A/N : Chapter tiga dibuat sama author Synstropezia. Kami memutuskan memakai cara ini karena tidak memiliki waktu untuk mengerjakannya bersama. Chapter terakhir akan dibuat oleh teman saya, dan keputusan ending juga berada di tangannya. Selamat membaca dan semoga kalian suka (karena ini murni buatan saya, takutnya pada gak suka)
Umm….
"Ayah ibu! Kalian baik-baik saja?" tanya Nashi berlinang air mata, memegang erat tangan Natsu yang tengah terkulai lemas di atas ranjang pasien
"Nashi….itukah kamu?" giliran Natsu melontarkan pertanyaan, samar-samar melihat perempuan bersurai pink ikat dua itu menangis tanpa suara. Yang jelas dirasakan oleh kulitnya adalah, genggaman tangan Nashi bertambah kuat
"Maaf...maafkan aku! Karena salahku ayah dan ibu jadi korban. Aku kurang kuat, aku kurang berlatih!" Nashi terus menyalahkah diri sendiri, tangisanya yang kian menjadi dihentikan elusan kepala lembut dari Natsu
"Ini salah kedua maling itu, bukan kamu atau siapa pun. Berhentilah menangis, ayah dan ibu baik-baik saja kok"
"Ta-tapi….ibu tak kunjung bangun sedaritadi. Aku tidak mau kehilangan meski hanya satu!"
Mendengar aduan Nashi, pemuda bermarga Dragneel itu hanya menundukkan kepala, hening sejenak membiarkan suara tangis putrinya mengalir di sekitar udara yang bercampur dengan hembusan AC. Memang benar, Lucy belum bangun dan kondisinya tidak terlihat baik, selang infus yang melekat dan suara elektrokardiograf semakin menambah kesedihan. Nasih mana mengerti apa yang terjadi, tetapi denyut jantung sang ibu entah kenapa terkesan aneh.
Tok…tok…tok….
CKLEK!
Jubah putih yang dikenakan pria bertubuh pendek itu berkibar pelan, di sebelahnya ada seorang wanita muda dengan pekerjaan sebagai suster. Usai melakukan pemeriksaan singkat, dokter sekedar menggelengkan kepala pelan, nyaris membuat jantung Natsu berhenti berdetak sesaat. Ada dua kemungkinan dari isyarat barusan, pertama : mengenai kabar buruk yang harus mereka dengarkan kapan pun tanpa mempedulikan situasi serta kondisi. Kedua : semata-mata hanya iseng agar pasiennya dibuat dag-dig-dug.
"Keadaan Heartfilia-san cukup buruk. Dia mengalami luka serius dan racunnya telah menyebar. Kalau begini terus, cepat atau lambat kematian bisa menjemputnya" terang dokter secara singkat yang dapat dipahimi Natsu dan Nashi. Kepala mereka ditundukkan sendu, tubuh pendeknya menepuk pelan punggung berbalut seragam rumah sakit tersebut
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Terkadang harapan adalah obat terbaik"
"Aku mohon, selamatkanlah Lucy bagaimanapun caranya! Kami…kami masih membutuhkannnya" isak tangis yang menyangkut di kerongkongan kini Natsu keluarkan terang-terangan. Keputusuasaan menguncang mental sekuat baca itu, melelehkannya dalam sekali serangan
"Apa ada ramuan, yang bisa mempercepat kesembuhan ibu?" tanya Nasih bernada serius, kesedihan bercampur amarah mengelilingi aura di sekitarnya yang menimbulkan kesan ngeri
"Sayangnya tidak ada. Racun yang menyerang ibumu dinamakan 'devil toxic', bahkan sampai sekarang ilmu kedokteran belum mampu menemukan penawarnya. Apalagi kasus Heartfilia-san termasuk langka, satu berbanding satu juta di dunia"
Kejujuran selalu paling menyakitkan di antara semua jenis perkataan. Nashi berlari keluar kamar, membanting pintu keras hingga terdengar bunyi BLAM! Lucy tidur dalam tenang, dan itu semakin mengacau balaukan suasana hati Natsu, yang awalnya senang lalu dipaksa merasakan sakit kembali. Dokter pamit pergi untuk memeriksa pasien lain, meninggalkan sepasang kekasih itu di tengah suasana hening.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Kemana pun Nasih pergi, Natsu berharap dia tidak sembarangan melakukan hal buruk semacam bunuh diri. Ah, aku tau dia bukanlah anak yang bodoh, gumam Natsu berusaha menepis pikiran negatif, lebih baik dia mengistirahatkan tubuh dan jiwanya dengan tidur yang cukup walau kurang nyenyak. Kedua bola matanya dipejamkan, membawa alam kesadarannya larut dalam dunia mimpi.
"Yo Lucy sedang apa?" pundak wanita bersurai pirang itu ditepuk lumayan keras. Tidak ada respon maupun bahasa tubuh yang ditunjukkan, Natsu mengernyitkan dahi heran
"Lucy apa kau mendengarku? Hey Lucy!"
"Maaf tetapi kamu siapa?"
"Jangan bercanda! Aku ini Natsu Dragneel kekasihmu. Kita kedatangan tamu dari masa depan, yaitu Nasih yang tidak lain akan menjadi anak kita di masa mendatang"
"Aku serius mengatakannya. Kamu dan Nashi itu siapa?"
"Tidak Lucy, katakanlah semua yang kamu ucapkan hanya candaan buruk semata!" Natsu enggan menerima kenyataan, menggoyangkan kedua bahunya kencang akibat takut berlebih
"Menganggu sekali, aku harus pergi sekarang" balasnya kasar, meninggalkan Natsu menuju sebuah pintu berukuran besar
"Lucy, kau mau pergi kemana?!"
"Lucy"
"Lucy!"
"LUCY!"
"Tidak, jangan tinggalkan aku Lucy! Kami masih membutuhkanmu, kami masih menginginkanmu untuk kembali!" erang Natsu menggeliat seperti cacing kepanasan, bahkan tangan kanannya menyingkirkan segala benda di atas laci, sampai seseorang menahan gerak Natsu yang berlebihan
PRANNNG!
Selembar foto nampak melayang di udara, menyentuh lantai lembut tanpa bersuara sedikit pun. Serpihan kaca menyebar ke segala arah, bingkai kayu berukiran bunga itu rusak tak bersisa, hanya berwujud kepingan-kepingan kecil yang sangat berbahaya jika terkena kaki telanjang. Tangan kecil seorang anak perempuan berusia dua belas tahun meraih foto berukuran 6x9 tersebut. Air mata terjatuh membasahi, dari waktu ke waktu bertambah deras hingga luntur seluruh sisinya.
"Ayah tenang saja, ibu tidak mungkin meninggalkan kita. Aku mengetahuinya, karena ibu menyayangi kita semua" seiring dengan perkataan yang diucapkannya, Nashi meremas selembar foto itu menjadi remuk. Siapa peduli? Nyawa seseorang jauh lebih penting dari benda duniawi
"O-oh, rupanya kamu Nashi. Ayah pikir siapa"
"Paman Gray, Mira-nee dan yang lain menitipkan ini pada ayah" ujar Nashi menyodorkan sekeranjang buah, juga setumpuk kartu ucapan yang diberikan seluruh anggota gulid usai mendapati berita kedua temannya masuk rumah sakit
"Sampaikan terima kasih ayah pada mereka. Kamu sudah makan?"
"Uhmm! Tadi Mira-nee membuatkanku nasi goreng. Ayah harus mencobanya" usahanya lumayan keras untuk mencairkan susasana tegang di antara mereka. Natsu tersenyum pilu, menolak saran Nashi selembut mungkin
"Nanti saja, ayah tidak nafsu makan"
Bisa dilihat kasat mata, kondisi mental Natsu belum pulih seutuhnya. Nashi menyadari satu hal, sekuat apa pun seseorang dia pasti memiliki sisi lemah. Terbukti sekarang, rasa frustasi yang Natsu rasakan dapat membunuhnya perlahan-lahan namun menyakitkan. Matahari telah terbenam di ufuk barat, menampilan hamparan langit malam penuh bintang yang teramat indah. Nashi ingin menjaga ayahnya di rumah sakit sampai besok, walau disuruh pulang ke rumah berulang kali pun dia tetap bersikukuh.
"Ayah tidak bisa aku tinggalkan sendirian. Aku berjanji akan terus bersama ayah hingga ibu bangun dari koma"
"Baiklah, tetapi jangan terlalu memaksakan diri"
"Apa ayah suka bintang jatuh?" tanya Nashi mendadak. Natsu memalingkan muka sesaat, tengah memikirkan jawaban yang sesuai dengan kemauan
"Ayah menyukainya, terutama ibu. Apalagi kalau ada bintang jatuh, kami sering membuat permohonan di atas bukit, tetapi itu cerita di masa lalu"
"Jika ibu sudah sembuh, kita bisa melihatnya bersama-sama"
"Maksudmu Lucy? Bukankah dia sudah meninggal dari lama sekali? Kamu ini bicara apa?" mendengar jawaban yang keluar dari mulut ayahnya, spontan Nashi tersentak kaget. Kursi beralas kayu itupun terjatuh karena perubahan sikapnya yang tak terduga
"Apa maksud ayah?! Ibu belum meninggal!"
"Nashi, ayah mohon jangan bicara lagi. Sekarang sudah malam, ayo tidur"
"Te-tentu, aku akan pulang ke rumah"
"Itu baru anak ayah" balas Natsu tersenyum simpul. Nashi membuka pintu dan berlari di sekitar lorong rumah sakit, mencari seseorang di tengah kesenyapan yang mencengkram
Hosh…hosh…hosh….
Dokter berjubah putih itu menengok usai mendengar hembusan nafas Nashi yang tidak karuan. Dia sendirian, sedang duduk di ruang tunggu sembari meneguk secangkir kopi hangat. Tak tanggung-tanggung Nashi berjalan mendekat. Jelas sekali perasaannya berkata ada yang janggal, dan untuk mencari jawaban tersebut dia hendak bertanya kepada seseorang yang diyakini mengetahuinya. Dokter Makarov, penanggung jawab dua pasien kamar nomor 689.
"Dokter, ada yang ingin saya tanyakan"
"Kenapa tidak besok? Sekarang kan sudah malam, sebaiknya kamu pulang" nasehat dokter ditolak Nashi mentah-mentah, pikirannya gagal ditenangkan menyadari satu kesalahan fatal yang mengakibatkan sayng ayah stres berat
"Dimana ibu saya berada?"
"Jadi kamu telah menyadarinya, ya….Heartfilia-san masuk ICU ketika Dragneel-san tertidur. Kemungkinan ibumu selamat hanya sepuluh persen. Siapkanlah mental sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan"
Kedua kaki Nashi membatu di tempatnya berdiri sekarang, dokter Makarov menanggalkan jubah putih yang dia pakai, melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Di belakangnya wajah sendu Nashi mengikuti. Tuhan mengacaukan skenario keluarga bahagia mereka, dia tentu berhak marah, mengutuk keputusan di masa depan yang ternyata jauh berbeda dari pengelihatannya selama ini. Perpustakaan Fairy Tail di ruang bawah tanah menjadi tempat Nashi menyendiri. Deretan rak buku tua yang tidak menarik dari segi manapun.
BRUKK!
"Ittai….kenapa buku ini jatuh mengenai kepalaku?" gumam Nashi mengelus pucuk kepalanya yang sakit. Tidak terlalu menarik, cover berwarna merah tua dengan debu yang menempel. Sangat kotor!
"Dragon Slayer?"
Dia baru tau ada buku seperti itu di dunia. Nashi membuka halaman per halaman secepat angin, dan menemukan aritkel tentang kandungan darah dragon slayer. Ya, terdengar gila serta penuh kontoversi. Merasa tertarik dia pun membacanya, terus begitu sampai jam berdenting sebanyak tiga kali berturut-turut, pukul dua belas tengah malam tepat. Nashi menutupnya kasar, merogoh isi tong sampah di depan gulid entah apa yang dicari.
Keesokan harinya….
Suster memberi tau kabar baik, Lucy telah dipindahkan kembali ke kamar pasien biasa setelah berhasil melewati masa kritis. Nashi tersenyum gembira mendengarnya, meski dokter Makarov tak bosan mengingatkan 'persiapkan mental untuk segala kemungkinan terburuk'. Peringatan tersebut Nashi ukir dalam otaknya yang mendadak sempit, mau bersenang hati pun tidak boleh dilakukan berlama-lama. Pertama kali dia membesuk sang ibu terlebih dahulu, meski Lucy belum membuka mata sejak kemarin.
"Selamat siang ibu, aku datang menjengukmu hari ini"
"Lihat! Mira-nee membawa buah apel kesukaan ibu. Aku juga membuat kartu ucapan untuk ibu, semoga cepat sembuh ya!"
"Ayah baik-baik saja kok, ibu tidak perlu khawatir, dan…."
"Beristirahatlah dengan tenang"
Dialog monolog yang Nashi ucapkan dengan nada manisnya berubah drastis, dia mengambil suntikan bekas berisi cairan merah di kantong celana, menusuknya sembarangan di sekitar kulit yang tidak tertutupi seragam rumah sakit. Senyum keji itu mengembang pasti, kali ini biarkan Tuhan berkehendak di atas takdir nan kejam tersebut.
Hanya perlu mengatakan selamat tinggal, apa sulit?
Bersambung….
