Title : Comma

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : SasuNaru (main), SasuSaku

Genre : Romance/Drama

Rating : T, maybe.

Warning : AU, OOC, weird, typo, Shonen-ai, boys love, MxM, CHARA-DEATH, etc.

Author : zerOcentimeter a.k.a ImÖt

Summary : Saat Naruto koma, apakah Sasuke dapat menjaga kesetiaannya pada Naruto hingga sang kekasih terbangun dari komanya? Apa jadinya jika banyak orang berusaha menghancurkan hubungan mereka? Sanggupkah Sasuke bertahan demi hubungannya dengan Naruto?

Don't Like, Don't Read


Chapter 2

Pemuda berambut hitam itu gelisah.

Jam makan siang sudah lewat sejak setengah jam yang lalu, tepatnya tiga puluh empat menit lebih tujuh detik. Namun, hal yang ditunggu-tunggunya tak juga datang. Ia memeriksa jam tangannya untuk ke enam belas kalinya, dan hanya melihat jarum jam yang terus bergerak. Sekitar dua puluh menit lagi ia akan memimpin meeting dengan client yang paling ia benci dan paling menguntungkan bagi perusahaannya, Hyuuga Corporation.

Hyuuga Corp. adalah perusahaan terbesar kedua setelah Uchiha Corp. yang dimiliki pemuda berambut hitam itu, Uchiha Sasuke. Hyuuga Corp. dipimpin oleh dua bersaudara Hyuuga, Neji dan Hinata. Mereka memimpin Hyuuga Corp. bersama walau sang kakak laki-laki lebih dominan. Sasuke dan perusahaannya sebenarnya sangat diuntungkan dengan kerjasama antara mereka dengan Hyuuga Corp., namun sebuah persaingan masa lalu Sasuke dan Neji membuat Sasuke agak berat untuk bersikap manis di hadapan Neji agar kerjasama yang terjalin berjalan lancar.

"Lama sekali Dobe itu. Apa dia mampir di kedai ramen dulu? Dasar Baka Dobe."

Sasuke mengambil telepon genggamnya, bermaksud untuk menelepon Naruto, suaminya selama 2 tahun ini yang sering ia panggil 'Dobe'. Baru saja ia menyentuh telepon genggamnya, tiba-tiba teleponnya berdering. Ada telepon untuk Sasuke, entah dari siapa. Walau agak heran karena layar telepon genggamnya hanya menunjukkan sebaris nomor, Sasuke memutuskan untuk mengangkat telepon itu.

"Moshi-moshi."

"Maaf, apakah bisa bicara dengan Tuan Uchiha Sasuke?"

"Hn."

"Maaf, apa Anda mengatakan sesuatu? Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting untuk Uchiha Sasuke."

Tunggu. Bukankah Sasuke sudah menjawab? Oh, pemuda itu lupa. Tak semua orang mau membeli kamus kata 'Hn' di toko buku. Selain memusingkan -tidak dilengkapi CD suara untuk membedakan, walaupun nadanya semua sama datar- semua orang tahu kalau kamus itu menyebalkan dan membosankan.

"Ya, dengan saya sendiri."

"Oh, Uchiha-san, kami dari pihak Kepolisian Kota Konoha ingin mengabarkan-"

Perasaan buruk mulai dirasakan Sasuke.

"-kalau Uchiha Naruto mengalami kecelakan dan kini keadaannya sedang-"

Tak butuh penjelasan lebih lanjut dari pihak kepolisian atau siapapun itu, Sasuke tahu bahwa dunianya sudah mati. Detik itu juga, Sasuke tenggelam dalam kegelapan, karena kini Sasuke kehilangan telah Mataharinya.


Mobil sedan berwarna hitam yang dipacu gila-gilaan oleh pengemudinya melesat di jalanan yang saat itu agak lengang. Namun, sahutan klakson juga tak henti mengiringi perjalanan mobil itu. Tentu saja karena kecepatan mobil itu yang melebihi kecepatan 100 km/ jam. Namun, pemuda berambut hitam di dalamnya tampak tak peduli dan malah terus menambah kecepatannya.

"Ayo, tak bisakah kau lebih cepat lagi, mobil brengsek?" gumam Sasuke, entah pada siapa. Ia sudah gelap mata dan kehilangan akal sehatnya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah Mataharinya. Semoga ia belum terlambat, dan menghentikan waktu sebelum sang Matahari tenggelam.

"Dasar, gara-gara hal bodoh tadi!" rutuk Sasuke dalam hati.

Mari kita kembali ke waktu setelah Sasuke menerima telepon. Setelah mendapat telepon dari pihak kepolisisan -yang langsung ia matikan dengan tidak hormat- ia langsung melesat ke basement kantornya dan mencari mobilnya. Baru akan masuk ke mobilnya, ia baru menyadari sesuatu. Bisa menebaknya? Yeah, Sasuke belum tahu rumah sakit yang merawat Naruto. Ia terdiam selama sesaat, sebelum mengambil telepon genggamnya dari saku celananya dan menelepon pihak kepolisian kembali.

"Moshi-moshi." Uh-oh. Nada diseberang telepon buruk, sepertinya Sasuke menelepon di waktu yang salah. Sasuke diam-diam menelan ludah.

"Eh, siapa di sana? Kami tak punya banyak waktu." Sasuke terdiam. Keringat mulai menetes di wajahnya yang tampan.

"Saya Uchiha Sasuke."

"Oh, Uchiha-san. Yang tadi, ya?" Sepertinya orang yang mengangkat telepon bisa dipastikan sedang menyeringai penuh kemenangan. Dengar saja, nadanya dalam bicara sudah seperti ketika seseorang dapat membalaskan dendamnya.

"Hn. Langsung saja, saya ingin tahu nama rumah sakit tampat Uchiha Naruto di rawat." Uh, Sasuke kembali ke kepribadian aslinya. Dingin dan tak suka basa-basi.

"Oh, kami kira Anda tak ingin mengetahui hal tersebut." Ya, ampun, polisi ini cari mati.

"Hn. Langsung saja."

"Huf, sebenarnya Uchiha-san, kami tidak tersinggung dengan perlakuan tidak sopan Anda tadi." Polisi yang sungguh-sungguh ingin mati cepat.

"Maaf, bisakah Anda menutup mulut Anda segera? Sebelumnya katakan nama rumah sakitnya." Uh-oh. Sasuke sudah menggunakan kata-kata tak sopan. Sasuke sudah benar-benar kesal. Dengan nada gemetar -mungkin baru pertama kali menghadapi nada dingin Uchiha- polisi itu menjawab ,"Rumah Sakit Konoha, tapi-"

Dan telepon pun ditutup. Sungguh, khas Uchiha yang sedang marah.

Tak sampai waktu lama berselang, mobil sedan hitam yang dikendarai Sasuke sampai di basement Rumah Sakit Konoha, rumah sakit terbesar di kota Konoha tempat Sasuke dan Naruto tinggal. Segera pemuda itu turun dari mobil dan masuk ke gedung tumah sakit. Ia berhenti di lobby dan menanyakan ruangan tempat Sasuke dirawat. Pertanyaannya dijawab dengan diawali senyuman manis suster penjaga berambut merah muda.

"Selamat siang. Saya Haruno Sakura siap membantu Anda, Tuan, " kata suster itu. Sesaat, Sasuke mematung. Baru kali ini ia melihat senyuman yang tak kalah indah dari senyuman Naruto. Tapi, tetap saja senyuman suami pirangnya yang paling indah.

"Hn. Di mana Uchiha Naruto dirawat?" tanya Sasuke dengan nada datar. Suster Haruno langsung tanggap dan mencari nama yang disebutkan Sasuke di dalam buku pasien. Setelah menemukannya, ia langsung memberitahukannya kepada Sasuke.

"Uchiha Naruto, ruang UGD. Ruang UGD ada di ujung koridor kanan."

Setelah mendapat informasi itu, Sasuke segera melesat ke ruang UGD. Di sana, ia mendapati di depan ruang UGD Rumah Sakit Konoha dipenuhi oleh beberapa polisi dan warga. Mungkin orang-orang yang menolong Naruto. Di kerumunan orang itu, Sasuke melihat seseotang yang berambut hitam diikat ke atas, sama sekali tak asing baginya. Orang itu menoleh dan bertemu pandang dengan Sasuke. Sasuke mengingat orang itu. Nara Shikamaru, teman SMA Sasuke dan Naruto. Dan kini juga seorang polisi, jika melihat dirinya kini berpakaian seragam polisi lengkap.

"Yo, Sasuke. Tak lama bertemu," ucap Shikamaru, bermaksud berbasa-basi. Namun, Sasuke sedang tidak ingin menanggapi basa-basi Shikamaru.

"Hn. Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Aku yang menangani kasus kecelakaan ini. Tak kusangka korbannya Naruto."

"Hn. Sebenarnya, apa yang terjadi?"

"Sekitar tiga puluh menit yang lalu kantorku menerima laporan bahwa ada kecelakaan di jalur alternartif Konoha-Suna. Tabrakan. Mobil itu -mobil Naruto- ditabrak oleh truk yang dikemudikan oleh sopir mabuk sehingga keluar jalur. Mobil Naruto sudah banting stir ke kiri, namun truk sempat menabrak bagian kanan depan mobil Naruto sehingga bukannya menabrak pembatas jalan mobil itu malah terlontar dan masuk ke dalam jurang. Mobil Naruto remuk."

"Lalu?"

"Hah, kau ini merepotkan. Naruto berhasil selamat, setidaknya saat dibawa ke rumah sakit ia masih bisa dipastikan hidup, tapi entah sekarang. Dokter Tsunade sedang mencoba untuk menyelamatkan Naruto dari keadaan kritis."

"Siapa pelakunya?"

"Entah, supir truk langsung kabur."

"Bagaimana bisa Dobe tidak berpikir untuk mengerem mobilnya?"

"Ah, aku lupa menjelaskan. Rem mobil Naruto blong."

"Huh?"

"Ya, kemungkinan ada upaya sabotase disini."

Lalu pintu ruang UGD yang tadi tertutup menjadi terbuka. Seorang wanita berambut pirang -dan seorang dokter karena ia memakai jas putih a la dokter- keluar dari ruang UGD. Shikamaru dan Sasuke segera menghampirinya untuk mendapat penjelasan.

"Dokter, saya Nara Shikamaru dari pihak kepolisian yang menangani kasus ini, kemudian disamping saya ada Uchiha Sasuke, keluarga korban. bagaimana keadaan pasien?" tanya Shikamaru dengan nada serius. Memang tak biasa, karena Shikamaru terbiasa bersikap malas-malasan dan selalu mencari kesempatan untuk tidur. Namun tidak kali ini, apalagi sekarang menyangkut teman lamanya.

"Kondisinya kritis dan beberapa tulangnya patah. Selain itu hanya ada luka-luka memar dan gores biasa. Namun, ada hal yang lebih mengkhawatirkan."

"Apa itu?"

"Kepalanya sempat terbentur keras, tapi kami belum dapat memastikan efek dari benturan tersebut. Kita harus tunggu selama tiga kali dua puluh empat jam untuk memastikannya."

"Haruskah selama itu, dok?" Kali ini Sasuke angkat bicara.

"Itu waktu minimal. Sekarang pasien akan dibawake ruang ICU untuk mendapat penanganan yang lebih lanjut. Selama itu pasien tidak dapat dijenguk namun dapat dilihat dari jendela kaca yang tersedia di ruang ICU. Lalu, tolong Sasuke-san nanti menemui saya di ruangan saya. Permisi." Dan dokter Tsunade pun segera pergi ke ruang ICU. Tak lama, keluarlah beberapa petugas medis yang membawa Naruto keluar dari ruang UGD. Sasuke hanya diam memandang Naruto yang kini tergolek lemah di ranjang beroda dan tubuhnya diberi berbagai macam alat bantuan medis.

"Hah, merepotkan. Kalau begitu aku harus kembali bergabung dengan rekan-rekanku. Samapi jumpa Sasuke." Lalu, Shikamaru pun berlalu.

Sasuke kemudian mengambil telepon genggamnya dan memencet tombol telepon yang menyusun nomor telepon orang tua Naruto di Suna. Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Sebenarnya, Sasuke agak ragu untuk menelepon mereka. Selain karena ia belum menyiapkan alasan mengapa Naruto tak jadi berkunjung ke rumah mereka untuk ketiga kalinya, kabar bahwa putra semata wayang mereka kecelakaan dan kondisinya kritis akibat ingin mengantarkan berkas pada Sasuke bisa membuat mereka memutuskan untuk tidak mengakui Sasuke sebagai menantu lagi.

Akhirnya, Sasuke memutuskan untuk menelepon Minato dan Kushina. Rasa ragu bukan milik Uchiha, maka ia harus yakin dan tegar dalam menghadapi kenyataan.

"Moshi-moshi? Siapa di sana?"

"Aku Sasuke, Ibu." Suara Sasuke agak bergetar...

"Sasuke? Oh, Ibu baru saja ingin meneleponmu. Ibu ingin menanyakan mengapa Naruto tak juga sampai ke Suna. Dia sakit lagi? Ibu sedari tadi berusaha untuk menhubungi telepon genggam Naruto, tapi sedang tidak aktif."

"Ya, Ibu. Naruto sakit." Suara Sasuke semakin kecil...

"Apa? Kenapa dia?"

"Dia..kecelakaan, keadaannya kritis." Dan Sasuke mulai menutup telinganya...

"APA?! Ibu akan segera ke Konoha! Tunggu, Ibu, Sasuke!"

Lalu hubungan telepon diputus. Sasuke memasukkan telepon genggamnya dan berjalan ke arah ruangan dokter Tsunade untuk menemuinya. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Sasuke duduk berhadapan dengan dokter Tsunade.

"Jadi, bagaimana, dok?"

"Sebenarnya, keadaan pasien sangat mengkhawatirkan. Kemungkinan sembuh total hanya sekitar lima puluh persen."

"Lakukan apa saja agat ia tetap hidup. Berapa pun biaya yang harus saya tanggung saya siap." Tentu saja Sasuke selalu siap, pengusaha dengan penghasilan lima puluh juta dollar per bulan akan selalu siap mengeluarkan uang kapanpun.

"Baiklah, kami-"

Tiba-tiba pintu terbuka dan Suster Haruno masuk ke ruangan sambil mengatur nafas. Sasuke dan dokter Tsunade memandangnya dengan tatapan heran dan bingung.

"Maaf, dokter, Tuan, saya hanya ingin menyampaikan bahwa pasien Uchiha Naruto berhenti bernafas!"

Sekitar satu jam yang lalu, Sasuke adalah seorang pemuda sukses dengan harta melimpah dan berstatus menikah. Dan kini, dalam hitungan detik, ia berstatus duda.

TBC


Oke, diapdet juga!! Huah, capek saya. Mana nulis yang ada Sasuke semua lagi *dichidori* Yap, mulai dari chap ini akan all for Sasuke!! Emang fic ni kan fokus ke Sasuke dan perjuangannya selama Naruto di rumah sakit. Uhm, liat di warning, uda ada tambahan! CHARA-DEATH!!

Maaf kali ini saya ga bisa memasukkan banyak fluff. Cuma dikit, karena chap ini harus dibawa serius, kalo ga ntar aneh.

Yang nunggu apdetan Love to My Brother, uda mo dibuat. tenang saja,pasti diapdet. mari kita balas balas review untuk yang gak login!!^^

Karinuzumaki (semua) : Nee-chan, makasih atas pujiannya.. Udah diapdet lho.. Kalo Sasuke mah bakal bangkit jiwa playboy-nya selama Naru di rumah sakit.. kalo milih Saku ato Hina, itu tergantung readers melihat hints yang nanti adek tuliskan..

Namikaze lin-chan gak bisa log in : ehm, kalo hints fujoshinya kerasa, baguslah, wkwkwkwk. Yup, ini semua sabotase kok.. nih apa seminggu kelamaan? maap, kmaren jumat baru bikin oneshot makanya apdet ngaret. Bukan karin..dia wlao banyak yang benci, tapi kan dia juga tokoh buatannya Masashi Kishimoto. Malah yang jadi penjahat itu salah saru chara fav saya..huaa..

Oke, mind to review?

P.S. Karinuzumaki, jangan kau sebarkan spoiler-spoiler yang sudah ku katakan saat kita chat!!

Oya, kalo mau add FB ku.. tapi kasi message ato PM zerO yah! di ImOt Ituanakbaik.. thx..