Balasan review
uciha rani 17: oke dah, chap yang ini dan seterusnya akan saia buat agak panjang .
Terimakasih atas semangatnya senpai .!
hotaru keiko: oke dahh, tenang... nanti sasuke gak bakal sendirian kok.!
RAIN
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
This fic belong to : hasukari melody
Pairing : Uchiha Sasuke X (female)namikaze Naruko
haruno sakura X sabaku no gaara
Rate : T
Genre : Romance,angst
part 3...
SASUKE POV
aku berjongkok di depan kolam ikan halaman belakang sambil memeluk lutut. Kubenamkan wajahku yang basah dalam-dalam. Mendadak kerinduanku pada kaa-san makin memuncak. Aku ingin memeluknya saat itu juga dan mengucpkan bahwa tak akan ada yang bisa menggantinya dihatiku, aku masih terisak saat suara kecil itu menyadarkanku.
"kenapa kau menangis?" tanya suara kecil yang berasal dari sampingku. Aku menoleh dengan mata yang masih berair kudapati gadis kecil yang tadi bersembunyi dibelakan wanita yang bernama haruno rin itu tengah berdiri didekatku sambil tersenyum manis. Aku terdiam menatapnya, dengan ekspresi dinginku yang masih tak juga hilang dari wajahku. Dia masih saja menatapku dengan penuh antusias, mungkin dia tak pernah melihat anak laki-laki menangis sebelumnya .
"namaku haruno sakura," ujarnya riang sambil mengacungkan tangan kananya kearahku. Aku menatap tangan yang terulur itu tanpa minat. Aku memalingkan wajahku dan memilih menatap kolam ikan yang tak menarik itu. "kau takut ya, karena akan mempunyai kaa-san tiri?" tanyanya tanpa peduli pada sikapku yang tak menyenangkan.
Gadis itu tanpa bertanya langsung ikut berjongkok disampingku. Matanya yang emerlad itu ikut memandangi kolam ikan, seperti ingin mencari tahu apa daya tarik kolam itu bagiku dibandingkan dirinya. "kau tak perlu takut. Kaa-san ku itu sangat baik hati. Dia tidak mungkin menyakitimu seperti cerita dongeng-dongen itu. Semua cerita dongeng itu hanya menakut-nakuti kita. Kau tidak perlu terlalu percaya," ujar gadis itu bersemangat.
"kau tidak akan mengalami nasib seperti cinderella atau putri salju, percayalah padaku. Semua cerita itu cuma omong kosong. Kaa-san ku itu lebih mirip ibu peri dibandingkan ibu tiri. Dia juga hebat, walau tou-san sudah meninggal, dia tetap bekerja keras untuk ku. Kau pasti menyukainya , karena aku sangat menyayanginya," sambung gadis kecil itu sesemangat mungkin. Aku bahkan belum pernah sekalipun membaca dongeng perempuan macam cinderella dan utri salju. Bagaimana mungkin dongeng seperti itu bisa membuat seorang uciha sasuke ini takut?
"kau jangan sok tau," ucapku lirih dan dingin. Gadis itu memajukan bibirnya hingga mirip ikan mas koki. Ia menghela napas dan tertawa. "aku ini bukanya sok tau. Aku berbicara sesuai fakta dan pengalaman," celoteh gadis itu lagi dengan gaya yang sangat menyakinkan. "awalnya. Aku juga seperti kau. Aku sangat takut saat kaa-san menatakan bahwa aku akan punya tou-san tiri. Tapi kaa-san selalu bilang kalau aku tidak boleh berprasangka buruk. Ternyat itu benar, tou-san mu itu sangat baik. Aku mau punya papa seperti tou-san mu . Kau juga tak kan kecewa mempunyai mama seperti kaa-san ku."
aku melirik sedikit kearahnya. Rambut nya pendek sebahu dan bewarna baby pink. Matanya emerlad. Pipinya terangkat dengan menggemaskan saat dia tersenyum. Aku mengalihkan pandangan saat mata kami bertemu. dia tertawa kecil saat melihat tingkahku. "aku berjanji padamu, aku akan menjadi adik yang baik dan manis. Aku akan menemanimu. Kita berdua tidak akan pernah merasa kesepian lagi. Dan kau, harus menjadi kakak yang baik untukku. Bagaimana? Setuju?" tanyanya dengan tatapan cerianya.
Aku masih terdiam dan tak menganggapi ucapanya. Aku menghela napas panjang. Entah mengapa gadis kecil disamping ini rasanya mampu mengangkat semua rasa cemas dan takutku. Dengan ragu kuulurkan tanganku padanya, "aku uciha sasuke" ujarku dengan kaku. Gadis kecil itu sedikit terkrjut mendengar ucapanku. "uhm, siapa namamu tadi.?"
aku melihat senyuman gadis manis itu mengembang. Dengan gesit dia membalas uluran tanganku. "namaku haruno sakura! Mulai sekarang aku akan memanggilmu sasuke-nii!" ujarnya bersemangat.
Aku tersenyum tipis melihat keceriannya. Ya, sepertinya aku tak akan pernah melupakan nama itu lagi. Dan untuk petama kalinya, aku merasa segalanya akan baik-baik saja selama celotehan gadis itu masih terdengar.
"tuan muda," ucap kakashi saat aku membuka pintu kamarku. Dia menunduk dengan sopan seperti biasanya. Aku memandangnya penuh tanya tanpammengucapkan sepatah katapun. "sakura-sama menunggu anda didepan."
"sakura?" ulangku heran.
"begitu pesan dari sakura-sama" jawabnya dengan nada datarnya. Maka tanpa memperdulikan apa yang akan dikatakan kakashi selanjutnya, aku segera berlari cepat ke halaman depan rumah. Dengan napas yang terengah-engah, aku terhenti dan menmandangi sosok sakura yang berdiri dengan wajah ceria sambil memegang sepeda berwarna pink disampingnya.
Sakura melambaikan tanganya dengan semangat saat melihatku."sasuke-nii!" serunya riang. "arigatou paman!" serunya lagi pada sosok yang berdiri dibelakangku. Aku menoleh karena penasaran pada orang yang dipanggilnya paman. Dan aku merasa heran bercampur ingin tertawa saat melihat kakashi yang berdiri disana.
Aku berjalan mendekat sambil memandangi sakura dengan sepedanya lekat-lekat. "ada apa?" tanyaku dingin menalahkan dinginya es di kutub utara(^_^p).
"nii-san ayo kita keliling," ajaknya sambl tersenyum lebar. "ayolah, aku belum pernah melihat daerah sekitar sini. Karena aku belum pernah ke konohagakure sebelumnya. Nii-san, kau mau menemaniku, kan?"
aku menatap mata emerladnya yang bersemangat. Rasanya aku tak bisa menolak permintaanya. "baiklah," jawabku singkat. Aku baru akan berjalan ke kakashi saat sakura berteriak, "nii-san kau mau kemana?"
"uhm, meminta kakashi untuk menyediakan sepedaku," jwabku.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat. "tidak perlu. Kau bisa mengendarai sepedaku ini. Aku akan memboncengmu dibelakang bagaimana.?"
aku menatap sepeda warna pink itu dengan ragu. Sepertinya akan sangat memalukan bila aku menaikinya. Bagaimana mungkin seorang uciha sasuke yang jago berkelahi disekolah menaiki sepeda perempun berwarna...pink? Namun sakura masih memandangiku dengan penuh harap. Pandanganku beralih menatap sakura dengan puppy eyes(benerkan tulisanya?). Aku masih memasang wajah enggan sampai akhirnya sakura angkat bicara, "nii-san, aku tidk bisa naik sepeda," ujarnya dengan nada merengek.
"kau harus belajar sepeda," jarku sambil mengendarai sepeda mengelilingi daerah sekitar rumahku.
Aku bisa mendengar dengusan pelan dari boncengan belakang. "keseimbanganku sangat payah.a ku sudah sering mencobanya. Tapi tetap saja gagal," keluhnya dengan nada putus asa.
Aku terdiam lama, merasakan rambut baby pink milik sakura berlibaran menyentuh punggungku. "aku akan mengajarimu," ujarku singkat.
"aku takut jatuh," jawabnya mencoba menolak tawaranku.
Beberapa menit kemudian, hanya suara angin yang terdengar. Tak ada jawaban yang keluar dariku. Otakku berputar mencari cara agar bisa membujuk sakura. Tiba-tiba aku melaju cepat sepedaku dan sakura berteriak takut dan segera melingkarkan kedua tanganya ke pinggangku. "kau tak perlu takut untuk jatuh," ujarku dengan nada datar. Sakura melonggarkan tanganya dan menatapku penuh tanya. "kau bisa berpegangan padaku," lanjutku pelan. Sakura tersenyum lebar dan memperkuat peganganya di pinggangku.
aku menghela napas lega saat bel pulang sekolah berbunyi. Belum pernah aku beranjak dari bangkuku seriang ini. Perasaanku semakin baik dari hari ke hari. Setiap pagi semangatku selalu diisi dengan senyuman hangat sakura dan sarapan lezat buatan ibu peri yang taklain adalah haruno rin yang sekarang berganti nama menjadi uciha rin karena sekarang dia adalah kaa-san ku. Setiap hari aku akan mendengar celotehan sakura tentang kegiatanya disekolahan barunya. Setiap sore kami akan duduk bersama ditaman belakang sambil memandangi langit sore seperti yang biasa aku lakuan bersama kaa-san ku yang dulu.
Saat itu, sakura akan bercerita panjang lebar dengan wajah mengadah menatap langit orangye itu. Dia juga akan mengamati diriku yang sibuk melukis keindahan langit sore. Terkadang, akan keluar komentar dan pujian dari bibir mungilnya. Wajahnya tetap ceria itu sama sekali tak terlihat bosan menemani diriku yang selalu bersikap pasif . Tak jarang sakura membuat masalah dengan menumpahkan tinta ke kanvasku dan membuat semuanya berantakan. Namun, wajah polosnya selalu berhasil meredam amarahku. Dia akan dengan senang hati menyediakan kanvas yang baru dan menyemangatiku untuk memulai melukis dari awal.
Setiap malam kaa-san akan membacakan dongeng untuk aku dan sakura diruang keluarga . Aku adalah pendengar yang kritis dan banyak bertanya tentang alur cerita itu. Sementara sakura akan mendengarkan dengan setengah melamun, aku curiga kalau dia sedang membayangkan versi visual dari dongeng itu. Sakura juga akan selalu tertidur sebelum cerita itu selesai dibacakan dan merangkai ending cerita sesuai dengan keinginanya sendiri. Dan aku juga kembali merasakan kecupan hangat di dahiku yang didaratkan oleh kaa-san. Baru kali ini aku merasakan hari-hari yang begitu menyenangkan. Berangkat ke sekolah bersama sakura dan menghabiskan waktu berasamanya. Mungkin karena semua itu, aku merasa hidupku menjadi lebih berwarna. Kuharap tahun-tahun berikutnya akan seperti ini.
"uciha sasuke" panggilan itu menyadarkanku dari lamunan dan membuatku otomatis menoleh kesumber suara yang tak enak di dengar itu. Aku melihat akamichi chouji sedang berdiri dengan bajunya yang berantakan dan tatapan yang menantang. Aku tetap diam ditempat saat chouji akamichi berjalan maju mendekatiku. "kita belum menyelesaikan urusan kita."
"urusan?" tanyaku pura-pura bodoh. Aku tentu tahu yang dia maksud adalah perkelahian kita yang terakhir, yang masih belum jelas pemenangnya. Chouji tertawa menghina.
Dia menatapku seakan meremehkan "kau takut?kau mau menghindar ?" tanyanya dengan wajah yang diseram-seramnkan. Telapak tanganku mengepal mendengar ledekanya. Aku hampir saja meninju mukanya dan memulai kembali perkelahian yang sempat tertunda, andai saja aku tak mendengar suara itu memanggilku.
"nii-san!" panggil sakura sambil tersenyum dari arah yang berlawnan. Aku mengalihkan pandanganku dari chouji pada sakura. Dengan wajah cerianya, sakura tersenyum makin lebar. "nii-san ayo kita pulang!"
aku menatap chouji dan sakura bergantian. Dari wajah menyebalkan chouji hingga wajah manis sakura. Hingga aku tersenyum tipis dan menepuk pundak chouji . "kau tak lagi penting bagiku" ujarku santai dan berjalan cepat mendekati sakura. Aku masih bisa melihat ekspresi heran dari wajah gempal chouji. Mungkin dia tidak pernah melihat aku setenang ini, ya karena dia belum tahu, semaki hari aku merasa semakin tenang. Aku merasa tenang saat berjalan disampingnya. Disamping sakura, malaikat kecilku.
TO BE CONTINUTED
Gimana senpai chap yang ini udah panjang apa belum.?
