Nah, update lagi~ update lagi~ author terkejut lho. Ternyata fic horor di fandom Fairy Tail ini masih kurang banyak ya! Ayo dong! Ramaikan genre horor! Kan mengecewakan pecinta horor! Jangan romance mulu, udah mainstream! #soalnya author gak bisa buat genre romance. Author gak romantis sih! iyah, okeh!

Selamat membaca!

Can't Come Back

TAP TAP TAP TAP TAP TAP

"Tunggu!" Teriak Lucy yang masih mengejar gadis itu. Entah gadis itu siapa, yang pasti dia punya tenaga yang sangat kuat sehingga bisa berlari begitu lamanya.

"Berhenti!" Teriak Lucy lagi. Tenaganya mulai terkuras habis karena mengejar gadis itu. dipikirannya sekarang, gadis itu harus pulang. Pulang bersamanya dan Natsu. Natsu yang berlari di belakangnya sudah kehabisan tenaga, akan tetapi, demi sesuatu yang disebut 'peduli terhadap sesama', Natsu memaksakan kakinya untuk bergerak mengikuti Lucy. Mengejar sesuatu yang belum tentu nyata.

Mendengar suara langkah kaki lain, gadis itu berteriak dan tangisnya makin menjadi-jadi.

Tap tap tap tap tap

Terdengar suara langkah kaki yang berlari kecil dan kemudian berhenti sesekali lalu kembali berlari. Seperti menjaga jarak di belakang. Kemudian seringaian lebar terpancar di wajahnya yang pucat. Mulutnya terbuka sangat lebar dan terlihat seperti memisah dengan wajah bagian atasnya.

"Hey, aku juga suka origami... " Sebuah kalimat terlontar dari mulut gadis kecil berambut hitam panjang yang sedang memegang gunting dan burung kertas yang telah kehilangan kepala dan—kedua sayapnya.

Natsu dan Lucy terus berlari mengejar gadis yang sedang menangis itu. di belakang mereka, gadis penyuka origami itu terus berlari namun menjaga jarak.

PANG PANG PANG PANG

4 bola bekel dengan warna yang berbeda di pantulkan oleh sesosok gadis kecil dengan kimono merah di sepanjang lorong. Sosok itu berjalan ke arah yang lain. Namun menyadari kehadiran Natsu dan Lucy, gadis berponi rata itu terdiam dan melihat ke sebuah arah—arah Natsu dan Lucy berlari.

Bibir mungilnya yang pucat dan kering itu terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Perlahan cairan merah menetes dari matanya yang beriris coklat.

"Kumohon... jangan ambil mainanku 'lagi'... hiks..."

Pairing : Natsu D. & Lucy H.

Genre : Horor/Mystery

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : OOC buanget, Typo(s), Jelek, membingungkan, serem? Mungkin, banyak setannya.

"Berhenti!" Teriak Lucy di pertigaan di mansion itu. "Gadis itu... " Gumam Lucy.

"Lucy!" Teriak Natsu. Ia berhenti lalu bersandar pada tembok di sebelahnya. "Aku lelah!" Lanjut Natsu sambil mengatur nafasnya.

Mata Lucy membulat. Tangannya gemetar. Wajahnya ketakutan. Senter yang ia pegang terjatuh dan menggelinding tak jauh dari tempatnya berdiri. Natsu menengok ke arah Lucy heran.

"Apa... sebenarnya yang aku kejar?" Tanya Lucy pada dirinya sendiri.

"Lucy?" Panggil Natsu. Lucy tersadar dan dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia beranjak mengambil senternya yang masih menyala.

Akan tetapi, pandangannya justru teralihkan oleh sebuah benda putih yang memantulkan cahaya.

"Handy... cam... ?"

Lucy berjalan perlahan ke arah handy cam itu. Handy cam berwarna putih silver yang tergeletak. Entah siapa pemiliknya. Perlahan Lucy mengambil handy cam itu.

"Bawa... aku... bersamamu... "

WUUS

"!" Dengan cepat Lucy menengok ke belakang. Ia merasakan ada suara perempuan yang berbisik padanya dengan suara serak. Tidak—

—hanya ada Natsu di belakangnya.

Lucy pun berjalan ke arah Natsu dengan handy cam yang ia bawa. Alis Natsu berkerut. "Apa itu?" Tanya Natsu. Lucy menunjukkan handy cam itu dan membukanya.

"Masih menyala!" Kata Lucy kaget.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia pun memutar kembali rekaman sebelumnya.

'btzz'

"!" Lucy menutup mulutnya saat melihat orang yang pertama kali muncul dalam handy cam itu.

"E-Erza!?" Teriak Lucy dengan mulutnya yang ditutup oleh tangannya sendiri.

'btzz'

"Sekarang gua sama Gray lagi ada di depan mansion yang katanya 'angker' itu... menurut gua sih biasa aja... ya gak Gray?"

"Yo-i."

"Oke, langsung masuk aja dah!"

'btzz'

"Gak ada apa-apa di sini..."

"Coba ke sana... buka pintunya!"

KLEK

"Kosong?"

"Kosong nih?"

"Gua mau ke sana ah!"

"E-Erza! Kalau gitu... gua nunggu di sini aja deh... "

'btzz'

"Gua denger suara...!"

"!" "SIAPA DI SANA?!"

"AH?! PERGI! JANGAN MENDEKAT! PERGI SANA! GYAAA!"

'btzzz'

BRUK

"Kau... tidak suka origami ya..."

"..."

"Kalau begitu, jadilah kertas-ku... "

"..."

"Kenapa kau berdarah... ?"

"..."

'bttzzzzzzzz'

"Aduh... di Gray ini... gimana sih... kalo takut bilang kek... handy cam pake ditinggal segala... "

'btz'

"Wah... mansionnya gede juga ya...mirip—!?"

SRAAK

"Apaan tuh?!"

"!?"

Tap tap tap tap

"Suara? Gray?"

Tap tap tap tap

"...?"

SRAAAAAK

"!?... A-apa?!"

SRAAAAAK

"KYAAAA!"

'btzzzzz'

'BATTERY EMPTY'

"A-apa... yang barusan... ?" Tanya Lucy dengan mata membulat. Tangannya bergetar hebat sehingga handy cam yang ia pegang terjatuh. Lucy jatuh berlutut. Tubuhnya bergetar. Giginya menggeretak seperti orang kedinginan. Lucy memeluk dirinya sendiri.

"Erza...! E-erza...! Erza!...Erza!" Air mata mulai mengalir dari matanya. Nadanya bergetar menyebut nama Erza berkali-kali. Kini Lucy yang kuat dan berani telah hilang bila menyangkut tentang Erza.

Tidak ada orang yang pernah kembali setelah memasuki mansion ini. Keyakinan Erza kini sudah tidak dapat dipegang. Bahkan Erza dan Gray sudah menjadi penghuni mansion ini.

Termasuk Lucy dan Natsu.

"Lucy! Lucy tenanglah! Lucy!" Teriak Natsu sambil mengguncang-guncangkan tubuh Lucy yang semakin gemetar.

Sebenarnya apa yang ia lihat di dalam rekaman terakhir itu?


"Sekarang gua sama Gray lagi ada di depan mansion yang katanya 'angker' itu... menurut gua sih biasa aja... ya gak Gray?" Kata Erza yang sedang berdiri di depan mansion. Di handy cam itu tertera tanggal 5 hari sebelum hari ini. Erza pun menyebut kata 'angker' dengan nada yang meremehkan. 'Mereka' tidak suka itu.

menurut gua sih biasa aja... ya gak Gray?" Tanya Erza lagi.

"Yo-i." Jawab Gray yang memegang kamera.

"Oke, langsung masuk aja dah!" Mereka pun masuk. Rekaman terakhir pada punggung Erza sebelum rekaman itu dijeda.

'btzz'

"Gak ada apa-apa di sini..." Gray menyapu seluruh mansion lantai 2 yang berbentuk seperti balkon yang masih bisa terlihat sebagian dar lantai 1. mansion itu gelap dan berdebu. Sama seperti saat Natsu dan Lucy mendatanginya.

"Coba ke sana... buka pintunya!" Kata Gray pada Erza. Ia menyuruh Erza untuk membuka sebuah pintu coklat.

KLEK

"Kosong?"

"Kosong nih?"

"Gua mau ke sana ah!" Erza langsung pergi meninggalkan Gray dan berlari ke lorong lain.

"E-Erza! Kalau gitu... gua nunggu di sini aja deh... " Gray yang kebingungan pun memasuki ruangan kosong dengan jendela besar itu.

'btzz'

"Gua denger suara...!" Rekaman tiba-tiba berganti. Terlihat Gray langsung berdiri dan merekam seluruh ruangan. Tetapi kosong.

"!" "SIAPA DI SANA?!" Gray berbalik ke belakang dengan cepat. Membuat goyangan hebat di rekaman itu.

"AH?! PERGI! JANGAN MENDEKAT! PERGI SANA! GYAAA!" Tidak terlihat sosok apapun. Tapi yang jelas, Gray menghindari itu.

'btzzz'

BRUK

Handy cam itu terjatuh.

"Kau... tidak suka origami ya..." Terdengar sebuah suara halus milik seorang perempuan. Di rekaman itu sekarang, hanya terlihat sepasang kaki kecil yang berdiri menghadap kiri di sebelah kanan, dan sebuah tangan yang tergeletak di sebelah kiri.

"..." Tidak ada jawaban dari Gray.

"Kalau begitu, jadilah kertas-ku... " Kata suara itu lagi. Ia berjalan ke depan satu langkah. Namun ia berhenti.

"Kenapa kau berdarah... ?" Tanya gadis itu. Sekarang terlihat kalau tangan kirinya memegang sebuah gunting.

"..."

'bttzzzzzzzz'

"Aduh... di Gray ini... gimana sih... kalo takut bilang kek... handy cam pake ditinggal segala... " Tiba-tiba handy cam itu dipegang oleh Erza dan agak bergoyang sedikit seperti baru saja diangkat.

'btz'

"Wah... mansionnya gede juga ya...mirip—!?" Erza yang sedang menyapu seluruh penjuru lorong pun tersentak kaget. Ia merasakan sesuatu di belakangnya.

SRAAK

"Apaan tuh?!" Erza berbalik ke belakang.

"!?"

Tap tap tap tap

"Suara? Gray?" Erza mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia masih berpikir positif kalau itu adalah suara langkah kaki Gray.

Tap tap tap tap

"...?"

SRAAAAAK

"!?... A-apa?!" Erza berbalik ke belakang lagi.

SRAAAAAK

"KYAAAA!"

'btzzzzz'

'BATTERY EMPTY'

Rekaman terakhir, memperlihatkan seorang wanita setinggi Erza, dengan matanya yang memancarkan cahaya biru yang dingin, dengan memakai kain yang membalut bagian dada dan bawahan seperti pendeta wanita berwarna merah kusam, dia melihat ke arah Erza dengan matanya yang memancarkan aura kemarahan dan kebencian.

Wanita itu membawa Erza bersamanya.


"Lucy!" Teriak Natsu untuk—entah yang keberapa kalinya.

"!" Lucy seakan tersadar dari sesuatu. Ia terdiam. Tangan yang ia gunakan untuk menjambak rambutnya sendiri kini sudah tergantung lemas.

Ia melihatnya.

Ia melihat gadis itu.

Tap tap tap tap tap tap tap tap

Suara langkah kaki yang sangat cepat. Langkah kaki—gadis itu.

Lucy tiba-tiba bangun dan berlari mengejar suara itu. Masih dengan langkah yang tergopoh-gopoh, masih dengan nafas yang bergetar khas orang habis menangis,

Lucy kembali mengejarnya.

Natsu sudah pasrah kalau ia akan mati di sini. Tidak ada rasa takut lagi dalam diri Natsu. Natsu berlari mengikuti Lucy. Apapun yang terjadi, ia harus tetap bersama gadis itu. Gadis yang menjadi cinta pertamanya sejak SMP.

Gadis yang menangis itu berlari dan menghilang di depan sebuah pintu kayu. Lucy dengan yakin dan buru-buru membuka pintu itu dengan cepat. Akal sehatnya sudah hilang! Ia ingin benar-benar bertemu dengannya.

Wanita bermata biru yang memancarkan aura dingin.

Wanita dengan balutan kain yang hanya menutupi bagian dada sampai perutnya, dan bawahan pakaian pendeta wanita berwarna merah kusam.

Wanita yang telah membawa Erza bersamanya.

KLEK

"..."

Di belakang Lucy, Natsu berhenti berlari dan melihat ke dalam ruangan itu.

Sebuah meja, tempat tidur, dan rak buku kosong. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian Lucy.

sebuah buku dan secarik kertas di sampingnya. Juga sebuah pena berwarna merah muda.

Perlahan Lucy memasukkan kakinya ke dalam ruangan itu. Ia membungkuk untuk mengambil buku dan secarik kertas itu.

Lucy mulai membaca tulisan di kertas itu.

"Ini...?" Gumam Lucy. Natsu juga ikut membaca di belakangnya.

"Aku sudah berada seminggu di dalam sini... aku tidak bisa keluar... "

Hanya itu yang tertulis di kertas itu. Kemudian Lucy beralih ke buku yang ada di sebelah kertas itu.

"Aku suka origami! Namaku Hazakawa Yuki! Hmm... tapi aku sudah kehabisan kertas... sejak keluargaku dibantai, aku tinggal sendiri. Ya, aku kan hebat! Bersembunyi di lemari kamarku! Hey, aku melipat apa lagi ya? Origaminya sudah habis! Aku mulai melipat bajuku! Wah! Jadi bunga! Yah, bajuku sudah habis. Bahkan sekarang aku telanjang... hmm... apa lagi ya yang bisa dilipat? Ah! Aku tau! Aku akan melipat... 'tubuhku sendiri'... hihihi..."

Lucy langsung melempar buku itu tiba-tiba. Hawa menusuk membuat tangannya reflek melempar buku itu.

PANG PANG PANG PANG

Terdengar suara bola yang di pantulkan di lorong. Tapi entah kenapa suaranya tidak terdengar dari belakang, depan, maupun kiri atau kanan.

Suara itu terdengar dari bawah.

To Be Continued


Sumpah! Sumpah! Serem banget! Ngetiknya malem-malem lagi! Idiiih! Malah sendiri lagi! Malah ada temen yang nge-line tiba-tiba lagi! Malah buka kipas angin di belakang lagi! Aduduuh! Sesekali author liat kebelakang nih! Sampe setel lagu biar ada yang nemenin! #ini beneran lho!

O-oke deh, kalau kalian juga merasakan hal yang sama seperti saya,

Jangan lupa review ya! :D