Puji syukur wia panjatkan pada L senpai yang telah mengedit fic ini sehingga kohaimu yg gak becus ini bisa update sekarang.. (sekian AN dari wia hiks hiks hiks)

Title : Run! Run!

Collaboration Psychological Author with the SasuNaru Author.

Rate : T++

Disclaimer : Naruto and all the characters in it legitimately belongs MK
Genre : Adventure mix Drama.

Warning : Shonen-ai, OOC, AU, Violence etc.

Main pair : Of Course SasuNaru.

.

Chapter Dua.

.
.

Naruto mengerjapkan mata berkali-kali sebelum pandangannya membaik. Ia meregangkan seluruh persendian yang terasa kaku. Dengan malas membalikan badan, sedetik sesudahnya, ia melompat dari ranjang.

"Wua! Apa ini?" Naruto terkejut melihat Sasuke yang tidur disampingnya.

Mata Naruto yang sipit karena dipenuhi kerak mata melebar seukuran bola sepak saat ia mendapati tubuhnya hanya memakai celana kerja, kemana seragamnya kemarin, kemana?

"Apa yang terjadi? Apa?" urat syaraf pada seluruh segi wajah menegang, frustasi!

Ia topless!

Naruto menghambur keranjang dan memukul Sasuke dengan bantal. "Oi bangun sialan! Kau apakan aku semalam, hah?"

Sasuke mengerang setengah sadar, sebagian nyawanya masih tertinggal di langit mimpi, "Arrgh..."

"Oi Sasuke! Kau apakan aku tadi malam, hah?" Naruto terus menghujani tubuh Sasuke dengan pukulan bantal.

"Apa otakmu kalau pagi memang rusak begini?" erang Sasuke.

"Otakmu yang rusak!" Naruto duduk di atas tubuh Sasuke yang terlentang. "Kau apakan aku? Kenapa aku tidak pakai baju?"

Naruto menghimpit guling ke kepala Sasuke, sementara Sasuke megap-megap kehabisan nafas."Singkirkan lututmu dari selangkanganku!"

Naruto terbelalak, tak sadar jika ia duduk melipat kaki kebelakang tepat di pinggang Sasuke. Pemuda itu langsung melompat panik. "Kau belum jawab, Sasuke!"

Sasuke menarik bantal dibawah kepalnya dan melempar ke arah Naruto sebagai jawaban. Naruto balas memukul dengan guling ditangannya. Mereka bergelut hingga akhirnya kelelahan menghentikan 'ucapan selamat pagi' yang tidak wajar itu.

Sasuke berdiri dan membuka pintu beranda. Angin pagi nan sejuk serta cahaya mentari yang hangat langsung memenuhi ruangan kamar. Naruto duduk di sofa dan menenggak air mineral dengan rakus. Wajahnya muram dan membuat Sasuke keheranan.

"Kenapa denganmu?"

Naruto menghela nafas panjang, "Aku tak menyangka kau sebejat itu, Sasuke..."

"Bajumu penuh dengan darah saat kau pingsan..."

Naruto melongo, "Pingsan?"

"Kau tidak ingat kalau hidungmu bocor tadi malam?"

Naruto memencet hidungnya sendiri. "Masa?"

"Bajumu ada ditempat sampah.."

Naruto terbelalak, 'Oi kau benar-benar... aaah!" Naruto berlari ke tempat sampah kecil di samping pintu kamar mandi. "Oh baju seragamku.."

Sasuke membuang muka saat Naruto mendelik padanya. "Tak ada baju ganti disini.. jangan salahkan aku..."

Naruto masih melotot dengan mulut memanjang lima centimeter.

"Ah! Jangan menatapku seperti itu.. oi pesanlah sarapan.. aku lapar.."

"Nggak mau!" Naruto kembali duduk di soda dengan muka tertekuk.

"Aissh... jangan ngambek!"

Naruto tetap mengacuhkan Sasuke.

"Ah.. kekanak-kanakan sekali..."

"Bagaimana bisa! Kau tidur dengan piyama bagus sedangkan aku tidak pakai baju?"

Sasuke mengerang kesal, "Apakah kita akan meributkan hal itu ? Hah? hanya ada satu baju ganti disediakan motel jelek ini! Ahh kau ini..!"

"Pesankan aku susu dan ramen jumbo sebagai permintaan maafmu..."

"Apa?" Sasuke memiringkan bibir, "Maaf?" Sasuke menghampiri Naruto dan berkacak pinggang di depannya. "Sudah kukatakan dari awal bahwa peraturan dalam hidupku hanya satu, jangan membantahku!"

"Itukan aturan dalam hidupmu! Bukan hidupku! Kau kira hidupku milikmu apa?" sergah Naruto tak kalah garang.

Sasuke mengacak-acak rambut belakangnya, "Aish! Kenapa aku harus berdebat dengamu sepagi ini!"

Naruto berlari melewati Sasuke dan melompat ke ranjang lalu meraih HP Sasuke yang tergeletak disana.

"Kau mau apa?" bentak Sasuke.

"Susu hangat dan ramen." Jawab Naruto cuek.

Sasuke menghela nafas berat, "Maksudku kau mau apakan ponselku?"

"Surfing... author favoritku update fanfic hari ini..."

Sasuke mengerutkan kening, "Awtor? Panpik? Apa itu? Apa bisa dimakan? Sejenis keripik?"

Naruto mengangkat kaki dan melakukan gerakan mengusir, "Cepat pesan sana!"

Sasuke bergerak menjauhi Naruto. Pemuda itu masih manyun dan menatap Sasuke yang hendak keluar memesan sarapan. Sasuke memasukan tangan kanannya kedalam celana bagian belakang lalu menggaruk pantatnya sambil menguap lebar.

Naruto illfeel sejadi-jadinya.

Sasuke menutup pintu dengan malas dan berjalan di lobby. Namun sepertinya bola lampu di kepalanya baru saja menyala, "Tunggu dulu! Tunggu! Kenapa aku jadi patuh disuruh-suruh begini?"

..

Naruto terdiam dengan keringat dingin membasahi keningnya. Ia menyelimuti seluruh tubuh dan berbaring dengan gelisah. Cengkraman tanganya pada ponsel Sasuke makin mengerat seolah-olah ponsel itu akan remuk ditangannya. Nafasnya memburu dan bola matanya melebar tanpa kedipan.

Naruto bahkan tak sadar Sasuke kembali ke kamar dengan membawa sarapan. Telinganya seolah-olah tuli saat Sasuke dengan kasar meletakan menu sarapan mereka di meja kecil di lantai kamar.

"Apa yang dibaca si bodoh ini?" batin Sasuke.

Sasuke tiba-tiba merebut ponsel dari tangan Naruto. Naruto gelagapan bahkan tak sempat berteriak. Ia berusaha merebut ponsel dari tangan Sasuke namun Sasuke mengacungkan tangan tinggi-tinggi lalu menepis kasar tangan Naruto. Sasuke menatap paragraf demi paragraf di ponsel (touchscreen) itu dan membacanya dengan keras.

"Apa yang kau baca ini? Choi Yung Do meremas kasar rambut Kim Tan dan mendorong lelaki itu ke dinding untuk memulai permainan panas. Apa-apaan yang kau baca ini Naruto?"

Naruto menunduk menghindari tatapan mata interogasi Sasuke.

"Yung Do-yaa, oh-ah-oh-ah jangan begini, aku sudah memiliki Eun Sang, jangan, oh-ah-oh..." Sasuke membaca dengan mata melotot. "Apa ini?"

"Fanfic Korea..." jawab Naruto dengan suara yang lari kedalam tenggorokan.

Pucat pasi.

"Choi Yung Do merobek kemeja Kim Tan dan membentak lelaki itu, kau milikku Tan-aa.. aku ingin menjilati setiap inchi kulit lembabmu!" Sasuke membaca dengan ekspresi muak.

Naruto menghilang dalam selimut.

Dan Sasuke melempar ponselnya ke kepala Naruto dengan ratusan umpatan dalam satu tarikan nafas.

..

Seorang petugas kepolisian berjalan di koridor dengan tergesa dan membuka kasar pintu ruangan penyelidikan. Ia menuju salah satu meja dimana seorang petugas kepolisian dengan rambut perak melawan gravitasi sedang asyik memijit kepalanya yang pusing tujuh puluh keliling.

"Bos! Ada laporan tentang taksi hilang!"

Kakashi menjambak rambutnya sendiri, "Apa urusannya denganku? Aku sedang pusing menangani kasus parampokan bank!"

"Tapi bos, ini..."

Kakashi melotot marah, "Ini bukan tugas divisi reserse dan kriminal, berikan pada divisi Yamato."

"Kau keterlaluan sekali, Kakashi-senpai" Yamato entah muncul dari mana dan sudah berada dalm ruangan. Ia berjalan mendekati Kakashi dan berdiri dihadapan meja kerja Kakashi. "seharusnya kau mendengar penjelasan anak buahmu dulu."

Kakashi menggaruk kepalanya dengan kasar, "Pergilah, Junior! Aku sedang punya kasus besar!"

Yamato mengambil berkas dari petugas itu dan menyerahkannya pada Kakashi. Dengan muka sebal, Kakshi membuka berkas itu dan membaca dengan cepat. Mata Kakashi terbuka lebar.

"Kau yakin ini ada kaitannya?" tanya Kakashi dengan tegas.

"Ya.. aku rasa begitu, " Jawab Yamato, "Taksi itu dilaporkan hilang oleh perusahaannya di hari yang sama dengan hari perampokan bank. Sopirnya di duga membawa lari taksi itu. Lokasi GPS taksi ada di blok yang sama saat kejadian perampokan"

"Atau mungkin..." Kakashi menganalisa, "Pelaku perampokan naik ke taksi tersebut dan menyandera sopir taksi.. bagaimana dengan kemungkinan pembunuhan?"

"Tidak ada laporan tentang penemuan jasad tak dikenal dijalanan."

"Kau sudah punya idenditas sopir taksi itu?"

"Ya, senpai, perusahaan taksi itu sudah mengirim biodata sopir taksi itu, kita harus menemukan taksi itu ataupun sopirnya, mungkin bisa jadi petunjuk tentang keberadaan perampok bank itu."

Kakashi menggebrak meja. "Ayo mulai penyelidikannya!"

..

Sasuke makan dengan tenang tanpa dentingan sendok beradu dengan piring. Namun Naruto yang duduk dihadapannya makan dengan rakus dan menimbulkan suara. Sasuke diam saja dan sesekali melirik ke arah Naruto yang begitu menikmati sarapannya.
Sasuke tak berhasil mendapatkan ramen, namun sebagai gantinya ia membawakan bubur yang membuat mata Naruto berbinar-binar melahapnya.

"Sasuke, ini enak sekali.. apa namanya tadi, kacang hijau? Aku belum pernah makan ini!"

Sasuke menikmati makanya dengan pelan, "Ini adalah makanan yang ada di Asia Tenggara. Disana makanan seperti ini sangat familiar..."

"Ah benar!" Naruto yang kini memakai jaket Sasuke sebagai penutup badan mengacungkan sendok, "Tanah mereka sangat subur. Aku jadi ingat pisang, karena buah itu hanya mahu tumbuh di Asia Tenggara. Mereka mengekspornya ke seluruh penjuru dunia, tapi kenapa kacang hijau tidak?"

"Pisang? Aku tidak suka pisang."

"Kenapa?" tanya Naruto.

"Aku suka tomat."

"Benarkah kau tak suka pisang?"

Naruto Menjilati sendok itu dengan dramatis sambil menatap Sasuke.

Sasuke terdiam menyaksikan bagaimana Naruto dengan wajah manisnya mengoleskan lidah merah basah itu ke sendok.

Plup.

Naruto terdiam.

Tangan Sasuke yang besar menempel di pipinya. Ia memandang Sasuke yang menatap ke arah bibirnya. Naruto berusaha meneguk ludah, namun untuk bernafas saja ia susah.

Jari Sasuke menghapus bubur yang melekat di samping bibir Naruto, "Makanlah dengan bersih dan tenang..."

Naruto baru mengenal Sasuke kurang dari empatpuluh delapan jam dan untuk pertama kalinya ia mendengar Sasuke mengeluarkan kata-kata dengan nada lembut. Tanpa cacian dan makian serta bentakan. Naruto mengangguk pelan dan nervous setengah hidup. Saat Sasuke hendak menjauhkan tangannya, Naruto menahan telapak tangan itu dengan tangannya.

Lagi.

Mereka bertukar pandang dalam diam.

"Sasuke.. setelah ini kita mau kemana?" tanya Naruto sedih. Ia tersadar bahwa status mereka adalah buronan.

"Belanja."

"Haah?"

..

"Yihaaaa..."

Naruto berlari senang sambil mendorong troli lalu melompat dan berseluncur. Sasuke mendesah pasrah meliaht tingkah memalukan Naruto. Setidaknya minimarket ini tidak terlalu ramai. Sasuke tak kuasa menahan senyum saat Naruto jatuh tergelincir. Namun saat Naruto melihat ke arahnya, wajah Sasuke seketika menjadi topeng datar tanpa ekspresi.

Naruto berdiri sambil memijit pinggangnya. "Sasuke, kita mau berbelanja apa?"

Sasuke mendorong trolinya sendiri dan menghampiri Naruto, "Belilah beberapa pakaian untukmu..."

Naruto mengangguk senang, "Oke, bos!"

"Dan.." Sasuke menekankan kalimatnya, "Jangan buat ulah! Mengerti?!"

Naruto memberikan sikap hormat, "Siap laksanakan! Hehehe..."

Sasuke berlalu entah kemana. Sementara Naruto segera menuju counter pakaian sambil bersenandung riang.

"Kalau dipikir-pikir... Sasuke itu sebenarnya baik..." Naruto berbicara sendiri sambil memilih pakaian, "Hanya saja ia tak bisa mengekspresikan suasana hatinya..."

"Ada yang bisa saya bantu?" seorang penjaga counter menghampiri Naruto.

"Ah.. ya.. nona.. bisakah kau carikan aku baju yang..." Naruto mengacungkan telunjuk kanan dan kiri bersamaan lalu mendekatkannya.

"Couple?"

Naruto nyengir lebar sambil mengangguk senang.

.
.

Sasuke membeli satu set tenda berukuran kecil, pemantik api, tikar lipat, perlengkapan P3K dan tetek bengek peralatan camping lainnya. Satu ransel berukuran sedang juga sudah masuk ke dalam trolinya. Ia meraih senter yang bersusun di rak, "Sepertinya ini cukup."

Ia bergerak menuju susunan kulkas yang berjejer sambil memencet tombol saklar senter dengan raut wajah heran. "Apa senter ini rusak? Kenapa cahayanya terlalu redup?" tanyanya pada diri sendiri. Berkutat dengan senter ditangan, mata Sasuke menangkap sosok Naruto yang sepertinya kebingungan memilih minuman.

"Kau sudah selesai memilih baju?"

"Oh.. Sasuke.." Naruto hanya melirik sekilas dan kembali memilih minuman, "Tidak ada jus jeruk, bagaimana ini?"

Sasuke berdiri tepat dibelakang Naruto. Ia menekan tombol pada senter berkali-kali, "Hm, sepertinya senter ini harus di charge dulu..." gumam Sasuke.

Tangan Sasuke terkulai bebas disisi tubuhnya, ia mendecih kesal karena Naruto terlalu lama memilih minuman. "Oi cepatlah.. ambil saja salah satu.." ujar Sasuke sambil merapatkan tubuhnya ke punggung Naruto.

"Baiklah, aku ambil green tea saja, kau mahu minuman apa Sa-..."

Naruto terdiam seketika. Tubuhnya menegang. Botol minuman yang dipegang Naruto terjatuh dan berguling di kakinya. Darahpun mengalir lembut dari lubang hidung Naruto yang kembang kempis. Sasuke keheranan melihat tubuh kaku Naruto, lalu berbisik ditelingan Naruto dari belakang.

"Kau kenapa?"

Dan darah Naruto mendesir di sekujur nadi. Bisikan halus itu membuat darahnya terlonjak dari telapak kai dan nongkrong di otak. Ia merasakan tempatnya berdiri bukanlah lagi kermaian melainkan taman bunga penuh kupu-kupu. Naruto menguatkan diri menggerak lidahnya yang kelu, sebelum ia mabuk kepayang.

"Sa-suke... kenapa 'itu'mu keras sekali?"

Sasuke mengerutkan kening. Bingung.

Pemuda itu mengalihkan pandang ke bawah dan melihat bahwa senternya 'menabrak' belahan pantat Naruto. Sasuke mendorong senter itu dengan pelan. Teramat pelan. Namun reaksi Naruto malah berdiri menjijit dan darah dari hidung menetes melalui dagu dan jatuh dramatis ke lantai.

"Ku-kumohon, Sasuke... ja-jangan di-si-sini..." Naruto tergagap dengan mata yang hampir meloncat keluar.

Adrnalin Naruto terpacu serasa demonstran di kejar polisi anti huru-hara.

Duggh!

"Aww!"

"Ini senter, goblok!" Sasuke mengacungkan senter itu pada wajah Naruto.

"Whaaaaat?" Naruto tercekat. Harapannya sirna. Taman bunga tempat Naruto berpijak tiba-tiba luluh lantak oleh buldozer dan dari atas buldozer nampak Sasuke berdiri sambil mengacungkan sebuah senter.

Taman bunganya hancur.

Fantasy tentang 'itu' Sasuke remuk redam dalam satu pukulan.

"Kau gila! Dobe!" Sasuke mendecak kesal dan pergi.

.
.

Sasuke mengatur nafasnya yang tersengal. Ia segera kabur dari Naruto setelah mendaratkan pukulan di kepala pemuda bloon itu. Naruto yang horny tapi entah kenapa ia yang sesak nafas.

"Anda baik-baik saja? Muka Anda memerah..." tegur seorang penjaga counter.

"Benarkah?" Sasuke memegang kedua pipinya sendiri. "Aku tidak apa-apa..."

Sasuke memutar tubunya ke segala arah, tanpa sadar ia berdiri di counter boneka. "Ck! Kenapa aku harus lari tadi?" Tanyanya pada diri sendiri. "Oh itukan-"

Tangan Sasuke menunjuk ke satu arah, dimana boneka hello kitty yang cukup besar dipajang disana. Uchiha itu senyum-senyum sendiri dan berkata pada penjaga counter. "Nona.. tolong buatkan aku kado..."

"Baik..."

"Oi Sasuuu.. ukeeeeee..."

Sasuke terkejut dan mencari sumber suara yang terdengar sangat jauh itu. Sasuke hampir mati terperanjat melihat Naruto yang berteriak sambil melambai padanya. Sasuke memfokuskan matanya, ia memperkirakan jaraknya dengan Naruto yang ada disisi paling pinggir minimarket itu sekitar duapuluh meter, tidak! tiga puluh, tidak! Lima puluh meter!

Sasuke memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Bagaimana bisa dia berteriak dam melambaikan celana dalam ditempat umum begini. Dasar bodoh! Dobe sialan!"

Naruto terus melambaikan tangan yang mengenggam celana dalam berwarna merah dengan cengiran yang terkembang di wajahnya. Naruto memilih pakaian dalam sembari menunggu Sasuke yang menuju ke arahnya. Ia berputar kian kemari dan menjajaki tiap model yang ada disana.

"Apa yang kau lakukan di tempat pakaian dalam wanita?"

"Oh kau sudah datang, Sasuke..." Naruto mengambil salah satu pajanga, "Sasuke, aku mau beli lingerie ini!"

Sasuke memijit kembali kepalanya yang terasa berdenyut. "Tidak ada laki-laki di alam semesta ini yang memakai lingerie, Dobe!"

"Benarkah, teme?" Naruto bertanya dengan tampang lugu. "Apakah kau sudah bertanya pada mereka semua? Apakah alien tidak pakai lingerie juga?"

Sasuke benar-benar tidak bisa mengerti tentang pemuda dengan pola wajah manis yang ada dihadapannya sekarang. Ia memperhatikan Naruto dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia mendesah panjang dan membiarkan kegilaan merontokan rambutnya sesaat lagi.

"Kotak apa yang ada di keranjangmu itu?" tanpa permisi Naruto mengambil kotak seukuran enam puluh centimeter di dalam troli Sasuke. Tanpa ampun, ia merobek bungkus kado dan membuka kotak itu dari atas.

Sasuke melotot kaget dengan mulut menganga lebar. Ia sudah bersusah payah meminta tolong pada penjaga wanita tadi dan selama membungkus kado itu ia harus menahan kesal karena terus ditatapi bola mata berbentuk lope lope dari si penjaga counter..

"Apa ini? Kenapa lembek?" Naruto menarik keluar sesuatu yang lembut ditanganya.

"Wua.. Sasuke.. ini lucu sekali! Apaka ini untukku? Terima kasih!" Naruto menghambur memeluk Sasuke, namun Sasuke terlebih dahulu mundur dan mengacungkan kepalan tangan.

"Kau mahu mati?" ancam Sasuke sambil mengambil paksa boneka hello kitty ditangan Naruto. "Dan aku tak tahu ini milik siapa! Pasti ada seseorang yang salah meletakkan ini ke keranajangku, mengerti? Ini bukan untukmu!"

Muka masam telak menghantam Naruto.

"Tidak ada lai-laki yang bermain dengan boneka! Mengerti?!" hardik Sasuke sambil membalikan badan.

Sasuke berencena hendak mengembalikan boneka itu, mumpung belum dibayar, tapi panggilan dari Naruto membuat ia menjerit frustasi.

"Sasuke, kau mau pakai kolor warna apa?" ditangan Naruto sudah ada dua celana dalam beda warna. Ia nyengir lebar dengan wajah berseri-seri.

"kemana muka kecewamu tadi?"

"Kita harus membeli perlengkapan dalam juga kan?" tanya Naruto dengan wajah innoncent.

Manis~

Pelipis Sasuke kembali berkedut.

"Aku tak tahu ukuranmu, tapi menurut lututku, ukuranmu XL, iyakan?" tanya Naruto dengan tutur manja.

Denyutan dipelipis Sasuke makin cepat dan menyiksa saat mengingat insiden 'lutut' sialan itu.

"Bagaimana kalau kau pakai model transparan saja agar-"

Sasuke tak butuh sambungan kalimat Naruto, ia dengan cepat meraih asal tumpukan pakaian dalam disampingnya dan menyumbat mulut Naruto. Ia mendorong Naruto dengan kasar sampai masuk ke dalam kamar ganti.

"Tutup mulutmu, oke!"

Naruto megap megap karena tangan lebar Sasuke membekap setengah wajahnya.

"Jangan berbicara yang aneh-aneh lagi atau kutinggalkan kau disini, mengerti?" Sasuke membentak Naruto. Dengan satu tangan yang kosong, Sasuke menutup kasar tirai penutup kamar ganti agar keributan mereka tak menjadi tontonan.

Kehabisan nafas, Naruto hanya bisa mengangguk dan menurut sebelum mati tercekik. Sasuke melepaskan bekapannya dan Naruto segera menarik keluar bra yang tersumpal dalam mulutnya. Naruto terbatuk dan menghirup nafas panjang.

Sasuke mendecih kesal dan berbalik pergi namun kaos yang ia kenakan ditarik oleh Naruto. "Lepaskan, aku benar-benar marah sekarang."

Naruto menunduk dan berkata lirih dibalik tubuh Sasuke.

"Maafkan aku..."

..
Suanasa menjadi canggung saat mereka sampai dikamar hotel. Sasuke diam saja sedari minimarket dan Naruto memilih membereskan belanjaannya yang hanya beberapa potong baju dan makanan ringan. Untuknya dan untuk Sasuke, karena ia melihat sendiri Sasuke hanya membeli perlengkapan kemah serta berbungkus-bungkus rokok dan bir yang cukup banyak.

Naruto ingin menanyakan kenapa Sasuke membeli perlengkapan kemah, lengkap dengan tendanya. Namun urung melihat situasi saat ini. Wajah Sasuke kembali seperti kemarin saat ia baru pertama bertemu, dingin.

Sasuke membuka pintu beranda dan melongokan kepala keluar. "Aku ingin cari udara segar. Tetaplah di dalam kamar."

Sasuke mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangya dan diam diam meletakkan dibawah bantal. Naruto acuh tak acuh pada Sasuke dan fokus menyimpan baju ke lemari. Tapi ia melirik sesuatu yang diletakkan Sasuke di bawah bantal. Sesuatu yang amat berbahaya.

Sasuke pergi keluar kamar, Naruto masih pura-pura menyusun baju. Setelah beberapa saat, ia memastikan bahwa Sasuke sudah menjauh. Naruto mendekat ke arah ranjang. Dengan tangan gemetar ia mengangkat bantal.

Naruto dengan teramat hati-hati meraih benda tersebut.

Pistol.

"Ini pertama kali dalam hidupku memegang pistol..." Naruto gugup saat memegang pistol milik Sasuke. "Ternyata cukup ringan."

Naruto mengamati benda berbahaya itu dengan teliti, "Sasuke terlihat keren saat menodongkan senjata..." Naruto membolak balikan benda itu. Ia menatap dengan seksama tulisan yang ada di gagang pistol, "Tulisan apa ini?"

Mata Naruto terbelalak lebar saat ia membaca tulisan itu.

.

Sasuke kini berada di atap motel. Ia mengendarkan pandangan ke semua penjuru mata angin. Kerutan didahinya menandakan bahwa ia sedang berpikir.

"Motel ini terdiri dari empat lantai, kamarku di lantai 2. Pintu depan berada di jalan akses utama kota Iwa dan Oto." Sasuke bersedekap. "Pintu belakang menuju perempatan yang menuju kota Ame, Kiri dan desa Konoha."

Sasuke mengambil handphone disakunya, "Kenapa Karin belum menelpon juga?" tanyanya pada diri sendiri.

"Bandara ada dikota Ame sementara pelabuhan kecil ada di kota Kiri, dan untuk menuju kota Kiri harus melewati desa Konoha, masalahnya adalah..."

Sasuke menekan salah satu kontak di handphone nya, "Jalan di desa Konoha cukup mengerikan, dengan hutan dan jurang di sisi jalan..."

"Halo.. Sasuke, kau dimana?"

"Aku ada dikota Oto," jawab Sasuke pada suara di ujung telepon, "Apa kau mengamankan uangnya, Suigetsu?"

"Tidak, aku kabur sebagai pengalih perhatian, Juugo membawa semua kantong-kantong itu..."

"Apakah Karin sudah menelpon?"

"Belum, sepertinya ia sedang mencarikan kita pesawat atau kapal, aku juga sedang menggu telpon darinya."

"Baiklah." Sasuke menutup telpon.

Tanganya bergulir ke menu galery dan menampilkan foto sesosok pria berambut panjang disana. Jemarinya membelai foto itu, seolah-oleh tengah membelai lembut sosok aslinya. "Ini benar-benar sama seperti dulu..."

Sasuke menengadah pada langit dan berbicara seorang diri.

"Naruto... aku tak ingin mendengarmu mengatakan hal seperti di kamar ganti tadi, karena aku tak bisa menjawabnya. Aku harus pergi, kau takkan bisa hidup bersama penjahat sepertiku. Tapi meninggalkanmu seorang diri..."

Sasuke bertannya pada awan yang mulai memerah karena ditinggalkan pergi oleh sang matahari, "Neji... apa yang harus kulakukan?
..

"Apa kau pernah melihat orang ini?"

Kasir wanita itu mengerjapkan mata berkali-kali menatap foto yang disodorkan oleh petugas kepolisian di depannya. "Hmm..."

Kakashi dan Yamato menunggu respon dari kasir tersebut.

"Kurasa ada pembeli kemarin dengan wajah yang sama dengan foto ini, seragamnya juga sama"

"Kau yakin?"

"Ya.. rambutnya kuning jabrik dan dia terlihat ketakutan."

"Benarkah?" Yamato terlonjak senang, "Apa kau melihat nama pada seragamnya?"

Kasir itu mendingakan kepala, mengorek semua ingatan dalam otaknya, "Uzumaki... Na.. na..."

"Naruto?" potong Kakashi.

"Ah ya! Uzumaki Naruto! Aku melihat nama itu pada tagname seragamnya. Dia bahkan sempat meminjam ponselku."

"Kau tahu dia menelpon siapa? Tanya Kakashi serius.

"Dia tidak menelpon siapa-siapa. Dia tidak jadi menelpon setelah melihat berita perampokan bank di TV." Ujar kasir itu dengan gelengan kepala.

"Baiklah. Terima kasih atas informasinya."

Kakashi dan Yamato keluar dari minimarket itu. Yamato duduk di kap mobil polisi yang ia parkir tepat di depan minimarket. "Ini adalah lokasi terakhir GPS mobil itu dilacak oleh perusahaannya."

Kakasi berdiri tepat disamping mobil, "Sepertinya ada perkelahian di dalam mobil, kemungkinan pelaku perampokan merusak GPS itu, mungkin kena pukulan atau tendangan saat berusaha merebut posisi sopir taksi."

Yamato menatap jalan lurus dihadapannya, "Sepertinya perampok itu lari ke kota Oto."

"Maka kita harus bekerja keras memeriksa seluruh hotel atau penginapan. Dan juga kita harus memeriksa dengan teliti rumah-rumah kosong ataupun pergudangan yang tak terpakai, mereka bisa bersembunyi dimana saja.

"Aku akan menghubungi kepolisian kota Oto untuk membantu kita. Sebaiknya kita bergegas sebelum mereka benar-benar menghilang..."
"Tapi entak kenapa firasatku, berkata lain..."

Yamato menoleh pada seniornya, "Maksudmu, senpai?"

"Sopir taksi itu.. korban atau komplotan?" Kakashi mengerutkan kening.

"Karena itu kita harus cepar bergerak, smua kemungkinan bisa saja terjadi senpai..."

Kakashi menggaruk kepala mendengar perintah Yamato dan bergumam, "Aku bingung, siapa sih boss diantara kita sebenarnya?"
..

Sasuke masuk ke kamar dan tak mendapati Naruto. Ia mencari ke beranda, mana tahu Naruto sedang mencari angin segar seperti dirinya, namun ia tak melihat sosok berisik itu, hanya matahari yang mulai perlahan terbenam yang dapat ia saksikan disana.

"Bukankah aku menyuruhnya tetap diam didalam kamar."

Ia mendengar bunyi air, Sasuke berjalan ke arah kamar mandi dengan perasaan tak enak. "Naruto.. kaukah itu?"

Sasuke memasang sikap waspada, "Naruto? Apa kau didalam kamar mandi?"

"Ya!"

Sasuke menarik nafas lega. "Sial.. kukira..." Sasuke melihat pintu kamar mandi yang terbuka. "Lain kali tutup pintu kalau kau mandi!"

"Kenapa? Kau mau mandi denganku? Jangan!" teriak Naruto dari dalam kamar mandi.

Sasuke tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Dasar..." namun senyum Sasuke langsung sirna saat Naruto keluar dari kamar mandi.

Tak ada tanda-tanda Naruto selesai mandi, Sasuke memicingkan mata melihat gelagat aneh Naruto yang berjalan mendekatinya. Wajah Naruto yang serius dengan kedua tangan bersembunyi dibelakang badan membuat Sasuke mundur selangkah demi selangkah.

Melihat perubahan wajah Naruto, Sasuke yakin ada yang tak beres.

Punggungnya membentur dinding, Sasuke tak bisa kemana-mana lagi sementara Naruto makin mendekat. "Naruto..."

Naruto berhenti tepat selangkah didepan Sasuke. "Kau membohongiku, Sasuke..."

"Apa maksudmu?"

Naruto menodongkan pistol ke kening Sasuke.

Sasuke meneguk ludah, "Naruto.. tenanglah.."

Naruto tak bergeming dari posisinya.

"Letakkan pistol itu, Naruto..."

Naruto menarik pelatuk.

"Kenapa kau takut, Sasuke, aku sudah tahu kalau kau bohong..."

Apa kebohongan Sasuke pada Naruto?

To be continue...

.

.

.

.

Omake
"Apa ini? Kenapa lembek?" Naruto menarik keluar sesuatu yang lembut ditanganya.

"Wua.. Sasuke.. ini lucu sekali! Apakah ini untukku? Terima kasih!" Naruto menghambur memeluk Sasuke, namun Sasuke terlebih dahulu mundur dan mengacungkan kepalan tangan.

"Kau mahu mati?" ancam Sasuke sambil mengambil paksa boneka hello kitty ditangan Naruto. "Dan aku tak tahu ini milik siapa! Pasti ada seseorang yang salah meletakkan ini ke keranjangku, mengerti? Ini bukan untukmu!"

Muka masam telak menghantam Naruto.

"Tidak ada lai-laki yang bermain dengan boneka! Mengerti?!" hardik Sasuke sambil membalikan badan.

Sasuke berencena hendak mengembalikan boneka itu, mumpung belum dibayar, tapi panggilan dari Naruto membuat ia menjerit frustasi.

"Sasuke, kau mau pakai kolor warna apa?" ditangan Naruto sudah ada dua celana dalam beda warna. Ia nyengir lebar dengan wajah berseri-seri.

"Kemana muka kecewamu tadi?"

"Kita harus membeli perlengkapan dalam juga kan?"

Pelipis Sasuke kembali berkedut.

"Aku tak tahu ukuranmu, tapi menurut lututku, ukuranmu XL, iyakan?" tutur Naruto dengan manja.

Denyutan dipelipis Sasuke makin cepat dan menyiksa saat mengingat insiden lutut sialan itu.

Naruto menimang-nimang dua celana dalam ditangannya, "Hm.. yang mana ya.. bagaimana kalau kau pakai model transparan saja agar-"

Naruto tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat Sasuke dengan kasar menyumpal bra kedalam mulutnya. Tangan lebar Sasuke menutupi setangah wajahnya. Sasuke mendorongnya hingga ia hampri terjungkal jika dinding kamar ganti tidak menahan tubuhnya.

"Tutup mulutmu, oke!"

Naruto megap megap, terpaksa mengangguk.

"Jangan berbicara yang aneh-aneh lagi atau kutinggalkan kau disini, mengerti?" Sasuke membentak Naruto.

Kehabisan nafas, Naruto hanya bisa mengangguk dan menurut sebelum mati tercekik. Sasuke melepaskan bekapannya dan Naruto segera menarik keluar bra yang tersumpal dalam mulutnya. Naurot terbatuk dan menghirup nafas panjang.

Sasuke mendecih kesal dan berbalik pergi namun Naruto menarik kaos belakang Sasuke sebelum pria itu keluar kamar ganti. "Lepaskan, aku benar-benar marah sekarang."

Naruto menunduk dan berkata lirih dibalik tubuh Sasuke.

"Maafkan aku..."

"Kubilang lepaskan, sialan!"

Sasuke terkejut saat Naruto melingkarkan tanganya dipinggang Sasuke. "Apa yang kau lakukan, hah?"

"Maafkan aku..." Ujar Naruto sedih.

Naruto meletakan kepalanya di pundak Sasuke sambil mengeratkan pelukannya.

"Aku benar-benar bahagia, Sasuke, aku belum pernah sesenang ini. Rasanya begitu lepas dan bebas. Mungkin kau marah dengan sikap dan sifatku, tapi untuk kali pertamanya aku merasa seperti ini."

Sasuke merasakan tubuh Naruto bergetar dipunggungnya.

"Kau boleh memakiku.. boleh memukul kepalaku sesuka hatimu, tapi aku mohon padamu jangan mengatakan kalimat tadi, jangan katakana bahwa kau akan meninggalkanku..aku mohon padamu, Sasuke..."

"Aku tak punya alasan untuk tidak meninggalkanmu..." jawab Sasuke sambil melepaskan tangan Naruto yang melingkari pinggangnya.

"Tapi aku punya alasan untuk mempertahankanmu," Naruto bersikeras, "Karena aku..."

Keduanya terdiam.

Naruto merasakan matanya memanas.

"Karena aku menyu-"

"Ayo kembali ke motel, Naruto..." Sasuke menyibakkan tirai kamar ganti dengan kasar.

"Kenapa Sasuke... kenapa kau tidak mahu mendengarkanku sampai selesai..." Naruto menatap kecewa punggung Sasuke yang semakin menjauh.

End of Omake

.

.

.

Hai hai readers, saya L Samudra A.K.A LSP datang menyapa dan menjawab beberapa pertanyaan yang dirasa perlu saya jawab. Yang pertanyaannya tidak saya jawab berarti terjawab otomatis di chapter dua ini.
Ohya, berhubung fic ini fic kolaborasi, maka akan sangat susah menjadwalkan update teratur, bisa saya yang tidak bisa menulis (Sibuk, sakit, dll) ataupun malah adik saya Himawari Wia tenggelam dengan rutinitas kampusnya.
Saya tidak menerima perubahan alur cerita dari readers ya, apalgi permintaan untuk menambahkan adegan lemon, karena fiksi ini bukan fanservice, saya bukan Masashi Kishimoto yang membuat serita berdasarkan fanservice, ehm... ending Naruto.. ehm.. kalian pasti paham maksudku.
Kalau penasaran cerita ini ada lemonnya, silahkan minta pada Himawari Wia, mana tau adik saya sempat membuatkan satu cerita terpisah dengan kerangka utama Run! Run! Semacam sequel atau sidestory. (wia: nooo! Wia masih terlalu polos untuk nulis lemon ttebaa~!)
Dan satu catatan kecil tapi penting, saya bukan Fudanshi.

Saya berharap fiksi ini dapat menghibur readers semua.

Salam mesum,

Murid Jiraiya yang tersesat, LSP.

Berikut jawaban-jawaban saya untuk pertanyaan pertanyaan urgent :

Kawai Aozora : Haha, apakah pipimu sakit, cantik? Sini tak elus... # plak . Ah ya, adik saya, Himawari Wia, pernah bilang bahwa fandom yang sangat ia cintai ini semakin menurun kualitasnya dari tahun ke tahun, ibarat bunga layu, saya jadi tergelitik untuk menulis sesuatu yang menantang dan mengajak adik saya membuktikan kepada pembaca bahwa masih ada kok, segelintir karya berkualitas di fandom ini. Semoga Run! Run! Masuk kategori berkualitas ya. Tapi, aigoo, dikau fujo rupanya! Saya baru tahu!
Ryuusuke 583 : Happy ending? Hmm... bijimane ye... hmmm... hmmm...
Yassir 2374 : Eh ente kemana aje coy? Ane tungguin di The Negosiator kagak muncul2 lagi, eh nangkring di mari rupenye.. wah ketahuan ente fujo ya? Ane kangen kritik dan saran membangun dari ente di setiap karya ane.

.

.

Ah wia di sini desu~ special thanks untuk :

Reviewer ch. 1 : hanazawa kay, choikim1310, o. O rambu no baka, AprilianyArdeta, iche. cassiopeiajaejoong, kazekageashainuzukaasharoyani, Vianycka Hime, Princess Onyxsapphire, efi. astuti. 1, Ceei SanaRier, Pierrot bukan mak errot (wia fans mu senpaaaii!), Kagaari, Namikaze Sasuke, zadita uchiha, Guest, hanazawa kay, putrifibrianti1, versetta, mifta cinya, yassir2374 (terimakkasi atas reviewnya yg puuaannjang :D ), Nitya-chan, Ryuusuke583, Ineedtohateyou, uzumakinamikazehaki, Kawaii Aozora, November With Love, Hyull.

Reviewer prolog : kazekageashainuzukaasharoyan, miszshanty05, 7D, ayurifanda15, Aiko Michishige, iche. cassiopeiajaejoong, kyo, hanazawa kay, Noal Hoshino, Guest, Kagaari, Luky khairunnisa ruki, BoraX 007, November With Love, Arum Junnie, jewELF, mifta cinya, zadita uchiha, Ranmaray, Nyenyee, SNlop, apa aja deh.

Wia tunggu review minna-san loo…

Theme Chapter 3 : Ketika perasaan harus dikatakan. siapakh mereka dengan penolakan, atau..