"Kalau kau tidak ingin orang lain memandangmu rendah, maka ubah dirimu menjadi seseorang yang tak dapat direndahkan, oleh orang lain."

Sebuah kalimat bernada sinis masih terngiang diotak Hinata. Bagaimana tidak, baru kali ini seorang Naruto berkata seperti itu padanya.

Sebuah percakapan singkat dengan suasana kaku telah mereka lalui. Peringatan, dan permintaan atau bisa dibilang perintah.

I Am

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family, Romance, Hurt, Friendship mungkin .-.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : OOC, FEMNaru, typo, aneh, gajelas, berantakan, feel gadapat, membingungkan, cerita maksa, alur kecepetan, melankolis alay.

Story by : Pena Bulu

Don't like don't read dear :3

"Naruto!" seorang gadis pirang berlari kedalam sebuah kamar yang penghuninya bahkan sedang berbaring setengah mengantuk.

Naruto menggeram kesal. "Ada apa?" tanyanya lalu menyandarkan dirinya pada sandaran tempat tidur. "Aku mengantuk, Naruko."

"Ish, kau ini. Sekarang masih jam 8 malam, masa kau sudah mengantuk?" kesal Naruko yang sekarang sudah naik ke atas ranjang Naruto. Boneka jerapah milik Naruto bahkan sudah berpindah tangan ke dalam dekapan Naruko.

"Eh aku baru sadar kau menyukai boneka." Naruko mengamati boneka yang ada dipelukannya heran. "Beli dimana?"

"Toko sepatu, ya jelas di toko boneka lah. Tapi itu cuma dibelikan."

"Siapa? Kekasihmu kah?" tanya Naruko penasaran.

Naruto mendengus pelan. "Bukan, itu dari Sasuke." gadis itu melirik sekilas bonekanya. "Saat ulang tahun."

Naruko memasang wajah cemberutnya. "Huh? Kenapa dia tak memberikan kado untukku?"

Naruto mengerutkan keningnya. Iris safirnya melirik kembarannya sinis. "Mana ku tahu. Kalau begitu minta saja." ujarnya datar.

"Eh Naruto, aku ingin tahu, siapa pacarmu. Bolehkah?" tanya Naruko mengalihkan pembicaraan. Matanya berbinar menunggu jawaban dari Naruto.

"Tidak punya!"

Naruko tersenyum melihat Naruto yang salah tingkah. "Yang benar? Masa? Kalau yang kau suka?"

Naruto bangun dari acara berbaringnya. Iris safirnya mendelik kearah Naruko. "Kenapa kau ingin tahu sekali sih?" tanya Naruto kesal. "Lalu kau sendiri?"

"Aku? Karena aku normal tentu saja ada." balas Naruko.

Mereka kini saling berhadapan. Naruto dengan wajah sedikit bersemu merah bercampur kesal berbanding terbalik dengan Naruko yang berbinar dan tampak suka dengan pembicaraan ini.

"Kalau begitu siapa? Aku akan memberitahumu setelah kau memberitahuku." kata Naruto mencoba menawarkan sebuah tawaran yang entah membawa keberuntungan tidak.

"Tidak, hanya inisialnya saja." tolak Naruko halus. "Inisialnya S."

Mata Naruto sedikit melebar. Gadis itu berusaha menyumbunyikan keterkejutannya. Pikiran Naruto sekarang malah bercabang entah kemana. Dia tak fokus pada satu hal.

Inisial itu, Sasuke kah? Yang mereka kenal berinisial S hanya Sasuke. Haruskah Naruto bersaing dengan kembarannya sendiri? Eh? Bersaing? Belum tentu bukan Sasuke menyukai keduanya?

'Shit kenapa harus serumit ini.' pekiknya dalam hati.

Naruto menghela nafas pelan. "S? Apa satu sekolah dengan kita?" tanya Naruto hati-hati.

Naruko tersenyum manis membuat Naruto semakin was-was. "Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa?"

"Hanya tanya." balas Naruto lirih. "Sudahlah aku mau tidur. Sana pulang ke kamarmu." usirnnya halus.

"Eh? Kau belum memberitahuku siapa yang kau suka?" seru Naruko tidak terima

Naruto menarik selimut hingga menutupi wajahnya . "Sudahlah, aku ngantuk. Sana sana."

"Curang, kalau begitu aku tidur disini." balas Naruko yang langsung memposisikan diri disamping Naruto.

.

.

.

"Mau keatap?" tanya Naruto pada Karin. Gadis bersurai merah itu kini tengah menyisir rambutnya.

"Tidak, aku ada janji makan siang dengan Sui-kun." balasnya sembari tangan kanannya membenarkan letak kacamatanya.

"Pantas sedari tadi dandan saja kerjaanmu." sindir Naruto. "Yasudah aku mau keatap dulu. Bye."

== Pena Bulu ==

Naruto memandang datar kearah dua orang yang berada ditaman. Gadis ini berdiri dipinggiran pagar pembatas atap sekolah. Iris safirnya berkilat tajam. Rambut panjangnya berkibar karena angin yang berhembus.

Jadi semua ini benar adanya? Bibir softpink Naruto mengulas senyum tipis lalu terkekeh pelan. Jadi belum dimulai pun dia sudah kalah, begitu?

Sebenarnya apa yang di lihatnya?

Dua orang berbeda gender sedang berdua ditaman. Mereka Sasuke dan Naruko. Mungkin jika mereka hanya duduk saja, tak akan ada masalah.

Sasuke yang menunduk dan Naruko duduk dengan tangan kanannya mengalung di leher Sasuke, bisa membuat siapa saja salah paham bukan? Yah walaupun jika mereka sepasang kekasih sekalipun.

Naruto masih berdiri mengamati mereka. Sekilas, iris Naruto melihat pergerakan kedua orang yang sedang dipandanginya. Dengan cepat, Naruto segera berbalik dan melangkah pergi dari atap sekolah.

"Padahal baru semalam." gumamnya.

.

.

.

"Kau kenapa?" tanya Naruto yang sudah bosan melihat Naruko mondar-mandir didepannya. Sudah mirip setrika saja.

"Ini, tadi Hinata menghubungiku, tapi sekarang malah gantian dia yang tidak menjawab pangggilanku." Naruko masih setia dengan ponselnya. Ibu jarinya sibuk mengusap layar ponselnya yang full screen tanpa keypad.

"Kenapa tidak kerumahnya?" tanya Naruto lagi.

"Kalau begitu temani aku, bagaimana?"

Naruto mendengus. "Lebih baik tidak bertanya."

"Ayolah, kali ini saja. Ya?" Naruko sudah menarik-narik lengan baju Naruto pelan. Memasang tampang imut andalannya.

"Hah, baiklah-baiklah." Naruto menghela nafas berusaha sabar dengan tingkah kembarannya ini.

"Yatta, sepulang sekolah, langsung saja."

== Pena Bulu ==

Naruko menekan tombol kode apartemen Hinata yang sudah dihafalnya diluar kepala. Tak butuh waktu lama, Naruto dan Naruko sudah berada di dalamnya.

Gelap, dan berantakan.

Majalah berserakan dilantai, ada beberapa bungkus rokok dan puntung rokoknya diatas meja.

Suara geraman membuat Naruko sedikit merinding. "Hinata?" panggilnya.

Sekali lagi suara geraman yang terdengar. Naruko menarik Naruto menuju sebuah ruangan yang sepertinya itu kamar milik Hinata.

Hanya mengenakan tank top hitam dan hotpants, rambut indigonya yang panjang tapi acak-acakan, mata albusnya kini sedikit memerah dan berair.

Tubuh Hinata menggeliat, kulitnya semakin memucat, nafasnya pun tersengal-sengal.

Penggunaan dan penyalah gunaan barang bak kristal ini dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan pada susunan saraf pusat.

Efek penggunaan barang ini adalah kewaspadaan meningkat, rasa bahagia, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, sukar tidur, mata merah.

Satu-satunya yang menetralkan adalah ganja. Jikalau sabu-sabu untuk meningkatkan, berarti ganja untuk menenangkan. Tapi sayang, gadis ini sedang kebahisan semuanya.

Selimut yang sudah kusut, pintu lemari yang terbuka lebar, buku berserakan, sedikit lebih baik daripada penggambaran kapal pecah.

"HINATA?!" pekik Naruko kaget.

Dengan cekatan, Naruko menghampiri Hinata. Tangannya menyentuh pundah Hinata yang kemudian dibalas dengan geraman. Tubuhnya nyeri.

Naruto membiarkan Naruko mengurus Hinata barang sebentar. Dirinya segera melangkah ke toilet. Mengisi bathup dengan air dingin.

Naruto menarik kemudian memapah Hinata menuju toilet. Dirinya seperti tak peduli dengan rasa nyeri di sekujur tubuh Hinata.

Naruto menyalakan shower, airnya turun membasahi badannya juga Hinata. Tangan kirinya kini meraih kepala Hinata dan membawanya ke dalam genangan air dalam bathup, begitu dan berulang-ulang.

Air itu bersifat menenangkan, jadi tak jarang kita juga merasakan tenang bila bermain air.

"Bagaimana dia?" tanya Naruko meletakkan segelas susu di dekat nakas.

Naruto masih sibuk dengan mengganti bajunya dengan baju olahraga miliknya. "Kita tunggu setelah bangun. Paksa dia masuk panti rehab."

== Pena Bulu ==

"Terimakasih." lirih Hinata. Tangannya menerima uluran segelas susu hangat untuknya.

Naruko duduk dipinggiran ranjang milik Hinata, sedangkan Naruto terduduk diatas sebuah kursi didepan meja rias. Iris safirnya menatap Hinata tajam. Rupanya perintahnya belum di laksanakan.

"Hyuuga, bukankah sudah kukatakan untuk masuk panti rehab?" sinis Naruto. Kedua tangannya menyilang didepan dada.

"Aku memikirkannya."

Naruto terkekeh pelan. "Lalu kenapa ini terjadi? Beruntung kau tidak langsung merenggang nyawa."

"Terimakasih dan aku minta maaf karena merepotkanmu. Tapi bukankah akan selesai jika aku langsung mati, bukan begitu Naruto?" Hinata meletakkan gelas susu yang sudah habis isinya keatas nakas.

"Dan membiarkan angka kematian karena penyalahgunaan narkoba semakin meningkat? Jangan harap! Kau tahu, Konoha menjadi kota dengan peringkat nomor 3 se-Jepang dalam pemakaian narkoba." balas Naruto.

Hinata menyandarkan punggungnya. "Oh kau ternyata peduli tentang ini. Hebat sekali."

"Generasi bangsa, tiap-tiap generasi ibarat memegang tongkat estafet. Dan tiap-tiap generasi pula yang akan menjadi tonggak masa depan Negara. Kalau bukan kita siapa lagi?" Naruto merapikan rambutnya yang masih setengah basah.

Hinata tersenyum miring, "Untuk apa peduli? Negara ini banyak kekurangannya, banyak orang juga tahu negara ini negara hancur. Yang atas hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri, korupsi tanpa memikirkan rakyat. Yang bawah, hanya menuntut dan menuntut."

"Seburuk-buruknya negara ini, kau lahir dan tumbuh besar disini. Menikmati tanah, dan airnya. Sudah sepantasnya kau berterimakasih, bukan malah berkata seenaknya sendiri." balas Naruto tajam. "Lagi pula, kau bisa mengkritisi seharusnya kau bisa menunjukkan kalau kau bisa membuat negara ini menjadi lebih baik, bukan?"

"Bukankah sudah banyak yang berminat untuk terjun dalam politik, Naruto?"

"Mengabdi kepada negara tidak hanya pada bidang politik. Dengan kau tidak menggunakan narkoba, itu sudah awal yang baik."

"Maa, Kalian ini, sudahlah." ujar Naruko menengahi. "Masuklah panti rehab setelah ini Hinata, Naruto bisa membantumu."

Naruko menatap lurus kearah Hinata. Seorang user tidak suka direndahkan. Tataplah mereka pada matanya atau serendah-rendahnya sebatas hidung jangan dibawahnya, karena itu bisa berarti merendahkan lawan bicara.

"Aku tidak mengerti, kedua orang tua itu masih saja berselisih paham hingga sekarang." cicitnya. Kepalanya tertunduk, kedua kakinya memeluk lututnya.

"Kali ini mereka memperebutkan harta lagi. Sebegitu pentingnya kah itu dimata mereka?" lirihnya diiringi isakan kecil.

"Ini seperti mereka membuka luka lamaku." gadis bersurai indigo itu mencengkram selimut bergambar bunga sakura.

"Kehilangan mereka sudah cukup menjadi rintangan dihidup. Ada yang bercerita, badan bertanya kepada hati, jika badan terluka, dokter yang akan menyembuhkannya. Jika hati yang terluka siapa yang akan menyembuhkannya?"

"Hinata?" lirih Naruko.

"Mereka bilang tidak ada alasan untuk cinta. Itu bohong! Bagaimana bisa seseorang mencintai tanpa alasan? Mungkin orang tuaku menikah karena harta dan tahta. Maka dari itu, keluarganya pun hancur. Termasuk diriku."

"Dunia ini seperti hutan. Jika kita tidak memakan orang lain, maka orang lain yang akan memakan kita. Jadi kita harus bertahan, Hinata." balas Naruko berusaha menyemangati.

"Mudah untuk mengatakan, tapi semua akan terasa berbeda ketika kau berada didepan rintangan hidup." Hinata mengusap air matanya yang kembali menetes.

Naruko menghela nafasnya pelan. "Percayalah pada sebuah payung rusak kecil yang kau punya dan teroboslah hujan."

"Jika menemukan rintangan, yang perlu kau lalui adalah melewatinya. Maka rintangan itu akan berubah menjadi jembatan." tambah Naruto yang sedari tadi diam.

"Yah, hidup seperti sebuah kotak coklat, kau tidak akan tahu apa yang akan kau dapat." Naruto berdiri dan melangkah maju.

Hinata mengangkat kepalanya. "Aku berharap bahwa dunia bisa diam, jadi aku bisa membuat hatiku yakin dan mendengar itu semua dengan benar." Hinata tersenyum. "Aku sudah berjalan 100 langkah, dan aku hanya tinggal berjalan satu langkah lagi. Aku akan masuk panti rehab."

Hinata memutar tubuhnya menghadap Naruto. "Namikaze-san, Arigatou." ucapnya dengan badan yang membungkuk.

.

.

.

"Sudah seminggu ya." lirih Naruko.

Naruto memandang Naruko dengan alis bertaut. "Hah? Apanya?" tanyanya. Wajah dengan raut bingung sukses membuat Naruko tergelak tawa.

"Tidak. Itu loh, Hinata masuk panti rehab sudah seminggu." balas Naruko.

"Oh, hanya itu."

Sebuah nada dering nyaring berbunyi mengalihkan perhatian mereka pada sebuah ponsel disebelah Naruto.

Tangan yang dibalut kulit tan itu meraih ponselnya.

"Kenapa tidak diangkat?" tanya Naruko yang melihat Naruto kembali meletakkan ponselnya.

"Aku takut mengganggu kalian." balas Naruto. Iris safirnya melirik kearah Naruko dan beberapa temannya yang lain. Kiba, Karin, Tenten, semua sedang berkumpul disini.

"Memangnya dari siapa?" tanya Karin.

"Bukan siapa-siapa. Lagi pula sudah tidak tersambung lagi panggilannya." Naruto melirik kearah Naruko yang kini sibuk dengan gadgetnya.

"Kau kenapa tersenyum sendiri?" Kiba menyenggol Naruko yang sedang sibuk dengan ponsel touch screennya.

"Besok, SMA Suna mengadakan festival. Bagaimana kalau kita datang? Hitung-hitung sebagai refreshing." ajak Naruko.

"Boleh juga, bagaimana menurut kalian?" kata Tenten. Gadis bercepol dua kini meletakkan buku bacaannya.

"Oke, sepulang sekolah, bagaimana?" sambung Kiba setuju.

"Baiklah, Naruto ikut?" tanya Karin.

"Entah, lihat nanti."

== Pena Bulu ==

Naruto, Naruko, Karin, Tenten, Kiba, dan Lee berada di depan gerbang SMA Suna.

"Naruko?" panggil seorang berambut merah bata.

Naruko mengalihkan pandangannya kearah samping. "Oi, Gaara!" pekiknya. Tangannya kini berhigh five dengan tangan Gaara.

"Kau kenal murid Suna, Naruko?" bisik Naruto heran.

"Yeah, teman bimbelku." balasnya dengan bisikan juga.

"Oh iya, Naruto, Karin, Kiba, Lee, dan Tenten, ini Gaara temanku." ujar Naruko memperkenalkan Gaara pada teman-temannya.

"Oi, bukankah kau vokalis band Suna?" tanya Lee. Oh sial! Kenapa juga dia punya jiwa fangirl.

Gaara tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya.

"Jadi, ini kembaranmu Naruko?" tanya Gaara. Mata jadenya melirik kearah Naruto. "Lebih cantik daripada kau." candanya.

Iris safir Naruko menyipit. "Kau tidak ingat siapa kekasihmu, Gaara?" ujarnya dengan senyum miring. "Awas kau berani mendekati Naruto."

Gaara terkekeh pelan. "Tidak, tidak. Ayo ikut aku. Ada sesuatu untukmu." ujarnya lalu menarik Naruko pergi.

"Naruto aku pergi, pergilah kemana kau suka, bye." teriak Naruko.

Naruto memasang wajah cemberutnya. "Sial. Kemana pula yang lainnya? Kenapa jadi aku sendirian?" keluhnya.

.

.

.

Naruto membeli beberapa makanan di beberapa stand yang dia minati, atau mungkin yang agak sepi. Malas mengantri sepertinya.

Ditangannya sudah ada beberapa tusuk Yakitori, dan satu porsi Okonomiyaki. Naruto memilih untuk menjauh dari keramaian saja.

Disini sebuah pinggir halaman dengan pohon yang teduh, tempat yang pas untuk beristirahat. Matahari memang sudah condong ke barat. Tapi ditempat sepi lebih nyaman untuk beristirahat bukan?

"Kau sendiri?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk disebelahnya sehingga membuatnya tersedak.

Orang itu mengulurkan sebotol air mineral yang langsung ditengguk oleh Naruto. "Bisa tidak sih kalau tidak mengagetkan orang?" kesal Naruto.

"Hn."

'Teme sialan!' umpat Naruto dalam hati.

"Sudah selesai makannya?" tanya Sasuke yang kini menikmati hembusan angin diwajahnya.

"Belum, kenapa?"

"Tidak bersama Naruko?" tanya Sasuke lagi.

Naruto menyipitkan matanya. "Tidak, tadi dia pergi entah kemana."

"Ayo." ajak pemuda berambut raven itu sembari mengulurkan tangannya.

Naruto mengulurkan tangannya."Kemana?"

"Berkeliling. Jauh-jauh kemari tidak mau jalan-jalan?"

"Aku mau pulang saja." balas Naruto kurang antusias.

"Padahal puncak acaranya sebentar lagi. Tanggung, Naruko juga belum ketemu kan?"

"Naruko lagi, Naruko lagi." gumam lirih Naruto.

Sasuke mengernyit. "Kau bilang apa tadi?"

"Ah, tidak. Ayo berkeliling." ujar Naruto salah tingkah. Gadis itu kini menyeret Sasuke pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan kesal.

== Pena Bulu ==

Berbagai stand hiburan pun sudah Naruto jelajahi. Mulai dari stand menjaring ikan, dengan jaring tisu, sampai stand love tester yang membuatnya moodnya tiba-tiba down. Bagaimana tidak? Setelah mencoba test di stand love tester, tingkat kecocokan Naruto dan Sasuke hanya sekitar 45% saja. Setidaknya Naruto ingin angka diataas 75%

Dengan cemberut, Naruto mengikuti sasuke dari belakang. "Teme, kapan dimulai sih? Katanya sebentar lagi. Tapi ini sudah hampir 2 jam berlalu."

"Jam 8 mulai."

"Apa? Itu masih sekitar 15 menit lagi. Kau bilang sebentar lagi." protes Naruto. "Sekarang kita akan kemana?"

"Taman."

'Irit sekali bicaranya.' Cibir Naruto dalam hati.

Naruto dan Sasuke sampai di taman. Sepi memang, tapi cukup nyaman untuk relax.

Naruto mendudukkan dirinya pada ayunan yang ada. Sedangkan Sasuke berdiri menyandar pada tiang penyangga ayunan. Tangannya menyilang didepan dada. Angin yang tak terlalu kencang pun menggoyangkan pelan helaian raven miliknya yang kian memanjang.

"Kau tidak punya wajah yang lebih seram lagi, Sasuke?" sindir Naruto. Gadis itu sedikit bergidik melohat tatapan tajam dari Sasuke.

Sasuke tersenyum miring. "Hn."

Naruto tak mengindahkan balasan dari Sasuke. Dirinya sibuk mengamati taburan bintang dilangit malam ini.

Sasuke melirik kearah jam tangannya. Dilangkahkan kakinya kearah Naruto. Tangannya mengayunkan pelan ayunan yang diduduki Naruto.

"Hei, Naruto." panggil Sasuke.

Bunga api yang menjadi puncak acara pun sudah menghiasi langit disekitar mereka. Bunyi-bunyi ledakan pun seolah tak mengganggu mereka.

Iris safir Naruto terbuka lebar. Tepat saat ledakan pertama, Sasuke menciumnya. Sesaat, Naruto menikmatinya. Tapi setelah itu, terbesit bayang-bayang akan Naruko.

Naruko? Bagaimana kalau gadis itu melihatnya? Iris safir itu sedikit berkaca-kaca. Dengan cepat, kedua tangan Naruto mendorong Sasuke melepas tautan bibir diatara mereka.

"Kau! Apa yang kau lakukan?" pekik Naruto. Jantungnya masih berdebar kencang.

"Menciummu, apa lagi?" tanya Sasuke enteng. Tak tahukah dikau jikalau sekarang ini Naruto tengah frustasi dibuatnya?

"Bagaimana kalau Naruko melihatnya?" tanya Naruto pelan. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Sikunya menjadi tumpuannya diatas lutut.

"Tidak masalah bukan?"

Iris safir Naruto berkilat tajam menunjukkan kemarahannya. "Tidak masalah bagaimana?" Naruto berdiri dan menjauh dari Sasuke.

Kini gantian Naruto yang menyandarkan punggungnya pada tiang ayunan.

"Kau tidak punya kekasih bukan? Lalu apa salahnya? Bahkan aku menyukaimu, Naruto. Kau saja yang tidak pernah mau memikirkannya." ujar Sasuke.

Naruto menundukkan kepalanya. Tangan kirinya bertaut di lengan kanannya. "Bagaimana kalau Naruko tahu tentang ini?" lirihnya lagi. "Hubunganku dengan Naruko baru saja membaik. Aku tidak ingin merusaknya kembali."

Sasuke mengernyit bingung. Kenapa jadi melantur? Pikirnya bingung. "Kau ini bicara apa, hn?" tanya Sasuke. Jari telunjuknya mengangkat dagu Naruto. Safir dan Onyx bertemu pandang.

"Bukankah kau kekasih Naruko?"

Alis Sasuke bertaut. Sedetik kemudian, Sasuke terkekeh geli. "Jadi itu yang membuatmu tiba-tiba aneh begini?" Sasuke mengacak surai pirang milik Sasuke pelan. "Lagi pula kekasih Naruko itu Sasori. Kau tidak tahu?"

"Tapi aku melihatmu berciuman dengan Naruko ditaman sekolah."

"Yang mana?"

"Yang itu pokoknya." balas Naruto dengan cemberut.

"Ah yang itu! Biar kujelaskan."

Flashback

"Sepertinya Naruto menyukaimu, Sasuke." ujar Naruko.

"Hn. Dia menghindariku." balasnya tidak nyambung.

Naruko memutar kedua bola matanya. "Hubunganku dengan Naruto sudah membaik."

"Aku sudah tahu."

Naruko mendengus kesal. "Bisa tidak menjawab pertanyaanku itu dengan diikuti sedikit niat?"

"Hn."

"Sial! Aku tahu rahasiamu Uchiha. Kau ingin aku mengatakan pada Naruto kalau kau menyukainya?" ancam Naruko dengan kesal.

"Katakan saja." Sasuke menghela nafasnya. "Aku sudah mencoba berulang kali mengatakan padanya. Tapi dia tidak peduli." tambahnya dengan mengedikkan bahunya.

Naruko terdiam sebentar lalu tersenyum. "Aku punya ide, kemari."

Naruko mengisyaratkan Sasuke untuk menunduk. Kemudian, tangan kanannya mengalung dileher Sasuke.

"Bagaimana?" tanya Naruko setelah membisikkan idenya.

"Hn. Terserah."

Air wajah Naruko sedikit menegang dikala tak sengaja iris safirnya melihat siluet sosok yang sama dengan dirinya diatap sekolah.

"Ups, sepertinya kita mendapat bumbu untuk rencana ini." ujarnya ambigu.

Sasuke tak menanggapi, tapi yang pasti matanya mengikuti arah pandang Naruko keatap sekolah. Tak butuh waktu lama untuk seorang Uchiha menyadari siapa yang disana.

Flashback End

"Jadi?" tanya Sasuke setelah mengakhiri ceritanya. Pemuda itu tahu, gadis didepannya ini benar-benar sedang menahan malu sekarang.

"Apa?" Naruto menatap lurus kearah mata Sasuke.

"Kau pacarku." Sasuke menyentil pelan hidung Naruto.

"Aku belum bilang iya!" protesnya. Naruto mengalihkan pandangannya ketika Sasuke mulai menatapnya intens.

Sasuke memegang rahang Naruto, membuatnya bertatap muka. "Aku tidak menerima jawaban tidak, Naruto." tegas Sasuke final.

"Tapi aku tidak mau!" pekiknya keras.

Naruto menahan nafasnya, jarak wajahnya dengan wajah Sasuke tidak bisa dibilang jauh. "Jadilah kekasihku, Namikaze Naruto." lirihnya kemudian mempertemukan kembali bibir miliknya dengan milik Naruto.

Iris safirnya menatap sayu kearah mata Sasuke yang terpejam rapat menikmati ciuman diantara mereka. Entah terhanyut suasana, Naruto ikut menutup matanya menikmati ciuman diantara mereka.

Dengan background langit malam berhias bunga-bunga api yang menambah keindahan malam ini.

.

.

.

"Jadi, kalian sudah resmi berpacaran?" tanya Naruko ketika melihat Sasuke dan Naruto berjalan dengan bertautan tangan.

Naruto tidak menjawabnya, tapi jelas dia masih berusaha menyembunyikan rona merah diwajahnya, lalu berusaha melepas paksa tautan tangan diantara mereka.

"Tidak perlu malu begitu Naruto." goda Naruko yang malah semakin membuat kedua pipi Naruto bersemu merah.

"U-urusai!"

"Oh ya, Naruko. Ini Sasori kekasihku. Dan Sasori ini Naruko kakak kembarku." ujar Naruko memperkenalkan seorang beerambut merah muda yang sedari tadi diam dengan senyum geli.

"Jadi ini yang membuatmu memintaku untuk mengosongkan area taman, Naruko?" tanya Sasori yang hanya dibalas dengan tawa tanpa salah Naruko.

"Senang berkenalan denganmu, Namikaze Naruto."

"Hoy, Minna!" teriak seorang pemuda bertato segitiga dikedua pipinya.

Kiba, Lee, Tenten, dan Karin mempercepat langkah mereka menghampiri Naruto dan Naruko.

"Bagaimana Sas? Berhasilkah?" tanya Tenten.

"Jadi, kalian semua juga tahu tentang ini?" pekik Naruto kaget.

Semua orang yang dihadapan Naruto mengacungkan tanda V dengan jarinya, tapi minus dengan Sasuke. Lagi-lagi hal ini membuat sebal Naruto.

== Pena Bulu ==

Kereta untuk mereka pulang ini bisa dibilang sepi. Digerbong yang mereka tempati, hanya terdapat gerombolan mereka saja, itupun mereka duduknya berjauhan. Privasi katanya. Padahal mereka hanya ingin membuat Sasuke dan Naruto berduaan.

Sasuke menyandarkan kepalanya dibahu Naruto, matanya pun ikut terpejam. Tingkah Sasuke ini sukses membuat rona merah dipipi Naruto kembali hadir menghiasi pipi bergaris tersebut.

Naruto sedikit mengulas senyum melihat Sasuke yang tertidur dibahunya. Tangannya terangkat untuk mengacak surai raven itu.

"Jangan memandangiku, Naruto. Aku belum tidur." lirih Sasuke yang langsung membuat Naruto salah tingkah.

"Ka-kalau begitu, jangan menyandar dibahuku. Hush!" usirnya, tangannya sudah mendorong kepala Sasuke agar menjauh.

"Dobe!" ujar Sasuke sembari jarinya menyentil dahi Naruto, dan dengan secepat kilat, Sasuke memberi kecupan dibibir softpink Naruto.

"Yak! TEMEEEE!"

The End!

Hei yoo! ketemu lagi, maaf baru update. Saya sakit yaaah gak lama sih cuma seminggu lebih beberapa hari :v Dan saya minta maaf lagi-lagi ada readers yang protes di kotak review ff Dibawah Langit Senja, next chapter masih proses. Dan gimana chapter ini? hasil kebut hahaha, kritik dan saran ditunggu :) Oh ya, ada yang nanya bingung mau panggil saya apa kan? panggil aja salah satu kata dari penname saya :p hahaha dan sekali lagi, ada yang tanya apa saya pengguna narkoba?, jawabannya tidak. Saya tahu penggunaannya itu dari organisasi anti narkoba yang saya ikuti. Sekian dan terimakasih.

Jauhi Narkoba kawan :)

Spesial Thanks to : Valua Harazuku | Lilin | Mounty | Semua yang review atas nama Guest | Anita indah 777 | alta0sapphire | SNLop | Uhara Ucime | xxxSN | Shika | Mifta Cinya | Blue | smile | Im | dora | neko | Uzumaki Fiyyana | Calpa-chan | Hanazawa Kay | Akuma Ryusuke Uchiha-Namikaze | Shanzec | Harpairiry | Uzumaki Prince Dobe-Nii | Ara Uchiha | Onyx SapphireSky | Gray Areader | Yukiko Senju | Sivanya anggarada | UzumakiDesy | Miela vian | Ai no Dobe.

Review?