A/N: Maaf menunggu lama ya, saya benar-benar minta maaf karena butuh waktu lama untuk update, dan juga karena saya belum sempat membalas beberapa review. tapi saya usahakan untuk balas yang kedepannya. Untuk sekarang, please enjoy the show :)
Disclaimer: don't own.
Bad Romance
Sakura menatap barisan rumus yang memenuhi papan tulis di depan kelas dengan tanpa benar-benar memperhatikan. Tidak seperti biasa, kedua matanya memantulkan warna hijau gelap yang pudar. Kosong. Penjelasan panjang lebar sang guru matematika berhembus tak tertangkap bagai angin lalu yang mendesau melewati kedua telinganya. Gadis itu duduk tegak di mejanya, seperti halnya murid-murid yang lain, namun jiwanya tak di sana—melayang-layang di tengah kehampaan yang gelap dan luas tak berujung. Pikirannya beku, seluruh indranya mati rasa. Sakura akan terlihat seperti sebuah boneka porselen tak bernyawa, kalau dadanya tidak naik dan turun secara perlahan dan teratur, menghirup dan menghembuskan kembali udara yang terasa pahit dan kering.
Ia sulit mempercayai apa yang telah terjadi.
Semalaman gadis itu menetaskan air mata amarah atas dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melakukan hal sebodoh itu? Apa yang telah meracuni pikirannya hingga berbuat sebuah kesalahan fatal, yang kini menghancurkan hubungannya dengan Kakashi?
Detik demi detik malam hari itu ia lewatkan dengan mengutuki diri sendiri. Semestinya ia tidak terbawa suasana. Seharusnya ia tidak besar kepala. Sebuah kenyataan pahit datang menikam ke jantung hati gadis tersebut: Kakashi selalu memperhatikan dan berada dekat dengannya, karena itu adalah tugasnya.
Sebagai manusia bayaran Kiyoshi Haruno, sudah merupakan tanggung jawab dari pria berambut perak tersebut untuk menjaga, melindungi, serta menyertai putri semata wayang keluarga Haruno itu. Tidak ada perasaan khusus yang lain, semua itu hanyalah bentuk pemenuhan dari sebuah kewajiban semata.
Sakura sempat terpikir untuk menarik kembali ucapan bodohnya. Mencoba mengumpulkan apa yang tersisa dari hubungan mereka selama 12 tahun, dan memperbaikinya sebaik yang ia bisa. Namun ada perasan lain dalam hatinya, perasaan dan harga diri seorang wanita, yang menolak untuk melakukan hal tersebut.
Jika memang Kakashi tidak menyukainya, seharusnya ia tidak meninggalkan Sakura begitu saja seperti kemarin malam. Pria itu bebas mengemukakan perasaannya dan menolak Sakura. Itu jauh lebih baik daripada menghindari gadis yang sudah ia kenal selama lebih dari satu dekade—melukai harga diri dan perasaan sang gadis.
Tapi apapun itu, Sakura merasa semua sudah terlambat. Hal itu ia rasakan ketika pagi ini, wajah pria itu bukanlah apa yang pertama kali ia lihat saat ia membuka mata. Melainkan salah seorang pelayan di kediaman Keluarga Haruno yang kemudian mendapat tugas membangunkan gadis itu dari tidurnya. Inilah hari pertama selama 12 tahun terakhir, di mana Sakura terbangun di pagi hari bukan oleh suara bariton rendah sang asisten berambut peraknya.
Kakashi menghindarinya. Tapi mengapa?
Dada Sakura sesak. Setiap napas yang ia hela terasa begitu berat. Ia malu dengan perbuatannya sendiri, akan konklusi meleset yang ia ambil dengan begitu naif dan tergesa.
Pada kenyataannya, Kakashi Hatake bukanlah miliknya seperti yang selama ini ia kira. Semestinya ia mampu menyadari hal itu sejak awal.
Tenggelam dalam pikiran, Sakura terlompat dari bangku sekolahnya ketika sepasang tangan menggebrak meja sang remaja perempuan dengan ribut.
"SAKURA-CHAN! Akhirya dapat juga kesempatan berbicara denganmu!"
Gadis berambut merah muda itu mengerjap beberapa kali—pikirannya kosong. Sepasang bola mata sebiru langit memandang balik padanya dengan penuh cahaya. Wajah yang berseri-seri, dibingkai rambut yang sewarna sinar mentari. Pemuda di hadapannya tampak begitu gembira dan bersemangat.
Sakura menghela napas dan tersenyum samar ketika sebuah pemikiran menghinggapi kepalanya: seandainya saja ia bisa seceria Naruto.
"Hei, hei, Sakura-chan kenapa diam saja? Ayo kita kencan! Aku sudah—"
"Jangan ganggu dia, Naruto." Sebuah suara yang tenang namun tegas memotong celoteh sang pemuda pirang. Sesosok pemuda jangkung menjatuhkan bayangannya atas Sakura, berdiri tegap di depan gadis yang masih termangu di tempat duduknya itu.
"Eeh? Aku tidak menganggu! Aku cuma mau—"
"Naruto."
Sepatah kata itu kembali membungkam pemuda penyuka ramen yang kedua alis pirangnya segera bertautan kesal. Tetapi nampaknya ia memahami maksud dari pandangan mata sang pemuda berambut hitam di hadapannya. Pemuda itu terlihat memiliki keperluan serius dengan Sakura dan tidak mau diganggu.
Naruto cemberut, tetapi ia bisa membedakan mana keperluan mendesak dan mana yang tidak.
"Huh, ya sudah. Tapi lain kali aku yang akan punya urusan penting dengannya! Bye-bye Sakura-chan!" dengan satu lambaian tangan terakhir, Naruto berbalik dan berderap keluar dari kelas, menggerutu dan mengomel.
Sakura masih membisu ketika sosok yang berdiri menjulang memunggunginya itu berbalik dan menatap sepasang mata hijau Sakura. Tatapan yang tajam menyelidik itu membuat ia sedikit tidak nyaman, seakan pemuda itu tahu isi hati Sakura yang tengah carut-marut saat ini.
"Uh, sudah waktunya pulang ya?" bergumam linglung, gadis itu mencoba mengatakan sesuatu untuk memecahkan keheningan yang membuatnya terus bergerak-gerak gelisah. Ia telah terlarut dalam pikirannya seharian ini sehingga tidak menyadari bahwa bel pulang sekolah telah berdering sejak tadi. Segera ia membereskan seluruh buku dan alat tulis yang berserakan di atas mejanya, menjejalkan barang-barang itu dengan sembarangan ke dalam tas dan bangkit berdiri. "Kurasa aku juga sebaiknya per—"
"Ada apa, Sakura?"
"Eh?"
"Ada masalah apa?"
Keheningan menggantung selama beberapa detik di udara. Kaki gadis itu terus mengetuk-ngetuk lantai, bergerak dengan gelisah.
"Apa maksudmu, Sasuke-kun? Aku… baik-baik saja." Sepasang iris hijau bergerak-gerak tak tenang, berpindah dari satu obyek ke obyek yang lain. Apapun selain bola mata sehitam malam dan setajam mata pisau itu, selain pandangan curiga Sasuke.
"Jangan berbohong," sang pemuda berambut hitam berkata datar seperti biasa. Namun ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda pada nada bicaranya. Kecil dan samar, namun tidak lewat begitu saja tanpa terdeteksi oleh Sakura. Ketidaksabaran, atau mungkinkah… rasa cemas?
"Sakura, kau—"
"Tapi aku baik-baik saja!" Helaian rambut merah muda berguncang kecil di atas bahunya ketika sang gadis menggeleng dan bersikeras hingga suaranya sedikit meninggi serta napasnya mulai tersengal.
Sasuke memperhatikan bahu kurus sang gadis yang sedikit bergetar dan dadanya yang naik-turun dengan cepat seperti seorang penderita asma. Ia mengalihkan pandangan, berpikir sejenak, kemudian kembali menatap perempuan yang sudah ia kenal sejak masa kecilnya itu.
"Baiklah, lupakan saja kalau begitu."
Sakura baru saja menghembuskan napas lega ketika pergelangan tangannya ditarik mendadak.
"Ayo, ikut denganku." Kalimat itu lebih terdengar seperti sebuah perintah daripada sebuah ajakan di telinga sang gadis bermata hijau.
"A—ma-mau ke mana!" Gadis itu mempertahankan posisi, menolak keluar dari antara bangku dan meja sekolah yang seakan telah menjadi benteng pertahanannya.
"Kau akan tahu nanti," ujar Uchiha muda itu sambil lalu. "Atau Nona Muda Haruno terlalu takut untuk tidak langsung pulang ke rumah besarnya yang nyaman seperti setiap hari?" Seulas senyum tipis yang mengejek tersungging di wajah pongah pemuda itu. Bola matanya berkilat penuh arogansi.
Kedua mata Sakura menyipit berbahaya. Ia tidak suka dianggap remeh dan disamakan dengan para nona muda-nona muda dari keluarga kaya kebanyakan yang manja, cengeng, dan tidak punya tulang belakang. Dan ia tahu Sasuke tahu mengenai hal itu.
Dengan langkah tegap ia berjalan ke samping Sasuke—tas sekolah tersampir di salah satu bahu. Dengan dagu terangkat tinggi-tinggi serta sebelah tangan bertolak pinggang, ia mendesis. "Sama sekali tidak, Tuan Muda Uchiha."
Gadis itu menepis rambut merah mudanya kebelakang bahu, memamerkan sikap yang tidak kalah angkuh oleh sahabat masa kecilnya. Dengan sebelah alis terangkat dan pandangan remeh yang menantang, ia menelan mentah-mentah pancingan dari sang putra termuda keluarga Uchiha. "Jadi, ke mana tujuan kita?"
"AAAAAAAAAAAAAAAHHHH!" Sakura menjerit kegirangan ketika jet coaster yang ia tumpangi meluncur turun hingga kemiringan 90 derajat menuju tanah dan kembali menukik naik dengan suara menggelegar yang memekakkan telinga.
Murid SMA berambut mencolok itu tertawa lepas sejadi-jadinya. Ia merasa lega dan enteng sehabis berteriak sepuasnya. Ia telah menaiki semua wahana pemicu adrenalin yang ada di taman hiburan itu. Memekik dan menjerit nyaring walaupun sesungguhnya sama sekali tidak ketakutan. Sakura hanya ingin melepaskan semua beban di hatinya, dan itulah jalan termudah yang tidak akan membuatnya terlihat lemah—berteriak.
Lagipula seluruh wahana itu memang menyenangkan! Mereka bisa membuat suasana hatinya berubah ringan walau hanya untuk sementara. Sakura sangat menikmati desau ribut angin yang berhembus membelai wajah dan rambutnya ketika ia melambung tinggi ke udara dan turun kembali ke bumi dengan kecepatan mematikan. Kepalanya terasa kosong, dan perutnya tergelitik geli. Membuat gadis itu tidak bisa berhenti tertawa. Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak ia pergi mengunjungi taman rekreasi seperti ini.
Beristirahat setelah sekian banyak wahana yang mereka naiki, kedua remaja itu kini tengah duduk di bangku taman, menikmati es krim—atau lebih tepatnya Sakura sibuk melahap es krim yang mulai meleleh ke jemarinya sementara Sasuke memperhatikan dari samping dengan seulas senyum yang sangat samar di wajah pemuda itu.
Ia cukup lega karena Sakura sudah kembali menjadi Sakura yang seperti biasanya—paling tidak untuk sementara ini. Sakura yang ia kenal sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Sudut bibirnya terangkat sedikit lebih tinggi melihat wajah Sakura yang belepotan dengan es krim coklat.
"Dasar bocah," cela sang pemuda bermata hitam seraya menyapukan ibu jarinya ke pipi Sakura, menyingkirkan lelehan es krim yang manis dan lengket dari sana.
Sakura mengerucutkan bibir—sedikit tersinggung—dan membuang kudapan manisnya yang sudah habis ke tempat sampah di samping bangku taman itu.
"Bicara soal bocah, dulu kita sering ke sini 'kan? Terakhir waktu kelas 4 SD kalau tidak salah…" ujarnya dengan pandangan menerawang jauh.
Pemuda berambut hitam yang duduk di sisinya mengangguk singkat. "Bertiga dengan Itachi-nii," tambahnya.
Cahaya di mata Sakura tampak meredup. Gadis itu tertunduk sedikit, rambutnya yang panjang terurai jatuh melalui bahu, menghalangi wajahnya dari pandangan.
'Sasuke salah,' batinnya. Mereka tidak bertiga, mereka selalu berempat. Kakashi selalu ikut bersama dengan mereka, seperti biasa menjadi penjaga bagi Sakura. Gadis itu ingat, Itachi yang selalu bersikap lebih dewasa dari umur sebenarnya, tidak pernah bermasalah dengan Kakashi. Bahkan Sakura yakin mereka semakin dewasa semakin bertambah akrab. Baru seminggu yang lalu, Sakura ingat, Kakashi terdengar mengobrol panjang lebar dengan Itachi melalui telepon genggamnya, biasanya kepala keluarga Uchiha yang masih sangat muda itu meminta satu atau dua saran dalam dunia bisnis yang cukup baru ia selami.
Sedangkan Sasuke, Sakura mendengus kecil mengingatnya. Seulas senyum yang tipis terkembang di wajahnya yang sayu, mengenang bagaimana sahabat berambut hitamnya itu selalu bersikap tidak suka pada Kakashi, bahkan sejak ia masih kecil.
Pemuda bermata sehitam dan sekeras batu obsidian itu memperhatikan wajah Sakura yang kembali mendung. Ia menghela napas dengan tak bersuara. Pada akhirnya, semua ini memang tidak cukup untuk mengembalikan keceriaan gadis itu. Ia mengerti, ia sudah bisa menebaknya sejak awal. Namun tetap saja ada sedikit rasa kekecewaan menghinggapi dirinya.
"Sakura," panggil Sasuke dengan nada tegas. Membuat Haruno muda itu sedikit mengangkat wajah dan memandang kearahnya. "Masalah tidak akn pernah selesai kecuali kita menghadapinya secara langsung. Kau mengerti itu 'kan?"
Mata Sasuke terkunci pada lututnya sendiri yang bergerak-gerak kecil. Ia tidak pernah merasa nyaman berbicara mengenai hal sensitif seperti perasaan seseorang. Pemuda itu jelaslah bukan tipe yang pandai memberi saran atau masukan. Ia tidak suka terseret masuk dalam masalah orang lain. Tipe manusia yang agak sulit berempati. Namun, ia lebih tidak suka lagi melihat gadis berambut merah muda itu kesulitan dan sendu. Maka susah payah ia melakukan semua ini. Mengajaknya ke taman hiburan dan sebagainya.
Terkadang ia berharap terlahir kembali sebagai orang yang lebih terbuka. Lebih mampu mengungkapkan pemikiran dan perasaan dengan baik. Tentu saja tidak segamblang Naruto—Sasuke memutar kedua bola matanya—namun tetap, tidak kaku dan canggung seperti dirinya sendiri. Seringkali kalimat yang keluar dari mulutnya pedas dan terdengar tidak sensitif walaupun maksudnya baik. Sehingga orang sering menganggapnya tidak berperasaan, Dan penilaian mereka yang keliru itu membuatnya semakin kesal dan terganggu.
Senyum kecil menghampiri Sakura yang melihat ketidaknyamanan sahabatnya. Ia tahu pemuda pragmatis itu selalu bermasalah dalam menyampaikan kalimat yang melankolis. Ia juga paham bahwa hanya untuk menyampaikan kalimat barusan, Sasuke telah berusaha sangat keras. Kedua matanya melembut dan ia mengangguk kecil.
"Ya. Terima kasih, Sasuke-kun."
Sasuke balik memandang gadis itu. Hitam bertemu hijau. Saling membaca tatapan mata masing-masing, ia mengerti bahwa Sakura tahu ia merasa canggung, dan bahwa sang gadis berambut merah muda berterima kasih karena Sasuke rela melangkah keluar dari safe-zone miliknya demi sang gadis.
Ia mengangguk singkat dan bangkit berdiri—meregangkan otot-ototnya yang sedikit pegal. Menengadah menatap langit yang semakin menggelap seiring dengan tenggelamnya matahari, ia berbalik dan mengulurkan tangannya ke arah Sakura.
"Sudah semakin gelap," ujarnya. "Kita pulang."
Bersama-sama, kedua remaja 17 tahun itu melangkah keluar dari taman hiburan, kembali ke mobil Sasuke—sebuah sedan sport berwarna biru tua. Sakura duduk bersandar dan menghembuskan napas dengan lelah. Sedih ketika harus mengakhiri kesenangannya di tempat itu. Ia masih enggan pulang. Enggan bertemu orang-orang rumahnya dengan perasaan sedih. Ia takut membuat kedua orang tuanya merasa cemas.
'Paling tidak, aku tidak akan bertemu Kakashi,' dengan getir ia mendengus kecil. Sebuah senyum sinis yang pahit tersungging di sudut bibirnya.
Tadi siang ketika ia mengendap-endap keluar sekolah menuju mobil Sasuke, ia menangkap sesosok pria berhas hitam. Tadinya jantung gadis itu sempat berdetak keras. Mungkinkah Kakashi sudah memaafkan dirinya, dan kemudian memutuskan untuk datang menjemput ia dari sekolah seperti biasa? Namun ternyata itu adalah Raidou-san—salah seorang bodyguard ayah Sakura. Hatinya kembali melesak. Kakashi pasti meminta rekannya itu untuk menjemput Sakura karena ia masih sibuk menghindar. Menolak untuk bertemu.
Selama sisa perjalanan menuju kediaman Haruno yang cukup memakan waktu, mereka berdua membiarkan keheningan mengisi mobil yang terus melaju kencang di jalan raya. Larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Sakura yang sedikit lelah sudah mulai terkantuk-kantuk ketika akhirnya mereka sampai ke depan gerbang kediaman Haruno. Ia meletakkan tangannya dengan lembut di pundak Sasuke.
"Sudah, sampai sini saja," ujarnya perlahan. "Terima kasih ya Sasuke-kun, aku senang sekali kau ajak ke taman hiburan tadi."
"Aku tahu."
Kedua alis Sakura terangkat penuh tanya.
"Sejak dulu kau selalu suka dengan taman hiburan itu. Kurasa ada beberapa hal yang tidak akan pernah berubah."
"Jadi maksudmu sampai kapanpun aku akan selalu kekanakan, begitu? Dasar!" Sakura tertawa kecil dan memukul pelan bahu Sasuke. Membuat sang pemuda ikut tersenyum tipis.
'Setidaknya aku bisa sedikit membuatnya tertawa.'
"Tapi, aku tersanjung kau mengingat detail kecil dari masa lalu itu," sang gadis tersenyum lebar. "Jadi kau kumaafkan." Sakura sempat ragu sejenak. Selama sepersekian detik ia menimbang-nimbang keputusannya sebelum menyingkirkan pikiran-pikiran yang tidak perlu.
'Kami sahabat sejak kecil. Kalau hanya seperti ini, tidak masalah 'kan?' Sementara kalimat ini berputar dalam kepalanya, Sakura menjulurkan tubuh dan berkata pelan. "Aku benar-benar berterima kasih untuk hari ini, Sasuke." Dan dengan itu ia mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi Sasuke.
Sakura sama sekali tidak menyadari. Di balik gerbang raksasa kediaman Haruno, tersembunyi dalam kegelapan malam tak berbintang dan tak bersuara seperti seekor harimau kumbang yang tengah mengintai mangsa, sesosok pria jangkung yang rambut keperakannya berkilau tertimpa cahaya bulan terus memperhatikan sang gadis dengan pandangan tajam menusuk. Kedua tangan terkepal erat di sisi-sisi tubuhnya.
to be continued
Sedikit SasuSaku untuk mengentalkan suasana KiSS (KakashiSakuSasu) di fic ini. hehe, sebenarnya saya kurang suka sama bokong-ayam, tapi bolehlah dia kita jadikan sarana untuk membuat Kakashi cemburu :)
Maaf chapter kali ini agak pendek, tapi saya baru sempat mengetik sebanyak ini. Sebenarnya saya mau update dari minggu lalu, tapi ternyata sabtu lalu saya kedatangan saudara-saudara saya yang datang dari jauh. Jadilah saya harus menemani mereka kemana-mana, padahal saya merasa nggak enak dan bersalah sama teman-teman sekalian yang udah minta fanfic ini untuk segera diupdate.
Dan lagi, sekarang saya sudah kelas 3 SMA. Tahun yang terberat dalam hidup saya sejauh ini, bukan karena UAN, melainkan stress bertumpuk memikirkan test masuk Perguruan Tinggi Negeri. Berhubung PTN dan fakultas yang saya minati tergolong sulit dan banyak saingan, saya mau tidak mau harus mengubah pola belajar yang sangat sembarangan dan harus lebih serius belajar yang bisa berakibat jarang bisa memikirkan soal fanfic. Tapi tenang saja, saya usahakan Bad Romance selesai sebelum akhir semester 1 sehingga saya tidak meninggalkan hutang, tapi selama semester 2 saya harus gila-gilaan belajar untuk test-test PTN sehingga mungkin saya akan semi-HIATUS.
Ah, tapi jangan pundung dulu teman-teman, bukan berarti saya akan benar-benar tidak pernah upload apapun kok. hehehe. semi-HIATUS itu kan status resminya saja ;)
Nah, chapter berikutnya saya usahakan datang sekitar 2 minggu dari sekarang. Nggak janji sih, tapi pasti akan saya usahakan! Jadi, bagaimanakah reaksi Kakashi melihat Sakura mencium Sasuke di dalam mobil? Seperti apakah perasaan Kakashi yang sebenarnya? mari kita lihat setumpuk adegan KakaSaku di chapter mendatang. hehe :)
Thank you for reading, and please REVIEW REVIEW REVIEW :)
07/08/2010
until the next time we meet,
yuushigure
