BELOVED

(NARUSASU)

Masashi Kishimoto

Satu lagi cerita bertajuk Naruto dan Sasuke hadir diantara intimidasi deadline tugas yang menggunung. Jika suka silakan baca. Judul dan isi tidak saling berkaitan. Penulisan apa adanya. Kesalahan bertebaran dimana-mana.

-af-

.

.

.

Suasana pagi itu tidak terlalu ramai. Masih terlalu pagi untuk menginjakan kaki di pelataran sekolah. Kecuali mereka yang memiliki kelebihan hormon 'anak rajin' saja yang sudah menenggerkan bokong seksinya di tempat duduk kelas masing-masing. Dan salah satu yang hari ini memiliki kelebihan hormon tersebut adalah seorang pemuda berusia belasan tahun, bernama Namikaze Naruto. Pemilik rambut pirang cerah itu dengan sangat terpaksa lari dari amukan ibunya yang semalam tertunda karena harus melayani sang ayah –dalam tanda kutip. Keganasan rayuan ayahnya yang juga memiliki ciri persisi seperti dirinya itu, rupaya tak mampu dilawan ibunya. Alhasil, Naruto menabung satu amukan dari wanita yang tujuh belas tahun lalu melahirkannya.

"Hhhhh..."

Desahan panjang yang menyertai paginya itu, sudah lima kali keluar. Mencemari polusi disekitarnya. Kelas masih sepi, dan Naruto masih cukup punya waktu untuk memejamkan mata. Namun, baru saja ia berniat pergi ke alam mimpi, pintu geser kelas 11-4 itu berderit. Tanda kalau seseorang baru saja menggesernya. Sejumput rambut hitam arang menyembul kemudian. Disusul dengan wajah berkulit porselain yang sangat Naruto hafal. Uchiha Sasuke memasuki kelas dengan gaya anggun khas bangsawan.

Wajah datarnya tak sedikit pun menoleh tanda tertarik pada satu-satunya makhluk selain dirinya. Ia bantas saja, memosisikan diri pada tempat duduk di barisan paling depan dekat jendela. Membenahi tas dan segala pelatan tulisnya. Kemudian menopang dagu sembari membuka buku bersampul biru yang sepertinya bukan eksiklopedia. Mengingat bagaimana Sasuke adalah maniak mata pelajaran. Naruto takjub seketika.

Dunia di sekitarnya seolah berhenti bergerak. Sejak kejadian dimana seorang Inuzuka Kiba dan Uchiha Itachi memaknai perasaan anehnya terhadap Uchiha Sasuke, sosok itu seolah terpatri dalam ingatan. Menempel erat pada mimpi malamnya, juga setiap pikiran menjurus pada sosok berwajah datar di sana. Naruto tidak mengerti, mengapa ia bisa merasakan yang namanya cinta. Wajar sih, kalau dilihat dari kacamata usia. Yang tidak wajar adalah objeknya. Kalau pun Naruto itu menyimpang, bukankah akan lebih masuk akal jika dirinya menyukai Sabaku Gaara dari kelas sebelah. Keduanya sama-sama tampan. Ditambah Gaara adalah sosok menyenangkan yang pandai bergaul dengan siapa saja. bukan orang kaku macam Sasuke yang bisanya bermulut pedas.

"Berhenti menatapku, Naruto!"

Bentakan Sasuke sontak menyadarkan Naruto dari transnya. Menedip dua kali, Naruto merasa malu ketahuan menatapi si Uchiha. Mau ditaruh dimana mukanya. Dan tatapan itu. Sial! Naruto jadi panas dingin dibuatnya.

"Haha... tidak kok. Aku hanya heran kau berangkat sepagi ini".

"Hn"

Respon Sasuke membuat Naruto mengkerut tidak suka. Apa-apaan jawaban macam itu. Hanya dua huruf keramat yang keluar dari mulutnya. Naruto kan jadi tidak tahu maksudnya.

Memilih bungkam, daripada kena semprot lagi. Naruto kembali ke kegiatan semula. Mencoba mencari posisi yang pas untuk merebahkan kepala. Berniat jatuh dari alam sadar. Mencoba mencari mimpi yang semalam melanda. Tapi tidak!

Sosok Sasuke berputar dalam pandangan. Sosok manis itu menari-nari di pelupuk mata. Setiap ia memejam, Sasuke selalu ada di sana. Menggodanya dengan kedipan nakal. Astaga! Naruto bisa jadi gila. Sejak melihat Sasuke dalam dandanan ala rumahan, Naruto tidak sekali pun bisa menghilangkan bayangannya. Sungguh cantik dan oh... mengairahkan. Sial! Kalau dia tidak berhenti sekarang, bisa dipastikan selama sisa pelajaran tak akan ada satu pun materi yang singgah di kepalanya.

Mengerang gusar, Naruto mengacak frustasi rambutnya. Sejak ketertarikan pertamanya, Naruto tidak merasa sedepresi ini. Tapi begitu melihat penampilan Sasuke Sabtu malam kemarin, dirinya berubah jadi sangat aneh. Naruto sendiri tidak tahu. Perasaannya saat ini menyesakkan. Membuat kosong pikiran. Mengganggu jalur pernafasan. Dan membuat dadanya sakit karena dentuman. Tapi aneh, ia merasa senang. Seolah ribuan kupu-kupu terbang di perutnya. Apalagi kalau bertemu muka dengan sang pujaan, tambah bahagia harinya.

Derit pintu kembali berbunyi. Sepasang siswa siswi memasuki ruang kelas dengan berbincang. Salah satunya tertawa dengan sangat ceria. Suara tawanya bahkan terdengar sangat natural. Lalu sebuah suara lain menimpali tawa pertama.

"Mungkin akan kubelikan untukmu lain kali"

"Benarkah? Terimakasih Sai"

Sai dan Sakura berjalan sembari bergandengan tangan. Tautan jemarinya seolah sudah tak bisa dilepas untuk selamanya. Begitulah yang Naruto pikirkan. Memang benar kan? Di mana-mana, mereka selalu saja bergandengan tangan. Menunjukkan pada setiap mata yang memandang kalau mereka adalah pasangan kekasih paling bahagia. Naruto tidak iri, hanya saja matanya sedikit risih melihat hal itu setiap hari.

"Eh?". Suara kaget Sai bisa ditangkap telinga Naruto. Dua orang yang baru memasuki kelas itu berhenti mendadak. Membuat Naruto yang lebih dulu ada disana menoleh. Bertanya lewat tatapan hal apa yang kiranya membuat Sai menampilkan ekspresi lain selain senyum mencurigakannya.

Sakura juga merasa heran dengan tingkah kekasihnya. Tidak biasanya Sai kehilangan kendali atas senyum yang biasa dia tampilkan. "Sai?", Sakura bertanya.

Sai tersadar kalau tingkahnya sudah mulai tidak wajar. Salahkan Naruto yang tiba-tiba sudah duduk manis di bangkunya. Pemuda itu tidak biasa berangkat sepagi ini. Apalagi dengan adanya Sasuke. Bukankah itu... aneh?

"Ekh.. maaf", kata Sai. Mencoba mengembalikan wibawanya. "Aku tidak tahu kalau kau akan bertindak secepat ini?"

Sakura bingung. Pacarnya itu kadang anehnya kelihatan. Dia menatap Naruto meminta pertolongan. Siapa tahu pemuda itu tahu maksud Sai. Dan mau berbaik hati menerjemahkan maksud perkataan Sai. Sayanganya, Naruto juga tidak tahu. Kedikkan bahunya menandakan kalau ia juga bingung sama seperti Sakura.

Mengacuhkan tatapan bingung Sakura, Sai menggeret tangan gadisnya untuk duduk. Tepat di sebelah bangku Naruto. Begitu duduk, Sai dengan suara yang tidak cukup lirih, "Kau gerak cepat ya".

Naruto makin bingung. Suasana makin absurd. Sai lagi kumat anehnya. Sakura melirik sang pacar, kemudian mulai memerhatikan. Perubahan mimik lelaki pirang itu sedikit menarik menurutnya. Naruto yang kaget, dan Sai yang terlihat menyeringai.

"A-apa maksudmu?"

"Mendekati Sasuke?"

Kedip.

Kedip.

"HEH?!"

Naruto membulat. Sontak tubuhnya terangkat. Tidak percaya kalau Sai bisa memiliki pemikiran macam itu. Dia ini masih Shimura Sai, tukang senyum yang kadang tidak peduli pada apapun kan?

Sakura melirik Sasuke. Yang dilirk tidak peduli, masih dengan kegiatan semula. Membaca buku entah apa. Kemudian melirik Naruto yang belum hilang kekagetannya. Lalu melirik Sai yang kembali setia dengan senyum palsunya. Otaknya bekerja lebih dari biasanya. Meski awalnya bingung, detik selanjutnya Sakura teresenyum. Simpul dan menawan. Kikik kecil menjadi pemanis alami wajahnya. Dia mulai sadar dengan kalimat 'mendekati Sasuke' yang diucapkan sang kekasih.

Didukung dengan ruang kelas yang masih kosong melompong. Suasana pagi yang cukup romantis untuk acara penembakan. Tidak akan ada yang mengganggu.

"Kalau suka, kan tinggal bilang saja?"

Naruto terpojok. Apa-apaan pasangan di depannya ini. Mereka baru tiba dan langsung bicara seperti itu. Siapa yang suka siapa?

"Kau suka Sasuke kan?". Sai tak sedikit pun berusaha mengurangi volume suaranya. Yakinlah kalau Sasuke bisa dengar itu. Mau ditaruh dimana mukanya? Tong sampah?

Naruto malu. Sangat malu. Wajahnya sampai merah kayak kepiting rebus. Sampai ke telinga. Mau menyangkal, suara nyangkut di tenggorokan. Diam saja berarti membenarkan. Iya sih dia suka Sasuke. Tapi kalau diomongin langsung kan malu. Apalagi yang bicara bukan dirinya sendiri.

Dengan gerakan patah-patah, Naruto melirik Sasuke. Mengacuhkan Sai yang memberinya tatapan menggoda. Tapi, begitu melihat Sasuke masih anteng seperti beberapa menit lalu, Naruto menarik nafas lega. Sangat tidak etis jika Sasuke mengetahui perasaannya dengan cara tidak elegan seperti keceplosan. Itu bukan gaya Naruto.

"Tenang saja, Sasuke selalu mendengarkan lagu jika sedang membaca". Sai kembali bersuara. Ia memebanhi meja tulisnya. Mengeluarkan buku pelajaran kemudian duduk dengan tenang. Setenang wajahnya yang tak pernah lepas dari senyuman. Di sebelahnya Sakura mengangguk-angguk. Dia mulai mengerti pembicaraan ini.

"Dari mana kau tahu?"

"Tentu saja tahu, kami sering mendapati Sasuke seperti itu", jawab Sakura. "Jadi kau tidak perlu khawatir, masih ada cukup waktu untukmu menyusun rencana penembakan yang romantis dan berkesan", lanjutnya. Gadis itu tersenyum riang. Gigi putihnya sampai terlihat. Katanya lagi, "Aku juga akan membantu kalau kau mau".

"A-apa!"

TENG. TONG.

.

.

.

Sasuke, Kiba, Sai, Sakura dan Naruto. Menghabiskan waktu makan siangnya dengan berkutat di perpustakaan guna membahas tugas kelompok mereka. Kemarin saat di rumah Sasuke, mereka sudah mengerjakan sebagian dari 200 soal matematika yang ditugaskan oleh guru Ibiki. Masih ada 150-an soal lagi yang tersisa. Rencananya sepulang sekolah mereka akan melanjutkan mengerjakan. Karena itulah, mereka berlima berkumpul di perpustakaan, selain untuk menyicil sisa tugasnya mereka juga berunding untuk memutuskan di rumah siapa mereka melanjutkan kelompok.

"Bagaimana kalau rumah Naruto", celetuk Saskura. Gadis itu memberi kedipan pada Sai untuk menyetujui idenya.

"Yah, boleh juga. Sudah lama aku tidak main ke rumahmu", Sai menimpali. Mereka memang pasangan serasi. Bahkan lewat kerlingan mata saja dua muda-mudi yang tengah dilanda asmara itu bisa tahu maksud masing-masing. "Bibi Kushina pasti merindukanku".

"Terserah saja. Tapi... apa Sasuke mau?", tanya Naruto. Lewat ekor matanya pemuda pirang itu meneliti raut wajah Sasuke. Dalam hatinya harap-harap cemas akan persetujuan si raven.

"Aku sih tidak masalah", Kiba menatap Sasuke. Sedang yang ditatap melirik tidak peduli. Asalkan tugas mereka cepat selesai, mengerjakan di rumah siapa pun tidak masalah baginya. "Bagaimana, Suke?". Ada jeda sedetik sebelum Sasuke menjawab pertanyaan Kiba. Pemuda itu terlihat berpikir sebentar sebelum mengangguk tanda setuju. "Kami setuju!", Kiba menambahi mempertegas jawaban Sasuke.

"Baiklah sudah diputuskan pulang sekolah nanti kita langsung ke rumah Naruto!"

.

.

.

Dikarenakan rumah Naruto agak jauh dari sekolah, mereka harus menggunakan dua bus agar sampai. Itu pun harus ditempuh lebih dari satu jam perjalanan. Kiba sampai geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin Naruto sanggup melakukan rutinitas macam ini untuk bisa sampai ke sekolah? Dirinya pasti akan memilih diantar jemput supir pribadi daripada harus repot menunggui bus di pemberhentian. Lagi pun, Naruto itu kan anak orang kaya. Mana mungkin kedua orang tuanya tidak mampu memperkerjakan seorang supir hanya untuk mengantar jemput seorang tuan muda Namikaze? Jawabannya, tentu saja tidak mungkin.

Ketika pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Kiba, Naruto hanya bisa tertawa. Dia menjawab ala kadarnya. Bahwa sebenarnya ia selalu membonceng motor kakaknya kalau mau berangkat. Memang sih kadang si Naruto itu berangkat dengan bus. Hal itu karena kakaknya sekarang sudah kuliah dan jadwal kuliahnya terkadang tidak menentu. Jadi Naruto mau tidak mau harus berangkat dengan bus.

Kata Sai sih, "Percuma kau menceramahinya tentang memanfaatkan fasilitas orang tua. Naruto itu tipe pemuda 'baik-baik'. Dia tidak pernah menyetir motor sendiri. Apalagi mobil. Dalam mimpi pun sepertinya tidak akan".

Saat itu Sakura tertawa. Dan Kiba melongo. Naruto sendiri hanya menggaruk kepala pirangnya. Ya mau bagaimana lagi, akibat peristiwa jatuh dari motor ia memang tidak pernah mau menyentuh benda beroda dua itu sampai sekarang. Mungkin trauma.

Lain halnya dengan Sasuke. Sejak dirinya duduk di halte pertama untuk menunggu bus, pemuda emo itu sama sekali tidak membuka mulutnya. Sebuah buku tebal yang sepertinya novel bersandar apik di kedua tangannya. Matanya yang awas, meneliti tiap kata demi kata. Meresapi adegan per adegan yang disuguhkan cerita itu. Saking menikmatinya, ia sampai tidak sadar kalau sekarang tengah berdiri di depan sebuah pintu mahogani besar dengan sebuah ukiran rumit di tengahnya. Ia baru sadar kalau dirinya harus mengganti sepatu dengan sandal rumah saat sebuah tepukan mendarat di bahu kirinya. Kiba, pelakunya.

"Hentikan kebiasaanmu membaca sambil jalan, Suke", katanya sok khawatir. Tapi Kiba memang khawatir. Sahabatnya itu kalau sudah baca novel suka lupa waktu lupa posisi. Bahkan lupa dengan dimana dirinya saat ini. Pikirannya berkelana masuk ke dalam cerita karangan para penulis fiksi. "Tidak baik. Kau bisa terantuk sesuatu".

Sasuke langsung memasukan bukunya. Mengingat bagaimana Kiba kalau menceramahinya pasal kebiasaanya itu. panjang kali lebar kali tinggi. Pun pasti akan lebih besar dari ruangan yang di tempatinya saat ini.

Tunggu! Ruangan? Memang ini dimana?

"Kalau kau bertanya, ini rumah Naruto. Kita sudah sampai. Aku bahkan sudah berada sepuluh langkah dari tempatmu berdiri saat ini"

"Oh", gumaman kecil keluar dari mulut sewarna pastel itu. Sasuke kemudian perlahan mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Ia mengatakan permisi sebelum menyusul Kiba yang kini melanjutkan langkah.

Mereka lalu duduk di ruang tamu. Sopan santun. Karena baru pertama kali berkunjung. Naruto sudah menghilang entah kemana. Mungkin ke dapur. Tapi siapa yang tahu. Beberapa menit kemudian, sebelum sempat empat muda-mudi itu menikmati arsitektur rumah Naruto yang bisa dibilang sangat megah, seorang wanita seumuran dengan ibu Sasuke keluar dengan senyum mengembang. Rambut merah sepinggangnya tergerai indah. Apalagi di poni sebelah kiri tersemat pita cantik berwarna hijau. Kaus oren yang saat ini dikenakannya ditambah rok panjang selutut. Sederhana, tapi aura kecantikannya memancar kemana-mana.

"Wah... ada temannya Naruto ya?", sapanya ramah. Senyumnya makin terkembang. Matanya berbinar cantik untuk usia sekitar kepala empat. "Duduk saja, tidak apa-apa", katanya melihat empat muda-mudi itu hendak berdiri. "Naruto tidak bilang apa-apa kalau temannya mau datang. Tunggu saja ya,"

Serempak mereka menganggukan kepala. "Terima kasih, bibi".

"Aahaha... namaku Kushina. Panggil saja bibi Kushina.". Lihat, tawanya saja bergemirincing. Menyenangkan sekali. "Ah itu dia".

"Ibu". Naruto turun dari tangga. Seragamnya sudah berubah dengan kaus oblong warna oren dan celana gombrong selutut. Anak rumahan sekali gayanya. "Dimana ayah?"

"Ayahmu sibuk di ruang kerja. Sudahlah. Ajak teman-temanmu ke kamar. Ibu siapkan camilan dulu".

Sepeninggal Kushina, empat orang itu mengikuti langkah Naruto ke kamar di lantai dua. Mereka menuju kamar Naruto. Tak jauh berbeda dengan suasana rumah Sasuke. Di setiap dinding rumah itu juga banyak lukisannya. Dan seperti di rumah Sasuke juga, Sai memulai acara kekagumannya pada aneka macam lukisan itu.

"Darimana kau dapat lukisan seperti ini?", tanyannya pada pemuda yang berjalan paling depan, Naruto.

"Kakakku kuliah di Universitas Otto. Jurusan seni lukis", jawabnya tanpa menoleh pada Sai. Mereka sudah sampai di depan pintu bercat putih. Naruto membuka pintu itu. Dan terpampanglah seperti apa kamar seorang Namikaze Naruto. "Masuklah"

"Wah", Suara Kiba mengagetkan empat orang lain. "Bukankah kak Itachi juga kuliah di Otto Suke?". Naruto memandang bingung Kiba. Pikirnya Kiba terkejut dengan keadaan ruang pribadinya, rupanya. "Dia juga jurusan seni lukis kan?"

Sasuke hanya bergumam ria menanggapi sikap hiperbola Kiba. Bocah pemilik segitiga merah di pipinya itu selalu heboh dengan hal-hal yang sebenarnya biasa-biasa saja. Memang apa anehnya kalau ternyata kakak Naruto dan Sasuke ada di universitas yang sama. Hallo... menurut Sasuke tidak mengejutkan sekali. Semua orang bebas kan mau berkuliah dimana?

"Kapa-kapan, ajak aku bertemu dengannya. Aku butuh referensi untuk jenjang studiku selanjutnya".

"Kukira kau akan minta tolong pada Sasuke", Sakura melepaskan tautan jemarinya saat itu. Ia menyibakkan anakan rambut yang terselip di telinganya. Kemudian melirik bingung pada kekasihnya. Kemarin kan Sai berencana untuk mengancam Sasuke dengan foto yang sama sekali tak Kiba janjikan?

"Sakura sayang, hal itu tidak mungkin. Aku yakin sebelum aku mengucap apa hajatku padanya, mataku sudah lebih dulu berlubang karena ketajaman tatapannya". Nada suara Sai memancing amarah. Kiba menahan nafas. Takud mood Sasuke sedang kumat. Sakura memerah pipinya, Sai terlalu gamblang mengumbar keromantisan –tapi bukannya setiap hari memang begitu? Naruto melirik pemuda sejuta senyum itu malas. Sasuke mendecih tidak suka. "Lihat, aku hanya menggodanya sedikit, tapi hawa di sekitarku rasanya sudah mencekam".

Tawa Sakura menutup omongan Sai yang tidak ada gunanya.

.

.

.

"Jadi?"

"Apa?"

Mereka tengah berada pada pertengahan soal nomor 78 ketika Sai menyenggol bahu Naruto yang duduk di sebelah Sasuke. Naruto menanggapinya malas. Tidak tahu sama sekali maksud licik dari pemuda berkulit pucat. Sai hanya tersenyum. Senyum penuh maksud pada Naruto yang memang tidak sadar pada posisi. Naruto tambah bingung dengan kelakuan absurd pemuda itu. "Kalau kau ingin bicara sesuatu katakan saja?"

"Tidakkah posisi dudukmu terlalu merapat? Sasuke sampai terjepit antara kau dan Kiba?". Sakura yang bicara. Dia tahu benar apa yang akan dikatakan kekasihnya.

Naruto berpaling muka. Tanpa sadar dia menatap sosok Sasuke yang juga menatapnya. Rupanya Sasuke mendengar apa yang tadi Sai suarakan. Mata keduanya bertemu untuk beberapa detik. Sampai Kiba beranjak dengan tergesa dan tanpa sengaja menyenggol bahu Sasuke.

Sasuke? Dia terhuyung. Duduknya jadi tidak seimbang. Agak condng ke depan. Tangannya bertumpu pada dada Naruto karena hampir jatuh. Tangan Naruto menahan bahunya. Dan sekali lagi mata mereka bersiborok. Kali ini ditambah eritema yang menghiasi pipi keduanya.

"Uwahh kebelet pipis". Kiba berlari. Tidak mengindahkan apa yang tengah terjadi. Panggilan alam sudah di ujung tanduk, jadinya ia tidak terlalu memperhatikan akibat dari perbuatannya yang selalu ceroboh.

Butuh beberapa detik sampai suara tarikan nafas dari Sakura menyeret kesadaran dua insan yang tengah melempar atensi itu.

.

.

.

"Eh, sudah mau pulang ya?". Kushina yang tengah menyiapkan makan malam itu kaget. Tamu anaknya tiba-tiba saja pamit undur diri. Padahal wanita itu sudah menyiapkan empat piring tambahan untuk teman Naruto. "Sudah waktunya makan malam, kenapa tidak sekalian saja?"

"Apa tidak merepotkan?", Sakura menjawab. Jemarinya kembali bertautan dengan sang pacar. Mereka sepertinya sudah akrab. Dilihat dari cara Sakura bicara.

"Merepotkan bagaimana?"

"Maaf bi, rumah kami paling jauh. Kami takut kemalaman". Kiba menambahi. Sasuke mengangguk menyetujui. Memang mereka yang paling jauh. Sama ketika mereka datang kemari. Kiba dan Sasuke harus menempuh perjalanan dengan dua bus untuk sampai di perempatan jalan Ame, setelah itu mereka lanjutkan dengan jalan kaki. Kalau menunggu makan malam, mereka bisa sampai di rumah pukul sembilan. Alamat kena ceramah dari ibu di rumah.

"Ahahaha... tidak perlu khawatir. Biar Naruto yang mengantar kalian pulang". Tawa gemerincing itu kembali mengudara. Mendengar itu, membuat Kiba luluh seketika. Sasuke juga sedikit merasa tidak enak. Sai dan Sakura sih sudah biasa. Mereka sering datang karena dulu sewaktu kelas satu SMA ketiganya ada di kelas yang sama. "Biar tampangnya begitu, Naruto sudah pandai menyetir lho..."

Menggaruk kepala asal. Naruto malu dikatai sudah pandai menyetir oleh ibunya. Bukan bermaksud sombong, kalau menyetir memang a sudah bisa, tapi kalau bawa mobil ke sekolah maaf saja. Seperti kata Sai, Naruto itu tipe pemuda 'baik-baik'. Jadi tidak mungkin bawa kendaraan pribadi.

"Duduklah dulu", Kushina berujar kemudian. Senyum manis jadi tambahan. Para remaja itu menurut seketika. Efek dari aura hangat yang terpancar dari wanita berambut merah. "Naruto, panggil ayahmu", lanjutnya memerintah.

.

.

.

Malam sudah cukup larut ketika akhirnya dalam mobil itu menyisakan Naruto dan Sasuke – Kiba dan yang lainnya sudah diantarkan dengan selamat sentosa. Tanpa kata. Keduanya terdiam dalam suasana hati yang berbeda. Naruto terlalu canggung untuk buka suara. Grogi karena dirinya berada dalam satu ruang dengan sang pujaan. Sekali lagi, mereka hanya berdua. Sasuke sendiri terlalu acuh untuk peduli sekitar. Maaf saja, jangan harapkan kalau dirinya merasa mengantuk dan akhirnya tertidur. Tidak, Sasuke terbiasa dengan keterdiaman. Jadi matanya sudah bisa dipastikan masih memancarkan sinarnya.

"Ekhm...", mencoba menarik perhatian, Naruto membagi fokusnya pada jalanan di depan dan lirikan yang sebentar-sebentar ia lontar pada teman seperjalanan. "Boleh kunyalakan musiknya?". Harap-harap cemas, Naruto menunggu sahutan.

Gantian Sasuke yang melirik. Raut wajahnya datar. Matanya menelisik, kerutan dahinya menandakan ia sedang berpikir. "Terserah kau saja', jawabnya –setelah satu menit mengambil penilaian. Dan kesimpulannya adalah, Naruto sedang tegang.

"Hahaha...", tawa canggung itu jadi penutup obrolan. Jika masih bisa dikatakan kalau tadi itu termasuk obrolan. Sayangnya hanya berupa dialog mini karena hanya berisi empat tuturan. Hahhh... Naruto rasanya benar-benar mati gaya. Beginikah rasanya jatuh cinta?

Musik mengalun, begitu tangan Naruto memutar tobol play pada radio dalam mobil itu. Suara jernih dari penyanyi wanita asal negeri Paman Sam membingkai suasana awkward diantara mereka. Lagu Only Hope yang di putar Naruto sedikitnya mampu memecah sepi. Meski Sasuke masih anteng, setidaknya Naruto bisa rileks karena perhatiannya kembali terbagi. Jalanan, musik, dan Sasuke. Soal Sasuke, bukankah ini kesempatan baik untuk memulai acara PDKT. Tapi, Naruto bingung mau memulainya dari mana. Cukup sulit untuk memulai pemnicaraan dengan orang pendiam macam Sasuke. Huh...

"Naruto". Panggilan Sasuke menyadarkannya dari lamunan. Buru-buru Naruto melirik pemuda di sebelahnya.

"Ya?"

"Kau kebantasan".

"Eh?"

"Kau melewati blok yang menuju rumahku".

Kebanyakan berpikir, sampai tak sadar kalau dirinya melewati blok rumah Sasuke. Aduh jadi malu. Sial! Kenapa disaat seperti ini ia bertingkah memalukan. Tapi, kalau Sasuke bilang begitu, berarti perjalanan mereka hampir berakhir kan? Dan Naruto tidak menghasilkan apa-apa dalam kesempatan yang baik ini? Astaga! Apa yang sebenarnya ia lakukan dari tadi. Dobel sial!

Untuk sampai di rumah Sasuke, Naruto harus putar balik. Salah sendiri, ia habiskan waktu berharganya untuk memikirkan cara bagaimana memancing Sasuke bicara.

Benar saja, sampai di depan pagar rumah Sasuke, Naruto tetap tak berhasil mengajak Sasuke bercakap. Menyesal? Tentu saja. Kesempatan emas ia lewati begitu saja. Tambahan dengan hal memalukan seperti kebantasan. Sasuke sudah pasti ilfeel padanya. Dasar bodoh... rutuknya.

Sasuke segera turun dari mobil Naruto. Tak lupa ia ucapkan terima kasih pada pemuda itu. Setidaknya basa-basi karena Naruto bersedia mengantarnya. Ya... meski ada hal lucu tadi di perjalanan. Lagi pula, Sasuke tidak bisa menyalahkan pemuda itu. Sejak tinggal mereka berdua dalam mobil, Naruto terlihat tengah memikirkan sesuatu. Sasuke memang pendiam, tapi ada saatnya di mana ia bisa jadi pemerhati yang baik. Seperti saat tadi. Alasannya tidak bicara dengan Naruto adalah takut mengganggu konsentrasi bocah itu.

"Sasuke!", Sasuke baru saja hendak berbalik, saat Naruto tiba-tiba memanggilnya. Pemuda itu rupanya mengikuti Sasuke turun dari mobil. "Itu..."

Beberapa detik terlewati dalam keheningan malam. Naruto tak juga berkata-kata. Satu tangannnya sudah mendarat di kepala. Menyisir surai pirangnya menjadi semakin berantakan. Gestur salah tingkah ia berikan. Ingin berucap tapi suara nyangkut di tenggorokan.

"Begini... bisakah kita... aduh bagaimana ya... hahaha... maksudku"

"Apa?", Sasuke menunggu dengan sabar. Meski ia sudah mengantuk dan ingin segera bertemu ranjang.

"Bisakah kita... berteman?"

Kedip. Kedip.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Satu menit dalam perasaan tak menentu. Naruto harap-harap cemas. Apa ia salah bicara? Atau Sasuke tak mendengar apa yang dia ucapkan? Dag dig dug rasanya. Ayolah... ini bukan acara penembakan. Apa butuh waktu lama bagi Sasuke untuk menjawab? Niatnya kan baik. Ia ingin berteman dengan Sasuke. Maksud berteman di sini itu yang 'berteman'. Ya pokoknya begitulah...

"Baiklah". Naruto melongo. Suara Sasuke bagai gemerisik daun di musim semi. Sungguh tak percaya. Dengan mudah Sasuke menerimanya sebagai teman. Artinya, satu langkah ia lebih dekat dengan tambatan jiwa. Oh indahnya dunia. Bahkan bunga imajiner kini bagai mengelilingi mereka berdua. Naruto tak dapat berkata-kata.

"Naruto?". Tersadar. Baru saja ia tampilkan wajah yang sungguh memalukan. Aduh!

"Ah iya. Kalau begitu, selamat malam Sasuke."

"Hn"

Mobil dibuka. Naruto dengan perasaan membuncah masuk ke dalamnya. Siap di depan kemudi untuk kembali pulang dengan sejuta kehangatan yang baru saja ia rasakan. Nanti malam bakalan mimpi indah dirinya. Mungkin Sasuke bisa jadi objeknya. Aishhh mikir apa dia.

"Selamat malam Sasuke"

"Hn".

Kunci diputar. Deru mobil mengudara. Naruto masih tersenyum sembari melempar tatapan. Sekali lagi... "Selamat malam, Sasuke".

"Hn"

Malam itu, senyum tak lepas dari wajahnya...

.

.

.

Bersambung...?

Silakan beri komentarnya...

Saya mau coba balas repiu, hehe...

Sunsuke: arigachuu udah suka, updatenya saya usahakan cepat, Oranyeellow-chan: Itachi labil? Yaa... maklum lah, sebagai abang yang baik, hehe... tantangan... hmmm boleh juga tuh, saya pikirkan nanti..., Reina putri: ok ini lanjut, : arigachuuu, Nayu: aduh kalo langsung jadian, gimana yah... Sasuke disini saya buat sedikit introvet, jadi ya ga bisa langsung, maaf bro cinta butuh perjuangan... i lup u too, D: ok ini lanjut, Guest: kejadian apa yah... rahasia, hehe, karakter Itachi hhaha saya juga ketawa pas nulisnya, untuk editing, kemarin lupa asal up aja, maaf kalo typo mengganggu, sekikaoru: ya dong, naruto emang kudu naksir Sasuke, itu harus wajib titik ga pake koma, Vilan616: saya suka yang tsun tsun, Kyuubi... hmmm ikutin aja terus hehe, .12: penasaran? Saya juga #lhokok, shianchiku: maaf ini bkn fem sasu, guest: bang tachi emng keren, kan dia pacar saya #plak #ngarep, pengen tau kejadian itu, tunggu lanjutannya ya..., Ai aQira: untuk typo maaf ya, ns jadian, nanti yah hehe, Tomoyo to Kudo: yes bang tachi kudu beraksi, nareswaribach: ati-ati kejeduk, Sapphire Hatsuki Blue: saya setuju, Sasuke emang cutes banget, bukan kok, bukan ena-ena, hehe, Guest: arigachuu, D: ok ini lanjut, kihyuunnnn: ok ini lanjut, Nikeisha Farras: Naruto mah selalu terpesona sama Sasuke, aduh, jadian aja belum masa suruh merit sih, Imyourfans: selucu itukah? Padahal ga niat humor lho haha, tapi makasih udah suka moga lanjutannya juga suka, Guest: makasih udah suka ide ceritanya, jangan lupa baca lanjutannya juga, hehe narusasu blm pacaran, tapi dalam tahap mau pacaran hehe, Vilan616: lho kenapa buat lubang? Makasih hehe, Zelobysehuna: tentu, Sasuke selalu menggemaskan sob, ok ini lanjut, Lady Spain: hahaha Sasuke emang gitu,

Ok segitu aja, terima kasih udah ngikutin cerita saya jangan bosan yaaaaaaaaa