Ane Gk Pandai Bikin Fanfic, Maklum Authors Baru.
Awakening
Chapter 3
Hanya satu minggu waktu yang dibutuhkan Naruto untuk pulih. Bahkan dokter pun merasa heran. Kushina ingin dia tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari lagi tapi Naruto bersikeras menolak.
Saat mereka hendak meninggalkan Rumah sakit, pihak menolak menerima pembayaran. Kushina adalah wanita yang sederhana , ia segera menemui Direktur Rumah sakit untuk bersikeras membayar. Pada akhirnya Direktur rumah sakit dan dokter berlutut minta maaf membuat Rumiko shock kebingungan.
"Ibu, itu sederhana. Jika ibu tidak datang memeriksaku terakhir kali, aku mungkin akan benar-benar menjadi mayat. Hal itu merupakan pembunuhan yang tidak disengaja. Apakah itu benar?"
Naruto tersenyum. Direktur para dokter berbalik dan berlutut kembali.
(Jadi itu sebabnya Masashi dimasukkan ke UGD dan mereka tidak ingin dikenakan biaya apa pun.)
"Sejujurnya, Bagaimanapun anda telah menyelamatkan saya. Jadi setidaknya biarkan saya mengucapkan benerapa kata."
"Pak Direktur, dan dokter Nagasaki. Terima kasih untuk perawatan kalian. Saya benar-benar berterima kasih."
Naruto mengatakan dengan tulus saat ia mengangkat bahu mereka. Direktur dan dokter merasa tersentuh. Direktur bahkan menyarankan untuk membebaskan biaya apapun di masa depan untuk Naruto dan keluarganya.
"Bagaimana saya bisa menerima ini?"
Naruto menolak dengan sopan.
"Naruto benar. Kami tidak dapat menerima hadiah yang besar seperti ini. Sudah larut, kami harus pergi. Kami mohon pamit."
"Nyonya, terimalah permintaan kami atau kami akan berlutut di sini selamanya."
"Tapi…"
"Nyonya, tolong menerimanya."
Kushina tidak punya pilihan selain menerimanya. Direktur dan dokter bersorak dalam sukacita saat Kushina , yang melihat senyum Naruto di wajahnya, merasakan punggungnya menggigil.
Jika ia tidak begitu akrab dengan wajah Naruto, dia akan berasumsi Naruto adalah orang lain. Saat mereka pergi, Naruto mengambil tas Kushina. Namun dia ingin menghentikannya karena luka.
"Ibu, aku baik-baik saja."I
Ini adalah kedua kalinya Kushina mendengarnya. Perasaan hangat dan terharu hampir membuat air mata nya jatuh lagi. Setelah mereka pergi agak jauh, petugas Minato mendekati mereka.
"Halo, Nyonya Uzumaki, Naruto dan Naruko. Dokter mengatakan hari ini kamu keluar dari rumah sakit, jadi saya di sini untuk menjemputmu."
"Anda terlalu baik, petugas Miinato. Anda telah melakukan begitu banyak hal untuk kami, kami tidak mau membuat masalah lagi untuk anda."
"Tidak perlu terlalu sopan, Nyonya Uzumaki. Tolong panggil saya Minato, itu adalah bagaimana rekan-rekan saya memanggil. Saya datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih kepada Naruko-san atas nama kolega saya. Apakah Anda lelah? mobil saya tepat di luar. Mari saya antar pulang."
Dia mengambil tas Naruto dan memimpin jalan.
"Aku punya berita baik, Naruto. Kami telah menangkap pelaku."
"Oh benarkah?"
"Orang itu sangat licik. Dia tahu kami sedang mencarinya sehingga dia bersembunyi di Hokkaido. Jika ia tidak terlibat dengan perkelahian ketika mabuk, kami mungkin tidak akan bisa menangkapnya begitu cepat."
"Bagaimana dengan wanita tua?"
Kushina bertanya.
"Dia baik-baik saja. Meskipun pelaku menggunakan semua uangnya. Itu tidak bisa dihindari."
"Membuat seorang siswa mengejar penjambret hingga hampir mati dan bahkan dia tidak datang untuk menjenguk Naruto."
"Naruko, jangan bicara seperti ini. Dia mungkin memiliki masalah."
"Ibu, kau terlalu baik hati. Orang akan sangat mudah memanfaatkanmu."
"Petugas Minato, Anda masih belum memiliki istri atau pacar, benar?"
Naruto tiba-tiba bertanya.
"Bagaimana … Bagaimana kamu tahu?"
Minato menjawab dengan canggung.
"Naruto, itu tidak sopan. Kenapa kamu mengajukan pertanyaan seperti itu?."
"Ibu, aku hanya mengungkapkan keprihatinan ku untuk petugas Minato. Bagaimanapun dia tidak lagi muda."
"Naruto!"
"Baik, aku tidak akan bertanya. Jangan marah, ibu."
"Uh. Aku ingin bertanya bagaimana kamu tahu aku tidak memiliki istri atau pacar?"
Minato tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Ibu, itu bukan salahku dia sendiri yang minta. Bolehkah aku menjawabnya?"
" Anak Nakal ini…"
"Ini sederhana. Tidak ada barang yang berhubungan dengan perempuan di mobil anda. Meskipun Anda mungkin telah membersihkannya sebelumnya, di beberapa sudut masih terlihat ada sampah. Sebagai bukti aku menginjak dua puntung rokok. Anda juga tidak berbau parfum apa pun. Jangan heran dengan kebiasaan saya, saya hanya mempunyai hidung yang sangat sensitif. Di tambah aku sudah dua kali bertemu dengan anda sebelumnya mengenakan kameja dengan kerah yang tidak rapih. Jadi kesimpulannya, Anda tidak memiliki istri ataupun pacar. dan tentu saja ada pengecualian. Mungkin istri atau pacar anda adalah orang yang malas. "
"Luar biasa. Jika kamu sekarang seorang detektif, mungkin aku sudah kehilangan pekerjaan sekarang."
"Bila itu terjadi, aku akan dengan senang hati mempekerjakanmu."
Kushina dan Minato tertawa.
"Siapa yang bersedia menikahi orang seperti ku. Aku biasanya sangat sibuk sehingga mustahil ada waktu untuk kencan. Aku juga tidak tahu cara menyanjung perempuan. Keluarga ku telah mengatur beberapa kencan buta namun tidak satupun dari mereka yang berhasil. "
"Minato san, jangan pesimis. Tuhan tidak akan meninggalkan orang-orang baik seperti Anda. Anda pasti akan menemukan seorang wanita yang sesuai."
"Terima kasih, Bu Uzumaki."
Mereka tiba di apartemen Naruto dan Minato dengan sigap membawa tas ke dalam.
"Minato san, saya tidak tahu bagaimana cara saya berterima kasih. Silahkan datang untuk minum teh."
"Tidak, saya masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Mungkin lain kali."
"Kalau begitu datanglah lain kali. Terima kasih atas segalanya dalam beberapa hari ini.
Kushina membungkuk di depan Minato.
"Anda terlalu sopan."
Saat Kushina masuk ke dalam, Naruto berjalan menghampiri Minato.
"Ibu, kalian berdua masuk duluan. Aku masih memiliki sesuatu yang perlu dikatakan kepada Minato san."
Setelah Kushina masuk ke dalam, Naruto menatapnya dengan ekspresi serius.
"Ada apa? Naruto."
Minato sedikit cemas melihat tatapan Naruto. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatapnya.
"Berapakah umur mu?"
"Mengapa kamu bertanya?"
"Jangan tanya kenapa. Cukup jawab."
"Baik, aku 35 tahun ini."
"Bagus, perbedaan umur yang tidak terlalu jauh. Dimana kamu lahir?"
"Nagasaki."
"Punya saudara?"
"Punya, seorang laki-laki dan dua perempuan."
"Suka minum?"
"Sedikit kadang-kadang."
"Suka merokok?"
"Suka"
"Kau suka ibuku?"
"Ya. Hah!, apa yang kamu katakan !?"
"Jadi itu benar. Dugaanku tidak salah."
"Itu keceplosan. Jangan salah paham."
"Lalu aku akan bertanya sekali lagi. Apakah kamu tertarik untuk ibu ku? Jika kau seorang pria maka jangan menyangkalnya."
(Jenis pertanyaan apa ini?)
Minato akhirnya menunduk.
"Ada sesuatu yang kamu mungkin tidak tahu. Ibu saya telah di telantarkan suami yang tidak bertanggung jawab selama empat tahun. Dia sudah sendirian selama bertahun-tahun."
"Benarkah?"
Minato tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"Ya. Sepertinya tidak ada peluang bagi mereka untuk kembali bersama. Jika kamu menginginkan ibu ku, aku tidak akan mencegahmu mendekatinya. Tapi kamu harus berjanji untuk bersikap baik padanya. Kalau tidak, aku akan membuatmu menderita sampai mati."
Mata Naruto berubah. Minato tidak bisa bergerak. Pikirannya kosong dan tubuhnya menggigil.
"Baik, aku sudah mengatakan semua yang harus kuberitahukan padamu. Sisanya terserah dirinu."
Naruto menepuk bahunya dan masuk ke dalam apartemen. Minato menatap punggungnya dan menyadari bahwa ia tidak mengerti anak SMA ini sedikit pun.
TBC
