ChanHun fic
EXO © SM Entertainment
EXO's members © Their parents
Warning: AU, OOC, Typo(s), Weird, Failed, etc
.
.
Don't like, don't read
.
.
Sudah beberapa hari sejak insiden di klub malam terjadi, dan semakin hari semakin kuat dugaan Sehun kalau Jongin mencoba menghindari dirinya; interaksi yang terjadi antara mereka berdua sangat minim. Mereka tidak pernah bicara banyak lagi di kelas, bahkan cenderung diam. Hanya saat ada hal-hal yang sangat penting saja Jongin baru mau berbicara kepada Sehun.
Dan apa yang membuat Sehun sangat yakin sekarang?
Jongin berpindah tempat duduk, dan saat pandangan mereka bertemu sahabatnya itu membuang muka dan kembali mengerjakan aktivitasnya tanpa kembali menoleh ke belakang.
Jujur saja, dia tidak nyaman dengan keadaan mereka yang seperti ini. Bagaimana pun juga dia dan Jongin sudah bersahabat lama sekali, dan hanya karena seorang Park Chanyeol hadir tiba-tiba persahabatan mereka berdua hancur tanpa ada yang menahannya? Sehun akan pastikan hal itu tak terjadi.
"Memangnya aku salah?"
"Apakah seharusnya aku tidak ikut campur dan membiarkan semua itu terjadi?"
Dia menghela napas, rasanya dadanya sesak, "Yang terjadi nanti, ya terjadilah."
Jadi dia menunggu waktu pulang Sekolah, lalu mencegat Jongin di depan pintu kelas mereka. Rasanya wajahnya sudah tak karuan; bahkan mungkin tertangkap jelas kalau dia sedang sangat kesal. Aneh rasanya, untuk menemui sahabatnya sendiri dia harus melakukan aksi cegat seperti ini.
"Jongin, kita perlu bicara," ujar Sehun tegas, "tapi tidak di sini, ikuti aku."
Mereka pergi ke salah satu kursi yang ditempatkan di dekat pagar Sekolah.
"Maafkan aku, Sehun-ah," secara mengejutkan, yang memulai pembicaraan di antara mereka berdua adalah Jongin, "aku tidak bermaksud untuk menghindarimu, aku hanya merasa malu dengan diriku sendiri. Aku benar-benar minta maaf padamu."
"Jadi, ini bukan karena Park Chanyeol?"
Jongin menggeleng cepat, "Tidak, tidak, itu bukan karena dia," ujarnya, matanya memandang mata Sehun dengan keyakinan yang dapat terlihat jelas, "terimakasih padamu, aku mulai memikirkan semuanya. Dan kurasa, aku terlalu bodoh sampai tak bisa menyimpulkan sendiri bahwa perlakuannya padaku sama sekali tak berdasarkan pada cinta."
Sehun dapat bernapas lega sekarang; atau mungkin nanti, "Syukurlah kalau begitu," ujarnya tulus, "dan aku minta maaf karena memukulmu saat itu, aku benar-benar lepas kendali. Kuharap memar itu lekas hilang."
Jongin tertawa, "Kau pikir aku apa? Rasa sakit semacam ini tak ada apa-apanya," lalu tawa itu segera pudar, "kuharap luka yang satunya juga segera menutup."
"Hey, sejak kapan hatimu selembek ini?"
"Sejak Oh Sehun menunjukan kalau dia juga bisa marah!"
"Kau—"
"Hey, Sehun," Sehun tak jadi berucap dan memandang wajah Jongin yang ada di sebelahnya, "kalau kuingat lagi, saat itu adalah kali pertama aku melihat emosi di wajahmu. Kau dan poker face-mu yang melegenda," Jongin tersenyum padanya dan menepuk pelan bahunya, "terima kasih karena telah menganggapku penting; walau sebenarnya aku tak sepenting itu."
"Kau bicara apa?" Sehun mengalihkan pandangannya ke langit malam, lalu menutup matanya dengan senyum yang kentara di bibirnya, "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Jongin. Terima kasih karena mau bersahabat denganku."
"Ah! Kenapa tiba-tiba jadi puitis seperti ini?!"
Lalu mereka tertawa bersama dalam naungan langit malam yang indah.
Semuanya berjalan lancar setelah itu. Jongin sudah tak terlalu menyukai Park Chanyeol; Sehun rasa, dan Park Chanyeol tetaplah Park Chanyeol. Dia masih menggoda setiap orang yang ditemuinya dan bermain hal gila di pojok kantin.
Sehun sendiri? Ah, dia menerima tawaran Tao dan bergabung dengan klub Basket; dia benar-benar disibukkan dengan hal itu. Dia belum mengenal cinta sampai detik ini; dan entah kenapa dia menikmati kesendiriannya. Terlebih, dia juga masih belum siap untuk membiarkan orang-orang tahu orientasi seksualnya. Memikirkan bagaimana reaksi Ayahnya saja sudah membuatnya mual dan merinding.
Sebisa mungkin dia menghindari kontak fisik yang berlebihan dengan teman satu klubnya, terutama setelah mereka selesai bermain Basket. Dia tidak ketakutan sebenarnya; hanya saja menurutnya tindakan pencegahan harus dilakukan.
Atau itulah yang dipikirkannya, sebelum seorang Sunbae-nya menyatakan cinta di tengah-tengah khalayak ramai dengan banyak orang menonton. Dan gilanya lagi, Sunbae itu laki-laki!
"Aku menyukaimu, Oh Sehun. Aku tahu kalau ini tiba-tiba, tapi terima saja bunga pemberianku ini!"
Sehun memandang bunga itu dengan wajah penuh konflik, "Maaf Sunbae," ujarnya memulai, "tapi aku—"
"Kris."
"Uh… maaf?"
"Namaku Kris."
"Emm… maaf Kris-sunbae, tapi aku tidak suka bunga," ujarnya memulai, secara hati-hati menyusun kata-kata, "aku menghargai itu, tapi lebih baik Sunbae simpan saja bunga itu, atau berikan pada orang yang memang menyukainya."
Pelipis Sehun berkeringat. Orang-orang yang menonton sama sekali tak bersuara, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Yang jelas Sehun sungguh sangat keberatan jika harus menerima bunga itu. Selain karena dia tidak suka, dia juga tidak mau dianggap menerima perasaan Kris ini kepadanya.
"Jadi… bagaimana?"
"Huh?"
"Kalau kau tidak menerima bunga ini, paling tidak jawablah pernyataanku."
Keringat Sehun membanjir sekarang. Dia tidak tahu harus bagaimana, dan hal ini sekarang terasa sangat konyol untuknya. Dia yakin dia akan jadi bahan gunjingan satu Sekolah; pandangan-pandangan tak nyaman yang seakan menilai pantas tidaknya dirinya akan menyebar. Dia hampir kehabisan akal.
Lalu ada satu kejadian yang diingatnya.
FLASHBACK
Saat itu Sehun sedang tugas piket dan dia kebetulan disuruh membuang sampah oleh teman satu piketnya. Di dekat situ ada dua Siswi yang sedang berbincang seru, dan tak sengaja dia mendengarnya.
"Hey, kau tahu? Kris-sunbae benar-benar membenci Chanyeol-sunbae."
"Benci? Itu terlalu dangkal. Kurasa dia jijik dengan Chanyeol-sunbae. Tiap kali ada orang yang mengaku kalau dia menyukai Chanyeol-sunbae, pasti Kris-sunbae langsung menjauhi orang itu tanpa pandang bulu!"
"Eh? Benarkah itu?"
"Dulu Kris-sunbae pernah suka 'kan dengan Yeeun? Dia langsung mundur teratur saat Yeeun mengatakan kalau dia menyukai Chanyeol-sunbae!"
"Berarti dia tidak serius 'kan dengan hatinya?"
"Yah, mana kutahu!"
"Atau mungkin dia menganggap semua orang yang menyukai Chanyeol-sunbae itu murahan…."
Sehun berlalu dan kembali ke kelas tanpa terlalu memikirkan percakapan tadi.
END OF FLAHSBACK
Secara mengejutkan, percakapan antara dua Siswi tadi lumayan berguna untuknya.
"Apa aku harus memakai cara itu?"
"Tapi ini gila, Jongin pasti akan membunuhku!"
Lalu ditelusurinya kerumunan itu satu persatu. Hanya dua orang yang tidak ingin dibuatnya salah paham di sini, yaitu Park Chanyeol dan Kim Jongin. Dan untungnya mereka berdua tidak ada di sini, melihatnya dipermalukan di depan publik dengan pernyataan cinta yang menurutnya cukup membabi buta.
Menarik napas pelan. Rumor mungkin beredar, tapi dia bisa memperbaikinya nanti. Kalau sekarang dua orang itu ada di sini? Mereka berdua mungkin akan berteriak terkejut dan menambah runyam suasana.
"Aku akan mengatakan hal itu jika dia menanyakan alasannya. Kumohon jangan tanya alasannya!"
"Maaf Kris-sunbae. Kau orang baik, aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa menerimamu," ujarnya hati-hati, "sekali lagi aku minta maaf!" lalu dia membungkuk 90 derajat dan ingin berlalu.
Tapi sebelah tangannya ditangkap; dan matanya langsung melebar.
"Paling tidak berikan alasan kenapa kau menolakku."
"Ah ini dia," Sehun menghela napas, "kenapa perlu alasan dalam memuaskan rasa ingin tahu? Aku benar-benar muak!"
"Aku tidak menyukaimu," ujarnya datar, persetan dengan menjaga perasaan dan norma kesopanan sekarang, "tapi aku menyukai Park Chanyeol, puas?"
Awalnya semuanya menjadi diam. Namun ada satu suara yang mengejutkan semua orang.
"Eh? Jadi kau menyukaiku?" Sehun terkesiap, tapi tak berani mendongakkan kepalanya untuk melihat, "Kebetulan sekali, aku juga menyukaimu. Apa sebaiknya kita langsung berkomitmen saja?"
"Bunuh saja aku di sini sekarang juga, ya Tuhan!"
"Ah, memang sebaiknya begitu. Sampai nanti kalau begitu," lalu satu suara langkah kaki terdengar, "sampai bertemu nanti, chagiya."
Sehun sempat mendongakkan kepalanya, dan dia melihat Park Chanyeol menyeringai padanya.
Situasi semacam tadi tak terhindarkan, dan Sehun harap tak menjadi besar. Namun yang dirasakannya sekarang adalah sebuah tangan yang sebelumnya memegangnya berangsur mundur dan melepaskannya tanpa keraguan.
"Jadi kau sama seperti yang lainnya?"
Satu masalah selesai.
"Ya, aku sama seperti yang lainnya. Tak istimewa dan berselera rendah," ujarnya pada Kris dengan tatapan lurus langsung ke mata laki-laki itu, "jadi kuharap kau mengerti."
"Candaan yang bagus, Park Chanyeol. Syukurlah orang-orang tahu kalau kau tak pernah berkomitmen dengan siapa pun. Hal semacam tadi mungkin dipikir mereka hanya lelucon darimu; hiburan semata." lalu dia berlalu, walau masih dengan perasaan yang tidak karuan.
Tapi tiba-tiba dalam kurun waktu singkat dia menjadi terkenal. Dia juga tak tahu kenapa, yang jelas setiap kali di lewat daritadi orang-orang mulai berbisik dan memandangnya dengan tatapan tak biasa.
"Apa kejadian kemarin begitu membekas?"
"Kris Wu memang salah satu Siswa yang terkenal sih, tapi apa ini tidak terlalu keterlaluan?"
Kejadian kemarin sudah diceritakannya pada Jongin, dan sahabatnya itu tak berhenti tertawa sampai Sehun memukul belakang punggungnya dengan keras.
"Aku serius! Aku minta maaf karena mengatakan kalau aku menyukai Park Chanyeol. Tapi cuma itu cara yang kutahu untuk mengenyahkan Kris Wu dari hidupku!"
"Apa kau yakin mau mengenyahkan Kris-sunbae dari hidupmu? Setahuku dia itu laki-laki sempurna, dia pasti bisa menjadi seseorang yang bisa kau jadikan tumpuan dalam hidupmu."
Sehun tertawa kecil, lalu menggeleng, "Hey, Jongin," ujarnya pelan, "kau pikir apa yang Ayahku akan lakukan kalau dia mendengar hal ini?"
"Bahwa kau gay?"
"Ya, menurutmu bagaimana?"
"Aku tidak tahu, Sehun-ah. Tapi kuharap Mr. Oh mau menerima keadaanmu."
Sehun menghela napas, lalu membaringkan tubuhnya di kasur Jongin, "Ah, aku benar-benar tidak suka pembicaraan serius seperti ini," lalu dia mendengus kesal dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "tapi kau tahu Jongin? Jika ada seorang laki-laki yang benar-benar mengerti aku tanpa harus kujelaskan tentang diriku, mengatakan padaku agar jangan khawatir dengan apa pun tanpa tahu masalahku dan menyelesaikan semua masalahku untukku tanpa aku harus meminta, maka aku akan sangat bahagia."
"Kau bercanda? Memangnya kau mau berpacaran dengan paranormal apa?" lalu mereka tergelak, "Bagaimana dengan Kris?"
Sehun mendelik kesal, "Dia bahkan langsung mundur tanpa meyakinkanku lebih jauh. Dan kenapa kau pikir dia tak menyatakannya padaku secara personal saja?" Sehun dapat melihat kedua bahu Jongin terangkat; tanda tak tahu, "Mungkin itu hanya permainan untuknya, mungkin dia pikir akan sangat mudah untuk membodohiku dan menghancurkanku."
Jongin ikut merebahkan tubuhnya, "Sehun-ah, kau yakin hanya aku yang tahu kalau kau gay?"
"Iya, Jongin, aku hanya punya nyali untuk memberi tahumu."
Lalu suasana menjadi hening.
Sehun menutup kedua matanya, "Memangnya kenapa?"
"Tidak," suara Jongin terdengar ragu-ragu, "bukan apa-apa. Ayo tidur."
Jadi saat itu mereka berdua tidur dan lupa akan semua masalah yang mereka miliki.
Tapi Sehun sama sekali tak menyangka bahwa hal ini lah yang akan dihadapinya saat ia datang ke Sekolahnya. Menjadi pusat perhatian bukanlah gayanya, apalagi menjadi bahan gunjingan. Namun semuanya menjadi jelas saat seseorang bernama Park Chanyeol duduk di bangku miliknya dengan satu batang cokelat di tangan.
"Apa-apaan ini?!"
"Aku menunggumu di sini, chagiya," senyum itu benar-benar memuakkan, dan Sehun tak habis pikir kenapa laki-laki itu masih punya malu untuk menampakkan diri di depannya, "kita berpacaran sekarang, ingat?"
Sehun geleng-geleng kepala, "Kesalah pahaman itu? Jangan konyol, aku hanya mencari-cari alasan dan secara kebetulan kau lah orang yang menurut Kris Wu sebagai orang paling menjijikan yang pernah ia kenal."
"Oh? Jadi kau tak benar-benar menyukaiku?"
Dia mendengus kesal, "Apa aku terlihat suka padamu?"
"Too bad," Chanyeol berdiri dari tempat duduk Sehun sambil memegang cokelat di tangannya, "kita sudah berpacaran sekarang, tak ada yang bisa kau lakukan; kalaupun kau nekat, kau hanya akan dianggap pembohong besar oleh orang-orang yang menonton kemarin," lalu satu tangan yang bebas itu memegang tangan Sehun; cukup kuat sampai Sehun sendiri tak bisa melepaskan pegangan itu, "dan ini ungkapan kasih sayang dariku."
Cokelat itu berpindah ke tangannya. Dan Sehun bisa melihatnya, seringaian yang tampak jelas terlihat seakan apa yang terjadi merupakan suatu permainan yang mengasyikan baginya. Seakan Sehun kali ini merupakan sebuah objek yang menjadi hiburan baginya.
Tangannya bergetar.
Orang-orang luar kelasnya beberapa berkumpul di depan pintu dengan pandangan ingin tahu. Beberapa yang melihat kejadian tadi banyak yang terkesima dan berteriak-teriak seakan hal itu adalah hal paling romantis yang pernah mereka lihat.
Andai mereka lebih mendekat sedikit dan mendengar percakapan antara dirinya dan Park Chanyeol dengan jelas; mungkin kata romantis tak akan pernah terlintas dalam pikiran mereka.
"Brengsek," getaran itu makin hebat, diremasnya cokelat yang berada di tangannya hingga dapat dirasakannya benda itu retak, "jadi dia ingin bermain, huh?"
Andai ini bukan lingkungan Sekolah mungkin Sehun akan berlari mengejar Park Chanyeol dan menghajarnya; namun dia tak sebodoh itu dan masih cukup bisa menahan emosinya yang sebenarnya sudah menggelegak dalam kepalanya.
"Seharusnya aku memang tidak mengatakan hal menjijikan seperti itu."
Rasanya Sehun ingin mengumpat dengan suara keras sampai satu Sekolah mendengarnya.
"Sekarang dia mencoba bermain-main denganku."
Untungnya Jongin belum datang, sehingga sahabatnya itu tak perlu memandang wajah Park Chanyeol yang memuakkan itu.
Dia menghela napas. Dia harus tenang atau dia kalah. Jadi dia berjalan ke tong sampah dan akan membuang cokelat yang sudah retak di tangannya itu; tak peduli dengan pandangan orang-orang yang bingung akan tingkahnya.
"Sehun-ah, kudengar Chanyeol-sunbae datang pagi-pagi sekali lho hanya untuk memberikan itu padamu. Kau tidak kasihan apa padanya?"
Sehun mencoba tersenyum; walau sudut bibirnya serasa kaku, "Aku… tidak begitu suka cokelat." ujarnya, "kalau kalian mau, ini, silahkan ambil saja. Tapi maaf karena cokelatnya tidak utuh lagi."
"Eh, tidak perlu. Chanyeol-sunbae 'kan memberikannya untukmu, kau simpan saja kalau memang tak suka; tak perlu dibuang seperti itu."
Ah, dia lupa. Hampir satu Sekolah ini menyukai Chanyeol dan rela bertekuk lutut demi mendapatkan perhatian laki-laki itu. Jadi pada akhirnya dia tersenyum kecil dan memasukkan cokelat retak itu ke dalam tasnya.
"Nanti ku buang di jalan saja."
TBC
