Hetalia: Axis Powers © Hidekaz Himaruya. Tidak mengambil keuntungan materiil dari pembuatan fanfiksi ini.
catatan: (1) sudut pandang orang pertama hong kong. (2) female! hong kong. nggak tahu kenapa saya lebih suka bayangin hong kong versi perempuan dan dia adik yang diperebutkan kakak-kakak laki-lakinya (...). (3) canon. saya lagi ngebetahin diri di fandom ini demi persiapan sbmptn juga kray. (4) karakter tambahan: japan.
Ada yang aneh di ruang makan pagi ini. Aku mengerutkan kening ketika hanya melihat Australia dan Sealand yang menyantap sarapan mereka. Kutarik kursi milikku dan duduk, menatap kursi yang biasanya diduduki England, sama sekali belum tersentuh. "England mana?" tanyaku datar, mencoba bersikap biasa-biasa saja.
Australia dan Sealand bertukar pandangan sebentar. Australia yang menjawab. "Sudah pergi sejak pagi buta tadi. Ke rumah keluarga Asia."
"Hah?"
"Ada urusan dengan Japan, katanya," Sealand menimpali.
Kerutan di kening semakin kentara. Aku ingin sekali memprotes, kenapa England tidak membangunkan dan mengajakku? Aku rindu China, aku rindu Vietnam, Taiwan, aku ingin bertemu dengan semuanya! Aku hendak membuka mulut ketika kudengar suara berisik di halaman depan, dan pintu terbuka. England.
Hendak menegur, apa yang ingin kuutarakan menguap seketika, saat aku membaca ekspresi yang dipasang England di wajah. Aku terdiam. England menatapku.
"Kecil, aku mau kita bicara."
Itu bagaikan kode etik rahasia.
Serempak, Australia dan Sealand bangkit dengan piring menu sarapan di sebelah tangan dan segelas teh di tangan lainnya, tanpa suara mereka berjalan memasuki kamar masing-masing dan menutup pintu. Aku ternganga, menoleh ke kanan-kiri, terlalu terkejut untuk bisa bereaksi dari gerakan yang tiba-tiba dari mereka.
Sementara England menanggalkan jasnya, ia duduk di kursi Sealand agar bisa berhadapan langsung denganku. "Apakah," ia membuat jeda sebentar, memikirkan kalimat yang tepat untuk dirangkai. "Apakah kamu mau berbaikan dengan saudaramu, kalau itu artinya kamu harus memutus hubungan dengan ... yah, anggaplah, dia ini saudaramu yang lain?"
Aku melebarkan bola mata. Mengerjap. Dua kali. "Ini ... tentang siapa dan siapa?"
"America dengan Japan."
Jawaban England membuat kedua mataku rasanya memanas. Aku pernah dengar sekilas bahwa sebentar lagi tenggat waktu aliansi antara England dengan Japan, tapi aku menganggapnya angin lalu karena apa yang dipermasalahkan dari tenggat waktu aliansi kalau bisa diperpanjang? Tapi ini beda lagi. America datang kini.
Memberi England pilihan.
Japan. Aku masih ingat ketika aku dulu tinggal di sana, Japan mengajari bagaimana caranya memakai sumpit. Japan mengajari bagaimana caranya membungkuk dengan benar, kepada siapa seharusnya kita membungkuk lima belas derajat atau empat puluh lima derajat. Atau apa yang harus diucapkan sebelum makan, atau ketika memasuki rumah.
Aku menatap England. Aku tahu ini berat baginya untuk berbicara denganku. Dia bisa saja terus diam seperti apa yang China lakukan—bertingkah seolah tak ada yang terjadi, dan tahu-tahu aku membaca tulisan di surat kabar bahwa ia tidak memperpanjang aliansi. Tetapi England memilih untuk mengatakannya.
Kutelan ludah. Kutarik napas. "Siapa yang kaupilih?"
England menatapku tanpa berkedip. "America."
Seharusnya aku tahu.
Aku melipat lengan, berharap bahwa gerakanku dapat dianggap sebagai bala bantuan untuk membendung air mataku agar tidak menetes. Pandanganku ke arah England sudah mengabur, tapi tetap saja kupaksakan diri untuk memantulkan tatapannya. Bukan salahnya kalau ia lebih memilih saudaranya, daripada saudaraku. Tapi kenapa?
"Kenapa kamu dijatuhi pilihan seperti itu?" aku bertanya parau.
Aku tak bisa membayangkan kini Japan akan sendirian. Ketika dulu aku disuruh China untuk membersihkan kamar Japan, aku tak sengaja melihat kamus berbahasa Inggris-Jepang tergeletak di tempat tidurnya. Aku mengerutkan kening waktu itu, tapi sekarang aku tahu. Dia begitu senang dengan aliansinya bersama negara Eropa yang satu ini.
England mengarahkan pandangannya tak tentu arah. "Ada yang terjadi di antara America dan Japan di luar sana sekarang. Keduanya sedang sama-sama mencari kawan, dan aku satu-satunya yang berkawan dengan mereka berdua sekaligus," setelah mengatakan itu, England menatapku lagi. "Itu tidak benar. Aku harus memilih salah satunya."
Betapa mudahnya suatu ikatan terputus.
"Kalau kamu disuruh memilih antara aku atau America," entah kenapa, suatu pernyataan yang rasanya kurang ajar itu terlintas di benakku dan langsung kusemburkan, "siapa yang akan kaupilih?"
Mulut England membuka, ingin menukas, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar karena melihatku tidak sanggup membendung air mata lagi. Aku mengusapnya cepat-cepat, namun sulit berhenti, dan aku masih tetap ingin menjaga pandangan mataku dengannya. Kulihat tangan England terkepal, ia memejamkan mata sebentar.
"Aku nggak akan meninggalkanmu."
Begitu jawabnya.
Aku meragukan itu.
Akhir-akhir ini, England jarang berada di rumah.
Aku tidak diperbolehkan keluar, terlalu berbahaya di sana katanya. Australia dan Sealand semakin hari semakin murung, mereka terus mengatakan padaku bahwa ini perang, dan England di luar sana untuk menghentikannya. Aku bisa mati bosan di dalam sini. Aku sibuk mondar-mandir menunggu kepulangan England, sementara suara tembakan dan suara terbang pesawat sayup-sayup terdengar.
Aku sedang mengganti saluran televisi ketika mendengar suara pintu terbuka. Aku menoleh, melihat England, kepalanya penuh perban, wajahnya penuh peluh, benar-benar kotor. Australia dan Sealand juga melihat itu, tetapi mereka memilih untuk diam saja—kurang lebih paham bahwa saudaranya berpacu melawan waktu. Ia menuju kamar dan keluar secepat ia memasukinya, dengan pisau kecil di tangan.
Segera saja aku berdiri. "Kamu mau bertarung dengan modal pisau semacam itu, serius?"
Tangan England yang hendak menggapai pintu utama berhenti, menatapku. "Aku punya pistol juga, tahu," sempat-sempatnya ia mengerutkan kening, lalu memutar pisau di tangannya, "hanya saja kita nggak pernah tahu apa yang terjadi. Amunisi bisa saja tepat habis saat ada serangan lain lagi."
"Memangnya ada kabar soal serangan susulan, England?" Australia angkat bicara.
England menatapnya sebentar. "Posisi Japan saat ini di America."
"Kamu bertarung dengan Japan?" rasanya darah berhenti mengalir di sekujur tubuhku. Sepanjang yang aku tahu, dua tahun belakangan ini, ia hanya berurusan dengan Germany. Kalau ketika kepergiannya aku harus berdoa untuk keselamatan, apakah itu aku sama saja mengharapkan kesialan datang pada saudara lamaku? "Kamu nggak boleh mengalahkannya!"
"Kecil, maaf," tanpa memandangku, tangan England menggapai pegangan pintu dan membukanya, "taruhannya kamu."
… Apa?
Pintu tertutup, aku masih belum sempat memberikan balasan. Sealand berujar, mencuri perhatian dariku dan Australia. "England dapat kabar dari Canada soal Japan. Lima jam dari sekarang, mereka akan bertempur di Hong Kong."
Aku terpaku.
Memperebutkanku?
Sealand menghela napas. "Kita berharap yang terbaik saja untuk—hei!"
Aku membuka pintu dan berlari ke luar.
"Hong Kong!"
Aku hafal rute ke negaraku, tentu. Sudah lama sekali aku tak berlari, dan mengingat seratus tahun yang lalu saat aku terjatuh di tepi jalan raya, rasanya daya tahan tubuhku dalam berlari sudah meningkat sejak itu. Aku sudah semakin tinggi, rambutku semakin panjang, aku punya tekad yang kuat kenapa aku melakukannya.
Tak tahu kenapa, tapi aku merasa bahwa aku harus menyaksikan. Aku tidak yakin mau mendukung siapa, aku sayang keduanya. Mereka berdua saudaraku, aku tak peduli apa yang keduanya pikirkan mengenai masing-masing dari mereka. Aku tak peduli siapa yang menang.
Aku perlu datang untuk memandang.
Aku melihat dua bendera berkibar dari kejauhan. Aku mendengar tembakan, teriakan. Inikah perang? Aku menggigit bibir, aku lanjut berlari, kakiku seperti tak punya lelah. Siapa yang kalah, siapa yang menang?
Siapa yang kuinginkan menang?
Tanahku basah oleh hujan. Aku berjalan tak tentu arah, aku bahkan tak tahu siapa yang ingin kutemukan duluan. Japan atau England? Keduanya sekarang di mana? Aku ingin mencari, tapi kupikir tak ada bedanya karena toh kalau aku tahu di mana mereka berdua berada, aku tidak tahu mau lebih dulu menuju ke arah siapa.
Lebih baik tersesat saja.
Aku mengangkat kepala ketika sadar bahwa aku ada di arena perang. Sejak kapan? Orang-orang tumbang, ledakan di mana-mana, mereka menghajar siapa pun yang mereka temui. Beberapa orang meneriakiku, aku merasakan peluru demi peluru menyerempet tubuhku. Tidak, tidak, tidak. Aku harus lari. Lari, lari, lari—tapi ke mana?
"Turunkan!"
Aku berhenti. Menengok ke belakang, suara itu berasal dari sana. Nun jauh dari tempatku berdiri, tampak kerumunan orang-orang, bersorak-sorak. Beberapa dari mereka memanjati tiang dan menurunkan bendera dengan paksa. Bendera England.
Beberapa saat kemudian, bendera Japan berkibar.
Aku terpaku.
Kalah?
"Kalah, ya."
Aku mengembalikan pandanganku ke tempat semula dengan cepat. Suara Japan. Hujan yang semakin deras mempersulit penglihatanku, tapi aku mendekat, dan sayup-sayup aku mendengar suara dari seseorang yang sudah seratus tahun kukenal.
"Jangan."
"Heh," ada suara kekehan dari Japan, aku lamat-lamat melihat keduanya. Aku hanya beberapa belas meter dari lokasi mereka, tersembunyi dari orang-orang, sibuk bertarung dan berbicara, menciptakan tempat dan waktu hanya untuk mereka berdua. Pada suatu titik di mana aku yakin aku tak pantas untuk melangkah lebih jauh, aku berhenti.
England duduk berlutut. Japan berdiri di hadapannya, menyambung dengan suara lantang, "Ke mana sikap profesional yang selalu kauseru? Terimalah kekalahan pertamamu ini seperti apa yang kamu harapkan dari lawan-lawanmu sebelumnya yang kamu kalahkan, England. Aku menang!"
Aku tak percaya.
"Iya," England menengadah. Bernapas sebentar, membuat jeda. "Kamu menang."
"Tanah ini milikku."
Begitu Japan mengatakannya, England memungut pedangnya yang terjatuh dan segera berdiri dengan satu gerakan. Diarahkannya pedang lurus-lurus. "Tidak untuk yang satu itu!"
Aku tak pernah melihat England seperti ini sebelumnya. Ekspresi England yang satu itu belum pernah ia tunjukkan padaku, atau pada siapa pun juga. Australia dan Sealand sering membicarakan England ketika ia tak ada, dan dari mereka aku tahu bahwa England seharusnya menjadi sosok paling sportif pada dunia, mau seperti apa pun ketidakadilan yang ia terima.
"Sejak kapan kamu berubah?" pertanyaan yang dilontarkan Japan adalah apa yang ingin aku tanyakan. "Bahkan kamu tidak menahan America sampai sekolot ini, tahu?"
Benarkah?
Tidak mudah bagi England untuk bangkit. Kakinya sulit menyeimbangkan diri, namun kekuatan dari sorot matanya membekukanku. Apakah ini bukti kesungguhan dari kata-katanya waktu itu?
"Karena aku sudah janji nggak akan meninggalkannya."
"Aku nggak akan meninggalkanmu."
Aku merasa ada luka dalam suaranya. Aku ingat saat itu, saat England mengatakannya. Kalimatnya sebagai jawaban dari pertanyaan siapa yang harus ia pilih antara aku atau America. Jawaban yang aku ragukan. Aku membiarkan mataku basah karena air hujan menyamarkannya.
Japan menghela napas. Melempar pedangnya. "Daripada aku meladenimu yang mencoba mengubah hasil mutlak ini, lebih baik aku memberimu waktu beberapa detik untuk mengucapkan selamat tinggal padanya." Tak disangka, Japan menoleh menatapku lurus-lurus. Aku tertangkap mata. Sejak kapan ia menyadari kehadiranku?
Kutatap England yang terbelalak melihatku. Ekspresinya tak terbaca, aku hanya melihat bahwa ia mempererat genggaman pada pedangnya, lalu ia memalingkan muka. Menolak untuk menatapku.
"Tak ada yang mau dikatakan?" Japan mendekatiku. Aku tak mampu bergerak—bahkan rasanya aku lupa bagaimana cara bernapas. Ia mengambil sebelah tanganku. "Mulai hari ini, Hong Kong, kamu ikut aku. Ayo."
Kakiku masih terkunci di tempat. Aku masih memandangi England. England, kenapa kamu tidak mau menolehkan kepalamu ke sini? Aku tak bisa melihat wajahmu sama sekali, kamu membuang muka, kenapa? Kamu tidak mau mengatakan apa pun padaku? Japan menggeretku. Kakiku mulai dipaksa bergerak, tapi mataku masih mencoba menatap sosoknya. England, England, England, apa salahku sampai kamu tak mau menatapku?
"Hong Kong."
Aku menoleh ke arah Japan. Sekelebat, aku melihat sorot mata seorang kakak yang dulu kukenal.
"Tepis tanganku seolah kamu memberontak, lalu lari menghampirinya. Kuberi waktu tiga puluh detik," apa yang Japan katakan tidak bisa kupercaya. Ia masihlah kakakku. Tidak ada yang berubah darinya. Kalau kalian sama-sama menyayangiku, kenapa kalian berdua tidak bisa rukun saja? "Sekarang!" suaranya meninggi, namun ia ucapkan sambil berbisik.
Badanku bergerak sendiri, aku menepis tangan Japan dengan mudah, lalu berlari mendekati England. Saudaraku yang sekarang. Ikatan yang tidak ingin kulepaskan.
"England!"
Air mataku tumpah ketika aku menyebut namanya. Ia menoleh ke sumber suara, menatapku. Lagi-lagi aku melihat saat ini—saat yang selama aku tinggal bersama China, Japan, dan yang lain, ini adalah ekspresi yang tidak boleh ditunjukkan; kesedihan. Apabila salah satu dari kami sedih, pastilah kami akan mengurung diri di kamar, mengeluarkan segala emosi di sana, dan keluar kamar bersama ukiran tawa di wajah.
Aku dan saudara-saudaraku yang dulu mungkin selalu jujur, kami mengkritik pedas di depan dan saling adu keegoisan. Tapi kami keluarga Asia, kami tidak pernah berbagi rasa sedih di antara keluarga. Kami selalu menyimpan beban kami sendiri dan menganggap bahwa itu tabu untuk menunjukkan.
Tidak ada pelajaran seperti itu yang diberikan England padaku. Ucapan mereka, keluarga Barat itu, mungkin tidak pernah jujur. Mengedepankan apa yang pantas seperti memuji hasil masakan. England tidak pernah mengatakan bahwa ia benar-benar peduli dengan kesehatanku atau apa.
Tapi kami mencoba menafsirkan ekspresi. Australia dan Sealand seperti sudah bisa menebak apa yang kira-kira akan dikatakan England, mereka selalu berebutan untuk memberi tahu apa maksud dari perlakuan yang England berikan padaku. Dari mereka, aku belajar bahwa kadang, perbuatan lebih bermakna daripada obralan kata-kata.
England tak perlu duduk berlutut untuk mengelus kepalaku sekarang. "Sesaat," ia berkata, "aku pikir aku sudah jadi saudara seperti harapanmu, Kecil."
Aku pernah mendengarnya. America. Kata-kata America terngiang di kepalaku.
"Sesaat, ia pikir, aku sudah jadi saudara seperti harapannya."
Aku mengusap air mataku. "Aku tadi ada di sana. Aku lihat usahamu," aku menjawab, mengangkat kepala untuk menatapnya. "Terima kasih sudah tak ingin meninggalkanku," ujarku lembut. Setelah mengatakan itu, aku menyingkirkan sebelah tangan England yang mengelus kepalaku, kukaitkan dengan sebelah tanganku yang lain, membentuk gerakan bersalaman.
Kulemparkan senyum padanya.
"Aku akan rindu."
Aku paham arti saudara berkatmu.
Karena kamu, England, adalah saudara yang aku mau.
