NOW I LOVE YOU
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : ItaFemNaru/ SasuFemNaru/ ItaKyuu/ SasuHina
Rate : M
Genre : Hurt/comfort/ Romance
Warning : Lime/Lemon kurang asem, Typo(s) EYD, genderbender. Fem Naruto. A little yaoi. Straight. Alur kecepatan. Gaje. OOC. DLL..
.
.
Don't like Don't Read
.
.
.
... NOW I LOVE U...
.
.
Seharian itu Naruto hanya berdiam diri di kamarnya. Ia sama sekali tak ingin keluar dari ruangan pribadinya itu. Alasannya hanya karena ia tidak ingin bertemu Kyuubi. Hari itu saja ia benar benar tidak ingin bertemu dengan kakaknya itu. Ia tidak ingin kakaknya mengetahui semua kebohongan yang ada pada dirinya. Karena Naruto memang bukanlah orang yang pandai berbohong. Terlebih terhadap kakaknya yang entah mengapa selalu bisa dengan mudah mengetahui kebohongan orang lain. Mungkin kakaknya itu terlalu jenius jadi sangat mudah baginya untuk mengetahui sebuah kebohongan.
Haahh.. Naruto menghela napas mengingat kakaknya yang tak bisa dibohongi itu. Mata sapphire miliknya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang jauh pada kejadian semalam. Naruto sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
Haruskah ia marah karena Itachi telah merenggut kesuciannya? Tidak. Naruto menggelengkan kepalanya cepat. Bukankah ia sendiri yang sudah menggoda pria itu? Kenapa ia harus marah? Pikirnya.
Menangis dan menyesali perbuatannya? Tidak. Naruto bukan remaja lagi yang akan menyesali keputusannya kelak. Ia sudah cukup dewasa dan sadar dengan apa yang telah ia lakukan.
Naruto kembali menghela napas saat tidak mendapatkan jawaban apapun. Matanya masih tertuju pada langit-langit kamarnya. Pertanyaan lain muncul -kira apa yang akan Sasuke dan Kyuubi lakukan jika mereka tahu kalau dirinya dan Itachi sudah tidur bersama semalam.
Sasuke? Naruto ragu kalau ia akan peduli pada dirinya. Meskipun mereka sudah berteman belasan tahun tapi bagi Sasuke dirinya bukanlah siapa-siapa. Melainkan hanya seorang teman saja.
Kyuubi? Sudah dipastikan ia akan mengamuk dan mungkin saja akan menghajar Itachi habis-habisan. Tak peduli jika pria itu adalah orang yang dicintainya. Jika sudah menyangkut adik kesayangannya Kyuubi sudah tidak akan memperdulikan apapun lagi.
Tapi semua yang Naruto lakukan semalam kan hanya pelampiasan saja. Mereka sama-sama terluka karena tidak bisa memiliki orang-orang yang mereka cintai. Dirinya yang tidak bisa memiliki Sasuke karena pria itu sudah menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri. Dan Itachi yang tidak bisa memiliki kakaknya Kyuubi pria yang dicintainya karena sudah menjadi milik wanita lain.
Naruto tersenyum miris. Itachi mungkin lebih baik darinya. Meskipun ia tidak bisa memiliki pria yang dicintainya akan tetapi ia masih sempat merasakan dicintai oleh pria yang dicintainya. Ya.. Namikaze Kyuubi juga mencintai Uchiha Itachi. Mereka hanya dua pria yang saling mencintai namun tidak beruntung karena keadaan. Cinta sejenis yang masih tabu dikalangan masyarakat membuat mereka tidak bisa bersama. Ditambah lagi mereka adalah putra pertama yang merupakan penerus dua keluarga terpandang. Tentu saja memiliki tanggung jawab yang besar pada keluarganya.
Dan Minato ayahnya lah yang menyadari penyimpangan yang terjadi pada putra sulungnya itu. Karena itu ia memutuskan untuk menikahkan putra sulungnya dengan putri salah satu rekan bisnisnya. Dari situ lah semua kekacauan ini terjadi.
Sementara Naruto. Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Sasuke hanya menganggapnya sahabat dan tidak lebih. Terlebih lagi pria itu sudah memiliki wanita yang dicintainya. Itulah kenyataan pahitnya.
Naruto terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Tidak menyadari seseorang yang sudah masuk kedalam kamarnya dan duduk di meja belajarnya. Orang itu terus memperhatikan Naruto yang sedang berbaring sambil terus menatap langit-langit kamarnya. Ia sangat tahu kalau saat ini pikiran gadis berambut pirang itu sedang berkelana jauh.
" Apa yang sedang kau pikirkan Dobe?"
Suara baritone yang sangat ia kenali membuatnya tersentak dan kembali dari lamunannya. Naruto menolehkan kepalanya cepat kearah sumber suara itu.
" TEME! Sejak kapan kau berada dikamarku? Dan bagaimana kau bisa masuk kedalam kamarku?" pekik Naruto dengan berbagai pertanyaannya. Ia segera merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Ditatapnya tak percaya pria yang sedang ia lamunkan tadi. Uchiha Sasuke adik dari Uchiha Itachi. Teman kampus dan masa kecilnya.
" Hn. Cukup lama untuk melihat wajah bodohmu saat melamun dan pintunya tidak dikunci." Jawab Sasuke dengan nada datarnya
" Lalu? Ada perlu apa kau datang kemari?" Naruto bertanya sambil memicingkan matanya menatap pria tampan dengan gaya rambut uniknya. Inikan hari minggu. Seharusnya pria yang ada dihadapannya ini sedang pergi berkencan dengan Hinata kan? Begitulah pemikiran Naruto saat itu.
Sasuke tidak menjawab tapi tangannya melemparkan sebuah buku yang cukup tebal kearah Naruto. Naruto refleks menangkap buku tebal yang dilemparkan Sasuke kearahnya.
" Apa ini?" Tanya Naruto sambil membolak-balik buku bersampul biru yang dipegangnya. Kemudian menatap Sasuke dengan tatapan tak mengerti.
" Buku referensi untuk tugas makalah dari Orochimaru sensei. Kau pasti belum mengerjakannya kan?" Jawab Sasuke. Seringai meremehkan terukir diwajah tampannya saat mengucapkan kalimat terakhir.
" Ah.. Aku tidak tahu kalau kau bisa seperhatian ini kepadaku. Teme." Ujar Naruto dengan nada menggoda sambil tersenyum kearah Sasuke. Sementara Sasuke hanya mendengus mendengar perkataan Naruto.
Naruto membuka buku yang dipegangnya. Ia hanya membuka halaman demi halaman buku tersebut tanpa membacanya. Sementara Sasuke hanya menatap datar Naruto yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
" Aku melihatnya." Ujar Sasuke tiba tiba menatap datar Naruto.
" Eh?" Naruto mendongak dan menatap pria di hadapannya.
" Kau keluar bersama Aniki dari pesta semalam." Jelas Sasuke meraih sebuah buku yang tergeletak dimeja belajar Naruto. Ia membenarkan posisi duduknya. Punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Dibukanya buku yang merupakan komik itu dan mulai membaca.
" Oh. Itu. Kami hanya mencari udara segar saja. Kau sendiri kan tahu Teme. Kalau aku tidak terlalu suka pesta. Karena itu aku mengajak Itachi-nii keluar." Jawab Naruto panjang lebar dan sekarang ia duduk ditepi ranjangnya.
"Kenapa tidak mengajakku saja?" Tanya Sasuke mengubah kembali posisi duduknya dan sekarang menghadap kearah Naruto.
" Kau itu terlalu sibuk dengan putri putri para pengusaha itu Teme. Aku malas berurusan dengan mereka jika mengajakmu keluar." Jawab Naruto.
" Apa kau tahu kalau Itachi baru pulang tadi pagi? Setelah kalian keluar dari pesta." Tanya Sasuke dengan nada datarnya namun terasa dingin. Naruto hanya diam dan menatap datar pria yang dicintainya itu. Sasuke beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Naruto.
" Kau itu sahabatku Naruto. Dan aku tidak mau kau dimanfaatkan oleh kakakku sendiri." Ujar Sasuke sebelum menghilang dari balik pintu kamar Naruto. Sementara Naruto menatap datar pintu kamarnya yang telah tertutup. Tempat dimana pria yang dicintainya menghilang dari pandangannya.
" Sahabat?" Wajah Naruto tertunduk dalam saat mengucapkan kata itu. Senyum miris tercetak jelas diwajahnya.
"Apa hanya sebatas itukah arti diriku bagimu Sasuke?" Lanjutnya.
" Memanfaatkan ku. Huh?" Naruto mendengus tak terlihat seperti apa ekspresi wajahnya sekarang.
" Kau salah Sasuke. Akulah yang memanfaatkan kakakmu." Ujarnya pada udara kosong. Naruto mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya Cairan bening menetes dari sudut matanya.
" Ah. Tidak. Kami berdua yang saling memanfaatkan." Lanjutnya dan sebuah senyuman getir terpatri di wajah cantiknya.
Hari itu pun berakhir. Bagi Itachi dan Naruto itu adalah hari yang paling melelahkan bagi mereka. Bukan lelah fisik. Melainkan mental dan pikiran mereka. Semua menjadi rumit dan tidak terkendali. Tapi mereka berdua tetap berusaha untuk menatap kedepan. Berharap masih ada setitik kebahagiaan untuk mereka.
.
~~Now I Love U
.
Tak terasa hari telah berganti. Semua orang telah kembali pada kesibukan mereka masing-masing mengingat hari libur telah berlalu. Begitu juga dengan kesibukan disebuah gedung perkantoran.
Sepasang kaki jenjang yang berbalut sepatu pantofel hitam mewah yang mengkilat. Melangkah menghentak lantai keramik yang menimbulkan bunyi yang menggema lorong perkantoran.
Pria jangkung berambut merah kejinggaan dengan mata berwarna ruby itu hanya memasang wajah datar. Pria bernama Namikaze Kyuubi itu menghentikan langkahnya disebuah pintu yang bertuliskan DIREKTUR UTAMA.
Ia menoleh kearah perempuan yang duduk disebuah meja yang berada disamping ruangan tersebut. Tanpa berkata sepatah katapun wanita itu sudah mengerti maksud dari pria bermata ruby. Segera saja ia meraih gagang telepon yang berada disamping mejanya. Ditekannya angka yang menjadi tujuannya. Tak berapa lama perbincangan singkat wanita yang merupakan sekretaris itu bersama seseorang diujung telepon pun terjadi.
Setelah menutup kembali sambungan telepon. Wanita itu keluar dari mejanya menuju pria bersetelan jas mahal yang sedari tadi berdiri didepan pintu jati.
" Direktur sudah menunggu anda didalam Namikaze-san." Ujar wanita itu sambil membungkuk hormat dan membukakan pintu untuk pria yang dipanggil Namikaze-san itu.
" Hn." Gumam Kyuubi melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.
Mata ruby-nya menangkap sosok yang dipanggil Direktur oleh sekretaris tadi sedang duduk di kursi kebesarannya. Onyx dan ruby itu bertemu. Mata rubynya tak pernah lepas dari onyx milik pria yang sedang duduk dikursinya yang juga sedang menatapnya.
Sorot mata datar namun jika dilihat lebih dalam terdapat rasa rindu dan luka yang tak terungkap dibalik iris berbeda warna itu.
Kyuubi kemudian mendudukkan dirinya disebuah kursi yang berada didepan meja. Dan merekapun duduk saling berhadapan yang hanya terpisah oleh sebuah meja persegi.
Onyx milik pria yang bernama Uchiha Itachi itu tak pernah lepas dari pria yang sekarang duduk dihadapannya.
Kyuubi meletakkan sebuah map berwarna coklat yang tadi dibawanya di atas meja. Membuat onyx itu teralihkan dan menatap map coklat yang ada diatas meja kerjanya. Itachi meraih map yang tergeletak diatas meja kerjanya. Dibukanya map tersebut dan dibacanya sebentar kertas berwarna putih dari dalam map itu. Kemudian ia masukkan kembali kertas itu kedalam map. Dan onyxnya pun kembali menatap pria yang duduk dihadapannya.
" Aku pikir kau akan mengambil cuti untuk berbulan madu Kyuu." Kata Itachi menatap datar pria yang sudah berstatus suami orang beberapa hari yang lalu. Hatinya kembali berdenyut ketika mengingat kenyataan itu.
" Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan." Ujar Kyuubi dengan nada datarnya. Ia juga menatap datar pria dihadapannya. Dadanya juga ikut berdenyut nyeri ketika ia menyadari mereka sudah tidak bisa seperti dulu lagi.
" Aku merindukanmu Kyuu." Kata kata itu keluar begitu saja dari bibir pria bermarga Uchiha itu. Tatapan datarnya berubah menjadi sendu. Sorot kerinduan itu juga terpapar jelas di onyx kelam miliknya.
Tatapan lembut Itachi kepadanya tidak membuat tatapan datar pria bermarga Namikaze itu ikut melembut. Kyuubi masih menatap datar pria yang duduk dihadapannya. Setelah mendengar apa yang keluar dari mulut pria itu.
" Aku datang kesini hanya untuk mengantarkan berkas penting itu saja." Kyuubi beranjak dari kursi yang didudukinya.
" Karena urusan ku sudah selesai. Aku akan pergi." Lanjutnya kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. Sementara Itachi hanya menatap nanar punggung pria yang semakin jauh darinya.
Kyuubi berhenti sepersekian detik didepan pintu sambil memegang knop pintu.
" Aku juga merindukanmu, Tachi." Gumamnya sangat lirih menyerupai bisikan yang tak mampu didengar oleh seseorang yang dimaksud. Yang juga berada didalam ruangan itu.
Kyuubi kemudian membuka pintu dan keluar dari ruangan dan juga penglihatan Itachi. Meninggalkan Itachi yang menatap kosong pintu yang menelan sosok terkasihnya.
Setelah bertemu dengan Kyuubi pikirannya pun menjadi kacau. Ia sudah tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya dengan baik. Beberapa kali ia melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Cinta memang mampu membuat seseorang menjadi kacau dan berantakan. Setidaknya itulah yang Itachi rasakan saat ini.
Itachi pun memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantornya. Ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di kamar pribadinya. Melanjutkan pekerjaan kantor pun akan sangat percuma saja saat pikirannya sendiri sedang kacau seperti sekarang. Karena itu Itachi akhirnya pulang lebih awal dari biasanya. Ia sudah tidak memperdulikan pekerjaan yang menumpuk itu. Ia hanya ingin beristirahat dan menenangkan hatinya yang kacau dan berantakan setelah bertemu pria yang dikasihinya.
.
~~Now I Love U
.
Sore itu Naruto melangkahkan kakinya ringan menuju sebuah rumah mewah bergaya Eropa. Rumah yang sudah sering ia kunjungi ketika ia masih kecil hingga sekarang. Rumah yang merupakan kediaman Uchiha itu juga sudah tidak asing dengan sosok gadis periang yang sekarang sedang berjalan di halaman yang bisa dibilang luas.
Sesampainya di dalam rumah semua para pelayan yang sudah sangat mengenal gadis periang itu membungkuk hormat dan memberi salam pada Naruto. Naruto pun membalasnya dengan senyuman ramah miliknya. Ia terus berjalan kedalam rumah yang sudah sangat ia kenali setiap sudutnya.
Langkahnya terhenti diruang keluarga. Ketika mata sapphire miliknya melihat sosok wanita paruh baya berambut hitam panjang sedang duduk di sofa yang menghadap kearah televisi. Sepertinya sedang menonton tv. Pikiran seperti itulah yang muncul dibenaknya.
Naruto kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menghampiri wanita paruh baya yang sangat ia kenali sebagai ibu dari Uchiha Brothers.
" Hai Bibi.." Sapa Naruto dengan nada cerianya. Senyum merekah dibibir tipisnya. Ia kemudian duduk di pegangan sofa disamping Mikoto.
" Oh.. Hai Naru-chan." Balas Mikoto dengan senyum lembut khas seorang ibu.
" Bibi sedang menonton apa?" Tanya Naruto kemudian mengarahkan pandangannya ke sebuah televisi besar yang berada di depan sofa yang mereka duduki.
" Hanya menonton drama Korea kesukaan Bibi. Naru-chan pasti ingin menemui Sasuke-kun kan?" Jawab Mikoto dan kemudian balik bertanya pada Naruto. Naruto mengangguk cepat sambil tersenyum.
" Apa Sasuke ada Bi?" Tanya Naruto kemudian.
" Ada dikamarnya. Kau temui saja Naru-chan." Jawab Mikoto yang kembali menonton Drama ditelevisi.
" Kalau begitu Naru permisi dulu Bi. Naru akan menemui Sasuke dikamarnya." Mikoto hanya mengangguk mendengar ucapan Naruto.
" Eh. Sepertinya aku melupakan sesuatu." Gumam nyonya rumah keluarga Uchiha itu sambil memegang dagunya dengan telunjuk. Setelah Naruto pergi dari tempat itu.
" Sudahlah." Lanjutnya menggedikkan bahunya. Nyonya Uchiha itu kembali memfokuskan pandangannya pada televisi yang masih menayangkan Drama Korea kesukaannya.
Naruto kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Sasuke yang berada dilantai dua. Kaki kecil yang berbalut sendal rumah (viz ga tau namanya apa) menapaki tangga satu persatu menuju lantai dua. Setelah sampai dilantai dua ia melanjutkan langkah kakinya melewati lorong menuju kamar Sasuke yang sangat ia hapal.
Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka cukup lebar. Pintu kamar yang sangat Naruto ketahui siapa pemiliknya. Tubuhnya menegang ketika melihat apa yang terjadi didalam kamar itu.
Didalam kamar itu ia bisa melihat Sasuke yang memunggunginya sedang menundukkan kepalanya. Sepasang lengan putih melingkar dilehernya. Naruto juga melihat kepala dengan rambut indigo menyembul dari bahu kekar Sasuke. Ia sangat mengenali pemilik rambut indigo itu. Sahabatnya dan juga kekasih dari pria yang dicintainya yang juga sahabatnya. Sasuke dan Hinata. Dengan posisi seperti itu meskipun Naruto tidak melihatnya secara langsung. Tapi ia tahu apa yang sedang mereka lakukan saat itu. Apalagi kalau bukan berciuman.
Tentu saja posisi seperti itu adalah posisi berciuman. Setelah menyadari apa yang sedang dua orang berbeda gender itu lakukan. Lengan Naruto meremas pakaian bagian depan dimana jantungnya terletak. Dadanya sakit dan sesak melihat pria yang kita cinta berciuman dengan wanita lain. Tapi apa haknya? Dia bukan siapapun. Dia tidak bisa marah ataupun melabrak dua orang yang sangat penting baginya itu.
Wajah Naruto tertunduk dalam. Tangan kanannya masih meremas pakaian dibagian dadanya.
Pintu yang berada disamping kamar Sasuke terbuka. Dari balik pintu kamar yang merupakan kamar Itachi itu keluarlah si pemilik kamar yang tak lain si sulung Uchiha. Setelah menutup pintu kamarnya Itachi berbalik dan menatap Naruto yang berdiri dengan wajah tertunduk didepan kamar adiknya yang terbuka.
Itachi pun melangkahkan kakinya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di kamar adiknya itu. Sehingga membuat gadis bersurai pirang diam termangu ditempatnya. Itachi pun akhirnya tahu apa yang menyebabkan gadis itu termangu ditempatnya. Melihat orang yang kita cintai berciuman dengan orang lain tentu saja sangat menyakitkan.
Itachi pun menghampiri Naruto yang masih menunduk dalam. Langkahnya berhenti tepat dihadapan gadis bersurai pirang itu. Naruto yang menyadari adanya seseorang berdiri dihadapannya. Mendongakkan kepalanya menatap siapa yang sedang berdiri dihadapannya.
" Itachi-nii..." Gumam Naruto setelah melihat pria yang berdiri dekat dihadapannya. Ia dapat melihat Itachi yang mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atasnya yang terbuka juga celana hitam bahan panjang berwarna hitam. Sepertinya ia baru pulang dari kantor dan belum sempat mengganti pakaiannya.
Itachi tak menjawab. Ia kemudian menundukkan kepalanya dan mencium bibir plum Naruto. Naruto membelalakkan matanya setelah mendapatkan perlakuan Itachi yang tiba tiba menciumnya. Namun kemudian ia perlahan-lahan menutup sapphire nya dan menikmati ciuman itu. Naruto sadar saat ini memang inilah yang dibutuhkannya. Pengalihan dari rasa sakit yang baru saja ia rasakan saat melihat pria yang dicintai berciuman dengan wanita lain. Ciuman Itachi membuatnya sejenak melupakan sesak didadanya.
Begitupun dengan Itachi yang saat ini juga sedang merasa kacau. Entah mengapa ia membutuhkan gadis dihadapannya ini. Untuk melepaskan rasa sesak didadanya setelah bertemu lagi dengan pria yang dicintainya. Ciuman itu terasa menenangkan baginya. Sejenak ia juga melupakan perasaan sesak yang tadi hinggap di dadanya.
Itachi melepaskan pagutan bibirnya di bibir Naruto. Ia bisa melihat wajah Naruto yang memerah dengan napas yang tersengal-sengal setelah ciuman itu.
" Kita pergi dari sini. Sekarang!" Bisik Itachi ditelinga Naruto. Naruto mengangguk lemah sebagai jawaban.
Itachi meraih pergelangan tangan Naruto dan menuntunnya beranjak dari tempatnya berdiri.
Sasuke dan Hinata baru saja keluar dari kamarnya. Sejenak Sasuke menghentikan langkahnya saat melihat kepala berwarna kuning berbelok menuruni tangga bersama seorang pria yang sangat dikenalnya. Sasuke juga sangat tahu siapa sipemilik rambut dengan warna yang mencolok itu.
"Ada apa Sasuke-kun?" Hinata yang berjalan disamping Sasuke pun ikut menghentikan langkahnya dan bertanya pada pria yang merupakan kekasihnya itu.
Sasuke tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada dua orang berbeda gender yang mulai menjauh dari penglihatannya. Hinata yang tidak mendapatkan jawaban dari pria disampingnya. Kemudian mata amethysnya mengikuti arah pandangan pria itu.
" Bukankah itu Naru-chan? Dia bersama Itachi-nii? Mereka mau pergi kemana?" Ujar Hinata setelah mengetahui siapa orang yang sedari tadi menjadi pusat perhatian kekasihnya.
" Ayo turun. Aku akan mengantarmu pulang." Sasuke kemudian meraih tangan Hinata dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Hinata hanya diam dan membiarkan kekasihnya menggandeng tangannya. Wajahnya sudah memerah ketika tangan kekar milik Sasuke menggenggam tangannya.
.
~~Now I Love U
.
Semenjak keluar dari kediaman Uchiha. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir dua insan berbeda gender yang sekarang sedang duduk di kursi taman kota yang cukup sepi. Baik Itachi maupun Naruto masih terdiam dan menikmati keheningan ini. Sampai ketika si pria mendongakkan kepalanya dan menatap langit yang sudah berubah jingga dan sebentar lagi malam akan tiba.
" Sebaiknya aku mengantarmu pulang sekarang. Naru." Ujar Itachi menoleh kearah Naruto yang masih menundukkan kepalanya. Naruto mendongak dan menatap Itachi.
" Hari sudah malam. KeluargaMu pasti mengkhawatirkan mu Naru." Lanjutnya kemudian beranjak dari tempat yang didudukinya. Di ulurkannya tangan besar miliknya kearah Naruto.
Naruto menatap kosong tangan yang terulur kearahnya. Ia kemudian mendongakkan kepalanya menatap Itachi langsung di onyx kelam miliknya. Naruto meraih tangan Itachi yang terulur dan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
" Sebelum pulang. Bisakah Itachi-nii mengantar Naru ke suatu tempat?" Tanya Naruto kemudian.
Itachi hanya mengangguk dan menuruti permintaan Naruto. Ia lajukan sedan hitam miliknya menyusuri jalanan menuju tempat yang Naruto tuju.
.
Dan disinilah ia sekarang.
Disebuah bar yang cukup ramai. Ia tidak minum ataupun melakukan apapun yang biasa orang lain lakukan di klub malam. Itachi hanya menemani dan memperhatikan gadis yang memintanya untuk pergi ketempat ini.
Dua jam sudah mereka berada disini. Sejak mereka datang Naruto langsung saja meminum minuman beralkohol pesanannya.
Itachi sudah berulang kali memperingatkan Naruto untuk tidak meminum minuman itu. Tetapi Naruto sama sekali tidak menggubrisnya. Dan gadis itu terus saja meminum minuman yang memabukkan itu. Dan hasilnya sekarang Naruto sudah benar benar mabuk berat.
" Cukup Naru! Kau sudah sangat mabuk sekarang!" Itachi mengambil gelas minuman Naruto yang hendak ditenggaknya.
" Kembalikan..hiks.. Itachi-nii! Itu.. Hiks minuman Naru!" Naruto berusaha menggapai minuman yang tinggal setengah yang berada ditangan Itachi.
" Kita pulang sekarang. Naru!" Ujar Itachi tegas dan kemudian meletakkan gelas yang dipegangnya ke meja bar. Tangan kanannya meraih pergelangan tangan Naruto.
" TIDAK MAU!" Teriak Naruto menepis tangan Itachi yang hendak membawanya pergi. Naruto dengan cepat mengambil gelas yang isinya tinggal setengah itu dan kemudian menenggaknya hingga habis.
" Itachi.. Hiks..-nii. Kalau tidak mau.. Hiks.. Menemani Naru.. Hiks.. Pulang saja." Racau Naruto ditengah melangkah mendekati Naruto.
" Aku akan pulang.." Ujarnya
" Bersamamu." Lanjutnya menggendong Naruto dengan gaya bridal.
Naruto sempat meronta saat Itachi mengangkat tubuhnya. Namun dirinya yang tengah mabuk berat membuat tenaganya sama sekali tidak terasa bagi Itachi. Itachi terus menggendong Naruto dengan gaya bridal hingga keluar dari klub malam itu sampai ke tempat parkir.
Itachi mendudukkan tubuh Naruto dikursi depan disamping kursi pengemudi. Ia pakaikan sabuk pengaman terlebih dulu dan kemudian ia tutup pintu mobil itu. Setelah itu ia berjalan menuju pintu yang satunya. Ia dudukan dirinya dikursi penumpang. Setelah ia memakai sabuk pengaman. Itachi langsung melajukan mobilnya menembus jalanan dimalam hari.
Itachi melirik kearah jam tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kemudian onyxnya melirik kearah gadis yang tengah tertidur karena mabuk. Ia tidak mungkin mengantarkan Naruto malam-malam dalam keadaan mabuk pula. Itachi pun kemudian memutar stir kemudinya menuju tujuan yang lain selain rumah Naruto dan rumahnya.
Dan disinilah ia berakhir. Dihotel yang sama saat mereka menghabiskan malam bersama dimalam pernikahan Kyuubi. Namun malam ini Itachi sudah berjanji untuk tidak menyentuh gadis dalam gendongannya lagi.
Direbahkannya tubuh Naruto yang tertidur di ranjang hotel. Ditariknya selimut untuk menyelimuti tubuh mungil Naruto. Itachi menatap lekat wajah Naruto yang tengah tertidur. Wajahnya begitu damai seolah gadis ini tidak memiliki beban sama sekali. Berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan begitu peliknya perasaan yang harus dirasakan gadis ini. Sama seperti dirinya.
Itachi berbalik dan hendak melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tidur. Namun baru selangkah ia berjalan sebuah tangan kecil menarik lengannya dan membuat langkahnya terhenti. Ia pun menoleh dan menatap sipemilik tangan.
Itachi menatap Naruto yang tengah menatapnya.
" Jangan pergi!" Ujar Naruto dengan nada yang lirih namun masih bisa didengar oleh Itachi.
" Jangan tinggalkan Naru sendiri!" Lanjutnya masih menatap lekat pria yang berdiri dihadapannya.
" Naru mohon.. Itachi-nii." Setetes airmata meluncur dari sapphire miliknya. Itachi kemudian beranjak dan mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang.
" Kau tidak perlu khawatir Naru.." Ujarnya menghapus airmata Naruto dengan ibu jarinya.
" Aku disini." Dikecupnya mata Naruto yang basah karena airmata.
Itachi kemudian menyibakkan selimut dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang disamping Naruto. Ia tarik kembali selimut yang tadi turun untuk menyelimuti tubuhnya dan Naruto. Ia rengkuh tubuh gadis yang berbaring disampingnya kedalam pelukannya. Naruto pun menyamankan dirinya dalam pelukan si sulung Uchiha itu. Ia tenggelamkan wajahnya di dada bidang Itachi.
Hangat. Itulah yang dirasakannya. Mereka memang membutuhkan kehangatan itu. Dan mereka membutuhkan satu sama lain untuk berbagi kehangatan itu. Mereka sudah tidak peduli siapa yang mereka cintai sesungguhnya. Mereka hanya ingin seperti ini saat mereka benar benar terpuruk karena sebuah perasaan yang dinamakan cinta.
.
.
.
Tbc..
.
.
.
Whoaaaaa...
Update kilat lagi?
Ini semua juga berkat para reader fict ini. Viz jadi semangat deh buat nulis.. Ditambah ide fict ini emang lagi numpuk di otak Viz.. Makanya harus dikeluarkan.. Hehe :D
Oia di review juga banyak yang nanya.
Apa Sasuke itu punya perasaan ama Naruto? Jawabannya ada dichapter klimaksnya. Jadi tunggu aja y.. Hehe :D
Terus ada juga yang nanya. Apa Kyuubi juga punya perasaan sama Itachi? Jawabannya sudah terjawab di chapter ini.
Gimana menurut minna-san?
Makin gaje kah? Atau jelek?
Oia.. Bocoran buat chapter berikutnya bakal ada lemon ItaNaru lagi lho (*dasar author mesum)
Terima kasih banyak buat yang udah mau nge-fav, follow dan review fict gaje buatan Viz ni... *bungkuk90derajat
Semoga kalian suka.. :)
Jangan lupa review ya.. :)
