?" Ino tertawa menderngarku mengatakannya.
Toko bunga milik Ino benar-benar melongpong! Rupanya klien satu itu orang berada hingga hampir menguras seisi toko bunga—minus ranunculus, tulip, mawar hitam, kaktus dan beberapa bunga matahari hidup di pojokkan sana.
Setelah pick up itu melenggang, aku dan Ino akan berangkat ke kebun yang biasanya menjadi 'gudang' YamaFlowers. Siap dengan pakaian berkebun, bibit bunga dan beberapa barang bawaan, aku dan Ino berjalan ke tempat yang tak jauh dari kebun. Well, untungnya toko bunga Ino ada di dalam desa—Konoha, sehingga masyarakat tak memandang kami aneh—lirik baju kebun—sehingga tak terlihat memalukan.
Kita sampai, kebun sebesar 30 x 25 meter membentang dengan beberapa petak ukuran berbeda, kebanyakan mawarlah yang hampir 20 persen mengisi tanah gembur.
Menggerling dan melihat Ino memetik beberapa daisy dan menanam bibitnya, aku malah tertarik menatap sebuah bunga perdu dekat kumpulan bunga dahlia merah. Aku baru melihat bunga ini. Cukup terkesima saat memegang kelopaknya, halus sangat halus dan rapuh.
"Anemone, namanya." aku tersentak kala suara Ino tapat berada di sisiku, tangannya kotor namun ia memetik setangkai bunga warna merah indah, mencolok namun sendu yang aku pikirkan, aku terpikat setelahnya.
Bersambung~
