Total Eclipse Of The Heart
by. Swag Usagi
SasuHina Fict
Naruto belong to Masashi Kishimoto.
.
.
Itachi dan Konan berjalan menuruni tangga, terlihat raja dan ratu serta sang pangeran kedua tengah menyantap makan malam mereka. Dua sejoli itu langsung ikut bergabung dan menempati kursi yang masih kosong.
"Kalian ini, sering sekali terlambat." keluh sang ratu.
"Okaa-san, salahkan anakmu itu. Pasti dia memaksa Konan melakukan yang tidak-tidak." kata Sasuke, tangannya masih memotong daging steak di piringnya. Itachi melirik sebal adiknya.
"Lalu masalahnya dimana? Konan adalah mate ku, jika kau lupa." Konan tersenyum tipis.
"Ne, Sasuke-kun! Bukankah kau harusnya membawa mate mu?" tanya Konan berniat menjahili Sasuke. Fugaku dan Mikoto menoleh cepat ke arah Sasuke meminta penjelasan. "Kau sudah menemukan mate mu?" seru sang ayah terkejut.
"Lalu kenapa kau tak membawanya menemui kami?" lanjut ayahnya.
"Hn.."
"Ibu senang, ibu akan memiliki menantu baru!" Mikoto terlihat antusias. Sasuke menipiskan bibir. Matanya memandang Itachi dan Konan bergantian, mendengus kesal karena mendapati kedua orang itu tengah tersenyum jahil ke arahnya.
"Hn.."
BRAAKK
"SASUKE-NII!" pintu terbuka lebar, menampilkan sesosok remaja laki laki tampan yang kelewat energic. Memasang senyum selebar mungkin dan berlari ke arah meja makan.
"Onii-chan, Itachi-nii bilang kau sudah menemukan mate mu? Dimana dia.. Mana mana? Aku ingin melihatnya!"
"Duduklah dulu Obito! Kami juga baru menanyakan hal yang sama padanya." ucap Mikoto. Obito menoleh ke arah suara.
"Ah, Hallo! Paman, bibi! Halo juga Itachi-nii, Konan-nee!"
"Hallo, Obito." balas Konan. Lalu Obito mengambil kursi tepat di samping Sasuke, alasan utamanya untuk datang ke kediaman paman dan bibinya.
"Jadi, Sasuke-nii. Ceritakan padaku.. ehm maksudnya kami." ucapnya meminta penjelasan yang dinanti juga oleh kedua orang tua Sasuke.
"Hn. Gadis itu berbeda dengan kita." sang raja mengerutkan alis bingung, sedangkan Itachi tersenyum penuh arti.
"Hmh?." tanya Obito.
"Dia, seorang peri." seluruh makhluk yang berada di ruang makan dibuat terkejut dengan pernyataan putra bungsu raja vampire itu, tak terkecuali para maid yang bertugas di sekitar ruang makan. Bahkan Obito menjatuhkan gelas yang berisi susu coklat di tangannya. Sedangkan Itachi hanya mengangkat bahu dan melanjutkan acara makannya, begitu pula dengan kekasihnya.
"N-nii-san.."
Sang ratu mengerjapkan matanya, mencoba lepas dari keterjutan yang membelenggunya beberapa saat lalu. Berdeham kecil.
"Ha-ha, apa.. dia cantik?" Sasuke mengerutkan keningnya, apa ibunya tak mendengar bahwa dia baru saja mengatakan bahwa gadis yang akan menjadi mempelainya adalah seorang elf? Apakah ibunya, setuju?
"Ibu tak keberatan?" kata Sasuke.
"Untuk apa? Asal kau bahagia, apapun keputusanmu kami akan mendukungnya. Bukan begitu suamiku?" ujar sang ratu seraya menyikut bahu suamiya yang sepertinya belum tersadar dari keterjutannya. "Hn. Ibumu.. benar."
"Hahaha, sepupu. Kau benar benar hebat. Apa kau sudah tahu siapa gadis itu? Siapa namanya?" pemuda itu mencoba mencairkan suasana yang berubah menjadi canggung.
"Hinata Hyuuga, putri Hiashi Hyuuga. Dan...tunangan Sabaku Gaara, pangeran negeri elf."
"Sepupu, kau sinting!" seru Obito.
Sasuke hanya mengangkat bahunya asal.
"Ya, kurasa. Tapi aku tak peduli. Aku akan membawanya ke istana ini saat bulan baru, dengan sukarela ataupun terpaksa." kemudian pangeran kedua negeri itu tersenyumkecil, senyum iblis yang sudah lama tak terlihat dari bibir sexy-nya.
"Tapi, ini akan menjadi masalah besar. Kau pasti sudah tahu resikonya kan Sasuke?" Fugaku menatap anaknya serius.
"Kau bukan hanya akan terlibat dengan kaum elf, kaum werewolf juga pasti akan ikut memburumu. Apa kau sadar akan hal itu?" tambahnya lagi.
"Paman benar, apalagi kakaknya. Neji Hyuuga pasti akan mencincangmu menjadi serpihan kaca, sepupu." Sasuke memberikan deathglare pada sepupunya yang berkata tanpa disaring terlebih dulu.
"Jadi, kau pikir aku itu lemah begitu?" ucap Sasuke sinis.
"Hmh, Neji Hyuuga ya." Itachi akhirnya angkat suara, sang ratu mengalihkan atensinya kepada putra sulungnya.
"Apa kalian sudah tahu perihal mempelai adikmu?" tanya sang ratu.
"Bu, kami kan punya penglihatan istimewa. Apa kau lupa itu?" kata Konan lembut.
"Tapi kurasa akan ada satu masalah." Sasuke menatap keluarganya satu persatu. Obito mengangkat sebelah alisnya seolah berkata 'Apa?'.
"Bukankah, elf yang berhubungan dengan dengan vampire akan naik ke tiang gantung?"
Semua orang yang berada di meja makan saling berpandangan satu sama lain. Keheningan menyelimuti suasana yang ada, membiarkan setiap orang sibuk dengan pemikiran masing masing.
Gerah dengan suasana yang kembali canggung, membuat Mikoto memutuskan menyudahi keheningan dan mulai buka suara.
"Tadi kau bilang gadis itu putri Hiashi bukan?" tanyanya, yang dibalas anggukan kepala oleh putranya. Sang ratu berfikir sejenak lalu memandang ke arah suaminya dengan raut wajah serius.
"Kurasa kita bisa melakukan sesuatu untuk menolongnya. Gadis itu tak boleh berakhir di tiang gantung. Aku dan ayahmu akan menemui Dewan Agung dan mencoba bernegoisasi, tapi mungkin dia akan tetap diusir dari kaumnya." jelas sang ibu.
"Kita bisa menampungnya disini kalau begitu." usul Obito.
Dari seberang meja terdengar Konan menghela nafas. "Tapi para tetua tak akan tinggal diam jika makhluk sebangsa peri seperti mereka tinggal bersama kita Obito."
Obito mengerucutkan bibirnya, sedikit membenarkan ucapan gadis vampire itu.
Sasuke mengetuk ngetukkan jarinya ke atas meja, keningnya berkerut menandakan dirinya sedang berpikir keras memutar otak. Bunyi ketukan meja berhenti, sudut bibir Sasuke terangkat naik membentuk seringai.
"Kalau begitu, tak ada cara lain selain menikahinya, para tetua itu takkan mengganggu anggota kerajaan kan?" ujar Sasuke, membuat yang lainnya terbelalak kaget.
"Kau sudah gila? tunangannya akan membunuhmu dan akan menimbulkan perang besar!" protes ayahnya.
"Tidak akan ayah, percayalah. Ayah si pangeran itu tak akan membiarkan anaknya menikahi seorang mempelai vampire. Kalian tahu seberapa tinggi dia menjunjung harga dirinya? Hampir mengalahkan tingginya langit." jelas Sasuke, sedikit mengernyit jijik mengingat tabiat yang kelewat kolot sang raja elf.
Itachi menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya yang terlalu sesuka hatinya. Dia pikir memboyong calon mempelai penguasa elf itu semudah mengedipkan mata?
"Ya, karena aku adalah kakak yang baik. Biar aku urus anak tertua keluarga Hyuuga." Sasuke melemparkan seringainya pada Itachi kemudian melempar sebiji anggur di atas meja ke arah kepala kakaknya.
"Terima kasih." serunya.
"Lalu aku harus melakukan apa? Aku juga ingin membantu." kata Obito yang kini tengah menggembungkan pipinya. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, ia meletakkan tangannya di bawah dagu dan berpura pura berpkir.
"Ah, benar! Tunggu sebentar, biar kupikirkan dulu! Satu hal yang bisa kau lakukan adalah menjauhlah dari gadisku sejauh mungkin!" ujar Sasuke dengan menekankan kata 'gadisku'. Semua orang tak sanggup menahan tawanya, ditambah lagi raut wajah Obito yang menahan sebal membuat tawa mereka semua semakin meledak.
Tenten berdiri di balkon kamarnya, memandang ke atas langit yang berhias bulan purnama ditemani jutaan bintang yang berpendar cantik. Hembusan angin malam menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai surai cokelarnya. Tangannya merapat ke sisi tubuhnya, mencoba menghalau dinginnya angin malam yang menggigit. Benaknya tengah jauh melayang, badai menerpa hatinya yang gundah gulana.
Segala macam praduga berkecamuk di otaknya, memikirkan takdir yang menimpa Hinata. Dia mungkin bisa membohongi semua orang, tapi dia tentu akan kalah oleh waktu.
Waktu takkan bisa berbohong, tanda itu akan mengubah sosok Hinata menjadi vampire, dan jika tetua itu sampai tahu maka hukuman mati akan dipastikan jatuh untuk adik iparnya itu. Istri Neji itu menggigit bibirnya cemas, haruskah ia menyembunyikan Hinata? tapi apa alasan yang harus ia karang? Saat benaknya sibuk dengan berbagai macam pikiran yang bersliweran, sebuah tangan kekar melingkari pinggang rampingnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Neji, suaminya meletakkan kepalanya di bahunya.
"Bukan apa apa." sahut Tenten.
"Benarkah? Kalau begitu lebih baik kau masuk, tak baik untuk kesehatanmu." Tenten menurut dan membiarkan suaminya menuntunnya menuju kamar pribadi mereka.
.
.
.
Hinata memejamkan matanya, mencoba mengusir semua pikiran negatif dari benaknya. Gadis itu selalu berendam di air hangat dengan tambahan bunga lavernder sebagai aromaterapi saat pikirannya runyam. Seperti saat ini.
Hinata memutuskan untuk menyudahi acara berendamnya, bangkit dari bak mandinya dan menyambar selembar handuk lalu melilitkannya di sekitar tubuhnya.
Gadis itu melenggang keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju lemarinya. Dia memekik keras saat mendengar sesuatu di balik jendela kamarnya, dengan ragu ragu dia mencoba mengecek ke luar.
"Kyaa! K-kau menakuti tuan kelelawar." gumam Hinata.
.
.
Dia melepas handuk yang melilit di tubuhnya begitu saja dan berdiri di depan lemari bajunya. Setelah mengambil sepasang piama tidur ia kemudian mengenakannya satu persatu.
"Hah, nyamannya!" seru Hinata yang telah berbaring di ranjangnya. Dia teringat belum mengunci jendelanya, tapi niatnya itu ia urungkan ketika merasakan angin yang berhembus sejuk. Karena itu ia membiarkannya dan tertidur pulas di kasurnya.
Seekor kelelawar terbang melintasi jendela dan memasuki kamar Hinata. Bunyi 'plop' terdengar pelan di sunyinya ruangan, mengubah sosok kelelawar tadi menjadi seorang pemuda tampan berpakaian hitam.
"Gadis ceroboh." gumamnya, kakinya melangkah menuju ranjang dimana gadis itu terlelap. Sasuke berjongkok di samping ranjang, mensejajarkan tubuhnya menghadap wajah Hinata. Dia mengusap pelan pipi mulus gadis itu.
"Bagaimana bisa kau berganti pakaian di depan laki laki hah? Aku hampir saja tak bisa mengendalikan diri saat melihat tubuh polosmu. Kau bisa saja membangunkan sesuatu yang harusnya tak kau bangunkan." Sasuke menjawil gemas hidung Hinata.
Sasuke masih betah di tempatnya dan masih tetap dengan aktivitasnya memandangi wajah gadis itu, ia tersenyum tulus melihat damainya tidur matenya itu.
"Apa kabarmu, putri?" tanyanya, meski ia tahu bahwa gadis itu takkan merespon.
"Aku tak percaya adanya cinta pada pandangan pertama. Tapi jika obsesiku untuk memilikimu seutuhnya sejak pertama kali kita berjumpa bisa dikatakan jatuh cinta. Harus ku akui aku jatuh cinta padamu. Aku tak peduli kau siapa ataupun kau milik siapa, yang kutahu kau harus mau jadi milikku. Apa aku begitu egois? yah itu memang sudah sifatku." lanjut Sasuke masih bermonolog.
Dia berdiri dan memperhatikan piama Hinata yang tersingkap di bagian perut. Sasuke mendengus menertawakan piama dengan motif kelinci putih yang dipakai Hinata.
"Hm, pakaian ini jauh dari seleraku. Jika dibandingkan dengan wanita yang memakai lingerie tentu kau kalah sexy. Tapi kau justru terlihat lebih 'nakal' dibanding mereka, haha aku pasti sudah gila. Ya, aku sudah gila."
Sasuke mendudukkan dirinya di ranjang Hinata kemudian menggenggam tangan gadis itu. Dia mengambil selimut yang sudah tak beraturan bentuknya di dekat kaki gadis itu, kemudian menarik selimut itu dan memakaikannya ke tubuh gadis itu.
"Aku minta maaf, apa yang terjadi padamu nanti itu salahku. Tapi aku akan menjajikanmu satu hal, apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku. Aku takkan membiarkan mereka menyakitimu seujung rambut pun, jadi bisakah kau bersabar untukku?" ujar Sasuke. Dia bangkit dari tempatnya dan membungkukkan tubuhnya ke arah Hinata, kemudian mencium keningnya.
"Mimpi indah, aku akan berada dalam mimpimu." Sasuke mengubah wujudnya kembali ke wujud kelelawarnya. Terbang melalui jendela,dan dengan sedikit kekuatan sihirnya dia menutup jendela kamar Hinata.
Sang mentari telah terbit di ufuk timur, mengucapkan selamat pagi melalui sinar hangatnya. Membuat para burung bercicit senang dan mulai menyanyikan lagu pagi hari. Sang surya tak pelit untuk membagi sinar kehangatannya ke kamar Hinata, masuk melalui celah celah kecil di balik tirai. Nyanyian burung burung yang bertengger mesra di balik jendelanya seakan menjadi alarm yang menjemputnya dari alam mimpi.
"Eunghh.." gadis itu merentangkan tangannya selebar mungkin seraya menguap lebar dengan netra yang masih tertutup.
"Sudah pagi rupanya." Hinata menyingkap selimutnya, dan berjalan menuju kamar mandi.
Dia melirik ke arah jendelanya, jendelanya terkunci rapat. Hinata mengerutkan keningnya dan berfikir sejenak.
"Aneh, kupikir semalam aku membiarkan jendela ini terbuka. Apa mungkin semalam ada yang masuk ke kamarku?" tanyanya bingung, kemudian setelah beberapa saat dia tersenyum. "Mungkin Tenten-nee."
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, ia menemukan kakak iparnya yang tengah menyiapkan seragamnya. Dia memberikan senyum manisnya pada Tenten.
"Ohayou, Tenten-nee!" sapanya.
Tenten membalas senyumnya, "Ohayou, Hinata. Seragammu."
"Ah, H-harusnya kau tak perlu repot-repot. Letakkan saja disitu." Hinata menunjuk ke arah ranjangnya.
"Hinata.."
"Ya,"
"Kau baik baik saja?" tanya Tenten.
"Ehm maksudku, tanda itu. Apa tak terjadi sesuatu?" Tenten memperjelas pertanyaanya. Sesungguhnya ia merasa tak enak hati menanyakannya. Dia khawatir Hinata akan merasa tersinggung, tapi dia sangat mencemaskan Hinata.
"A-aku baik baik saja, meskipun terkadang ada sedikit rasa nyeri yang menjalar di bahuku. T-tapi hanya sesaat, selain itu tak ada yang terjadi. K-kau tak perlu khawatir."
Bohong. Bukan sedikit tapi sangat sakit, bahkan dia merasa bahunya terasa seperti terbakar. Tapi dia tak ingin membuat kakak iparnya itu cemas, oleh karena itu ia mencoba tersenyum lebar di depan Tenten.
"Hinata, apa kau tahu..tanda itu..tanda itu mungkin saja bisa merubahmu menjadi..vampire.."
Hinata mengangguk, Tenten membungkam mulutnya dengan jari jemarinya. Matanya berkaca kaca siap menumpahkan air mata. "Hinata.." Tenten beringsut memeluk Hinata.
"Hinata! Kau tak boleh menjadi vampire, tak boleh!" Tenten histeris, membuat Hinata ikut menangis sambil memeluk tubuh Tenten.
"Apa yang kalian bicarakan? Apa maksudmu Hinata berubah menjadi vampire?" ujar seseorang di ambang pintu dengan nada dingin.
Kedua wanita itu terpaku di tempatnya, mereka tahu siapa pemilik suara itu.
"N-neji-nii."
To Be Continue..
A/N :
Naaaah, adakah yang rindu sama saya? Haha oke oke saya tau ga ada, jangan bully saya please.
Ini pertama kalinya saya update setelah sekian lama, berapa lama? Saya juga udah sampe bulukan ini mojok terus tanpa progress.
Mungkin ada yang baca Serenade? Sudah up lagi loh.
Saya ingin berterima kasih kepada para reader yang terkadang masih nungguin fict saya. Selama dua tahun ada beberapa notif yang masuk dan bersyukur ternyata kalian masih notice fict saya.
Kedepannya, semoga saya masih terus main disini yhaaa ^^
Sampai jumpa di chapter berikutnya..
