02.
.
.
.
Johnny terlihat memainkan bolpoin ditangannya, sementara meeting dengan board of directors sedang dilaksanakan. Sejak tadi dirinya memang tidak begitu fokus mengikuti acara rapat mingguan yang dihadiri oleh para petinggi NCT Entertainment itu. Pikirannya justru tertuju pada acara lunch date yang tak lama lagi akan ia hadiri. Rasanya ingin cepat-cepat keluar dari ruang rapat dan menuju restaurant bintang 5 di kawasan Hongdae sebagai lokasi makan siangnya hari ini bersama dengan pemuda cantik bernama Ten.
"Tuan Seo, bagaimana menurut anda?"
Pertanyaan dari salah satu direktur yang hadir membuat Johnny kalang kabut. Tak kurang ada 8 pasang mata yang kini menunggu jawaban darinya. Johnny terlihat menelan ludah, sementara keringat perlahan membasahi tubuhnya ditengah udara dingin air conditioner. Tunggu tadi mereka sedang membicarakan apa?
"Errr, aku setuju dengan pendapat dari Tuan Jang, soal bekerja sama dengan artis dan musisi luar. Mereka bisa memberikan sentuhan yang berbeda pada lagu maupun choreo artis-artis kita. Aku juga memiliki beberapa nama yang sepertinya dapat kita ajak bekerja sama untuk projek kedepan, baik penulis lagu maupun produser musik. Sore ini aku akan mengirimkan file-nya…"
Johnny menarik nafas lega, melihat anggukan persetujuan dari sang pemimpin rapat, Kim Joonmyun. Pria bertubuh mungil dengan wajah tampan yang memiliki tingkat intelligence yang tinggi. Rapat kembali dilanjutkan dengan beberapa kesimpulan yang berhasil dirangkum oleh sekretaris direksi, Bae Joohyun, sebelum tak lama ditutup dengan apik oleh Presdir Kim. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 12.07 siang –nampaknya dia akan sedikit terlambat tiba di restaurant tempatnya berkencan.
"Hey, hari ini kau mau makan dimana?" Tanya Oh Sehun, salah satu rekan kerjanya di bagian promosi, begitu melihat Johnny berjalan keluar dari ruangan meeting. Pria bertubuh jangkung itu hanya mengedipkan sebelah matanya sambil terus berjalan berlawanan arah. Sehun mengenyitkan alisnya bingung, melihat kelakuan aneh yang baru saja dilakukan koleganya itu.
"Sorry, man! Aku ada janji makan siang dengan seseorang. Kau makan sendiri saja kali ini." Seru Johnny tanpa memutuskan untuk singgah terlebih dahulu. Pria itu terus saja berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dasar.
Sehun menggelengkan kepalanya takjub.
.
.
.
Ten mengecek layar ponselnya berulang kali, berharap mendapat notifikasi dari pria, yang sejak 20 menit lalu ia tunggu. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 12 lebih 30 menit dan belum ada tanda-tanda bahwa pria tampan itu akan segera muncul. Pemuda asal Bangkok, Thailand itu nampak resah, memainkan ujung kemejanya sementara beberapa pengunjung disekitarnya mulai menatapnya aneh. Sejujurnya ia baru pertama kali berada di restaurant bintang 5 seperti ini, dan ia sama sekali tak berfikir bahwa keputusannya untuk mengenakan kemeja biru dan jeans merupakan sebuah kesalahan fatal. Dirinya terlihat kontras dengan mayoritas pengunjung lainnya, membuatnya ingin segera pergi meninggalkan ruangan dan jauh dari tatapan penuh penghakiman.
Ia mencoba menahan keinginannya dan memutuskan untuk tak menghiraukan pandangan manusia-manusia di sekelilingnya. Berharap cemas akan sosok yang membuatnya berada di situasi tak menyenangkan ini. Pikiran-pikiran negatif mulai merasuki perasaannya. Bagaimana kalau semua ini hanyalah lelucon? Ah tidak! Sepertinya dia bukan orang seperti itu.
"Permisi tuan, apakah sudah siap untuk memesan?" Pelayan yang sama kembali menghampiri dirinya. Sudah 2x ia menolak untuk melakukan pesanan dengan alasan yang sama –masih menunggu seseorang. Nampaknya kali ini alasannya sudah tidak lagi valid, melihat sosok yang sejak tadi ia nantikan berjalan ke arah-nya sambil menunjukkan senyum.
"A-aku p-"
"Maaf membuatmu menunggu lama. Oh, apakah kau sudah memesan? Aku memiliki rekomendasi yang tepat untukmu, tunggu sebentar…"
Ten hanya mampu terdiam kala Johnny mulai merapalkan kata-kata asing kepada sang pelayan yang nampaknya begitu menyukai kehadiran pria tampan itu. Jelas saja, dia nampak begitu rupawan dengan setelan navy blue disertai dasi berwarna silver. Rambut hitamnya terlihat sedikit berantakan –yang tetap saja mampu mengurangi ketampanan yang ia miliki.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku harus menghadiri meeting dan baru selesai 20 menit yang lalu. Aku langsung menuju kemari karena aku takut kau berubah pikiran." Aku pria itu dengan sebuah senyum yang membuat Ten merasa sedikit salah tingkah.
"Tidak apa-apa. Paling tidak kau sudah disini sekarang."
Johnny meraih tangan pemuda cantik yang kini terkejut menatapnya. Wajahnya terlihat begitu sederhana dan indah, berbanding terbalik dengan kecantikan semu yang kerapkali ia temui disepanjang hidupnya. Ia dapat menyaksikan bayangan dirinya pada manik mata pemuda yang kini berusaha menarik kembali pergelangan tangannya.
"Sorry…aku…"
Kejadian canggung yang baru saja terjadi berhasil diselamatkan oleh kehadiran sang pramusaji yang mulai meletakan beberapa piring kecil berisi sajian pembuka. Kedua pasang anak manusia itu masih enggan bertemu pandang dan mulai menikmati hidangan dengan tak saling bicara. Johnny berusaha bersikap normal dengan beberapa kali meminta pertolongan pemuda cantik itu, sekedar mengambilkan penambah rasa yang kebetulan berada di dekatnya.
"Apa kau menyukainya?"
Ten mendongakkan kepalanya, menemui mata cokelat milik Johnny sebelum mengangguk pelan. Sejujurnya semua makanan ini terasa asing di lidahnya. Entahlah, ia merasa lebih nyaman dengan makanan siap saji atau menu di kedai makanan yang biasa ia kunjungi bersama dengan teman-temannya. Melihat Johnny yang begitu bersemangat agaknya kurang pantas apabila saat ini ia memilih untuk berterus terang.
"Kalau begitu aku bisa kembali mengajakmu kesini lain kali." Tukasnya masih dengan antusiasme yang tinggi.
"Tidak perlu repot-repot, kau bisa mengajakku ke tempat lain." Ten buru-buru berujar. Tidak! Dia tidak ingin kembali ke tempat ini.
Johnny mengulas sebuah senyum yang akhirnya mampu membuat Ten tersipu malu.
"Aku senang kau menunjukkan ketertarikan yang sama denganku."
Ten hanya mampu terdiam, tak berani membuka suara.
.
.
.
.
Suara mesin mobil yang menderu, membuat Taeyong terpaksa menghentikan sementara kegiatan memasaknya dan bergegas menuju bagian depan kediamannya. Nampak dari kejauhan sosok sang kekasih yang baru saja keluar dari mobil Porsche miliknya yang terparkir sempurna. Pemuda cantik itu segera merapikan diri, sebelum keluar dan menyambut kekasihnya. Tak menyadari aura berbeda yang dipancarkan oleh pria tampan bernama Jung Jaehyun.
"Sayang, kau sudah kembali?" Sambutnya dengan begitu lembut. Senyumnya yang menawan nampak menghiasi wajah bareface-nya yang tetap terlihat mempesona. Hari ini dirinya begitu berbahagia, tidak ada schedule apapun sehingga ia bebas menikmati waktunya sekedar bersantai dan mencoba beragam resep baru dirumah.
"Kita perlu bicara…"
Jaehyun nampak menarik pergelangan tangan Taeyong, bergegas memasuki rumah mewah itu. Taeyong menautkan kedua alisnya, sedikit bingung dengan sikap kekasihnya yang terkesan janggal. Sebetulnya ada apa ini?
"Ada apa?" Tanyanya sedikit ragu, begitu keduanya berada di dalam ruangan utama rumah bernuansa eropa, yang menjadi tempat tinggal keduanya sejak 1 tahun terakhir. Taeyong menatap wajah kekasihnya dengan penuh selidik, berusaha mencari tahu alasan dibalik sikap Jaehyun yang ganjil. Meskipun tak lama Jaehyun secara implisit, berhasil menjawab pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya.
"Mengapa rumor semacam ini bisa sampai viral ke berbagai media?"
Pemuda tampan itu menyerahkan padanya, sebuah surat kabar dengan headline besar di bagian depan, bertuliskan 'Lee Taeyong segera melepas masa lajangnya dengan sang kekasih, Pengacara Jung.' Taeyong segera meraih gulungan kertas di tangan Jaehyun. Matanya bergerak kesana kemari tak berani beradu pandang dengan kekasihnya yang sudah pasti akan kecewa, sementara Jaehyun terus mengamati perilaku sang kekasih yang mulai bergerak tak nyaman.
"Aku memang mengatakannya semalam."
Pengakuan dari Taeyong tak pelak membuat Jaehyun terkejut bukan main. Untuk apa kekasihnya menyebarkan kebohongan murahan seperti ini? Apakah ini merupakan bagian dari gimmick yang ia gunakan untuk menaikkan popularitasnya? Atau untuk mendongkrak bisnis barunya? Apapun alasannya, menurut Jaehyun tindakannya kali ini sudah keterlaluan dan merupakan bentuk kecerobohan.
"T-tapi, untuk apa? Apakah ini bagian dari trik marketing untuk menaikkan popularitas brand perhiasanmu?" Jaehyun menebak-nebak. Masih enggan mempercayai perihal kekasihnya yang telah bertindak sembrono. Aneh sekali!
"Kau fikir aku serendah itu?" Pekik Taeyong sedikit menaikkan intonasinya, tak terima dengan tuduhan yang ditujukkan padanya. Bagaimana bisa Jaehyun sampai mempunyai fikiran semacam itu padanya? Bukankah selama 5 tahun mereka bersama, Jaehyun menjadi sosok yang paling mengerti dan memahaminya?
Pengacara tampan itu menarik nafas panjang, sebelum memutuskan untuk mempersempit jarak antara dirinya dan sang kekasih, berusaha merengkuh tubuh mungil Taeyong dalam sebuah pelukan dan mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di leher jenjangnya. Ia paham bagaimana Taeyong sangat menyukai gesture seperti yang tengah ia lakonkan. Sayangnya yang terjadi kali ini sedikit berbeda, ketika Jaehyun mulai merasakan penolakan atas usahanya. Ya, Taeyong terlihat beringsut sebelum mendorong pelan tubuh pria yang lebih dominan itu, menjauh dari tubuhnya.
"Hentikan. Ini tidak akan menyelesaikan apapun." Sergah Taeyong yang membuat laki-laki tampan itu menatapnya dengan ekspresi kecewa.
"Ayolah Taeyong, aku akan menghubungi rekanku di media besok, dan meminta mereka untuk menarik semua pemberitaan tentangmu. Semuanya akan seperti sedia kala, kau dan aku tanpa rumor impulsif yang tak sengaja kau buat." Jaehyun berusaha membujuk kekasihnya dengan alasan-alasan logis yang mampu ia kemukakan. Berharap respon kooperatif yang kemudian ia dengar dari bibir manis pemuda yang telah ia cintai sejak 5 tahun silam. Sayang sekali realita yang ada nampaknya tidak sejalan dengan idealisme menurut sudut pandangnya.
"Aku tidak mau." Ujar Taeyong tegas.
Seketika ekspresi wajah Jaehyun nampak mengeras. Kedua anak manusia itu saling tatap, masing-masing dengan ego-nya yang tak ingin dikalahkan. Taeyong tetap bersikukuh dengan keputusannya tanpa peduli dengan beragam alasan yang coba disampaikan oleh Jaehyun untuk mengubah pemikirannya.
"Katakan padaku apa yang kau inginkan?" Merasa tak akan menemui titik terang, Jaehyun memutuskan untuk merendahkan ego-nya, melakukan kompromi untuk menyelamatkan hubungannya.
"Aku ingin kita menikah, Jaehyun."
Butuh waktu beberapa detik untuk Jaehyun mencerna perkataan yang dilontarkan oleh Taeyong. Pemuda tampan itu sempat menatapnya tak percaya sebelum suara tawa kecil terdengar keluar dari celah bibirnya. Taeyong mengernyitkan dahinya berang, tak menyangka akan menerima reaksi seperti ini dari sang kekasih.
"Kau jelas-jelas tahu kita tidak memiliki pemahaman yang sama soal pernikahan. Kita sudah bahagia sejauh ini, untuk apa menikah jika kita hanya akan saling menyakiti nantinya? Lagipula aku sudah mengatakannya padamu beberapa tahun lalu dan kau tak ambil pusing. Kenapa kau baru meributkannya sekarang?"
"Karena aku lelah menunggu. Aku juga ingin seperti pasangan lain di luar sana yang berjanji sehidup semati didepan orangtua dan teman-teman, membangun keluarga seperti manusia normal lainnya." Taeyong mulai menunjukkan sikap defensif. Ia melipat kedua tangannya, sambil terus menjaga ruang privasinya, tak ingin pria tampan itu mendekat barang se-inchi-pun.
"Ada apa denganmu dan pernikahan? Kenapa kau begitu terobsesi dengan hal-hal tak penting? Dengar! Kau dan aku, kita saling mencintai, hanya itu yang penting. Kau tak perlu mendengarkan orang lain, selama kita sama-sama bahagia menjalani hubungan ini."
Taeyong sedikit terperangah mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Ia dapat melihat bagaimana tubuh Jaehyun bergetar meradang, nafasnya sedikit tersenggal. Pemuda berparas elok itu memilih untuk menghindari tatapan lawan bicaranya, dan menatap kosong ke lantai tempatnya berpijak. Dadanya terasa berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
"Tidak penting ya?" Taeyong tertawa miris. "Tidak apa aku mengerti. Aku rasa aku memang keterlaluan, memaksamu dengan semua hal 'tidak penting' yang sejujurnya amat penting untukku." Lirih Taeyong, menahan emosinya yang sejak tadi tertahan.
"Aku rasa kita membutuhkan waktu untuk saling menginstrospeksi diri masing-masing."
"Apa maksudmu?" Pengacara kenamaan itu sedikit tersentak. Ya, Jaehyun membutuhkan konfirmasi langsung atas asumsi yang baru saja ia lakukan. Tunggu, ini tidak seperti yang ia fikirkan, kan?
"Let's break up!" Tandas Taeyong. Sosok cantiknya perlahan menjauh meninggalkan Jaehyun yang masih terus saja mematung, sibuk mencerna kata-kata yang terus menggema di telinganya. Perasaannya berkecamuk, beragam emosi mulai menguasai pikirannya yang mulai kalut.
.
.
.
"Apa kau yakin disini tempatnya?"
Sicheng memandang sebuah gedung bertingkat dari balik kaca mobil. Matanya kembali tertuju pada aplikasi penunjuk jalan di smartphone miliknya sebelum menjawab pertanyaan pemuda dari balik kemudi. Betul kok, sesuai dengan apa yang tertera pada mesin pencari alamat itu.
"Kurasa benar ini tempatnya. Aku akan segera mencari tahu, kau tunggu saja disini atau di parkiran, terserah kau saja. Aku akan menghubungimu jika sudah selesai menyerahkan hadiah ini…"
Lee Seokmin hanya menatap pasrah ketika sosok pemuda cantik itu segera berlalu meninggalkannya –tepat didepan gerbang masuk sebuah gedung perkantoran. Sorot matanya terus memperhatikan si pemuda asal tiongkok yang tak lama menghilang dibalik pintu otomatis. Hatinya sedikit mencelos menyaksikan bagaimana perasaan cemburu mulai mengambil alih perasaannya. Ya, DK menyukai Sicheng, lebih dari seorang teman atau sahabat.
"Permisi, bisakah aku bertemu dengan Tn. Nakamoto?" Sapa Sicheng pada seorang perempuan yang berada dibalik meja receptionist. Si perempuan kemudian menatap pemuda dihadapannya dengan pandangan curiga. Untuk apa laki-laki ini menemui pemilik sekaligus atasan tempatnya bekerja?
"Keperluannya?" Tanyanya dengan nada yang tak ramah, matanya sibuk mengamati penampilan Sicheng dari atas ke bawah. Terlihat bagaimana ekspresi wajah pemuda cantik yang sedikit mengendur karena ulahnya.
"Hm, aku ingin memberikan sesuatu padanya…"
"Kau bisa menaruhnya disini, aku akan menyerahkannya nanti." Sahut sang resepsionis masih dengan aura yang tak bersahabat, membuat Sicheng mulai mengerutkan bibirnya sebal.
"Sebentar saja kok, aku hanya ingin memberikannya secara langsung, karena ini hadiah spesial." Desak Sicheng berusaha bernegosiasi dengan perempuan berwajah masam itu, masih saja mengharapkan respon positif darinya.
"Sudah kukatakan, taruh saja disini, kalau kau tidak mau, kau bisa kembali lain kali." Sergah perempuan dengan nametag bertuliskan Cha Boksun, sedikit kesal dengan sikap tamu laki-laki dengan aksen asing itu. Sungguh keras kepala!
"Boksun-noona, aku berjanji aku akan memberimu tiket konser EXO jika kau mengijinkanku menemui Yuta-ge, aku mohon…" Sicheng kembali merajuk dengan pandangan memelas, berharap belas kasihan dari perempuan berwajah kecut dihadapannya. Boksun, perempuan itu menautkan kedua alisnya bingung. Ada hubungan apa antara laki-laki cantik ini dengan Tn. Nakamoto, sampai-sampai dirinya berani menyebutkan nama depan orang terpenting dikantor ini?
"Dengar yaa adik manis, kantor ini memiliki peraturan yang tidak tidak bisa kau ubah seenaknya. Jika kau betul-betul ingin memberikannya langsung, berikan padanya diluar jam kantor –dimanapun kau bisa menemuinya tentu saja. Sekarang bisakah kau segera menyingkir, masih ada tamu lain yang perlu kutangani. Terima kasih."
Sicheng menarik nafas kecewa. Tak ingin berakhir dengan ejekan dari temannya Seokmin, dirinya memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya sejenak pada sofa yang tersedia, kembali menggerutu kesal. Apa-apaan ini masa bertemu sebentar saja tidak bisa? Memangnya dia siapa? Pemilik gedung ini? Huh, apa yang harus aku lakukan?
"Selamat sore Tn. Nakamoto, anda sudah ditunggu di ruang rapat…"
Pemuda cantik itu berdelik seketika saat telinganya secara tak sengaja menangkap nama yang sama dengan nama seseorang yang ingin ia temui. Sicheng segera menolehkan kepalanya dan benar saja, tak jauh dari tempatnya berada saat ini, sesosok pria tampan bernama Yuta nampak berdiri gagah dengan penuh karisma. Pria itu mengenakan kemeja putih panjang yang sengaja ia lipat dibagian lengannya, sementara tangan kirinya membawa serta jas berwarna beige. Sepertinya ia baru saja tiba dari suatu tempat.
"Yuta-ge!" Sicheng melambaikan tangannya antusias. Teriakannya yang spontan membuat beberapa mata mau tak mau menatap kearahnya, termasuk laki-laki bernama Yuta yang merasa terpanggil.
"Winwin? Apa yang kau lakukan disini?" Tanpa ragu Yuta segera menghampiri pemuda cantik itu dengan seutas senyum. Matanya berbinar menyaksikan sosok jelita yang kini balik menatapnya dengan penuh minat.
"Uh, aku ingin memberikanmu hadiah sebagai permintaan maaf atas kejadian di Redline Jewerly kemarin. Aku harap kau mau menerimanya…"
Pemuda berparas elok itu kemudian menyerahkan sebuah paperbag dengan nama salah satu brand fashion highend dunia. Yuta sempat terkejut, sebelum memutuskan untuk menerima pemberian dari pemuda manis yang wajahnya begitu mengesankan. Ia lalu menemukan sebuah kemeja dengan design yang sama persis dengan apa yang ia kenakan di malam itu. Senyumnya kembali terkembang, menemui wajah innocent yang terlihat cemas menantikan respon darinya.
"Sudah ku katakan, kau tidak perlu repot-repot memberiku tanda maaf seperti ini."
Sicheng terlihat mengerutkan bibir merah jambunya, tak menyadari pandangan nafsu yang dilayangkan padanya ketika melakukan kebiasaannya itu. Tahan Yuta, tahan, dia itu keponakan sahabatmu, kau tidak bisa melakukan apapun padanya!
"Tapi aku memang ingin memberimu sesuatu. Apakah tidak boleh?" Ekspresinya nampak menggemaskan, membuat Yuta hampir saja kehilangan sebagian akal sehat. Pria itu kemudian menoleh ke-kiri dan kanan, menemukan beberapa pasang mata yang memandang minat pada adegan yang ia lakoni bersama dengan pemuda cantik dihadapannya. Tak hanya itu, ia juga sempat melihat sang sekretaris yang kini nampak tak sabar menunggu kehadiran dirinya didekat lift.
"Dengar Winwin, aku harus pergi sekarang, ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Berikan aku nomormu, aku janji akan menelponmu nanti, dan jika kau tidak keberatan, aku akan mengajakmu makan malam setelah aku selesai dengan tugas-tugasku hari ini."
Sicheng tersenyum lebar, ketika ia mulai mengetikan beberapa deret angka pada ponsel milik Yuta. Sedikit mengerjai laki-laki charming itu dengan memberi petname di kontaknya yang bertuliskan 'Winwinie ^^' , sebelum mengembalikan benda segiempat itu ketangan sang pemilik.
"Aku tunggu telponmu, Yuta-ge… Fighting!"
Rasa-rasanya Yuta ingin membatalkan meeting yang akan ia lakukan dan pergi bersama dengan si cantik menghabiskan sore hari di sebuah taman, ah mungkin café akan jauh lebih baik. Menikmati es krim vanilla ataupun sekedar berbagi tawa. Ya Tuhan, apa yang sudah aku fikirkan?
.
.
.
.
.
.
Chapter kedua gaess~ yak, nampaknya ada pairing yang harus kandas, eh tapi sementara doang kok itu, cuma buat keperluan cerita HUEHEHEE belom greget yaa? Sabar, dramanya baru dimulai di chapter 4, ini baru pemanasan doang BHAKS! Oya, mamaciiiih untuk semua yang udah mau baca dan support ff ini, you guys are awesome *send virtual kisses to any of you* lol NCTzen jjang!
