Heiii... Wen is back *smooch*

Hehe.. chap kemaren emang belom ada konflik kok.. Chap ini mungkin baru naik pelan2 konfliknya

Angstnya munculnya dikit2 kok..

Wen sebenernya ngga tega sih, tp sekali2 nyoba genre angst gpp kan?

Last..

Selamat membaca guys..


CHAPTER 2

PLANNING THEIR MARRIAGE


Jungsoo mengalihkan pandangannya dari Chanyeol. Ia menatap Jongdae, memastikan cucu tertuanya itu mengerti maksudnya.

"Kau harus menikah dengan Minseok, Jongdae." ujar Jungsoo.

"Baik, aku akan menikahinya." jawab Jongdae. Nadanya terdengar santai, padahal sebenarnya Jongdae sudah pasrah. Ia sudah tau, penolakannya tidak akan didengar oleh harabeojinya itu.

'Maafkan aku Jjongie' batin Jongdae.

Chanyeol sendiri heran dengan anaknya. Ia tau, Jongdae bukan anak yang mau diatur. Dengan sikap Jongdae yang seperti itu, Chanyeol malah mengkhawatirkan keadaan Minseok. Karena ia tau, Jongdae bukan anak yang mudah ditebak.


Chanyeol membicarakan rencana Jungsoo pada Baekhyun. Seperti dugaan Chanyeol, Baekhyun pun menyetujui usulan itu. Selain karena mereka sudah mengenal keluarga Kim sejak lama, Jongdae dan Minseok juga memang dekat sewaktu kecil. Mereka berdua adalah partner in crime dalam mengerjai Kyungsoo. Bahkan sewaktu kecil Kyungsoo sering dibuat menangis oleh mereka berdua.

Jongdae tidak pernah menyetujui rencana itu. Sejujurnya ia menentangnya, sangat. Tapi, melihat binar mata Baekhyun yang membuatnya tidak bisa menolak. Jongdae tau, Baekhyun menginginkannya untuk segera memiliki pacar dan menikah. Dan, Jongdae tidak bisa menolak keinginan eommanya itu. Jongdae tau, eomma dan appanya pasti akan kecewa berat jika mengetahui orientasi seksualnya. Makanya, Jongdae tidak mau terbuka dengan eomma dan appanya tentang masalah itu.

Baekhyun memotong tangkai bunga, disampingnya terdapat vas besar yang ditaruh bunga yang tangkainya sudah dipotong lebih pendek. Didepannya ada Chanyeol yang memperhatika Baekhyun. Jongdae menaruh kepalanya di bahu Baekhyun, dan menghela napasnya.

"Dae, kenapa wajahmu kusut begitu, sayang?" tanya Baekhyun.

"Aku hanya agak susah tidur kok eomma."

"Nanti malam mau eomma buatkan susu hangat?"

"Nanti malam aku mau tidur di apartemen saja." jawab Jongdae.

Baekhyun mengelus punggung putra sulungnya itu.

"Jongin masih tinggal di apartemenmu? Nanti kalau kau menikah dengan Minseok, harabeojimu akan memberikan memberikan kalian rumah." ujar Chanyeol.

Jongdae mengangguk. "Apartemenku akan kuberikan pada Jongin saja kalau begitu."

"Terserahmu saja, Dae-ie. Jongin bekerja dimana sekarang?"

"Ia bekerja part-time di perpustakaan kota. Kalau malam ia jadi waiter di restoran milik Zitao, bersama Sehun."

Chanyeol mengangguk. Ia tau persahabatan yang dijalin oleh Jongin, Jongdae, Zitao dan Sehun. Ia dan Baekhyun bahkan tau seberapa dekatnya mereka, terutama Jongin dan Jongdae. Chanyeol tidak menentangnya, mengingat Jongin adalah orang yang selalu menemani Jongdae saat ia dan Baekhyun terlalu sibuk dengan urusan perusahaan.


Minseok duduk di ruang makan dengan kedua orang tuanya. Suasana di ruang makan itu terasa kaku, Minseok sendiri tidak tau kenapa. Ia mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan masalah Luhan pada kedua orang tuanya. Orang tuanya pun hanya menanggapi ceritanya dengan jawaban singkat, seperti tidak tertarik dengan cerita Minseok.

Tiba-tiba ditengah keheningan, Joonmyeon membuka suaranya.

"Min, kau masih ingat dengan Jongdae?"

Minseok mengangguk, "Jongdae anak Chanyeol ahjussi dan Baekhyun ahjuma, kan? Iya. Ada apa memangnya?"

"Menurutmu dia bagaimana?"

"Jongdae? Hmm.. Dulu waktu aku masih kecil, dia sih anak yang baik, penurut dan gampang dibodohi."

"Aku serius, Min."

"Jongdae baik appa. Dia juga lembut dan penyayang, apalagi dengan Baek ahjumma. Kenapa serius sekali, sih?"

"Kau harus menikah dengannya. Permintaan halmeonimu."

Minseok menjatuhkan sumpitnya. "Appa! Luhan..."

"Putuskan dia. Ini keputusan final, Min."

Minseok terdiam. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan makanan yang belum ada setengahnya termakan. Yixing menghela napasnya, berat. Ia tau, hal ini adalah hal yang berat untuk anaknya, begitupun untuk dirinya. Tapi, siapa dia? punya hak apa dirinya? Ia bahkan tidak bisa melawan ketika Kim Seohyun, ibu dari Joonmyeon sudah mengeluarkan titahnya. Toh, di mata ibu mertuanya Yixing hanya orang asing.

Yixing masih ingat jelas penolakan yang diterima olehnya. Ya, Yixing memang seorang pelupa berat, tapi untuk satu hal itu, otak Yixing nampaknya memiliki back-up untuk mencegahnya melupakan hal itu. Yixing sadar, ia diterima sebagai bagian dari keluarga Joonmyeon hanya karena bujukan dari Park Jungsoo. Ibu Joonmyeon juga memikirkan kondisi Yixing yang saat itu sedang hamil tua. Sikap ibu Joonmyeon terhadapnya pun masih dingin hingga saat ini.

Yixing menghampiri Minseok yang berada di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, ia melihat Minseok yang sedang duduk di depan meja riasnya. Tangan Minseok memegang sisir, matanya sembab. Yixing yang tidak tega melihatnya langsung berjalan menghampiri Minseok. Ia mendekati anaknya itu dan mengambil sisir yang dipegangnya. Yixing mulai menyisiri rambut panjang sepunggung Minseok.

"Eomma menyetujui rencana appa?" tanya Minseok dengan suara yang parau, khas orang habis menangis.

Yixing menggeleng, "Ini bukan rencana appamu, Min Ini rencana halmeonimu. Dan kau tau posisi eomma kan?"

Minseok menghela napasnya, berat. Ia susah payah menahan air mata yang siap turun kapan saja.

"Apapun yang terjadi nanti, ingat satu hal, Min. Eomma dan appa sangat mencintaimu, halmeoni juga. Jadi, apapun yang mereka lakukan saat ini, mungkin menurut mereka ini adalah yang terbaik untukmu nanti." ujar Yixing.

"Tapi aku mau Luhan, eomma. Eoma juga menyetujui hubungan kami kan?"

"Eomma juga menyayangi Luhan sama sepertimu. Setelah pernikahanmu dengan Jongdae terjadi, pesan eomma cuma satu. Jangan pernah menduakan Jongdae meskipun hatimu kini milik Luhan. Tapi nanti di hadapan tuhan kau akan berjanji untuk menyerahkan jiwa dan ragamu pada Jongdae." pesan Yixing.

Minseok mengangguk, eommanya memang paling mengerti cara menenangkannya.


Setelah melalui perang dingin dengan appanya selama hampir dua bulan, akhirnya Minseok mengalah. Minseok menurut dengan perintah orang tuanya, atau lebih tepat jika dibilang perintah halmeoninya. Tepat seminggu sebelum kepergian Luhan ke China, Minseok akhirnya mengungkapkan keputusan yang dibuat keluarga appanya pada Luhan. Bohong, jika Minseok bilang ia menerima keputusan itu dengan sukarela. Nyatanya, ia masih belum bisa menerima keputusan itu seutuhnya.

"Lu.." panggil Minseok setelah masuk ke apartemen Luhan.

"Di kamar Min.." sahut Luhan dari dalam kamar.

Minseok tidak banyak bicara, ia malah sibuk merapikan berkas-berkas yang berceceran di ruang tamu apartemen Luhan. Minseok merasa bersalah, biasanya ia akan tinggal di apartemen Luhan sampai namja itu selesai dengan pekerjaannya. Biasanya sebelum Luhan pulang, makanan sudah tersedia di meja, Minseok yang memasaknya. Biasanya isi kulkas itu penuh dengan buah-buahan dan sayuran segar, atau beberapa sandwich yang sengaja Minseok belikan untuk Luhan, bukan soju dan berkaleng-kaleng beer seperti ini.

Minseok merasa bersalah, sejak sekitar dua bulan lalu, kehidupannya terasa hancur. Ia bukan lagi Minseok yang dulu, dan hal ini berdampak juga pada Luhan. Mengingat Minseok adalah orang yang paling sering memperhatikan Luhan, secara tidak langsung membuat Luhan bergantung padanya.

Luhan keluar dari kamar dengan pakaian rumah favoritnya, celana training panjang berwarna hitam, dan t-shirt putih polos. Ia sibuk memperhatikan Minseok yang sedang membersihkan ruang tamunya. Luhan memperhatikan perubahan dalam diri Minseok. Berat tubuhnya yang menurun drastis, wajahnya yang lebih sering terlihat gloomy, lingkaran bawah matanya yang semakin menghitam dan perubahan lainnya. Luhan sebenarnya ingin bertanya tentang masalah yang dihadapi Minseok, tapi ia tau, Minseok tidak akan bercerita seberapa kerasnya ia memaksa kekasihnya itu.

Minseok melihat Luhan yang sudah keluar dari kamarnya. Ia hanya tersenyum melihat namja yang sangat dicintainya itu. Luhan segera menghampiri Minseok dan memeluk tubuh mungil yeoja itu.

"Ada apa, Minnie-ah.." bisik Luhan tepat di telinga Minseok. Minseok hanya menggeleng.

"Kau tau Min, kadang seorang psikiater pun butuh istirahat dan mengurus masalahnya sendiri."

Minseok memukul tangan Luhan yang melingkari pinggangnya, "Kau pikir aku gila, ge?"

Luhan terkekeh, "Tidak, kau tidak gila. Tapi aku yang gila karena melihat kekasihku sendiri mulai gila."

Minseok bingung, ia melepas pelukan Luhan di pinggangnya dan membalikkan badan, menghadap Luhan yang sekarang sedang tersenyum ke arahnya.

"Aku gila karena..." Minseok angkat bicara, kemudian terdiam lagi.

Luhan kini hanya menatap mata Minseok. Ia memegang tangan yeoja yang sudah lebih dari 6 tahun menjadi kekasihnya itu, menyalurkan semangatnya.

Minseok terdiam, lama.

"Karena apa, Min? Bicaralah. Aku tidak akan marah."

"A-a-aaku harus menikah dengan Park Jongdae." ucap Minseok, airmatanya kini tumpah.

"Jongdae? Siapa dia?"

"Dia teman kecilku, partner in crime-ku. Dia cucu dari Jungsoo harabeoji. Kau tau siapa Jungsoo harabeoji, kan?"

Luhan mengangguk. Kini ia malah ikut-ikutan terdiam seperti Minseok. Otaknya buntu, Park Jungsoo, seseorang yang penting bagi keutuhan keluarga Minseok. Penyelamat ayah Minseok, Joonmyeon.

"tidak ada cara lain kah, Min?"

Minseok mengeleng, "Jungsoo harabeoji membantu keluargaku lagi untuk membangun kembali rumah sakit."

"Kalau masalah itu keluargaku juga bisa memantumu, Min! Keluargaku yang mengimpor semua peralatan medis untuk rumah sakitmu dan rumah sakit lain di belahan dunia."

"Bukan masalah keuangan yang jadi pertimbangan appa, Lu. Masalah hutang budi yang menjadi pertimbangan utama appa. Lagipula, Jungsoo harabeoji bilang langsung ke halmeoni. Aku dan eomma punya kuasa apa, Lu untuk melawan titah halmeoni. Appa terlalu takut untuk menyakiti hati halmeoni lagi." Minseok menangis keras sekarang.

Luhan langsung menarik Minseok ke pelukannya. "Pasti ada jalan, Min. Trust me, I'll do anything." ujar Luhan sambil terus mengelus rambut sepunggung Minseok.

"Then let me go, Lu."

"I wont let you go, Min. Sampai nanti kau mengucapkan wedding vow mu di hadapan pastor."

"Just let me. You deserve someone better than me."

"Then you are the best girl I've ever met, Min."

"Please dont, Lu..."


Luhan tidak tau apa isi otaknya itu. Setelah pembicaraannya dengan Minseok semalam, ia dengan nekatnya menemui Joonmyeon dan Yixing di rumah sakit. Ia kemudian mengutarakan maksudnya yang tentu saja ditentang keras oleh Joonmyeon. Yixing hanya terdiam, meskipun begitu, Luhan bisa melihat dari kedua bola mata bening itu, Yixing menyemangatinya. Yixing mendukung keputusannya.

Ketika Luhan dan Joonmyeon sedang berargumen panas, tiba-tiba Jungsoo dan Seohyun masuk ke ruangan Joonmyeon tanpa permisi. Luhan yang selama ini hanya mendengar cerita tentang Seohyun dari cerita Minseok langsung mengerti mengapa Minseok begitu membenci halmeoninya itu. Lihatlah bagaimana cara Seohyun memandang Yixing, seolah Yixing adalah sampah yang harus dimusnahkan atau bagaimana caranya bicara di hadapan Joonmyeon dengan angkuhnya. Luhan sampai berpikir, Seohyun itu eomma dari Kim Joonmyeon atau majikan dari Kim Joonmyeon.

"Well, lihat ada siapa disini. Kau si diplomat muda China itu, kan? Ada urusan apa kemari, nak?" tanya Jungsoo yang memperhatikan keberadaan Luhan di ruangan.

"Aku kesini untuk meminta Joonmyeon ahjussi menikahkanku dengan Minseok. Seperti rencana AWAL." Luhan menekankan kata 'awal' dengan sengaja.

"Kalau boleh aku tau, kau siapanya Minseok? Minseok akan menikah dengan cucuku dua bulan lagi. Joonmyeon-ah, apa kau sudah menjodohkan Minseok dengan orang lain?"

"Aku kekasihnya. Dan, maaf aku mendapatkan Minseok dengan cara terhormat. Bukan dengan cara udik seperti perjodohan."

"Kau sudah melakukan apa saja dengan Minseok? Kenapa ngotot sekali? Masih banyak gadis korea asli yang ribuan kali lebih baik daripada Minseok." ujar Seohyun.

"Dengan segala hormat nyonya Kim. Aku tidak pernah melakukan apa-apa dengan Minseok selama lebih dari 6 tahun kita berhubungan. Kami berdua masih tau batas mana yang bisa dilewati dan yang tidak. Dan, aku tidak memperdulikan darah apa yang dimiliki Minseok. Karena, tetap saja nanti di hadapan tuhan kita semua sama." ujar Luhan.

Seohyun merasa tertohok mendengar perkataan Luhan.

"Kau tau kalau Minseok memiliki darah pelacur dari keluarga Zhang. Apa yang membuatmu yakin Minseok tidak pernah menduakanmu atau mungkin saja kan Minseok pernah melakukan hal-hal lain dengan pria lain."

"Hanya karena seorang wanita Zhang kabur bersama suamimu, tidak berarti semua orang yang memiliki darah Zhang itu pelacur, Nyonya Kim, atau Nyonya Seo Joohyun? Dan ya, aku mengenal siapa itu Kim Junsu dan Zhang Liyin. Mereka menjalin hubungan dengan perusahaan keluargaku di China, dan kalau boleh kutambahkan, mereka sudah bahagia sekarang. Aku tau siapa anda dan bagaimana anda memperlakukan suami anda sendiri. Pantas saja sua-"

'SLAP'

Seohyun menampar Luhan keras. Napasnya naik-turun, tidak beraturan. Tanpa sadar, penghuni lain ruangan itu, kecuali Seohyun dan Luhan menahan napasnya.

"KELUAR KAU XI SIALAN! AKU BERSUMPAH BERSAMA KELUARGA PARK AKU AKAN MENGHANCURKAN PERUSAHAAN KELUARGAMU DAN JUNSU!" teriak Seohyun.

Yixing menarik Luhan keluar.

Di luar, Yixing langsung memeluk Luhan. Ia berterima kasih atas pengorbanan yang dilakukan Luhan untuk Minseok dan meminta maaf pada Luhan atas ketidaksanggupannya membela nama keluarga sendiri. Luhan menenangkan Yixing, ia tau seberapa besar cinta Yixing untuk Joonmyeon. Ia mengerti, Yixing rela merendahkan dirinya seperti itu agar Minseok dapat merasakan kasih sayang utuh dari eomma dan appanya.

Sementara itu di dalam ruangan Joonmyeon..

"Kau tau rencana pernikahan mereka, Joonmyeon-ah?" tanya Seohyun.

"Aku tidak tau, eomma. Minseok biasanya hanya bercerita pada Yixing tentang masalah ini." ujar Joonmyeon.

'Bohong! Bohong! You are liar Kim Joonmyeon! Kenapa kau tidak bisa membela keluargamu sendiri' batin Joonmyeon.

"Aku tidak peduli apapun alasannya, yang jelas Minseok harus menikah dengan Jongdae. Kau tau posisimu kan Joonmyeon-ah, andai dulu Jungsoo tidak membantumu."

Joonmyeon mengangguk.


Karena 'gangguan' dari Luhan, pertemuan antara keluarga Park dan keluarga Kim dipercepat. Chanyeol dan Baekhyun menunggu Joonmyeon dan Yixing dengan sabar. Di sebelah mereka, Jongdae sibuk dengan game di ponselnya. Kyungsoo sendiri sibuk berbincang dengan Jungsoo harabeoji dan Kim halmeoni. Joonmyeon, Yixing dan Minseok tiba di restoran, seperti keluarga bahagia pada umumnya. Tanpa sepengetahuan orang lain, sebenarnya ada perang dunia di dalam keluarga itu.

Minseok mengambil tempat duduk di pojok, berjauhan dengan appanya. Ia menarik eommanya untuk duduk disampingnya. Baekhyun yang melihat ini hanya tersenyum, ia langsung mengambil tempat duduk di dekat Minseok dan Yixing.

Mereka mulai makan dan membicarakan tentang penikahan Jongdae dan Minseok. Yang dijodohkan sendiri tidak banyak menanggapi. Jongdae hanya menanggapi dengan ya atau tidak, sedangkan Minseok hanya berkata terserah. Yixing lebih banyak diam, jika Baekhyun atau Kyungsoo tidak mengajaknya bicara. Minseok tidak tertarik dengan pembicaraan itu dan malah sibuk bermain ponsel, mengirim pesan untuk Luhan yang akan kembali ke China besok.

Jongdae diminta oleh harabeojinya untuk mengantar Minseok pulang terlebih dahulu. Ia langsung keluar, diikuti dengan Minseok terlihat tidak tertarik.

"Jangan harap hidupmu akan bahagia setelah ini Kim Minseok!" ujar Jongdae.

"Aku sendiri tidak yakin akan bahagia denganmu, Park Jongdae. I know you are not swing in this way"

"Apa maksudmu!"

"Ck, kau hanya kurnag mendeklarasikan hubunganmu dengan Jongin saja di depan orang tuamu. Kenapa tidak berani? Takut orang tuamu tidka mau menerima orientasi seksual anaknya"

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"You are gay and you are in a relationship with Jongin." ujar Minseok.

Kini giliran Jongdae yang terdiam.


Yaaaayy... maaf wen lama updatenya..

Tugas kuliah membunuhkuu

serius jangan tanya wen nulis apa ini..