Chankai's Story
(Chanyeol X Jongin as Kai)
Author : Jihyunk16
Warning!
Boys Love! Crack pair!
...
Don't Like Don't Read, thankyou!
...
.
Gue repost,maaplagilabil :""" sini peluk gueee /ditabokkin
.
Perasaan pagi ini cukup menyejukkan. Udara yang segar, bau tanah basah begitu menenangkan dan dedaunan yang sibuk bergoyang di tiup angin. Pagi yang sejuk tentu membuat banyak orang tak rela untuk bangun dari tidur indahnya apalagi si raja tidur kita, siapa lagi jika bukan Kim Jongin.
Jongin kini sibuk membuat mimpi di alam bawah sadar sana. Wajah yang begitu manis itu mendadak menjadi menggelikan sekarang, apalagi di tambah bibir tebal yang kini terbuka lebar dengan cairan di ujungnya, ewh.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar, menampilkan sosok pemuda kelewat jangkung yang bersidekap malas menatap Jongin yang masih tidur seperti orang mati. Hentakan langkah kaki seolah mengatakan jika Kris—Kakak Jongin—sungguh kesal dengan kebiasaan Adiknya yang menurun entah dari mana. Setahunya Ayah atau pun Ibunya tidak sekebo ini dalam tidur.
"Oi, bangun!" kaki panjang Kris menendang pantat Jongin keras berharap tindakannya berhasil membangunkannya.
"Jongin, kau bangun atau ku siram air?"
".."
"Ibu akan membunuhmu jika kau tak bangun sekarang juga, setan kecil"
".."
Ah, dalam hatinya ia merutuki mempunyai saudara seperti Jongin yang sama sekali tak bisa diharapkan. Dengan kekuatan penuh, Kris menggendong Jongin ke kamar mandi lalu meletakkannya di bath-up. Jiwa setannya mengatakan untuk menghidupkan air panas, berhubung ia bukan pembunuh, dengan tega Kris menghidupkan air dingin berharap Jongin segera sadar dari mimpi bodohnya.
Satu detik kemudian Jongin masih diam saja.
Tiga detik Jongin mulai bereaksi.
Lima detik Jongin—
"Ibu, aku tenggelammm! Huwaaa!"
Berteriak.
Kris mendesah keras mencoba bersabar lebih lama lagi menghadapi tingkah Jongin. 'Sepertinya aku harus benar-benar mengancam Chanyeol agar tidak usah berdekatan dengan Jongin'
Sementara Jongin masih sibuk menangis berlebihan sambil memanggil Ibunya yang tak kunjung menolongnya. "Jongin, aku hanya memasukkan mu ke dalam bath-up. Jangan sampai aku berpikiran untuk membuangmu ke akuarium piranha milik dosenku."
Jongin menghentikan aksi menangisnya lalu menatap Kris dengan mata di sipitkan tak lupa jari telunjung kanannya menunjuk hidung Kris dengan penuh ancaman tak berguna. "Kau mengancamku?" ujarnya dengan muka sedihnya dan jangan lupa dengan matanya yang berkaca-kaca seperti akan di culik om om mesum.
"Sudahlah," ujar Kris bosan dan pergi begitu saja meninggalkan Jongin yang kini berteriak histeris sepeti telah diperkosa om om mesum.
"JONGIN DIAM! ATAU PISAU YANG KU PEGANG AKAN MELAYANG KE TENGGOROKANMU!" teriak Ibunya dari bawah.
"PISAU TIDAK BISA MELAYANG!" balasnya ikut berteriak.
.
.
Jihyunk16
.
.
.
Hari ini ia sengaja bermalasan malasan di ruang keluarganya sambil memakan apapun cemilan yang ada—bahkan ia mengambil snack milik Kris di lemari pendingin kamarnya—dan menghabiskannya tanpa rasa bersalah. Hari libur harus dinikmati apalagi jika besok sudah harus kembali ke sekolah yang sangat ia benci.
Tok..tok..tok..
"Dan Tuhan juga tahu kalau itu pasti Park Chanyeol," gerutunya kesal. Feeling nya nggak pernah salah tentang ini, karena Chanyeol adalah salah satu spesies yang harus di hindari seumur hidupnya.
Begitu pintu terayun terbuka hanya untuk mendapati wajah idiot Park Chanyeol sambil membawa bungkusan yang tak asing. Untuk beberapa detik ia hanya memandangi tanpa menit tapi begitu ingat jika bungkusan itu—
"AYAM GORENG LADA HITAM!"—matanya berbinar cerah sampai Chanyeol merasa harus kembali ke rumah untuk mengambil kaca mata hitamnya.
"Yayaya, tak perlu segitunya juga," ujar Chanyeol malas.
Dengan tidak sopannya ia masuk tanpa menunggu sang pemilik rumah. Well, ini terasa deja vu, pada dasarnya mereka memang kedua pemuda tanggung yang tak sopan. Tsk.
"Berikan ayamku," tuntut Jongin sambil menengadah tangannya.
Chanyeol menyeringai tipis, ini adalah kelemahan Jongin kedua. Jika kau bertanya yang pertama, ia akan menjawab dengan datar ; ayam goreng. Lihat? Tak jauh-jauh dari yang namanya ayam seakan itu sudah menjadi hidupnya.
"Memang siapa yang mengatakan ini untukmu?" katanya berjalan ke arah sofa yang penuh dengan bungkusan dan topless kosong. "Kau ternyata sudah makan, yasudah ini ku makan sendiri saja!" lanjutnya girang.
Mata Jongin membulat lucu membuat Chanyeol yang kini duduk di sofa—setelah menyingkirkan sampah bungkusan—menggigit bibirnya gemasnya. Duh, bisa diculik, nggak?, batinnya menjerit.
"Chanyeol tidak adil! Jongin benci Chanyeol!" jerit Jongin frutasi.
"Jongin harus menolong Chanyeol dulu kalau mau ayamnya," rajuk Chanyeol mengikuti gaya ngomong Jongin yang seperti anak kecil—walau lebih imut Jongin sih, lol.
"Apa?" tanyanya tak sabar.
"Kau jangan pura-pura tak tahu," dengus Chanyeol jengkel.
Mendadak Jongin cemberut dan berjalan ke arah Chanyeol sambil menghentak-hentakkan kakinya. "Beritahu satu alasan kenapa aku harus?" tanyanya malas.
"Itu semua karena cinta."
"Bullshit!"
"Serius! Kenapa sih kau tak percaya padaku?"
Dengan cepat Jongin mengambil ayam yang berada di pangkuan Chanyeol saat dia lengah dan melengos pergi ke dapur untuk menikmati makanan surganya—sejujurnya ia sudah tidak nafsu lagi sekarang. Chanyeol yang merasa di curi langsung melesat mengikuti Jongin.
"Yak, hitam! Jangan mencuri seenaknya!" ujarnya gemas.
"Aku tak mencuri"
"Lalu apa namanya kalau bukan mencuri?"
"Mengambil"
"Sama saja, bodoh!"
"Nggak peduli!"
geezz, rasanya Chanyeol semakin dongkol saja pada Jongin yang kini asik dengan ayam dan nasi yang sudah ia siapkan. Rencananya ia ingin merayu dengan iming-iming ayam malah gagal dengan aksi pencurian tak berperikeChanyeolan dari Jongin.
"Beritahu satu alasan kenapa kau melarang," ujarnya mengulang perkataan Jongin tadi.
"Karena si cerewet itu sudah punya pacar," ujarnya santai.
Rasanya kepalanya seperti sudah berasap di atas sana. "Kenapa kau tidak bilang dari awal sih!?" tanyanya jengkel.
Jongin menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan polosnya—Chanyeol nyaris terlena. "Karena kau tak bertanya."
Oh benar juga.
Ia tak pernah bertanya.
Bodohnya.
"Yasudah, aku pulang saja!"
.
.
Jihyunk16
.
.
.
Malam sudah berganti menjadi pagi namun tak ada tanda tanda dari mata Jongin untuk tidur nyenyak di atas kasurnya yang super empuk. Jujur saja, ia sudah mengantuk bahkan kepalanya seperti berputar mengingat banyaknya kegiatan yang ia lakukan setelah aksi ngambek Chanyeol kemarin. Ditambah omelan panjang Ibunya karena rumah yang begitu berantakan juga tawa nista si Kris yang tidak membantu sama sekali—dia belum tahu masalah makanannya yang Jongin curi. Sepertinya ia harus pasrah melihat matanya terlihat mengerikan saat akan sekolah.
Drrtt..drrtt..
Tangannya meraba raba nakas dengan malas, tak di perduikannya gelas plastik yang jatuh karena kegiatannya tadi—untungnya airnya sudah aman di dalam perutnya—. Setelah mendapatkan ponselnya ia menatap layar yang menampilkan foto selfienya yang—ia rasa—cukup imut. Ibu jarinya membuka layar touch screen itu untuk melihat orang gila mana yang mengirim pesan di pagi buta.
Oh. Chanyeol. Tak heran.
From : Park Dobi
Orang gila mana yang belum tidur dari semalam? Cepat tidur kau hitam!
Dasar bossy! Tapi, darimana ia tahu kalau Jongin tak tidur dari semalam? Kepalanya menggeleng lucu terhadap banyaknya pemikiran konyol di otaknya. Well, ia juga tak yakin si idiot itu berubah menjadi peramal.
Kini jari jarinya bergerak lincah untuk membalas pesan tersebut, meskipun sebenarnya dalam hati ia malas unutk membalas orang yang bahkan bukan teman atau musuhnya itu.
To : Park Dobi
Sialan. Tahu dari maka kau aku tidak tidur dari semalam?
Setelah melihat bacaan 'pesan terkirim' dari ponselnya. Ia meletakkan benda itu ke samping kepalanya sembari menunggu pesannya dibalas oleh Chanyeol.
Tik..Tok..Tik..Tok.
Sudah sekitar lima menit berlalu dan Jongin mulai menguap, terima kasih sekali untuk matanya yang mendadak ingin tidur di saat sekolah tengah menanti untuk di datangi. Matanya secara beraturan menutup karena lelahnya dan dalam hati Jongin bersyukur.
Baru beberapa detik matanya Jongin tertutup, mendadak ia di kagetkan dengan getaran ponsel di sampingnya. Pasti Chanyeol, pikirnya.
From : Park Dobi
Idiot, aku tetanggamu.
Oh iya. Kenapa ia bisa melupakan hal itu? Meminjam kekuatan sailor moon , ia secepat kilat melepaskan selimut untuk membuka tirai balkonnya yang tipis. Dan terpampanglah wajah idiot yang tengah menatap serius ponselnya.
"Chanyeooolliee~~"
Orang yang tengah menatap ponsel itu tersentak kaget, refleks kepalanya langsung tegak. Jongin tertawa lepas melihatnya, sekali idiot tetap saja idiot, batinnya tak sadar diri.
"Kau ingin membangunkan orang di tengah buta, hitam?" ujar Chanyeol jengkel. "Dan apa-apaan itu tadi, 'Chanyeollie'? Menjijikkan," lanjutnya mengejek Jongin.
Bibir Jongin mengerut tidak suka mendengar pekataan tajam Chanyeol, sejak kapan si tiang itu jadi seserius ini? Apa ia masih patah hati karena kemarin siang?
"Aku hanya bercanda, sialan! kau tidak tahu ya defenisi bercanda?" dengusnya.
"Ya..ya.., terserah mu sajalah"
Jongin semakin jengkel saja melihat Chanyeol seperti itu. Lebih baik dihadapkan dengan Chanyeol yang berisik dan gila dibandingkan dengan yang bermulut tajam dan sinis. Mood nya juga lagi jelek dan ia tak ingin ribut hanya karena masalah ini.
Untuk mencairkan suasana, ia memutar otak unutk mendapat topik yang bisa mengubah suasana yang mendadak terasa dingin. "Hey, Yeol. Kau tahu dari mana jika aku tidak tidur?" akhirnya setelah beberapa detik berpikir, ia menemukan topik.
Chanyeol menatapnya sekilas lalu berkutat kembali pada ponselnya. "Kau tahu, hitam. Betapa berisiknya kamarmu itu sejak tengah malam, bahkan si Kris beberapa kali harus menghidupkan lampu kamarnya karena kau yang berisik itu!"
Well, karena tak bisa tidur jadi Jongin mencoba cari cara agar merasa menjadi seseorang kesepian yang menyedihkan. Ia mulai melakukan kegiatan apapun di kamarnya mulai dari berlari kecil, bermain playstation dengan suara yang lumayan besar dan bernyanyi untuk mengusir kesunyian.
"Pantas saja," gumamnya pelan.
Ia menolehkan kepalanya menatap pantulan dirinya di jendela balkonnya, bisa dilihat matanya memerah dan lingkaran hitam yang melebihi milik Tao si siswa transferan dari China. Oh ini sungguh mengerikan dari film horor yang selalu ia tonton.
"Aku terlihat seperti pemeran zombie, walau sebenarnya aku masih cukup tampan," kapanpun dan dimanapun kenarsisan Kim Jongin tak bisa di hilangkan.
Kakinya bergerak melangkah masuk ke dalam kamarnya kembai, bermaksud untuk tidur sejenak sebelum sekolah nanti. Meski tak yakin akan terbangun nantinya, mengingat Jongin di juluki raja dari raja rajanya raja tidur.
Jongin menoleh malas saat mendengar suara Chanyeol memanggilnya. "Apa?"
"Kau mau kemana?"
"Tentu saja tidur! Masih ada waktu satu setengah jam sebelum benar-benar pagi," dan Jongin masuk tanpa menunggu Chanyeol yang sepertinya tampak ingin berkata sesuatu.
.
.
Jihyunk16
.
.
.
"Kau ini begitu merepotkan!"
Niat Jongin memang hanya tidur sebentar, nyatanya setelah Kakaknya berteriak histeris sambil memanggil Ibu mereka sambil menjeritkan kata demam, mati dan sebagainya ia tak bangun untuk pergi ke sekolah.
Kini Jongin harus extrasabar menghadapi omelan si gigi tonggos yang tengah menyuapkan bubur masakan Ibunya sebelum berangkat ke kantor. Jongin sakit sebenarnya adalah hal yang dihindari Kris karena ia begitu manja dan gampang menangis, kalian harus tahu itu.
"Kris, semalam aku memakan snack mu," lapor Jongin.
"Tidak apa."
"Aku menghabiskan semuanya."
"Iya."
"Kau tidak marahkan?" ujarnya dengan raut sedih.
Jika Kris marahi pun nantinya hanya akan membuatnya lebih repot karena ia akan menangis dan membuat suhu tubuhnya kembali naik. Hati Jongin sangat sensitif saat demam, dan itu bencana.
Jongin membuka mulutnya untuk mendapat suapan terakhir dari Kakaknya. Ia akui jika si Kris memang sangat cekatan mengurusnya, terlepas dari sikap menjengkelkannya. Kris bahkan selalu rela meluangkan waktunya jika Jongin membutuhkannya meskipun harus melewati serangkaian omelan panjang, tipikal Kakak idaman sebenarnya.
"Nah, sekarang, kembalilah tidur, bayi besar!" tangan besar Kris menepuk-nepuk pelan pantat Jongin seakan dia benar benar mengurus seorang bayi.
"Kau harus menemaniku tidur dan memelukku," ujar Jongin lemah sambil menarik shirt Kris untuk ikut berbaring.
Jongin dan Kris mungkin selalu bertengkar kapan pun saat mata mereka bertatapan, tapi meskipun begitu mereka akan selalu saling mengkhawatirkan jika salah satu dari mereka jatuh sakit atau sebagainya.
.
.
Jihyunk16
.
.
.
"Ibu! Demamnya si hitam tak turun-turun! Haruskah aku menguburnya agar cepat mati saja?"
"Sebelum kau mengubur, Jongin, Ibu akan menggantungmu terlebih dahulu! Ya Tuhan, demamnya semakin tinggi saja. Kau tidak meracuninya, kan?" ujar Ibu curiga.
Wajah Kris mendadak mendatar mendengar perkataan Ibunya. "Terima kasih, Bu. Aku mengorbankan waktu berharga ku untuk mengurusnya, dan Ibu malah menuduh ku yang tidak tidak. Ouch, hatiku terluka, " ujarnya dengan nada menyebalkan.
Mendengar suara yang begitu berisik, Jongin terbangun sambil mengerjapkan matanya perlahan. Matanya terasa mengabur dan kepalanya begitu sakit seakan baru saja diinjak kaki gajah, oke ini berlebihan.
"I..Ibu..uu?"
Setelah itu ia tak sadar diri diiringi teriakan histeris Ibu dan Kakaknya.
.
.
Jihyunk16
.
.
.
Jongin dibawa ke rumah sakit dengan kekuatan super Kris yang membawa mobilnya ala pembalap pro membuat Ibunya nyaris muntah di dalam mobil. Kini mereka menatap cemas ke arah unit darurat. Kris tak menyangka bahwa Jongin akan menjadi separah ini. Coba semalam saat Jongin seperti orang kesetanan di tengah malam ia suruh tidur pasti tidak begini jadinya.
"Kau memeluknya tidak sih saat Jongin tidur?" tanya Ibunya geram.
"Sudah, Bu" katanya kalem.
"Lalu kenapa bukan kau yang sakit!?"
Bola mata Kris nyaris keluar mendengar perkataan Ibunya. "Kau mendoakan ku yang sakit, Bu?" tanyanya tak percaya.
"Setidaknya kau sedang libur kuliah! Aku tak mendidik anak yang yang memiliki kadar otak pas-pasan untuk banyak absen di sekolah," ujar Ibunya tak perduli.
"Ya Tuhan, Ibu.. Jika aku sakit kau juga akan kerepotan. Apa bedanya?"
"Bedanya, Jongin kan jadi bisa sekolah dan kau sedang libur jadi tidak masalah."
"Ibu tega! Ibu mendoakan ku sakit," rengek Kris seperti bayi besar yang baru saja terguling dari lantai dua /?
"Sudahlah, kau tak akan bisa seimut, Jongin. Jangan lakukan aegyo padaku lagi atau aku kan memecatmu sebagai anakku!"
Kris hanya dapat memutar bola matanya jengah, Ibunya memang kurang waras melebihi orang tua mana pu di dunia ini. "Pantas saja Jongin idiot," gumamnya tak sadar diri.
"Kau mengataiku idiot,Kris!?" tanya Ibunya dengan mata yang membesar seperti bola ping pon membuat Kris bergidik ngeri melihatnya.
'Mati aku!'
"Eung.. anu.. aku.. aku.. Oh iya, aku ingin ke toilet dulu"
Dengan langkah besar Kris berjalan cepat menjauhi Ibunya sejauh yang ia bisa. Dalam hati, ia berdoa agar Jongin cepat sadar dan Ibunya juga ikut sadar atas kegilaannya yang semakin parah.
'Ya Tuhan, aku bisa gila!'
.
.
Jihyunk16
.
.
.
TBC
Note : awalnya males banget nge-post, takutnya pada gak inget lagi sama ff nya—sama guenya juga khukhu~
UDAH BERAPA BULAN GUE NELANTARI INI EPEP!? LoL. Sebenarnya ini ff udah lama banget ada di notepad handphone, cuma males begete buat mindahin ke Ms. Word yang ternyata sampai 2.1 K lebih dikit xD. Mau update lewat handphone cuma gak tahu kayak mana caranya lol jadi malas nge-update.
Oke dadah!
