Perempuan itu berdiri di ujung jurang.
Kedua mata coklatnya melihat ke bawah dalam keheningan yang mencekam.
Ujung jubah hitam tebal yang melindunginya dari angin kencang berkibar mengikuti gelombang angin yang mengamuk tanpa ampun. Orang-orang berjubah sama berdiri di belakangnya, terus mengedarkan pandangan dan berbisik pelan. Jari-jari yang melingkar di pegangan tombak dan benda tajam lainnya mulai terasa membeku dan mati rasa. Salah seorang yang paling dekat dengan sang gadis maju mendekat.
"Miss, dengan badai kencang seperti ini, sudah tidak mungkin kita melakukan pengejaran lebih jauh lagi."
Gadis itu tetap diam seolah tak mendengar.
"Miss, kita harus kembali. Lagipula," pria itu melirik ke bawah jurang yang tertutupi oleh kabut putih, "dengan ketinggian seperti ini, mereka tidak mungkin selamat."
"Bisa!" sergah gadis itu dengan nada kasar. Si pria berjengit.
Sudut bibir gadis itu tertarik dalam bentuk kegusaran yang jelas.
"Kalau ada laki-laki itu, dia pasti selamat," gumamnya geram.
.
.
Roadside Angel
Rozen91
Harry Potter © J.K Rowling
Roadside Angel © Emura
Sheet 02: Bertemu Kahlua
.
.
'Dimana ini?'
Hermioine mengutuk pertanyaan umum yang terus keluar dari mulutnya tiap ia terbangun di tempat asing. Ia bangkit dari tidurnya dan mulai menganalisis isi ruangan itu. Meja kecil, tempat tidur, kursi...
Ia memutar bola matanya.
Oh, baiklah, pikirnya sarkastik, pastinya kamar ini bukan gudang. Kemudian ia teringat.
Bukunya! !
Hatinya melega saat melihat benda itu berada tepat di samping kepalanya. Tangannya lantas membawa benda itu ke dadanya. Memeluknya erat. Menjaganya.
"Hei! Semuanya! Dia sudah bangun! !" (Dari arah ruang makan, terdengar Cedric yang berkomentar dengan tawa salah tingkah, "ahaha, satu desa bisa dengar suaramu, Theo.")
Hermione terlonjak kaget. Dengan kesigapan yang sudah terlatih ia melemparkan benda di sekitarnya ke arah pintu. Bantal, gulungan, gunting, pedang hiasan, dan engsel jendela—
"Tenang, gadis kecil."
Seseorang di jendela menghentikan gerakan tangannya. Remus Lupin mencoba menenangkan gadis itu dengan senyumnya yang malah terkesan... Harry yang baru datang segera mendorongnya keluar jendela sebelum gadis yang dimaksud melayangkan tangan ke mata pamannya. Entahlah, tapi sepertinya Harry bisa melihat dari gerakannya bahwa gadis itu berniat membuat luka besar di wajah pamannya.
Harry meneguk ludah.
Permata hazel yang memicing penuh kecurigaan itu kini terpaku padanya.
"A—aku yang menyelamatkanmu! Kau bisa kena hipotermia kalau tidur di hutan!"
"Harry benar." Fleur dengan langkah pelan masuk ke dalam kamar. "Kau bisa mati kalau dia tidak membawamu ke sini."
Raut wajah Hermione melunak. Harry menandai hal itu bisa jadi karena ia akhirnya bertemu perempuan lain. Atau mungkin kakak perempuannya sangat handal dalam menangani masalah seperti ini. Harry menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ya, sih, Fleur sudah berpengalaman mengurusi mereka, jadi, dia pasti tahu.
Kakak perempuannya duduk di tepi ranjang, tidak terlalu dekat dengan Hermione yang masih waspada di dekat jendela. "Namaku Fleur Ark, dan kau?"
Air muka gadis di jendela lantas berubah gelap. Dua alisnya menekuk dalam dan tampak bahwa ia tengah berpikir keras. Apakah ia harus memberi tahu namanya atau tidak? Hermione tidak tahu pilihan mana yang harus ia ambil. Terlebih, pilihan pertama selalu membawa bencana untuknya.
Iris hazel melirik keluar jendela.
"Kau tak perlu mengatakan namamu kalau kau tidak mau."
Hermione melihat wanita itu tersenyum lembut dan penuh pengertian.
Akan tetapi, Hermione lebih tahu tentang hal itu. Semua kelembutan itu selalu berubah-ubah. Seperti orang-orang sebelumnya. Suatu saat nanti, wanita ini juga pasti akan sama seperti yang lainnya. Hermione mengepalkan kedua tangannya.
Tidak apa-apa.
Saat ini, di luar jendela itu matahari dengan agung memerlihatkan warna yang lebih kontras ketika terbenam. Setelah warna itu menghilang, Kahlua akan datang. Kalau terjadi sesuatu, mereka bisa pergi sebelum ada yang menyadarinya.
"Aku Hermione..." mulainya, "Hermione Granger."
Kedua matanya dengan sorot mata awas memerhatikan tiap wajah yang melihatnya. Dan, hei! apa-apaan dua orang yang mengintip dari arah pintu itu!
Fleur tersenyum.
"Namaku Harry," timpal Harry, ikut memperkenalkan diri.
Hermione menatapnya sejenak sebelum kemudian mengangguk pelan. Harry tersenyum gugup. Entah kenapa, sikap Hermione yang terbilang kaku seperti itu sangat mengganggunya. Ia tidak nyaman. Rasanya...kalau melihat seseorang seperti ini...dia bisa teringat akan hal-hal yang tidak menyenangkan.
"A—aku," Harry langsung membalik badan tanpa menoleh, "akan ke dapur dan mengambilkan minuman untukmu."
Sepertinya Fleur bisa menyadari perubahan yang terasa di nada suara serta tingkahnya. Wanita itu memandangnya dengan kening berkerut sekilas sebelum ia memaksa diri untuk tidak terlalu mempermasalahkannya kali ini. Mungkin nanti...
Karena, Harry pun pasti sedang tak ingin diganggu saat ini.
xxx
Setelah perbincangan singkat yang lebih sering didominasi oleh Fleur sendiri, Hermione ternyata lebih suka sendirian untuk saat ini. Terlalu menyakitkan untuk memikirkan masa depan jika ia tetap berada di desa ini. Di rumah orang asing yang merawatnya karena iba dan simpati. Hermione memeluk erat bukunya.
Kahlua
Ia ingin Kahlua dan sifat sarkastiknya untuk menghiburnya.
Kahlua
Tidak ada yang bisa melihat bahwa kesedihannya berlipat-lipat. Sangat besar dna memilukan.
Kenapa kau tak mau mendengarku, Kahlua?
Pertanyaan konyol yang terus ia ulang. Kahlua sebenarnya tak mungkin bisa mendengarnya. Kahlua adalah penjaga Buku. Bukan pelindung dari seorang Hermione Granger. Dengan demikian, mereka sama sekali tidak punya pengikat batin apapun hingga Hermione bisa memanggilnya hanya dengan panggilan mental seperti itu.
Wajahnya terbenam di antara dua lututnya yang ditekuk.
Rambutnya yang tergerai tampak seperti gelombang kesepian.
Kahlua...cepatlah...datang.
"H—hei."
Hermione tidak bergerak. Dari suaranya ia sudah tahu siapa yang berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Harry Ark berdiri dengan gelisah. Air mukanya jelas-jelas berkata kalau ia tak ingin berada di tempat itu.
"Anu...makam malam, kalau kau mau ikut?"
Hermione tidak tahu harus menjawab apa. Apakah mereka akan meracuninya? Dan membiarkan keluarga itu datang dan memusnahkan mayatnya? Lalu...kemudian orang-orang itu akan bersenang-senang dengan Buku yang telah mereka dapatkan?
Kalau benar seperti itu, Hermione Granger tidak akan membiarkan mereka. Kesenangan itu tak akan pernah mereka dapatkan selama ia masih hidup. Apa mereka pikir bahwa dalam sekejap hatinya tidak bisa menggelap dan dipenuhi oleh kegelapan yang disebut dengan 'dendam'?
"..."
Harry memaksakan senyum. "Ah, aku akan bilang kalau kau tidak enak badan."
"..."
Pemuda itu menghela nafas. "Ayo, Theo."
Nama baru itu menarik perhatian Hermione. Iris hazelnya bergerak melirik. Theodore Ark ternyata juga sedang menatapnya dari ekor mata biarpun sedang digandeng pergi oleh kakaknya. Otak Hermione langsung bekerja cepat.
Ada yang aneh dengan keluarga ini.
Fluer yang cantik hanya dengan sekali pandang, dengan rambut blond panjang yang tergerai indah dan halus. Hidung yang mancung. Garis wajah yang memikat. Warna kulit yang cerah.
Harry yang bermata hijau cemerlang dan rambut hitam acak-acakkan. Berkacamata. Kulit yang pucat. Sifat yang kaku.
Theo yang berambut hitam dengan semburat kemerahan di beberapa bagian serta rambut depan yang terlihat seperti kawat yang dijulur ke samping. Berombak dan terlihat keras. Mata hitam yang berkilat seperti ular. Tidak begitu kentara tapi bisa menaruh Hermione dalam posisi sulit yang lantas membuat punggung berdiri tegak.
Keluarga yang aneh.
Sama sekali tidak ada mirip-miripnya.
Jari-jari panjang dan halus terulur dan menangkap dagunya. Hermione mengangkat wajah. Iris kelabu menatapnya dengan seksama.
"Kau tidak terluka?"
Hermione menepis tangannya.
"Bukan urusanmu."
Draco memutar bola matanya, "Jangan egois, Granger. Sudah kubilang aku tidak bisa keluar di siang hari."
Gadis berambut coklat tertawa menyindir, "Ahaha, benar sekali, aku lupa kalau kau seperti hantu."
Iris kelabu berkilat. "Jangan mulai, Granger."
"Aku tidak sedang memulai apapun! !" sergah Hermione gusar, menatap Kahlua tajam dari sudut matanya. Draco balas menatapnya rendah.
"Hei! Kenapa kau berteria—."
Harry mendadak bungkam. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Kedua matanya terpaku pada orang asing yang ia tak tahu bagaimana bisa berada di kamar gadis yang ia selamatkan pagi tadi.
Seorang pria tinggi dengan kedua mata menatap dingin. Wajah pucat bak aristokrat. Dagu yang runcing, tulang pipi yang tinggi. Dan pisau yang entah muncul dari mana kini berada di tangannya.
"Wo-HEI! !" seru Harry, terkejut bukan main saat pria itu tanpa kata-kata langsung melemparkan belati ke arahnya. 1 inci melewati pipi kanannya.
"Kahlua!"
"Apa yang—"
Draco langsung bersiap ketika suara lain muncul dari balik pintu. Satu tangannya menarik Hermione mendekat ke sisinya dari tempat tidur, sementara tangan satunya lagi mempersiapkan 3 belati tajam di setiap sela jarinya.
"Harry! !" Fleur langsung merangkul adiknya yang masih membatu di dinding.
"Siapa Anda! ?" Remus Lupin melangkah ke depan, dengan siaga menjaga anak-anak.
"Orang asing!" Theo menyeru seperti kesetanan. Di sampingnya Cedric menahan dua bahunya sambil tersenyum.
'Kahlua' menggendong Hermione agak naik ke bahunya.
"Aku," katanya dingin, "penjaga perempuan ini."
Selanjutnya adalah keheningan yang bercampur bersama kesunyian di malam itu.
_bersambung_
