Babysitter Kiseki

Disclamer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi, Durarara! © Narita Ryohgo

Pair : Shizaya (of course) and another pair.

Genre : humor (maybe), family, romance.

Warning : sho ai, garing, ooc, typo, aneh dll

A/N : Hola, saya update nih minna XD

gomen kesalahan saya, seharusnya mereka memanggil satu sama lain itu dengan nama kecil, satu karena mereka tidak mempunyai keluarga, dua karena mereka sudah kenal akrab dan mereka tinggal di panti asuhan yang sama. Jadi mulai chap ini mereka akan memanggil nama kecil mereka. Anggap mereka nggak punya nama keluarga. Sebenarnya saya kurang tau sistem penamaan disana, ini Cuma sebatas keperluan cerita. Sankyu~

Summary : Bocah-bocah pelangi tersesat di Ikebukuro, dimana terdapat dua manusia yang ditakuti disana. Apa mereka akan baik-baik saja? Bad summary.

Tertarik? Silahkan review :D

Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'

Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD

Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX

Reader and Silent Reader, welcome :D

Enjoy Reading Minna :D

.

.

.

"Izaya-nii-san." Suara kecil Tetsuya membangunkan salah satu sosok yang tengah tidur –berpelukan- disofa.

Mata merah kecoklatan itu mengerjap beberapa kali."Ngh, ada apa Tetsuya?" tangan Izaya berusaha menyingkirkan tangan besar yang berada diatas perutnya.

"Aku takut nii-san." Ryouta mengusap-usap matanya yang mulai berkaca-kaca.

Izaya bangun dari posisi tidurnya, lantas dia menghampiri bocah biru muda itu."Apa yang kau takuti Tetsuya?" digendongnya badan mungil itu dan dibawanya kembali ke kamar.

"Gelap." Gumam sosok kecil itu sambil meremas baju Izaya. Si pemuda raven menepuk pelan kepala Tetsuya.

"Aku akan menemani sampai kau tidur, ne?" Tetsuya mengangguk pelan.

Izaya berjalan pelan dia tak ingin langkah kakinya membuat anak lain bangun, sesekali tangannya membelai rambut halus Tetsuya. Mereka akhirnya sampai dikamar yang saat itu dihuni tujuh mahkluk warna-warni yang tengah tertidur dengan posisi yang macam-macam.

Izaya menghela nafas."Sepertinya aku harus merapikan posisi tidur teman-temanmu dulu." Dia menurunkan Tetsuya dan setelah itu dia mulai mengatur posisi tidur mereka bertujuh.

Pemuda dua puluh empat tahun itu kembali menghela nafas. Lelah juga membenarkan mereka."Nah, waktunya tidur Tetsuya." Izaya mengangkat Tetsuya dan menidurkannya diranjang. Dia mengusap pelan helaian biru muda itu. Mata blue sky si bocah mulai tenggelam. Dan berikutnya kelopak itu tertutup sempurna.

Izaya bergegas meninggalkan kamar itu dan kembali tidur di sofa dengan Shizuo, hingga sebuah suara membuatnya menoleh."Nii-san?"

"Ya?"

"Nii-san nggak bohongkan kalau kita boleh tinggal disini telus?" Izaya tersenyum lembut dan mengangguk.

"Tentu saja." Mendengar jawaban dari Izaya Tetsuya tersenyum kecil dan segera menutup matanya kembali. Dengan pelan Izaya menutup pintu kamar dan kembali ke ruang tamu.

Sesampainya diruang tamu dia melihat seseorang yang tengah menikmati rokoknya.

"Shizu-chan?"

"Emmm,"_menggaruk tengkuk."Kau serius mengadopsi mereka?" Izaya mengangguk. Shizuo menghela nafas.

"Ada apa Shizu-chan? Katakan saja." Izaya duduk disamping si pirang.

Shizuo berdeham."Apa kau yakin mereka akan akrab denganku?"

Pemuda raven itu tertawa renyah."Kau bercanda Shizu-chan mereka terlihat akrab sekali denganmu apalagi si Daiki dan Taiga."

Shizuo menghembuskan asap rokoknya dan mematikan rokok yang tinggal setengah.

"Kau pikir begitu?" Izaya mengangguk antusias."Lalu sampai kapan kita akan tidur di sofa?" tangan Shizuo meraih pinggang ramping Izaya."Aku sama sekali tak merasa nyaman tidur ditempat sempit seperti ini kutu." Ditariknya pinggang Izaya dan dipeluknya erat.

Izaya mendapat firasat buruk saat Shizuo mulai menciumi leher jenjangnya."Kau tak bermaksud akan melakukannya disinikan Shizu-chan?" Shizuo menyeringai nakal.

"Menurutmu? Bocah-bocah tengil itu sudah menganggu jadi aku akan memberimu hukuman, kutu."

"Stop! Dasar monster jangan-Akh! Si-sialan kau Sh-shiz-ah."

.

.

.

"Hooam." Bocah berambut ungu itu menguap lebar."Aku lapal." Gumamnya, pelan-pelan dia menuruni ranjang besar itu. Langkahnya gontai, tangannya masih sibuk mengusap-usap matanya. Salahkanlah perutnya yang keroncongan dipagi buta seperti ini.

Dia berjalan pelan menuju dapur, sesampainya didapur bocah bongsor itu langsung saja menuju ke kulkas. Mengambil beberapa snack dan lekas kembali ke kamar.

Ditengah jalan Mata ungunya melirik kearah suara dengkuran disofa. Dilihatnya sejenak. Tanpa ekspresi yang jelas Atsushi kembali ke kamar. Teman-temannya masih tertidur dengan pulas. Dia meletakkan snacknya dimeja kecil samping ranjang. Memandang teman-temannya sebentar dan tanpa ba bi bu Atsushi menarik selimut.

"Sa-samui." Terdengar keluhan dari arah tempat tidur."Se-selimutnya hilang." Bocah berambut pirang itu melihat sekitar."E-e Atsucchi selimutnya mau dibawa kemana-ssu!" Ryouta berteriak dan membuat beberapa temannya terbangun.

"Liouta belisik!" bentak Daiki sambil melempar bantal kearah si kuninga.

"Mou Daikicchi jangan melempaliku!"

"Atsushi mau kemana?" suara mengantuk Seijuurou terdengar diantara suara berisik Ryouta dan Daiki.

Si ungu sedikit menguap."Hooaam, aku mau menyelimuti nii-chin." Lalu berjalan meninggalkan teman-temannya. Ketiga bocah yang terbangun itu nampak bingung. Tanpa pikir panjang, Seijuurou, Ryouta dan Daiki mengikuti Atsushi. Sementara yang lainnya?

Mereka masih tertidur dengan pulasnya. Shintarou dan Kazunari saling berpelukan. lalu Taiga tertidur sambil memeluk Tetsuya yang tidur membelakanginya bagai guling. Manisnya~

.

.

.

"Nii-chan dan paman tidak kedinginan tidul tanpa baju?" Daiki menelengkan kepalanya saat melihat dua mahkluk tengah bergumul disofa tanpa ehem sandangan mereka.

"Ayo kita celimuti Niicchi dan paman."

Daiki, Seijuurou dan Atsushi mengangguk setuju.

"Celesai, ayo tidul lagi." Ketiga bocah itu langsung menurut dan mengikuti si merah yang berjalan didepan mereka.

.

.

.

Pagi yang cerah telah tiba. Bukan suara burung yang berkicau mengiringi kedatangan si mentari melainkan teriakan nyaring bocah-bocah yang meminta sarapan kepada dua mahkluk dewasa yang masih berusaha menyembunyikan semburat merah di pipi mereka.

Karena apa? Apa perlu aku jelaskan? Sepertinya tidak /plak.

Ok, aku jelaskan. Izaya dan Shizuo malu berat saat meyadari bangun dari tidur dan tubuh ehem polos mereka telah tertutupi oleh selembar selimut.

Fakta mengatakan selimut itu bukan berasal dari salah satu dari mereka (Shizuo-Izaya) kerena ehem mereka terlalu lelah (IYKWIM) jadi kemungkinan terbesar adalah ulah dari bocah-bocah polos itu. Dan itu berarti akan muncul pertanyaan penasaran bin absurd dari mahkluk pelangi yang terduduk manis si lantai memperhatikan program anak-anak di TV.

"Waktunya sarapan."

Bocah-bocah pelangi itu berhamburan menuju ruang makan.

Satu menit, sarapan berlangsung khidmat.

Sepuluh menit, tak ada pertanyaan absurd.

Tiga puluh menit, sarapan berjalan dengan 'lancar' dalam tanda kutip. 1 monster dewasa mengamuk, tiga monster kecil berebut jatah makan.

Ok, sementara ini tak ada pertanyaan apa-apa. Izaya menghela nafas.

"Ne, Niicchi." Suara antusias Ryouta terdengar, Izaya was-was."Niicchi, halus telima kacih sama Atsucchi!" Shizuo melirik bocah pirang itu.

"Kenapa?"

"Kalena Atsushi yang membeli celimut tadi malam!" ujar si merah.

"Aku juga ikut membantu!" bocah tan berkata dengan semangat, sambil mencomot tempura milik Taiga.

"Tempulaku!" protes Taiga kesal.

"Kau cudah makan banyak tadi Taiga!"

"Yang makan banyak itu Atsushi tau!"

Dan terjadi keributan kecil lagi.

'Semoga mereka tak melanjutkan topik ini.' Dua orang dewasa itu berkomat-kamit dalam hati.

"Aku harus segera ke tempat Tom-san." Shizuo memperhatikan ponselnya.

"Hati-hati, Shizu-chan."

"Paman mau kemana?" tanya Kazunari.

"Bekerja, baik-baik di rumah." Shizuo sedikit menunduk dan mengecup bibir Izaya.

Cup

"Bo-bodoh jangan di depan mereka." Izaya menutup bibirnya, Shizuo menyeringai.

Tangan kecil menarik-narik celanannya."Paman aku juga mau di chuu!" Ryouta menunjuk pipinya yang gembil.

"Aku juga!" Kazunari juga menunjuk kedua pipinya sambil menarik anak berambut hijau."Shin-chan juga mau!"

"Ka-kazu! Aku tidak_" pipi si megane memerah.

"Aku! Aku! Taiga siapa tau nanti kalau di chuu paman kita jadi kuat!" perkataan Daiki ditanggapi senyuman merekah Taiga.

"Benalkah?" Daiki mengangguk.

"Paman-chin, aku mau maiubo caja."

"Kau sudah makan banyak Atsushi." Kritik Izaya.

Shizuo memandang Izaya sebentar. Seakan diberi isyarat sang patner, dia lantas menghela nafas panjang."Berbaris! Cepat, atau ku tinggal." Perintahnya.

"Ha'i!" Ryouta berada di barisan depan, dibelakangnya Kazunari dan Shintarou, Daiki dan Taiga tepat di belakang mereka, lalu ada Tetsuya, Atsushi, Seijuuro dibarisan belakang.

Pemandangan di depannya membuat jantung Izaya berdesir. Shizuo yang mengecup pipi masing-masing anak, benar-benar seperti keluarga kecil yang bahagia.

.

.

.

"Niicchi! Daikicchi dan Taigacchi belmain ail dikamal mandi, baju meleka bacah!" Ryouta mengadu pada Izaya yang tengah sibuk berhadapan dengan pekerjaannya.

"Baju Shin-chan, dan Tet-chan juga, gala-gala dicilam Daiki dan Taiga !" bocah raven berlari-lari kecil menuju ruang kerja Izaya.

"Haah mereka berdua." Izaya mengurut pangkal hidungnya. Dan meyambar jaket bulunya."Baiklah sepertinya kita harus berbelanja beberapa pakaian untuk kalian."

Ryouta dan Kazunari mengangguk antusias."Yey!"

"Kami ikut!" dua bocah yang kini basah kuyup menghambur ke dalam ruang kerja Izaya. Tetes tetes air membuat karpet beludru dibawahnya tampak lembab.

"Berhenti disitu!" Izaya menghadang kedua bocah itu agar tak membuat karpetnya semakin basah. Kedua bocah hiperaktif itu tampak lesu."Keringkan badan kalian, Ryouta tolong ambilkan handuk di almari."

"Lojel!" Si pirang mengangguk dan segera berlari.

"Ngomong-ngomong dimana Tetsuya dan Shintarou?" Izaya melihat sekeliling.

"Nii-chin, Kulo-chin dan Mido-chin belwajah melah." Bocah ungu itu meyembul dari ruangan -yang Izaya duga adalah dapur- sambil menunjuk dua bocah biru muda dan hijau yang menggigil.

"Shin-chan!" Kazunari segera berlari dan segera memeluk bocah hijau itu.

"Tetsuya!" Seijuurou yang awalnya tadi sibuk dengan papan shogi sekarang memeluk bocah biru muda."Daiki! Taiga!" geramnya.

"Hatchiiim..."

"Di-ding-ngin...hatchuuu."

Perhatian Izaya kembali kepada dua bocah yang masih berdiri dengan baju basah mereka. Wajah mereka berdua pun berangsur-angsur memerah. Izaya berjongkok, disentuhnya kening Daiki dan Taiga. Dan punggung tangannya terasa hangat.

"Nii-chan panas." Nafas Aomine terasa panas.

"Kalian demam."

"Niicchi, handuknya." Ryouta yang baru kembali segera memberikan handuk itu kepada Izaya.

"Terima kasih Ryouta."

.

.

.

"Shinra, kau bisa kesini sekarang?"

/Ada apa Izaya-kun?/

"Anak-anakku demam."

/Ha? Anak-anak?/

"Cepat kesini saja!"

/Ha-hai!/

"Daiki! Taiga! Belani-belaninya kalian membuat Tetsuya-ku cakit!" aura kelam keluar dari bocah berambut merah yang memandang tajam dua bocah merah dan biru yang tergeletak lemas disamping bocah hijau dan biru muda diatas kasur.

"Ceicchi, Tetsuyacchi pasti baik-baik caja kok!" Seijuurou sedikit tersenyum, ditepuk-tepuknya kepala pirang itu.

"Kazu-chin, jangan cedih, mau maiubo?" bocah raven itu menggeleng lemah.

"Ne! Nii-chan, Shin-chan baik-baik saja 'kan?" Kazunari menuntut jawaban.

"Tentu, mereka hanya demam kok, tenang saja yah." Diusapnya helaian raven itu, sayang.

Ting tong ting tong

Bel apartemennya berbunyi. Mungkin ini Shinra yang ia panggil tadi. Segera Izaya menuju pintu.

Ceklek

"Ohayou Izaya-kun, jadi dimana emmm anak-anakmu?" dokter berkacamata itu tampak ragu menyelesaikan kalimatnya.

"Mereka ada didalam."

.

.

.

Mulut Shinra menganga di tempat, sangat tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini. Ada empat bocah yang memandangnya sambil berkedip lucu (?). Dan empatnya lagi terbaring lemas ditempat tidur.

"Sepertinya mereka terkena demam karena bermain air tadi." Izaya bergumam pelan, si dokter hanya mengangguk. Shinra lantas segera mengeluarkan alat-alat medis yang ia perlukan untuk memeriksa pasien-pasien kecilnya.

Pemeriksaan berjalan hening.

"Doktel, bagaimana keadaan Shin-chan." Kazunari yang tak sabaran segera melempar pertanyaan.

"Tetcuya tidak cakit kelas 'kan?" kali ini Seijurou ikut berbicara.

"Taigacchi dan Daikicchi tidak mati 'kan doktel?"

Si dokter hanya tersenyum maklum."Mereka hanya demam, jangan khawatir. Mereka akan sembuh setelah minum obat dan istirahat."

.

.

.

"Jadi Izaya-kun dimana kau mendapatkan anak-anak itu?"

"Mereka tersesat di Ikebukuro, dan mereka aku bawa kesini dan aku berencana mengadopsi mereka. Aku baik bukan?" Izaya menyeringai. Shinra tak berniat bertanya lebih jauh lagi."Oh Iya Shinra bisakah kau disini menjaga mereka sebentar? Aku ingin membeli beberapa keperluan untuk mereka." Shinra hanya mengangguk menyetujui.

"Nii-san mau kemana?"

"Ke swalayan, kau mau ikut?" bocah berambut merah didepannya nampak berpikir.

"Nanti kalau aku ikut, ciapa yang menjaga Tetsuya?"

"Tenang saja, Shinra akan menjaga Tetsuya dan yang lainnya." Seijuurou segera mengalihkan pandangannya. Mata merahnya bertemu dengan mata coklat kehitaman si dokter.

"Doktel aku titip Tetsuya, jaga dia baik-baik ne? Kalau tidak_ckris" Akashi tersenyum mengintimidasi sambil memainkan gunting kecil yang tampak tajam ditangan kanannya. Shinra reflek mengangguk.

"Sangat mirip denganku bukan?" seringai Izaya semakin lebar.

"Sa-sangat." Gumam si Dokter.

"Niicchi aku ikut!" si pirang berjalan terburu-buru saat Izaya akan membuka pintu apartemennya.

.

.

.

"Aku tidak tahu selera kalian jadi pilihlah sendiri." Izaya membiarkan dua bocah berkeliaran di sebuah tempat yang berisi banyak baju anak-anak.

"Etto." Si pirang tampak berpikir. Memandang tempat itu dari ujung kanan sampai ujung kiri."Aku bingung! Ceicchi bagaimana menulutmu?" Ryouta menoleh ke bocah merah disebelahnya. Mata almondnya berbinar saat Seijuurou mulai memasukkan baju ke dalam troli.

"Ini untuk Daiki-memasukkan kaos berwarna biru ke dalam troli-, Taiga-kaos berwarna merah-, Kayunali-kaos berwarna merah muda-, Chintalou-kaos berwarna hijau-, Atsushi-kaos ungu besar-, Tetsuya-kaos biru muda bergambar anjing kecil ditengahnya-, Lyuta-kaos kuning bergambar bunga matahari-." Dengan seenak jidat Seijuurou memilihkan baju untuk teman-temannya.

"Aku mau memilihkan baju untuk Ceicchi, boleh?" Seijuuro mengangguk sembari tersenyum.

"Etto..." Ryouta mengitari gantungan-gantungan baju itu. Mata almondnnya kembali berbinar."Kola!" dia menyodorkan kaos berwarna merah bergambar gunting.

"Bagus." Ryouta melebarkan senyumnya.

"Kalian sudah selesai?" Izaya menghampiri mereka dengan sebuah troli berisi beberapa pakaian juga.

"Niicchi membeli sebanyak itu!" Ryouta memandang kagum. Izaya hanya tersenyum.

.

.

.

"Doktel, kenapa Tetsuya belum bangun?"

"Mungkin meleka pelu ciuman, cepelti celita putli calju!" semua mata menoleh serempak kearah mahkluk kuning yang tengah mendekatkan wajahnya ke wajah bocah berambut biru tua yang masih tertidur lelap karena pengaruh obat.

Mata Shinra membulat, Izaya menyeringai, dan bocah pelangi menatap Ryouta dengan binar.

"Eee jangan Ryouta-kun, nanti kau bisa demam juga!" Shinra buru-buru menarik Ryouta menjauh.

"Tapi putli calju juga dicium pangelan, pangelannya juga nggak demam." Kise memanyunkan bibirnya. Shinra mendesah panjang.

"Shinra benar Ryouta, nanti kau bisa demam juga, lebih baik biarkan mereka tidur, ne?"

.

.

.

To be continue

Yatta akhirnya chap 3 publish juga XD

Gomen saya nggak bisa bkin ending yang menggantung. Tanpa banyak cakap mohon kerjasamanya :D
Big thanks to reviewers, favers(?), followers (?), viewers, and visitors ^.^
mav saya belum bisa blas review, saya buru-buru mau ke kampus -di hari libur T.T-
review lagi ya~

See ya~

RRNRd