Jaejoong WannaB
End of previous
"Palli. Bawa dia kerumah sakit, aku takut halusinasinya akan semakin parah jika tetap tinggal disini. Kajja semua." Leeteuk segera menyuruh dongsaengnya untuk membawa Yunho ke rumah sakit, dikiranya Yunho mengalami halusinasi berlebihan karna kerinduannya pada sosok Jaejoong.
"Yak yak, lepaskan aku. Aku tak sakit! Aku benar-benar melihat Joongie. Aku tak bohong. Yak, turunkan aku!"
Yunho terus meronta dipegangan Siwon dan Yoochun, walaupun tenaga Yunho kuat, namun jika sudah dipegang oleh dua orang yang kekuatannya tak kalah dari dirinya, Yunhopun tak bisa berbuat apa,
Yoochun, Leeteuk, Siwon dan Du Jun hanya menatap miris pada Yunho. Mereka sangat menyayangi Yunho, jadi wajar saja kalau mereka sangat peduli pada Yunho. Apalagi melihat Yunho yang lagi-lagi membicarakan Jaejoong, membuat mereka takut. Takut kalau Yunho menjadi depresi sehingga berhalusinasi berlebihan. Maka dari itu mereka sangat protect terhadap Yunho.
"Hyung, sadarlah, Jaejoong hyung sudah tenang disana."
.
.
Chap 2
.
.
Seorang namja yang terlihat sangat cantik tengah sibuk meracik minuman untuk tamu dihadapannya. Rambut almondnya bergerak indah tatkala dirinya nolehkan kepala ketika sebuah suara memanggilnya. Kembali kini ia sibuk berkutat dengan gelas-gelas dan botol beer didepannya, menuangkannya lalu mengocoknya kembali.
"Silahkan minumannya tuan." ucapnya sambil menaruh minuman hasil racikannya tadi, kehadapan namja yang diduduk didepannya.
"Gomawoyo." ucap namja itu sambil tersenyum penuh arti.
"Cheonmayo."
Namja cantik itu kembali berkutat dengan pekerjaannya, meracik minuman dan sesekali terdengar tawa darinya. Tersenyum ramah pada orang yang datang dan menanyakan pesanan mereka.
"Pesanan untuk ruangan no 221, cepat bawakan Youngwoong-ah."
"Ne." sahut namja cantik itu.
Ya, namja cantik itu adalah Youngwoong, Kim Youngwoong, namja yang sudah beberapa bulan ini bekerja sebagai bartender di Cojjee cafe. Dengan kemampuannya meracik berbagai minuman, dengan mudah ia bisa mendapatkan pekerjaan disana.
Walaupun bukan dari keluarga yang kekurangan, namun Youngwoong sangat menyukai pekerjaannya. Bahkan sang halmoni sempat marah saat ia memutuskan untuk bekerja sampingan sebagai bartender. Selain karna halmoninya sangat menyayangi dirinya, juga karna sebenarnya Youngwoong tak perlu bekerja untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebagai cucu kesayangan halmoninya, Youngwoong sangat dimanjakan. Apapun yang diinginkan oleh Youngwoong, sebisa mungkin akan halmoninya kabulkan.
"Youngwoong hyung, ini sudah jam makan siang. Kajja kita makan siang bersama, apa kau membawa bekal lagi Youngwoong hyung?" tanya seorang namja dengan suara yang nyaring.
"Ne Junsu-ah, aku membawa bekal. Kajja kita makan bersama."
"Kajja."
Junsu, lebih tepatnya Kim Junsu. Namja imut dengan suara nyaring yang khas. Ia adalah sahabat Youngwoong di Cojjee cafe. Saat awal Youngwoong mulai bekerja, dengan dirinyalah Youngwoong paling dekat. Namja yang sangat ceria dan penuh kejutan. Setidaknya itu menurut Youngwoong.
Selain dengan Junsu, Youngwoong juga dekat dengan beberapa pegawai Cojjee cafe lainnya. Semenjak ia bergabung di Cojjee cafe, ia langsung mendapatkan banyak teman, karna selain wajah yang tampan sekaligus cantik diwaktu yang bersamaan, Youngwoong juga sosok yang ceria dan humoris. Sangat rendah hati walaupun kadang juga suka seenaknya dan sedikit arogan.
"Hyung, kau bawa bekal apa hari ini? Nampaknya enak, apa aku boleh mencicipinya?" tanya Junsu saat mereka sudah tiba di tempat khusus untuk para pegawai.
"Ne Junsu-ah, ini, aku membuat kimbab dan bulgogi. Kau mau?"
"Waa, kelihatannya enak." Junsupun dengan sigap mengambil satu roll kimbab dan segera memasukkannya kedalam mulut, seketika wajahnya tersenyum cerah saat rasa kimbab yang begitu enak menyapa lidahnya.
"Kyaa, mashita!" pekiknya girang. "Apa kau yang membuatnya sendiri hyung?" lanjut Junsu dan mulai memakan bekalnya.
"Ne, aku memasaknya sendiri. Aku memang sangat senang memasak Junsu-ah.."
"Jinja hyung? Waa, kau berbakat menjadi chef hyung. Makananmu sangat mashita!" ucap Junsu sambil mengacungkan sendoknya keatas. Melihat itu Youngwoong hanya tertawa pelan.
"Gomawo." ucapnya sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian ia merasa perasaan aneh, sepertinya ia sering sekali melihat ekspresi senang dari orang yang memakan masakannya. Namun ia tak tahu siapa.
"Hyung, bagaimana acara fansmeeting kemarin? Apa kau senang bisa bertemu dengan idolamu itu?" tanya Junsu lagi-sambil menyuap sendok yang penuh nasi ke mulutnya-membuat Youngwoong mengalihkan pikirannya.
"Sangat menyenangkan. Apalagi aku sempat bersalaman dengannya." jawab Youngwoong dengan senyum mengembang diwajahnya. Teringat lagi pertemuannya dengan U Know Yunho idolanya.
"Jinja hyung? Wah, kau beruntung sekali." kata Junsu sambil melihat Youngwoong. Senyum mengembang diwajah cubbynya.
"Kau sendiri bagaimana? Apa kau bertemu dengan pemain gitar kerenmu itu?" kini Youngwoong bertanya pada Junsu, karna memang kemarin ia datang ke acara itu bersama Junsu. Ia bisa pergi ke acara itupun berkat ajakan Junsu.
"Aku tak bertemu dengannya hyung, tapi aku sudah menitipkan hadiah yang sudah kusiapkan itu pada Yunho. Mudah-mudahan saja ia tak lupa menyampaikannya." jawab Junsu sambil tersenyum menerawang. "Ah ya, kemarin juga aku menyuruh Yunho untuk datang kesini, ah, andai saja ia menyanggupi permintaanku dan mengajak semua temannya kesini. Aku akan memberikan pelayanan terbaik untuk mereka. Geurae hyung?"
"Ne tentu saja." jawab Youngwoong dan kembali mereka melanjutkan makan siang mereka.
"Junsu-ah, kemarin Yunho sempat bertanya hal aneh padaku." cerita Youngwoong saat mereka sudah hampir selesai menghabiskan makan siang mereka.
"Mwoya? Apa yang dikatakannya?" tanya Junsu penasaran. Diletakkannya kotak makan siang yang dibawanya lalu menatap Youngwoong.
"Dia menanyaiku pertanyaan yang sedikit lucu, bahkan sangat aneh menurutku." jawab Youngwoong sambil tertawa renyah dan mendapat tatapan heran dari Junsu.
"Mwo? Apa katanya hyung?" desak Junsu.
"Dia bertanya apa benar aku ini Kim Youngwoong. Hah, pertanyaan macam apa itu?" sungut Youngwoong sambil tersenyum. Ia ingat bagaimana Yunho menanyakan pertanyaan aneh itu.
"Mwoya! Kenapa Yunho bisa berfikir begitu ya?"
"Mollayo. Aku rasa ia sedikit gila." jawab Youngwoong sambil memasukkan kotak bekalnya kedalam tas.
"Walaupun gila, tapi kau masih mengidolakannya juga ne hyung?" tanya Junsu yang langsung membuat Youngwoong terdiam.
"Tentu, aku begitu mengaguminya." pandangan Youngwoong sedikit meredup. Entah kenapa rasanya ia bukan hanya sekedar mengagumi sosok U Know Yunho sebagai idola, rasanya ada rasa yang lebih dari itu semua. Entahlah.
"Akupun begitu, aku sangat mengagumi Yoochun, Park Yoochun. Andai saja aku bisa bertemu dengannya, pasti aku akan sangat senang. Karna selama ini aku sama sekali tak pernah bisa mengobrol langsung dengannya. Huh, gara-gara fans yeojanya yang gila, sehingga aku tak pernah punya kesempatan untuk bertatap muka dengannya. Bayangkan saja hyung, tiap aku ingin bertemu dengannya, selalu saja ada fans yeojanya yang entah datang darimana lalu mengerubunginya."
Mendengar gerutuan Junsu, Youngwoongpun tersenyum. Sahabatnya itu memang selalu bisa membuat dirinya kembali ceria jika sedang murung. "Haha, sabarlah Junsu-ah, lain kali pasti kau akan bisa bertemu dan mengobrol dengannya. Hwaiting!" teriak Youngwoong sambil mengepalkan tangannya ke udara.
"Ne, hwaiting!" jawab Junsu sambil tersenyum dan ikut berteriak nyaring.
"Sepertinya jam makan siang sudah hampir habis, kajja kita kembali."
"Kajja hyung!"
.
.
~ .B~
.
.
Suara dentuman musik yang menggema, segera terdengar saat Yunho memasuki dormnya sore hari ini. Sepulangnya ia dari acara pemotretan untuk album barunya, segera ia melepaskan penatnya dan bergabung bersama sahabat-sahabatnya di dalam dorm. Sebenarnya ini bukan dorm, melainkan sebuah apartement yang mereka sewa untuk dijadikan tempat hunian bersama. Walaupun dihuni bersama, namun apartement itu hanyalah rumah kedua bagi mereka, karna sebenarnya masing-masing dari mereka sudah mempunyai apartement masing-masing.
"Yo hyung, kau sudah pulang?" tanya Yoochun saat dilihatnya Yunho memasuki ruang musik tempat dirinya dan teman-temannya berada.
"Ne, aku baru pulang."
Brugghh
"Ah, lelahnya." Yunho tanpa aba-aba, menghempaskan tubuhnya pada sofa yang tersedia disana. Menghempaskan tubuhnya tepat disebelah Du Jun-yang tengah asik memainkan tabletnya-dan membuat namja itu berteriak saking kagetnya.
"Yakk, hyung! Kau mengagetkanku!" teriak Du Jun, namun yang dimarahi kelihatan tenang dan malah mulai memejamkan matanya.
"Berisik. Aku sangat lelah." jawab Yunho masih dengan mata terpejam.
"Kalau kau lelah, harusnya kau istirahat di kamar, bukan disini hyung!" protes Du Jun.
"Diamlah, aku hanya ingin tidur sebentar." balas Yunho dengan mata yang mulai terpejam rapat. Dan nampaknya sebentar lagi ia akan berlabuh didunia mimpi.
"Sudahlah Du Jun-ah, sepertinya Yunho memang sangat lelah." Leeteukpun angkat bicara karna tak tahan dengan perdebatan tak penting kedua dongsaengnya. "Lihatlah, bahkan ia sudah tertidur sekarang." imbuh Leeteuk saat didengarnya dengkuran halus dari Yunho.
"Ne ne, arraseo." Du Jun pun mengalah dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Dua jam berlalu, cukup lama Yunho tertidur, mungkin efek seharian ia bekerja untuk pemotretan album barunya. Belum lagi jadwal yang padat akhir-akhir ini, membuat dirinya tak banyak mendapatkan waktu untuk beristirahat.
Haripun menjelang petang, Yoochun dan yang lainnya sudah bersiap untuk pulang. Setelah menyelesaikan satu aransement musik untuk pembuatan album Yunho. Yunho sedikit terusik dengan pukulan kecil dibahunya. Ternyata Yoochun yang tengah menepuknya, karna ingin membangunkan hyungnya itu. Yunhopun mengerang pelan sambil perlahan membuka matanya.
"Hyung, ireona."
"Eung,"
"Ireona. Hyung." Yoochun semakin keras menepuk bahu Yunho, ia ingin membangunkan hyungnya itu karna mereka semua akan pergi. Hari beranjak petang, dan mereka ingin membeli makan untuk makan malam.
"Hyung, ireona. Kami akan membeli makan, kajja kita makan malam bersama."
"Eung," Yunho masih saja terlelap tanpa berniat membuka matanya.
"Aiss, kalau begini lebih baik aku panggilkan Leeteuk hyung saja untuk membangunkan beruang hibernasi ini." gerutu Yoochun sambil berjalan mencari Leeteuk.
"Leeteuk hyung, beruang itu sama sekali tak bisa dibangunkan. Aku sudah lelah membangunkannya, lebih baik kau saja yang membangunkannya hyung."
"Ahh, merepotkan saja." Leeteuk yang tengah bersiap pulangpun mau tak mau melangkahkan kakinya masuk keruang musik tempat Yunho tertidur, dan dengan sekali tarikan nafas, Leeteuk berteriak kencang ditelinga Yunho untuk membangunkan beruang hibernasi itu.
"JUNG YUNHO, IREONAAAA! KAU TAHU AKU SUDAH KELAPARAN MENUNGGUMU BANGUN! PALLIWA!"
Gubrakk
Dug
Brakk
"Akhhh."
Bunyi apakah itu? Ah, ternyata itu adalah suara tubuh Yunho yang terjatuh dari sofa tempatnya tertidur. Saking kagetnya mendengar teriakan keras Leeteuk, ia sampai kehilangan keseimbangan saat terlonjak kaget, menyebabkan butt seksinya mendarat mulus di lantai dan tubuh atletisnya mencium lantai itu. Ditambah lagi kepalanya yang terantuk pinggiran sofa yang tak bisa dikatakan lembut itu.
"Hyung, kau mau membunuhku eoh!" geram Yunho sambil mengusap buttnya yang berdenyut sakit. Mata musangnya menatap tajam Leeteuk.
"CEPAT BANGUN BERUANG PABO! AKU DAN YANG LAIN SUDAH KELAPARAN!"
"Akkhhh, aku bisa tuli mendengar teriakanmu hyung! Ne ne, aku bangun!" Yunho mendengus sebal pada Leeteuk. Ditatapnya Leeteuk dengan mata musangnya yang memicing tajam. Walaupun sedang mengeluarkan aura membunuh, tapi itu sama sekali tak mempan menakuti Leeteuk.
"Apa kau lihat-lihat? Bosan hidup!" hardik Leeteuk. Dan lihat? Yunho seketika melengoskan wajahnya dari hadapan Leeteuk. Malas meladeni amukan Leeteuk.
"Menyebalkan!" gerutunya sepanjang perjalanan.
.
.
.
.
Setelah pertarungan panas antara Leeteuk dan Yunho tadi, akhirnya kini mereka bisa pergi juga dengan suasana yang lebih mencair. Tak ada lagi aura membunuh yang keluar dari tubuh Yunho saat matanya menatap Leeteuk. Leeteuk sendiri tak ambil pusing dengan tatapan Yunho itu, karna ia tahu tak akan lama lagi Yunho akan kembali seperti semula.
"Kita akan makan dimana?" tanya Siwon memecah keheningan yang melanda mobil CRV putih milik Leeteuk itu. Kini Siwon yang ditugasi untuk menyetir mobil.
"Bagaimana kalau kita makan di Midnight resto? Kudengar resto itu baru membuka cabangnya disini, resto itu cukup terkenal di daerah Busan. Eotteokhae?" tanya Yoochun yang mengemukakan idenya.
"Aku setuju, bagaimana dengan hyungdeul?" tanya Du Jun sambil menatap hyungnya satu persatu.
"Aku ikut saja, yang terpenting kita makan. Aku sudah sangat lapar." jawab Leeteuk sarkatis tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Aku juga setuju. Bagaimana denganmu Yunho-ah?" tanya Siwon yang tak mendengar suara Yunho sama sekali.
"Terserah." jawab Yunho singkat padat dan jelas.
"Baiklah, Chun-ah, tunjukkan jalannya ne."
"Ok hyung."
Dan merekapun melanjutkan perjalanan dalam diam, hanya sesekali terdengar suara Yoochun yang memberikan intruksi pada Siwon jalan mana yang harus mereka lalui.
.
.
.
.
Sementara ditempat lain.
Seorang namja dengan balutan jas hitam semi formal, tengah melangkah pasti memasuki Cojjee cafe. Kacamata hitam bertengger manis membingkai wajahnya yang tegasnya. Tak ada senyum sama sekali menghiasi wajahnya, yang ada hanya raut ketegasan disana. Sambil menyeret koper hitam dibelakangnya, namja itu berjalan tegak menuju satu tempat.
Dengan langkah pasti, ditelusurinya meja demi meja yang ada di Cojjee cafe, meneliti satu persatu setiap pegawai yang bekerja disana. Sampai pandangan matanya tertuju pada salah satu pegawai. Ditatapnya lama pegawai itu sambil mulai melangkahkan kaki kearahnya.
"Kim Youngwoong?" ucapnya sedikit keras.
.
.
.
.
Yunho cs kini sudah tiba di Midnight resto, merekapun turun dan segera menghambur kedalam. Keadaan didalam lumayan ramai, terlihat beberapa orang yang tengah menyantap makan malam mereka. Walaupun restoran ini adalah salah satu restoran mahal dan elit yang ada di Korea, namun harga yang ditawarkan di resto ini tidaklah terlalu tinggi. Sehingga orang-orang dengan ekonomi sedangpun bisa menikmati sajian yang ada diresto ini.
"Midnight resto? Aku baru menyadari kalau nama restoran ini sedikit ambigu." kata Siwon sesaat setelah mereka memesan makanan. Kini mereka sudah duduk disalah satu meja dalam resto ini.
"Wae? Apa ada hal aneh mengenai nama resto ini?" tanya Yoochun yang sedikit tertarik dengan perkataan Siwon. Sementara tiga namja lainnya? Ah, rupanya mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Terlihat dari ketiganya yang sibuk memainkan jarinya diatas ponsel touchscreen masing-masing.
"Ne, namanya sangat ambigu. Andai orang hanya menyebut nama Midnight, tanpa resto dibelakangnya, aku yakin orang-orang akan mengira ini semacam bar atau pub." jawab Siwon menjelaskan pendapatnya.
"Mwo? Kau ini ada-ada saja hyung." balas Yoochun sambil tersenyum, "Tapi ada benarnya juga." lanjut Yoochun sambil mengangguk dan mulai mengamati sekitarnya.
"Ne, arraseo. Besok aku akan datang."
Flip
"Hah~"
"Wae hyung?" tanya Yoochun saat dilihatnya Leeteuk menghembuskan nafas kesal.
"Bumonimku. Mereka ingin aku pulang. Katanya mereka akan mengenalkanku pada seorang yeoja." jawab Leeteuk lemas. Tubuhnya kini ia sandarkan pada punggung kursi.
"Wae? Kenapa kau terlihat sangat tertekan begitu hyung?" tanya Siwon ikut bergabung.
"Kalian sudah tahu jawabannya. Apa perlu aku menjelaskannya lagi?" tanya Leeteuk sarkatis sambil menatap Siwon.
"Haha, ne. Kau tak perlu menjelaskannya hyung, kami sudah tahu jawabannya." jawab Siwon dengan cengiran yang menampakkan lesung dipipinya.
"Mian permisi, ini pesanan kalian." seorang pelayan dari resto itu menyela percakapan diantara Siwon dan Leeteuk. Segera pelayan itu menaruh sajian-sajian lezat menggiurkan pesanan kelima namja keren itu. "Silakan dinikmati." ucapnya sebelum beranjak dan tak lupa melempar senyum pada kelima namja yang tengah digandrungi seluruh masyarakat di Korea itu.
"Ne gomawo." ucap mereka bersamaan.
"Yunho-ah, kajja makanlah dulu. Simpan sebentar ponselmu." Siwon mengingatkan Yunho untuk makan terlebih dahulu, karna sedari tadi Yunho hanya sibuk berkutat dengan ponselnya.
"Ne." jawab Yunho dengan malas, sambil memasukkan ponselnya kekantung celana.
Deg
Jantung Yunho seketika berdetak cukup kencang saat mata musangnya melihat sajian dihadapannya. Satu porsi kimchi jigae dan bulgogi terhidang dihadapannya. Yunho hanya diam mematung melihat sajian itu, teringat akan seseorang.
/
"Yunie, kajja makan. Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Kimchi jigae dan bulgogi. Palliwa!"
"Ne aku datang."
"..."
"Wah, kelihatannya enak. Kajja makan."
"Bagaimana rasanya?"
"Hemm,"
"Eotteokhae?"
"Mashita!"
"Jinja?"
"Ne, apapun masakan yang kau buat, selalu enak Jaejoongie."
"Kalau begitu aku juga ikut makan."
"Jaa, kita makan bersama."
/
"Hyung, Yunho hyung, HYUUUNGGGG!"
Yunho terkesiap kaget mendengar teriakan Yoochun dikupingnya, segera ia mengerjabkan matanya dan menatap Yoochun. "Aiss, aku belum tuli Yoochun-ah!" hardiknya kesal karna Yoochun berteriak secara tiba-tiba ditelinganya.
"Kau melamun hyung, bukannya makan malah kau memandangi makanan itu. Makanan itu tak akan habis kalau kau hanya menatapnya. Lagipula apa yang kau pikirkan hyung?" tanya Yoochun yang melihat Yunho hanya diam mematung menatap sajian dihadapannya.
"Siapa yang memesankanku makanan ini?" tanya Yunho tak menjawab pertanyaan Yoochun.
"Jeonen. Wae?" jawab Leeteuk cepat, "Saat kutanya kau mau makan apa, kau hanya menggumam 'terserah', jadi aku memesankanmu makanan itu." jawab Leeteuk sambil menekankan kata terserah dalam kalimatnya, "Lagipula itu adalah makanan kesukaanmu." imbuhnya dan mulai menyantap pesanannya.
"Yeah, ini memang makanan kesukaanku." ucap Yunho dengan nada suram. Wajahnya tiba-tiba murung.
'Joongie, bahkan aku sekarang sangat rindu masakanmu. Merindukan sosokmu saat membuat masakan unukku. Joongie-ah, bogoshipo'
"Hyung, kau melamun lagi?" kini Du Jun ikut bicara karna dilihatnya Yunho kembali terdiam dan tak menyentuh makanannya.
"Ah, ani. Kajja kita makan." Yunhopun berusaha terlihat seperti biasa, ia tak mau kalau sahabat-sahabatnya itu tahu kalau dirinya masih memikirkan Jaejoong.
.
.
.
.
Di Cojjee cafe.
Seorang namja dengan postur tinggi tegap tengah mengamati sosok namja cantik yang tengah duduk sambil sesekali menautkan kedua tangannya. Ditatapnya namja cantik itu dengan seksama.
"Kim Youngwoong." ucap namja itu dengan suara yang berat.
"Nde?" jawab namja cantik itu a.k.a Kim Youngwoong sambil mendongakkan kepalanya menatap orang yang baru saja memanggilnya.
"Sudah berapa bulan kau bekerja disini?" tanya namja itu lagi sambil melipat kedua tangannya diatas meja.
"Emm, lima bulan." jawab Youngwoong sambil menghitung dengan jarinya.
"Lima bulan?" ulang namja itu sambil kini menyenderkan punggung dikursi. "Siapa yang merekomendasikanmu untuk bekerja disini?" lanjutnya bertanya.
"Ada seorang kenalanku yang merekomendasikan tempat ini. Karna kupikir tempat ini berjarak tak jauh dari rumahku, jadi aku memutuskan untuk bekerja paruh waktu disini." jawab Youngwoong.
"Begitukah? Lalu, apa yang membuatmu ingin bekerja disini? Karna yang kudengar, kau adalah cucu dari salah satu orang berpengaruh didaerah ini."
"Aku hanya bosan di rumah, halmoni sama sekali tak mengizinkanku untuk pergi kemanapun, padahal aku sangat ingin untuk bekerja. Jadi, aku secara sembunyi-sembunyi melamar pekerjaan ini." cerita Youngwoong panjang lebar, dan membuat namja yang berada dihadapannya tersenyum simpul.
"Hemm, jadi halmonimu tak tahu kalau sekarang kau sudah bekerja?"
"Ani, ia sudah tahu."
"Lalu, apa dia mengizinkanmu bekerja?"
"Ania, walaupun ia tak mengizinkanku, tapi aku tetap akan bekerja. Aku hanya ingin mencari kesibukan, aku sungguh malas jika harus diam di rumah."
"Baiklah, aku hanya ingin bertanya itu padamu. Selamat bekerja, dan selamat bergabung di Cojjee cafe. Mian aku baru sempat mengatakannya." kata namja itu lalu bangkit dan mulai menyalami Youngwoong.
.
.
.
.
Kembali ke tempat Yunho cs.
Nampak kini mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka. Sekarang mereka tengah menikmati hidangan penutup. Du Jun dengan lahap memakan hidangan penutupnya, karna hidangan penutup itu adalah makanan favoritnya.
"Ya Du Jun-ah, bisakah kau makan dengan pelan? Kami tak akan menghabiskan puding coklat ini." Leeteuk terlihat mengomel karna matanya iritasi melihat cara makan Du Jun yang bisa dikatakan rakus.
"Hah, ha, hyung, aku, sudah lama tak makan puding selezat ini." jawab Du Jun tanpa berhenti memasukkan puding itu ke dalam mulutnya, sambil sesekali menatap hyungnya satu persatu. "Hyung mau?" tanyanya saat matanya menatap Leeteuk.
"Anio, aku sudah kenyang hanya dengan melihat cara makanmu itu." jawab Leeteuk dan diikuti senyuman tipis dari Du Jun.
"Sudah lama aku tak makan hidangan lezat seperti ini. Apalagi sekarang sudah tak ada lagi Jae hyung yang bisa membuatkan puding selezat ini."
Prangg
Deg
"Hyu..hyung." pekik Du Jun tertahan saat mendengar dentingan sendok jatuh yang berasal dari Yunho. Ia sadar ia sudah salah bicara. Apalagi melihat wajah Yunho yang kini mulai berubah muram.
Tak seharusnya Du Jun membicarakan Jaejoong sekarang ini. Walaupun sudah lewat satu tahun, namun tetap saja rasa kehilangan itu tak mudah untuk dilupakan.
"Aku ingin ke kamar mandi sebentar." dengan suara yang sedikit bergetar, Yunho segera bangkit berjalan menuju kamar mandi.
Keempat namja di meja itu hanya bisa menatap kepergian Yunho dengan segala pikiran yang berkecambuk. Melihat wajah Yunho yang sangat muram, mereka semua yakin kalau kini Yunho kembali teringat akan kenangannya pada Jaejoong.
"Eotteokhae? Aku sudah salah bicara. Apa Yunho hyung marah? Akhh, paboya Du Jun!" Du Jun tak henti-hentinya menyalahkan dirinya. Merutuki kebodohannya.
"Tenanglah Du Jun-ah, aku yakin Yunho hyung tak akan marah. Biarkan dulu ia menenangkan diri. Aku yakin hanya merindukan Jae hyung, apalagi tadi kita memesankan makanan yang biasa Jae hyung buatkan untuknya." kata Yoochun memberi ketenangan pada dongsaengnya.
"Geurae Du Jun-ah, tenang saja. Tapi lain kali kau harus berhati-hati, jangan salah bicara lagi." kini Leeteuk ikut menasehati Du Jun, namun matanya tak beranjak melihat Yunho sampai Yunho menghilang dibalik tembok.
"Ne hyung, arraseo." jawab Du Jun lemah. Ditundukkannya wajahnya menyesali kebodohan yang dibuatnya.
Sementara itu, Yunho melangkah gontai menuju kamar mandi. Pikirannya sekarang dipenuhi oleh bayang-bayang Jaejoong. Bukan karna ucapan Du Jun ia menjadi muram seperti ini, namun memang sedari tadi ia sudah terbayang akan Jaejoong, apalagi setelah melihat hidangan makan malam yang dipesan Leeteuk untuknya.
Byurrr
Yunho membasuh wajahnya di wastafel, diusapnya kasar wajahnya dengan air dingin yang mengucur dari keran. Ditatapnya bayangan dirinya dikaca wastafel.
"Joongie." desahnya. "Bogoshipo."
.
.
.
.
Suasana cafe yang sedikit lengang membuat Youngwoong dan Junsu tak terlalu sibuk mengerjakan pekerjaan. Terlihat sekarang mereka tengah asik mengobrol sambil sesekali tertawa.
"Hyung, kudengar tadi kau dipanggil ke ruangan bos. Apa bos sudah pulang?" tanya Junsu sambil mengelap gelas-gelas yang ada dimeja reservasi. Agar nampak lebih berkilau saat digunakan.
"Nde, tadi aku dipanggil keruangannya. Tentu saja ia sudah pulang, kalau tidak bagaimana caranya aku bertemu dengannya!" jawab Youngwoong yang heran mendengar pertanyaan pabo dari Junsu.
"Yak, maksud ku bukan begitu hyung. Ku kira kau bukan bicara dengannya, ku kira kau bicara dengan orang lain disana." protes Junsu.
"Aiss, memangnya siapa yang berani masuk ke dalam ruangan bos selain bos itu sendiri. Kau ini sungguh aneh Junsu-ah!"
"Yak, aku tak aneh hyung! Aku hanya bertanya, apa salahnya!" jawab Junsu dengan suara yang sedikit melengking.
"Memang tak salah, hanya saja pertanyaanmu saja yang bodoh! Kau menanyakan sesuatu yang seharusnya tak memerlukan jawaban!" jawab Youngwoong sambil berjalan ke belakang untuk menaruh gelas yang sudah mereka bersihkan. Meletakkannya pada rak khusus yang berisi penuh dengan gelas-gelas kecil.
"Yak, kenapa jadi mengatai pertanyaanku bodoh. Memangnya hyung tau dari mana kalau pertanyaan itu bodoh atau pintar. Memangnya pertanyaan itu pernah sekolah?"
Gubrakk
Youngwoong seketika ambruk ke lantai, saat mendengar kalimat Junsu yang, ah, haruskah saya mengatakannya? Untung saja ia sudah selesai menaruh gelas-gelas itu, karna kalau tidak, bisa dipastikan kalau gelas-gelas itu akan ikut jatuh bersamanya. Dan lagi semenjak kapan pertanyaan itu masuk sekolah(?). Oh, Junsu-ya, kau memang kelewat polos, sampai-sampai tak berfikir dulu sebelum berbicara.
"Ya hyung, kenapa kau terjatuh?" tanya Junsu kaget melihat Youngwoong yang jatuh tiba-tiba. Iapun ikut berjongkok membantu Youngwoong untuk berdiri.
"Ani, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya mencium ubin ini." jawab Youngwoong asal sambil mencoba untuk berdiri lagi. Dan tak tahu saja, kalau jawaban asalnya malah akan membuat otak seseorang kembali bereaksi.
"Oh, kau ingin mencium ubin? Lalu bagaimana rasanya hyung?"
See? Junsu kembali menanyakan pertanyaan yang benar-benar membuat orang harus bersabar.
"Kalau kau mau tahu rasanya bagaimana, lebih baik kau coba saja sendiri." jawab Youngwoong yang sudah kehabisan akal menghadapi pertanyaan Junsu.
"Shireo. Lebih baik aku mencium tembok itu dari pada ubin ini." jawab Junsu dengan tampang polos sejadi-jadinya.
"Aiss, lama-lama aku akan gila." desis Youngwoong hampir tak terdengar. "Sudahlah, untuk apa kita membicarakan hal tak masuk akal begini." lanjutnya sambil merapikan seragam kerjanya yang sedikit berantakan akibat terjatuh tadi.
"Ne benar juga, hehe. Lalu, apa yang kalian bicarakan hyung?" tanya Junsu kembali ke topik awal pembicaraannya dengan Youngwoong.
"Ia hanya menanyakan bagaimana caranya aku bisa masuk ke Cojjee cafe."
"Ah, begitu." jawab Junsu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Junsu-ah, bagaimana sebenarnya sifat bos kita itu? Karna yang aku dengar ia adalah sosok yang dingin. Apa benar begitu?" tanya Youngwoong karna memang dirinya tak tahu bagaimana sifat dari atasannya itu. Semenjak ia bergabung dengan Cojjee cafe, ia memang belum pernah bertemu secara langsung dengan pemilik Cojjee cafe. Saat ia masuk, hanya ada pegawainya saja yang menginterviewnya, karena pemilik Cojjee cafe tengah melanjutkan studynya di Amerika.
"Emm, yang ku tahu, dia memang sedikit dingin. Ia jarang tersenyum pada pegawainya. Sangat disiplin dan tak mau ada sesuatu yang salah. Ia sangat tegas, bahkan sedikit galak. Pernah ia membentak pegawai karna pegawai itu melakukan kesalahan. Ia tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Namun kadang kala, ia bisa menjadi pribadi yang hangat. Disuatu waktu, ia bisa menjadi pendengar yang baik. Mungkin tak banyak orang yang tahu sifatnya yang satu itu, namun aku pernah menjadi satu dari orang-orang itu." jawab Junsu sambil menerawang ke depan.
"Jeongmal? Bagaimana bisa?" tanya Youngwoong penasaran.
"Ne, aku pernah bercerita banyak dengannya. Aku tak tahu kenapa, tapi dulu ia pernah mengajakku bicara. Dan setelahnya, entah siapa yang memulai, kami malah banyak bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Aku jadi tahu bagaimana sebenarnya pribadinya. Dan belakangan, aku baru mengetahui, sebab mengapa ia saat itu ia mengajakku bicara."
"Mwo?"
"Katanya, aku ini mirip dengan seseorang. Karena wajah dan sifatku sedikit mirip dengan orang yang berarti baginya."
.
.
.
.
Sepuluh menit menenangkan diri dalam toilet, Yunhopun kini sudah terlihat lebih baik. Tak ada lagi raut muram yang menghiasi wajah tampannya. Ia pun segera beranjak dari sana dan kembali bergabung dengan teman-temannya di meja.
Perlahan Yunho melangkahkan kakinya keluar dari toilet, sebelumnya ia memastikan kembali penampilannya agar tak ada kesalahan dalam penampilannya itu. Setelah memastikan semua rapi, iapun melangkah keluar.
Diluar hari sudah beranjak petang, ternyata cukup lama mereka berada disini. Untung saja hari ini ia terbebas dari jadwal, sehingga ia tak terlalu pusing memikirkan jam berapa sekarang. Tak berapa lama Yunhopun sampai di mejanya.
"Hyung, neo gwencana?" tanya Du Jun yang pertama kali melihat kedatangan Yunho.
"Ne, naneun gwencana Du Jun-ah." jawab Yunho sambil tersenyum. Ia juga tak tega pada Du Jun, tak ingin membuat dongsaengnya itu semakin merasa bersalah. Yunpun mendudukan dirinya dikursi lalu mulai memainkan kembali ponselnya.
"Sepertinya hari beranjak petang, apa kalian sudah selesai?" tanya Siwon sambil melirik jam Rollex dipergelangan tangannya.
"Ne, kami sudah selesai." jawab Yoochun mewakili keempat sahabatnya.
"Kajja, lebih baik kita pulang. Bukankah besok kita ada jadwal latihan?" lanjut Siwon dan mendapat anggukan dari keempat sahabatnya.
"Ne geurae. Kajja kita pulang."
Merekapun bergegas pulang, tak lupa sebelumnya memanggil pelayan dan membayar makanan yang mereka pesan. Lalu setelahnya mereka bergegas menuju parkiran.
Yunho berjalan didepan sambil sesekali melihat jalan sekitar, mata musangnya bergerak liar melihat situasi kota yang perlahan mulai gelap. Sampai matanya menangkap satu bangunan yang cukup megah didepan Midnight resto tempatnya makan tadi. Bangunan itu cukup terang dengan berbagai lampu yang menghiasinya, orang-orang banyak keluar masuk dari bangunan itu. Karna penasaran, Yunhopun meneliti kembali gedung itu dan membaca papan nama yang ada didepan gedung itu.
"Cojjee cafe." gumamnya.
'Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?'
Yunho nampak berfikir dimana ia pernah mendengar nama itu, sampai-sampai ia tak sadar ia berhenti ditengah jalan dan membuat teman-temannya menatap heran padanya.
"Yunho-ah, waeyo?" tanya Siwon sambil berdiri menyebelahi Yunho.
"Ah ya! Aku baru ingat!" teriak Yunho tanpa menjawab pertanyaan Siwon. Wajahnya tiba-tiba berubah ceria setelah berhasil mengingat dimana ia pernah mendengar nama cafe itu.
"Waeyo? Kau berteriak tanpa menjawab pertanyaanku." kata Siwon sedikit kesal karna Yunho mengabaikan pertanyaannya.
"Eh, ania. Yoochun-ah, aku lupa, kemarin ada seorang namja yang memberimu hadiah, aku lupa namanya, tapi aku ingat ia bekerja di cafe itu," kata Yunho sambil menunjuk bangunan megah dihadapan mereka, "Kalau kau tak keberatan, apa kau ingin mengucapkan terimakasih padanya secara langsung?" lanjut Yunho disertai senyum diwajahnya. Ia ingat bagaimana wajah namja itu saat mengatakan ingin memberi hadian untuk Yoochun, dan bisa dibayangkan bagaimana reaksinya kalau ia bisa bertemu dengan Yoochun secara langsung. "Eotteokhae?" tanya Yunho lagi. Bagaimanapun ia juga ingin sedikit membuat namja penggemar Yoochun itu senang.
Yoochun terlihat menimbang tawaran Yunho, "Memangnya hadiah apa yang diberikan olehnya?"
"Mollayo, aku tak sempat membukanya. Bagaimana?"
"Emm, aku terserah kalian saja." jawab Yoochun sambil melirik Leeteuk, Du Jun dan Siwon.
"Sepertinya tak buruk, baiklah kajja kita kesana." jawab Siwon dan diangguki ketiga namja lainnya, sedangkan Leeteuk hanya menatap keempat dongsaengnya tanpa berkata apapun.
"Kajja." ucap Yunho lalu merekapun melangkah menuju Cojjee cafe.
.
.
.
.
Di Cojjee cafe
Junsu dan Youngwoong tengah sibuk meracik minuman, nampaknya keadaan cafe sedikit ramai sekarang. Padahal beberapa jam yang lalu mereka bisa sedikit bebas karna pengunjung yang datang sedikit.
"Hoaa, kenapa yang datang malah semakin ramai? Padahal tadi sudah enak tak ada yang datang." keluh Junsu sambil menggembungkan pipinya. Youngwoong terkekeh pelan melihat Junsu yang kelihatannya kesal itu.
"Huh, menyebalkan." lanjutnya.
Ting
Lonceng tanda ada pengunjung datang berdenting, dan seketika Youngwoong dan Junsu menoleh kearah pintu. Senyum mengembang diwajah mereka sebelum menyapa tamu yang datang.
"Selamat datang." sapa mereka ramah.
Dari tempat mereka berdiri-di meja reservasi-mereka tak begitu jelas melihat siapa yang datang. Yang terlihat hanyalah seseorang yang tengah berjalan pelan kearah mereka. Youngwoong sudah siap untuk menyambut kedatangan pengunjung itu, senyum terus merekah diwajahnya. Sampai orang itu tiba dihadapannya, senyum tak pernah pudar dari wajahnya.
"Annyeong." sapanya hangat. "Pesanannya tuan?" tanya Youngwoong saat orang itu sudah duduk dihadapannya.
"Aku pesan segelas souju."
"Baik. Silahkan ditunggu tuan." Youngwoong segera mengambil minuman yang dipesan orang itu. Sambil sesekali melirik orang yang baru saja memesan itu. Junsu sedari tadi sudah pergi kebelakang, karna memang dia tak punya keahlian untuk meracik minuman.
Orang itu adalah seorang namja dengan tubuh sedikit berisi. Namja itu mengenakan baju kaos putih biasa dipadukan dengan kardigan warna senada dengan kaosnya. Untuk bawahannya ia memakai celana kain dengan warna hitam yang kontras dengan warna putih pakaian atasnya. Ditambah sepatu kets model biasa warna biru donker, dan sebuah ikat pinggang melilit celana kainnya. Sekilas namja itu terlihat biasa saja dari segi penampilan, tapi jika kita melihat keatas ke arah wajahnya, bisa dipastikan kita tak akan menyangka kalau ia adalah seorang namja.
Dengan kulit yang putih, mata yang besar, pipi yang sedikit tembam dan bibir yang kecil. Jangan lupakan rambutnya yang sedikit panjang namun dipotong sedemikian rupa hingga menghasilkan bentuk yang baik dan membuat wajah namja itu cantik terlihat seperti yeoja.
"Maaf menunggu lama, ini pesanan anda tuan." sapa Youngwoong dan meletakkan souju pesanan namja itu diatas meja. "Aku baru sekali melihatmu tuan, apa anda baru sekali datang kemari?" tanya Youngwoong memulai percakapan.
"Nde? Ah, iya. Aku, emm, baru pertama kali datang ketempat ini." jawab namja itu sambil melihat-lihat keadaan sekitar Cojjee cefe. Kelihatannya ia tengah mencari sesuatu atau mungkin seseorang?
"Ah begitu, kenalkan aku Kim Youngwoong. Kau bisa memanggilku Youngwoong."
Seketika namja itu menolehkan kepalanya saat mendengar nama Youngwoong. "Youngwoong? Ah, jadi kau itu Youngwoong? Kau yang bernama Youngwoong?" teriak namja itu antusias.
Youngwoong hanya menatap heran namja dihadapannya ini. Telinganya sedikit berdengung akibat teriakan namja itu secara tiba-tiba. Bahkan suaranya tak kalah dari Junsu.
"N..ne aku Youngwoong. Waeyo?"
"Yeopo, jeongmal neomu yeopo. Hyung memang tak salah pilih." gumam namja itu sambil matanya tak melepas pandangannya dari Youngwoong.
"Sebenarnya kau ini siapa?"
"Perkenalkan, aku-"
"Hyung, kau dipanggil si bos. Katanya cepat pergi keruangannya." Junsu tiba-tiba menyela ucapan namja itu, dengan suara lengkingan yang sangat nyaring. Membuat Youngwoong lagi-lagi harus merelakan telinganya berdengung saat suara Junsu menyentuh gendang telinganya.
"Ne, aku akan segera kesana. Ah, mian tuan, aku harus pergi dulu. Silakan nikmati minumanmu." setelah berkata demikian, Youngwoong segera pamit dan berjalan menuju ruangan atasannya.
.
.
.
.
Yunho cs sudah sampai didepan pintu Cojjee cafe, selangkah lagi mereka sampai namun baru hendak membuka pintu, sebuah suara yang sangat nyaring terdengar memekakkan telinga mereka.
"KYAAAA, U KNOW YUNHOOOO. U KNOW OPPAAA!"
Yunho seketika menolehkan kepalanya menuju suara itu, dan entah datang darimana kini sudah ada yeoja-yeoja yang mengerubunginya dan teman-temannya. Menubruk dan menarik-narik baju mereka.
"Kyaa, oppa. Oppadeul sangat tampan."
"Oppa, oppa aku ingin berfoto denganmu oppa."
"Yunho oppa, kemari aku ingin meminta tanda tanganmu."
"Yunho oppa."
"Siwon oppa, aku ingin berfoto bersamamu."
"Oppa."
"Oppa, oppa."
"Du Jun oppa, saranghae."
"Yoochun oppa, love you!"
"Oppa, Leeteuk oppa!"
Dan begitulah, akhirnya Yunho cs harus kewalahan melayani para fans yang entah datang darimana. Niat awal mereka ingin mengunjungi Cojjee cafe harus tertunda, karna kini para fans yang datang lebih banyak dari sebelumnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Sepertinya chap kali ini semakin nggak jelas, saya merasakannya. Entah kenapa saya jadi kehilangan arah menulis FF ini. Mian kalo cerita ini semakin aneh. Ada beberapa pikiran yang mengganggu saya akhir-akhir ini. Curcol lagi? #abaikan
Ada yang bertanya apakah Youngwoong dan Jaejoong itu kembar? Dan apakah Jaejoong itu meninggal? Saya nggak akan jawab, karna akan dijelaskan di cahp-chap selanjutnya. Jadi kalau pengen tau jawabannya, ikutin terus kelanjutan FF ini. #modus
Ada juga yang bilang ini cerita mirip sinetron? Heem, kelihat begitukah? Karna sudah 2 orang yang mengatakan hal itu pada saya. Mungkin cara penjabaran cerita saya yang monoton seperti sinetron, kurang ada feel dan emosi di dalamnya. Saya paham itu, ya namanya juga penulis baru, masih sangat jauh dari kata sempurna. #ngeles aja
Ada yang minta flashback di chap ini? Ah, mian. Saya belum bisa ngasih flasback, momentnya kurang pas. Nanti kemungkinan di chap kedepannya akan ada flashbacknya. Jadi ditunggu saja ne. #modus lagi
Terimakasih buat yang sudah review di chap sebelumnya, yang sudah mengklik follow dan favorit. Dan untuk membangkitkan mood saya menulis lagi, silakan tinggalkan jejak kalian untuk chap ini, supaya saya ada pegangan menulis lagi untuk chap-chap selanjutnya. Arigatou ^^
