Silahkan perhatikan WARNING terlebih dulu sebelum membaca.

Keputusan membaca ada ditangan anda -devilsmile-

WARNING !! (Warning penting untuk mengetahui apa saja yang tersaji dalam fict ini) :

Straight Pair (Pair normal, PainSakuDei), OOC (Perubahan sifat salah satu chara), Character PoV (Sudut pandang salah satu karakter), Disini Pain wajahnya tidak bertindik (mulus) dan Naruto tidak mempunyai kumis kucing di pipinya, lalu Sakura berponi jadi dahinya yang lebar itu tidak terekspose plus rambutnya yang hanya sepunggung (tanpa bando).

Summary :

Sakura Haruno, murid KHS yang mempunyai kemampuan beladiri yang tinggi. Kakaknya, Sasori Haruno adalah anggota kelompok yang paling ditakuti di seluruh sekolah yaitu Akatsuki. Sakura yang sama sekali tidak takut atau terkesan menantang kelompok tersebut dimasukkan ke dalam daftar Blacklist Akatsuki, itu berarti Sakura adalah musuh seluruh murid KHS. Apakah Sakura akan selamat dari Akatsuki ? Enjoy ! ;D

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Blacklist © Ryuku S. A .J

Blacklist Chapter 3 : Harmonia

- - -

- - -

Normal PoV

- - -

- - -

"Panaaaaaasss..." keluh seorang gadis berambut coklat sambil mengipas-ngipaskan tangannya.

"Hemm..."

"..."

Dua maid kita sedang asik-asiknya mengeluh, sementara yang satu lagi hanya memasang wajah bosan tanpa aura semangat. Hari ini Cafe memang sedang sepi. Tak ada satupun yang mau keluar disiang hari yang terik begini. Mungkin para penduduk lebih memilih untuk mendinginkan diri dibawah terpaan angin kipas ataupun memilih mengemil makanan yang dingin-dingin, yah setidaknya bisa menurunkan kadar panas pada tubuh mereka.

Kin Tsuchi. Remaja perempuan itu menghampiri rekannya, Sakura Haruno yang sedang terkapar dengan keadaan kepala diatas meja.

"Sakura~ ayo beli es..."

"Malaaas..."

"Ayo!"

"Ngg..."

Kin terus memaksa Sakura untuk menemaninya mencari es. Entah es apa yang ingin ia beli. Yang jelas sekarang Sakura masih tidak bergeming dari posisinya semula.

"Yaaa... Sakura aku mohon~"

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Kin jengkel.

"Ok!"

Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan Temari didalam Cafe sendirian. Sebenarnya tidak sendiri, hanya saja Kabuto sedang tidur saat itu kemudian Ayame dan Yamato sedang sibuk mendekatkan diri sedangkan bos mereka... Ada diruangannya.

- - -

- - -

"Sakura?"

"Apa?"

"Kau katanya berjanji akan bercerita padaku tentang malam Valentine-mu sebulan yang lalu."

"Ah! Itu-i-itu... Bagaimana ya? Aku sih mau cerita ta-tapi..."

"Ayo cerita saja...!"

"O-ok!"

Sakura agak blushing saat diminta bercerita tentang kejadian saat Valentine sebulan yang lalu. Mungkin akan menjadi sebuah aib bila author secara terang-terangan membocorkan hal ini pada umum.

- - -

- - -

Flashback

- - -

- - -

Siang hari saat itu adalah siang hari yang paling berisik di Blok 10. Bagaimana tidak?! Keluarga bahagia impian kita sedang ribut besar hanya karena sang adik dipaksa sang kakak untuk melakukan sesuatu yang sang adik tidak ingin melakukannya.

"Tidak mauuuuuuuuuuu!!!"

"Harus mauuuuuuuuuuuu!!"

"Tidak!"

"Iya!"

Beberapa saat kemudian terdengar suara rusuh dari dalam rumah tersebut. Mulai dari suara piring, gelas, botol, bantal, pokoknya semua benda yang dapat dijangkau oleh sang adik tanpa berdosa ia lemparkan semua itu pada sang kakak.

"Dengar ya kakakku tercinta, dengan semua ini kunyatakan kalau aku tidak IKUUUUT!" Ancam sang adik sambil melempar gelas kearah sang kakak yang sukses menghindar sehingga kembali terdengar suara kaca pecah disana.

"Tapi Sakura. Kalau kau terus seperti ini, berarti bayang-bayang kematian Sasuke masih tercetak jelas diingatanmu?"

Sakura terdiam. Memang dia sengaja menolak permintaan kakaknya karena hal itu. Kematian Sasuke memang sempat membuat ia depresi berat. Tidak dapat disangkal bila gadis itu memang masih mencintai Sasuke.

"Tidak juga..." Ucapnya lirih.

"Jangan berbohong. Aku sudah kenal kau sejak masih kecil. Sekarang begini, aku tidak memintamu untuk menghapus Sasuke yang masih berada dihatimu tapi ingatlah Sakura... Sasuke pun ingin kau bahagia, begitu juga aku kakakmu."

"Tapi-"

"Sudahlah. Aku meletakkan sebuah gaun didalam kamarmu... Itu milik Ibu. Pergi atau tidak itu keputusanmu, aku tidak akan memaksa.

Sasori menghela nafas dan beralih pada puing-puing kaca yang bertebaran di seluruh sudut ruangan. Sakura juga, tapi tidak melakukan hal yang sama dengan Sasori melainkan masuk kedalam kamarnya.

'Maafkan aku kakak...'

- - -

- - -

Night, Valentine Party On Konoha High School

- - -

- - -

Deru suara musik menggema di aula SMA Konoha. Para muridnya terlihat senang dan menikmati acara setahun sekali disekolah mereka. Terutama murid perempuan. Mungkin bagi murid lelaki mereka bagaikan bidadari salah turun dari kahyangan. Ada yang sibuk menggoda, menggombal, bahkan ada pula yang dengan berani menyatakan cinta saat itu juga padahal baru bertemu, alhasil si pria langsung mendapat tamparan yang luar biasa kencangnya.

Sekarang kita tengok para anggota Akatsuki. Mereka semua terpencar. Hidan dan Kakuzu lebih memilih untuk duduk diluar daripada berada didalam, Konan sedang sibuk berdandan ditoilet wanita, Tobi... sedang menghabiskan persediaan makanan, Zetsu sedang menguntit seorang gadis, Pein sedang digoda murid perempuan, Deidara, Sasori dan Itachi sedang berkumpul bersama.

"Kemana adikmu?" Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Deidara pada Sasori saat mata birunya tidak menemukan Sakura.

"Dirumah. Dia menolak untuk ikut."

"Huh? Sayang sekali. Padahal aku rindu pada mantan calon adik iparku itu." Ucap Itachi datar tanpa menatap Sasori ataupun Deidara.

Deidara mengeluh dan Sasori terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa tentang keadaan Sakura pada kedua temannya ini. Tentu saja, Sasori khawatir mengenai keadaan Sakura.

Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengar suara ribut dari beberapa siswa. Mereka berbisik, kagum, tercengang, pingsan, dan lain sebagainya saat seorang gadis menampakkan diri dengan penuh karisma. Tubuhnya yang ramping berbalut gaun putih dengan rok yang mengembang tepat diatas lutut, membuat beribu pasang mata tidak berkedip akan pesona yang ia pancarkan.

Kaki gadis itu mulai melangkah. Pada belakang gaunnya terdapat simpul pita yang berukuran sedang. Cantik? Tentu. Apalagi ditambah dengan sepatu boot putih berpita kecil pada bagian atasnya dan sebuah bando turut menghiasi kepala gadis itu.

"I-itu Haruno?"

"Wah! Cantik ya!"

"Hebat."

Sakura terus melangkahkan kakinya dengan wajah merona karena malu. Dia terus berjalan sampai dirinya hampir berpapasan dengan Pein yang tengah berjalan kearahnya.

'Dia...'

Sakura memantapkan hati. Apapun yang terjadi dia hanya perlu berjalan terus sambil mencari posisi Sasori saat ini. Dia terus melangkah begitu juga dengan Pein. Jantung gadis pink itu mulai berdetak kencang, dalam hatinya ia takut apabila Pein menyetopnya secara tiba-tiba. Tapi...

Deg!

'Hn?!'

Yah! Pein hanya melewatinya saja. Sakura sedikit terkejut dengan sikap Pein. Mungkin dia takut diejek murid lain karena tidak konsekuen dengan ancamannya, begitulah pikir Sakura.

Sakura sedikit menunduk, sampai sesuatu menubruk dirinya dengan kencang.

"Oh Sakura! Kupikir kau tidak datang!"

"Kakak lepas! Baka!"

Itulah yang terjadi. Sasori memeluk Sakura dengan erat tak peduli dengan tatapan deathglare yang dilayangkan para FanGirls Sasori pada Sakura, Deidara dan Itachi pun merasa demikian. Merasa ada yang mengganggu saat melihat kakak-adik itu berpelukan. Jealous? Mungkin.

"Kukira kau tidak datang." Kata Deidara.

"Hmm... Aku tidak ingin melewati momen menyenangkan ini." Balas Sakura dengan senyum yang agak dipaksakan.

Tiba-tiba Itachi maju selangkah dan berdiri diantara Sakura dan Deidara. Deidara jengkel, Sasori dan Sakura hanya terkejut.

"Maaf Deidara.... Sakura maukah kau menemaniku berdansa?" Tanya si Uchiha dingin itu dengan nada yang seperti biasa. Sakura memerah, dengan gagap ia menerima tawaran Itachi. Mereka berdua segera membaur dengan siswa-siswa lain dilantai dansa. Dan kini FanGirls Itachi yang meledak.

"Kau kalah cepat pirang." Sindir Sasori sambil menepuk pundak Deidara. Sementara si pirang hanya mengerucutkan bibirnya.

- - -

Waktu demi waktu berlalu. Kalau tadi Sakura tengah asik berdansa dengan Itachi, kini dirinya lebih memilih untuk menyendiri diatap sekolah seperti yang biasa ia lakukan. Angin malam yang berpotensi membuatnya sakit pun ia abaikan. Bodoh? Ya.

"Ada apa Pein?"

Tegur Sakura pada orang yang baru saja muncul diambang pintu. Pein, padahal dia berusaha untuk memperkecil suara kedatangannya. Tidak disangka indra pendengaran Sakura sangat tajam bak kelelawar.

"Aku hanya butuh udara segar."

"Huh? Udara segar? Ini malam hari bodoh, yang ada hanyalah udara sakit."

"Khukhukhu... Kau sendiri?"

"Aku hanya berusaha mencari ketenangan."

"Sasuke?"

"Tolong jangan mulai."

Pein terkekeh pelan dan memposisikan dirinya tepat dibelakang Sakura. Selama Sakura tidak bergerak mungkin dia akan baik-baik saja.

"Baiklah. Aku minta maaf..."

"Kenapa kau selalu menguntitku?"

"Aku penasaran denganmu."

"Huh?"

Sakura mulai melirikkan matanya pada Pein walaupun tidak terjangkau. Dia berusaha untuk tenang dan tidak terbawa emosi belaka. Lagipula Pein tidak mungkin macam-macam padanya.

"Iya. Aku penasaran denganmu. Sekarang aku tanya... Kenapa kau membenciku?"

Sakura tersentak. Hampir setiap mereka bertemu selalu ada cekcok bahkan sampai adu jotos. Berulang kali juga mereka berdua, tapi kenapa baru sekarang cowok oranye itu bertanya akan hal itu? Sakura hanya menunduk.

"Karena kau merusak hidupku. Kau merusak hidupku yang telah rusak. Kau menghancurkannya senpai..."

Pein tertegun. Memang dia berlaku kasar pada Sakura disekolah. Menerornya disetiap kesempatan, mengganggunya, bahkan menciumnya tanpa izin.

"Begitu..."

Pein memutar tubuhnya Sakura perlahan. Sakura tidak memberontak, hanya saja kepalannya sudah siap jika nanti ada hal yang tidak dia inginkan terjadi.

"Kau membenciku, kau benci dengan segala hal yang kulakukan padamu. Kau benci semuanya? Mungkin kau juga akan benci padaku saat aku mengatakan..."

"Aku mencintaimu Sakura..."

- - -

- - -

End Of Flashback

- - -

- - -

"Begitu..."

"Katanya kau bendci kenapa merah-merah begitu, hah?"

"Apanya?! A-aku ti-tidak merah..."

Sakura tersipu malu akan curhatannya sendiri. Bahkan karena cerita Sakura yang panjanglah menyebabkan mereka tidak menjadi membeli es. Yang ada kini mereka sedang kembali menuju Cafe. Selama perjalanan, Kin terus saja mengungkit-ungkit hal tersebut sambil menyindir Sakura beberapa kali. Sakura benar-benar malu dan menyesal telah bercerita pada Kin. Terus seperti itu sampai mereka sampai di Cafe.

"Kami kemba-"

"Aku minta yang baru lagi! Ini tidak enak terlalu manis!"

"Ada apa?"

"Tapi nona, ini sudah batas kami."

Keadaan Cafe memang sepi, tapi seorang wanita berambut violet memperburuk keadaan dengan mengejek kue-kue buatan Yamato dan Ayame. Bahkan Temari pun nampaknya agak kesal dengan pelanggan yang satu ini.

"Ada apa?" Tanya Sakura sambil menghampiri Ayame yang wajahnya sudah pucat pasi.

"Hey! Tolong sajikan yang sesuai seleraku. Aku tidak ingin yang terlalu manis ataupun yang agak pahit. Aku mau erlalu manis ataupun yang agak pahit. Aku mau yang pas!"

Kin yang sebal pun maju dan hampir saja mengamuk bila tidak ditahan oleh Temari.

"Baiklah akan kami coba kembali. Silahkan menunggu." Ayame berlari ke dapur dengan mata yang berkaca-kaca, tentu saja hal itu membuat Yamato menyusulnya karena khawatir. Sedangkan Sakura, Kin dan Temari lebih memilih mengikuti mereka daripada harus melihat wajah menyebalkan dari sang pelanggan.

"Siapa dia? Berani sekali!"

"Dia sudah sejam seperti itu. Kami kehabisan akal untuk membuatnya puas." Ucap Yamato.

"Iya. Tidurku juga jadi terganggu. Wanita itu berteriak lantang setiap kali kue yang ia makan tidak cocok dengan lidahnya." Sambung Kabuto.

"Hmm... Sulit juga..."

"Sulit? Kalau begoti biar aku yang atasi."

Suara berat membuat mereka semua terkejut dan segera menoleh kearah belakang mereka. Disana berdiri lelaki paruh baya sekitar 35 tahunan dengan rambut hitam panjang, mata yang tajam seperti ular, kulit putih pucat dengan senyum yang membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.

Wajah yang sudah lama sekali tidak dilihat oleh para Maid...

"Orochimaru-samaaaaaa???!!!!"

"Tidak perlu beteriak seperti itu." Ketus Orochimaru.

"Biarkan wanita itu aku yang hadapi. Kalian beristirahatlah!" Perintah Orochimaru.

Dia mulai berjalan menuju tempat Ayame dan Yamato. Perlahan ia gulung lengan bajunya yang panjang itu, mencuci tangannya kemudian dengan lihai dia bermain dengan peralatan kue. Semua yang ada disana tercengang dengan pemandangan tersebut. Jelas saja, Orochimaru jarang sekali menampakkan diri saat jam kerja begitu juga saat closing hour.

"Namanya adalah Anko Mitarashi..."

"Oooohhhh... Bos kenal?" Tanya Kin.

"Tentu Tsuchi, aku kenal. Dia itu adalah..."

Semua yang ada disana menelan ludah. Wajah mereka mulai serius bercampur penasaran.

"Adalah..."

"Adalah..." Ulang para Maid.

"Istriku..."

Hening...

Membeku...

Terkejut...

Shock...

"Apaaaaaaaaaaaaaa???!!!!"

- - -

- - -

ToBeCo...

- - -

- - -

Hieeeeeeeee!!!! Senangnya bisa apdet!!!!!!!!!!

Pertama-tama mau minta maaf karena apdetnya kelamaan. Kalo ada yang jenuh karena isinya PeinSaku semua, tenang aja. Mulai chap depan bakal ada banyak pair-pair yang bermunculan asalkan reader tetap setia menunggu apdetan sebulan lagi, ehehehehehehehehe *dikeroyok reader*

Oklah! Sebelumnya istrinya Grimmjow ini mau berterima kasih kepada : Angga Uchiha Haruno, Ruki_ya, Ryu kun, Nakamura Kumiko-chan, Naru-mania, Ka Hime Shiseiten, Uchiha Ry-chan, Shiroi Yuri, Tsukimori Raisa, Yuki no Kitsune, Nakamura Miharu-chan, Hikari 'Sakura' Sakuragi, Mamehatsuki, Haruchi Nigiyama, Intan SasuSaku, AkatsukiImaginaryBlue, Aya-na Byakkun, NekoTsuki, Underbluesky1310, Sakura-chanNoRuffie-chan, ai loph u all!!!!!!!!!! Buat yang ngereview tanpa acc, tolong add Fb saia biar kita jadi temen ok?!

Sabar untuk chappie selanjutnya ya!!!!! Bye Bye!!! Mmuach!!!