Gomenasai sangat…. Karena saia bener-bener gak bisa update cepet. Maunya sih segera, tapi pekerjaan yang lain juga gak bisa diabaikan,hehe*udahan curcolnya*
Pokoknya, arigatou gozaimasu buat Dreamer, Enji86, diangel, Iin cka you-nii, Rizu Hatake-hime, AeonFlux15, Natsuno Yurie Uchiha, Nasaka x Mizumachi, levina-rukaruka, Uchiha Sakura97, Icha yukina clyne, Mitama134666,udah qu balas lewat PM dan buat yang gak login,
Hibari Hime: wqwqwq… iya tuh Hiru nyadar gak ya kalo dia cemburu?haha… Yupz, Mamo kesasar, yang nemuin? Liat di bawah sini ya… siap! Udah update
DarkAngelYouichi: Puas….? Lengkapi kepuasan anda dengan baca chap ini,kekekeke….. makasih banyak ya!
Sweetiramisu: Hehe iya Mamo nyasar, yang nemuin siapa? Liat aja ya….
ToscaTorquise: salam kenal juga! Haha… gak pa'pa, makasih udah sempetin ripiu chap ini. Wqwqwq…. Iaya tuh Hiruma, siap udah update!
Yeah minna... Sebaiknya siapkan diri anda sebelum baca chap ini, dan jangan heran kalau kalian menemukan keanehan dalam chap ini...
Disclaimer: Riichiro Inagaki-Yusuke Murata
Story: Mayou Fietry
Liburan Devil Bats secara tidak sengaja membuat Mamori bertemu seseorang dari masa lalunya. Reaksi Hiruma? Neraka bagi Devil Bats, saat kapten mereka berubah.
Kalau Setan Cemburu?
Pair: Hiruma Youichi, Anezaki Mamori
Semoga gak bosen sama pair ini
Rated: K+
Genre: Romance, Humor
Warning: OOC stadium akhir, OC, typo, ancur, gaje, humor gak kerasa, dan segala hal jelek lainnya
Don't like don't read
Special buat Icha Yukina Clyne yang udah banyak membantu dan gak pernah capek ngasih semangat, hehe…. Sebenernya ini fic lama yang dulu sempet qu delete.
.
.
.
Chapter 3
Untuk kesekian kalinya Hiruma menempelkan salah satu handphonenya ke telinga, namun jawaban yang ia dapatkan selalu saja sama.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan-"
Setan itu membuang handphonenya ke tempat tidur, ia berdecak kesal. Dipandanginya matahari yang sudah hampir lenyap dari singgasananya, hanya menyisakan warna jingga di angkasa.
"Kemana manajer sialan itu?" ia bertanya entah pada siapa, "kalau dia pulang nanti aku akan membuangnya ke laut! Manajer sialan baka!" ia menggerutu tajam. Setan itu kembali meraih handphonenya dan menghubungi nomor Mamori, tapi jawaban yang ia dapatkan tetap saja sama.
"Cih, dasar sialan!" Hiruma mendesis tajam. Ia akhirnya memilih melangkahkan kakinya keluar kamar. Siapa tahu ia bisa dapat informasi soal manajer sialannya. Hiruma melangkah ke loby tempat teman-temannya sedang berkumpul.
"Apa si manajer sialan itu sudah pulang?" tanya Hiruma tegas dengan tampang datar.
Semua anggota Devil Bats saling pandang kemudian menggeleng secara bersaamaan.
"Memangnya Anezaki belum kembali sejak beli obat tadi?" tanya Kurita.
"Kalau sudah pulang, aku tidak tanya gendut sialan!" jawab Hiruma tajam.
"Cie….You-nii, kau mengkhawatirkan Mamo-nee? Fufufufu…." Suzuna tertawa kecil sambil menggerakan 'antena cinta'nya dengan lincah.
"Jadi kau tidak khawatir padanya, cheer sialan?" tanya Hiruma datar, "kau pikir kalau si manajer jelek itu hilang, siapa yang akan bertanggung jawab, cheer sialan baka!"
Nyali Suzuna yang biasanya ada ribuan langsung lenyap sekatika mendengar suara Hiruma. Ia beringsut mundur sebelum setan itu menelannya hidup-hidup.
Hiruma menghela nafas berat, "manajer sialan itu benar-benar mau kubuang ke laut rupanya," Hiruma bergumam dengan suara yang sangat pelan.
Musashi melirik sahabatnya itu. Meski Hiruma menutupinya, tapi ia tahu Hiruma sangat cemas, "kau sudah menghubunginya, Hiruma?" tanya Musashi.
"Manajer bodoh itu tidak bisa dihubungi," jawab Hiruma datar.
"Kita harus cari Mamori-san!" kata Monta tegas dengan suara yang keras.
"Benar, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Mamori-neechan?" Sena menanggapi.
"Memangnya tadi Anezaki pergi dengan siapa?" tanya Jumonji.
"Dengan mantan pacar sialannya itu," jawab Hiruma.
"Eh?" suzuna memiringkan kepalanya menatap Hiruma, "mantan pacar, maksud You-nii, Kaito? Bukankah dia sejak tadi ada disini?"
Hiruma langsung menoleh kearah Suzuna. Mata hijaunya menatap gadis itu lekat-lekat, "bocah sialan itu sudah kembali?" tanyanya.
Suzuna mengangguk pelan. Entah kenapa ia jadi takut melihat reaksi Hiruma.
"Rambut ungu sialan itu meninggalkan manajer sialan," Hiruma menggerutu dengan suara yang sangat pelan, "kalian semua cari manajer sialan. Aku akan menemui si rambut ungu sialan itu!" komando Hiruma.
"Baik!" jawab yang lainnya kompak kemudian dengan segera mulai keluar penginapan untuk mencari keberadaan manajer kesayangan mereka.
Sementara itu Hiruma melangkah ke meja resepsionis. Ia menatap sang resepsionis dengan pandangan membunuh, "heh kau, resepsionis sialan. Cepat panggilkan pegawai sialanmu yang namanya Kaito sialan!" perintah Hiruma.
Sang resepsionis muda itu mengangguk cepat, kemudian menyambar telpon dan mulai menghubungi seseorang.
"Nauki-kun akan segera datang, silahkan tunggu sebentar," katanya kemudian pada Hiruma.
Pria itu tak menanggapinya. Ia hanya memasukan permen karet tanpa gula rasa mint ke mulutnya. Mencoba mencari ketenangan. Biar bagaimanapun ia harus tetap tenang.
"Siapa yang ingin bertemu denganku?"
Hiruma menoleh saat ia mendengar suara itu. Ditatapnya sosok Kaito Nauki dari atas sampai bawah. Entah kenapa Hiruma merasa kesal.
"Dimana manajer sialan itu?" tanya Hiruma tanpa basa-basi.
"Manajer?" Kaito menatap mata ermald Hiruma dengan pandangan bingung.
"Ya, manajerku. Anezaki Mamori, dimana dia?" Hiruma hampir saja berteriak. Tidak seperti biasanya. Kali ini ia tidak bisa menahan emosinya.
"Mamori? Bukankah seharusnya dia sudah pulang?" Kaito balik bertanya.
"Kalau manajer sialan sudah pulang, aku tidak akan bertanya, dasar bodoh!" bentak Hiruma.
Kaito merasakan jantungnya berdegup kencang. Pertama, karena Mamori belum kembali dan kedua karena Hiruma terus-terusan membentaknya. Tapi entah bagaimana Kaito rasanya punya sedikit keberanian. Keberanian untuk melawan Hiruma kalau terjadi sesuatu pada Mamori.
"Kau tadi membawanya kemana, rambut ungu sialan?" tanya Hiruma tajam dengan nada yang lebih rendah.
"Hanya ke apotek dan mampir ke mini market," jawab Kaito. Ia mengalihkan pandangannya. Berfikir, "ini gara-gara kau menyuruhnya cepat pulang!" bentak Kaito tiba-tiba. Ia mengakui kalau dirinya takut pada semua tindakan Hiruma yang tidak normal. Tapi kalau sampai ada apa-apa dengan Mamori, pria itu tidak bisa untuk diam saja. Biar bagaimanapun Kaito mengkhawatirkannya, "harusnya kau jangan mengganggu Mamori!" ia melanjutkan.
"Dapat keberanian dari mana kau bicara seperti itu di depanku?" Hiruma membalas, "kalau kau tidak mengajak manajer sialan itu ke tempat yang aneh-aneh dia tidak mungkin hilang!"
"Kalau terjadi sesuatu pada Mamori, aku tidak akan memaafkanmu," desis Kaito.
"Harusnya aku yang bicara seperti itu, dasar sialan!"
Kaito tidak memperdulikan kata-kata Hiruma. Ia segera melesat meninggalkan penginapannya, bergegas mencari Mamori.
Sementara Hiruma kembali ke kamarnya. Ia menyalakan laptopnya dan mulai sibuk disana. Hiruma baru ingat kalau dia memasang alat penyadap sekaligus pelacak di handphone Mamori, "semoga saja ini bisa berhasil," ia bergumam pelan.
"Kenapa rasanya aku hanya berputar-putar disini terus?" Mamori mengatur nafasnya yang memburu. Ia memandangi sekelilingnya, dan rasanya ia jadi gemetar, "sudah malam," bisiknya, "dimana jalan keluarnya?"
Untuk pertama kalinya Mamori merasa sangat takut. Ia takut kalau tidak bisa kembali, ia takut kalau tidak ada yang menemukannya, "ya Tuhan, lindungi aku," doa Mamori pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon besar. Nafasnya memburu, sudah berkali-kali ia mencoba mencari jalan keluar dari hutan ini, tapi Mamori tidak mendapatkan hasil.
Harusnya hanya mengikuti arah laut, tapi ternyata ia tidak bisa menemukan apapun. Malah hanya kembali lagi kemari. Mamori memandangi layar handphonenya berharap benda metalik itu bisa membantunya. Tapi kemudian Mamori menggeleng pelan. Ia tidak mendapatkan sinyal.
"Semoga saja teman-teman mencariku," gumam Mamori. ia duduk di bawah pohon itu, pandangannya menjadi buram, "teman-teman, apa kalian khawatir padaku?" ia bertanya entah pada siapa.
"Akh!" Mamori menjerit dan dengan reflek ia menarik kaki kanannya yang tiba-tiba terasa sakit. Tidak begitu sakit tapi cukup mengejutkan. Gadis itu memandang ke bawah dan menangkap sosok ular yang cukup besar tak jauh dari tempatnya.
"Astaga," Mamori beringsut beberapa langkah. Ia memandangi sekelilingnya yang sudah gelap. Gadis jenius itu berfikir bagaimana caranya untuk mengusir ular itu. Tapi hasilnya nihil. Otak kebanggaannya tidak bisa menemukan cara yang tepat.
Akhirnya gadis itu mencoba berdiri dan mulai berlari sebelum ular itu menyerangnya. Mamori berhenti di sebuah pohon lainnya. Ia memandangi kaki kanannya. Tampak dua titik yang mengeluarkan sedikit darah disana. Sakit, rasanya seperti ada yang berdenyut dalam kakinya.
Mamori segera mengeluarkan sapu tangan dari kantong jaketnya kemudian mengikat betisnya dengan sangat kencang. Ia tidak tahu pasti tapi ia bisa menebak mungkin saja ular yang menggigitnya tadi memiliki bisa. Jadi sebelum racunnya menyebar, Mamori melalukan pencegahan paling awal. Setidaknya untuk memperlambat laju racun milik si ular.
Ia mulai membuka kantung belanjaannya tadi, mencari apapun yang bisa mengeluarkan racun itu dari tubuhnya. Sekali lagi, hasilnya nihil. Yang ia beli tadi hanya beberapa obat dan perban. Mamori menyandarkan tubuhnya, pasrah. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia berharap teman-temannya bisa menemukannya.
Langkah kaki panjang itu tampak cekatan. Ia melompati beberapa semak dan akat-akar pohon bakau di depannya. Sesekali mata hijaunya menatap GPS yang ia genggam. Laki-laki berambut spike pirang itu memperhatikan sekelilingnya sebelum ia kembali melangkah, kali ini lebih tenang. Sesekali ia membuat gelembung dari permen karet di mulutnya.
Pandangannya fokus ke segala arah. Ia tidak mau melewatkan satu titikpun. Perlahan-lahan, ia menyusuri tiap jengkal hutan bakau itu. Ia menyibak semak-semak yang menghalangi jalannya. Tapi kemudian ia berhenti. Matanya menatap tajam satu titik.
Tampak gadis yang sejak tadi ia cari, gadis yang sejak tadi membuatnya kacau. Anezaki Mamori. Gadis itu duduk bersandar di sebuah pohon dengan mata terpejam, wajahnya tampak pucat.
Jantung sang setan bernama Youichi Hiruma itu berdegup dengan sangat kencang. Ada yang tidak beres. Ia tahu itu. Setan itu menghela nafas perlahan sebelum akhirnya bergegas menghampiri Mamori. Ia menatap kaki Mamori yang diikat dengan sapu tangan.
"Manajer sialan, kenapa kau?" tanyanya. Hiruma mengguncang bahu Mamori pelan. Ia melirik kaki Mamori, tepatnya dua titik berwarna merah di atas mata kaki Mamori. Setan itu meludahkan permen karet dalam mulutnya kemudian menghisap dua titik itu.
Ia tidak harus bertanya kenapa. Sebentar saja otak jeniusnya bisa menebak apa yang terjadi pada manajernya. Hiruma mengeluarkan bisa ular yang sudah mulai menyebar ke tubuh manajernya itu dengan cepat.
"Manajer sialan, bangun!" Hiruma kembali mengguncang bahu Mamori, kali ini lebih keras.
"Hi-ruma-kun?" gadis itu bergumam pelan. Mata birunya tampak sayu menatap setan di depannya.
"Ayo pulang," Hiruma membimbing Mamori untuk naik ke punggungnya.
Mamori menurut. Rasanya lemas sekali. Kesadarannyapun hampir hilang. Tapi Mamori sangat bersyukur, Hiruma menemukannya. Ia memeluk leher pria itu erat-erat. Terasa aroma mint yang sangat menyejukan dari pria itu, aroma yang selalu membuat Mamori merasa tenang di dekatnya. Gadis itu memejamkan matanya sementara Hiruma melangkah pulang, dengan bantuan GPS tentunya.
"Arigatou, Hiruma-kun," gumam Mamori pelan.
"Kau ini merepotkan," jawab Hiruma datar. Tapi ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa ia merasa senang bisa menemukan Mamori.
"Bagaimana?" tanya Musashi pada anggota Devil Bats yang lain.
Mereka semua menggeleng. Padahal mereka sudah menyisir daerah sekitar untuk mencari Mamori. Tapi mereka tidak menemukan apapun.
"Aku tidak akan menyerah max!" kata Monta tegas, "aku pasti akan menemukan Mamori-san!"
"Benar. Kita tidak boleh menyerah. Kita harus mencari Mamo-nee sampai ketemu!" Suzuna menanggapi. Wajahnya sudah pucat karena panik.
"Dia disini, bocah-bocah sialan!"
Mereka semua menoleh saat mendengar suara kapten mereka yang sangat khas itu. Mata mereka tak berkedip menatap Mamori yang tengah digendong Hiruma. Setan itu melangkah mendekati teman-temannya.
"Mamo-nee… Mamo-nee, apa yang terjadi padanya, You-nii?" tanya Suzuna yang sudah sangat cemas.
"Lebih baik kalian hubungi dokter, aku akan membawa manajer sialan ini ke kamar," jawab Hiruma datar. Ia melangkah meninggalkan teman-temannya.
Mata Hiruma sempat bertemu pandang dengan Kaito yang tengah memegangi handphonenya. Hiruma menatap pria itu tajam, tapi kemudian mengabaikannya. Ia terus berjalan ke kamarnya.
Hiruma membaringkan tubuh Mamori di tempat tidur dengan amat perlahan. Gadis itu masih tertidur, atau mungkin pingsan. Hiruma tidak tahu pasti. Ia menyelimuti tubuh Mamori kemudian beranjak keluar kamarnya. Membiarkan manajernya istirahat.
"Hiruma,"
Setan itu menoleh mendengar namanya dipanggil. Dilihatnya teman-temannya datang bersama seorang berjas putih yang membawa kotak P3K. Sudah pasti pria itu seorang dokter.
"Dimana Anezaki?" tanya Musashi mewakili teman-temannya.
Hiruma membukakan pintu kamarnya, "manajer sialan sepertinya digigit ular, dan dia terkena racunnya," jawab Hiruma. Ia membiarkan sang dokter masuk.
"Apa Mamo-nee akan baik-baik saja?" tanya Suzuna.
"Dia pasti akan baik-baik saja, Suzuna-chan," jawab Sena.
"Semoga saja dia tidak apa-apa," gumam Kurita.
Yang lainnya hanya diam menyaksikan dokter itu melakukan tugasnya, "dia tidak apa-apa," kata dokter itu setelah ia selesai membalut luka Mamori.
Semuanya menghela nafas lega begitu mendengar kata-kata sang dokter.
"Syukurlah," terdengar gumaman kecil dari mereka secara bersaman
"Racun ular yang menggigitnya memang sudah menyebar, tapi racun itu tidak berbahaya. Hanya akan membuatnya tidak sadar selama beberapa saat," dokter itu memberikan beberapa obat pada Hiruma yang langsung diterima setan itu, "kalau sudah sadar, dia harus minum obatnya, tiga kali sehari dan harus setelah makan,"
"Baiklah, akan kupaksa manajer jelek itu minum obat sialan ini," kata Hiruma, "sudah selesai? Orang tua sialan antarkan dokter sialan itu pulang dan urus semua administrasinya," perintah Hiruma sambil melemparkan obat-obat milik Mamori ke meja kecil dekat tempat tidurnya.
"Lagi-lagi kau seenaknya," Musashi mengorek telinganya cuek kemudian segera melaksanakan perintah Hiruma.
"Dimana kau menemukan Anezaki, Hiruma?" tanya Kurita.
"Di hutan sialan sebelah sana," jawab Hiruma seadanya, "entah darimana manajer sialan itu sampai dia masuk ke hutan. Lebih baik sekarang kalian semua keluar, teri-teri sialan," kata Hiruma seraya keluar dari kamarnya. Teman-temannya yang lain mengikuti.
"Sudah malam, ayo kita juga istirahat," ajak Sena. Teman-temannya mengiyakan. Mereka semua berlalu ke kamarnya masing-masing. Meninggalkan Hiruma sendirian.
Hiruma menghela nafas pelan. Entahlah. Ia bingung juga pada perasaannya. Ia mengacak rambut pirangnya, penampilannya sekarang pasti sangat berantakan. Pria itu berfikir. Tapi dia merasa lega karena semuanya baik-baik saja. Manajernya berhasil ia temukan, meskipun dalam keadaan luka, tapi Mamori akan baik-baik saja.
"Dimana Mamo-chan?"
Hiruma menoleh saat mendengar suara itu. Ia menatap pria berambut ungu yang tengah menghampirinya.
Mata hijau Hiruma menampakan kilat jahat saat menatap pria itu, "mau apa kau?" tanyanya datar.
"Aku mau lihat keadaannya," jawab Kaito pelan.
"Tidak perlu. Lebih baik kau kembali ke tempatmu," kata Hiruma tegas, "manajer sialan akan baik-baik saja tanpa kau, rambut ungu sialan!" pria itu membuka kamarnya dan melangkah masuk. Ia menutup pintunya dengan perlahan. Tidak mau membangunkan malaikat yang entah sejak kapan membuatnya seperti orang gila itu.
"Tch," Hiruma berdecak pelan. Ia menatap Mamori sekali lagi. Seolah tidak pernah bosan.
Bola mata gadis itu tampak bergerak dalam kelopak matanya yang tertutup. Perlahan-lahan, mata biru milik malaikat itu membuka. Pandangannya terasa buram, tapi lama-kelamaan lebih jelas, ia bisa menangkap sosok setan tampan yang berada tak jauh darinya.
"Hiru-ma?" gadis itu berujar pelan.
"Apa, manajer sialan?" tanya Hiruma tajam sambil duduk di dekat ke Mamori.
"Benar itu kau?" Mamori menatap pria itu dengan pandangan lembut. Senang sekali rasanya bisa kembali menatap kaptennya.
"Kau pikir siapa lagi?" balas Hiruma ketus.
Mamori tersenyum tipis, "haus," gumam Mamori pelan. Tapi cukup untuk di dengar Hiruma.
Pria itu berdecak kesal namun tetap mengambilkan sebotol air mineral untuk Mamori. Hiruma menyerahkan minumannya sambil membantu Mamori duduk.
"Bagaimana ceritanya kau bisa tersesat sampai hutan, manajer sialan?" Hiruma mulai mengintrogasi.
"Kau kan menyuruhku untuk cepat-cepat pulang. Jadi aku langsung pulang dan meninggalkan Kaito-kun yang sedang membelikan dango untukku. Kalau kau tidak memaksaku untuk pulang, aku tidak mungkin tersesat!" jawab Mamori tegas setelah meneguk minumannya. Nada bicaranya naik beberapa oktaf karena kesal.
"Kenapa menyalahkanku, manajer sialan? Kalau kau tidak pergi dengan mantan pacar sialanmu itu, kau tidak mungkin tersesat!" Hiruma membentak.
"Jadi kau menyalahkanku?" Mamori menatap pria itu lekat-lekat. Entah kenapa hatinya terasa sakit, "kau pikir kau siapa? Selalu saja menyalahkan orang lain! Aku pergi dengannya juga karena kau pasti tidak mau menemaniku! Kau selalu memerintahku, kau selalu saja membentakku, aku bukan budakmu!" jerit Mamori.
Hiruma balas menatap Mamori dengan tajam, "kenapa kau berteriak padaku, manajer sialan?" tanya Hiruma dengan suara yang lebih rendah.
Mamori melengos, ia kembali teringat saat ia berusaha mencari jalan keluar. Ia ingat betapa menakutkannya berada di alam luar seorang diri, "kau tidak tahu, aku takut sekali. Aku langsung pergi meninggalkan Kaito-kun karena aku tidak mau kau menunggu terlalu lama. Aku ingin segera kembali agar kau tidak perlu marah-marah. Tapi karena aku terlalu memikirkan itu, aku melupakan jalan mana yang harus aku lewati untuk kembali ke penginapan. Kau tidak tahu, aku takut sekali, Hiruma-kun. Aku takut kalau aku tidak bisa kembali, aku takut kalau aku tidak bisa menemukanmu dan yang lain, aku takut-"
Mamori tidak meneruskan kata-katanya karena dengan sangat cepat Hiruma merenggut tubuhnya. Membawanya dalam satu pelukan yang hangat. Hiruma memeluk manajernya dengan sangat erat. Seolah tidak mau melepaskannya lagi.
Ia tahu ini gila. Tapi dia tidak bisa terus-terusan mengandalkan otak jeniusnya untuk urusan yang satu ini, "kau tahu, kau hampir membuatku gila," Hiruma berbisik.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu sang setan. Ia bisa merasakan bulir-bulir air matanya jatuh membahasi kaus hitam Hiruma. Ia merasa tenang, sangat tenang. Ia tidak ingin mengakhiri saat seperti ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi jauh-jauh lagi dariku," Hiruma kembali berbisik dengan suara yang lebih pelan. Seperti tidak ingin Mamori mendengarnya.
Hiruma akhirnya melepaskan pelukannya. Ia menatap Mamori dengan tatapan tajam namun terasa lembut, "bagaimana perasaanmu pada si mantan pacarmu itu?" tanyanya datar.
"Perasaan? Maksudmu…?" Mamori balas menatap mata Hiruma, "tidak ada Hiruma-kun, Kaito hanya masa lalu. Dulu waktu kami berpisah, aku memang masih menyukainya. Tapi ada seseorang yang akhirnya bisa membuatku melupakan Kaito-kun. Kalau bersamanya, aku jadi merasa sangat senang, dan aku ingin selalu berada di dekatnya," Mamori tersenyum kecil.
"Ho….," Hiruma menanggapi dengan malas. Ia beranjak dari tempat duduknya. Tapi sebelum ia melangkah Mamori menahan tangannya. Pria itu menoleh kearah Mamori.
"Apa boleh, aku terus bersamamu? Aku ingin terus berada disisimu," ucap Mamori pelan.
Hiruma terdiam sebentar, mencerna kata-kata Mamori. Tapi kemudian ia menyeringai kecil, "sudah kubilangkan, aku tidak akan membiarkanmu pergi jauh dariku," jawab Hiruma tak kalah pelan. Ia mendekat kearah Mamori dan mencium kening gadis itu, "mulai sekarang, selain manajerku. Kau juga pacar sialanku!" kata Hiruma seenaknya.
"Eh?" mata Mamori membulat mendengar keputusan Hiruma yang tiba-tiba. Setan itu malah menyeringai. Sepertinya ia sudah melupakan kemarahannya yang tadi.
"YA-HA!" teriak Hiruma tepat di depan wajah Mamori.
"Mou… Hiruma-kun, kau selalu seenaknya!" protes gadis itu. Tapi pada akhirnya ia tersenyum kecil.
"Kekekeke…..," setan itu malah tertawa. Membuat Mamori akhirnya kembali tersenyum, "sekarang kau tidurlah manajer jelek. Aku akan ke kamar orang tua sialan dan gendut sialan," kata Hiruma kemudian keluar dari kamarnya.
"Hari ini menu latihan spesial anak-anak sialan!" kata Hiruma mengawali latihan pagi. Ia dan semua angggota Devil Bats sudah berkumpul di pantai sejak satu jam lalu. Mereka sudah selesai joging di sepanjang bibir pantai. Sekarang Hiruma tengah memamerkan bola amefuto pada anggotanya.
"Kita akan main beach football," kata Hiruma sambil memamerkan deretan giginya yang runcing.
"Beach football?" tanya Yukimitsu.
"Seperti waktu kita bergabung dengan Kid dan Tetsuma di Amerika?" kali ini Sena yang bertanya.
"Ya tentu saja, ayo main max!" kata Monta bersemangat.
"Keh, baiklah, ayo mulai. Bocah-bocah sialan!"
"Berjuanglah…. Devil Bats!" teriak Suzuna memberikan semangat. Disampingnya Mamori tampak tersenyum melihat teman-temannya, "Mamo-nee, bagaimana lukamu?" tanya Suzuna sambil menoleh kearah Mamori yang tengah memperhatikan Hiruma.
"Eh?" Mamori langsung menoleh kearah Suzuna sebelum gadis itu menyadari apa yang tengah ia perhatikan, "tidak apa-apa Suzuna-chan, lukanya tidak parah dan aku juga sudah minum obat," jawabnya.
"Syukurlah, aku dan teman-teman yang lain sangat khawatir waktu Mamo-nee belum pulang, You-nii juga, dia jadi sangat galak karena tidak bisa menghubungimu, apalagi waktu tahu kalau mantan pacar Mamo-nee sudah kembali sedangkan Mamo-nee belum. Sepertinya, You-nii khawatir terjadi sesuatu dengan Mamo-nee, dia perhatian sekali ya," Suzuna mulai menggerakan antenanya kesana kemari, membuat Mamori jawdrop melihatnya, "mencurigakan," lanjut Suzuna.
"Kau juga kan Suzuna-chan…. Kalau Sena yang tersesat, kau pasti akan sangat khawatir," Mamori mencubit pipi gadis itu gemas.
"Mamo-nee…," ucap Suzuna mengalihkan pandangannya.
Mamori hanya tersenyum kecil melihat tingkah Suzuna. Ia bisa melihat pipi gadis itu bersemu merah. Meskipun Suzuna tidak pernah mengakuinya, tapi Mamori tahu, Suzuna dan adik kecilnya sudah menjalin hubungan special.
"Mamori-chan,"
Dua gadis itu menoleh mendengar panggilan tadi. Mereka mendapati Kaito tengah berjalan menghampiri keduanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kaito pada Mamori.
"Aku baik-baik saja, Hiruma-kun menemukanku," jawab Mamori pelan. Ia menunduk.
"Mamo-nee…. Aku pergi dulu sebentar ya…," pamit Suzuna tiba-tiba, seperti sengaja meninggalkan Mamori berdua dengan Kaito.
"Maafkan aku, Mamori-chan. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu," kata Kaito. Ia menatap Mamori dengan pandangan lembut.
"Bukan salahmu, aku yang meninggalkanmu kan, aku harusnya menunggumu kembali baru setelah itu pulang. Sudahlah, semuanya kan sudah selesai,"
"Tidak bisa begitu, aku tidak bisa menjagamu,"
Mamori memandang mata Kaito, "kau tidak punya kewajiban untuk menjagaku, Kaito-kun," tanpa sadar kata-kata itu meluncur dari bibir Mamori, "kita sudah tidak punya hubungan apapun," lanjutnya.
Mata Kaito membulat mendengar kata-kata gadsi di depannya itu, "apa pria itu pacarmu?" tanya Kaito, mata ungunya melirik Hiruma yang entah sejak kapan tengah memperhatikan mereka.
Mamori mengikuti pandangan Kaito dan menatap kaptennya. Gadis itu mengangguk, "waktu kau pergi, aku sangat kehilangan. Kupikir aku tidak bisa jatuh cinta lagi. Tapi saat mengenalnya, aku tahu ada yang beda. Hiruma-kun selalu bersamaku, kalau bersamanya, aku jadi merasa senang. Hiruma-kun selalu melindungiku dengan caranya sendiri. Meskipun dia tidak pernah mengakuinya, tapi dia selalu mengawasiku. Aku akhirnya tahu, kalau Hiruma bisa membuka kembali hatiku yang dulu cuma buatmu,"
"Jadi, tidak ada lagi tempat untukku sekarang?" tanya Kaito pelan.
"Sudah jelas tidak ada, rambut ungu sialan!" sang setan menjawab tepat sebelum Mamori bicara. Hiruma menghampiri keduanya dan segera merangkul bahu Mamori, "kau sudah diberikan kesempatan untuk bersamanya tapi kau malah meninggalkannya. Jangan salahkan dia kalau sekarang dia sudah tidak mempunyai perasaan apapun padamu!"
"Maafkan aku," ucap Mamori pelan, "tapi aku mau kita tetap berteman, Nauki-kun," gadis itu berusaha tersenyum.
"Perasaan itu memang tidak boleh dipaksa," jawab Kaito sambil memamerkan senyumnya. Berusaha sebisa mungkin agar ia tidak menunjukan kekecewaannya.
Mamori balas tersenyum kemudian memeluk pria itu sebentar. Hanya sebentar, karena ia tidak mau setan itu mengamuk.
"Arigatou, Nauki-kun," ucap Mamori. Kaito mengangguk pasti.
"Ayo manajer sialan, kita urusi bicah-bocah sialan itu!" kata Hiruma sambil melangkah menjauh.
"Iya, Youichi-kun!" jawab Mamori seraya menyusul langkah Hiruma.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk memanggilku dengan nama itu!" kata Hiruma tegas, ia menoleh sebentar kearah Mamori.
"Mou… Memangnya kenapa kalau aku memanggilmu dengan nama kecil? Pelit sekali!" balas Mamori sebal, "kalau begitu jangan panggil aku manajer sialan!"
"Baiklah, pacar sialan. Terserah kau saja!"
Mamori tersenyum kemudian menggandeng tangan Hiruma. Ia tertawa kecil.
Kaito tersenyum pahit memandang langkah mereka yang menjauh. Tapi senyuman itu tampak tulus.
"Besok kita akan pulang?" tanya Mamori pada pria di sebelahnya.
"Hm," jawab Hiruma singkat, "kalau terlalu lama disini, bisa-bisa rambut ungu sialan itu terus mengganggumu," lanjutnya.
"Hey, apa tingkahmu yang menyebalkan sejak kemarin itu karena kau cemburu?" Mamori kembali bertanya sambil menatap mata ermald milik Hiruma.
Pria itu tidak menjawab. Ia tidak mau mengakuinya. Hiruma malah melengos dan meneruskan langkahnya.
"Ternyata kalau setan cemburu seram sekali ya," kata Mamori. Sedetik kemudian tawanya meledak.
"keh, manajer sialan! Jangan sampai kau membuatku bersikap seperti kemarin lagi. Menjijikan sekali!"
Mamori tak mendengarkannya. Ia sibuk mentertawakan sikap Hiruma yang mendadak aneh sejak kemarin. Setan itu berdecak kesal kemudian menyeret malaikatnya mendekat. Ia merangkul bahu Mamori erat, memberikan perlindungan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu seperti bocah sialan itu," gumam Hiruma pelan, namun cukup untuk di dengar Mamori.
"Hm, kau tidak boleh meninggalkanku," Mamori berbisik. Gadis itu tersenyum kecil. Sementara sang setan menyeringai.
OWARI
Err…. Satu kata yang ada dalam otak saia waktu liat fic ini. Gaje. Aduuh… gomenasai minna, endingnya sumpah aneh banget, OOC juga, dan kayaknya terkesan maksa*pundung*yah, yang penting saia udah menyelesaikannya,haha... saia gak tau apa saia udah bener nulis waktu Mamori digigit ular, karena pengalaman saia dulu rasanya seperti itu. :D yosh, supaya bikin saia semangat lagi, silahkan tinggalkan reviewnya…. Kritik, saran, flame, dan semua yang ada dipikiran readers saat membaca fic ini
R
E
V
I
E
W
Please,please,please…
Coming soon: Agen no.1
Wakareru?
