WOWOWO chapter 3! Ini sebagai bentuk perayaan terhadap selesainya UAS saya, jadi saya publish dua cerita sekaligus malam ini, ini sama A Tale in The Castle (ch 2). Baca juga, ya!

Saya cuma berharap readers suka chapter ini. Yang mau saran tanya dll, please review.

Disclaimer: Vocaloid belongs to Crypton Media Future & Yamaha


The Rain Falls

(Vocaloid fanfiction, by Saturn287)

Chapter 3

~Si-Honey-blonde-bersayap POV~

Hutan

Aku bangun dari tidurku di atas pohon dan mendapati hujan telah reda. Udara benar-benar sejuk! Daun-daun hijau berhiaskan butir-butir air di mana-mana. Bau tanah basah. Gemeresak aktivitas hewan tanah. Cicuit burung. Langit masih gelap di atas sana.

Suasana yang benar-benar 'hutan', iya, kan?

Aku menghirup napas dalam-dalam, membiarkan udara sejuk dan dingin hutan ini mengalir di paru-paruku, dan kumemori di sana.

"Hoaaahm!" aku menguap dan meregangkan badan yang terasa sedikit pegal karena posisi tidurku tadi. Yah, apa boleh buat. Karena bosan menunggu hujan reda, aku tidur saja. Lagipula kemarin aku begadang membantu Lily, si Peri Cinta itu, yang sibuk dengan tugasnya membagi kepingan-kepingan perasaan ke seluruh umat manusia.

Oke, saatnya lanjut bekerja. Hari ini ada lima jiwa yang harus ditangani. Daftar-daftar dari IA (atasanku), wadah-wadah baru bagi para jiwa mati ini, sudah ada di aku. Saatnya…

Eh?

…..

Oh. Tidak.

DAFTAR DARI IA?!

Oke, sip. Aku menghilangkannya.

Terjatuh di mana? Apa aku seceroboh itu? Kayaknya nggak, deh. Aku mendecak, menguap sekali lagi dan melenyapkan bola tipis transparan yang mengukungku di dalam. Mana mungkin aku tidur di atas pohon tanpa perlindungan?

Aku meregangkan tubuh sekali lagi, lalu berdiri dalam satu lompatan. Ringan sekali. Kulihat sekeliling dan memejamkan mata. Berkonsentrasi.

Ada aura jiwa di sini. Murni dan putih. Di manakah itu?

Aku membuka mata dan melompat ke dahan pohon di samping pohon tadi. Walau jaraknya jauh, tentu saja aku bisa dengan mudah mencapainya. Lihat sepasang sayap mungil di punggungku ini! Tapi, ini berbeda dengan cara kerja sayap biasa. Sayap ini tidak mengepak, namun sebagai alat yang membuat kita dapat mengambang di udara. Menarik sekali.

Aku melompat dari satu pohon ke pohon lain mengikuti aura jiwa itu berada. Sesekali menerabas daun-daun lebat dan menghindari hewan-hewan terbang. Jiwa itu berada tidak jauh dari sini.

Kupusatkan lagi konsentrasiku untuk mengira-ngira posisinya. Benar. Tidak begitu jauh dari sini. Aku membelok ke kanan, masih dengan melompat dari dahan ke dahan. Ini jauh lebih enak dari terbang. Lagipula, untuk lingkup ruang di bumi seperti ini biasanya aku melompat, bukan terbang.

Entah apa yang kupikirkan barusan, tiba-tiba aku meleng dan menabrak batang pohon dengan bahu duluan, lalu jatuh terhempas ke rerumputan di bawah. Sesaat sebelum menyentuh tanah, aku memosisikan kakiku buru-buru dan mendarat dengan kaki duluan dan langsung ambruk ke samping.

Astaga.

Tapi tidak buruk juga. Jiwa itu ada di sekitar sini. Aku berdiri sambil mengibaskan gaun putih kusam selutut yang kupakai dan berjalan ke arah semak lebat dekat situ.

Benar saja. Tersembunyi di balik rerimbunan daun, ada sinar putih berbentuk lingkaran yang melayang di dekat sana.

Jiwa. Roh.

Aku mengulurkan tanganku padanya. Gumpalan jiwa itu kini berada di atas telapak tanganku. Aku mendekatkannya ke muka dan mengamati permukaan jiwa itu. Permukaan jiwa seperti cermin, di cermin itu aku bisa melihat pantulan kehidupan seperti apa yang telah dijalani sang jiwa. Setidaknya, pemilik jiwa ini.

Jiwa selalu bereinkarnasi. Satu jiwa bisa telah mengalami berbagai macam kejadian dalam wadah yang berbeda. Jiwa yang kau punya itu, juga merupakan reinkarnasi dari seseorang. Begitu pula aku. Dan banyak orang lainnya.

Tapi, kita tidak bisa mengetahui siapa diri kita dulu. Kita cenderung tidak mengingatnya karena saat bereinkarnasi ingatan masa lalu kita dihapus, direset. Dimulailah lembaran baru.

Seperti jiwa ini. Yang terpantul di situ adalah kehidupannya di wadah terakhir. Gadis 16 tahun. Dia mati di umur 16, dan melihat sinarnya, dia belum lama meninggalkan wadahnya.

Aku memperhatikan gambar-gambar yang silih berganti di permukaan jiwa itu. Dia mempunyai rambut panjang kecoklatan, bertubuh tinggi semampai, dan berwatak ceria. Namanya Maria.

Maria lahir di keluarga biasa. Ia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-16 sebulan lalu. Dia mempunyai banyak teman.

Gadis yang menyenangkan. Ia juga berwajah cantik. Tipe perempuan 'sempurna'.

Dan yang paling membuatnya bersinar adalah betapa dia sangat menghargai hidup yang diberikan kepadanya.

Gambar terakhir yang aku lihat adalah adegan dia dan teman-temannya yang sedang mengunjungi sebuah taman hiburan. Mereka bermain dan bergembira beramai-ramai. Sangat menyenangkan.

Lalu, Maria mengecek ponsel. Mukanya pucat seketika dan dia pamit pulang saat itu juga. Aku memperhatikannya menaiki taksi dan turun di sebuah rumah sakit. Ia terburu-buru menaiki tangga dan membuka sebuah pintu kamar rawat.

Itu ibunya. Aku tahu begitu saja.

Ibu Maria sakit. Aku bisa melihat betapa Maria sangat mencintai ibunya.

Suatu hari, ibunya mencoba berjalan ke luar kamar. Maria menemani di sampingnya. Ibu Maria memegang tiang infusnya dan mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Maria tampak ceria seperti biasa, namun sebenarnya perasaan khawatir dan takut memenuhi pikiran gadis itu.

Tiba-tiba tiang infus ibu Maria tersandung kaki kursi saat mereka tiba di dekat tangga. Ibu Maria terkejut dan oleng. Ia condong ke arah tangga dan tampak akan jatuh ke bawah. Dalam gerakan sangat cepat, Maria menangkap tangan ibunya dan karena posisinya itu, dia sendirilah yang jatuh di tangga. Ibu Maria selamat. Tapi Maria tidak. Dia mati karena benturan telak pada kepalanya.

Jiwa Maria masih tertahan di sini karena dia masih terikat oleh ibunya.

Jiwa yang terlepas dan arwah penasaran berbeda. Arwah penasaran adalah arwah seseorang yang masih berkeliaran di dunia karena orang itu masih mempunyai ikatan di dunia ini, masih ada hal yang ingin ia tuntaskan namun tidak bisa lagi. Dia tak rela hidupnya berakhir begitu saja dan memilih berdiam di dunia.

Sedangkan jiwa yang terlepas, atau di sini biasa disebut dengan 'jiwa' saja, adalah seseorang yang sudah mati, yang sudah terlepas dari ikatannya di dunia, tapi ada seseorang yang tidak dapat melupakannya. Biasanya perasaan orang itu akan memengaruhi jiwa tersebut, dan jiwa ini kembali terikat walau sedikit. Hal inilah yang menyebabkan jiwa tidak bisa bereinkarnasi, yang membuatnya masih melayang-layang di dunia. Jika seseorang itu dapat mengikhlaskan kepergian jiwa tersebut, ikatannya pada sang jiwa akan terlepas dan selanjutnya tinggal sang jiwa sendiri yang melepas keterikatannya. Biasanya itu hal yang mudah, karena pada dasarnya ia sudah tidak memiliki ikatan khusus lagi. Orang yang masih mengenang dan tidak dapat melupakan sebuah jiwa disebut si Pelaku.

Namun banyak juga kasus di mana sang jiwa tidak terikat kembali, tapi tetap tidak bisa bebas karena perasaan seseorang tersebut.

Ibu Maria masih terus mengenang Maria secara dalam, dan hal ini membuat jiwa Maria tidak dapat lepas.

. . . . .

Eh, kau bertanya kenapa aku bisa tahu semua ini?

Ah, benar. Aku belum memperkenalkan diri. Aku Rin, Peri Reinkarnasi. Ingat penjelasanku tadi? Nah, tugaskulah untuk membebaskan jiwa-jiwa yang masih diikat ini. Perkenalkan.

Mungkin, kau bertanya bagaimana caranya membebaskan jiwa-jiwa itu. Memang, berbeda dengan arwah penasaran, bukan dia yang harus disadarkan, tapi orang yang mengikatnya, si Pelaku, kan?

Di sini, kami, Peri Reinkarnasi, akan bicara dengan sang jiwa. Jiwa tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa 'menenangkan' si Pelaku, dan kamilah yang menunjukkan cara dan membantunya.

Aku mengakhiri penglihatan hidup Maria dan berkonsentrasi. Aku menghubungkan alam bawah sadarku dengan jiwa Maria. Seketika aku telah berada di Ruang Putih, dalam hal ini bukan ruangan bertembok serba putih, melainkan sebuah tempat tanpa apa-apa, sejauh mata memandang hanya putih yang ada. Ini adalah ruang bagiku untuk menangani, atau bicara, dengan sang jiwa; tempat ini ada di hati jiwa tersebut.

Aku melihat Maria duduk tak seberapa jauh dariku. Aku hampiri dia. "Halo, Maria."

Maria mendongak dan menatapku dengan sepasang bola matanya yang coklat bening itu. "Siapa?"

Aku tersenyum dan memiringkan kepala. "Seseorang yang akan mengeluarkanmu dari sini."

"Benarkah?" Maria tersenyum. "Oke, bantu aku."

Aku menyukai sikapnya yang spontan itu. "Pertama… ceritakan apa yang membuatmu… 'terkungkung'."

"Ibuku. Aku menyelamatkannya sewaktu dia hampir jatuh di tangga, dan sebagai gantinya akulah yang jatuh. Dia tidak bisa melupakan apa yang sudah aku lakukan. Kau tahu? Aku tidak menyesal sama sekali. Dia ibuku yang sangat aku sayangi, jadi… aku benar-benar tidak menyesal sama sekali mati demi ibuku. Kau tidak akan tahu betapa bangganya aku saat tahu bahwa aku telah menyelamatkan ibuku," Maria tersenyum. Ada setitik air mata di ujung matanya. Aku ikut tersenyum haru.

"Apa yang dilakukan ibumu?"

Maria mengeryitkan kening. "Oh, itu. Dia… entahlah. Yang jelas aku dapat merasakan dia memanggil-manggilku."

"Apa kamu benar-benar siap untuk pergi?"

"Ya."

"Siap jika suara ibumu itu akan menghilang selamanya dari pikiranmu?"

"Maksudmu… aku tidak bisa mendengar suara ibu lagi?"

"Bukan begitu. Maksudku, suara ibumu yang terus memanggilmu tadi. Bukankah itu suara yang kau rindukan? Walau kau jadi terikat di dunia, kau merasa nyaman kan mendengar ibumu memanggilmu? Kau merasa lega bahwa ibumu tidak melupakanmu."

Maria menatapku. "Dari mana kau tahu?"

"Itulah pekerjaanku," jawabku. "Aku adalah seseorang yang bertugas melepas ikatan jiwa-jiwa di dunia agar mereka dapat bereinkarnasi."

"Reinkarnasi? Itu benar-benar ada?"

"Untuk itulah aku ada di sini."

Maria terdiam sesaat. "Apa jika aku bereinkarnasi, aku bisa bertemu ibuku lagi?"

"Bisa, tapi tidak sebagai Maria. Sebagai orang lain tapi dengan wajah yang hampir sama. Dan sekalipun bertemu, kau tidak akan ingat siapa ibumu, siapa teman-temanmu dulu saat kau menjadi Maria. Ingatanmu akan distel ulang dari nol."

"Apa 'Maria'… adalah reinkarnasi juga?"

"Benar. Jiwamu sudah bereinkarnasi beberapa kali sebelum menjadi Maria."

Mata Maria berbinar. "Hebat sekali. Aku tidak menyangka reinkarnasi seindah itu."

Aku tersenyum.

"Apa aku akan langsung bereinkarnasi lagi?"

"Tentu tidak. Kau akan menunggu bertahun-tahun dulu. Jumlah jiwa itu banyak sekali, lho, walau saling bereinkarnasi. Semua ada waktunya. Kalau aku lihat, dulu kau hidup di zaman Inggris kuno sebelum terlahir menjadi Maria."

Maria menatap ke atas, mencoba membayangkan. "Wow. Tapi, apa bedanya aku menunggu di sini hingga tiba waktunya untuk reinkarnasi, dengan terlepas sekarang dan baru bereinkarnasi bertahun-tahun kemudian?"

"Sangat berbeda," aku mengacungkan telunjuk ke atas. "Jika kau terbebas sekarang, jiwamu akan ditempatkan di peristirahatan dan didamaikan. Aku tidak bisa menceritakan apa itu, tapi kau akan tenang di sana."

"Berbeda dengan kau yang menunggu di Ruang Putih ini, kau akan kelelahan. Lama-kelamaan jiwamu akan tergerus secara perlahan, dan itu tidak bagus. Jiwamu seolah digerogoti. Berpengaruh ke proses reinkarnasi juga."

Maria menatap mataku dalam-dalam. "Jadi," sambungku, "apa kau siap untuk bebas?"

"Tentu saja."

Aku mengulurkan tangan. "Akan aku tunjukkan cara agar kau bebas. Di bagian ini kau akan 'menenangkan' ibumu, dan itu merupakan tugasmu sendiri. Ayo, Maria!"

Maria menatap tanganku beberapa saat. Lalu, sambil tersenyum, dia menyambut tanganku. "Oke!"

###

Caranya mudah. Aku akan membukakan jalan baginya untuk bertemu ibunya. Nanti, bagi si Pelaku, itu akan terasa seperti mimpi walau si Pelaku sedang dalam keadaan sadar. Maria akan bicara dengan ibunya, mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan, lalu tergantung dia sendiri, apa yang akan ia katakan pada ibunya agar ibunya dapat melepas Maria.

Aku hanya menyaksikan dari ujung jalan itu. Begitulah tugas kami. Menenangkan jiwa, bercakap-cakap untuk mendekatkan diri, dan membiarkannya menyelesaikan apa yang memang seharusnya sang jiwa selesaikan. Hal tersulit adalah bagian mendekatkan diri pada jiwa itu, karena jika kami tidak cukup untuk menyelami jiwa tersebut, jalan menuju si Pelaku tidak akan terbuka.

Hari itu, Maria menyelesaikan tugasnya dengan baik. Sesaat setelah tugasnya selesai, tubuhnya mulai menghilang perlahan-lahan. Dia kembali ke depanku dan menggenggam tanganku. "Terima kasih atas bantuanmu."

"Tidak masalah," aku tersenyum. Akhirnya tubuhnya hilang benar-benar dan hanya menyisakan seberkas cahaya mungil. Aku mengambil itu dan memasukkan ke dalam sebuah tabung kecil dan menyimpannya. Dia akan diistirahatkan di Ruang Peristirahatan bersama jiwa-jiwa lain.

Aku memutuskan kesadaran alam bawahku, membuka mata dan telah kembali ke hutan.

###

Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar. Capek juga setelah menunaikan tugas barusan.

Dan di sinilah aku, tengah menari dengan bebas di sebuah rerumputan terbuka di antara pepohonan. Rumputnya masih basah, membuat kakiku terasa dingin setiap menginjaknya.

Ah, menyegarkan. Rasanya aku bisa menghabiskan waktuku di sini hanya untuk menikmati udara sejuk dan bebauan hutan yang lembap.

Aku menyenandungkan sebuah lagu, lagu yang muncul begitu saja di pikiranku. Rasanya damai sekali, menari sambil bersenandung ditemani hawa hutan sehabis hujan.

Lalu, aku bisa merasakan seseorang tengah memperhatikanku dari jauh. Lewat sudut mata, aku dapat mengetahui siapa itu dan langsung terkejut karenanya.

Seorang laki-laki.

Dia… manusia.

Dia melihatku. Benar-benar melihat wujudku.

Padahal, peri sepertiku tidak dapat dilihat oleh mata orang-orang.

Tapi… laki-laki berambut honey-blonde itu benar-benar melihat wujudku ini. Aku yakin sekali. Kalau tidak, bagaimana matanya bisa pas tertuju padaku?

Aku mencoba menenangkan diri dan mencari akal. Tanpa kentara kulemparkan sebuah batu ke semak di dekatnya. Tupai yang sedang berdiam diri di sana langsung melarikan diri. Itu cukup untuk mengalihkan perhatian laki-laki itu untuk sesaat, dan waktu yang sempit itu aku manfaatkan untuk segera melompat terbang menjauh. Aku hilang dari pandangannya dengan cepat.

Kuputuskan untuk pergi. Lagipula sudah waktunya kembali.

Aku menjauh dari sana dengan penuh pertanyaan. Siapa dia? Kenapa dia bisa melihat wujud periku ini?

Dia, laki-laki itu, bukan orang biasa!

Tapi, tapi… kenapa sosoknya terasa familiar?

TBC


Judul chapter? The Truth About Rin paling ya.

Gimana? Beberapa penjelasan soal reinkarnasi-reinkarnasi saya kutip sedikit dari novel Bidadari Bersayap Biru-Agnes Jessica (yang bagian keterikatan yang bikin nggak bisa reinkarnasi).

Oh ya, mulai chapter depan mungkin mulai ada adegan Len-Rin, doain aja mood saya bisa diajak kompromi. REVIEW!

Thanks to Yami no Ryou, karino48, Watashi, Takama-kun, Shira Nagisa Rire.