"Sensei, ijinkan aku menjadi seksi ketertiban"

"Kau harus meminta persetujuan ketua osis dulu,"

"Baiklah, aku pasti bisa!"

Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate : T+
Genre : Frienship, Crime

.

.

Karin berjalan penuh percaya diri. Langkah yang lebar dan cepat hingga membuat suara berisik ketukan sepatu dan keramik beradu. Gadis berambut merah ini menatap tajam kepada setiap murid yang memandangnya. Sesekali ia mendengus melihat cara berpakaian mereka. Rok yang hampir menyaingi celana dalam, kancing yang terbuka hingga menonjolkan kulit putih dadanya dari balik seragam yang minim. Sedangkan para siswa kebanyakan melepas semua kancing seragamnya, tindikan yang menghiasi telinganya dan juga rambut yang tertata urak-urakan.

Hati Karin merasa miris melihat mereka semua. Apa orang tua mereka menyekolahkan hanya untuk menghamburkan uang? Atau hanya untuk memamerkan asusila mereka? Tentu saja bukan. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lebih maju dan lebih baik. Namun jika melihat hal seperti ini, bukanlah lebih baik justru makin buruk. Atau orang tua mereka sudah enggan mengurusi anak mereka yang sangat liar? Hah, Karin menghela nafas. Seberapa banyak ia menduga, itu hanya membuat dirinya semakin tidak tahu jalan pikiran para siswa di sini.

Karin menghentikan langkahnya, ia menatap pintu bercat merah. Tanpa terasa Karin telah sampai di tempat yang ingin ia tuju. 'R. Osis' yup, memang tujuan Karin adalah tempat ini. Ia ingin mengajukan diri sebagai ketua ketertiban sekolah. Apapun caranya ia harus mendapatkan posisi itu.

Tok tok tok

Karin mengetuk pintu ruangan itu dan menunggu untuk dibukakan. Namun sayang tidak ada respon. Ia ingin mengetuk kembali namun tiba-tiba pintu itu terbuka sedikit dengan sendirinya.

Karin mencoba memberanikan diri memasuki ruangan itu.

"Permi-" Karin tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat adegan dihadapannya. Manik ruby'nya membulat sempurna.

Karin menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat seorang siswa berambut raven tengah mencumbu mesra seorang siswi bertubuh mungil yang ia yakini bahwa itu kohay'nya.

Pemuda raven itu terlihat begitu nafsu mengulum bibir cherry siswi itu, decapan demi decapan terdengar begitu nyaring di dalam ruangan. Nafas yang memburu dan juga engahan penuh kenikmatan keluar dari bibir mereka. Tangan pemuda itu mulai menelusup di balik seragam minim siswi yang tidak ia ketahui namanya. Lalu ciuman pemuda itu kemudian berpindah menyusuri leher jenjang siswi yang mendesah kenikmatan. Digigit dan dihisap dengan kuat hingga meninggalkan bekas kissmark di sana. Pemuda itu meremas dengan keras bukit kembar milik wanitanya hingga membuat siswi itu meleguh, melengkungkan tubuhnya. Menyodorkan dadanya menginginkan agar pemuda itu menghisapnya. Tangan mungilnya terus menerus meremas-remas rambut raven pemuda yang membuatnya gila akan nafsu. Menuruti keinginan wanitanya, pemuda itu mulai membuka kancing seragam dengan sebelah tangannya. Bibir pemuda itu terus menghisapi leher jenjang itu. Menjilat menyusur ke bawah hingga sampai belahan bukit kembar wanitanya. Disingkapnya bra yang menutupi ke atas. Kini, tepat di wajahnya terpampang payudara putih dan kenyal. Tanpa basa-basi, ia melahap penuh nafsu dada sintal nan mulus itu. Menghisap dan memainkan putingnya di dalam mulutnya. Tangan satunya meremas payudara yang bebas dari jajahannya. Mereka mendesah, meleguh penuh nafsu.

Mereka tetap asik menikmati adegan panas yang mereka lakukan di ruang Osis tanpa menyadari sosok Karin yang tengah berdiri mematung menyaksikan adegan panas secara live.

Karin tersadar, ia menggeram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bagaimana mungkin mereka bisa bercinta di ruang osis? Apa mereka tidak takut bila ada orang lain masuk seperti dirinya. Benar-benar tidak tahu etika. Karin berjalan cepat melupakan niat awalnya datang ke ruangan ini.

Sret

bugh

Karin menarik paksa pemuda itu dan meluncurkan sebuah tinjuan ke arah wajah pemuda itu. Dapat ia lihat pemuda itu menatap tajam dengan manik onix'nya.

Sedangkan siswi yang hampir telanjang dada begitu terkejut dan ketakutan saat mengetahui ada orang lain yang datang. Ia mengancingkan seragamnya seadanya dan segera berlari, ia tidak ingin terlibat hal merepotkan.

Karin mendengus kesal melihat siswi itu pergi. Ia sangat ingin menampar pipi putihnya agar gadis itu sadar apa yang diperbuatnya. Menyerahkan diri untuk disentuh lelaki. Cih, hal seperti itu membuatnya malu mengakui bahwa siswi itu masih sejenis dengannya.

"Siapa kau? Berani sekali mengganggu kesenanganku!" ucap siswa berambut raven dengan gaya pantat ayam. Ia merapikan seragamnya yang berantakan akibat ulahnya dan duduk tenang di singgasana miliknya. Onixnya masih menatap tak suka dengan gadis berambut merah yang menginterupsi kegiatannya.

"Cih, pantas saja sekolah ini hancur. Rupanya sekolah ini memiliki sistem osis yang kacau dan ketua osis yang hanya memikirkan kepuasan seks'nya!" ucap Karin tajam.

Sasuke mendecih mendengar ucapan siswi yang tidak ia kenal. Beraninya gadis ini mengatakan hal itu. Bukan sepenuhnya ia salah. Gadis-gadis bodoh itulah yang datang sendiri padanya dan memberikan tubuhnya secara cuma-cuma. Sebagai seorang lelaki normal tentu saja ia tidak akan menolak keindahan yang disuguhkan. Ibarat seekor kucing, dikasih ikan pastilah mau.

Sasuke masih terdiam dan menatap Karin tajam. Begitu pun Karin, ia membalas tatapan Sasuke tidak kalah tajam.

Cklek

Bunyi knop pintu terbuka mampu memutuskan tatapan tajam antara mereka, hingga keduanya menengok ke arah pintu yang baru saja dibuka seseorang.

Seorang siswa berambut putih kebiruan muncul dari balik pintu. Sejenak ia mengerutkan keningnya saat melihat sosok asing berambut merah. Tapi ia tidak peduli, ia terus berjalan menuju arah sahabatnya itu.

Karin menyipitkan matanya saat siswa dengan seragam tidak terkancing rapih dan juga rambut yang acak-acakan berdiri tepat di sampingnya. Ia merasa tidak asing dengan sosok itu. Bukankah siswa ini yang berbuat mesum di ruang kelas? Oh shit, mengingat hal itu membuat Karin sedikit mual. Kenapa ia harus dikelilingi siswa-siswa brengsek yang hanya memikirkan nafsunya?

"Kau membawa sampah ini, Sui?"

Sampah! Apa yang ia katakan? Berani sekali dia mengatai dirinya sampah tanpa memandang bahwa sikapnyalah yang lebih cocok dianggap sampah.

Karin mendengus kesal dan memberi deathglare mematikan pada Sasuke, yang tentu saja tidak berpengaruh bagi pemuda itu.

Suigetsu memandang Karin dari atas sampai bawah. Menelusuri tubuh karin yang menurutnya biasa saja.

"Kau bercanda, Sasuke. Mana mungkin aku membawa barang beginian. Dia bukan seleraku,".

Cih, setelah dibilang sampah, sekarang Karin dianggap barang. Dimana sebenarnya otak mereka? Seenaknya saja menghina orang lain. Karin masih diam melihat Sasuke dan Suigetsu yang menyerigai puas. Tangan Karin terkepal kuat hingga buku jarinya memutih.

"Diam! Mulut sampah!"

Brakkk

Karin meninju meja yang ada di hadapan Sasuke. Hingga membuat meja itu terbelah menjadi dua dan ambruk dengan kertas-kertas yang berhamburan di lantai. Mata ruby Karin berkilat marah.

Sasuke dan Suigetsu menatap horor ke arah meja yang baru saja dihancurkan oleh siswi berambut merah itu.

Mereka tercengang dengan tenaga yang dimiliki siswi baru itu. Ia tidak bisa membayangkan bila mereka menjadi meja itu. Namun sedetik kemudian, serigaian penuh arti itu dilengkungkan Sasuke.

"Dengar! Dengan ataupun tanpa persetujuan dari Osis. Aku akan menjadi ketua ketertiban sekolah ini.Karin meninju meja yang ada di hadapan Sasuke. Hingga membuat meja itu terbelah menjadi dua dan ambruk dengan kertas-kertas yang berhamburan di lantai. Mata ruby Karin berkilat marah. Akan aku rubah sekolah sampah ini menjadi sekolah yang aku inginkan!" Seru Karin dengan suara lantang.

Prok prok prok

Terdengar suara tepukan dari Sasuke. Pemuda itu bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Karin. Ia meraih dagu Karin yang menatapnya tajam. Ia tersenyum sinis.

"Kalau begitu buktikan. Jika dalam seminggu kau tidak dapat suara dari para siswa lebih dari dua puluh, maka harus kau kubur keinginanmu itu. Dan sebagai gantinya, kau harus melayaniku," ucap Sasuke dengan serigai menggoda.

Bugh

Lagi-lagi Karin mendaratkan tinjuan ke wajah tampan Sasuke.

"Tanda itu, sebagai tanda aku menerima tantanganmu. Akan aku buktikan, bahwa Namikaze Karin akan menang. Dan saat itu terjadi, bersiaplah untuk awal yang tak pernah kau bayangkan," setelah berkata seperti itu, Karin melenggang meninggalkan Sasuke dan Suigetsu.

Sasuke menatap kepergian Karin. Ia menghapus dengan kasar darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Kau tidak apa-apa, Sasuke,"

"Hn, sepertinya akan menarik,"

Suigetsu hanya menghela nafas melihat serigaian Sasuke yang seolah mendapat mainan baru itu.

Karin berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya. Sepanjang perjalanan ia mengumpat tidak jelas. Ia mendelik tajam ke arah setiap siswa yang memperhatikannya.

.

.

.

Karin berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya. Sepanjang perjalanan ia mengumpat tidak jelas. Ia mendelik tajam ke arah setiap siswa yang memperhatikannya.

Aarrggghh' kenapa kehidupan damainya harus jungkir balik seperti ini? Ini semua gara-gara ayahnya yang seenaknya memilihkan sekolah seperti ini? Tapi bukan salah beliau juga, ia juga ikut salah dalam hal ini, harusnya ia menyelidiki terlebih dahulu sekolah seperti apa yang akan ia tempati, bukan asal menerima seperti kemarin. Ia benar-benar ceroboh.

Karna kecerobohannya ia terdampar di sekolahan asing, dimana ia mendapatkan tontonan live di waktu pertama ia masuk ke sekolah ini. Dan lagi, kenapa ia harus menerima tantangan Sasuke? Dengan kondisinya yang merupakan murid baru, mana mungkin ia mendapat simpatik dalam waktu seminggu. Gggrr, benar-benar menyebalkan. Tapi bila ia berhasil, bukankah hadiahnya setimpal dengan kesialan yang ia dapat. Paling tidak ia ingin menciptakan sekolah ini seperti sekolah normal dengan etika yang bermutu.

Lalu bagaimana caranya ia memenangkan taruhan ini? Karin terus berpikir sepanjang jalan ia melangkah.

"Serahkan uangmu sekarang!"

"Maaf senpai, aku tidak punya uang," ucap seorang siswa berambut mangkok. Ia memohon kepada ketiga senpai'nya yang berbadan besar. Tubuhnya gemetar saat salah satu dari mereka meraih kerahnya.

"Pembohong!".

Bugh

sebuah tinjuan menghantam wajah siswa berbadan kurus itu hingga sepercik warna merah meluncur dari sudut bibirnya disertai lebam biru terlukis di wajahnya.

"Kau berani membohongi kami!" pemuda berbadan besar itu menggertak kembali dan siap meluncurkan sebuah tinjuan kembali.

"Ck, ternyata anak kelas tiga beraninya main keroyok melawan anak kelas dua," tinjuan yang hampir dilepaskan urung dilakukan saat mendengar ucapan seseorang. Mereka bertiga menoleh ke belakang dan melempar siswa itu ke samping hingga siswa itu tersungkur tak berdaya.

Dapat dilihat seorang siswi bercepol dua tengah berdiri tak jauh dari mereka bertiga. Tangannya asik memainkan stik billyard dengan santai.

"Cih ternyata seekor tikus jadi-jadian," decih pemuda berbadan besar bernama Kuuga. Memandang remeh ke arah Tenten.

"Kau ingin bermain dengan kami hm? Apa kau kuat melayani kami?" teman Kuuga menambahkan hingga mengundang tawa kedua temannya.

Tenten mendengus sebal memandang ketiga senpainya yang masih tertawa.

Bagh

Bigh

Bugh

Hanya dengan tiga pukulan dari tongkat Tenten mampu membuat ketiganya tersungkur. Meringis memegangi bagian tengkuknya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Tenten berjalan ke arah siswa yang memandangnya takut-takut.

"Kau tak apa, Lee?" ucap Tenten tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya, mencoba membantu Lee berdiri.

Lee meraih tangan Tenten dan bangkit berdiri. Ia masih tidak percaya dengan kehebatan gadis di depannya, ia memang mendengar bahwa rating siswi terkuat diduduki oleh Tenten sang ketua juudo. Dan yang membuatnya tercengang adalah siswi ini mengetahui namanya, padahal ia bukan siswa populer.

"Kau tahu namaku?".

Ucapan Lee membuat tawa Tenten meledak, ia memegangi perutnya yang terasa begitu geli dengan ucapan Lee. Hei, mereka satu angkatan, memang apa salahnya bila ia kenal dengan orang yang seangkatan dengannya meskipun ia tidak pernah satu kelas dengan orang tersebut.

"Maaf...maaf," ucap Tenten berusaha meredakan tawanya. "Pertanyaanmu sungguh aneh, tentu saja aku mengenalmu. Kita kan satu angkatan," sambungnya.

"Ku pikir tidak ada yang mengenaliku," ucap Lee sendu.

"Itu karena kau tidak pernah mencoba untuk berteman," ucap Tenten, ia tersenyum lebar.

"Hei Lee, cobalah untuk dekati mereka, pasti mereka mau menjadi temanmu," Tenten menepuk bahu Lee menyemangati. Lee mengangkat wajahnya dan memandang Tenten penuh kagum. "Berusahalah," lanjut Tenten.

"Um," Lee mengangguk.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, jaa Lee," ucap Tenten, ia melangkah pergi meninggalkan Lee yang terus memandang punggungnya. Kemudia serigaian penuh arti terlukis di wajah mereka.

Tenten terkejut saat mendapati siswi berambut merah menatap ke arahnya tanpa berkedip. Ia mengernyt bingung dengan tingkah gadis itu.

"Um, apa ada masalah?" ucap Tenten sedikit risih ditatap seperti itu.

Sedetik kemudian Karin tersadar, lalu ia memekik senang. "Kyaaa, kau hebat sekali," puji Karin menghambur ke arah Tenten. Ia tadi menyaksikan aksi heroik yang dilakukan siswi ini saat ia mencari kelasnya.

"Oi oi, lepaskan aku! Kau siapa!" raung Tenten yang merasa risih dipeluk oleh siswi yang tak dikenalnya.

"Ops, maaf. Aku kegirangan hingga tidak sadar apa yang ku lakukan," ucap Karin penuh penyesalan.

"Um, tak apa ko," jawab Tenten agar siswi di depannya tidak merasa bersalah.

"Ah iya, namaku Namikaze Karin," ucap Karin mengulurkan tangannya ke arah Tenten. Ia tersenyum lebar.

"Tenten," gadis bercepol dua itu menyambut uluran gadis bernama Karin itu. Ia juga ikut tersenyum.

"Ah iya, sedang apa kau di sini?" tanya Tenten melepaskan jabatannya.

"Oh iya, aku tengah mencari kelasku, tapi belum ku temukan dan berakhir di sini, melihat aksimu,".

"Kau murid baru?"

"Yups,".

"Kelas berapa?".

"Kelas 2K,".

Tenten tercekat mendengar kelas Karin.

"Sedari tadi aku berkeliling tapi tidak jua menemukan kelasku," ucap Karin frustasi.

"Kau tak akan menemukan kelasmu kalau tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini. Ayo, aku tunjukan," ajak Tenten.

"Eh, kau tahu?".

"Beruntunglah kau bertemu denganku yang juga akan menjadi teman sekelasmu,"

"Eh?" Karin memandang tak percaya tapi detik kemudian ia bersorak girang. "Kyaa, ternyata kita sekelas!" seru Karin girang.

Mereka berdua berjalan menuju kelas yang akan dituju. Tenten berkali-kali menggeleng kepala dengan sikap heboh Karin saat di dekatnya. Meskipun Karin terlihat seperti gadis tomboy ternyata dia gadis yang berisik juga.

.

.

.

Karin tidak menyangka bahwa kelasnya akan terasing seperti ini. Setelah melewati beberapa lorong, ia barulah sampai di kelasnya. Ia juga baru tahu bahwa ada lorong di belakang gudang. Awalnya ia mengira bahwa mungkin kelasnya sama seperti kelas lainnya yang ia temui tadi. Namun nyatanya kelasnya jauh lebih bagus dari yang ia temui. Tatanan bangku memanglah sama layaknya kelas biasa, yang membedakan adalah fasilitasnya. Televisi 29 inc terpajang indah di samping papan tulis berwarna putih dan juga kelasnya ber'AC, jadi ia tidak perlu kepanasan karena udaranya sangat sejuk.

Karin menoleh ke arah samping, tepatnya ke arah siswi bercepol dua yang mengantarkannya. Ia memang duduk di samping Tenten yang kebetulan memang belum di tempati dan dengan ramahnya Tenten menawari untuk duduk dengannya, tentu saja Karin tidak menolak. Justru ia menerima dengan antusias.

"Hei Tenten," panggil Karin. Tenten yang tengah mengeluarkan buku menoleh sejenak ke arah Karin. "Kenapa?" tanya Tenten setelah mengeluarkan buku yang akan ia perlukan untuk pelajaran pertama.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Karin menampakan mimik serius yang mampu membuat Tenten menaikan alisnya.

"Memang apa yang ingin kau tanyakan?" Tenten menatap Karin serius dan penuh antusias.

"Kau mengenal sang ketua osis?"

"Maksudmu Sasuke," Karin mengangguk mendengar jawaban Tenten. Ia memang tidak ingat siapa nama dari pemuda brengsek yang ia temui tadi pagi. "Sebaiknya kau jangan membuat masalah dengannya!" Karin mengernyit bingung dengan penuturan Tenten.

"Apa maksudmu?" lagi-lagi Karin bertanya.

Tenten menghela nafas panjang. Sebenarnya ia tidak mau membicara pemuda yang terkenal sebagai penguasa dari Kitsune High School. Tapi ia juga harus memperingatkan pada sahabat barunya ini, supaya nantinya Karin tahu siapa Sasuke sebenarnya.

"Sekolah ini didirikan oleh Madara Uchiha yang tak lain adalah kakek Sasuke Uchiha. Di sekolah ini, dialah penguasanya, jangankan siswa, para guru juga tidak berani mengusik kehidupannya," Tenten menerawang ke langit-langit kelas, "Sasuke memiliki tiga orang sahabat, Suigetsu, Gaara dan Kiba. Mereka berempat menjadi raja dari para murid di sini, tidak ada yang berani berurusan dengan mereka. Pernah ada suatu kejadian dimana Sora salah satu murid sekolah ini membuat ulah dengan mereka berempat dan ia harus berakhir di rumah sakit karena mengalami patah tulang lengan dan tulang rusuk," sambung Tenten. Ia mengakhiri ceritanya dan menoleh ke arah Karin. Dilihatnya gadis bersurai merah itu menatap horror. "Jangan bilang kau membuat ulah dengan mereka?" ucap Tenten penuh selidik.

Karin tersentak, ia tersadar dari lamunannya. Ia sungguh tidak percaya bahwa Sasuke sebrengsek itu. Selain penjahat kelamin ternyata pemuda itu suka semena-mena. Ia menatap Tenten dengan serius.

"Kalau begitu kau harus membantuku!" ucap Karin panik.

"Apa maksudmu?" Tenten tidak mengerti apa yang diucapkan Karin. Membantu apa?

"Aku harus mengumpulkan 20 suara agar aku menjadi Ketua Ketertiban sekolah," jelas Karin menatap Tenten dengan memelas. Bagaimanapun juga bila ia tidak memiliki sekutu, ia tidak bisa menang melawan Sasuke. Karna menurut Tenten, Sasuke adalah penguasa sekolah ini, yang pastinya semua murid akan mematuhi ucapan Sasuke.

"Kau gila! Itu tidak mungkin bisa, meskipun aku mendukungmu!" Tenten memijat keningnya yang sedikit pening.

"Apa maksudmu dengan tidak mungkin?".

"Kau tahu kan. Semua murid di sini menginginkan kebebasan. Mereka tidak akan menyetujui adanya seksi ketertiban," ucap Tenten.

"Bebas? Bebas melakukan seks?" geram Karin.

"Justru itu yang mereka cari. Dimana tidak ada satu orang pun yang melarang melakukan seks, ditambah lagi dengan adanya asrama,".

"Dan justru itu yang membuatku berkeinginan menjadi ketua ketertiban. Ini sekolah, bukan arena pornografi live. Aku hanya ingin mengubah sedikit saja sekolah ini," Tenten terdiam mendengar penjelasan Karin.

"Aku mendukung keinginanmu. Dan aku salut padamu yang memikirkan nasib sekolah ini. Aku hanya berpikir itu tidaklah mungkin," Tenten melirih dan menghela nafas panjang.

"Tidak ada yang tidak mungkin bila kita belum mencobanya kan?" Karin mengedipkan mata dan tersenyum ke arah Tenten. "Asalkan kita terus berusaha," sambungnya.

"Ya, kau benar," Tenten ikut tersenyum.

"Jadi, maukah kau menolongku?" Karin mengulurkan tangannya sebagai tanda bekerja sama.

"Tentu saja," sambut Tenten dengan girang. Ia menyatukan tangannya dengan tangan mereka.

"Deal," ucap mereka secara bersamaan.

Brugh

"Aaawww,"

Karin dan Tenten menoleh mendengar jeritan seorang gadis. Mereka melihat seorang siswi berambut pirang pucat jatuh terjerembab dengan buku yang berserakan di sekitarnya.

Karin ingin bangkit membantunya tapi langkahnya terhenti oleh cekalan tangan Tenten. Karin menatap penuh tanya ke arah Tenten meminta penjelasan.

"Namanya Yamanaka Ino. Dia siswi aneh di kelas ini. Semua murid menjulukinya 'pembawa petaka'. Lebih baik kau mengurungkan diri, jika tidak mau ikut dibully siswa kelas ini," ucap Tenten tetap berusaha mencegah pergerakan Karin.

"Bulshit tentang 'pembawa petaka'," seru Karin.

"Itu kenyataan, semua anggota klan'nya mati tanpa sebab semenjak kelahirannya hingga tersisa dia dan ayahnya," ucap Tenten tidak mau kalah.

"Itu hanya musibah, aku yakin itu. Aku tidak akan membiarkan adanya pembully'an," Karin menepis dengan kasar cekalan Tenten dan beranjak pergi menuju tempat dimana siswi bernama Ino itu tengah dihina.

Tenten hanya menghela nafas melihat Karin. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Ino seperti itu, hanya saja ia pernah mengalami hal terburuk setelah menolong Ino. Kejadian yang tidak akan ia lupakan.

Ino menulikan telinganya saat para siswa mengelilinginya dengan hinaan yang terlontar. Ia sudah terbiasa akan keadaan ini dan ia takan melawan ataupun menepis hinaan itu. Bukan karena benar, hanya saja ia tidak ingin sifat yang berusaha ia tekan itu keluar.

"Dasar gadis pembawa sial," dan Ino hanya bisa memejamkan mata saat seorang siswa bersiap menendang dirinya.

Dugh

Apa? Ia tidak merasakan sakit yang biasanya ia dapat. Padahal ia mendengar suara benturan yang begitu keras. Ino memberanikan diri membuka matanya dan ia melihat siswi berambut merah menahan kaki siswa itu dengan kakinya.

"Dasar brengsek, beraninya kalian keroyokan!" Karin meraih kerah siswa itu dengan kasar dan...

Bugh

Ia meninju telak wajah siswa itu hingga menyebabkan siswa itu terjungkal dan menabrak meja di belakangnya.

Siswa itu mendecih, mengelap kasar darah yang mengalir di sudut bibirnya.

"Brengsek," siswa itu bangkit dan menerjang Karin. Melayangkan tinju.

Karin menunduk menghindari pukulan siswa itu. Dan ia menggunakan kaki kanannya untuk menendang perut siswa itu.

Bugh

Lagi-lagi siswa itu terpental ke belakang hingga terlentang. Ia meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tendangan siswi baru itu.

Karin tersenyum sinis memandang siswa yang telah tersungkur itu. Ruby'nya beralih pada gerombolan siswa yang masih mengitari dirinya dan Ino. Ia menatap nyalang ke arah mereka.

"Apa ada yang berani selain dia?" semua gerombolan siswa itu hanya terdiam dengan wajah horror. Ia tidak menyangka siswi di depannya jago bela diri menyaingi Tenten. Beberapa di antara mereka lekas tersadar dan membantu temannya yang tersungkur untuk segera membawanya ke UKS.

Karin tersenyum puas melihat gerombolan brengsek itu tidak ada yang berani melawannya. Lalu ia berjongkok ke arah Ino yang menatapnya tak berkedip.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Karin membantu memunguti buku-buku yang berserakan.

"Um, Ya," Ino tersadar dari rasa terkejutnya. Ia pun ikut merapihkan bukunya.

.

.

Tbc

.

.

Maaf bila Chimi menaikan Rate'nya menjadi M. Soalnya banyak kata-kata kasar di sini. Untuk sementara Chimi fokus cara Karin menghadapi tantangan Sasuke. Setelah ini, baru deh Chimi kupas sedikit demi sedikit apa yang sebenarnya terjadi dengan klan Uzumaki. Maaf ya bila chap ini mengecewakan nyahaha. Makasih udah nyempetin waktu buat membaca fic gaje milik Chimi.

.
See you next chap

.
Salam damai dari Chimi-tan *o*)/