Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
This whole story was inspired by Sniper Game on my phone.
As always, I will put some song lyrics inside my story.
Take your time to read this one! Hope you like my new story with Kaisoo (as always) inside the story.
Welcome to my fanfict world and enjoy! Don't forget to leave your review after read this!
My shattered dreams and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands
Standing close to someone else
Now I sit all alone
Wishing all my feelings was gone
I gave my best to you
Nothing for me to do
But have one last cry
One last cry
Before I leave it all behind
I gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie
I guess I'm down to my last cry
.
.
.
Seorang pemuda sedang duduk terdiam menatap cangkir Americano miliknya yang tak disentuhnya sejak sepuluh menit lalu. Isi kepalanya masih berantakan sejak privat party yang sahabatnya adakan beberapa bulan lalu. Dia tak menyangka akan kembali mendengar suara yang dulu sempat membuatnya luluh. Dan dia lebih tak menyangka ia akan bisa kembali bertemu dengan gadis bersurai hitam itu. Gadis yang dulu menjadi tujuan dan tumpuan hidupnya.
Gadis yang kini ia sesali kepergiannya.
Pemuda itu mengeluarkan dompetnya dan membuka satu sisi tersembunyi dari dompetnya. Ia lalu mengeluarkan beberapa foto yang memuat wajahnya dan seorang gadis cantik dengan garis lingkar mata yang manis. Pemuda itu tersenyum getir menatap foto itu. Memorinya tiba-tiba memutar kembali beberapa kepingan masa lalunya yang sudah coba ia kubur dalam-dalam sejak tujuh tahun lalu. Yang sampai detik ini nyatanya malah makin kuat menancap di kepalanya.
Masa lalu tentang sakit hatinya pada seorang gadis, yang membuahkan tindakan bodoh dan membuat salah seorang sahabatnya harus menanggung perbuatannya.
.
"Kau sudah bertemu dengannya belum?" tanya seorang pemuda dengan mata besarnya pada pemuda bersurai pirang di depannya.
Pemuda bersurai pirang itu menggeleng pelan. "Aku tidak berani bertemu dengannya, Hyung. Aku terlalu takut,"
Pemuda yang lebih tua, tertawa kecil. "Takut dia akan menolakmu?"
Pemuda yang lebih muda mengangguk.
"Wajah garang sepertimu, takut ditolak oleh seorang gadis? Kau membuat perutku sakit, Yifan."
Pemuda bernama Yifan itu memukul kepala lawan bicaranya dengan kertas yang ia bawa. "Jangan mengejekku, Jonghyun Hyung. Kau tahu sendiri aku selalu tidak bisa galak di depannya,"
Giliran Jonghyun yang mengangguk paham. "Ya, akhirnya aku melihat sisi ketidakberdayaanmu. Dan itu semua berkat Zitao." Ungkapnya. "Aku perlu berterima kasih padanya karena telah membuat berandalan sekolah akhirnya bisa bertekuk lutut di hadapan seorang gadis."
Yifan berdecih. "Kebetulan saja jantung sialanku tidak mau kompromi saat dia ada." Elaknya. "Sudahlah, Hyung. Aku lari saja, ya? Aku benar-benar tidak siap mengatakannya pada Zitao,"
Jonghyun memukul kepala Yifan dengan ponselnya. "Jauh-jauh aku menemuimu kemari hanya untuk mendapatkan tingkahmu yang seperti singa ompong?"
Yifan mendesah kesal. "Tapi—"
"Temui dia sekarang dan bilang bahwa kau mencintainya."
Yifan menghembuskan nafasnya kasar. Ia masuk ke mobilnya disusul Jonghyun. Yifan mengarahkan kemudinya menuju tempat yang membuatnya ketakutan setengah mati dua hari ini.
Kediaman keluarga Huang.
.
"Cepat turun dan katakan padanya!" Jonghyun kembali memaksa Yifan.
"Iya, iya. Kau ini bawel sekali, Hyung." Protes Yifan.
Yifan menghela nafas panjang lalu menguatkan niatnya untuk turun dari mobilnya, berlari menuju halaman rumah gadis yang sudah membuat kepalanya tidak fokus selama tiga bulan lamanya karena hanya ada bayangan gadis itu saja yang ada disana, lalu mengatakan padanya bahwa ia mencintai gadis itu dengan memberikan bunga mawar yang sudah ia rangkai dan tentu saja beserta kartu bertuliskan 'Aku mencintaimu, Huang Zitao' disana. Dan tentu saja itu bukan idenya, itu ide Jonghyun yang terpaksa ia turuti karena ia tak tahu bagaimana cara mengatakan perasaannya pada Zitao dengan cara yang Zitao suka.
Zitao adalah gadis keturunan China yang pindah ke Kanada dan masuk ke sekolahnya tiga bulan lalu. Sejak kedatangan Zitao, Yifan sang berandal sekolah tidak lagi berbuat berandal. Pemuda yang hobi foya-foya dan racing itu seolah bertekuk lutut sejak mata elangnya menatap Zitao pertama kali. Yifan berubah menjadi dirinya yang baru karena Zitao, dan harapannya ia akan terus bersama Zitao, jadi ia akan terus jadi orang baik.
Kini Yifan sudah berada di depan pintu gerbang rumah Zitao dengan satu bucket mawar merah di belakang punggungnya. Ia membuka gerbang rumah Zitao lalu mulai melangkah perlahan menuju depan pintu rumah Zitao. Tapi baru sekitar sepuluh langkah, Yifan berhenti.
Mata elang Yifan terpaku pada dua sosok yang baru saja keluar dari dalam rumah. Dua sosok itu baru saja berciuman; lebih tepatnya, sosok yang lebih tinggi baru saja mendekatkan wajahnya pada sosok yang lebih pendek untuk mengecup keningnya juga bibirnya. Dan rahang Yifan mengeras saat itu juga. Saat kedua mata elangnya mengenali wajah sosok bertubuh lebih pendek itu.
Itu calon gadisnya. Huang Zitao.
Yifan mengepalkan tangan kirinya dan menggertakkan rahangnya. Matanya mungkin tak benar-benar setajam elang atau penembak jitu, tapi ia bisa melihat gadis itu tersipu malu. Dan itu membuatnya naik pitam. Untuk apa semua perilaku manja Zitao yang hanya keluar saat bersamanya selama ini? Untuk apa Zitao mengiyakan ajakannya kencan kemarin lusa? Untuk apa Zitao meluluhkan hatinya jika hari ini dia membuat hatinya hancur?
Yifan membalikkan badannya saat itu juga lalu melempar bucket bunganya di tempat ia berdiri dan kemudian berlari sekuat tenaga menuju mobilnya. Ia tak mengindahkan celotehan Jonghyun yang terus bertanya ada apa sebenarnya dengan dirinya? Kenapa ia berlari, kenapa mukanya masam dan kenapa matanya berair?
Yifan kalut dan tidak memperdulikan peringatan Jonghyun tentang kecepatan yang ia tempuh sekarang. Ia hanya ingin segera sampai di puncak bukit yang ada di belakang rumah Zitao, tempat ia mencuri ciuman pertama Zitao dua hari lalu. Ia ingin ada disana dan berteriak sekuatnya melampiaskan emosinya dan membebaskan bebannya.
Dan keputusan Yifan untuk menulikan telinganya tentang peringatan Jonghyun, membuahkan petaka besar baginya.
Sebuah truk bermuatan berat yang baru saja ia salip di jalan menanjak, membuatnya harus berpapasan dengan sebuah mobil sedan yang turun dari atas. Dengan kecepatan yang diluar batas, kecelakaan tidak bisa dihindarkan. Yifan dan Jonghyun beruntung karena mobil mereka bisa banting kemudi ke arah kanan dan tidak sepenuhnya menabrak sedan itu. Tapi sedan yang Yifan tabrak, baru saja terguling di jurang karena sedan itu terlempar cukup jauh dari lokasi kecelakaan yang sebenarnya.
Keesokan harinya, Yifan menemukan dirinya sudah ada di rumah sakit dengan beberapa bagian tubuh yang terbalut perban.
"Kau mengecewakan Papa, Yifan!"
Dan itu adalah komentar pertama yang ia dengar ketika ia baru saja membuka mata.
"B-bagaimana dengan—"
"Mereka tidak selamat karena mobilnya terjun bebas ke jurang. Mobil mereka hancur," jelas Papa Yifan. "Kau membunuh mereka, Yifan."
"Tuan Wu, tolong jangan berkata seperti itu pada Yifan. Dia masih lima belas tahun," suara serak menginterupsi mereka.
"J-jonghyun Hyung?"
Jonghyun yang tertatih mendatangi kamar Yifan. "Polisi mendatangi kamarku dan aku sudah menyerahkan diri pada mereka. Jadi Tuan Wu tak perlu khawatir. Nama baik Tuan Wu tetap terjaga."
Yifan membelalakkan matanya. "Tidak! Hyung tidak bersalah!"
Tak lama kedua petugas berseragam kepolisian masuk ke kamar Yifan dan memberi hormat pada Papa Yifan juga Yifan.
"Kami menghapus semua laporan berkaitan dengan keterkaitan keluarga anda, Tuan Wu." Ucap salah satu opsir bernama Yunho itu.
"Dan kami membawa Sim Jonghyun ke pengadilan sebagai gantinya." Lanjut opsir lainnya bernama Taeyang.
Tuan Wu mengangguk dan berterima kasih pada Jonghyun atas pengorbanannya. Ia pun menjanjikan pada Jonghyun pelayanan yang memadai selama pemuda baik hati itu menjalani hukuman atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.
Dan Yifan hanya mampu menatap kepergian Jonghyun dengan tatapan nanar dan rasa perih di pipinya karena tamparan dari ayahnya.
"Hyung... mianhaeyo,"
.
.
Kris mengusap wajahnya kasar. Kenangan pahit itu sudah berusaha ia kubur. Tapi tidak bisa, Kris gagal menguburnya karena ia baru saja kembali mengharapkan gadis di masa lalunya kembali padanya.
"G-ge,"
Dan Kris mendongakkan wajahnya tepat pada satu sosok yang sedari tadi ia pikirkan. Sosok gadis di masa lalunya yang membuat kepalanya kembali tidak fokus sekarang. Saat ini ia memberanikan diri menemui gadis ini, setidaknya ia ingin menguji perasaannya sendiri, apakah masih mencintai gadis ini, atau semua hanya masa lalu seperti yang seharusnya?
"Duduklah Peach. Kau terlambat setengah jam," sahut Kris sambil mempersilahkan gadis itu duduk. Sungguh Kris tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis ini. Dia tidak berubah bahkan setelah tujuh tahun mereka tidak bertemu karena Kris pindah ke Inggris dan membangun hidup barunya disana yang dimulai ketika ia mengenal gadis mungil lain yang membuatnya yakin bahwa ia bisa melupakan gadis masa lalunya dengan kehadiran gadis mungil itu.
"M-maaf, tadi—"
"Tak masalah. Aku toh tetap menunggumu." Potong Kris.
Gadis itu tersenyum kikuk. "Apa kabar, ge?" tanyanya berbasa-basi.
Kris mengulum senyumnya. "Baik, seperti yang kau lihat." Jawab Kris cepat. "Kau sendiri? Bagaimana dengan kau dan—"
"Aku tak ada hubungan apapun dengan Eli Oppa, ge. Aku sudah mengatakannya padamu sejak lama. Kau—" gantung gadis itu. "Tidak pernah percaya padaku," lanjutnya lirih.
Dada Kris benar-benar nyeri sekarang. Ia ingin sekali mempercayai kata-kata gadis ini, tapi apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri tujuh tahun lalu, tidak bisa begitu saja luput dari memorinya.
"Aku ingin sekali mempercayainya, Peach." Lirih Kris. "Tapi aku belum bisa."
Gadis itu tersenyum getir. Ia tahu bahwa pemuda di depannya ini masih mengingatnya. Ia tahu pasti pemuda ini masih menyimpan perasaan yang sama untuknya walau tujuh tahun sudah berlalu.
"Jadi, apa tunangan gege tahu bahwa gege kemari?"
Kris tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya keluar cafe dan rahangnya mengeras seketika saat dua maniknya melihat sosok yang seharusnya hanya akan tertawa lepas karenanya, saat ini sedang tertawa begitu bahagia di samping pemuda lain.
"Ge?"
Kris menurunkan pandangan geramnya dan berbalik menatap gadis di depannya. "Tidak. Dia tidak tahu dan tidak perlu tahu." Jawabnya cepat.
.
.
.
I want to start by letting you know this
Because of you my life has a purpose
You helped be who i am today
I see myself in every word you say
Sometimes it feels like nobody gets me
Trapped in a world where everyone hates me
There's so much that I'm going through
I wouldn't be here if it wasn't for you
I was broken
I was choking
I was lost
This Song saved my life
I was bleeding stopped believing
Could've died
This song saved my life
I was down
I was drowning
But it came on just in time
This song saved my life
.
.
.
Luhan sedang bersantai di kamarnya ketika Kyungsoo masuk dan mendekatinya. Gadis mungil itu memang sering menghabiskan waktunya bersama Luhan terutama jika ayah dan ibunya sedang ke luar negeri. Seperti hari ini. Ia tak ada janji apa pun dengan Jongin, dan Kris baru saja kembali ke Inggris seperti yang ia lakukan hampir setahun lalu. Pria itu memang hanya pulang ke Seoul setiap satu tahun sekali atau satu tahun dua kali dan hanya untuk beberapa minggu, tidak selamanya.
"Kau tidak pergi bersama Jongin lagi?" tanya Luhan tanpa basa-basi seolah pergi bersama Jongin adalah rutinitas baru Kyungsoo.
Semu merah muncul di kedua pipi gembul Kyungsoo dan gadis itu menggeleng pelan. "Jongin sedang mengurusi perusahaannya, dan aku tak mau mengganggunya."
Luhan tersenyum kecil. "Ya, perusahaan Kimo Corp. memang sedang butuh Jongin. Bahkan Sehun tidak bisa menangani satu kontrak sendirian, tapi Jongin bisa menangani berpuluh-puluh kontrak klien tanpa ada sekretaris."
Kyungsoo menoleh pada Luhan lalu mengulum senyumnya. "Kau sepertinya sudah sangat mengenal Jongin, ya, Lu?"
"Dia yang menyelamatkan hidupku dan membawaku pulang ke orang tuaku." Ucapnya lirih. Kelopak matanya tiba-tiba berair dan pipinya basah sedetik setelahnya.
Kyungsoo panik melihat Luhan yang menangis. "Tidak apa, Kyung. Aku selalu menangis ketika bercerita tentang arti Jongin Oppa untukku."
Dada Kyungsoo tiba-tiba terasa nyeri ketika mendengar ucapan Luhan, seolah organ tubuhnya itu tak rela apabila Jongin punya arti lebih untuk orang lain selain Kyungsoo.
"Kau... mencintai Jongin?" tanya Kyungsoo hati-hati. Baru kali ini mengobrol dengan Luhan dalam tensi yang berbeda. Biasanya mereka akan membicarakan beberapa group band yang sedang naik daun sekarang ini atau membicarakan idola-idola mereka seperti hobi anak gadis remaja sekarang.
Diluar dugaan, Luhan mengangguk pelan. Dan Kyungsoo sekuat tenaga menahan tangisnya sekarang.
"Aku sempat jatuh cinta pada Jongin Oppa karena ia menyelamatkanku." Terangnya. "Aku sempat jatuh hati padanya karena dia begitu baik padaku,"
Kyungsoo tak menyela cerita Luhan. Walau dadanya benar-benar terasa nyeri, tapi ia ingin tahu seberapa jauh Luhan mencintai Jongin; pemuda yang kini mulai menggeser posisi Kris di hatinya.
"Tapi saat aku bilang aku menyayanginya, dia mengajakku menemui Sehun. Pemuda albino berwajah datar yang merupakan teman satu sekolah dasarku dulu."
"Kau satu sekolah dengan Sehun?" tanya Kyungsoo.
"Ya dan aku tak menyangka Sehun masih mengingatku."
Luhan mengusap air matanya dan kembali melanjutkan ceritanya yang membuat air mata Kyungsoo tak lagi mampu ditahan dan akhirnya dua gadis cantik itu menangis bersamaan karena seorang Kim Jongin.
.
.
"Appa, kenapa appa suka kemeja putih, sih?" tanya seorang pemuda dengan bajunya bergambar Krong.
"Karena mendiang ibumu menyukai warna putih, Jongin." jawab seorang pria berwajah tampan dengan senyum manisnya. "Jongin bisa ambilkan kemeja appa di ruang kerja?"
Jongin—sang pemuda itu pun berlari setelah menyanggupi permintaan ayahnya, Kim Kyuhyun, seorang Direktur muda sebuah perusahaan yang cukup ternama di Seoul yang ia bangun bersama dengan adik sepupunya, Oh Donghae.
"Appa, baju appa aneh." Celetuk Jongin.
Kyuhyun mengernyitkan dahinya dan menyamakan tingginya dengan putra semata wayangnya yang sudah jadi siswa sekolah menengah pertama itu. "Kenapa aneh?"
Jongin menunjuk kerah bagian kanan. "Kerahnya hanya tebal disini. Seperti ada sesuatu,"
Penasaran dengan penemuan anaknya, Kyuhyun membawa kerah kemejanya dibawah sinar lampu kamarnya dan ia menemukan sebuah bayangan persegi dari dalam kemejanya. Ternyata putranya benar.
"Mungkin ini kesalahan saat penjahitan kemejanya, Nak." Ucap Kyuhyun. Tapi nampaknya Jongin tidak puas dengan jawaban ayahnya.
"Perasaan Jongin tidak enak, Appa. Bisakah kita membuka jahitan kerah itu dan mengeluarkan bayangan hitam itu dari sana?" pinta Jongin dengan wajah memohonnya. Kyuhyun menatap putranya heran. Ia tak pernah melihat wajah memohon putranya kecuali dia benar-benar menginginkan sesuatu yang ia butuhkan. Dan naluri kebapakan Kyuhyun pun menang.
"Baiklah, kita buka jahitan kemejanya."
Jongin segera mengambil peralatan jahit milik mendiang ibunya yang masih tersimpan rapi di meja nakas di kamar ayah ibunya ini. "Cepatlah Appa, Jongin sudah penasaran,"
Kyuhyun tertawa kecil mendengar ketidaksabaran Jongin yang rupanya cerminan dari sifat Sungmin, istrinya. "Ah, kau benar, Nak. Ini sebuah kertas,"
Jongin bergegas mengambil kertas itu, dan membacanya. "Ini kan huruf China." Gumamnya. "Dimana laptop Appa?" tanyanya.
"Tentu saja di ruang— Hey Jongin! Kau mau apa, Nak?" teriak Kyuhyun saat putranya tiba-tiba berlari menuju ruang kerjanya dan sibuk membunyikan keyboard laptopnya dengan terburu-buru seolah kertas itu berisi sesuatu yang penting.
Kyuhyun mengikuti Jongin dan menemukannya sedang serius menatap laptop sambil mencorat-coret sebuah kertas kosong di bawah tangan kanannya. Kyuhyun benar-benar penasaran dibuatnya. "Kau ini sedang apa sebenarnya, Jongin?"
Dan hampir saja jantung Kyuhyun melompat keluar karena teriakan tiba-tiba dari Jongin.
"AHA! Aku menemukannya! Ini sebuah pesan minta tolong, Appa!" serunya. "Pasti ada yang tidak beres!"
Dan Jongin langsung menunjukkan kertas di sampingnya dan dua kata yang ia lingkari, 'Help Me!' yang ditulis dalam bahasa China di pesan aslinya—menurut Jongin.
Tak menunggu lama, Jongin kembali asik dengan laptop Kyuhyun dan membuat pria yang gemar menyanyi ini semakin penasaran. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat web yang dibuka Jongin.
"Human trafficking?"
Jongin mengangguk cepat. "Beberapa minggu lalu, banyak berita tentang ini keluar di TV dan juga beberapa situs berita. Jongin tidak begitu peduli sebelumnya, tapi begitu melihat pesan ini, entah kenapa Jongin langsung memikirkan tentang Human Trafficking." Jelasnya pada Kyuhyun. "Dan Jongin yakin, gadis bernama Xi Luhan ini adalah korban Human Trafficking," tutupnya.
"Xi Luhan? Siapa dia, Nak"
Jongin menunjuk sebuah web yang ternyata adalah web sekolah dasar tempat Sehun, keponakan Kyuhyun bersekolah. "Dia adalah siswi Beijing Elementary School. Dan dia dilaporkan hilang oleh orangtuanya sejak tiga bulan lalu." Terang Jongin seraya membalik kertas pesan bertuliskan huruf China tadi. "Dan disini, ia menuliskan namanya juga dengan huruf China."
Kyuhyun mengangguk paham dengan penjelasan Jongin. "Kalau begitu kita harus segera melaporkan ini pada pihak kepolisian China, Nak."
Tapi Kyuhyun lagi-lagi heran dengan tingkah putranya yang menggeleng cepat seolah ia sudah tahu dimana gadis bernama Luhan itu berada.
"Dia tidak di China, Appa. Dia ada disini, di Seoul."
Dan Kyuhyun menatap Jongin dengan tatapan penuh pertanyaan. "Bagaimana kau bisa yakin dia ada disini dan bukan di China?"
Jongin menunjukkan kertas yang berisi pesan dari Luhan. "Ini adalah potongan kertas koran yang hanya terbit di Seoul. Jongin tahu karena kakek sangat suka membaca koran ini, jadi Jongin hapal dengan ini." Jelasnya yakin. "Kita harus menghubungi Joonmyeon ahjussi, Appa. Jongin yakin dia bisa membantu!"
Kyuhyun menatap Jongin dengan kagum. Tak ia sangka, putra satu-satunya yang ia besarkan dengan beberapa ilmu dan cerita tentang kriminal dan detektif ini sudah benar-benar tumbuh menjadi seorang pengamat berita yang handal. Anggukan mantap Kyuhyun jadi satu tambahan keyakinan bagi Jongin bahwa dia pasti bisa menemukan gadis ini, menyelamatkannya dan mengembalikannya pada keluarganya.
"Kita ke kantor Joonmyeon ahjussi sekarang, okay, Jongin?"
High-five dari Kyuhyun dan Jongin menambah tempo debaran jantung Jongin lebih cepat. Ia sangat bersemangat dan yakin bisa menyelamatkan sang penulis pesan ini. Dan ia harap, ia belum terlambat saat melakukannya.
.
.
Di lain tempat pada waktu berbeda, tepatnya di sebuah ruangan penuh dengan kain putih dan beberapa kardus coklat berisi baju kemeja putih yang sudah rapi, serta banyak sekali mesin jahit tradisional yang seolah sedang berlomba untuk menyelesaikan sebanyak mungkin kemeja putih; komoditi utama perusahaan itu, All in White.
Kemeja-kemeja yang sudah masuk pasar nasional dan punya banyak pembeli tetap itu sangat rapi dan kualitasnya memang bagus. Hal itu tak terlepas dari tangan-tangan mungil nan tangkas milik para anak-anak yang bekerja pagi-siang-malam menyulap kain-kain putih menjadi kemeja dengan nilai jual yang cukup menjanjikan untuk satu kali makan tiap harinya bagi anak-anak itu.
Ya, hampir seluruh pekerja kasar di All in White adalah anak-anak. Baik laki-laki maupun perempuan, hampir seluruhnya adalah anak-anak. Merekalah yang sebenarnya membuat kemeja All in White melejit keuntungannya. Dan harusnya, perusahaan menjanjikan kesejahteraan bagi pegawainya. Tapi tidak dengan All in White.
"Ya! Kau kerja yang benar! Apa ini? Bagaimana kau bisa membiarkan ada jahitan yang tidak rapi di kemeja ini, ha?" teriak salah seorang pria dengan perut tambunnya. "Dasar bodoh! Tidak becus bekerja, mati saja sana!" tambahnya tanpa melupakan kekerasan bagi gadis muda yang menatap mesin jahitnya dengan tatapan kosong itu. Pria itu melempar kain yang ia pegang ke arah gadis itu dan menoyor kepala gadis itu dengan kasar lalu meninggalkannya menuju gudang penyimpanan.
Melihat sang pria tadi sudah menuju gudang penyimpanan, seorang laki-laki kecil yang bekerja di belakang gadis tadi segera memanfaatkan kesempatan untuk lari menuju pintu keluar, bermaksud menyelamatkan diri. Tapi, rencananya gagal ketika ia kembali berhasil ditangkap oleh kawanan petugas yang akhirnya menjebloskannya ke sebuah ruangan sempit dan gelap dan membiarkannya disana sampai bos mereka meminta anak itu dikeluarkan dari sana.
Dari celah tembok yang ada, lelaki kecil itu mengintip ke arah sebuah ruangan yang ia yakini adalah ruangan milik bos besarnya. Orang yang selama ini mempekerjakannya dengan tidak layak. Kedua maniknya menatap dan mengawasi bagaimana pria bertubuh agak gemuk itu berdiri dengan sopan lalu menjabat tangan seorang pria yang baru datang dengan setelan jas yang cukup mewah, dan tebakannya, pria ini adalah pelanggan lain yang ingin memesan kemeja dari mereka dalam jumlah besar.
Lelaki kecil itu memperhatikan bagaimana pria itu membuka sebuah tas koper yang berisi banyak sekali uang disana dan bagaimana bos besarnya langsung mengangguk cepat dan menyalami pria itu lalu mengantar pria itu keluar ruangannya yang artinya keluar dari titik pandang sang lelaki kecil.
Pria dengan setelan mewah itu nyatanya keluar dengan senyum ramahnya dan ekor matanya sempat menangka bagaimana suasana tempat bekerja para karyawan muda yang sempat dijelaskan oleh Joonchyeon, pemilik perusahaan pembuat kemeja ini. Bagaimana anak-anak ini direkrut secara profesional dan bagaimana mereka sangat menjamin hidup para pekerjanya dengan keuntungan melimpah yang ada karena penjualan kemeja putih All in White yang melejit.
Sapaan selamat tinggal dan terima kasih, pria itu ucapkan pada dua bodyguard yang mengawalnya sampai ke pintu keluar. Setelah memastikan dua pria itu masuk, pria dengan setelan jas itu pun melepas jasnya dan berbicara sesuatu dengan sebuah mic kecil yang ada di pergelangan tangannya.
Bersamaan dengan itu, beberapa pasukan berseragam polisi masuk lengkap dengan senapan di dada mereka.
"Ayo!" seru pria itu dan kemudian ia kembali naik ke tempat ia melakukan negosiasi palsu beberapa menit tadi.
"Jangan bergerak!" seru beberapa polisi itu bersamaan. Mereka mengacungkan senjata ke beberapa petugas yang kebetulan ada disana. Sisanya baru saja melarikan diri dan dikejar oleh sisa pasukan polisi yang baru saja masuk.
Perkelahian tak dapat dihindarkan antara petugas polisi dengan para karyawan dari All in White. Namun karena lebih terlatih, para polisi itu akhirnya dapat membekuk semua karyawan termasuk sang bos besar perusahaan All in White, Gu Joonchyeon.
Pria yang diduga adalah pimpinan atau kepala polisi itu pun mendesah lega ketika rencananya membekuk satu sindikat Human Trafficking di negaranya ini berhasil dengan sempurna. Saat ia hendak keluar dari ruangan ini, ia melihat ada seorang gadis yang masih duduk di balik mesin jahit sambil tetap menjahit. Dan dugaannya, ini adalah targetnya.
"Nak Luhan?" sapanya lembut. Dan benar saja, gadis bersurai sebahu yang berantakan itu kini menoleh pelan dengan tatapan kosong. "Mari pulang, Nak. Orang tuamu sudah menunggu," sahutnya lembut.
Pria itu lalu menyelimuti Luhan dengan jasnya dan memapahnya keluar dari neraka anak-anak itu.
.
.
"Ya Tuhan, aku tak menyangka putri kecilku sudah kembali,"
Seorang wanita dengan jaket tipisnya kini tengah berada di pelukan sang suami yang berseragam hitam dengan name-tag Xiao Dae itu. Ia menangis tanpa henti sejak satu jam lalu, tepatnya ketika pihak kepolisian menelpon rumah majikannya dan memberitahunya bahwa Luhan, putri semata wayangnya yang selama tiga bulan menghilang kini sudah ditemukan di Seoul.
Ia dan suaminya memang sudah berusaha mencari Luhan kemana pun termasuk Seoul. Dan entah beruntung atau sial, Seoul adalah tempat terakhir yang menjadi pilihan mereka bersamaan dengan uang saku mereka yang sangat tipis kala itu. Beruntung ada seorang pria bermarga Do yang dengan baik hati mau menampung mereka dan memberi mereka pekerjaan sebagai pelayan di rumahnya. Walau baru dua bulan ia bekerja di kediaman Do, tapi sepasang orang tua ini tak pernah berhenti berharap akan keajaiban Tuhan; Luhan bisa kembali pada mereka dengan selamat. Dan harapan mereka hari ini terkabul, putri mereka sudah pulang.
"LUHAN!" teriak sang wanita yang bernama Xiao Min itu ketika maniknya menatap sosok yang menjadi tumpuan hidupnya sejak sosok itu lahir di dunia dari rahimnya.
Itu putrinya, Xiao Lu atau Xi Luhan.
Pelukan erat penuh tangis haru terjadi begitu saja. Dan Kyuhyun serta Jongin beserta pria yang memimpin operasi penangkapan tadi, Kim Joonmyeon yang merupakan adik kandung dari Kim Kyuhyun kini sedang menatap momen keluarga itu dengan linangan air mata di wajah mereka terkecuali Jongin.
Remaja itu sejak tadi hanya menampilkan senyum bahagianya di wajahnya. Ia sama sekali tidak menangis walau sesekali kelopak matanya berair. Tapi ia tak tergoda untuk menumpahkan emosinya dan menangis. Ia malah memberanikan diri mendekati keluarga kecil itu dan menginterupsi mereka.
"Aku senang bisa membantu putri Anda pulang, ahjussi." Serunya lembut. Dan itu tentu membuat pria berwajah kotak itu menoleh dan ikut menarik Jongin dalam pelukannya. Diluar dugaan, pria itu menangis sambil memeluk Jongin.
"Terima kasih, Nak. Kau sudah mengembalikan putri kami. Kau sudah mengembalikan keceriaan keluarga kami, keceriaan istriku dan putriku." Racaunya. "Terima kasih Nak Jongin, Paman tidak tahu bagaimana cara membalas semuanya,"
Jongin tersenyum kecil dan mengeratkan pelukannya. "Memang aku tidak melakukan ini dengan gratis. Aku ingin paman dan bibi menjaga Luhan dengan baik. Jangan lagi biarkan Luhan sendirian,"
Xiao Dae kembali menangis tersedu-sedu. "Kau menyelamatkan keluarga kami, Jongin. Paman tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, Nak."
Jongin melepaskan pelukan itu dengan berat. "Bukan aku yang menyelamatkan keluarga paman. Ini berkat doa paman dan bibi, aku hanya perantara dari Tuhan."
"J-jongin o-oppa..."
Jongin menoleh dengan cepat dan terkejut mendapati gadis mungil yang baru saja ia tolong itu ternyata mengenalnya. "Kau mengenalku, Lu?"
"D-dari P-aman S-suho." Ucapnya terbata. Jongin paham sekali kenapa gadis ini terbata-bata. Dikurung tanpa mampu bertemu dengan keluarga selama tiga bulan lebih, tentu menimbulkan trauma pada diri Luhan.
"Ah, tentu saja. Ada apa Luhan? Apa yang bisa Oppa bantu?" tanya Jongin lembut.
Luhan menggeleng pelan lalu kembali menunduk. "T-terima k-kasih,"
Dan Jongin tidak bisa menahan keinginannya untuk membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, menyamankannya disana, menghantarkan pesan lewat sejuta sel di tubuhnya pada Luhan bahwa mulai hari ini, ia akan terus memastikan Luhan akan selalu baik-baik saja.
.
.
Pagi ini, Luhan sudah mempersiapkan sebuah bekal yang ia buat khusus untuk seorang pemuda yang punya tempat khusus di hatinya sejak satu tiga tahun lalu. Ia adalah pemuda yang pertama kali memberikan harapan hidup lagi padanya setelah ia sempat meragukan sisa umurnya sendiri.
"Jongin Oppa!" seru Luhan saat maniknya melihat sosok pemuda yang ia tunggu sudah datang. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika nyatanya, pemuda itu tidak datang sendiri.
"Hai rusa kecil. Menunggu lama, ya? Maaf, ya. Aku baru saja menjemput adikku di bandara. Dan, oh, kenalkan ini adikku." Jongin menarik pemuda di belakangnya dan menempatkannya tepat disampingnya. Pemuda dengan tinggi yang tak jauh beda dengan Jongin, pemuda dengan kulit putih seputih susu dan raut wajah tanpa ekspresi yang familiar bagi Luhan.
"Ohayou?" celetuknya.
Dan pemuda berkulit putih itu pun membulatkan matanya dan menggumam tak percaya. "Tidak mungkin. Ini kau? Ciao ciao?"
Jongin hampir melepas tawanya mendengar dua remaja di depannya yang saling terkejut dan melontarkan kata-kata aneh yang tidak ia pahami.
"Kalian ini kenapa? Bukannya berkenalan, malah kaget begitu."
Sehun yang pertama membubarkan keterkejutannya sendiri atas hadirnya gadis cinta monyetnya ini di depannya. "Dia teman satu sekolah dasarku dulu."
Jongin tersenyum kecil. "Aku sudah tahu, makanya aku mengajakmu kemari."
Luhan menatap Jongin tak mengerti. "Ah, Hun, bisakah kau ambilkan tasku di mobil? Ini kuncinya. Ada barang penting disana,"
Sehun mengangguk pelan lalu segera berbalik menuju parkir mobil yang agak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Dia menyukaimu sejak SD," buka Jongin.
Luhan kembali menatap Jongin penuh tanya. "Maksud Oppa?"
"Sehun. Dia menyukaimu sejak sekolah dasar. Kukira aku akan jadi kakak paling kejam jika aku menerima perasaanmu dan membalasnya." Jelasnya. "Aku sayang padamu Luhan, sama seperti aku menyayangi Sehun. Kalian berdua sudah seperti adik kandungku," lanjut Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan setapak di depannya.
Jadi ini alasan Jongin memeluknya dengan erat kemarin? Pikir Luhan. Jadi ini alasan Jongin kenapa ia bilang bahwa ada seseorang yang lebih patut Luhan sayangi ketimbang dirinya? Dan ini juga alasan kenapa kecupan singkat Jongin di keningnya itu Jongin sebut sebagai kecupan sayang seorang kakak?
"A-aku mengerti," Luhan menjawabnya dengan nada getir. Jongin tahu Luhan tersakiti, tapi ia akan menyakiti dua orang ketika ia membiarkan perasaan sayangnya pada Luhan tumbuh lebih jauh. Dan ia tak mau itu terjadi.
"Sehun akan mencintaimu sampai akhir hidupnya tanpa menyakitimu. Aku jamin itu," ucap Jongin final sambil membawa tubuh Luhan ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepalanya lembut dan dengan sayang.
Dan mulai hari itu, Luhan tak lagi membiarkan perasaannya untuk Jongin tumbuh lebih liar daripada perasaan sayang seorang adik pada kakak tersayangnya. Dan ia juga tak membiarkan siapapun menjadi penghalangnya menyayangi Jongin dengan caranya, tak terkecuali pemuda yang kelak jadi masa depannya, Oh Sehun.
.
.
.
.
.
tbc
.
.
.
Hai! berhubung lagi sangat selo dan suasana sangat menyenangkan di kepala Jongsoo sekarang, jadi Jongsoo memberikan bonus chapter buat para readers tercinta.
semoga semakin penasaran dan semoga semakin suka sama ff ini khususnya :)).
jangan lupa meninggalkan review dan... terima kasih sudah mampir utk membaca! =))
sekian sekian sekian
salam, KJ-27
