Une paire d'yeux
Seventeen © Pledis Ent
All Cast © Agensi masing-masing (?)
WARN! : YAOI, Alternate Universe!, OOC, TYPO
.
.
.
Junhui menggerutu sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Dia tidak bisa menemukan kalimat pembuka yang tepat untuk bagian kata pengantar.
Sebenarnya, awalnya Junhui tidak begitu yakin dia akan mampu membuat sebuah karangan. Dia bahkan juga sangat tidak yakin bisa membuat sebuah buku.
Itulah yang diidam-idamkan Junhui selama ini, memimpin dengan tenang, tidak terganggu dan mungkin bisa membuat sebuah karya sastra. Sebuah buku yang memuat semua hal indah yang selalu dikagumi olehnya.
Segerombolan ikan, sebuah karang berwarna oranye berkilau, gulungan ombak yang menghantam karang dengan pelan, lingkaran tubuh ular laut, dan juga warna mata biru tua seperti lautan pada malam hari.
Pintu kantornya diketuk. Seperti yang sudah dikatakan, tidak lazim bagi seorang dewa memiliki kantor. Tapi ya, inikan memang istananya sendiri.
Alis Junhui berkerut begitu melihat siapa yang melompat masuk, Soonyoung. Di antara semua dewa yang lain, Junhui adalah satu-satunya yang jarang menerima dewa mungil itu semenjak dirinya angkat kaki dari Olympus.
Karena belakangan ini juga dia sibuk dengan pekerjaan sampingan selain menjadi raja, membuat sebuah buku. Salah satu penerbit buku Yunani sudah berjanji akan menerbitkan apapun yang ditulis oleh sang Dewa Laut, walaupun dengan sedikit ancaman bertema Monster Laut yang Akan Meneror Seluruh Yunani jika Kau Menolak.
Masalahnya adalah deadline. Dia tidak suka terikat, tidak suka dibatasi, dan juga tidak suka jika harus tunduk pada apapun. Pada dasarnya Junhui adalah dewa yang mencintai kebebasan seperti dia mencintai kekuasaan.
Soonyoung melompat-lompat pelan, tahu bahwa tidak sebaiknya mengganggu Pemimpin Lautan itu. Kunjungan terakhirnya sebelum ini sudah memberinya pelajaran untuk tidak mendobrak pintu kantor Junhui jika tidak ingin didamprat dan dilemparkan ke dasar jurang laut.
Butuh tiga hari sampai Soonyoung berhasil berenang keluar, itu juga ditambah empat hari istirahat untuk memulihkan tenaga dan kesehatan paru-parunya. Setelah absen selama seminggu, tumpukkan surat dan paket yang harus dikirim menggunung sampai nyaris menghabiskan seluruh tempat penampungan kiriman.
Soonyoung harus rela tidak tidur dua hari, dan mengalami pegal otot serta nyeri sendi setelahnya.
Junhui menatap makhluk kecil di hadapannya dengan mata menyala-nyala, "Apa lagi sekarang?"
Soonyoung yakin jantungnya akan terlepas, dia sudah membayangkan pekerjaannya yang tertunda jika dia harus berakhir di dasar jurang laut lagi. Sosok kecil itu menatap Junhui hati-hati dan membungkuk, "Tuan Junhui, sebuah kiriman."
Junhui menghela napas, "Siapa? Tunggu dulu, kau sudah bebas? Kupikir kau sudah tewas di dasar lautan sana."
Soonyoung terlihat malu, "Hmm. Ya, memang butuh tiga hari sebelum aku berhasil bebas."
Junhui terkekeh kering, "Sepadan dengan gangguan yang kudapatkan darimu."
Sebenarnya Soonyoung ingin membantah dan bertanya sepadan dari mana, coba? Tapi melihat tumpukan kertas dan ceceran tinta di seluruh meja Junhui, ia memilih berpura-pura tidak mendengar dan memasang senyumnya yang biasa, "Sebuah pesan dari Raja Seungcheol."
Junhui cemberut dan menggumam pelan, lebih untuk dirinya sendiri, "Dia bahkan tidak bisa meninggalkanku tenang."
Soonyoung ketara sekali berpura-pura tidak dengar, dan tersenyum dengan gaya formal sebelum membacakan pesan Seungcheol,
"Adikku, Junhui. Maaf sebelumnya, aku hanya ingin memberitahumu bahwa meneror warga hanya karena si Ratu menyebut dirinya jauh lebih cantik dari pada kaum Nereid sebenarnya adalah tindakan agak rendah. Jadi, aku mau bilang kalau aku sudah mengizinkan salah satu anak setengah dewaku –namanya Perseus, dan dia segagah ayahnya untuk membunuh monstermu. Dan sebagai Raja, aku melarangmu untuk meneror kerajaan itu –apa namanya? Ah, sudahlah. Nah, salam Raja."
Setelah selesai membacakan pesan Seungcheol, Soonyoung berujar. "Anda mau membalas, Tuan?"
Rasanya ada sesuatu yang mulai memanas di kepala sang Dewa Laut itu, adiknya yang konyol itu ikut campur lagi dalam urusannya.
Tanpa sadar Junhui mengoceh, "Dasar Dewa kurang ajar, mentang-mentang dia satu-satunya yang tidak ditelan Kronos, dia berpikir dia bisa bertingkah seenaknya. Pakai menyebutku adik segala, astaga. Mengusirku dari Olympus, membunuhi rakyatku, membebaskan orang bersalah dari hukumanku. Seandainya bisa, aku ingin mencabut petir itu dari tangannya dan membuatnya membakar lubang hidungnya sendiri. Aku tidak tahu apa yang dilihat Bunda Rhea darinya, jika aku adalah Bunda Rhea maka aku akan memberikan si bayi Seungcheol pada Kronos agar ditelan juga, kalau perlu aku sendiri yang melemparnya masuk ke kerongkongan Kronos dengan gerakan Slam Dunk. Aku tidak sudi diperintah olehnya, ingin sekali rasanya aku menggulingkan dan membuat singgasananya menjadi tumpukkan kayu bakar untuk menghangatkan Olympus."
Ketika Raja Lautan itu berhenti untuk menarik napas, dilihatnya Soonyoung sedang mencatat dengan gigih sambil menggumam sendiri, "Menghangatkan Olympus. Titik. Selesai."
Kepalanya mendongak dan menatap Junhui dengan mata birunya, "Pesan sudah dicatat, Tuan Junhui. Terima kasih sudah menggunakan jasa kami, kau masih memiliki potongan seratus persen untuk pengiriman kali ini. Selamat siang, semoga harimu menyenangkan."
Sebelum Junhui sempat bereaksi, Soonyoung melompat keluar.
"SOONYOUNGGGGGG!"
.
.
.
Sisa hari itu, Junhui habiskan dengan mengabaikan Soonyoung sedemikian rupa. Dewa kecil itu bolak-balik sambil mengirimkan pesan dari Seungcheol yang kebanyakan berisi kemarahannya.
Rupanya si Seungcheol merasa tersinggung dengan kiriman terakhir Junhui, dia menganggap itu sebagai kiriman surat dari calon pemberontak.
Junhui menjadi frustasi. Si Pengantar Pesan bolak-balik kantornya dengan sangat cepat, dan frekuensi yang sering sampai pintu kantornya saja tidak memiliki waktu untuk menutup. Junhui masih belum menemukan kata pengantar yang cocok. Pesan terakhir Seungcheol mengingatkannya, bahwa dirinya belum memiliki satu kota-pun yang dia lindungi.
Sampai akhirnya, ketika Soonyoung pergi untuk yang kesekian kalinya, Junhui bangkit dari bangkunya yang nyaman dan memutuskan untuk mulai mencari kota yang dilindungi.
Begitu sampai di atas, dia melihat sebuah kota megah yang masih belum memiliki satupun pelindung. Namanya Attica, dan itu adalah kota terpenting dan terkuat di Yunani.
Junhui memunculkan dirinya dengan spektakuler di benteng kota, ditambah meriah dengan kembang api yang ditembakkan dirinya sendiri ke langit, dan juga pancaran air asin dari tempat trisulanya yang menyentuh sebongkah tanah.
Semua warga yang melihat Junhui langsung berlutut dan menyembah Sang Dewa Lautan, entah karena hormat atau takut. Konon katanya jika mereka tidak mau berlutut saat bertemu Pemimpin Lautan itu, mereka biasanya akan terseret ombak dan ditelan ular laut mengerikan, jelas itu hukuman yang kejam hanya karena kau menolak berlutut.
Junhui baru akan menyuruh para warga berdiri dengan suara berwibawa ketika sebuah cahaya abu-abu muncul di seberang, dan para warga otomatis membungkuk ke arah cahaya itu. Mereka menyadari siapa dia, Soojung.
Soojung menatap wajah Junhui dengan senyum miring, "Aduh, suasananya jadi tidak enak."
Junhui sendiri sedang menahan marah karena kedatangan Soojung membuat semua warga jadi membelakangi Dewa Laut itu, bahkan tidak ada satu orang pun yang menatap kembang api warna-warni yang masih ditembakkannya.
Begitu semua warga sudah berdiri, Junhui mengumumkan, "Salam. Hari ini aku, Junhui datang kemarin untuk menawarkan diri menjadi dewa pelindung kalian. Jika kalian menerimanya, aku menjamin keselamatan semua pelayaran kalian, juga stok ikan yang tidak akan habis, serta juga kebebasan dari dicabik-cabik monster lautku, nah bagaimana?"
Semua warga terdiam.
Soojung berdeham dan mengumumkan dirinya dengan nada yang sama yang digunakan Junhui, "Aku juga datang untuk menawarkan diriku menjadi dewi pelindung kalian. Jika kalian menerima tawaranku, aku akan menjamin kebijaksaan berlimpah, strategi keren dalam peperangan yang ampuh, juga aku akan membuat kota ini terkenal dan kaya. Yang kuminta adalah kalian menamai kota ini dengan nama Athena."
Sang Raja Laut mengutuk dalam hati, harusnya dia tadi kepikiran untuk meminta sebuah kota dengan satu nama. Sial.
Semua warga terdiam lagi.
Mata mereka semua melihat Junhui dan Soojung secara bergantian sambil bergumam di dalam hati mereka, kenapa juga mereka harus mengalami ini. Jelas jika memilih salah satu dari mereka pasti akan membuat yang lain meledak marah.
Ketika diamnya sampai tidak tertahankan lagi dan Junhui sudah memutuskan untuk berhenti menembakkan kembang api, Soojung memecahkan keheningan, "Bagaimana jika kita mengadakan sebuah pertandingan?"
Sang Raja Lautan mengangkat alis. Biasanya apapun yang direncanakan oleh Dewi Kebijaksanaan itu hanya akan memberikan keuntungan untuk sang dewi sendiri.
"Pertandingan?"
Soojung tersenyum tipis, "Sebuah pertandingan persembahan. Masing-masing memberikan persembahan bagi kota ini, para warga memilih dengan anonim –agar tidak ada yang bisa membalas dendam. Yang memberikan persembahan terbaik akan menang."
Junhui mengangguk-angguk, dalam kepalanya dia sedang berpikir persembahan apa yang akan membuatnya terpilih. Jelas memberikan seregu hiu jinak, atau sebatalion ikan hias tidak akan membuat Junhui menang dari Soojung. Lagipula dewi itu juga pasti sudah mempunyai hal yang pasti bisa membuatnya menang.
Soojung berkata, "Nah, para warga siapkan kertas untuk masing-masing dari kalian dan sebuah kotak tertutup. Sekarang kita mulai, laki-laki duluan."
Kepala Junhui masih berputar-putar, dan dia merasa agak marah. Dia tidak akan terima disingkirkan oleh dewi generasi kedua dalam hal pelindung kota.
Setruk karang laut tidak akan berguna, segerombolan paus untuk menarik kereta juga tidak mungkin. Junhui akhirnya memikirkan transportasi darat yang mungkin akan berguna, dan dewa itu memanggil ombak sambil membayangkan hewan yang dia inginkan.
Kemudian, ketika ombak mencapai pesisir, segerombolan hewan-hewan baru berderap keluar sambil mengguncangkan surai-surai mereka.
Junhui tersenyum, "Kurasa yang ini akan kusebut kuda. Dengarkan, mereka akan menjadi hewan yang sangat berguna. Kalian bisa membuatnya menarik kereta, menungganginya dan membuat balapan dengan mereka. Mereka juga cantik, dan jelas akan sangat mengerikan dalam pertempuran dibandingkan sapi atau kerbau."
Semua warga menatap kuda-kuda yang mulai berbaris di belakang Junhui dengan sikap hormat pada Dewa Laut.
Junhui menatap lawannya, "Giliranmu."
Soojung tersenyum misterius, dan berjalan turun.
Dewi itu berdiri ke tengah-tengah para warga dan menunduk. Dia menggerakkan jarinya dan menunjuk tanah di depannya, sebuah pucuk kecil muncul.
Seiring waktu, pucuk itu tumbuh dengan cepat. Tapi tumbuhan itu tidak cantik, daunnya berwarna suram dan buahnya kecil-kecil sekali.
Junhui baru akan tertawa ketika Soojung menegakkan badan dan berkata, "Ini pohon zaitun. Mungkin memang terlihat sangat aneh, tapi percaya atau tidak pohon ini akan membuat kalian kaya. Pohon ini akan menyebar ke seluruh Attica dengan cepat, dan buahnya akan menjadi salah satu bahan makanan. Kalian juga bisa membuatnya menjadi toping pizza, untuk memasak, dan juga menyalakan lampu. Jika kalian mengekspor zaitun ini ke luar Yunani, sudah jelas kalian akan kaya."
Junhui kehilangan kata-kata. Dewi itu melemparkan senyuman kecil pada Junhui saat dia berkata, "Waktunya voting."
.
.
.
Junhui nyaris ngamuk saat melihat hasil voting. Dia kalah dari Soojung, dia kalah dari dewi generasi kedua, dia kalah lagi dari anak Seungcheol.
Dia bangkit dengan mengamuk dan meninggalkan Attica –atau yang namanya sudah berganti oleh si anak Seungcheol itu dengan cepat. Junhui membiarkan segerombolan kudanya berderap pergi entah kemana.
Dia membiarkan pancaran air asin yang tadi dibuatnya menderas dan membanjiri seluruh Attica, membiarkan seluruh kota berteriak dan memohon pada Junhui untuk berbelas kasih.
Junhui berpura-pura tuli dan kembali ke kerajaannya di Laut dengan bersungut-sungut.
Ketika dia membanting pintu kantornya menutup, matanya tertumbuk lagi pada setumpuk kertas dan kegagalannya.
Dia duduk dengan marah dan meraih kertas itu. berusaha setidaknya membuat kata pengantar dengan benar.
Terima kasih bagi kalian yang sudah mau meluangkan waktu membaca ini. Well, sebenarnya aku menulis ini dengan keadaan kesal karena kalah dari Soojung.
Junhui meremas kertas itu dan melemparnya menjauh. Dia mengingatkan diri bahwa dia harus menulis menggunakan nama samaran. Raja Lautan itu menghela napas lagi, dan mencelupkan pena ke dalam wadah tinta dan mulai menulis kata pengantar baru.
Halo. Terima kasih sudah mau membaca buku ini, saat aku menulis ini percayalah bahwa aku sedang dalam kondisi kalah. Aku sudah kalah dalam banyak hal, pertarungan melawan zaitun, pengundian kekuasaan, bahkan kalah dengan bukuku sendiri. Jadi, kalian mungkin akan sedikit bersimpati denganku walaupun bukan itu sih yang aku minta.
Lagi-lagi Junhui meremas kertas itu. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di buku yang dikarang sendiri.
Begitu dia akan meraih selembar kertas lagi, sebuah tangan menyambar kertas itu lebih dulu.
Alisnya berkerut saat melihat Minghao sudah berdiri di sampingnya dengan wajah prihatin. Bisa dibilang, Minghao ini adalah istrinya dan jelas makhluk paling pantas untuk menjadi Ratu Lautan. Dia bukan tipe pencemburu seperti Jeonghan, dan dia juga tidak mudah tersulut amarahnya. Ini jelas membuatnya menjadi pasangan yang sangat cocok dengan Junhui.
Satu-satunya hal yang dibenci oleh Minghao adalah dikekang. Ia tidak masalah jika suaminya memiliki selingkuhan atau banyak anak setengah dewa, asalkan Minghao diberikan kebebasan. Dia tidak suka diperintah ini dan itu, tidak suka harus melakukan hal yang bertolak belakang dengan kemauannya. Selama Junhui baik pada anak-anak mereka, Minghao tidak lagi peduli pada semua selingkuhan Junhui.
Minghao menggumam dengan nada lembut, "Kau tahu, sebaiknya kau menenangkan diri sendiri. Kau sudah menenggelamkan sekitar selusin kapal, dan juga membuat gempa di beberapa titik. Para geologis sedang menangis di kantor mereka karena tidak bisa memprediksikan gempa susulan –Ok, yang terakhir aku hanya bercanda. Belum ada geologis pada zaman ini."
Mata Minghao terlihat lembut, dan perlahan-lahan emosi Junhui mulai mereda. Semenjak insiden 'lemparan paus biru kepada siapapun makhluk yang berani mengganggunya saat marah' yang terjadi beberapa tahun lalu, satu-satunya yang berani mendekati Junhui saat dewa itu lagi marah memang hanya Minghao.
Istrinya menyentuh punggung tangan Junhui dengan jarinya yang panjang, dan menatap wajah sang Dewa Laut. Junhui meredakan gempa di beberapa tempat, dan juga membuat laut menjadi tenang lagi. Dewa Laut itu bisa merasakan bahwa semua rakyatnya akhirnya berani keluar dari tempat persembunyian mereka.
Minghao menatap kertas Junhui dan bergumam, "Kau masih bingung tentang kata pengantar? Kau tahu aku bisa membantumu."
Junhui mengangkat alisnya, "Benarkah? Maaf, kepalaku masih panas dan aku masih menahan godaan untuk mencabik kota Attica sampai hancur."
Minghao berkata sambil lalu, "Namanya sudah bukan Attica."
"Oh, kau pikir aku peduli?"
Minghao tertawa dan seketika itu juga Junhui merasa santai, otot dan sarafnya yang tegang mulai merileks dan pikirannya mulai bisa bekerja lagi. Tawa Ratu Lautan itu juga membawa efek baik pada kejiwaannya yang mungkin sudah agak terganggu.
Dia menatap Minghao, "Nah jadi, kau mau mulai membantuku? Jujur saja, aku bahkan tidak yakin masih bisa menulis."
Minghao tersenyum, "Pertama-tama ucapkan terima kasih." Jari-jari panjang itu menyentuh punggung tangan Junhui lagi, dan gerakan kecil itu mengirimkan kejutan ke jantung sang Dewa Laut.
Junhui meraih kertas dan mencelupkan penanya lalu menulis,
Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca buku ini.
Dia mendongak menatap istrinya, yang ditatap hanya tersenyum dan menggumam, "Katakan bahwa kau mengerti betapa berharganya waktu yang mereka habiskan dengan bukumu."
Junhui menunduk dan menulis, mereguk setiap fakta bahwa Minghao berada di sebelahnya.
Seseorang berkata padaku bahwa waktu yang kalian habiskan untuk membaca buku ini sangatlah berharga baik bagi kalian maupun bagiku.
Minghao tersenyum melihat tulisan Junhui, "Lalu katakan betapa kau merasa senang bisa menulis. Ceritakan kisahmu sampai kau ingin menulis."
Kata-kata berikutnya terasa lancar mengalir,
Kalian mungkin tidak tahu tapi awalnya aku sendiri tidak memiliki keyakinan pada kemampuan menulisku. Aku selalu mengagumi orang yang mampu menulis, menceritakan sesuatu, tapi tetap saja setiap kali aku mencobanya aku selalu gagal. Tapi percaya atau tidak, seseorang membantuku.
Aku pernah mengalami pengusiran, aku juga pernah diremehkan, tapi orang ini tetap berada di sampingku tidak peduli sesering apapun aku telah membuatnya kesal. Dia mendorongku untuk menulis, dan ketika aku meneriakkan bahwa aku tidak bisa menceritakan kisahku lewat kata-kata, dia berkata dengan nada lembut 'kalau begitu kau tulis apapun yang kau suka.'
Jadi malam itu, aku meraih setumpuk kertas dan mulai merangkai kata. Aku mulai berusaha memikirkan hal-hal yang membuatku tenang, hal-hal yang membuat suasana hatiku membaik dengan cepat. Dan tanpa sadar, lembar demi lembar dan bab demi bab, akhirnya aku merampungkan sebuah buku. Tapi ketika semuanya selesai, aku masih mengalami sebuah masalah.
Aku masih tidak tahu bagaimana menuliskan sepenggal kata pengantar. Aku sudah mencoba berbagai macam kalimat, mengubah gaya menulisku, membayangkan hidupku dan menuangkannya. Tapi tetap saja tidak ada yang terasa pantas.
Jadi, seseorang itu berdiri di sampingku dan kini tersenyum lalu membimbingku melalui kalimat demi kalimat, membuatku lebih mudah untuk menuangkan kisahku lewat goresan pena.
Aku berterima kasih juga padanya.
Junhui menegakan kepala dan menatap Minghao, sosok manis itu tersenyum, "Kau tahu? Dibanding kata pengantar, itu lebih seperti penyataan cinta."
Pemimpin Lautan itu tertawa, "Aku tahu. Setiap kali kau membaca kata pengantar ini, kau akan mengingatku."
Mata biru gelap Minghao membayangi tawanya, "Kau mengharapkanku membaca itu setiap waktu?"
Junhui tersenyum, "Kau toh akan membelinya saat buku ini terbit."
Minghao tersenyum, "Lanjutkan saja kata pengantarnya."
.
.
.
Kali berikutnya seorang dewa berkunjung, namanya Soonyoung. Tentu saja, siapa lagi yang mau repot-repot berkunjung ke istana Junhui dan kemudian merasa iri melihatnya?
Bukannya mau sombong, tapi istana Junhui jelas memenangkan penghargaan Istana Tercantik selama beberapa abad. Seluruh dinding lorong istananya dihiasi dengan berbagai kerang yang berkilauan.
Dinding ruang singgasananya berwarna biru muda dan memiliki banyak hiasan cantik yang terbuat dari karang, kerang, cangkang kura-kura atau capit kepiting. Singgasana Junhui sendiri megah, dengan berbagai macam kerang-kerang dan juga ukiran ombak yang tenang.
Tapi walaupun begitu, kantor Junhui sangat sedehana. Dia membiarkan dindingnya berwarna biru tua, dan ruangan itu hanya memiliki dua jendela. Satu menghadap ke belakang istana, dan satu lagi langsung menghadap ke lautan lepas. Kadang jika kesal dan Minghao sedang tidak ada di sana, maka Junhui hanya bisa menatap lautan lepas untuk menenangkan dirinya.
Tidak ada kerang atau apapun untuk dekorasi, dan semua berkas-berkas harus teratur atau Junhui bisa ngamuk. Dia paling benci jika harus mencari berkas, dan melihat berkas-berkas itu tidak berada pada tempatnya.
Terakhir kali itu terjadi sekitar beberapa tahun lalu dan menyebabkan para arsitek lautan –yang merupakan sekawanan lumba-lumba harus membuatkan kantor baru untuk Junhui setelah dia meledakkan seluruh kantornya dalam semburan air laut panas mematikan.
Begitu Soonyoung masuk, Junhui menghela napas.
Untungnya kali ini Minghao sedang duduk di sebelahnya, dan mengguruinya tentang bagaimana seharusnya kata pengantar itu terdengar menyanjung.
Mereka berdua terdiam, dan menatap si Dewa Pembawa Pesan.
Soonyoung membungkuk, "Tuan Junhui, seorang dewi mengirimimu sebuah pesan. Soojung."
Junhui mengangkat alisnya. Siapa? Dia tidak salah dengar?
Kemarahan Junhui menggelegak lagi. Bahkan setelah menang, Soojung masih tidak mau meninggalkannya sendirian?
Namun, ketika tanpa sengaja matanya bertemu dengan milik Minghao yang biru gelap, langsung membawa ketenangan ke saraf pusat Junhui. Dia menggerakkan jarinya, mengisyaratkan Soonyoung untuk membacakan pesannya.
"Isinya begini, Dasar kau pecundang yang tidak bisa menerima kekalahan. Hentikan banjir di kotaku, atau aku sendiri yang akan turun ke sana dan mencungkil istana kerangmu dari dasar lautan."
Setelah mendengar pesannya, Junhui tidak marah. Dewa itu malah tertawa terbahak-bahak, ini pertama kalinya Dewi Kebijaksanaan mengirimkan ancaman konyol padanya.
Sebelum Soonyoung sempat bertanya, Penguasa Lautan itu menggeleng dan mengibaskan tangannya. Soonyoung membungkuk dan melompat keluar tanpa banyak tanya, dewa kecil itu juga agak malas berurusan dengan dewa yang suasana hatinya gampang berubah walaupun dia sering memberinya tip yang banyak untuk pengirimannya.
Minghao menatap suaminya, "Well? Kau mau menjelaskan?"
"Ya.. sebentar.. biarkan aku napas dulu… HAHAHAHA.."
Junhui terbahak lagi setiap mengingat kiriman dari Soojung.
Minghao menunggunya dengan sabar.
Kemudian, ketika Junhui sudah tidak tertawa seperti singa laut asma, dia mulai menjelaskan, "Begini, aku sedang berbaik hati menawarkan diriku sebagai pelindung Attica ketika dewi itu datang. Dia mengusulkan pertandingan, dan aku menerimanya. Aku menciptakan mereka makhluk baru, kuda. Hewan cantik berkaki empat yang bisa melaju dengan kecepatan super. Soojung menciptakan tumbuhan berbuah kecil-kecil seperti kerikil, dan menamainya zaitun. Well, dewi itu menang dan aku mengamuk walaupun warga sana sudah membuatkanku kuil indah."
Minghao menggelengkan kepala, "Kau semestinya mengalah saja."
"Menurutmu begitu?"
Minghao adalah sedikit makhluk yang bisa membuat Sang Raja Lautan mengubah keputusannya.
Junhui menggaruk dagunya, "Mungkin kau benar. Baiklah, aku menarik banjirku kembali."
Junhui menatap pendampingnya, "Mungkin ini alasan kau mengerjar-ngejarku? Aku terlalu hebat?"
Minghao tertawa halus, "Kau yakin? Bukannya kau yang mengerjar-ngejarku?"
Junhui belagak lupa, tapi wajahnya memerah, "Aku tidak ingat. Boleh kita kembali ke kata pengantar?"
Makhluk meneduhkan itu tertawa lebih keras, "Soojung benar. Dasar pecundang yang tidak bisa menerima kekalahan. Nah, baiklah. Sampai dimana kita?"
Junhui kembali fokus, "Kalimat penutup sepertinya."
Minghao tersenyum, "Sebaiknya kau menulis itu tanpa bantuanku."
Junhui menatap mata biru gelap Minghao lama sekali, dan berandai-andai jika dulu dia tidak bertemu dengannya. Entah apa yang akan terjadi dengan dirinya, tapi yang jelas ia mensyukuri keberadaan Minghao di sisinya.
Sosok itu bukan pencemburu, ia juga bukan tipe pengekang dan tidak suka dikekang. Dia tidak masalah pada kehidupan Junhui di Olympus atau Yunani selama akhirnya Junhui akan selalu kembali padanya. Dia tetap mendukung suaminya, dia jelas mengenal Junhui lebih dari yang lainnya. Hidup mereka santai, jarang ada percakapan serius. Mereka biasanya hanya membicarakan hal-hal ringan, dan amat jarang berdebat.
Pada dasarnya, mereka melengkapi satu sama lain.
Sambil tersenyum, Junhui menuliskan bagian penutupnya.
Dan aku bahagia. Mengetahui kalian membaca buku ini, membaca kata pengantar anehku ini, dan juga mungkin kalian bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Aku selesaikan omong kosongku di sini saja.
Begitu mendongak dari kertasnya, Minghao cemberut. Junhui meraih tangannya dan menatap wajah Minghao.
Junhui mengangkat alis dan tersenyum tipis, "Apa?"
"Bukan begitu cara kau mengakhiri pengantar, tahu."
Junhui mengendikkan bahu, mendaratkan sebuah kecupan pada pipi Minghao. Raja Lautan itu kembali tersenyum ketika tawa istrinya kembali memenuhi ruangan.
.
.
.
FIN
.
.
.
Oh ya ampun, siapa yang masih inget ff ini? Serius, udah berapa lama semenjak fic ini apdet?
Dan yeah, aku bawa kopel lainnya setelah meanie, buat kali ini aku nyeritain tentang Junhao, dan Minghao akhirnya muncul *joget*
Aku buka request, kira-kira chapter depan, kalian mau kopel siapa yang diceritain? *Jujur aku maunya sih Verkwan* (?)
Last, Review lagi? Aku mau liat minat fic ini seberapa banyak hohohohoho.
Dadah~~ sampe jumpa di next chap~~~
