Title: Arti Kehidupan
Disc: Masashi Kishimoto
Rat: T
Warning: OOC,EYD berantakan, Kata-kata terlalu memaksakan, Typo mungkin? Bukan mungkin lagi.. Typo melebihi kapasitas!
Sumary: baca ajh ah!
Adapun kesalahan EYD ataupun typo. Bukan di karenakan saya seorang Newbie tapi semata-mata karna kebodohan saya dalam membuat fic..
Sebelumnya ane mo memberitahu bahwa senpai" yg udah rievew tlong di cek di PM'y sendiri, saya udah bls semua ko..
Dan saya ucapkan terimakasih kepada senpai ,Kei Deiken, .96, ,Ae Hatake,Hikitani 8man, ,yudhabooyz,rizkyuzumaki603,Uzumaki 21N,yordandimas6,Yamigakure no Ryukage,Saladin no jutsu,Awim Saluja,The KidSNo OppAi,Naluto Romi Ucumaki, .18,Generasi Muda,Aizen L sousuke,ferluci97,Luca Marvell, dan terakhir m. ...dan senpai" tanpa nama.. Sekali lagi terimakasih atas Rievews'y..
Oh dan satu lagi..
Silent reader
Ya-ha Lanjut chap 3 sob..
Ganbatte ne!
Coba tebak aku siapa hayoo? * *
(- _ -!)
... ... ...Cautions! Klo baca fic ane yg teliti yah.. Karna ane selalu menyisipkan petunjuk di setiap chap'y, itu brtujuan spaya senpai bsa nebak gmana alur cerita kedepan'y.. Eits... Tpi ptunjuk'y smar" loh.. Ya tentun'y di chap ini jga ada... ...
... ... ..
Naruto POV
Kakinya melangkah menelusuri lorong demi lorong yang terdapat di gedung Hokage. Matanya biru yang sesekali melirik Shinobi ataupun Anbu yang sempat berpapasan denganya. Bukan hanya Anbu ataupun Shinobi. Sering kali dia juga melihat beberapa orang yang sepertinya hanya warga biasa. Entah, apa yang mereka lakukan di gedung Hokage. Mungkin mereka hendak mengajukan permohonan misi.
Dia terus berjalan di lorong gedung itu, menatap tiga orang berjalan di depanya. Dia sendiri berjalan paling belakang. Dan tuanya paling depan. Dia sendiri sebenarnya belum tahu, untuk apa tujuanya datang kemari. Dia hanya mengikuti tuanya. Sejenak matanya menatap ke arah pria berpakaian aneh serba hijau. Baru saja keluar dari pintu ruang Hokage. Entah kejadian apa yang telah menimpa dirinya hingga membuatnya menangis ala Anime. Tidak lupa dengan alis tebalnya yang mengkerut. Tunggu dulu. Alis tebal.? Rasanya dia pernah melihatnya.? Tapi tidak dengan badan sebesar ini.
"Ah.. Danzo-sama." Pikiran tentang alis tebal yang pernah dia lihat buyar, takala melihat pria dengan pakaian aneh tadi berhenti di depan tuanya.
"Hm.. Ada apa.?" Kali ini tuanya yang berbicara..
"Tolong masukan aku ke team Anbu.!" Dia melihat aneh ke arah pria dengan rambut anehnya. Oke. Mungkin terasa berlebihan jika beberapa kali dirinya mengatakan aneh. Tapi, pria di depanya ini sungguh aneh menurutnya, apalagi melihat gaya pakaian, dan model rambutnya itu sangat mengingatkanya akan jamur Matsutake kesukaanya.
"Kau tidak memilikinya."Matanya menatap punggung tuanya. Apa maksudnya 'tidak memilikinya'.?
"Tidak... Memilikinya.?" Sepertinya bukan dirinya saja yang bingung akan ucapan tuanya, bahkan pria aneh di depan tuanya itu, kelihatan lebih bingung daripada dirinya. Dan ohh. Ayolah. cairan hijau apa itu yang keluar dari hidungnya. Sungguh pria aneh.
"Kau tidak memiliki kegelapan." Tuanya berbicara sambil meninggalkan pria aneh tadi. Samar dia mendengar pria aneh tadi mengatakan 'kegelapan' dengan nada yang terdengar kebingungan.
Tuanya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Keheningan kembali menyelimuti di antara mereka berempat. Memang beginilah suasana saat mengawal tuanya, tidak ada yang mau berbicara. Mereka berbicara jika memang sesuatu itu perlu di bicarakan, selain itu tidak pernah ada yang mau bicara.
... ... ...
Normal POV
Tatapan mata Hiruzen kini tertuju pada lelaki yang sedang menatapnya dengan tajam, di tangan kirinya terdapat tongkat yang selalu dia bawa. Matanya sesekali melirik ke arah belakang Danzo, di mana seorang anak berpakaian lengkap layaknya Anbu. Anak yang mungkin seumuran dengan Sai. dia tahu, Anbu yang mengawal Danzo sendiri adalah orang-orang yang terpilih di anggota Root. Dan jika dengan usianya sekarang dia telah terpilih jadi pengawal Danzo. Maka dapat di pastikan, kemampuan anak itu tidak bisa di remehkan. Tapi bukan itu yang membuatnya terus menatap anak tersebut. Yang membuatnya tertarik terhadap anak itu, tidak lebih karna warna rambut yang dia miliki. Rambut merah kecoklatan khas Uzumaki. Memikirkan nama Uzumaki, mengingatkanya akan seseorang yang telah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Uzumaki Kushina.. Tapi entah darimana Danzo mendapatkan seorang Uzumaki. Setahunya Uzumaki yang berada di Konoha hanya Kushina Uzumaki dan Mito Uzumaki, dan keduanya telah lama meninggal..
"Ada yang harus aku bicarakan padamu." Ucapan Danzo membuat Hiruzen sadar dari pikiranya.
"Apa yang akan kau bicarakan.?" Mengalihkan Pandanganya ke arah Danzo, yang memang sebelumnya pandanganya teralihkan karna anak berambut merah tersebut.
"Kau tahu kita telah banyak kehilangan ninja berbakat di perang Shinobi ke tiga" Hiruzen menatap bingung mendengar arah pembicaraan Danzo, dan menatap Danzo tanpa berbicara. Dia tahu teman lamanya ini belum selesai bicara.
"..."
"Aku ingin Itachi Uchiha di rekomendasikan menjadi Anbu." Hiruzen menatap Danzo dengan alis bertaut. Dia tahu Danzo bukanlah tipe orang yang asal dalam merekrut seseorang. Dia sendiri bukanlah orang bodoh, Itachi Uchiha sendiri adalah seorang Shinobi yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan di konoha karna kejeniusanya. Dia tidak tahu apa yang akan di rencanakan Danzo tapi ini tidak boleh di biarkan.
Sejenak Hiruzen menghembuskan nafasnya lelah...
"Maaf Danzo.. Aku tidak bisa mengabulkan per-."
"Dia akan menjadi Anbu di bawah perintahmu, bukan di Root. Apa itu cukup.?" Menyela ucapan Hiruzen. Danzo menatap tajam ke arah pria di hadapanya..
Hiruzen balik menatap Danzo tajam. Dia tahu Itachi Uchiha adalah anak berbakat, dia lulus di Akademi dengar umur tujuh tahun. Bahkan setelah beberapa tahun, dia kembali membuat dirinya menjadi bahan pembicaraan warga Konoha, dengan menjadi Chūnin di usia sepuluh tahun.
Sekali lagi matanya menatap ke arah anak berambut Uzumaki tersebut. Dan selanjutnya dia hanya menghela napas lelah..
... ... ...
Naruto POV
Di balik topeng matanya terpejam merasakan kesunyian di antaranya. Terduduk di atas kepala patung kuil tempat yang di janjikan tuanya kepada Shisui Uchiha, kali ini berbeda saat dia mengkawal tuanya bertemu dengan Orochimaru. Tidak perlu kesiagaan. Dirinya hanya perlu diam mengawasi. Bukan.. Bukan berarti dia meremehkan kekuatan seorang Uchiha Shisui. Bagaimanapun dia seorang yang harus di perhitungkan, dia adalah Ninja jenius dari Konoha. Bahkan kemampuanya sebagai seorang Uchiha dapat membuat lawanya gentar. Tapi tuanya sempat bilang, dia sendiri yang akan mengurus Uchiha Shisui. Dua tahun yang lalu Shandaime Hokage menyutujui permintaan yang di ajukan tuanya. Dan merkomendasikan Itachi Uchiha sebagai Anbu. Kini sudah sejauh ini. Namun, Uchiha tetap teguh dalam pendirianya. Dirinya sebenarnya tidak begitu peduli dengan hal yang akan terjadi. Tetapi tidak dengan tuanya, dan dia tahu betul kesetianya tuanya terhadap Konoha. Ini akan memakan waktu cukup lama baginya..
Membuka Matanya secara perlahan, tatapan matanya perlahan terarah ke bawah tempatnya terduduk..
Shisui Uchiha dia sangat memperdulikan masa depan Konoha. Dia sadar akan sesuatu, ketidakpuasan terhadap Konoha semakin berkembang di antara Uchiha. Tetapi dia memliki pemikiran yang sama dengan pendahulu Konoha. Dia tidak seperti Uchiha lainya. Dia bahkan memliki kesetiaan yang jauh lebih baik terhadap Konoha. Kesetian.? Bahkan dirinya sendiri tidak memiliknya. Matanya menatap di mana tuanya mulai mengambil tindakan terhadap Shisui..
... ... ...
"Itu hanya Genjutsu.. Anda akan terbebas sebentar lagi." Matanya melihat Shisui mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tuanya. Entah apa yang berada di pikiran Shisui, tetapi menurutnya dia terlalu menganggap remeh tuanya.
"Bugh!" "Crass!" Seluruh tubuhnya menegang saat melihat tuanya tiba-tiba muncul di depan Shisui. Tetapi dia juga melihat tubuh tuanya terdiam masih berada dalam pengaruh genjutsu sebelum akhirnya menghilang. Dan dengan cepat tuanya menyerang dan mengambil paksa mata kanan Shisui.
'Bunshin? Tidak itu bukan Bunshin' Batinya. Ia sempat mengira tuanya menggunakan Bunshin, tetapi ia tahu itu bukan Bunshin..
"Sharingan? Izanagi?" Walaupun samar, tetapi dia masih dapat mendengar Shisui menyebutkan Sharingan dan Izanagi. Entah apa yang di maksud Sharingan dan Izanagi.
"Ini akan menjadi pengganti yang bagus untuk Sharinganku.. Root ambil satu mata yang tersisa darinya!" Matanya membulat. Root muncul tiba-tiba di sekitar tuanya. Tetapi bukan itu yang membuat matanya membulat, itu lebih ke pada saat ia melihat mata kanan tuanya yang selama ini tertutupi.
'Itu Sharingan.!' Batinya. Jadi selama ini mata yang tertutupi adalah Sharingan. Namun entah mengapa seketika ia melihat Sharingan di mata kanan tuanya berubah tanpa warna. Sehingga pada akhirnya warna merah pada Sharingan berubah menjadi putih seperti tanpa pupil.
"Katon: Goukakyuu no jutsu!" Dia tahu itu, Shisui mengeluarkan jutsu keahlian Klan Uchiha.
"Suiton: Mizurappa!" Matanya menatap datar ke arah anggota Root yang mencoba menahan serangan Shisui dengan Jutsunya. Mereka bodoh tentu saja itu pengalihan. Dua serangan yang beradu membuat kepulan asap di sekitanya, dan saat asap menghilang... Seperti dugaanya, Shisui menghilang...
"Dia hilang! Itu Sunshin!" Seseorang anggota Root berbicara.
"Kejar dia!" Kali ini ia mendengar suara tuanya memerintah...
... ... ...
Mata di balik topengnya kembali terpejam secara perlahan, sejenak ia merasakan terpaan angin yang berada di sekitarnya..
Mengecewakan baginya, Shisui terlalu naif. Dia pikir Shisui akan membuat semua ini berjalan lebih menarik, tetapi dia salah. Sebaliknya Shisui berniat menggunakan Kotoamatsukami dan menggagalkan kudeta. Itu sungguh mengecewakan mengingat dirinya seorang Uchiha, harusnya dia tahu. Pemikiran seperti itu terlalu memaksakan. Meskipun pada akhirnya Uchiha berubah, tetapi harusnya dia tahu, itu tidak akan mengakhiri ketidakpuasan Uchiha terhadap Konoha, dan selain itu. Konoha tetap tidak akan merubah pandanganya terhadap Uchiha...
"Bof" Masih berada di posisinya. Tanpa membuat segel dia mebuat beberapa Bunshin.
"Kalian tahu sendiri apa yang kupikirkan.. Lakukan Henge.. Sekarang pergi!" Masih dengan mata terpejam dan nada datarnya, ia memberi perintah kepada beberapa Bunshinya..
"Hai." Seketika Bunshinya menghilang dengan Shunsin..
Bagaikan gerakan Slow motion ia kembali membuka matanya perlahan..
...Tetapi meskipun begitu, ia tahu Uchiha bukanlah Klan bodoh. Kenyataanya sendiri Uchiha berperan dalam pembentukan Konoha. Dan sebenarnya Uchiha sendiri tidak bisa di katakan salah menurutnya, mereka pendahulu. Dan mereka berhak meminta lebih kepada Konoha. Tetapi berawal dari kekawatiran Nindaime sendiri yang membuat Uchiha menjadi hilang kendali. Nindaime terlalu berpikiran buruk terhadap Uchiha. Bertahun-tahun Uchiha terdiam, hingga akhirnya berujung dengan tragedi amukan yang di lakukan sang patner. Petinggi Konoha tahu seorang Uchiha yang melakukanya, tetapi kecurigaan petinggi Konoha tidak sepenuhnya benar. Seseorang penghianat yang melakukanya. Dan mulai saat itu Konoha memberikan parhatian lebih terhadap Uchiha. Tentunya Uchiha menyadari itu dan memberikan respon. Dan pada akhirnya, Konoha beranggapan Uchiha semakin berani. Tapi dia bukanlah seorang yang bodoh, tentu saja itu hanya reaksi. Bagaimanapun hal yang di perbuat sang patner beberapa tahun yang lalu masih menggangu pikiran mereka para Uchiha. Mereka di curigai, dan mereka tentunya tidak menerima hal tersebut..
Naruto End POV
... ... ...
"Tap" "Kughh!"
Meringis menahan sakit, Shisui terduduk menyandarkan tubuhnya di balik salah satu pohon. Dia tidak menyangka sesuatu ini akan terjadi. Ini akan berakibat buruk bagi Klanya, seharusnya kini dia sudah dapat menggunakan Kotoamatsukami kepada ketua Klanya. Dan membuat Klan Uchiha membatalkan Kudeta. Dia tahu ini akan berjalan tidak mudah tetapi, ini di luar perkiraanya sendiri. Danzo.. Dia tidak menyangka petinggi Konoha itu tidak mempercayai cara yang akan di gunakan dirinya untuk menghentikan Kudeta, sebaliknya Danzo memilih mengambil paksa salah satu mata Sharinganya. Kini dia tidak bisa menggunakan caranya sendiri untuk menggagalkan Kudeta. Dia sangat berharap Uchiha dan Konoha dapat bersama kembali, seperti halnya pada awal pembentukan Konoha. Mengingat hal tersebut, membuatnya akan selalu melakukan apapun demi kebaikan keduanya. Dia akan berkorban. Itu lebih baik daripada harus mengotori kehormatan Uchiha dan Konoha, dia akan mati demi melindungi Kehormatan Uchiha dan Konoha. Rasa cintanya terhadap Uchiha dan konoha sudah terlanjur merasuki setiap bagian dari tubuhnya. Tetapi kini dia telah gagal melindungi Uchiha dan Konoha. Dia tahu, ini tidak akan bertahan lama. Dia di kejar..
Cahaya matahari senja yang meredup dan menembus celah dedaunan rindang dari pepohonan yang tengah dia jadikan sandaran, menyinari mata kananya yang tengah terpejam mengeluarkan darah. Lintasan darah itu sendiri menghasilkan sensasi dingin yang tidak terkira, tak kala bagian wajah tersebut tersapu terpaan angin di sekitarnya.
"Maafkan saya Shandaime-sama."
Sesaat dia meringis, menahan sakit yang di akibatkan mata kananya masih saja tidak berhenti mengeluarkan darah. Dia harus segera pergi dari daerah tersebut, Itachi menunggunya. Hanya dialah yang mengerti akan pemikiran dirinya terhadap Uchiha dan Konoha. Ia harus memberikan beberapa informasi ini. Berdiri tertatih dari posisinya, Shisui melompat dari pohon tempatnya berdiri.
"Shut!" "Brakk!" Baru saja Shisui melakukan lompatan pertamanya. Seseorang dengan topeng polos muncul dan menyerang dengan cara menendangnya secara tiba-tiba sehingga membuat tubuhnya terhempas ke belakang. Untungnya Shisui masih sempat menyilangkan tanganya guna menahan tendangan yang mengarah ke dadanya. Matanya menajam menatap anak di depanya. Dia menggunakan topeng polos bertuliskan Nee di sisi atas topengnya, sesaat rambut merahnya begerak karna kecepatan serangan yang dia berikan kepadanya. Shisui sendiri sempat mengerang saat merasakan kekuatan dari tendangan yang sebelumnya di lancarkan kepadanya.
"Kau tidak akan kemana-mana Uchiha.. Serahkan Sharinganmu." Dia mulai berbicara, walaupun sebelumnya dia hanya terdiam.
"Root.? Kau mengejarku sampai sejauh ini. Danzo pasti sangat menginginkan mata ini." Belum juga hilang rasa sakit di tanganya akibat menahan serangan yang baru dia terima. Sejenak dia membentuk segel hanya dengan satu tangan. Shisui membentuk segel seperti hendak melakukan Shunsin.
"Jika Danzo menginginkan Sharinganku, dia harus bekerja lebih keras."
"Jangan bicara seolah kau tahu segalanya." Dia melempar beberapa Shuriken ke arah Shisui. Dia tahu segel itu, segel dengan satu tangan Sunshin no Shisui. Dia tidak akan membuatnya lari dengan mudah..
"Shutt!" "Shutt!" Belum sempat Shisui melakukan Shunshin. Dia bergerak menghindar saat melihat beberapa Shuriken mengarah kepadanya. Dia juga mendengar orang yang sebelumnya menyerangnya kini berbicara. Meskipun bernada datar, tetapi tetap saja suaranya membuktikan bahwa seseorang yang tengah menyerangnya kini memang seorang anak kecil. Tetapi mengingat kekuatan tendanganya dia akan berhati-hati terhadapnya.
"Kau telah gagal.. Berikan Sharinganmu kepadaku.!" Anak yang berada di hadapan Shisui kembali berucap..
"..."
Sedangkan Shisui sendiri hanya diam mencari jalan untuk pergi keluar dari keadan ini. Dia tidak akan menghabiskan waktunya di sini, Itachi harus segera tahu hal ini...
Shisui menggerakan matanya ke kanan kiri, mencoba mencari jalan keluar. Sedangkan anak di depanya sendiri masih terdiam dengan tangan memegang kedua Tanto di belakang pinggang tanpa mengeluarkanya.
'Sepertinya memang tidak ada cara lain' Batin Shisui. Tangan kananya yang sebelumnya di pakai untuk menutupi mata kananya bergerak perlahan mengambil Tanto di belakang punggungnya. Darah yang di keluarkan dari matanya masih terlihat jelas di telapak tanganya..
Sesaat keheningan terjadi di antara keduanya, keduanya masih berada di dahan pohon tempatnya masing-masing berdiri. tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun di antara mereka.
"Shut" "Shut" "Trankk!" Keduanya melompat dengan kecepatan luar biasa. Bahkan dahan pohon yang sebelumnya di gunakan pijakan anak di hadapanya patah karena tekanan kekuatan yang di gunakanya untuk melompat.
"Ini akan memakan waktu Root." Shisui berucap dengan hanya menyebut Root kepada lawanya.
"Panggil aku Naruto brengsek.."
Keduanya masih menekan pedangnya masing-masing. Naruto dengan kedua Tantonya sedangkan di sisi lain Shisui dengan Satu Tanto di tangan kananya.
Shisui meringis saat merasakan tekanan kekuatan pedang yang di berikan anak yang menyebutnya dirinya Naruto. Sejenak Shisui tersenyum melihat mata di balik topeng tersebut. Mata yang tidak berani melihat langsung ke mata Sharinganya.
"Aku tahu alasanmu tersenyum.. Kau boleh menganggapku konyol, tetapi hanya ini yang membuat Genjutsumu tidak bekerja."
"Boff!" Setelah menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba tubuh Naruto berubah menjadi sepotong kayu.
'Kawarimi! Tidak ini bukan sekedar Kawarimi!' Batin Shisui. Matanya membulat saat melihat kertas peledak yang menempel pada kayu tersebut.
"Sial!" Dengan cepat Shisui menggerakan satu segel tangan.
"Dhuarr!" Sejanak setelah ledakan terjadi, Shisui melompat keluar dari kepulan asap dengan tangan kanan berlumuran darah.
"Tap"
"Kau tidak akan lolos.. Uchiha!." Baru saja mendarat di salah satu pohon, Shisui membulatkan matanya saat mendengar teriakan dari arah belakangnya.
"Jrassshh!" "Kugh!." Shisui kembali melompat dengan cepat. Akan tetapi tanganya masih sempat terkena tebasan Tanto anak tersebut. Shisui mengerang saat merasakan tangan kirinya di tebas secara kasar dari belakang.
"Tap!" Mendarat dengan sempurna, matanya menatap tajam ke arah anak yang baru saja menyerangnya secara tiba-tiba. Tangan kananya mencekram luka tebasan di tangan kirinya.
"Hah.. Hah.. Hah.. Hah.." Napas Shisui sendiri masih tersengal-sengal akibat menerima serangan yang di lancarkan musuhnya.
"Seharusnya kau mempermudah ini dengan memberikan Sharinganmu kepadaku. Tetapi aku tidak keberatan jika kau membuat ini bisa menjadi lebih menarik." Berdiri, masih dengan Tanto di genggama kedua tanganya. Naruto berbicara dengan nada yang datar, matanya menatap ke arah tubuh Shisui. Ini dia lakukan agar masih dapat memprediksi gerakan Shisui tanpa menatap Sharingan.
Shisui menggerakan tangan yang sebelumnya dia gunakan untuk mencekram luka yang dia dapat. Matanya menatap tajam ke arah anak yang tengah berbicara kepadanya. Menggerakan jarinya seperti membentuk segel Shunshin.
"Tidak akan kubiarkan!" Matanya menajam saat melihat anak di depanya berteriak dan melempar beberapa Shuriken. Shisui kembali menghindari Shuriken yang di lemparkan ke arahnya.
'Dia terus menyerang saat aku membuat segel!" Batin Shisui, matanya menajam beberapa saat.
"Sudah kubilang kau tidak akan lolos Uchiha! Tidak akan kubiarkan kau menggunakan Shunsinmu itu!" Kini hilang sudah nada datar yang sebelumnya di yang dia gunakan, kali ini nada yang dia gunakan kali lebih memiliki emosi di dalamnya.
Shisui mengerti kali ini. Jadi itu sebabnya ia selalu di serang secara terus menerus sehingga dirinya tidak sempat membentuk segel. Itu semua bertujuan untuk membatalkan Sunshinya. Menghela napas sesaat. Ia merubah posisinya menjadi lebih santai. Tangan berlumuran darahnya sejenak membuat segel tanpa mengangkat tanganya..
Melihat Shisui merubah posisinya tak ayal membuat seringaian tampak di balik topeng Rootnya.
"Sepertinya kau mulai sadar, memang seharusnya kau memberikan Sharinganmu baik-baik." Tanto di kedua tanganya dia masukan kembali secara menyilang di balik pingganya.
"Kau masih anak-anak Naruto. Bagaimanapun aku lebih berpengalaman dalam hal ini." Kali ini Shisui berucap setelah sebelumnya hanya terdiam mendengarkan ucapan lawanya.
"Tidak.. Aku rasa aku sudah cukup mengerti situasi dalam pertarungan.. Dengar.. Di Root kami tidak memiliki nama, tujuan hidup, emosi, perasaan, masa lalu dan masa depan! Dan yang kami miliki hanya misi kami! Itu yang kami miliki para anggota Root, tapi tidak menurutku. Aku berbeda dengan mereka. Kau harus tahu Uchiha.. Ada yang harus kulakukan dengan semua ini. Dan semua itu masih harus di lakukan secara perlahan, dan untuk menyempurnakanya aku membutuhkan Sharinganmu. Dan sekarang cepat berikan Sharinganmu dan segera akhiri ini.!" Shisui hanya menatap tajam ke arah anak di depanya. Tanganya kembali ke semula tanpa segel tangan.
"Dengar Naruto.. Kau akan belajar setelah semua ini selesai. Kau masih belum mengerti tentang arti kehidupan sesungguhnya."
"Shutt" "Bughh!" Dengan cepat Shisui munucul di depan Naruto dengan Sunshinya dan langsung memukul tubuh anak di depanya.
"Kk..kau.. Tapi se..seharusnya.." Naruto Merintih kesakitan saat merasakan kekuatan pukulan yang di berikan Shisui.
"Jrass!"
"Kughh!" Belum sempat Naruto selesai berbicara Shisui menekan pundak Naruto hingga tubuhnya tersandar di pohon belakang tubuhnya. Dengan cepat Shisui menebas tubuh anak di hadapanya dengan Tanto secara pertikal, sehingga menghasilkan luka melintang di dada hingga perut Naruto.
"Kau harus tahu satu hal Naruto.. Aku di juluki Sunshin no Shisui bukan hanya karna kecepatan Sunshinku, tetapi juga karna aku sendiri mampu melakukan Sunshin tanpa segel. Dan asal kau, tahu kecepatan Sunshin tanpa segelku sama cepatnya dengan kecepatan Sunshin dengan segel satu tangan.."
"Kughh!" "Grepp!" Tangan berkulit pucat itu mencengkram balik leher Shisui. Mulutnya sempat memuntahkan banyak darah segar di balik topengnya. Tetapi Shisui mengetahu bahwa anak di depanya ini memuntahkan banyak darah, Itu bisa dia lihat dengan darah yang keluar dari bawah topengnya dan mengalir dari leher hingga dadanya. Shisui sendiri banyak mengeluarkan darah di tangan kirinya hingga menetes membasahi kulit pohon di bawahnya. Keduanya berada dalam keadaan yang sama buruk.
"Gahh! Khahahahaha.. Kubunuh kau! Uchiha Shisui!" Shisui membulatkan matanya saat anak di depanya ini menyerangnya balik dengan mencekik lehernya. Beberapa burung gagak hinggap dan mengeluarkan suara seakan berteriak melihat keadan mereka. Mata Shisui sendiri berubah menjadi hitam legam khas Uchiha, ini pertama kalinya matanya berubah menjadi mata biasa semenjak beberapa tahun lalu. Ini terjadi karna memang dirinya sudah banyak kehabisan Chakra.. sebelumnya dirinya memang sulit untuk menonaktifkan Sharinganya..
"Bugh!" Dengan cepat Naruto memukul wajah Shisui hingga membuat wajah Shisui sejenak terpantul ke belakang, belum sempat Shisui mengerang. Rambutnya sudah di tarik paksa ke depan. Matanya membulat saat melihat tangan anak di depanya ini hendak mengambil mata kirinya..
"Genjutsu!"
'Tu...Tubuhku tidak bisa bergerak..! Tapi ba.. Bagaimana bisa. Aku tidak menatap Sharinganya..!' Batin Naruto.
"Shutt..." "Brukk!" Terjatuh dari atas pohon tubuh Naruto berakhir di atas tanah dengan kasar dengan posisi badan tertelungkup.. Luka di dadanya sendiri masih mengeluarkan banyak darah dan mengalir membasahi tanah di bawah tubuhnya..
"Hah.. Hah.. Hah.." Shisui memandang tubuh tidak berdaya di bawahnya. Ini mungkin Chakra terakhirnya. Napasnya sendiri masih tersengal-sengal akibat cengkraman di lehernya yang di berikan anak di bawahnya.
"Kau harus tahu Naruto.. Banyak yang bilang Genjutsu Sharinganku yang paling mengerikan di antara Uchiha lainya.. Tetapi kau juga harus tahu satu hal.. Aku juga dapat menggunakan Genjutsu hanya dengan gerakan jari atau segel tang- Kughh!" Shisui berhenti berbicara tiba-tiba saat mulutnya mengeluarkan banyak darah..
"Pukulanmu lumayan Naruto.. Maaf tapi aku masih ada urusan, seseorang pasti marah karna menungguku.. Kau tidak usah khawatir itu hanya Genjutsu biasa, Namun itu cukup membuat tubuhmu tidak bisa di gerakan beberapa jam.." Membalikan tubuhnya hendak meninggalkan tubuh Naruto. Sejanak matanya menatap beberapa burung gagak yang berada di depanya, menatapnya tidak mengerti. Melihat burung gagak dia teringat akan teman kecilnya Itachi Uchiha. Dia sangat pandai menipunya dengan gagak saat dia bermain bersama waktu kecil..
"Boff!" "Bof!" "Bughh!" Matanya membulat secara tiba-tiba, kala dua burung gagak di hadapanya berubah menjadi tubuh yang sama dengan lawanya dan langsung memukul telak wajahnya hingga membuatnya terhuyung dan jatuh bebas dari ketinggian.
"Brukk!" "Tap" "Crashh!" Belum sempat Shisui mengerang sakit akibat tubuh terbentur tanah. Ia sejenak dapat melihat Naruto muncul dengan Sunshinya dan menduduki tubuhnya. Namun setelah itu hanya kegelapan yang Shisui lihat..
"Guhh!" Shisui mengerang saat merasakan mata kirinya di ambil secara paksa..
"Kau harus tahu Uchiha.. Kughh!.." Belum sempat Naruto menyelesaikan ucapanya ia kembali memuntahkan banyak darah dari mulutnya..
"Klak!" "Srrett!" Dengan cepat tangan pucatnya melepas topeng dan pakaian atas yang selama ini ia kenakan. Rambut merahnya yang sebelumnya berbentuk Klimiks ke balakang, kini kembali kedepan wajahnya hingga menutupi mata kananyan. Rambut merahnya yang menutupi mata kananya menempel sebagian di dagu akibat terbasahi darah yang keluar dari mulutnya. Di bagian dadanya terdapat perban melilit hingga menutupi punggungnya. Tetapi perban tersebut melebar di bagian punggung..
"Hah.. Hah.. Begini lebih baik" Naruto berbicara meskipun masih dengan napas tersengal-sengal..
"Naruto.. Ka..kau.." Shisui berucap dengan terbata-bata akibat luka yang di dapatkanya..
"Bof!" "Bof!" "Bof!" Sejenak Naruto menatap Bunshinya yang sebelumnya memukul Shisui mulai menghilang..
"Kau tahu.. Aku sudah tahu semua ini akan terjadi.. Bagaimanapun kau adalah seorang Shisui dari Uchiha, kemampuanmu memang luar biasa di umurmu saat ini.. Dan aku juga tahu sampai mana batas kemampuanku untuk melawanmu. Memang seharusnya aku kalah olehmu yang lebih hebat dalam hal ini.. Tetapi seperti yang kubilang.. Aku sudah tahu semua ini akan terjadi.. Jadi sebelum bertemu denganmu, aku membuat beberapa Bunshin dan memerintahkan mereka memakai Henge dan datang saat kau kehabisan Chakra. Tentu saja dengan Sharinganmu walaupun Bunshinku menekan titik Chakra serendah mungkin, takan berguna di hadapan Sharinganmu. Tetapi sebelumnya kubilang bahwa aku sendiri memerintahkan semua Bunshinku untuk hanya datang jika kau kehabisan Chakramu.. Aku menang Uchiha Shisui.." Naruto melihat Sharingan yang berada di genggama tangan kirinya. Bibirnya menunjukan Seringaian tipis saat mengetahui dirinya yang akhinya menang. Dirinya memang sempat terkena Genjutsu, tetapi dengan sigap salah satu Bunshinya menyadarkanya dari pengaruh Genjutsu hingga membuatnya terbebas dari Genjutsu Shisui..
"..?"
"Crashh!" Matanya membulat secara sempurna saat melihat tangan kirinya ditebas dengan cepat hingga mengakibatkan lengan kirinya terputus..
"Bughh!" "Brakk!" Belum sempat Naruto mengerang kesakitan, tubuhnya sudah di tendang di bagian dada dengan keras. Sesaat tubuhnya melayang sebelum akhirnya berakhir menabrak pohon..
"Tap!" "Jlebb!" "Jlebb!" Belum sempat Naruto menatap siapa yang menyerangnya. Matanya membulat saat merasakan benda di tusukan ke telapak kanan dan bahu krinya..
"Bughh!" "Krakk"
"Ohokk!" Anak berambut merah itu kembali mengeluarkan banyak darah segar dari mulutnya, saat merasakan pukulan keras di bagian dadanya hingga mengakibatkan beberapa tulang Rusuknya patah. Dan selanjutnya dia hanya merasakan kepalanya di tarik paksa melihat Sharingan...
"Genjutsu Sharingan!" Selanjutnya Naruto hanya merasakan kegelapan tak berujung dari penglihatanya..
"Pluk" Tangan yang sebelumnya menarik paksa kepala anak di depanya untuk melihat Sharingan, melepaskan genggamanya pada rambut merah anak tersebut..
Matanya menatap anak di depanya sebelum akhirnya berbalik dan berlari ke arah tubuh Shisui yang tergeletak..
"Shisui!" Setelah berada di hadapan Shisui kedua tanganya langsung mencengkram kuat pundak Shisui..
"Itachi.. Kau kah itu.?"
"Apa yang terjadi..?" Bukan menjawab pertanyaan Shisui, Orang di hadapan Shisui itu berbalik menanya..
" He..hehehe.. Jadi benar kau Itachi.. Kau pasti marah karna aku tidak segera datang menemuimu.." Shisui mengeluarkan tawanya saat mengetahui siapa yang berada di hadapanya itu.. Tetapi Itachi hanya diam tidak menanggapi. Dia tahu temanya ini sedang berusaha menahan sakit..
"Dengar Itachi.. Sepertinya aku gagal melakukan misiku sendiri dalam menggagalkan Kudeta.. Danzo menolak caraku untuk menggagalkan Kudeta dengan caraku dan sebaliknya, dia mengambil mata kananku.. Dan mata kiriku kini juga sudah di ambil paksa oleh salah satu anggota Root yang mengaku dirinya sebagai Naruto.. Aku tahu kau menyerang orang bernama Naruto itu.. Akibat seranganmu terhadapnya, darahnya jadi membasahi wajahku bodoh.. Hah..ahaha.." Itachi masih diam tanpa ada niat untuk menyela perkataan temanya itu. Dia tahu temanya itu masih belum selesai berbicara..
"Kau pasti tahu itachi.. Keadaanku sudah sangat sekarat, aku terlalu banyak kehilangan darah..." Itachi masih bungkam tidak mau bicara..
"Itachi.. Ambil mata kiriku, tolong lindungi desa dan kehormatan nama Uchiha.. Aku sangat mengandalkanmu.." Bersamaan dengan kata terakhir yang di keluarkan Shisui, itachi membulatkan matanya saat temanya itu tidak melanjutkan suaranya..
"Shisui! Shisui!." Sejenak Itachi menatap tubuh temannya yang berada di bawahnya itu. Namun sejenak kemudian ia menatap Sharingan Shisui yang tergeletak tidak jauh dari potongan tangan anak yang sebelumnya ia serang..
Itachi menolehkan kepalanya kebelakang, matanya menatap tubuh mengenaskan dengan bahu dan telapak tangan tertahan dengan kunainya di pohon..
Matanya kembali menatap Sharingan Shisui..
Shisui' Batinya, matanya terpejam sesaat sebelum kemudian matanya terbuka kembali dan menampilkan Mangekeyou Sharingan.. Matanya menatap ke atas. Tempat di sekitarnya sendiri yang sebelumnya masih tersinari cahaya senja kini berganti warna menjadi gelap tanpa cahaya..
... ... ...
"Shut!" "Tap!" "Tap!" Beberapa bayangan mendarat di sekitar tempat itu. Mata di balik topengnya menatap dua tubuh mengenaskan tidak bergerak tidak begitu jauh dari mereka.
"Naruto!" Salah satu dari mereka mendekati tubuh tampak mengenaskan tertahan di pohon dengan dua Kunai yang menahan pergerakanya..
"Shut!" Sementara itu di belakang mereka muncul kembali satu bayangan hitam dengan Sunshinya..
"Danzo-sama!" Sesaat mereka menghentikan aktifitas mereka dan langsung berlutut hormat seperti biasanya..
Sedangkan pria yang di panggil Danzo sendiri hanya diam menatap tubuh tergeletak di tanah tidak jauh darinya. Matanya kembali menatap ke arah belakang di mana bawahanya sedang berlutut.
Matanya menajam saat melihat keadaan anak asuhnya dalam keadaan mengenaskan.. Tubuhnya tertahan karena Kunai yang menancap di bahu dan telapak tangan kananya.. Tatapan matanya kembali datar saat melihat telapak tangan sebelah kiri anak asuhnya terputus dan luka melintang di dada hingga perutnya, dan juga aliran darah yang keluar dari mulutnya mengalir hingga leher..
"Bawa dia.. Dan buang tubuh Shisui ke sungai.. Hilangkan semua bukti telah terjadi pertarungan di daerah sini!" Matanya menatap datar ke arah bawahanya yang masih berlutut..
"Hai.. Danzo-sama.."
... ... ...
Gelap.. Sejauh mata memandang hanya kegelapan yang berada dalam penglihatanyan, namun dia masih merasakan genangan air yang membasahi kedua kakinya.. Sejenak matanya menajam namum sesaat kemudian dirinya tersenyum senang..
'Ini akan menyenangkan.. Pasti dia memarahiku lagi..' Tiba-tiba mata birunya melihat satu titik cahaya dari kejauhan..
Kakinya langsung berlari ke arah cahaya itu sudah lama dirinya tidak ke tempat ini lagi.. Itu semua karena ada sesuatu yang menahanya untuk tidak kembali ke sini seenaknya..
Cahaya yang tadinya jauh kini terlihat dekat hingga menyinari wajahnya dan tubuhnya.. Rambut merahnya basah akibat air yang terjatuh mengenai kepalanya dari pipa-pipa yang berada di atasnya..
Mata birunya menatap ke depan dengan pandangan senang..
"Tadaima... Hehehe.. Sudah lama tidak bertemu.." Dia memamerkan cengiran yang hanya di tempat ini ia tunjukan.. Tiga pasang garis di pipinya melebar akibat cengiran yang dia perlihatkan..
... ... ...
TBC...
Akhirnya selesai.. Ano, senpai.. Saya mohon Hiatus dlu untuk smentara.. Yah mo gmana lagi.. Ane gi ulangan jdi gni deh.. Dan sya yakin senpai" di ffn ni jga kebanyakan masih pda siswa/siswi.. Jadi gtu deh pkonya.. Dan salam bwt Nda Yamada.. Ane tunggu loh fic'y.. Hehehe..
Oke deh.. Sgitu ajh mungkin yg mau sya smpaikan.. Klo ada pertanyaan silahkan tulis di kolom rievews sya.. Sya akan langsung balas di PM senpai..
Oke.. Jaa ne~
