Mine

© Haruno Kagura

Rate : T++ (masih pantes 'kan?)

U. Sasuke / H. Sakura

Disclaimer : Semua character yang ada disini saya pinjam dari Masashi Kishimoto-sama.

Warning : OOC. Boy!Sakura. AU. Yaoi.

Enjoy

~0o0~

BAB TIGA

Sakura termenung saja dan memutuskan untuk kembali ke kelasnya ketika melihat bahwa sang kakak mungkin tidak akan keluar dalam waktu lama. Jadi, ia membereskan tablet milik kakaknya dan menyimpannya lagi dengan rapi di laci meja sang kakak. Ia berdiri dan agak tertawa melihat papan nama Sasori.

Secretary II – Haruno Sasori

Ia menyentil papan tersebut sambil bergumam, "Banyak macam." Ia pun segera bergegas kearah pintu dan membuka pintu dan langsung disambut oleh wajah seorang pemuda yang lebih tinggi darinya. Pemuda tersebut terlihat agak terkejut sepertinya namun ketika melihat bahwa itu Sakura, ia langsung tersenyum.

Sakura ingat pemilik senyum kalem sekaligus menawan itu. Uchiha Itachi, sang ketua OSIS. Sasori pernah mengenalkan sang ketua kepadanya. Tunggu sebentar, bisik Sakura pada dirinya sendiri. Sebelum Sakura dapat berpikir lebih jauh lagi, sebuah suara yang sangat ia kenal menyeruak masuk.

"Aniki, kenapa kau tidak masuk?" suara bass tersebut terdengar ketus sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah suara penuh seringaian, "Oh. Ohayo, Haruno-san." Betapa inginnya Sakura meninju pemuda di hadapannya ini. Namun apa dayanya jika dia malah mengingat kejadian nista tadi ketika melihat wajah pemuda di hadapannya ini.

Melihat wajah merona Sakura dan seringai lebar sang adik, sang Uchiha sulung langsung menyimpulkan bahwa sang adik sudah melakukan sesuatu pada pemuda manis di depannya ini. Ia pun hanya tersenyum sopan dan akhirnya berkata, "Nah, karena kalian kebetulan bertemu seperti ini. Mengapa kalian tidak sekalian saja berjalan ke kelas bersama? Kalian sekelas 'kan?"

Sebelum Sakura protes, Sasuke langsung menggenggam pergelangan tangannya dan menyeret Sakura pergi sambil mengangkat tangan satunya lagi sebagai kata pamit. Itachi hanya geleng-geleng melihat kelakuan adiknya.

Kriett

Ia menoleh dan tersenyum ketika melihat sang sekretaris keluar dari toilet pribadi OSIS. Ia pun menyapanya, "Yo, Sasori." Sasori balas tersenyum, "Yo."

~o0o~

Sakura memanyunkan bibirnya dan memilih untuk memasukkan kedua tangannya kedalam kantung celananya. Ia membuang wajah dan lebih memilih untuk melihat pemandangan dari kaca jendela di setiap lorong. Ini sudah lewat sepuluh menit dari dimulainya homeroom. Namun, karena mereka sudah diizinkan untuk pergi ke ruang OSIS jadinya mereka hanya biasa saja walaupun terlambat.

Sakura berpikir ketika memandang punggung Sasuke yang berada didepannya dan membandingkan wajah super jutek milik Sasuke serta seringai menyebalkannya dengan Itachi, yang memang mengalami penuaan dini, namun memiliki wajah sopan santun serta senyum menawan dan penuh kharisma.

Tidak seperti adiknya, pikir Sakura sambil mencibirkan bibirnya di belakang Sasuke, sudah jutek, sok keren, mesum, hidup lagi!

Sakura mendecih tanpa sadar, masih dengan memandang bengis punggung Sasuke; berharap kalau dia bisa membolongi punggung tegap itu dengan laser yang keluar dari matanya. Sasuke menyadari itu dan tiba-tiba berhenti. Tidak memerhatikan, jadilah Sakura bertubrukan dengan Sasuke yang (sayangnya) lebih tinggi darinya; hingga ia menubrukkan jidat lebar yang tertutupi poninya dengan punggung tegap Sasuke.

JDUK!

"Ittai!" seru Sakura sambil mengusap jidatnya. Ia mendelik kearah Sasuke, "Apa-apaan si––" kata-katanya terputus ketika Sasuke berbalik dan langsung membekap mulutnya serta membawa tubuh ramping nan mungil milik Sakura menempel pada tubuh tegapnya. Sakura langsung berusaha memberontak untuk melepaskan tangan-tangan Sasuke.

Dengan posisi seperti ini, Sakura menjadi teringat kejadian tadi. wajah Sasuke begitu dekat dengannya dan memandang iris hijau daun Sakura dengan dalam dan tajam sebelum akhirnya mendesis, "Diam atau kubungkam mulutmu dengan mulutku." Mendengar ancaman itu, Sakura langsung terdiam.

Merasa Sakura sudah pantas dilepaskan, Sasuke melepaskan tangan yang membekap mulut Sakura. Namun tidak dengan tangan satunya lagi. Pemuda bersurai pink itu berusaha menahan perasaan kupu-kupu terbang di perutnya dan balik mendesis, "Memang kenapa sih?"

Sasuke membalik posisinya namun tetap mempertahankan tangannya di pinggang Sakura. Hingga posisi mereka menjadi begini : Sakura di depan Sasuke dengan lengan Sasuke yang melingkari pinggang Sakura. Punggung Sakura menempel dengan dada bidang Sasuke.

Walaupun agak risih dengan posisi mereka, Sakura mengintip dari sela-sela tembok dan mendapati sepasang insan sedang bercumbu. Sepasang insan tersebut mempunyai rambut yang agak berbanding terbalik; perak dengan cokelat. Dan Sakura mengenal kedua orang itu.

Kakashi dan Rin.

Memang sih, Sakura seringkali melihat kejadian ini di rumah miliknya; ya, pamannya yang satu itu memang tidak tahu diri. Walaupun begitu, ia sama sekali tidak bisa menoleransinya; apalagi ini di sekolah.

Dasar paman tidak tahu diri.

Coba kalau Tsunade-baachan menemukan mereka begini, misuhnya dalam pikiran.

Senju Tsunade, adalah ibu dari Mebuki dan Kakashi, serta nenek dari Sakura. Ia adalah kepala sekolah yang, walaupun sudah berkepala enam, masih semuda tiga puluh tahun. Dan itu semua diturunkan kepada Mebuki dan Kakashi. Ia adalah nenek dengan kekeras-kepalaan sama dengan kedua anak dan kedua cucunya. Ia mempunyai rambut bewarna blonde yang selalu dikuncir twintail dengan mata bewarna cokelat.

Sakura hanya menggeleng dan melupakan Sasuke yang masih melingkarkan pinggang Sakura dengan lengannya. Walaupun wajahnya datar, namun ada sedikit ekspresi kesal ketika dilupakan oleh pemuda berambut pink didepannya tersebut. Sebuah ide cerdas (baca: nista) terbentuk di kepalanya.

Ia mulai mendekatkan mulutnya ke telinga Sakura sedangkan tangannya mulai ber-gerilya dari pinggang ke kemeja Sakura. Sasuke meniupkan nafas hangatnya ke telinga Sakura; dan Sakura mulai bergidik karenanya. Ia menyeringai senang ketika merasakan bahwa tubuh Sakura meremang dibawah sentuhannya.

Sakura mulai mengangkat lengannya dan mengigit lengannya dengan keras; melarang semua erangan yang mulai ingin keluar dari mulutnya. Mengigit lengannya, ia memberikan death glare yang malah membuat Sasuke menyeringai lebih lebar. Sakura memukul lengan Sasuke dengan tangannya yang lain.

Sasuke bertambah senang dan mulai mengemuti daun telinga Sakura; hingga sang empunya menggigit lengannya tersebut. Melihat bahwa gigitan tersebut dapat menyebabkan luka di lengan mulus Sakura, ia langsung menjauhkan lengan tersebut dan berbisik, "Kau akan melukai lenganmu jika melakukan itu."

Karena sudah kehabisan nafas, Sakura hanya dapat menurut kepada Sasuke. Seringaian Sasuke bertambah besar. Tangannya mulai menyelinap masuk kedalam kemeja putih Sakura. Sakura menggigiti bibirnya ketika tangan besar Sasuke mengelus pelan perut rata nan padat Sakura.

Seluruh wajah Sakura menjadi merah dan memanas. Dan ketika tangan Sasuke mulai merayap kearah dadanya, ia langsung mengeluarkan erangannya; yang membuat Sasuke menyeringai. Kakashi dan Rin langsung menjauhkan diri mereka ketika mendengar erangan Sakura. Wajah keduanya memerah dan mereka cepat-cepat membereskan pakaian mereka yang agak berantakan.

Lutut Sakura terasa melemas saja; ia menutupi mulutnya menggunakan punggung tangannya. Sasuke mengangkat salah satu alisnya dan mendudukan Sakura pelan-pelan di lantai. Ia menyadari bahwa Sakura sedang melamun; lihat saja mulut menganganya dan mata hijaunya yang membulat. Ia mengangkat tangannya dan mulai melambai-lambaikannya di hadapan Sakura.

Sakura tersentak dan langsung memandang perebut-ciuman-pertama-miliknya dengan sengit; sebelum akhirnya berdiri dan berjalan dengan kaki terhentak-hentak di sepanjang lorong. Sasuke hanya mengangkat salah satu alisnya dan bergumam dengan (sengaja) keras, "Dasar PMS." Sakura langsung berhenti dan membalikan tubuhnya; menatap Sasuke, yang hanya menyeringai kearahnya, dengan tajam dan mengacungkan jari tengahnya kepada pemuda Uchiha bungsu tersebut. Dan langsung mempercepat langkahnya.

Sasuke hanya terkekeh pelan melihat kelakuan manis pemuda didepannya dan mengikuti langkah marah Sakura dengan langkah-langkah panjang.

~o0o~

"Sumimasen," Sakura mengucapkan kata tersebut sambil membuka pintu geser kelasnya. Ia menatap guru yang sedang mengajar kelasnya dan mendapati sepasang mata bewarna merah ruby serta rambut ikal bergelombang bewarna hitam yang mencapai pinggulnya.

Wanita tersebut memakai sebuah kemeja lengan balon yang mencapai setengah lengannya dan bewarna putih gading. Sebagai bawahan, ia memakai sebuah rok span bewarna hitam dengan sepasang sepatu mary-jane. Kemejanya mempunyai turtle neck dan ia menyematkan sebuah pita hitam di lehernya. Bibir wanita itu dipoles dengan lipstick bewarna merah menyala; hampir sewarna dengan matanya. Wanita tersebut adalah guru bahasa Jepang, Sarutobi Kurenai.

"Ah, Haruno-kun, Uchiha-kun," panggilnya dan tersenyum manis, "Silahkan duduk di tempat kalian." Sasuke dan Sakura membungkuk dan menggumamkan 'arigatou' ketika melewati guru cantik itu. Kurenai mengangguk sekilas ketika kedua pemuda tersebut duduk dan langsung melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda tadi, "Nah. Untuk haiku…"

Sakura langsung mengeluarkan buku catatan khusus bahasa Jepang miliknya dan mulai mencatat penjelasan guru didepannya. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu mengenai kepalanya dan jatuh ke atas mejanya; karena dia menunduk. Ia mendongak dan menemukan sebuah kertas yang sudah dilipat-lipat kecil. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan sobat pirangnya sedang memelototinya untuk membuka kertas tersebut.

Ia meringis dan langsung membawa kertas tersebut ke pangkuannya; takut guru Kurenai mengetahuinya. Ia membuka kertas tersebut dan menemukan tulisan tangan Ino yang rapi. Kurang lebih begini isinya:

Kenapa kau lama sekali, huh? –I–

Sakura mengangkat salah satu alisnya dan mulai menulis jawabannya dibawah pertanyaan Ino:

Ada yang menghambatku. –S–

Ia menulis jawaban itu sambil melirik pedas pemuda disampingnya; yang lebih memerhatikan buku catatannya. Ia melihat ke depan dan ketika merasakan Kurenai tidak melihat kebelakang, ia melempar kertas tadi dan memasang tampang polos ketika Kurenai membalikan tubuhnya. Kemudian, ia mulai terlarut pada cerita-cerita guru cantik didepannya tentang haiku-haiku yang terkenal dari abad ke-abad.

Puk

Sakura mengusap bagian kepalanya dan memungut kertas yang Ino lempar di lantai. Ia membukanya dan membaca isi kertas tersbut.

Apa yang menghambatmu? –I–

Sakura memutar bola mata dan akhirnya memberi jawaban singkat:

Akan kuceritakan. Nanti. Pulang sekolah. Dan berhentilah melempar kertas. Kurenai-sensei sudah mulai melirik kearahku, tahu. –S–

Ia melemparnya kembali dan mendengar suara debuman pelan; yang adalah Ino menjedotkan kepalanya pelan ke meja. Sakura terkekeh pelan dan mulai memerhatikan Kurenai dengan lebih serius.

~o0o~

Kurenai membereskan bukunya begitu bel pergantian pelajaran berganti. Setelah selesai, ia menatap murid-murid didepannya dan berkata, "Kalian akan kuberi tugas untuk membuat haiku berdua dengan teman sebangku kalian. Sekian." Para murid menghela nafas panjang ketika mendengar tugas dari Kurenai. Apalagi Sakura.

Sakura hanya dapat meratapi nasibnya ketika mendengar kata-kata terakhir dari sang guru wanita tadi. Ia menghela nafas dan memilih untuk menguburkan wajahnya di kedua tangan yang telah ia buat menjadi sebuah kubangan. Dan akhirnya, ia pun tertidur.

Tak lama kemudian, Kakashi masuk dengan wajah malas miliknya. "Konnichiwa," sapanya; dan langsung disapa kembali oleh para murid dengan suara yang setengah mengantuk. Kakashi hanya terkekeh pelan. Ia berdeham sekali untuk mengambil suara dan mulai berbicara dengan nada serius.

"Anak-anak, kalian tentu tahu kalau beberapa minggu lagi kita akan mengadakan festival sekolah," bukanya dan disambut dengan wajah berbinar dari para murid. Ia tersenyum didalam maskernya dan kembali melanjutkan perkataannya, "Nah. Karena itu, aku ingin bertanya lebih baik kita membuat apa untuk festival nanti?" Ino dan Naruko serentak mengangkat telunjuk masing-masing.

"Apa usulan kalian?" tanyanya. Ino dan Naruko langsung serentak menjawab, "Butler and Maid Café!" teriak mereka dengan antusias. Seorang pemuda berambut nanas disamping Ino, Nara Shikamaru, langsung menggeleng kepalanya pelan dan bergumam, "Mendokusei." Ino mendengar gumaman tersebut dan memberikan death glare mematikannya. Puas memelototi Shikamaru, Ino langsung menghadap depan dan melihat Kakashi menulis di papan tulis usulannya.

"Ada usulan lain?" Kakashi bertanya dengan mengangkat alisnya. Ia memandang berkeliling. Ketika melihat bahwa tidak ada yang menolak, Kakashi akhirnya membulatkan tulisan di papan tulis itu dan bertanya kepada murid-muridnya lagi, "Siapa yang ingin membuat kostumnya?"

Kedua pengusul yang sama pun mengangkat tangan dan Kakashi mengangguk-angguk melihat keantusiasan keduanya. "Baiklah," katanya, "Rapat ini kita tutup. Arigatou, minna." Semua murid membungkuk dan balas menyapa, "Arigatou, Sensei!"

~o0o~

"Saku! Jangan kesini! Bahaya!" seorang anak lelaki berumur 8 tahunan berteriak ngeri ketika melihat seorang anak kecil berumur 6 tahunan berlari menyebrang jalan kearahnya tanpa melihat kesana kemari. Anak kecil dengan rambut aneh tersebut mengabaikan perintah pemuda lebih tua darinya itu.

"Saku! Jangan kesitu!" seorang anak lelaki lainnya yang tidak terlalu kelihatan wajahnya ikut berteriak melihatnya. Sang anak lelaki yang mempunyai rambut merah berteriak kearah pemuda berambut gulali itu dengan ngeri, "AWAS, SAKURA!" Pemuda yang berumur sama dengan pemuda berambut gulali tersebut juga berteriak, "SAKULA!"

BRUAK!

Dan yang terakhir ia dengar sebelum menyerah pada kegelapan adalah suara panggilan dari pemuda lainnya yang tidak terlalu kelihatan olehnya.

"Saku…"

~o0o~

"…ra…"

"…ra-kun…"

"SAKURA-KUN!"

Sakura langsung melebarkan kedua matanya dan duduk tegak ketika mendengar sebuah suara melengking yang sangat mengganggu. Kedua alisnya berkerut ketika sinar matahari sore menyilaukan matanya. Ketika dapat memfokuskan matanya dengan baik, ia segera mengurai kerutan dahinya.

"Apa?" katanya dengan suara serak khas orang tidur. Ia menemukan ketiga temannya memerhatikannya. Mendengar nada ketus milik Sakura, ketiga orang yang dipelototinya akhirnya menghela nafas. Sakura mengerutkan keningnya, "Apa sih?"

Ino melambaikan tangannya, "Tidak. Tidak apa-apa," dan beralih ke Naruko; sambil menepuk bahunya, "Akhirnya, suaramu berguna," yang dijawab dengan seruan 'hei!' dari Naruko yang tersinggung. Ino pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk menyerahkan Naruko yang mengamuk ke tangan yang dapat diandalkan, Hinata. Hinata, tentu saja, hanya menjadi seksi repot dan berusaha untuk membujuk Naruko dengan berbagai jajanan.

Ino hanya tekikik ketika melihat sahabat gulalinya hanya menatap bosan kedua orang tersebut. Ia mengajak ketiganya pulang.

~o0o~

"Ne. Ne, Sakura," Sakura menengok kearah sahabat pirangnya, Ino, yang menatapnya balik. "Hum?" responnya singkat dan menganggukan kepalanya; seakan menyuruh Ino melanjutkan perkataan yang tadi terpotong.

Ino menghentikan langkahnya, yang diikuti oleh Sakura, dan menatap mata emerald Sakura dalam. Sakura mengerutkan dahi tidak mengerti. Ia menelengkan kepalanya seakan bertanya 'ada apa?'. Ino tiba-tiba memegang kedua tangan Sakura dan meletakannya diatas dadanya. Sakura masih menatap Ino tidak mengerti karena ia sudah terbiasa, namun inilah kali pertama Sakura melihat Ino dengan wajah serius.

Sakura melihat Ino membuka mulutnya, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir merah yang dilapisi lipgloss sang gadis. Sakura bertambah bingung dan mulai panik ketika Ino menundukkan kepalanya.

"I-ino?! Daijobu?" tanyanya dan melingkari bahu sang sahabat. Ino menggigit bibirnya dan tiba-tiba menatap kearahnya dengan senyuman jahil, seperti biasa, serta berkata dengan suara ceria, "Kau jadi maid di festival nanti lho, Saku!"

Sakura langsung menganga dan berteriak, dalam beberapa menit kemudian, "ARRRGHH! KENAPA SIH SELALU AKU YANG KENA SIAL!" Ino hanya menertawai kelakuan histeris sahabatnya sampai memukul-mukul tembok yang berada disampingnya. Air mata mulai keluar dari matanya dan ia masih menertawai sang sahabat.

Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu sekarang.

~o0o~

"Naruko -chan!"

Seruan senang tersebut membuat keempat remaja yang baru saja masuk itu menengokkan kepala dan menemukan seorang wanita berambut merah membara berlari tergopoh-gopoh kearah mereka. Ia tersenyum lembut ketika melihat anak gadis dan teman-temannya.

"Wah! Ramai sekali!" sapanya. Ketiga tamu remaja tersebut hanya tertawa karena telah terbiasa dengan kehebohan wanita tersebut; yang adalah ibu dari Naruko. Ketiga remaja tersebut sudah sering berkunjung ke rumah Naruko hingga sudah mengenali jenis-jenis manusia yang berada didalam rumah gadis dengan twintail pirang tersebut.

Setelah akhirnya mereka dibawa ke ruang tamu dan diseduhkan the, Kushina bertanya, "Jadi, ada apa?" Ino langsung menjawab dengan antusias, "Baachan! Kau bisa tidak membuatkan kami kostum?" Kushina mengangkat salah satu alisnya, "Untuk apa?"

"Tau lah, Baachan," timpal Sakura sambil sesekali menyesap teh yang telah disediakan, "Untuk festival yang sebentar lagi datang." Ino dan Naruko menganggukan kepala mereka berulang kali dengan antusias. Hinata hanya tersenyum melihat kelakuan ketiganya. Kushina terkikik melihat kedua gadis pirang di hadapannya dan mengambil sehelai kertas putih bersih dari salah satu laci dari meja kerjanya.

Ia meletakkan kertas tersebut di depan wajah kedua gadis pirang tersebut dan berkata, "Kalian mau buat apa?"

Dan perkataan itu cukup untuk membuat kedua gadis tersebut ber-high five ria.

~o0o~

"Ayolah, Sakuraaa! Jangan cembetutan gitu!"

Sakura melirik Ino dengan bibir dicibirkan dan membuang wajahnya sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sedikit rona kemerahan menghiasi pipi gembilnya. Kedua matanya merefleksikan sebuah kekesalan dan malu yang amat sangat. Kepalanya dihiasi oleh sebuah wig bewarna sama dengan rambutnya dan dikuncir ala ponytail Ino.

Didepannya, Ino membawa sebuah kamera DSLR di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya ia letakkan di pinggangnya. Mata birunya menyipit dengan garang melihat sahabat pinknya tersebut. Dengan putaran bola mata, ia pun mulai merayu Sakura lagi, "Ayolah, Sakura. Hanya satu jepretan dari kameraku habis itu sudah. OK?" katanya membentuk tanda 'OK' dengan ibu jari dan telunjuknya.

Sakura pun akhirnya menghela nafas dan menatap kearah Ino; dan tersenyum manis layaknya seorang perempuan. Ino tersenyum penuh kemenangan ketika akhirnya Sakura mengalah dan mengarahkan kamera dengan merk Canon miliknya pada sahabat pinknya. Ia menekan salah satu tombol di ujung kanan kameranya dan ketika mendengar suara 'jepret', Sakura langsung melepaskan wig beserta sepatu maid yang ia pakai.

Ino mengagumi hasil jepretannya dan hanya terkikik melihat betapa betenya Sakura sekarang. Ia pun akhirnya berjalan ke arah laptop Mac miliknya dan mulai menyambungkan kameranya pada laptopnya. Sakura mengikuti Ino dan duduk di sebelahnya sambil mengintip apa yang sedang dilakukan oleh Ino.

Melihat itu, Ino menyeringai jahil dan membuka LINE miliknya. Ia meng-klik grup kelas mereka dan mengganti foto grup mereka dengan…. Foto Sakura yang memakai baju maid tadi. Tidak sampai beberapa menit, grup langsung menjadi heboh. Dengan mata melotot kearah Mac milik Ino, Sakura memekik dengan suara histeris. Ino tertawa heboh ketika mendengar pekikan kecewekan Sakura. Masih tertawa, ia mengetikkan sandi angka pada iPhone 6 plus-nya ketika ia mendengar benda tersebut menjerit-jerit dengan nyaring.

Dengan cepat, ia mengetikkan sandi angka Line-nya dan menampilkan isi chat grup mereka. Ino tertawa-tawa ketika melihat dari teman sekelasnya memberikan komentar, sebagai berikut :

Ten10 :

Woah. Itu Sakura-kun? Kok cantik sekali sih?!

Shika :

Dogs4Life :

JADI PACARKU YA, SAKURA! (Ino tertawa keras membaca ini)

Uz_Karin :

Sakura itu cowok, Baka.

Sui_Shark :

Yang penting cantik. Ya kan, Kiba?

Dogs4Life :

Yoi!

Shika :

Kalian kumpulan orang bodoh.

Uz_Karin :

Dasar cowok.

Ino tidak tahan untuk men-scroll down komentar-komentar yang bertambah ngaco di chat kelasnya. Bosan tertawa, Ino akhirnya memutuskan untuk memfokuskan matanya pada layar laptopnya untuk memindahkan dan menghapus foto-foto dari kamera Canon miliknya.

"Hei, Ino?" Ino mendengar Sakura memanggilnya dan merespon, "Hm?" Sakura mencibirkan bibirnya dan mengeluh, "Aku lapar." Ino meraih tangannya dan menepuk-nepuk kepala Sakura pelan, "Tunggu sebentar."

Menekan-nekan keyboardnya sebentar dan akhirnya menutup laptopnya, Ino pun akhirnya bangkit dari duduknya dan berkata, "Ayo, makan." Sakura mengangkat kepalanya dengan antusias dan mengikuti Ino. Mata jamrudnya berbinar dan membuat Ino terkikik lirih melihatnya.

~o0o~

Sasuke menatap tampilan layar ponsel miliknya yang diisi dengan gambar seorang anak kecil imut dengan mata bulat berbinar dan senyuman lebar berpose kearah kamera. Disisinya, terdapat seorang anak kecil dengan mata sama polosnya namun dengan wajah cemberut dan semburat merah dipipinya yang membuatnya bertambah moe.

Sasuke menyentuh wajah anak disamping anak cemberut tersebut sambil tersenyum tipis. Diusapnya pelan wajah ceria dan polos dari laki-laki berambut merah muda tersebut. Matanya memejam dan ingatan-ingatan tersebut memborbardir pikirannya dengan penuh kejutan. Sasuke menerima kejutan itu dengan senang hati sampai akhirnya ingatan tersebut membuatnya mengerutkan dahinya dan akhirnya membuka matanya dengan keringat yang membuatnya memijat pelipisnya.

"Sakura…"

~o0o~

Itachi mengintip celah yang terbentuk dari pintu kamar adiknya sambil mengangkat alisnya. Ia mencari-cari tubuh adiknya dan menemukan adiknya sedang mengangkat ponsel miliknya dan Itachi tahu apa yang sedang dilihatnya. Ia menatap adiknya dengan serius sampai tidak menyadari seorang gadis dengan rambut cokelat sepinggang sedang di belakangnya.

"Ita-kun…?"

"asdfghjkl…!"

Itachi berteriak dengan suara tercekik bagai kucing terjepit pintu. Dengan segera, ia memegang bagian dadanya yang ia yakini disitulah jantungnya berada. Mata hitamnya menatap gadis di belakangnya dengan mata nyalang.

"Demi Tuhan, Hana. Kau mengagetkanku.!" katanya dengan nafas yang terputus-putus oleh kekagetan. Sekarang giliran Hana yang mengangkat alisnya. "Lagipula, kenapa kau mengendap-endap begitu, coba?" katanya dengan berkacak pinggang. "Mau dibantai Sasuke?" Itachi mengernyitkan dahinya pada kata-kata yang dipilih oleh Hana. "Ya, nggak gitu juga, Hana."

Inuzuka Hana mengernyit, "Ya, terus kau mau apa? Seperti penguntit saja." Itachi hanya memberikan cengiran miliknya yang membuat Hana menghela nafas dan akhirnya ikut mengintipi adik dari kekasihnya tersebut. "Dia sedang apa, sih?"

"Entah. Mungkin sedang meratapi nasibnya," jawab Itachi mengendikkan bahunya. Hana mendongak, "Nasibnya karena mempunyai aniki sepertimu?" Itachi melayangkan pelototan pada perempuan berambut cokelat disampingnya; yang hanya mengacuhkan dirinya dan memilih untuk mengintip adik kekasihnya daripada memperhatikan kekasihnya.

"Kau juga tidak ada bedanya dariku," Itachi mencebik. Hana mendelik, "Apa maksudnya, itu?" Itachi hanya mendiamkannya.

Tsk. Balas dendam dia.

~TBC~

Author Bacot Area :

Gila udah lama banget sejak saya terakhir kali meninggalkan jejak di dunia ini. Saya meminta maaf sebesar-besarnya karena sudah lama tidak apdet-apdet. Untuk semua yang sudah men-support saya, saya mengucapkan terima kasih; apalagi yang sudah bela-belain ngasih review ke fic ini.

Terima kasih banyak,

Athena Minev, sofi asat, khoirunnisa740, .3914, kazekageashainuzukaasharoyani, chy-nyan, Jun30, 1, harunoyuki, Aozora Yumiki, sami haruchi 2, Ayano Suzune, Guest, Kumada Chiyu, Kuro Shiina, tomaceri

THANKS AND PLEASE REVIEW AGAIINN~!

p.s : maaf kalo saya agak ngawur. Saya setengah ngantuk soalnya. EHEHE. Dan juga maaf kalo ada salah dalam penulisan nama. Thank you.