Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M

Pairing: SasuNaru

Warning: AU, Shounen-ai, Typo(s), Abal, violence scene, and A little bit OOC maybe.

Don't Like Don't Read!

Apa yang membuat kita dapat lepas kendali? Jawabannya adalah emosi. Apa yang membuat kita dapat menghukum diri kita sendiri? Jawabannya adalah penyesalan. Apa yang telah membuat hidup kita penuh dengan emosi dan penyesalan? Maka jawabannya adalah kebohongan. Dimana hati kita telah rusak dan penuh kebencian … di saat itulah otak kita penuh dengan ucapan dendam.

Saat semua orang sibuk mengukir masa depan … kita berbalik dan menghadap kehidupan yang telah kita lewati. Untuk apa? Tentu saja untuk menggali kebohongan yang terselip di sana. Jiwa yang alah dipaksa untuk bekerja keras. Menggali dan menelusuri semua yang tersembunyi. Dalam kenyataan dan mimpi … semuanya sama. Kebohongan yang terjadi di ambang sadar hanyalah judul semata untuk mengelabui semua yang ada.

Mata tertutup berpura-pura tak melihat. Kedua telinga ditulikan secara paksa. Semua kejadian seakan-akan hanya sebuah nyanyian suci pengantar kematian. Satu … dua sosok digunakan sebagai tameng untuk menghalangi kenyataan yang tersimpan. Saling memberitahu dan menyampaikan suara-suara kebohongan yang sekan-akan melekat permanen menjadi kejadian yang sebenarnya. Tiga … empat sosok mulai tersenyum dan mengulurkan tangan. Mengajak untuk terus menatap ke depan. Memaksa untuk meninggalkan masa lalu. Satu … dan hanya seorang yang menatap dengan mimik sendu. Seakan mengatakan …

… hidup ini tidak akan berjalan dengan lancar jika kenyataan tak sepenuhnya nyata.

I am not Sane

3rd Chapter

Do not ever touch my Naruto

Suasana terasa begitu dingin dan sama sekali tak meninggalkan jejak kehangatan. Ketika selimut langit telah berubah menjadi abu-abu kehitaman. Menampung ratusan juta tetes air yang tak lama lagi akan merembes dari rumah abu-abu kehitamannya. Rasanya berat untuk tidak menengadah. Ingin sekali melihat langit dengan warna yang begitu anggun. Warna langit yang tak akan pernah terlihat jika malam sudah mengambil alih.

Mendung yang begitu indah tak segan-segan untuk memayungi seluruh hamparan Tokyo. Sangat cantik jika ditatap dengan hati yang sama mendungnya dengan warna tersebut. Tetes demi tetes mulai bergerak turun dan mencoba merasakan permukaan aspal yang masih menyisakan hawa panas kendaraan. Satu … dua orang mulai bergerak lebih cepat—melindungi diri dari tetesan hujan. Perlahan-lahan menjadi puluhan pasang kaki yang mencoba menyingkir dari jalan utama. Mencari payungan gedung besar ataupun pohon yang ada di sekitar.

Namun tidak dengan seorang pria yang sedang berdiri di ujung jalan sembari menunggu lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi hijau. Mata yang sewarna lampu yang ditunggunya itu menatap lakat suasana jalanan yang ada di seberangnya. Terlihat begitu sibuk dan sepi di saat yang bersamaan. Entah kenapa orang-orang itu mencoba mencari perlindungan. Apakah hujan begitu menyakitkan? Atau mungkin hujan memberikan kenangan yang buruk bagi mereka? Sosok bermata hijau itu hanya dapat menatap datar ke depan sembari mulai melangkahkan kakinya—karena lampu sudah menunjukkan warna hijau.

Detik demi detik kakinya melangkah sama dengan lampu hijau yang perlahan mencoba kembali ke warna awal … warna merah. Langkah demi langkah terlewati dan akhirnya dia sampai di ujung jalan lainnya. Dia menghela napas lelah sembari tetap membiarkan tetesan hujan yang menyentuh surai merah batanya. Tangannya bergerak untuk menadah tetesan hujan yang terasa begitu dingin. Senyuman tipis menghiasi bibir mungilnya saat air tersebut menyerap ke dalam luka melintang yang ada di telapak tangan kirinya. Dia menggenggam air tersebut dengan erat dan memasukkan tangannya ke dalam saku baju tebalnya.

Hujan yang semakin deras sama sekali tak diindahkannya. Kakinya terus melangkah masuk menuju sebuah café kecil yang terletak tak jauh dari tempatnya berada.

'KLANG'

Lonceng yang tergantung di pintu café itu berbunyi saat sosok berambut merah tersebut membuka pintu itu. Dengan perlahan dia mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang kosong yang ada di dalam ruangan berukuran sedang tersebut. Dia tersenyum tipis pada seorang pelayan yang sedang menghampirinya.

"Pesanan Anda?" tanya pelayan tersebut sembari tersenyum manis dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang ada di balik baju pelayannya.

"Hot coffee tanpa gula," ucapnya sembari membersihkan dirinya dari air hujan yang menempel pada kulitnya. Sang Pelayan hanya mengangguk mengerti dan pergi meninggalkan sosok tersebut. Dia kembali menghela napas lelah saat kembali melihat luka melintang yang ada di telapak tangan kirinya.

Naruto menatap sosok yang ada di hadapannya dengan kesal. Setelah bertemu dengan Uchiha sialan itu, kini dia harus bertemu dengan orang yang sangat disukai dan juga dibencinya. Dia mendengus sebal sembari terus berjalan dan berpura-pura tak mengenali sosok tersebut. Namun gerakannya terhenti saat dia merasakan ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Naruto hanya mampu memejamkan matanya dengan kesal.

"Apa yang telah dilakukannya terhadapmu?"

Naruto hanya terdiam dan sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan orang tersebut. Tak ada gerakan pasti yang dilakukannya. Dia hanya berdiri dan sama sekali tak berniat untuk berontak ataupun melepaskan genggaman orang tersebut.

"Ini terakhir kalinya aku bertanya kepadamu. Apa yang dilakukannya terhadapmu?"

Naruto tetap tak menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya berbalik dan menatap sosok itu dengan sangat lekat.

'BRUK'

Naruto hanya mampu memejamkan matanya dengan sangat erat saat merasakan punggungnya menabrak dinding yang ada di belakangnya. Dia meringis sakit saat merasakan sebuah tangan menarik rambutnya dengan sangat kuat. "Lepas," ucap Naruto dengan nada datar dan terdengar dingin. Ini pertama kalinya dia mengeluarkan kata-kata untuk orang tersebut. Naruto menatap datar sosok brambut merah yang ada di hadapannya. "Lepaskan tanganmu, Gaara."

"Aku tidak suka dengan caramu mengabaikanku," ucap Gaara dengan nada tak kalah datarnya sembari menguatkan tarikannya pada rambut pirang Naruto. "Apa aku pernah mengajarimu untuk menatapku dengan tatapan seperti itu? Aku sangat membenci kedua mata itu."

'PLAK'

Gaara menampar wajah Naruto dengan sangat kuat. Dia menatap Naruto dengan datar dan memegang sudut bibir Naruto yang mulai mengeluarkan darah. Dengan perlahan dia menarik kepala Naruto mendekat ke arahnya. Gaara membisikkan sesuatu di telinga Naruto sembari menyeringai tipis. Kedua tangannya bergerak untuk memegang wajah Naruto dengan pelan. "Ingat itu baik-baik," ucap Gaara sembari melumat bibir Naruto dengan perlahan. Sosok berambut merah tersebut menjilat darah yang perlahan menuruni dagu Naruto dengan pelan. Sebelah tangannya perlahan turun dan menggenggam tangan Naruto dengan erat. Keningnya tampak mengerut menahan sakit. Sosok itu melepaskan ciumannya dan menatap Naruto dengan lekat. "Kau sudah berani melukaiku, heh?" tanyanya sembari melihat telapak tangan kirinya yang telah berlumuran darah. Matanya beralih pada pisau lipat yang ada di tangan Naruto.

Naruto menatap Gaara dengan datar sembari mengelap bibirnya menggunakan punggung tangan kirinya. "Dia hanya mencoba menghalangi jalanku," ucap Naruto sembari memasukkan kembali pisau lipatnya ke dalam sakunya dan mulai berjalan menjauhi Gaara yang sedang menyeringai penuh arti.

"Hot coffee tanpa gula!"

Gaara tersadar dari lamunannya dan segera menyembunyikan telapak tangan kirinya di sebelah meja. Dia mengangguk dan menerima kopi tersebut dengan senyuman kecil. Sang Pelayan balik mengangguk dan meninggalkan Gaara dengan secangkir kopinya. Dengan perlahan dia menyesap kopi tersebut sembari sesekali kembali mengecek keadaan telapak tangan kirinya. Dia kembali menghela napas lelah dan mengacak surai merah batanya dengan kasar. "Apa aku terlalu mengekangnya?"

-VargaS. Oyabun-

Awan mendung yang tak berniat beranjak dari langit Tokyo membuat seorang pria dengan surai hitam kebiruan mendecak kesal. Mata kelamnya terus saja memperhatikan tetesan hujan yang semakin deras dengan tatapan tajamnya. Sosok tersebut menyampirkan jasnya pada bahu kanannya dan kembali menerawang.

"Maaf, aku tidak sengaja. Sekali lagi maafkan aku. Aku sama sekali tak melihatmu."

"Ah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."

Pandangan sosok berambut hitam kebiruan itu terhenti saat mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya. Dia menengok ke samping dan mendapati sosok yang sangat dikenalnya dengan tidak baik. Dia menyeringai tipis sembari terus menatap sosok tersebut. Alisnya terangkat saat melihat sosok itu tersenyum dengan sangat lebar, "Sejak kapan dia bisa tersenyum seperti itu?" Uchiha bungsu itu berbisik pelan pada dirinya sendiri. Rasa penasaran yang menumpuk dalam benaknya terus saja menyuruhnya untuk mendatangi sosok tersebut.

Dengan perlahan kakinya bergerak untuk mendekati sosok tersebut dan memegang pundaknya dengan pelan. "Naruto, apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?" alisnya mengernyit heran saat Naruto menatapnya dengan tatapan datar dan dingin. Entah kemana perginya senyuman lebar yang baru saja dilihatnya.

"Jangan pernah menyentuhku semaumu, sialan. Aku tak pernah mengenalmu," ucap Naruto dingin sembari mencoba beranjak pergi meninggalkan Sang Uchiha yang hanya menatapnya dengan tatapan mengejek. "Lepas," ucap Naruto saat merasakan sebuah tangan memegang bahunya dengan kuat.

"Lima menit. Biarkan aku bicara lima menit denganmu," ucap Sasuke sembari memegang bahu Naruto lebih erat. Naruto sempat meringis sembari menurunkan tangan tersebut. Dia memandang Sasuke dengan lekat. Sebenarnya apa yang diinginkan Dosen gila ini. Tidak pernahkah dia bosan mengganggu kehidupan Naruto?

"Bicara sekarang,"

"Apartemenku. Di sini hujan."

Naruto yang tidak ingin berdebat hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sasuke tersenyum tipis dan menarik tangan Naruto untuk mengikutinya. Beruntung apartemennya tidak terlalu jauh dari tempatnya berada. Sasuke terus saja menggenggam tangan Naruto dengan erat sembari membawanya masuk ke dalam lift dan sampai ke apartemennya.

"Aku tidak akan melarikan diri," ucap Naruto sembari memutar kedua bola matanya dengan bosan. Namun Naruto mengernyitkan alisnya bingung saat dia didudukkan di sebuah sofa besar dengan cara paksa. "A-apa yang mau kau lakukan?" tanyanya bingung saat Sasuke ikut duduk di sebelahnya dan memegang pergelangan tangannya dengan erat.

"Tanganmu bisa infeksi jika tidak diobati dengan baik, atau kau terlalu bodoh untuk bisa mengobati lukamu, heh?" tanya Sasuke dengan nada sedikit mengejek. Dia menarik tangan Naruto dan segera membuka perban yang membalut tangan tersebut. Sasuke menghela napas saat melihat luka tersebut tampak dalam keadaan yang sangat tidak baik. Dengan capat dia membukanya—tak mengindahkan ringisan perih dari bibir Naruto—dan membersihkannya menggunakan alkohol yang ada di dalam kotak obatnya. "Jangan manja," ucap Sasuke saat memperhatikan Naruto yang terus meringis kesakitan.

"Sialan! Aku tidak butuh hal seperti in-aw!" Naruto menatap Sasuke dengan tajam saat Sasuke sengaja menekan lukanya dengan sangat kuat.

"Ini balasan karena kau menggigit bibirku kemarin."

Naruto terdiam dan menggigit bibir bawahnya dengan pelan."Sudah cukup. Aku ingin pulang. Kau janji ingin bicara denganku selama lima menit. Cepat katakan apa maumu atau aku akan pulang sekarang."

"Kau boleh pulang setelah aku selesai mengobatimu. Dengarkan perkataan dosenmu," ucap Sasuke dengan nada pelan sembari terus merawat luka Naruto. Dia tersenyum tipis saat sudah berhasil membersihkan luka tersebut. Sasuke kembali memerban luka itu dengan perban yang baru dan bersih.

Naruto menatap Sasuke dengan datar. Sebelum ini tidak ada orang yang begitu peduli dengannya. Mungkin ada … akan tetapi dia memang bukan sosok yang suka untuk dikasihani.

"Jika kau menganggapku mengasihanimu, maka kau salah mengerti. Aku hanya tidak mau di kelasku ada yang menyebarkan kuman," ucap Sasuke seolah-olah dapat membaca pikiran Naruto. Sasuke merapikan obat-obatan yang tadi digunakannya dan meletakannya kembali ke tempat semula. "Kalau kau mau pulang, silahkan pulang."

Naruto menatap Sasuke singkat dan segera bangkit dari duduknya. Sebenarnya apa yang dilakukannya di tempat ini. Sejak kapan dia mau menuruti kata-kata orang lain. Naruto membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan apartemen tersebut ketika sebuah kalimat menginterupsinya.

"Jangan berkalahi dengan bocah berambut merah itu lagi."

Naruto hanya mendengus pelan sembari keluar dari apartemen tersebut. Kata-kata Sang Dosen yang terdengar begitu lirih tampak sedikit mengejutkan Naruto.

'BLAM'

'BRUK'

Naruto mengernyitkan keningnya bingung saat mendengar suara jatuh yang cukup keras tersebut. Mana mungkin debaman pintu bisa menyisakan bunyi yang nyaring seperti itu. Naruto berusaha mengabaikan bunyi tersebut dan terus berjalan, namun rasa penasarannya seakan-akan membunuhnya dari dalam. Dengan perlahan dia berbalik arah dan membuka pintu itu kembali dengan kasar. "Hei, jangan bercanda. Untuk apa kau tidur di lantai seperti itu?" tanya Naruto saat melihat Sasuke sedang terjatuh di lantai. Sepertinya Naruto sendiri sadar jika posisi tersebut bukan merupakan posisi orang yang sedang tertidur. "Hei, Dosen? Ck, teme!"

Naruto menggaruk kepalanya dengan kasar. Ini bukanlah sifatnya yang peduli dengan orang lain. Naruto mendekati Sasuke dan membalik tubuh tersungkur tersebut. Wajahnya merah dan napasnya terengah-engah. "K-kau demam? Dasar merepotkan." Naruto meletakkan tubuh Sasuke di atas sofa tersebut dengan perlahan. Dia sendiri bingung apa yang harus dilakukan jika sedang dalam keadaan seperti ini.

Dengan terpaksa Naruto berjalan ke arah dapur dan mengambil handuk kecil serta air yang sudah dicampur dengan es. Sepertinya dia akan sedikit direpotkan.

-VargaS. Oyabun-

Shikamaru menghela napas lelah sembari menatap malas sosok berambut merah yang sedang menatapnya dengan datar. "Jauhi Naruto," ucap Shikamaru dengan nada malas sembari menatap Gaara dengan lekat. "Berhenti menyakitinya."

"Aku sudah menjadikannya milikku semenjak pertama kali aku bertemu dengannya. Jangan pernah mengganggu hubungan kami," ucap Gaara sembari mendudukkan dirinya di salah satu reruntuhan gedung yang sudah hancur. "Aku tidak pernah menyakitinya. Aku hanya menunjukkan ketidaksukaanku ketika dia dekat dengan orang lain termasuk dirimu." Gaara menyeringai ke arah Shikamaru sembari memainkan bola merah kecil yang ada di tangannya. "Jangan pernah menyuruhku untuk menjauhinya. Karena aku sudah menyatukan darah kami. Aku lebih baik membunuhnya daripada harus menyerahkannya kepadamu."

Shikamaru tampak tidak terkejut dengan pernyataan Gaara barusan. Dia sangat tahu jika Gaara akan melakukan hal tersebut. Oleh sebab itu dia yakin Gaara dapat dengan senang hati dan kapan pun membunuh Naruto. Shikamaru mengeraskan rahangnya. Dia tidak bisa bermain kasar dengan orang ini. Namun, dia juga tidak bisa bermain dengan lembut.

"Jangan mengira aku tidak tahu tentang kematian orang tua Naruto. Jangan pernah mengira bahwa aku ingin memiliki Naruto tanpa alasan. Aku ingin melindunginya dari rasa sakit yang menyayat tubuhnya," Gaara menorehkan luka yang cukup dalam pada lengan kanannya menggunakan silet kecil yang selalu dibawanya. "dan aku ingin dia terlindung dari kenyataan yang ada."

Shikamaru menatap Gaara dengan lekat sembari mendekatkan wajahnya. "Apa yang kautahu soal kematian kedua orang tuanya?" tanyanya sembari memegang dagu Gaara dengan kuat.

Gaara menatapnya dengan seringaian tipis. "Semuanya. Bahkan yang tidak pernah kau ketahui," ucap Gaara sembari menepis tangan Shikamaru dengan kasar. "Aku membenci Dosen Uchiha itu. Sepertinya dia akan berbahaya jika terus berada di dekat Naruto. Aku ingin menyingkirkannya." Gaara menatap telapak tangan kirinya dengan tatapan datar dan dingin. "Dia harus mati."

"Jangan bercanda! Kaupikir nyawa orang itu seperti apa? Kau tidak bisa membunuh orang seenaknya!" Shikamaru menarik kerah baju Gaara dengan kasar. "Jangan pernah membunuh orang semaumu!"

"Tapi Naruto akan sedih jika terus dekat dengan keluarga Uchiha. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang telah kau ceritakan kepada Kyuubi adalah kebohongan tingkat awal dan kau menceritakan kebohongan tingkat kedua kepada Naruto. Kalian semua pembohong. Aku benci ketika aku mulai tak menjadi diriku. Berbicara panjang lebar seperti ini." Gaara bangkit dari duduknya dan menatap Shikamaru dengan sangat lekat dan tatapan yang dingin. "Jangan mengganggu milikku, Deer."

Shikamaru menggigit bibirnya dengan kuat saat melihat Gaara pergi meninggalkannya begitu saja. Apa jadinya jika Gaara membocorkan semua rahasia yang selalu disembunyikannya selama beberapa tahun ini. Shikamaru harus memisahkan Gaara dari Naruto. Itu harus! Shikamaru bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut sama dengan halnya Gaara barusan.

-VargaS. Oyabun-

Naruto menatap Sasuke dengan datar. "Sepertinya kau sudah baikan. Aku akan pulang." Naruto meletakkan handuk basah yang tadi dipegangnya ke dalam baskom kecil yang berisi air.

"Terima kasih."

Naruto berbalik dan menatap Sasuke sedang duduk sembari memegangi kepalanya. Naruto hanya mengangguk dan pergi meninggalkan apartemen tersebut. Sasuke yang melihat kepergian Naruto hanya menyeringai kecil. "I gotcha." Sasuke kembali berbaring di sofa tersebut sembari tetap memegangi kepalanya yang terus saja berdenyut sakit. Sepertinya hujan tadi yang membuatnya seperti ini.

.

.

.

Kyuubi menatap Naruto dengan tatapan khawatir. "Kenapa telat?" tanyanya sembari membukakan pintu rumah itu lebih lebar dan membiarkan Naruto masuk. Dia mengikuti Naruto yang masih bungkam dari belakang. "Nar—"

"Aku hanya membeli beberapa barang untuk makan. Kyuu-nii tidak perlu khawatir," ucapnya sembari tersenyum lebar ke arah Kyuubi. Sakit rasanya jika kau sudah mengetahui jika senyuman itu hanyalah senyuman palsu. Kyuubi hanya mengangguk mengerti dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan yang ada di dapur tersebut. Senyuman tipis terukir di wajahnya saat memperhatikan Naruto yang sedang memasukkan minuman kaleng ke dalam lemari pendingin.

"Ibu dan Ayah mungkin akan sedih jika melihatmu seperti ini—"

Naruto terpaku di tempat mendengar perkataan Kyuubi. Naruto tetap diam dan menunggu Sang Kakak untuk melanjutkan perkataannya.

"—mungkin mereka mengira telah gagal dalam membesarkanmu. Aku minta maaf jika menyembunyikan semua yang ada darimu. Aku berharap kau dapat tumbuh seperti remaja pada umumnya. Aku ingin kau melupakan semua kejadian masa lalu itu. Memang sakit rasanya saat mengingat masa-masa itu. Kumohon … jadilah dirimu apa adanya. Berhenti membohongi dirimu sendiri. Aku tahu kauingin mencari tahu tantang kejadian sebenarnya. Aku sendiri bingung dengan apa yang kusimpan di otak ini," ucap Kyuubi sembari menunjuk otaknya dan menatap punggung Naruto dengan tatapan sendu. "Aku tidak tahu apa yang kuketahui ini nyata atau tidak, benar atau tidak, karena aku sendiri tak ingin mengingat kejadian itu."

'TES'

Naruto menutup kedua matanya menggunakan punggung lengan kanannya—tidak ingin Kyuubi melihatnya menangis. Karena Naruto bukanlah sosok cengeng yang selalu bergantung pada Sang Kakak. Naruto menghapus air matanya dengan cepat dan bangkit dari duduknya. Dia menutup pintu lemari pendingin itu dengan perlahan dan berbalik menatap Kakaknya. "Aku akan istirahat. Kyuu-nii juga sebaiknya istirahat," ucapnya sembari tersenyum lebar ke arah Kyuubi. Naruto kemudian pergi meninggalkan Kyuubi yang hanya memasang wajah datar.

"Sial." Kyuubi menutup kedua matanya dengan kuat.

Naruto menapaki tangga dengan perlahan dan membuka pintu kamarnya dengan kasar. Dia menghela napas lelah dan merebahkan dirinya pada ranjang berukuran besar miliknya. Kedua matanya tersembunyi di balik kelopak kecoklatan tersebut. Rasa lelah dan kantuk mulai merenggut kesadarannya. Naruto sempat menoleh ke sebelah kanan dan menatap sebuah figura foto yang begitu disayanginya. "Oya-su-mi," ucapnya sembari kembali memejamkan matanya.

.

.

.

.

'CKLEK'

Itachi membuka pintu apartemen Sasuke dengan pelan, "Dasar ceroboh," ucapnya sembari kembali menutup pintu tersebut. Matanya mengernyit heran saat melihat baskom berisi air dengan sebuah handuk kecil di sebelahnya. Dengan perlahan dia melangkah masuk dan berhenti tepat di depan jendela besar yang sama sekali tak ditutup. "Jendelanya saja lupa untuk ditu-Sasuke?" Itachi segera mendekati Sasuke yang sedang tertidur dalam keadaan duduk. "Hei! ba-shit!" Itachi membulatkan matanya saat dapat merasakan suhu tubuh Sasuke yang sangat panas. Dengan cepat Itachi mengangkat Sasuke dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Itachi segera menyelimuti Sasuke dengan selimut tebal.

'BLETAK'

Itachi menjitak kepala Sasuke dengan kuat. "Dasar bodoh! Kau mau bunuh diri?" ucapnya sembari menatap wajah tidur Sasuke dengan kesal. Ini kali pertamanya bertemu dengan Sasuke setelah Sasuke pulang dari luar negeri. Itachi hanya mampu menghela napas lelah dan segera mengambil ponselnya. Dia nampak mengetikkan beberapa nomor pada layar ponselnya tersebut, "Tolong datang ke apartemen Sasuke," ucapnya saat ponselnya terhubung dengan orang yang dihubunginya. Tanpa menunggu jawaban dari Si Penerima, Itachi menutup ponselnya.

Dia beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Sasuke menuju dapur—untuk mengambil air hangat. Cukup lama Itachi menunggu di ruangan tersebut sampai suara bel pada pintu membuatnya menghela napas lega. Itachi membukakan pintu tersebut dan menatap dokter dengan rambut putih yang menggunakan kacamata besar yang sedang tersenyum ke arahnya. "Silahkan masuk."

Dokter tersebut lalu masuk dan berjalan di belakang Itachi. Dia mengeluarkan peralatannya saat sampai di kamar Sasuke dan segera memeriksa keadaannya. "Dia hanya demam. Jangan biarkan dia keluar terlalu sering. Biar panasnya lebih cepat turun," ucap Dokter tersebut sembari merapikan peralatannya. Dia tersenyum ke arah Itachi dan menyerahkan selembar kertas kecil. "Cari ini di toko obat terdekat."

Itachi hanya mengangguk dan mengantar dokter tersebut sampai depan apartemen, "Terima kasih Kabuto-san," ucap Itachi sembari tersenyum tipis.

"Jaga kesehatanmu juga, Itachi. Jangan sampai seperti Sasuke, hahaha." Dokter itu tertawa sembari melambai kecil ke arah Itachi.

-VargaS. Oyabun-

Langit berwarna kejinggaan tampak memayungi sebuah kampus berukuran besar. Beberapa mahasiswa tampak sedang melangkah ke sana-kemari dengan tak teratur. Mimik wajah lelah dan mengantuk tampak menghiasi sebagian wajah orang-orang tersebut. Suasana sore yang ramai menjelang sepi tampak mewarnai kampus besar ini.

Seorang pria dengan rambut pirang tampak bersandar dengan malas pada sebuah rak buku besar. Matanya menerawang memperhatikan rak-rak besar lainnya yang terletak dengan rapi. Saat ini dia sedang berada di perpustakaan kampusnya. Kegiatan belajar yang telah dilewatinya seharian ini membuatnya lelah dan mengantuk.

'SRET'

Dia membuka matanya dengan cepat dan memasang tampang siaga. Matanya mendelik kesal melihat pria yang saat ini sedang memegangi pipinya. "Apa maumu?" pria berambut pirang itu bangkit dari duduknya dan mengantongi pisau lipat yang baru saja mengenai pipi Sang Pengganggu istirahatnya.

"Ck, kau berlebihan. Aku hanya ingin berterima kasih soal kemarin," jawab sosok berambut hitam kebiruan tersebut sembari membersihkan darah yang mengalir dari pipi kirinya. Kemudian menyodorkan buku tebal yang ada di tangannya ke arah pria pirang di hadapannya. "Aku tunggu laporanmu seminggu lagi. Jangan telat Naruto," ucapnya sembari pergi dari ruangan tersebut. Dia tak memedulikan tatapan kesal yang diberikan oleh Naruto. Mana ada seorang dosen yang takut dengan murid bimbingannya. Sasuke menyeringai tipis. Namun seringaiannya tampak pudar seketika saat matanya menangkap sosok yang sangat tidak disukainya sedang berjalan menuju Naruto. "Bocah itu," desisinya tidak suka.

.

.

"Ikut aku sekarang juga."

Sasuke menoleh ke arah sumber suara sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menangkap seorang pria yang sangat dikenalnya sedang ditarik oleh pria lainnya. Sasuke mendengus kesal sembari berjalan menuju arah yang berlawanan. Sepertinya waktu sudah terlalu sore untuknya tetap di kampus yang terlalu besar ini. Dengan perlahan dia menapaki tangga turun dan berbelok menuju kantor pribadinya.

Sasuke mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari kampus tersebut. Sasuke membuka pintu mobilnya dengan cepat dan mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Namun tiba-tiba matanya kembali memperhatikan kampus tersebut. "Kenapa mereka lama sekali?" tanyanya dalam hati sembari mengacak surai gelapnya. Tak ingin repot, Sasuke mulai menjalankan mobilnya dan berhenti tepat di dekat gerbang kampus tersebut. "Aku tunggu sebentar lagi," ucapnya pada akhirnya dan mematikan mesin mobilnya.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit sudah terlewati. Perasaan Sasuke mulai tidak enak. Sasuke menajamkan pendengarannya saat kedua telinganya mendengar dentingan piano yang cukup nyaring hingga terdengar sampai keluar kampus. Suasana kampus yang sudah sepi menambah tajam pendengaran Sasuke. Perasaan Sasuke semakin gundah saat mengingat arah dua orang pria yang tadi dilihatnya. Dengan cepat Sasuke keluar dari mobilnya dan kembali masuk ke dalam kampus tersebut.

Kakinya menapaki tangga-tangga tersebut dengan cepat. Keringat dingin mengalir dari pelipis kanannya. Sasuke mencoba untuk mengikuti arah suara piano tersebut dan matanya terpaku pada sebuah ruang musik yang ada tepat di pojok lorong. Sasuke mendekati ruangan tersebut dan dapat mendengar dengan jelas suara dentingan piano tersebut.

"Aku sudah mengatakan padamu untuk tak mendekatinya, bukan?"

Sasuke mengernyit heran saat mendengar suara tersebut. Dia sangat mengenal suara itu. Meskipun samar, dia masih dapat mendengar dengan jelas omongan orang tersebut.

"Aku tidak suka jika milikku disentuh oleh orang la—"

'BRAK'

Sasuke membuka pintu tersebut dengan kasar.

Dan?

Di sana ada seorang pria berambut merah bata yang sedang duduk di depan sebuah piano besar sembari memainkan jari-jemarinya dan dia sedang menyeringai ke arah Sasuke. Namun bukan itu yang menarik perhatian Sasuke. Yang membuatnya sangat terkejut adalah tubuh yang tergeletak lemah di atas piano lainnya. Tubuh yang penuh dengan darah dan goresan luka—

"Hai, Uchiha. Sepertinya aku tak mengundangmu, hahaha."

—dan … itu Naruto.

Sasuke membulatkan matanya saat melihat darah yang tergenang di bawah piano tersebut. Matanya menatap takut ke arah tubuh Naruto. Dadanya masih bergerak naik dan turun dengan sangat lemah. "Apa yang kau lakukan terhadapnya, sialan?" ucap Sasuke dengan nada yang terdengar sangat marah.

"It is your fault. I told you beforeand I'll tell you again this timeDo not ever touch my Naruto," ucap Gaara sembari menyeringai tipis. Jejak-jejak jemarinya yang terlumuri darah Naruto menempel pada tuts-tuts piano tersebut. Gaara lalu menatap Naruto yang sedang memasang tampang pasrah. Naruto hanya terdiam dengan mata yang sayu. "My lovely Naruto."

Bersambung...

Terima kasih bagi yang telah membaca. Maaf jika cerita ini jadi sedikit aneh dan tidak nyambung. Benar, gak? Heheh. Sore ja! Matta ne~