Hehehe, aku kembali lagi ^^.. Masih adakah reader yang mau baca? Ditunggu reviewnya :)


Title : Silent Love

Author : Mafharanisa

Cast : Jongho (?) dan Onkey (di part ini cast Onkey ga terlalu banyak :D)

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : Sequel


...:::...


Sriiing

Cahaya mentari menelusup masuk melalui celah-celah kecil ventilasi.

Seorang namja tampak tertidur pulas, tanpa selimut. Tubuhnya masih terbalut pakaian semalam, saat ia mabuk di dalam pub dan hampir saja terjatuh jika seorang lelaki bertubuh tegap menopang tubuhnya. Bau alkohol dan minuman keras masih melekat di seluruh tubuhnya.

"Eergh.." seberkas sinar keemasan mengenai salah satu pelupuk matanya, mengerang kecil, seolah terganggu.

SRAK.

"Auwh.." Sekarang sinar itu tidak hanya seberkas, melainkan membentuk gumpalan cahaya terang benderang yang mengisi ruangan. Seseorang baru saja menggeser tirai jendela sehingga kini pemandangan pagi lebih terlihat.

"Ireona.." Seorang namja jangkung tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

"Eeergh.. silau.." Menggeliat, masih enggan untuk menatap pagi yang begitu cerah ini.

"Ireona, Jonghyun hyung.." Lagi. Berusaha membangunkan namja yang terlalu lelah itu. Masih belum berhasil.

Menyadari usahanya yang hampir sia-sia, namja itu mengangkat tubuh Jonghyun dan mendudukkannya di atas kasur. Si namja jangkung ini menepuk-nepuk pundak Jonghyun yang masih saja betah berlama-lama dalam mimpinya. Mimpi yang kacau, sekacau hidup dan dirinya saat ini.

"Haah,, siapa kau? Mengapa kau bisa ada di sini?" Dengan mata setengah terbuka Jonghyun menatap namja di depannya ini. Namja itu terlihat gugup.

"Aku.. aku yang membawamu kemari tadi malam.. kau mabuk berat.." Agak terputus-putus meski akhirnya ia bisa juga menyelesaikan satu kalimat. Nama itu tak berani sama sekali untuk menatap bola mata yang masih terbuka setengah itu. Hanya menatap ujung kakinya yang bergoyang-goyang galau mengikuti keresahan hatinya.

Mungkin Jonghyun belum sepenuhnya sadar, karena.. kalau ia sadar, tak mungkin ia membiarkannya berada di sini.. di dekatnya..

"Oooh.. ahahahaa... kejadian semalam itu ya? Hahaha.. gomawoo.. Minhooooo ahahahaaaaaa" namja jabrik itu meracau tak jelas sambil mengibaskan tangan di depan wajah Minho. Sedapat mungkin Minho menghindar dari kibasan tangan yang tak berarah itu. Sementara Jonghyun sendiri masih saja mencengir dan tertawa tak keruan.

"Oo oh... N-ne.." Masih gugup, bagaimana jika orang ini sadar? Mungkin lebih baik ia cepat pergi bergegas dari sini. Aiiish.. tapi... ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini! Kesempatan yang sudah lama ia tunggu. Kesempatan untuk semua masa lalunya...

"Jonghyun hyung.." Memberanikan diri sekuat tenaga untuk menatap mata keruh Jonghyun.

"Waaaeee... Choii Minh-." Kata-katanya berhenti sendiri saat ia tersadar, nama siapa yang ia sebutkan. Pandangan kaburnya semakin jelas karena matanya secara refleks membesar. Minho kembali menunduk.. Tuhan.. sungguh.. ia takut. Apa yang harus ia katakan? Apa?

"K-kau?" Pandang Jonghyun sinis. Menatap sarkatis pada namja jangkung yang tengah terduduk di samping ranjangnya ini. Minho.

"Ne, h-hyung.." Jawabnya terbata. Sang pemilik rambut jabrik itu tiba-tiba bangkit, berdiri tepat di hadapan wajah Minho dan menamparnya keras.

PLAKK!

Hantaman ringan. Tapi itu cukup membuat hati Minho sakit sejujurnya..

"Mau apa lagi kau datang ke sini, bocah tengik? Tak puas menghancurkan keluargaku, HA?" Keras, keras sekali. Seperti guruh petir yang menyambar indra pendengaran Minho di pagi secerah ini. Sakit..

"Hyung.. jebal... mianhae.. maafkan aku hyung..." What? Ketika pada detik berikutnya namja tampan itu sudah menggelosor, duduk bertumpu pada kedua lututnya. Kini kedua tangannya mencekal kaki Jonghyun.

"Mianhae.." Jonghyun tersenyum sinis. Apa? Memaafkannya? Memaafkannya begitu saja setelah semua yang telah ia perbuat? Tidak!

"Apa maksudmu? Haha... aku tak mengerti apa bicaramu, Tuan Choi!"

DAK!

Menendang kasar tubuh Minho, berusaha menjauhkan cekalan tangan itu dari kakinya. Tangan itu.. tangan itu terlalu penuh dengan kenangan buruk dalam memori Jonghyun. Jonghyun membuang pandangan malah pada saat Minho mengaduh, mungkin terasa nyeri di perut akibat tendangan telak tadi.

"Please,, hyung,, aku.. aku ingin minta maaf.. pada hyung.. dan juga pada.." ucapan Minho terpotong saat..

BUGH!

Satu pukulan telak mendarat di pipi Minho. Tapi kini Minho tak lagi mengaduh, membiarkan saja namja yang berdiri di hadapannya ini berbuat sewenang-wenang, jika memang hal itu bisa membayar semua dosa-dosanya..

"pada Key.."


...:::...


Sriiing

Di tempat yang berbeda, cahaya mentari juga turut hadir menyapa. Seperti seorang wartawan g tak ingin sekali pun ketinggalan dalam meliput berita. Apa saja yang dilakukan oleh penduduk bumi pagi ini?

Dan di sini.. kebahagiaan itu ada.

"Eengh.." Seorang namja cantik terlihat sedang mengguncangkan tubuh lain yang tengah terbaring pulas. Masih sibuk bergulat dalam dunia mimpinya ternyata.

Fuhh.. Cukup sulit juga membangunkan namja ini. Ckck...

"Eengh.." Mengguncangnya lebih keras lagi, berharap kali ini ia akan bangun. Sudah cukup ia kepayahan, ditambah mulutnya yang tak bisa berkata-kata menjadikannya semakin sulit dalam posisi seperti ini.

"Mmmgh.."

Mata kucing itu berbinar saat mulai nampak tanda-tanda kehidupan di sana. Baru saja, Onew, namja yang sedang berusaha mati-matian ia membangunkannya, menggeliat dalam tidurnya. Pertanda baik, bukan?

Namun sedetik, dua detik, satu menit,, telah berlalu..

Huft, rupanya Onew tak kunjung bangun. Ck..

Akhirnya Key menyerah, ia keluar dari kamar Onew dan menuju ke arah dapur.

'Sudah lama aku tak memasak, apa.. masih bisa?' pikir Key dalam hati saat melihat peralatan masak komplit yang terjajar manis. Hmm.. menimbang-nimbang,, tapi.. tak ada salahnya jika mencoba bukan? Hehe..

Key memberanikan diri melangkah. Tangan kurusnya mulai menyentuh satu persatu alat-alat masak itu, seolah ingin berkenalan terlebih dahulu. Bibir soft pink itu mengulum senyum. Ah! Sudah lama kebahagiaan ini tak ia rasakan. Dan kini, ada kesempatan yang memperbolehkannya untuk kembali ke kehidupan normal. Meski.. tanpa Jonghyun hyung..

Fuh.. Key menundukkan kepalanya saat mengingat nama itu. Kim Jonghyun. Sebenarnya.. ada apa dengan hyung-nya? Mengapa begitu tega? Demi apa ia mampu mengatakan bahwa Key bukanlah lagi dongsaengnya?

Lelah. Lelah jika terus menerus berpikir tentang hal semacam itu. Lebih baik sekarang, ia niknati semuanya, mencoba mengawali semua dari nol lagi. Menganggap semua masa lalunya tak pernah terjadi.. hmm.. rasanya.. bagus juga..

Key mulai mengangkat kepalanya. Dalam manik mata gelap itu, tersiratkan harapan yang begitu indah. Memancarkan aura semangat yang telah lama terkubur oleh pahitnya takdir hidup.

It's time, to really start..

"Huh, aku tak akan pernah sudi." Menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap lurus ke depan, menerawang pada awan yang berarak bebas di langit sana.

Key.

Mengapa tiba-tiba ia teringat akan namja cantik itu? Ah.. ani.. maksudnya, dongsaengnya..

"Jonghyun hyung.. kau menangis?" Sapa namja jangkung yang kini tengah duduk di atas kasur besar itu.

"Tak usah memperhatikanku." Dingin. Tak ada ekspresi lain yang dipancarkan wajahnya kecuali dingin. Ck.. Kim Jonghyun.. Minho membuang napas, berat. Tapi masih berat semua beban yang tertumpuk di hatinya.

"Tapi..."

"Untuk apa? Bukankah kau puas sudah menghancurkan keluarga kami eoh?" Potong Jonghyun sarkatis. Minho membelalakkan mata besarnya.

"Hyung! Sudah kubilang! Itu bukan karenaku! Itu.. itu.. karena appaku!" Jerit Minho tertahan. Sesak. Mengapa ia harus terlahir dari keluarga Choi? Terkadang ada sebersit sesal di hatinya. Tapi itu sudah takdir. Kau tau? Ini sulit.. Ukuran ini terlalu sulit bagi namja yang mulai menginjak masa dewasanya.

"Ne, Tuan Choi yang rela melakukan segala cara, bahkan membunuh sahabat dekatnya sendiri, demi kekuasaan. Kau pun tak jauh berbeda darinya.. Putra kebanggaan Tuan Choi.." Jonghyun berujar dingin, sementara Minho hanya terus menatap ke bawah, menatap keramik-keramik marmer yang tersusun rapi. Huft.. memang tak ada hubungannya dengan saat ini, tapi itu cukup untuk menjadi tempat pengalihan pandangan dari bola mata Jonghyun.

"Appa.. dan ummaku.. aku tak akan pernah bisa melupakan semua kejadian itu.. hah.. dan Key pun.. kurasa sama denganku." Kepala Minho menunduk semakin dalam. Seperti ada kaca yang timbul tenggelam di bola matanya saat ini.

"Hanya demi sebuah perusahaan, appamu rela.. rela melakukan itu semua, Choi Minho.."

"Tapi kini appa juga sudah tiada KIM JONGHYUN!" Akhirnya suara itu berhasil keluar, ada getar dalam nada bicaranya. Yah.. getaran, getaran pedih saat mengingat peristiwa kecelakaan itu.

"Oh? Syukurlah, agar setan itu bisa merasakan pahitnya kematian.." Balas Jonghyun, tersenyum sinis. Tak ingin sekalipun mengucapkan kata bela sungkawa terhadap kejadian itu.

"Sudah cukup! Sekarang appa sudah tiada, dan siapa lagi yang ingin kau salahkan?" Minho bangkit dari kasur, menatap punggung Jonghyun yang membelakanginya. Seketika Jonghyun berbalik, menatap namja jangkung itu penuh ancaman.

"Kau... apa kau tak sadar? Tak sadar sudah membuat Key begitu kecewa?"

Minho terkesiap.

"Itu.. itu bukan karena kemauanku.." Meremas ujung jaketnya kuat. Key.. yah, namja cantik yang dulu begitu ia cintai, ia cintai bersama segala kekurangannya.

"Lalu? Apa masih bukan kemauanmu juga, saat kau berkata bahwa namja bisu sepertinya tidaklah cocok bersanding dengan orang sepertimu? Dan kau malah memilih namja lain yang menurutmu sempurna!" Bentak Jonghyun. Mengingat saat dongsaengnya pulang dalam keadaan menangis, terlalu sedih akibat perlakuan Minho yang tak lagi peduli terhadapnya.

"Hyung! Kubilang, semua itu karena appa! Karena appa! Karena appa! Aku tak diizinkan bersekolah di Amerika jika aku masih saja bersama Key. Itu ancamannya hyung!" Setetes cairan hangat mulai mengalir di pipi Minho. Hah! Ia memang cengeng! Cengeng menghadapi kenyataan buruk ini.

"Cih.. hanya demi itu kau rela meninggalkan Key?" Cibir Jonghyun, mendelik tajam ke arah Minho.

"Hyung..." Terisak tertahan sembari selangkah mendekati Jonghyun.

"Ani! Mau apa? Jangan lagi panggil aku hyung dan.. lekas pergi dari sini secepatnya! PERGI! Aku tak tahan melihat wajah penuh dosamu dan appamu itu! Aku muak! CHOI MINHO!"

BRAK!

Suara gaduh itu terdengar ketika Minho terjerembab menabrak pintu akibat dorongan kuat Jonghyun.

"Aash.. Hyung.." Menggigiti bibir bawahnya.. perih..

"Kubilang PERGI!"


...:::...


Trak trak trak, tring tring tring trak tring.

'FIN!' Jerit namja cantik itu dalam hati. Hmm.. Ini semua terlihat begitu enak. Apakah Onew akan suka? Molla.. hehe..

Trap trap trap.

"Ya Key! Kau sedang apa?" Onew turun dari tangga dan bertanya dengan mata sabitnya yang masih setengah terpejam. Key tersenyum, menunjuk pada semua sajian di meja makan besar itu. Mata sabit Onew membulat saat itu juga.

"Mwoya? Jinjja? Kau yang memasak ini semua?" Tanya Onew setengah tak percaya. Namun secepat mungkin Key menganggukkan kepalanya yakin.

"Aah Key! Tak kusangka kau sangat pandai. Kalau begitu aku bisa menambal asupan makanku yang kurang selama kau di sini." Ujar Onew riang. Ia segera duduk dan menyantap satu persatu hidangan yang tersaji. Key hanya menatap dan tersenyum.

Kyeopta. Malaikat penolongnya ini memang begitu tampan. Bahkan ketika tengah rakus menyantap makanan pun ia tetap terlihat tampan. Andai saja..

Haish! Key.. kau memikirkan hal yang tidak tidak. Mana mungkin? Ia hanya menganggapmu sebagai seorang adik.. tak lebih. Key terus menenangkan hatinya yang terasa bergemuruh saat ini. Onew menatapnya heran.

"Hei.. ayo dimakan.. kau ini, bagaimana bisa membiarkan makanan seenak ini menganggur begitu saja? Ppali, sebelum kuhabiskan. Hehe.." Berbicara sambil masih mengunyah makanan di mulut. Haish.. Itu kebiasaan buruk namja tampan ini. Ckck..

Key tersadar dari lamunannya, dan segera mengambil beberapa makanan di hadapannya, membuat Onew tersenyum senang.

'Mungkin ia sudah merasa lebih baik di sini.. Hmm.. bagaimana dengan Jonghyun?' Tiba-tiba Onew teringat akan namja yang satu itu. Kira-kira, apa reaksinya ya? Apa masih berpura-pura tidak peduli meskipun seseorang yang – seharusnya – sangat penting baginya menghilang begitu saja?

Ck, sudahlah, hari senin besok pun ia akan bertemu di sekolah.

Tak sabar, yah.. ia tak sabar, apakah Jonghyun masih terlihat biasa saja? Ataukah panik mencari dongsaengnya? Misteri.. misteri esok hari yang akan ia temukan jawabannya nanti..


To Be Continued

Otte? Masih nyambungkah chapter yang ini? Kok kerasanya ga nyambung ya? ^^a

Tapi mudah-mudahan readers sekalian suka ya.. ^^

Gomawo juga buat Akira Mayumi, dhitta, RenSyifaChan13, noona961019 malas login, dan Joongiejungjung atas reviewnya. ^^

Semoga kalian masih berminat membaca postinganku kali ini dan selanjutnya. :D