Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi
Warning : AU, Shounen-ai. Banyak kekurangan dalam fanfiksi ini, kritik dan saran diterima.
.
Maaf kalau ada typo.
Langsung aja kalau begitu. Enjoy!
.
"Tetsuya, apa yang tengah kau lakukan?"
"A-akashi ...kun? Kau terbangun?"
.
Mata itu tak lepas dari sosok Kuroko Tetsuya. Bisa dibilang, posisi Kuroko ambigu untuk saat ini. Lihat saja sendiri kalau kalian tak percaya.
"Tetsuya," tegur Akashi lagi, membuat Kuroko tersentak dari kebekuannya.
Hantu itu turun dari perut Akashi dan berdiri di samping ranjang. Tunggu, tunggu, apa author baru bilang perut?
Tak mengejutkan untuk Akashi memang, karena ia sudah membaca sifat-sifat dan kebiasaan hantu semacam Kuroko dari internet. Tapi mengalaminya secara langsung membuatnya (mau tak mau) kaget.
Jangan berpikiran buruk lebih dulu. Menduduki perut orang yang sedang tidur memang salah satu kebiasaan Zashiki Warashi seperti Kuroko. Kala itu, Kuroko tak sengaja melihat Akashi tertidur di kamarnya. Salahkan Akashi yang tak membuat peraturan agar sang hantu tak masuk ke kamarnya. Jadi ia masuk ke kamar Akashi (yang memang sedikit terbuka) dan menduduki perutnya.
Misteri terpecahkan!
Akashi menyibak selimutnya, kemudian turun dan duduk di tepi ranjang. "Kenapa kau melakukan itu?" tanyanya sambil menyembunyikan kekesalan. Ayolah, siapa yang kesal saat tidurnya diganggu? Ini masih tengah malam, ingat? Tengan malam!
Kuroko menunduk, tak menjawab.
"Tatap mataku saat aku berbicara denganmu, Tetsuya!"
Ragu-ragu Kuroko mengangkat wajahnya, mempertemukan iris birunya dengan mata dua warna milik Akashi. "Gomenasai, Akashi-kun. Aku masih tak mampu menekan kebiasaanku," kata hantu itu, kemudian menunduk lagi.
Akashi geram. Ia benci saat seseorang tak menuruti keinginannya. Rupanya hantu yang satu ini mau bermain-main dengannya. Lelaki itu menghela nafas. "Baiklah Tetsuya. Karena kau sudah melanggar peraturan dan aku tak suka hal yang setengah-setengah, kau langgar semuanya saja sekalian."
Kuroko mengangkat wajahnya dan menatap Akashi heran. "Maksudnya?"
Sosok itu kembali berbaring. "Kalau ingin lanjutkan, silahkan. Asal jangan menekannya terlalu keras, kau bisa membuatku muntah-muntah. Oyasumi, Tetsuya."
Akashi mengizinkannya?
Lelaki berambut merah itu sendiri bingung dengan apa yang dilakukannya. Seharusnya ia harus memarahi Kuroko atau semacamnya. Tapi apa ini? Ia mengizinkannya?
Ingatkan Akashi untuk memarahi Kuroko besok, sekarang ia ingin tidur dulu.
"Oyasuminasai, Akashi-kun," ucap Kuroko lirih. Tapi iatak menuruti kata-kata Akashi. Dipandangnya sosok yang terbaring itu sejenak, kemudian menghilang.
V
Pasca kejadian malam itu, Akashi tak melihat atau merasakan kehadiran Kuroko dimanapun. Bahkan hari minggu dilaluinya dalam sepi. Tak mungkin hantu itu telah pergi. Kalau Kuroko pergi, seharusnya iatertimpa kesialan, kan?
Kalau boleh jujur, sebenarnya Akashi ingin memanggil Kuroko dan menanyakan keberadaannya. Tapi egonya terlalu tinggi. Apa iatelah membuat Kuroko marah? Tapi masalahnya, Akashi merasa ia tak melakukan kesalahan. Ia selalu benar.
"Akashicchi, lagi-lagi kau melamun-ssu," tegur Kise. Saat ini mereka sedang ada di pinggir lapangan basket untuk kejuaraan final. Akashi sendiri adalah kaptennya.
"Kise benar nanodayo. Ini pertandingan terakhir kita sebelum ujian. Kau bisa membuat kami kalah," tambah Midorima yang sedang memegang guci merah dengan gambar naga khas China (yang ngomong-ngomong adalah lucky itemnya untuk hari ini).
Akashi melayangkan pandangan tajam pada Midorima dan Kise. "Tutup mulut kalian. Tanpa bersungguh-sungguh pun kita akan menang."
Salah satu sosok yang ada di sana (Kagami Taiga) bangkit dan menatap Akashi marah. "Kau terlalu meremehkan mereka, Akashi. Sekali ini saja, kau bermain sungguh-sungguh. Ini babak final, Akashi!"
Dahi Akashi mulai berkedut. Pikirannya masih penuh dengan Kuroko, dan teman satu klub basketnya selalu bermulut lebar. Tolong beri Akashi kesabaran ekstra.
Ia masih menyalahkan keberadaan Kuroko yang tak jelas. Kalau saja Kuroko masih sering menampakkan diri, mungkin ia bisa fokus ke pertandingan. Akashi mengumpat dalam hati. Sepertinya sejak hari itu Kuroko Tetsuya selalu memenuhi otaknya. Apa ada yang salah dengan dirinya?
"Ngomong-ngomong, dimana Murasakibara?" tanya Aomine.
Hari ini adalah penentuan, tapi Murasakibara Atsushi tak terlihat dimanapun . "Murasakibaracchi bilang tak bisa datang-ssu. Ia ada janji dengan Himurocchi."
Kagami dan Aomine terdiam dengan mulut terbuka, kemudian berpandangan dan bertukar raut heran. Akashi menghela nafas. Sepertinya ia tak dapat mengandalkan Murasakibara sama sekali. "Bararti kita terpaksa bertanding tanpa Murasakibara," kata Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Begitulah," jawab Akashi.
Akashi mengalihkan pandang ke sebrang lapangan, dimana lawan mereka tampaknya sedang menyusun strategi. Kepalanya sedikit berdenyut, membuatnya oleng dan menabrak Midorima. "Oi Akashi, kau tak apa?" tanya Aomine, sedang Midorima masih mengucap syukur karena guci di tangannya tidak jatuh.
Akashi kembali menyeimbangkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya. "Aku tak apa, Daiki." Terdengar suara peluit, tanda pertandingan akan dimulai. "Jangan pikirkan aku. Saa ... ayo kita habisi mereka," lanjutnya sambil menyeringai.
V
Telak!
Permainan berakhir dengan skor 148-48 untuk tim Akashi. Sekarang, anggota inti, minus Murasakibara yang memang tak hadir dan Midorima yang izin untuk mencari barang keberuntungannya hari ini (yang baru saja terjatuh dan pecah karena lagi-lagi Akashi oleng ke arahnya), dalam perjalanan ke apartemen Akashi.
Akashi? Jangan tanya. Sekarang iaada di punggung Kagami karena kehilangan kesadaran. Sepertinya ada yang salah dengan Akashi hari ini. "Stt... Ahomine," panggil Kagami pada sosok gelap yang berjalan gontai di belakang.
"Ada apa?" sahut Aomine tanpa minat.
"Gantikan aku. Sekecil apapun Akashi, ia tetap berat," eluhnya. Pasalnya ia sudah menggendong Akashi dengan jarak lebih dari satu kilo, itu membuatnya capek. Kalau Akashi sekarang bangun, mungkin sekarang ia tengah mencincang Kagami karena mengatainya kecil. Selamat Kagami, kau lolos dari maut.
Aomine diam saja, tak berminat menggantikan Kagami. Bukannya membantu, ia malah memandang Kagami dengan tatapan kasihan-kau-dan-aku-tak-peduli.
"Oi Kise," ucap Kagami lagi, berusaha mengais belas kasihan pada lelaki hiperaktif yang berjalan duluan.
"Maaf Kagamicchi. Bertubrukan dengan Hazaki-kun tadi membuat bahuku sakit-ssu. Kau tega menyuruhku mengendong Akashicchi?"
Kagami berhenti melangkah dan memandang Kise dengan tatapan memelas, yang sama sekali tak cocok untuk wajahnya. Bukannya kasihan, Kise malah ingin tertawa. Aomine bahkan sudah tertgelak di belakang sana.
"Kise, sebentar saja," ucap Kagami yang masih belum menyerah.
"Aku mau-mau saja, Kagamicchi. Tapi bahuku sakit. Kalau aku nanti terjatuh juga bagaimana-ssu? Kagamicchi mau menggendongku dan Akashicchi sekaligus?" tanyanya penuh alasan.
Menggendong Kise dan Akashi sekaligus? Tidak terima kasih. Menggendong Akashi saja sudah membuatnya lelah, apalagi ditambah Kise yang lebih tinggi. Lebih baik buang saja Kise ke selokan, atau paling tidak ke kawasan tak bertuan.
"Kise, kalau kau yang jatuh aku mau menggendongmu," ucap Aomine sambil lalu. Ia mengucapkan kalimat itu tanpa keseriusan sama sekali. Padahal sebenarnya ...
...ia mengharapkannya.
Wajah Kise bersemu merah. "Tidak terima kasih, Aominecchi. Aku tak berminat membantu Kagamicchi dan aku juga tak berminat digendong olehmu."
Aomine tertawa, sedang Kagami (lagi-lagi) mengumpat dalam hati. Ucapan Kise membuat harapan Kagami sirna. Apa mau dikata, sepertinya ia harus menggendong kaptennya itu sampai apartemen.
Mereka terus berjalan, sesekali diiringi Kise yang mengoceh tidak jelas. Sampai akhirnya pintu kebebasan ...eh maksudnya pintu apartemen Akashi terlihat.
Kise yang membuka pintu, tapi Kagami yang menyerobot masuk terlebih dahulu. Dibaringkannya Akashi di sofa. Kenapa tidak di kamar? Karena kamar Akashi sekarang dalam keadaan terkunci, mereka tak menemukan kunci kamar itu dimanapun . Akashi menyembunyikan kunci kamarnya dengan sangat baik.
"Akashi-kun?" ucap surai baby blue yang secara ajaib berdiri di sebelah Akashi. Kuroko telah menampakkan diri kembali.
Berkat kehadirannya yang tiba-tiba, ketiga orang di ruangan itu terloncat kaget. "Astaga, kau membuat kami kaget," eluh Kagami yang telah puli dari kekagetannya.
"Doumo, Kise-kun, Aomine-kun, Kagami-kun," sapa Kuroko. "Kenapa Akashi-kun?" lanjutnya sambil menatap Akashi yang terbaring di sofa dengan tatapan cemas.
Mereka mengedikkan bahu. "Tiba-tiba pingsan-ssu," ucap Kise.
Kuroko mengangguk-angguk. Kise menggaruk tengkuknya bingung. "Bagaimana kita merawat Akashicchi?" tanyanya bingung. Tak ada satu pun dari mereka yang mempunyai pengalaman dalam merawat orang pingsan.
"Sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit," cetus Aomine.
Semua yang ada di ruangan itu mengangguk-angguk, kecuali Kagami. Sepertinya ia terancam akan sakit pinggang, punggung, dan bahu sepulang dari sini. Tapi saat mereka akan mengangkat Akashi, kedua matanya terbuka. Mata itu menatap lurus pada Kuroko yang balas menatapnya, mengabaikan yang lain.
Percik senang terlihat di mata dua warna milik Akashi. "Tetsuya? Itu kau?" gumamnya. Ia bangkit, tak menghiraukan pening di kepalanya. Dihampirinya Kuroko, lalu mendekapnya.
Semua yang ada di sana tercengang.
Akashi Seijuuro memeluk Kuroko Tetsuya?
"Kemana saja kau? Aku mencarimu," ucapnya terus terang di telinga kiri Kuroko. Tak ada balasan dari si surai baby blue. Yang ada malah pelukan Akashi Seijuuro yang perlahan jatuh, menandakan keberadaan Kuroko telah tiada.
Samar-samar terdengar suara Kuroko berkata, "maaf Akashi-kun, mungkin setelah ini aku tak bisa menampakkan diriku lagi."
TBC
.
Makasih banyak buat yang udah Review, Fave, or Follow ^^
.
Terima kasih sudah membaca~
