WARNING

Ini adalah fanfic koleksi lemon/smut one-shot. Jadi bakal banyak konten dewasanya, meskipun gua berusaha nulis dengan menjaga tata bahasanya untuk meminimilasir explicit-nya biar enak dibaca & ga bikin awkward.

Don't read if you don't like. Please consider everything before you read it, such as sins that you'll get, and before you waste your time here. LOL.

Cover credit: ErenAnnie doujinshi; 'That Day' by ソーヤー


A/N 1.0: Ini bukan lanjutan cerita sebelumnya. Tapi delusi saat liat fanart orang, jadi bikin gue berimajinasi & nulis ini. Btw, thanks buat kalian, terutama yang udah ninggalin jejak di chapter sebelumnya. Lanjutan yang sebelumnya juga belum kelar. Yang ini agak dikit vulgar kata-katanya, tapi ga parah-parah amat lah, cuma 1 kata doang. Ini juga lebih simpel & seadanya aja nulisnya. Ngebosenin gitu bisa dibilang. Yang penasaran soal nasib fic AOG & yang sempet gua hapus, silahkan nanti baca A/N 3.0 8Mei2k17 di bawah.


.

.

.

Langit biru yang juga dihiasi oleh awan yang sedikit gelap sudah bisa terlihat oleh mata. Cahaya mentari pagi yang masuk melalui celah gorden yang menutupi jendela kaca.

Cahaya mentari tersebut membuat Eren perlahan membuka kelopak matanya yang menghalangi cahaya masuk ke iris emeraldnya. Eren masih sedikit mengantuk, mengusahakan membuka kelopak matanya lebih lebar, mengintip ke arah jam yang menempel di dinding di atas jendela. Ia menguap lebar, membuat matanya sedikit berair.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Eren sedikit merasa sebal ketika ia terbangun pagi hari di hari libur seperti saat ini. Tapi rasa sebal tersebut tidaklah berangsur lama, ia menoleh ke sebelah kanannya. Wanita bersurai pirang yang tidur membelakanginya, membuat Eren dingin kembali.

Eren memiringkan posisi badannya menghadap ke arah wanita yang masih memejamkan mata dan masih belum kembali dari dunia mimpi. Eren menggerakkan badannya, bergeser mendekati Annie. Kemudian Eren memeluk Annie, tubuh mereka saling menempel dari atas sampai ke bawah. Tangan kanan Eren membelai kepala Annie, dan tangan kirinya ia letakkan di pinggang Annie.

Tangan kiri Eren perlahan bergerak, menyelinap ke balik tank top yang menutupi tubuh Annie, mengelus pinggangnya dan bergerak ke perut Annie. Ia mengelusnya dengan pelan menggunakan telapak tangannya, seirama dengan tangan kanannya yang terus membelai rambut pirang Annie yang halus.

Wajah Eren ia benamkan di tengkuk Annie, nafas hangat menghembus tengkuk Annie yang tertutupi oleh surai pirangnya.

"Mmhh…" Annie menggumam. Merespon sentuhan yang ia peroleh dari orang yang berbaring di sebelahnya. Perlahan ia membuka kelopak matanya.

Eren menyadari apa yang ia lakukan telah mengganggu tidur nyenyak Annie. Membuat tangan kirinya berhenti bergerak. Annie sendiri menguap, dan kemudian ia perlahan menolehkan kepalanya, badannya sedikit ia putar. Mata Annie yang setengah membuka, akhirnya bisa melihat wajah Eren yang memandang ke arahnya dengan tersenyum padanya.

"Hmm… Eren…" ucap Annie setengah mengigau.

"Selamat pagi." sapa Eren, dan mencuri kecupan di pipi Annie.

"Uh, ehm… Pagi." sapa Annie kembali. Annie mengedipkan kelopak matanya dua kali. "Sudah pagi, yah?"

Eren menjawabnya hanya dengan menggumam dan mengangguk.

Annie sadar Eren sangat dekat dengannya, dengan tangan Eren yang berada di perutnya, membuat Annie ingin bertanya pada Eren.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Annie, masih setengah mengigau.

"Hm? Hanya ingin memeluk dan menyentuhmu." jawab Eren pelan. Eren menurunkan kepalanya kembali, menyandarkannya pada bantal.

"Hmm…" gumam Annie. Annie tersenyum kecil dan singkat, dan tangan kirinya ia letakkan di atas tangan kiri Eren. "Kau belum lapar, kan?" tanya Annie.

"Belum."

"Kalau begitu aku ingin tidur sebentar lagi." ucap Annie, dan kembali membelakangi Eren, memalingkan wajahnya kembali.

Ruangan yang sedikit gelap, membuat Annie terlalu malas untuk membuka matanya seutuhnya. Ia ingin tidur sedikit lebih lama lagi di hari libur. Apa lagi, otaknya juga terlalu malas untuk memberikan perintah bangun pada tubuhnya. Rasa kantuk yang sebagian besar masih menempel pada diri Annie, membuatnya bisa memejamkan matanya rapat dengan mudah.

"Annie…" panggil Eren lirih.

Namun, kesadaran Annie masih belum tenggelam sepenuhnya ke dalam tidurnya. "Hm?" sahut Annie.

"Aku ingin itu." kata Eren pelan, mencium jenjang pundak Annie.

Annie membuka matanya kembali, masih tidak penuh. "Itu?" tanya Annie. Ia bertanya hanya ingin mengkonfirmasinya, meski ia sudah mengerti apa maksud Eren.

"Uhm." gumam Eren, sebagai jawaban ya darinya. "Bolehkah?" matanya kini tertuju pada sosok Annie yang membelakanginya. Tangan Eren membelai rambut Annie lebih dalam.

Annie tidak langsung memberikan jawabannya.

"Kau tidak perlu bangun." tambah Eren.

"Hmm…" gumam Annie kembali yang kelopak matanya perlahan kembali turun.

"Annie, kali ini aku ingin kau rileks, dan menikmati—"

"Lakukan saja." kata Annie memotong kalimat yang akan diucapkan Eren, memberinya izin.

Tangan kiri Annie menggenggam tangan kiri Eren yang berada di atas perut Annie.

"Tapi…" dan tangan Annie bergerak, membawa tangan Eren melewati pinggangnya, dan masuk ke balik selimut yang menutupi tubuh bagian bawah mereka. "Lakukan ini terlebih dahulu…" tangan Annie hanya mengantarkan tangan Eren ke pantatnya, menyelip ke dalam celana dalam yang ia gunakan, dan Annie memejamkan matanya kembali.

Eren mengerti, lalu mengecup pipi Annie singkat. Tanpa merespon dengan sepatah kata, tangan Eren mulai menjamahi bagian privat Annie. Eren menggunakan jarinya untuk membelai lipatan yang ia sentuh, membuat Annie mendesir, menghembuskan nafas panjangnya.

Jari Eren memberi sentuhan pada lipatan tersebut, perlahan, dan rileks. Ia menggesekkan jarinya di celah lipatan tersebut. Lalu semakin naik, ujung jarinya menyentuh gumpalan syaraf Annie yang berada di tengah atas lipatan bagian privat Annie. Eren mulai memberi sentuhan, dengan menyentuhkan ujung jaringnya pada ujung gumpalan tersebut lalu menggoyangkannya.

"Mmhhh…" Annie mendesah lirih, menerima rangsangan dari area tersebut. Matanya masih terpejam, dan Eren menciumi bahu yang kemudian bergerak ke leher Annie. Sebenarnya, Eren ingin mencium Annie tepat di bibirnya, dan melumatnya. Tapi Eren tidak bisa, dan tidak ingin melakukannya karena akan mengganggu Annie.

Bagian sensitif milik Annie tersebut, ia memberikan sentuhan dengan santai, perlahan, dan bisa dinikmati oleh Annie. Annie mendesah kembali sebagai reaksi yang ia terima, dan tangan Eren berhenti memberi perlakuannya pada Annie. Eren memasukkan jari tangannya ke dalam celah di antara lipatan tersebut.

Eren terus menciumi, bahu serta jenjang leher Annie, menikmati wangi yang masih tercium dari tubuh Annie yang terawat. Sampai tidak lama kemudian Eren berhenti menciumi Annie, namun tangannya terus bergerak memberi sentuhan di dalam bagian privat milik Annie. Memasukkan dan mengeluarkannya, berulang-ulang sehingga Annie tidak ada hentinya mengeluarkan terus mengeluarkan suara lembut. Jari tangan Eren bisa merasakan bahwa area tersebut perlahan semakin basah. Tangan kanan Eren yang sejak awal membelai kepala Annie, masih tetap bergerak demikian.

Kini Eren beralih memandangi wajah Annie. Meskipun ia tidak bisa melihat wajah Annie seluruhnya, tapi itu bukanlah masalah untuknya, dan dia juga bisa melihat wajah Annie yang perlahan mulai memerah. Mengamati ekspresi Annie setiap kali Annie bergumam, dan mendesah, yang juga sedang memejamkan matanya.

"Eren—" sekali lagi Annie kembali mendesah setengah tersadar, desahan yang lembut tersebut terdengar di telinga Eren. Annie menyebut nama Eren seperti menggumam, tapi masih bisa terdengar jelas. Di sisi lain, Eren merasakan bahwa Annie telah siap, Annie sudah sangat basah. Jarinya yang masuk tersebut merasakan kelembaman yang lebih meningkat di bagian dalam area tersebut. Eren yang sudah terbiasa, dan ia mengerti dengan itu tanpa menanyakannya pada Annie, bahwa Annie telah siap.

Eren pun melepaskan kaosnya, dan juga melepaskan celananya. Ia beranjak bangun dan berlutut, lalu ia sedikit mengangkat pinggul Annie, memposisikannya sedikit menungging ke atas, dan merentangkan sedikit kakinya. Eren sudah tahu posisi yang nyaman untuk Annie seperti ini. Posisi Annie kali ini sedikit tengkurap dan sedikit miring, wajahnya masih menghadap ke arah yang sama.

Kemudian Eren menurunkan celana, berikut celana dalam yang Annie gunakan. Sehingga mengekspos bagian privat milik Annie, terlihat sedikit memerah. Eren mengecupnya singkat, Annie hanya bergumam, dan kemudian ia mengarahkan miliknya pada milik Annie.

Ia mulai menyentuhkannya. Eren kemudian menggesekkan ujung kepala miliknya pada bibir dan klitoris Annie. Annie mendesah lembut. Eren terus menggesek saja menggunakan miliknya, merangsang Annie kembali, begitu juga untuk merangsang dirinya sendiri. Memberi Annie sentuhan dengan cara dan media yang berbeda dari sebelumnya.

Kedua tangan Eren mengambahi kedua paha Annie, mengelusnya ke atas dengan perlahan dan lalu ia meremas. Tangannya terus bergerak mengelus pinggul Annie, lalu turun dan kemudian naik kembali. Kemudian Eren mulai maju, membenamkan milikinya di celah daging sempit milik Annie. Perlahan ia mendorong perlahan, agar tidak membuat Annie merasa sakit atau tidak nyaman.

Annie menggerutu, nafas mereka berdua menjadi berat di dada. Membenamkan dirinya ke dalam tubuh Annie berjalan lancar karena Annie memang sudah siap. Setengah masuk, kali ini Eren yang mendesah, diikuti desahan Annie yang juga turut mengisi ruangan tempat mereka melakukan itu semua. Syaraf mereka terus mengirimkan sinyal sensasi yang sulit dijabarkan dengan kalimat ke otak mereka.

Eren terus mendorong miliknya tetap dengan perlahan, sampai Eren akhirnya tidak dapat maju dan masuk lebih jauh lagi. Eren sudah masuk dan terbenam seluruhnya. Erangan yang menggemakan ruangan keluar dari mulut Annie, tangan Annie meremas sprei, dan dia bergerak memposisikan tubuhnya menjadi tengkurap seutuhnya. Lalu Eren menjatuhkan kedua tangannya, bertumpu pada ruang kosong di samping Annie untuk menahan berat tubuhnya yang mengambang di atas Annie.

Annie perlahan membuka matanya kembali, Eren pun mengetahui hal tersebut.

"Annie…"

"Eren… Sial, aku tidak bisa tidur jika seperti ini." ucap Annie, melihat wajah Eren melalui bahunya. Wajah Annie memerah, rambutnya yang tidak tertata sedikit menutupi pandangannya. Annie memutuskan untuk tidak akan, dan tidak mencoba tidur. Annie memutuskan dirinya akan menikmati ini semua.

"Eh… Ja-jadi…"

"Gerak." minta Annie, suaranya sedikit berat lalu ia menyembunyikan wajahnya.

Eren pun mulai bergerak, menarik dan memasukkan kembali miliknya di dalam milik Annie. Annie mendesir, suara tempat tidur yang bergoyang juga terdengar di telinga mereka. Pinggang mereka yang saling berbenturan menimbulkan suara saat Eren mulai menaikkan irama gerakkan pinggulnya.

Salah satu tangan Eren menyelinap ke dalam tank top Annie, membelai perut Annie, mengelusnya naik ke atas dan memberi sentuhan di dadanya. Annie mendesah, genggaman tangannya di sprei semakin erat dengan semakin naik irama gerakkan Eren.

Annie mengerang sebagai reaksi, dia dekat. Eren selalu gentle terhadap Annie, namun terkadang dia bisa kasar jika Annie memintanya. Annie juga menyukai itu jika Eren bisa mengimbangi dan memperlakukannya seagresif Annie yang sering kali mendominasi Eren dalam urusan ranjang.

"Annie… dekat?" tanya Eren dengan nafas berat, matanya tertuju pada kepalanya Annie.

Annie menyempatkan menggumam dan menggerakkan kepalanya, sebagai jawaban dari ya, dan kembali mengerang di setiap Eren masuk. Eren tak sedetikpun memberi jeda gerakan pinggulnya. Meskipun ritmenya tidak kasar, tapi posisi tersebut membuat Annie merasakan lebih. Wajah Annie yang semakin merona merah, terutama di bagian telinga yang bisa Eren lihat.

Annie mulai merasakan kepalanya berputar, lebih dari yang Eren rasakan. Eren juga merasakan itu, karena miliknya semakin terjepit oleh Annie. Eren juga merasakan kedutan di bagian miliknya. Sama seperti Annie yang mengerang panjang dan keras, Annie merasakan kedutan yang memiliki sensasi tersendiri di bagian bawah sana.

Annie memiringkan kembali kepalanya agar Eren bisa melihatnya, begitu juga ingin melihat wajah Eren. "Eren—Ngh—Ahh!" erang Annie, di saat ia mencapai klimaksnya.

Otot-otot Eren, terutama di bagian pangkal pahanya juga menegang. Tangannya gemetar, dan ia memeluk Annie, membenamkan wajahnya di punggung atas Annie. Eren sudah tidak dapat menahannya lebih lama lagi.

"Annie…" suara Eren parau.

"Ya, Eren AH—" balas Annie. Mereka saling melakukan kontak mata. Hijau bertemu biru, bola mata mereka berdua berkaca-kaca.

Keduanya sama-sama mendesah, dan Eren juga menyusul Annie setelah ia mundur, lalu keluar.

Eren roboh di samping Annie, dan masih memeluknya. Mereka sama-sama mengatur nafasnya kembali dengan perlahan, merilekskan otot-otot tubuh mereka yang sempat mengencang. Tubuh mereka sedikit berkeringat setelah melakukan itu semua.

Urusan sarapan pagi atau bergerak sekedar untuk membuka gorden yang menghalangi cahaya masuk ke dalam ruangan, mereka tidak peduli dengan itu semua. Mereka memejamkan mata mereka kembali.

-fin-


A/N 2.0: Ntah kenapa, kepikiran mau bikin ff begini Eren x Historia lol. Fokus, fokus, fokus, gue masih ada utang. Tapi kemungkinan besar terealisasikan, secara belon ada ff lemon EreHisu yang bahasa Indonesia. Pfft…

A/N 3.0 8Mei2k17: Btw, buat chapter 3 - You saved me and so I did, gua hapus dulu. Karna ga tau bakal kelar kapan. Biar ff ini keliatan rapi juga. Terus buat yang An Ordinary Girl, gua hapus juga karna ada rencana dipindah ke sini kalo dah kelar & beberapa revisi. Serius, gua ga nyentuh ms word sama sekali selama beberapa bulan ini. Ada 2 draft fics baru buat ff ini yang edisi valentine, edisi ulang tahun, draft lanjutan YSMASID chapter 3, draft AOG chapter 3. Jadi maaf atas tidak kenyamanannya, & tunggu aja, mohon bersabar. Ini lagi ngelarin yang edisi valentine.