Title: After Dark

Author: Yuka Yutaka and Near Kouyuu

Genre: YAOI! Romance, Fantasy

Pairings: KrisLay; TaoHun; BaekYeol; XiuHan

Length: Chaptered

Chapter: 3

Disclaimer: EXO belongs to God and themselves. No copast, no repost, no bashing… sankyuu~ ^^

Warning: Cerita pasaran, abal, GAK ADA FEEL! GAK ADA OC MAUPUN YEOJA DI SINI! *nyante aja kali?* hahahaha

Near: ga bias santé #plak

Notes: akhirnya selesai! Hohoho~ doakan saja kami punya wangsit untuk membuat sequel~ hahaha, tapi FF ini memang harus punya sequel dink hahah~ ENJOY

.

.

.

.

.

Lay mengelap meja makan membuat Kris berdiri dan mempersilakannya membersihkan meja. Tubuh fragile dan putih di depannya membuat Kris tak bisa menahan hasrat terpendamnya untuk memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Dia benar-benar melakukannya lalu merasakan tubuh di depannya ini megengang karena terkejut.

"K-Kris…?" kata Lay terkesiap saat aroma tubuh Kris masuk dalam indra penciumannya.

Kris tak bergeming tapi justru mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di sela leher Lay dan berbisik, "Kau pikir aku vampire…?" bisiknya. Dekapannya makin erat membuat jantung Lay berdetak makin cepat dari biasanya. Kris membalikkan tubuh Lay lalu mendekatkan wajahnya perlahan sambil berbisik.

"… sekarang ayo buktikan apakah aku vampire atau bukan…"

.

.

.

.

.

After dark

THREE

.

.

.

.

"Eng.. K-Kris…" Lay mendorong dada Kris pelan saat pria jangkung itu mendekatinya lebih jauh. Aroma tubuh Kris masuk dalam dua lubang hidung Lay membuatnya merasa tak ingin jauh dari pria yang kini mengunci geraknya itu.

Kris menyapukan permukaan bibirnya di permukaan kulit pipi Lay yang putih bersih sambil menggapai wajah Lay dengan jemari panjangnya. Sialnya… aroma darah Lay yang begitu manis dan harum masuk dalam indra penciumannya. Dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh lelaki di depannya itu sembari masih menyapukan bibirnya yang kini telah sampai di tengkuk Lay.

Lay mendorong dada Kris pelan, "Engh… Kris… apa… yang kau la-kukan.. nnh…" Lay berusaha mati-matian menahan desahannya karena kegelian yang tiba-tiba melandanya saat Kris mencium sekilas tengkuknya. Kris tak bergeming melainkan makin dalam menenggelamkan wajahnya ke leher Lay.

Halus… lembut… sial! Kris menyapukan lidahnya di permukaan kulit Lay membuat pemiliknya sedikit mendesah.

Kris suka suara desahannya.

Semakin jauh, Kris mengalungkan tangannya ke sekeliling pinggang Lay dan menariknya mendekat. Rasa hangat menyerap dalam darah Lay saat Kris mendekapnya erat seakan tak ingin melepasnya. Tapi… bagaimana kalau Kris adalah vampire?

Lay bergumam kecil, "Kris…" lalu mendorong dada Kris hanya untuk mendapatkan respon yang sama. Sia-sia… kekuatannya tak berarti sekarang ini. Sial….

Kris telah menjamah hampir semua detil wajah Lay sebelum menyentuh tengkuk Lay dan turun ke lehernya untuk segera menikmati darah segar lelaki manis ini. Oh iya… dia melupakan satu tempat. Kris kemudian melepas tautan bibirnya di tengkuk Lay dan menatap lelaki yang masih berada di dekapannya itu. Dia memejamkan mata sambil menoleh ke kiri. Tampak sangat ketakutan.

Kris menyentuh dagu Lay lembut lalu membuat Lay menatap matanya. Lay terpaksa membuka matanya saat Kris mendekapnya lagi dan mendekatkan wajah tampannya. Apa orang ini akan menciumku? Jadi Lay hanya menutup matanya saat bibir penuh itu hendak menyentuh miliknya.

"GEGE~ AKU PULANG MAU AMBIL SEPA-" Tao terhenti di depan pintu dapur saat hendak masuk dan segera mengambil sepatu olahraganya. Pemandangan aneh masuk dalam matanya saat melihat apa yang terjadi di dapur kecilnya.

Kris dan Lay menoleh ke arah Tao yang masih berdiri di ambang pintu. Mereka segera berpisah dan menatap Tao gugup. Kris merapikan rambutnya sedikit lalu berpamitan, "Maaf… sebaiknya aku pulang." Katanya dan berjalan melewati Tao yang masih menganga.

Keheningan menyelimuti.

"Jadi… kau mau ambil sepatu yang mana?" Tanya Lay memecah keheningan. Tao menoleh ke arahnya lalu mengambil sepatu yang ada tepat di samping pintu. Di atas rak sepatu.

Tao menunjukkan sepatu berwarna hitam itu sambil tersenyum, "Yang ini… soalnya ini yang paling cocok untuk pertandingan besok." Katanya tersenyum. Lay membalas senyum itu lalu menepuk bahu Tao pelan.

"Besok aku akan tanding dengan club basket kampus kakak~ nonton yah?" kata Tao lagi tersenyum. Lay mengusap kepala adik satu-satunya itu pelan.

"Pasti. Good luck!" Lay memberi Tao senyum terbaiknya. Tao terkikik lalu bicara kembali.

"Eh kak, ngomong-ngomong, laki-laki tampan tadi siapa?" tanyanya iseng membuat pipi Lay serta merta memerah.

"E-Eh… hanya teman. Sudahlah sana pergi nanti ditunggu Kai… sudah ah…" Lay mendorong Tao keluar dapur saat Tao tertawa keras.

Setelah berhasil mengeluarkan adik gilanya itu, Lay terdiam di depan pintu. "Apa…. Yang barusan terjadi… hadeh…" dia mengusap dadanya pelan lalu masuk kembali ke dalam.

.

.

.

.

.

Dia.

Lay terdiam sesaat saat melihat orang yang berlari membawa bola basket. Pagi itu begitu ramai di stadion basket kampus yang letaknya memang di dalam ruangan. Lay duduk di kursi penonton nomor 5 dari bawah agar dapat melihat Tao lebih jelas. Namun saat ini… pandangannya berhasil tercuri oleh sosok lelaki jangkung yang kemarin sempat membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak itu. Sial! Pipinya memerah saat mengingat kejadian kemarin.

Karena laki-laki tampan sialan itu sekarang tengah berlari sambil membawa bola basket memasuki lapangan. Hadeh… Lay bahkan tak yakin dia bisa melihat pertandingan itu sampai akhir hanya karena lelaki aneh itu.

Akhirnya pertandingan pun dimulai setelah peluit nyaring berbunyi. Para penonton mulai bersorak saat melihat gerak gerik para pemain yang tingginya rata-rata di atas 180 itu. Lay tidak mau memungkiri kalau aksi Kris cukup menawan saat itu. Apalagi saat berhadapan dengan adiknya, Tao, yang juga adalah kapten basket di SMA-nya. Lay tersenyum kecil.

Sorak sorai penonton itu makin keras saat Kris nyaris memasukkan bola ke ring basket SMA Tao tapi masih terpental papan penyangga ring. Lay mengigit bibir bawahnya.

"TAOZI! CEPAT SERANG KEMBALI! AYO KRIS HYUNG!" Lay mengalihkan pandangannya pada seorang anak laki-laki berambut pirang yang duduk tepat di sampingnya. Lelaki dengan rambut pirang lurus.

Lay menatap lelaki itu penasaran lalu berkata padanya, "Kau kenal Kris?"

Lelaki berambut pirang itu menoleh pada Lay lalu tersenyum, "Eh? Tentu saja aku mengenalnya! Sangat mengenalnya! Hihi…" jawabnya lucu. Lay terhenyak sedikit lalu tersenyum samar, "Kau pacarnya ya?"

Lelaki itu tiba-tiba terdiam, "Aku… AKU? SEORANG OH SE HOON ADALAH PACAR SEORANG KRIS WU! OMAGOD! Please Gege, aku dan dia adalah saudara. Jadi wajarlah kalau aku mengenalnya… hihihi…"

Sehun kemudian tersenyum, "Jangan-jangan… Gege suka pada Kris hyung ya? HAHAHA! Kau akan menyesal…" katanya seolah dapat membaca pikiran Lay.

"Kau itu pelajar bukan paranormal.. jangan mencoba untuk membaca pikiranku ya? Hihi… eh kau satu sekolah dengan Tao ya?" Tanya Lay melihat seragam Sehun sama dengan seragam Tao. Sehun terkejut sedikit lalu mengangguk dengan tatapan pasrah.

Lay tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya pada pertandingan lagi, "Jadi kau yang namanya Oh Se Hoon… hihi… dia selalu membicarakanmu di rumah." Kata Lay ditatap kosong oleh Sehun. Benarkah apa yang orang ini katakan?

"Jinjja?" Tanya Sehun. Lay terkikik kemudian menatap Sehun, "Kau pacarnya ya?"

Sehun cepat membuang muka, "Ti-Tidak…"

Lay tersenyum gemas lalu mencubit pipi Sehun pelan, "Iya juga tidak apa-apa kok… aku senang punya adik lagi.. kau anak baik…" kata Lay gemas sambil tersenyum.

Sehun membulatkan matanya merasakan pipinya memanas. Adik kakak sama manisnya… pikir Sehun saat Lay tersenyum memandang pertandingan lagi.

'BRUKK!'

"Kris!" teriak Lay panic… sedikit. Yeah… sedikit. Lay meremas tangannya sendiri saat melihat Kris berusaha bangun karena terjatuh tadi. Dia terlalu serius bicara pada Sehun sehingga dia tidak memperhatikan Kris.

"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Chanyeol lalu membantu Kris berdiri. Kris tersenyum kecil merasakan sakit di lengan kanannya. Dia berdiri di topang oleh Chanyeol karena sepertinya kakinya terkilir karena benturan keras seorang lelaki siswa SMA berkulit tan bertubuh kekar itu. Sialan…

Kris menatap lelaki itu dengan tatapan tajamnya. Sepertinya aku kenal… katanya dalam hati melihat lelaki itu melakukan toast dengan teman segrupnya. Kris kemudian di bawa ke dalam untuk istirahat. Lay merasakan jantungnya berdegup kencang. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kris? Bagaimana jika dia tidak bisa bertanding lagi? Bagaimana jika…

Peluit tanda setengah waktu berbunyi membuat Lay mendesah lega. Lay berdiri lalu berjalan turun dari kursi penonton. Sehun terseyum kecil, sepertinya gege yang satu ini suka pada Kris ge… haha..

"Di mana Kris?" Tanya Lay begitu memasuki ruangan berwarna putih bernama UKS itu. Chanyeol yang berdiri di ambang pintu sedikit terkejut lalu melihat Lay yang tiba-tiba masuk dengan wajah khawatirnya.

"Kris.. di dalam…" kata Chanyeol menunjuk ruangan di dalam sana. Lay tersenyum kecil lalu memasukinya.

"Aggh…" Kris mengerang lagi saat merasakan otot lengannya goyah. Sakit sekali. Sial… Kris menggerutu pelan lalu menatap pintu yang tiba-tiba terbuka.

Lay berdiri di sana dengan senyum canggungnya saat Kris juga menatapnya terkejut. Lay masuk tak lama kemudian lalu tersenyum dan duduk di samping Kris yang juga terduduk di ranjang UKS. Lay mengambil tangan Kris dan menggenggamnya erat.

"Bagaimana? Mana yang sakit?" tanyanya dengan senyum yang langsung bisa meluluhkan hati Kris. Kris tersenyum kecil lalu menjawab, "Hanya sedikit sakit di lengan kananku…" katanya.

"Eh… kenapa kau di sini?" Tanya Kris. Lay tersenyum lalu menjawab, "Aku menonton Tao kok.." jawabnya. Kris mengalihkan pandangan mendengar jawaban yang tidak ingin dia dengar.

"Oh.."

Lay terkejut sedikit lalu menatap Kris heran, "Apa salah aku melihat adikku bermain basket?" tanyanya. Kris menoleh kembali pada Lay dengan tatapan dinginnya. Lay kemudian tersenyum kecil.

"Kau harus sembuh… jika tidak mau timmu akan kehilangan kapten…" kata Lay memberi semangat sambil mengusap pipi Kris lembut. Kris tersenyum lalu menggenggam tangan Lay yang ada di pipi kirinya. Mengusapnya pelan lalu menariknya pelan membuat Lay mendekat padanya.

Kris menatapnya seraya memiringkan kepalanya membuat Lay tak berkutik di depannya. Kris menarik Lay lebih dekat lalu mendekatkan wajahnya. Kris sudah bisa merasakan aroma manis darah Lay saat nafas mereka saling menderu. Shit…

Sedikit lagi dan bibir mereka akan menyatu dengan cara yang lembut. Kris dan Lay sama-sama memejamkan mata saat bibir mereka sudah hampir bersentuhan.

"WOY~ istirahat sudah selesai… pending dulu ciumannya…" Chanyeol pun berhasil merusak adegan romantic itu dengan suara beratnya seraya masuk ke dalam. Lay dan Kris menatapnya seraya saling menjauh.

Haduh… bagaimana bisa aksi mereka ketahuan begitu jelas? Pipi Lay memerah begitupun dengan Kris saat Chanyeol memergoki mereka. Sial… sial… sial!

"Kakimu sudah tidak apa-apa kan Kris?" Kris menggeleng pelan. Dengan balutan deker hitam di lengan kanannya, ia berlari ke lapangan kembali meninggalkan Lay sendiri di dalam sana.

Berdo'alah untukku…

Lay tersenyum dan menunduk. Pipinya memanas untuk ke sekian kalinya. Kenapa orang itu bisa dengan sangat mudah membuatnya malu seperti ini?

.

.

.

.

.

Pertandingan berdurasi 4 x 10 menit itu telah berakhir dengan skor 58 – 59 untuk tim Seoul National University. Kemenangan tipis untuk kampus Lay. Tentu saja… siapa yang bisa menang dengan tim itu? Apalagi dengan Kris sebagai kapten, jelas membuat kemenangan semakin dekat dengan mereka.

Tapi kemampuan SMA ternama di Seoul itu tak bisa dibilang rendah. Dengan Huang Zi Tao sebagai kapten, yang Kris tahu betul dia adalah adik dari kekasih…. Oops.. temannya maksudnya. Mereka berhasil membuat tim Kris tercengang karena selisih tipis 1 angka.

Suara penonton yang tadi meninggi sekarang menurun seiring kosongnya ruangan besar itu. Lay melompat dari tempat duduknya sambil membawa sebotol air isotonik dan sehelai handuk. Dia berjalan santai menuju adiknya. Oh… ternyata sudah ada orang lain yang datang untuk adik kesayangannya itu.

Lay tersenyum kecil melihat Tao yang sedang meneguk minuman dingin pemberian Sehun, sedangkan Sehun hanya berdiri sambil menggoyangkan tangan kiri Tao. Sehun dan Tao terlihat lucu saat bersama, dan Lay tidak keberatan jika Sehun menjadi adik iparnya.

Lay terkekeh membayangkan hal ajaib itu terjadi sembari melayangkan pandangannya pada sang kapten yang sedang terduduk sambil merenggangkan otot-otot kakinya. Lay tersenyum lalu berjalan ke arahnya. Lay berdiri tepat di depannya membuat Kris mendongak dan menatap heran pada lelaki berlesung pipi itu.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya suara fluff itu membuat Kris berdiri dan menyaingi tinggi Lay. Kris mengangguk pelan sambil memberi senyum.

"Ini…" Lay menyodorkan sebotol air isotonik dingin pada Kris dan kembali berkata, "Tadinya itu untuk Tao… tapi dia sudah dengan adikmu…" kata Lay saat Kris meneguk minuman isotonic itu dengan lahapnya.

"UHUK!" Kris merasakan rasa manis isotonic itu menyangkut ditenggorokannya saat Lay mengatakan hal itu.

"Adik?" tanyanya saat dia berhasil mengontrol suaranya. Bodohnya dia… dia tak menyadari kalau Sehun satu sekolah dengan adik Lay.

"Iya… Sehun kan? Sudahlah.. lihat minuman itu jadi bercampur dengan keringatmu… iih…" Lay mengeluarkan handuk kecil berwarna ungunya lalu mengusapkannya pada jaw-line Kris sambil berjinjit mengingat tinggi badannya yang berbanding terbalik dengan Kris.

Kris menatap lelaki di depannya itu. Dia seperti anak kecil ya? Tapi Kris kemudian menyadari sesuatu. Dia seharusnya tidka melakukan ini.

"Aku bisa melakukannya sendiri…" kata Kris dingin sambil mengambil handuk imut itu dan mengusap pipinya sendiri. Lay tersenyum dan menurunkan tubuhnya yang tadi berjinjit sambil menggumam, 'oh'.

Kris merasa malu, jujur saja…

"Kalau kau masih memerlukannya, simpan saja.. da…" kata Lay saat Tao melambai ke arahnya dan meneriakkan namanya.

Kris menatap handuk lucu itu sekilas. Kenapa harus warna ungu coba? Anak unicorn aneh… Kris tersenyum kecil lalu berjalan kembali keluar.

.

.

.

.

Lay hendak berdiri dari duduknya saat dia menyenggol buku 'Twilight'-nya. Lay menggumam kecil lalu duduk kembali di bawah tempat duduknya saat hendak mengambil bukunya. Hari ini memang ada kuliah. Menyebalkan kan? Setelah pertandingan harusnya mereka diperbolehkan pulang. Tapi tidak di kampus ini…

"Lay cepatlah…" teriak Luhan di ambang pintu kelas.

Lay menjawab, "Ya.." lalu kembali focus pada bukunya dan menemukan sesuatu menyempil di halaman pertama buku itu.

Sebuah memo.

Hi…

Umm… ku pikir kita bisa

bertemu hari ini

di Green Park

sepulang kuliah, aku tunggu..

-Kris

Lay tersenyum kecil membaca tulisan itu. Lucu. Pikirnya karena mereka layaknya anak SMA yang sedang dimabuk cinta. Haish… Lay tidak mau memikirkan hal yang tidak-tidak.

Dia pun segera bangkit dan berjalan berama Luhan dan Chanyeol seperti biasa. Tapi saat melewati loker, Chanyeol dan Luhan bertemu dengan teman mereka yang lain. Yeah, Baekhyun dan Xiumin. Mereka pun berpamitan pada Lay mau ke café dan Lay mengiyakan. Kebetulan sekali bukan?

Lay cepat-cepat mengeluarkan kertas memonya dan menuliskan sesuatu di depan loker Kris.

Oke :D

Aku harap aku tidak lupa hihi…

-Lay :3

Lay tersenyum saat menempelkannya di pintu loker Kris yang dia yakin orang itu belum pulang dari kelasnya. Dengan puas Lay berjalan keluar menuju café untuk sekadar membeli Satrbucks.

.

.

.

.

Taman itu terasa sangat sepi sore ini. Kris terduduk di kursi panjang berwarna coklat yang tepat di depan pintu gerbang taman. Tas hitamnya berada di sampingnya seolah menjadi teman selama Lay belum sampai. Tangan kanannya membolak balikkan kertas kuning memo pemberian Lay.

"Aku harap dia tidak lupa…" kata Kris pelan.

Lay muncul beberapa detik kemudian dengan jaket dan senyum manis yang selalu hadir di bibirnya. Lay melambai sedikit lalu berteriak kecil memanggil namanya. Kris berdiri saat Lay berlarian kecil ke arahnya.

"Lay…" kata Kris. Lay tersenyum kecil, "Apa?"

"Ku pikir kau datang sendiri…" kata Kris dengan nada kecewanya. Lay membulatkan matanya merasa terkejut, "Hm? Aku memang datang sendiri…" katanya tapi Kris menunjuk ke arah belakang membuat Lay menoleh dan menadapati 6 orang lelaki menguntitnya dari belakang.

"Kalian? Apa yang kalian lakukan?" teriak Lay kemudian.

"Kami ummm… kami… sudah janjian?" kata Baekhyun tersenyum kecil. Kris memutar bola matanya mendengar nada menggantung itu.

Hening.

Sesaat kemudian Tao dan Sehun berteriak bersamaan, "Kak.. kita ke sana yuk?!" teriak mereka lalu menunjuk ke arah barat membuat kakak-kakak mereka itu menoleh ke belakang. Mereka berdelapan pun berjalan santai ke depan sebuah danau tenang yang menampakkan pemandangan indah sore hari.

Jam tangan Luhan menunjukkan pukul 5.30 pm saat Tao bergumam, "Mataharinya indah…"

Semua mengangguk seraya menikmati sunset itu sembari duduk di rumput hijau khas sore hari ditemani cahaya matahari yang semakin lama makin memudar digantikan oleh semburat ungu yang kemudian datang.

"Tiga… dua… satu…" teriak delapan orang itu saat sunset itu berakhir dan gelap menyelimuti mereka.

"EH! Aku hampir lupa…" kata Chanyeol tiba-tiba membuka tas birunya dan mengeluarkan beberapa batang benda warna-warni.

Ketujuh temannya menatapnya heran lalu Kris berkata, "Kembang api?"

Chanyeol mengangguk lalu membagikannya pada semua temannya tapi saat sampai pada Kris dia berkata, "Untuk kalian satu saja ya? Aku hanya bawa 7…" katanya galau. Kris mendengus kesal berfirasat kalau Chanyeol sebenarnya membawa 8 karena tidak mungkin 1 set kembang api berjumlah ganjil.

Kemudian suara-suara kembang api yang ditembakkan 6 orang itu terdengar membuat Kris mau tak mau mengambil korek yang disalurkan oleh Sehun dan menyuruh Lay menyalakannya. Lay memegang batang kembang api lalu menyalakannya dengan korek.

"Bukan begitu memegangnya…" Kris membenarkan posisi tangan Lay dan memegang tangan lembut itu.

"Ohh…" Lay dan Kris menembakkan meriam-meriam kembang api itu dan membuat siratan cahaya masuk dalam luasnya langit.

Mereka tertawa bahagia layaknya sepasang kekasih. Sepasang kekasih? Kris bahkan tak pernah memikirkan hal bodoh itu meski dia tahu dia punya perasaan pada lelaki ini… karena dia bukanlah manusia. Dia bukanlah seseorang yang bisa membuat orang yang dicintainya ini bahagia…

"Kris.. keren!" teriak Lay sambil melirik ke arah Kris yang juga menatapnya. Lay tersenyum sangat manis lalu terkekeh kecil.

Dia ingin Lay. Ingat Kris… kau itu vampire. Kau mungkin akan membunuhnya jika kau menjadi kekasihnya. Jika sampai bulan itu datang… apa yang akan kau lakukan? Kris terdiam saat memikirkan hal itu.

"Aku lelaaaaaahhhhhhhh~ Lu Han.. ayo pulang!" Chanyeol berjalan ke arah Luhan seraya merenggangkan ototnya.

Luhan mengangguk lalu berpamitan pada Kris dan Lay yang masih berdiri di sana, "Kami pulang duluan ya? Kalian berdua… kami akan selalu mendukung kalian hahahha!" tawa Luhan lalu enam makhluk laknat itu pergi keluar taman meninggalkan Kris dan Lay yang stuck di tempatnya menatap makhluk-makhluk ajaib itu pergi.

"Jadi… kita pulang?" Kris bertanya saat keheningan tiba-tiba menyelimuti lagi.

Lay mengangguk dan mereka berjalan dalam diam.

.

.

.

.

Enam lelaki yang tadi meninggalkan Kris dan Lay yang jauh di belakang berhenti sejenak di perempatan kota. Hiruk pikuk kota sangat ramai, apalagi mereka berhenti tepat di pusat perbelanjaan dan hiburan di pusat kota.

"Bagaimana kalau kau ikut kami hang out malam ini?" tanya Tao pada Sehun. Sehun terlihat berpikir sambil menatap Baekhyun dan Xiumin yang sudah jauh meninggalkannya.

Sehun menggeleng pelan lalu tersenyum, "Lain kali saja… aku tidak mau meninggalkan mereka…" katanya lalu berlari menyusul dua kakaknya itu.

Tao hanya menatap punggung Sehun yang makin lama makin menjauh dari pandangannya. Chanyeol menepuk bahu Tao pelan, "Cinta itu seperti aspal… awalnya bergeronjal, lama kelamaan akan mengeras dan mendingin… hingga akhirnya… semua itu menjadi cinta yang halus. Sudahlah… cinta akan datang padamu, Nak…" katanya membuat Tao melengos.

"Haish! Bicara apa kamu ini Chanyeol?" Luhan menepuk punggung Chanyeol pelan.

"Itu kenyataan Luhan…" kata Chanyeol memposisikan dirinya layaknya paranormal.

Luhan memutar dua bola matanya lalu merangkul bahu Tao, "Ayo ke café dan tinggalkan orang gila ini…"

Baekhyun dan Xiumin menghela nafas lega setelah sampai di rumah. Mereka tak khawatir akan Sehun karena mereka bisa menghubungi anak itu kapan saja. Baekhyun menepuk kedua tangannya bersamaan lalu menatap Xiumin jahil.

"Kau suka pada LUHAN YAAA?!" teriaknya memperjelas ucapannya saat menyebut nama Lu Han. Xiumin menatap Baekhyun tajam sambil berjalan masuk dalam gerbang.

"Ti-Tidak… heh, kau itu yang suka pada Chanyeol! Iya kan?" balas Xiumin tak mau kalah.

Baekhyun membulatkan dua bola mata sipitnya, "Eh Eh! Enak saja! Kau itu… hihihi…"

"Mengaku saja!"

"Tidak… kau yang mengaku hahahha!"

Tak terasa canda tawa mereka telah mengantar mereka ke depan pintu. Sambil masih terkikik, Xiumin memasukkan kunci castle lalu membuka pintu.

Ada seseorang.

"Kau…"desis Baekhyun dan Xiumin bersamaan saat melihat orang itu menyeringai ke arah mereka.

"Hai…"

Kepulan nafas lelah keluar begitu saja saat Sehun berhenti berlari dan mengatur laju nafasnya. Dia berjalan lunglai ke dalam castle. Ia sedikit bingung dengan keadaan castle, sunyi, sepi, sudah biasa. Namun, ini berbeda, seperti ada yang salah dengan malam ini.

Dengan keyakinan penuh Sehun melangkah ke dalam. Pintu sudah dibuka, itu berarti Baekhyun dan Xiumin sudha berada di dalam. Sehun tersenyum kecil lalu berjalan santai ke dalam.

"Kak Baek? Kak Xiu? Kalian ke mana? Sepi.." kata Sehun saat dua kakaknya itu tak terlihat di mana pun. Sehun menggaruk kepala belakangnya lalu berjalan ke lantai dua.

"KAKAK!" Teriaknya begitu menaiki anak tangga. Sosok Baekhyun dan Xiumin tergeletak tak berdaya di lantai, berlumuran darah.

Sehun segera mengeluarkan telepon dari saku celananya dan menekan Speed Dial angka 1, 'My Baby Panda'. Cepat angkat Tao.. cepat…

"Hallo?"

"Hallo?"

.

.

.

.

Kris menyodorkan segelas kopi panas untuk Lay saat mereka melewati kedai kopi. Udara malam itu memang agak dingin. Maklum… musim pancaroba. Tak menentu cuacanya. Kadang indah, kadang tidak. Begitu pula malam ini.

Lay tersenyum sambil menerima sodoran kopi itu, "Aku pikir ini untukmu sendiri…"

Kris tersenyum menatap lelaki itu, "Aku tidak suka kopi. Sudahlah… ayo jalan." Mereka berdua pun menyebrangi jalanan Seoul malam itu tanpa ada yang mengganggu.

"Aku tahu kau suka kopi…" kata Kris dan Lay yang masih meminum kopi lantas menatapnya.

Mulutnya masih penuh dengan cairan bitter-sweet itu jadi dia memutuskan untuk menelannya terlebih dahulu sebelum menjawab pernyataan Kris, "Tidak… aku terlalu suka kopi… aku sukanya ice cream strawberry…" kata Lay seraya membuang gelas kopi itu ke bak sampah yang kebetulan mereka lewati.

Kris mengangguk lalu tersenyum, "Oohh…" katanya.

'DEG!'

"Akh…" Kris menekan dada kirinya yang terasa sangat nyeri.

Lay yang menyadari itu pun segera menghampiri tubuh lelaki jangkung itu, "Ada apa Kris?" tanyanya khawatir.

Kris menggeleng pelan, "Tidak… ayo cepat ke castle…!" kata Kris seolah tahu apa yang terjadi.

"Tao, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Luhan saat dengan seenaknya Tao menariknya. Chanyeol yang tak ingin ketinggalan pun mengikuti kemana Tao pergi.

Ke castle tua itu.

Apa yang Tao lakukan di sini? Luhan masih ditarik oleh Tao yang sekarang ini berlari menuju castle yang tinggal beberapa meter dari matanya.

'BRUUKK!'

Lima orang manusia bertubrukan dari arah yang berbeda. Saling menyadari kalau mereka saling kenal, mereka tak mau buang waktu untuk berbasa-basi dan langsung menuju castle. Kris berlari duluan lalu mendobrak pintu castle berbahan kayu itu. Dia terhenti dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Bercak darah…

Shit!

Kris berlari ke lantai dua dan menemukan tiga saudaranya tergeletak tak berdaya dengan beberapa luka sayat di tubuh mereka. Siapa yang berani melakukan ini? Sialan! Kris mengerang kecil lalu menatap tangga yang akan membawanya ke lantai paling atas. Apa ini karena orang itu?

"KRIS!" teriak Lay saat sampai di lantai dua tak menghiraukan Chanyeol, Luhan dan Tao yang terburu menghambur menuju tubuh kekasihnya masing-masing. Kris tak menghiraukan Lay yang berjalan ke arahnya tapi lebih memilih untuk segera berlari ke atas dan menemukan siapa pelakunya.

"KRIS!" teriak Lay lagi sebelum akhirnya turut berlari menyusul Kris ke atas.

Saat Kris sampai di lantai paling atas. Dia bertemu dengan sosok itu. Orang itu… berdiri di bawah sinar bulan yang terlihat lebih besar karena lantai atas castle itu tak beratap. Mata merah itu… Kris tidak bisa melupakannya.

"Kai…" desah Kris saat menatap lelaki yang juga menatapnya itu.

"Rindu aku Kevin?" sapa lelaki itu. Kevin atau Kris memicingkan matanya saat menatap lelaki yang ternyata adalah lelaki berkulit tan yang tadi sengaja menubruknya hingga cidera.

"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Chanyeol lalu membantu Kris berdiri. Kris tersenyum kecil merasakan sakit di lengan kanannya. Dia berdiri di topang oleh Chanyeol karena sepertinya kakinya terkilir karena benturan keras seorang lelaki siswa SMA berkulit tan bertubuh kekar itu. Sialan…

Kris menatap lelaki itu dengan tatapan tajamnya. Sepertinya aku kenal… katanya dalam hati melihat lelaki itu melakukan toast dengan teman segrupnya.

"Apa maumu?" tanya Kris dingin pada lelaki itu.

Kai menyeringai, "Kau tidak berubah… tetap tampan, tinggi, dan rupanya kau sangat beruntung Kevin…" Kai tersenyum makin lebar melihat ekspresi terkejut Kris.

"Apa maksudmu?"

Kai memiringkan kepalanya menatap spot lain selain Kris yang berada tepat di belakangnya, "Hai manis… rupanya kau memiliki malaikat pelindung…" kata Kai menyeringai.

Kris segera membalikkan badannya dan menatap seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Kenapa dia harus ada di sini? Menyaksikan ini semua? Kris membalikkan tubuhnya hanya untuk bicara pada lelaki itu.

"Lay kenapa kau di sini? Cepat kembali…" suruhnya tapi Lay menggeleng dan berkata, "Aku tidak mau…"

Kris mendesah lalu menarik tangan Lay dan berbisik, "Dengar, aku tidak main-main… cepat kembali. Jangan pedulikan aku." Dan lelaki keras kepala di depannya hanya menggeleng. Kris mengerang frustasi.

Kris menarik kepala Lay dan mendaratkan bibirnya di kening pria berlesung pipi itu, "Jika kau tidak pergi kau akan terbunuh…"

"Lebih baik aku yang mati daripada kau…" jawab Lay. Kris mengacak-acak rambut pirangnya lalu kembali menghadap Lay dan berbisik pelan, "Aku akan baik-baik saja… aku janji okay?" tapi Lay tetap menggeleng.

"Fine… asal kau tetap di sini. Okay?" Kris menangkupkan dua telapak tangannya di pipi Lay sambil membisikkan kata-kata, "I'll safe for you…" bisiknya. Lay menatap Kris dengan mata indahnya saat Kris mendekat hendak menyatukan bibir mereka.

Kai berseru mencegah hal menjijikkan itu terjadi, "Sadarlah kalau ada aku di sini…" katanya dan membuat aksi itu terhenti.

Kris berbalik menatap Kai yang menyeringai padanya. Kris melihat Kai mengubah wujudnya menjadi vampire. Mata merah itu… Kris pun tak tinggal diam lantas mengubah dirinya menjadi vampire juga.

Dia benar-benar vampire…

"Kau ingat kalung ini? Tanpa kalung ini kau tidak akan bisa menjadi manusia!" hardik Kai dengan suara beratnya. Kris melihat kalung berbentuk segi enam itu seksama. Sial! Kalung yang selama ini dia cari!

"Kembalikan kalung itu! Shit!" umpatnya lalu berlari ke arah Kai.

Kai melompat jauh untuk dapat menyentuh Kris dan melukainya… membunuhnya. Kris melawan. Berbagai auman dan erangan karena saling cakar, saling pukul, dan saling gigit begitu kentara di telinga Lay saat itu.

"Apa yang harus kita lakukan?" teriak Luhan di sela tangisannya. Chanyeol pun melakukan hal yang sama saat menaruh kepala Baekhyun di pahanya dan mendekapnya erat.

"Rumah sakit!" kata Tao dingin.

Lumuran darah mewarnai tubuh dua sosok yang tengah bertarung itu. Lay hanya terpaku di tempatnya karena… dia tak bisa melakukan apa-apa. Kai mengusap darah segar yang keluar dari sela-sela bibirnya lalu menyeringai sembari menatap Kris yang berusaha bangkit.

"Jika aku tak bisa membunuhmu… aku akan membunuh malaikat pelindungmu!" katanya lalu menatap Lay yang tercekat dan mundur beberapa langkah sampai akhirnya bertemu dengan Kai yang berlari ke arahnya.

"KAI!" teriak Kris ikut berlari tapi hanya bisa sampai di bawah kaki Kai yang kini telah mengunci gerak Lay.

Lay tak berkutik saat di depannya ada Kai, yang juga seorang vampire. Kai menelusuri wajah Lay dari kening hingga… leher.

"KAI! JANGAN SENTUH-"

'BUAGH!' Kai menendang wajah Kris yang tadi menggenggam kakinya. Cih! Vampire sialan itu mau coba-coba dengan Kai rupanya.

"Kris…" desis Lay pelan saat Kai melakukan itu pada kekasihnya… temannya maksudnya.

"Kau… cantik sekali…" Kai menyapukan lidahnya ke permukaan bibir atasnya lalu menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke leher Lay.

Lay merasakan jemarinya terkait sesuatu tiba-tiba. Kris… Lay melirik ke arah Kris yang berusaha memberikan sebilah pisau padanya. Dengan yakin Lay mengambil pisau itu dan saat Kai hendak menusukkan taringnya…

"AAARRGHHH!" jerit Kai saat sebuah benda tajam menusuk dadanya. Tepat di dadanya…

Kai berjalan limbung mundur ke belakang sambil merutuki Lay dan Kris. Kris kemudin bangkit dan berjalan ke arah Kai yang masih berjalan mundur sambil memegang pisau itu.

"Aku… telah membunuh semua keluargamu!" kata Kris masih dengan nafas tersengal.

Kai menatap Kris tajam, "A-Aku… akan balas dendam! Aakhh… lihat saja… Kevin!" katanya. Kris tak mau lagi mendengar suara Kai lalu mendorong tubuh lemah Kai ke jurang belakang castle yang langsung menuju ke laut.

"I WILL KILL YOU!"

Kris tak menghiraukan suara Kai yang mulai lenyap itu melainkan berbalik menatap Lay yang berlari ke arahnya. Lay langsung mendekap tubuh lemah Kris dan memeluknya erat. Lay melepas pelukannya dan menatap Kris, "Sok pahlawan…" katanya di sela air mata bahagianya.

Kris mendengus, "Tidak… dasar… eh, aku tadi belum berhasil menciummu…" dan Lay mengalungkan lengannya ke leher Kris menariknya dalam satu ciuman panjang yang selama ini Kris inginkan.

"Thanks…" bisik Kris dan langsung ambruk di pelukan Lay.

"KRISS!"

.

.

.

.

.

Epilogue

Seoul, 8.00 am.

Derap langkah Lay terdengar sangat santai setelah mengunjungi 3 kamar sekaligus. Menyerahkan sedikit makanan dan sebatang bunga mawar putih yang amat disukainya berharap ketiga temannya lekas sembuh. Saat ini dia tengah berjalan menuju kamar yang terakhir.

Kris menatap burung-burung kecil hinggap di pohon dekat jendela rumah sakit. Aroma obat ini benar-benar tidak enak. Andai Lay di sini…

"Pagi pangeran tidur…" sapa seseorang saat pintu kamar Kris terbuka.

Lay berdiri kemudian masuk ke dalam memberi Kris senyuman hangatnya dan duduk di samping Kris. Kris tersenyum dan membenarkan posisinya, "Bagaimana keadaanmu?" tanya Lay dan Kris menggeleng pelan.

"Sudah baik…" katanya.

Tapi kalung itu…. Bagaimana dengan kalung itu? Jika dia tidak menemukan kalung itu… berarti dia tidak bisa menjadi manusia… dia tidak bisa bersama…

"Jangan pikirkan kalung itu araso? Aku akan ada untukmu… mau kau vampire atau bukan, aku tetap mencintaimu…"

Kris tersenyum mendengar suara fluff itu.

Kalung itu pasti akan kembali…

Pasti.

.

.

.

.

*OVER*