Lui kombek dengan bonus NC yg d janjiin kemaren^^
Sekali lagi diperingatkan bagi yang masih belum cukup umur, sangat disarankan untuk tidak membaca FF ini. Ga peduli? Tanggung sendiri ya resikonya!
SWEET ESCAPE 3
Menjelang malam, Mark mengajak Jinyoung untuk makan malam bersama di restoran hotel bintang lima tersebut. Keduanya kembali takjub dengan segala kemewahan yang ada. Makanannya pun dimasak dengan sempurna.
"Aku menyukai dagingnya. Enak sekali!" komentar Jinyoung soal hidangan favoritnya ketika mereka keluar dari lift dan menuju kamar. Sedangkan Mark menyukai hampir seluruh hidangan.
Sesampainya di dalam kamar, keduanya bingung hendak berbuat apa. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menonton televisi bersama. Jinyoung kembali bersandar di dada Mark dengan mesra. Saat tontonannya tentang komedi, MarkJin akan tertawa bersama. Ketika mendengar musik, Jinyoung akan ikut bersenandung. Mark lebih tertarik dengan acara olahraga, namun toh tangannya tetap sibuk memencet tombol-tombol di remote untuk mengganti channel.
Keduanya setuju untuk tetap pada channel movie. Awalnya mereka terlihat serius mengikuti alur ceritanya, bahkan saling bertukar pendapat.
"Wanita itu cantik" komentar Jinyoung tentang salah satu tokoh wanita dalam film tersebut.
"Hmm" Mark mengangguk setuju. "Sexy."
Jinyoung seketika mendongak dan tersenyum menggoda. "Ohoo~ aku tidak tahu kalau tipemu adalah yang seperti itu, hyung."
"Kenapa? Kau cemburu?"
"Aaanii~" Jinyoung menjawab cepat, membuat Mark terkekeh dan mempererat genggamannya pada tangan Jinyoung.
Film yang mereka tonton kini menampilkan adegan ciuman diantara kedua tokoh utama, memberi reaksi berbeda kepada MarkJin.
Mata Mark terfokus pada layar televisi, namun bibirnya sibuk bermain dengan jari dari sebelah tangannya yang bebas. Sedangkan Jinyoung, awalnya mulutnya sedikit terbuka. Setelahnya pria itu menggigit bibir bawahnya. Hal yang sama hanyalah wajah mesum keduanya yang mungkin saja ingin segera bercinta.
Saat adegan ciuman di film berlanjut menjadi adegan erotis, Jinyoung yang mulai gerah akhirnya merebut remote dari tangan Mark dan memencet tombol Power sehingga layar televisi menjadi gelap.
"Kenapa kau mematikannya?" tanya Mark sedikit tak terima. Padahal pikiran liarnya sudah memenuhi isi kepalanya.
Jinyoung menghela napas dan duduk di pangkuan Mark. Pria itu sangat suka melakukannya. Mungkin duduk di pangkuan Mark jauh lebih empuk dan nyaman dari pada sofa mewah yang tadi didudukinya.
Mark pun secara refleks melingkarkan lengannya di tubuh Jinyoung.
"Jangan menontonnya lagi. Aku tahu hyung sudah membayangkan adegan selanjutnya yang akan terjadi."
Mark sedikit tidak mengerti dengan maksud ucapan Jinyoung. "Yaa, kau cemburu lagi?"
Pertanyaan tersebut malah membuat Jinyoung cemberut. Dia tidak suka jika kata-kata Mark tentang kecemburuan sedikit ada benarnya. Walaupun sebetulnya bukan itu yang dia maksud.
"Maksudku... lebih baik jika hyung melakukan adegan tadi denganku saja" ucap Jinyoung sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Mark.
"Aah... Kau menginginkannya lagi?"
"Memangnya hyung tidak mau?"
Mark berpikir sejenak.
"Apa yang membuatmu berpikir lama? Tidakkah hyung cukup tergoda untuk menyentuhku?"
"Kau tahu? Kau jadi sangat menggemaskan sekali jika sudah seperti ini" Jika saja Jinyoung adalah sebuah boneka, Mark mungkin sudah menggigit-gigitnya.
Senyum Jinyoung melebar.
"Baiklah. Bagaimana permainan ini akan berlangsung?"
"Emm..." Jinyoung menerawang. "Karena tadi skornya 1-0, kali ini aku yang akan menyentuhmu, hyung."
"Oke. Tapi-" Mark tiba-tiba menyela. "Jika saja terjadi sesuatu hal diluar rencana seperti aku menyerang balik dan menjadi liar, kau mempunyai hak untuk berhenti."
"Kenapa sih hyung selalu membahasnya?"
"Aku sudah bilang kan kalau aku tidak akan pernah mau memaafkan diriku sendiri jika aku melukaimu."
Pengakuan Mark membuat Jinyoung terdiam seribu bahasa. Jantungnya berdegup lebih cepat setelah mendengarnya, dan wajahnya tiba-tiba menjadi hangat. Suhu tubuhnya memanas. Kepalanya hanya dipenuhi oleh wajah Mark, tubuh Mark, seluruh jiwa raganya. Astaga, apa mungkin Jinyoung semakin jatuh cinta dengan pria di hadapannya itu sampai membuatnya menjadi gila?
"Kau membuatku gila, hyung" bisik Jinyoung. "Aku sangat-sangat menginginkan dirimu."
Lalu kemudian bibir Mark diserbu kecupan hangat dan dalam oleh bibir Jinyoung yang mulai rakus. Mark bahkan mampu membalas lumatan itu ketika tubuhnya bergerak menuju ranjang sambil menggendong Jinyoung yang masih bergelantungan di tubuhnya.
Jinyoung mendaratkan kakinya dan berdiri di atas ranjang, membuat posisinya lebih tinggi dari pada Mark. Lalu Jinyoung melepas kaos Mark dengan cepat dan tak sabaran. Menyerang tubuh atletis hyungnya dengan berbagai ciuman dan jilatan.
Desahan Mark terdengar elegan, maskulin, dan membuat ketagihan siapa pun yang jatuh cinta kepadanya.
Kini Jinyoung tak lagi berdiri. Kakinya berlutut di hadapan Mark. Tangannya pun sudah siap menarik turun celana hyungnya.
"Jin..." Lirihan Mark membuat aksi Jinyoung berhenti sejenak.
"Bersiap, hyung" Akhirnya Jinyoung melucuti juga celana Mark dan merasa puas melihat 'milik' hyungnya itu.
"Hyung!" Jinyoung terkesiap bahagia. Mark tak mampu memikirkan alasannya lagi. Batang kejantanannya yang sudah menegang itu perlu segera diremas.
Tanpa dikomando, Jinyoung segera melakukan tugasnya. Mulutnya melahap seluruh milik Mark. Mengisap-isapnya dengan nikmat layaknya permen. Jika ada permen yang paling Jinyoung sukai ya hanyalah milik Mark.
Mark dengan telaten menuntun kepala Jinyoung yang bergerak maju-mundur semakin cepat hingga akhirnya mencapai klimaks. "Aku... ke-luar!"
Jinyoung segera mengeluarkan batang kejantanan milik Mark dari mulutnya tepat sebelum cairan sperma akhirnya membanjiri tepi ranjang.
Mark mencoba mengatur napasnya yang menderu dengan kedua lengan yang bertumpu di sekitar tubuh Jinyoung.
Mark mendongak dan bertemu tatap dengan wajah Jinyoung yang terlihat puas.
"Kerja bagus~" Mark menggapai puncak kepala Jinyoung dan mengelusnya lembut. Tak lupa sebuah ciuman mesra diberikan oleh Mark sebagai reward atas kerja keras Jinyoung.
Namun rupanya hal tersebut malah merangsang Mark untuk memiliki tubuh Jinyoung sekali lagi.
Tubuh Jinyoung bergerak mundur seraya tubuh Mark yang merangkak menaiki ranjang. Bibir keduanya masih saling bertaut. Bahkan kini melibatkan permainan lidah yang dikuasai oleh Mark.
Jinyoung hampir saja kehabisan napas jika Mark tidak menarik mundur serangannya. Pria itu perlu untuk menyeimbangkan permainan, lalu mulai menarik lepas kaos lengan panjang Jinyoung, juga celananya.
Kini MarkJin seimbang. Sama-sama tanpa sehelai pakaian pun.
"Kau berhak menghentikanku jika tidak mau..." Ya ampun, disaat seperti ini Mark masih sempat bernegosiasi.
Tentu saja Jinyoung menggeleng, walaupun dia sedikit waspada dengan serangan Mark kali ini. "Teruskan, hyung..."
"Okay~" Kini posisi Mark berada di atas tubuh Jinyoung.
Ciuman Mark selalu membuat Jinyoung mabuk. Ia hanya akan memejamkan mata sambil menikmati kecupan-kecupan lembut namun intim yang dilakukan Mark terhadap leher, dada, perut, dan bahkan nipplenya.
Seperti tadi siang, batang kejantanan Jinyoung juga telah menegang dan siap untuk dicumbu oleh Mark.
"Saranghaeyo, Jinyoungie~" bisik Mark sebelum membelai, mengelus, dan meremas milik Jinyoung.
Namun Mark berhenti sejenak begitu mendengar suara tercekat.
"Aku... tidak apa-apa, hyung..."
Mark kembali ke posisi awal dan membelai lembut kepala Jinyoung. "Aku akan lebih lembut, Jin~" pinta Mark diakhiri kecupan di bibir yang mampu mengurangi sedikit ketegangan Jinyoung.
Ketika Jinyoung mengangguk setuju, barulah Mark kembali melanjutkan tugasnya yang tertunda.
Kali ini Mark segera melahap milik Jinyoung. Mengisapnya pelan, hingga membuat Jinyoung terbuai dan mendesah puas.
Tapi lama kelamaan permainan Mark semakin cepat dan liar. Jinyoung bahkan bisa merasakan gigitan Mark di ujung batangnya. Sedikit sakit, sekaligus memberinya kenikmatan tak tergantikan. Dan Jinyoung tidak rela untuk berteriak dan meminta Mark berhenti. Desahannya teredam oleh bantal yang kembali digigitnya. Oh, betapa bantal menjadi hal penting yang harus selalu ada setiap kali dia bercumbu dengan Mark.
Hingga menjelang klimaks, Jinyoung tak sanggup lagi menahan gairah dalam tubuhnya. "Hhyuuuu-nggg~!" Rintihannya terdengar diikuti keluarnya cairan sperma yang kini menodai bagian tengah ranjang.
Mark terkesiap dan segera menghampiri Jinyoung yang napasnya terdengar putus-putus. Bahkan ujung matanya sedikit basah akibat menahan sakit dari kenikmatan yang sangat luar biasa.
"Jie, kau tidak apa-apa?" Mark terdengar cemas.
"Gwen-chana, hyung..." jawab Jinyoung sedikit terceguk. "Aku... bahagia sekali."
"Oh, syukurlah!" Mark terlihat lega dan langsung mendekap erat tubuh Jinyoung yang sedikit lemas.
"Kurasa aku... kelelahan. Mataku mengantuk, hyung..." Jinyoung bergumam samar.
"Aku tahu. Aku juga cukup kelelahan" Mark juga mengakui hal yang sama. "Tidurlah. Aku akan memelukmu" Ucapan Mark bagai ninabobo yang membuat Jinyoung makin terlelap.
Dengan sigap Mark menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya dan mengecup singkat puncak kepala Jinyoung sebelum akhirnya juga ikut tertidur.
END
Nb:
Hayoo! Mulai keringetan gara2 adegan panas MarkJin? Atau malah cranky? Hehee~
Maaf ya klo masih tergolong pendek FF nya dan kurang greget NC nya. Lui cuma pengen berbagi MarkJin moment yanggg lagi HOT2nya. Kkkk~ Semoga memuaskan yaaa^^
