"Apa ini cocok denganku?" Tanya Naruto memerhatikan entitas dirinya yang terpantul dalam cermin. Ia terlihat mengenakan celana katun pendek berwarna cokelat tua, dipadu kaus raglan 3/4 putih biru.
Namun agaknya Satsuki kurang puas dengan pilihan topi Naruto, terutama bagian warnanya. Ia pun memilih-milih sejumlah topi baseball yang mengampai pada gantungan tegak di depan rak baju.
Dan, pilihan Satsuki jatuh pada topi baseball berona biru laut.
"Coba yang ini. Warna-warna terang lebih cocok untukmu, Naruto-kun." Ujar Satsuki memakaikan topi tersebut ke kepala Naruto.
"Ah, kau benar Satsuki. Kalau begitu aku memilih yang ini."
Di akhir pekan, Satsuki dan Naruto membuat janji jalan bersama. Anggap ini simulasi kencan yang kedua. Usai berbelanja, mereka kemudian mengisi perut di sebuah restoran cepat saji. Satsuki memesan ayam goreng tepung ekstra crispy, sekotak kentang goreng dan milkshake. Sedang Naruto, pilihanya jatuh pada yakiniku, burger, serta kola.
Selepas dari sana, rencananya mereka akan menonton film horor keluaran terbaru yang rilis hari ini.
.
"Jadi fungsi g (x) = -2x 1 ?" Tanya Satsuki menjeda.
"Ah, kau benar Naruto-kun. Jawabannya c."
"Fungsi komposisi memiliki beberapa sifat; tidak komutatif, asosiatif, dan fungsi Identitas I(x) = x. Apabila fungsi f dan fungsi komposisi (f o g) atau (g o f) telah diketahui, kita dapat menentukan fungsi g, juga sebaliknya."
Mereka kian dekat saja. Satsuki bahkan tak menyadari ia sudah seminggu lebih tidak mengunjungi rumah Daiki. Padahal sebelumnya, kaki Satsuki kan gatal jika tidak berpijak di rumah minimalis bercat pastel yang terletak di sebelah rumahnya itu, walau sehari saja.
Satsuki jua tidak lagi berpangku tangan menatap jendela kamar Daiki dari balik kaca jendela kamarnya. Bergumam dalam hati perihal apa yang sedang pria itu lakukan, ataukah Daiki sudah tidur dan mengerjakan tugas sekolahnya.
Satsuki akhir-akhir ini terlalu sering memikirkan orang lain. Tepatnya, pria yang sekarang duduk di hadapannya.
"Diminum dulu, Naruto-kun."
Satsuki menyuguhinya segelas teh hijau dan kue mochi.
Sepasang safir biru yang benar-benar indah. Jika dilihat-lihat, maka dari perspektif manapun Naruto memang berbanding terbalik dengan Daiki. Baik itu sikap, perangai, pun sisi kemalasannya.
Naruto seorang yang cerdas, teliti, dan pintar. Dia bisa membawakan dirinya secara kasual, namun impresi mengagumkan itu masih ada.
Aaahh ... Satsuki semakin bingung saja.
"Kenapa tambah dikenal, Naruto terlihat kian berkilauan?"
"Satsuki?"
"Satsuki?"
Satsuki yang terus tersenyum-senyum menatapnya, membuat Naruto bingung.
"Ada apa dengan Satsuki?"
...
Sementara Daiki merasakan hal yang lain.
Hari ini terhitung genap delapan hari Satsuki tidak wara-wiri lewat di hadapannya. Dengan suara cempreng yang memekakkan telinga, "Dai-chan! Dai-chan!"
"Tck, konyol sekali." Daiki tersenyum sumbang. Kakinya menekuk, duduk sendirian di atap sekolah.
Majalah Mai-chan yang ia beli kemarin sore, bungkus plastiknya saja belum ia buka. Padahal biasanya Daiki akan buru-buru melihat pose seksi berbikini dari model berumur dua puluh lima tahun itu kesukaannya itu, sekalipun masih di jalan dan masih memakai seragam sekolah.
Daripada Mai-chan, kekosongan hatinya bakal lebih terobati bila Satsuki ada di sisinya sekarang.
Daiki pun memutuskan perlahan bangkit melangkah mendekati pagar besi pembatas atap.
Netra biru gelapnya mengedar ke sekeliling, memindai apapun yang ada di bawah sana
"Satsuki bodoh ..." celetuknya kesal. Netranya lalu tertuju ke arah sekelompok siswa yang sedang bermain basket di halaman.
Di sana, tak jauh dari tempat itu, tanpa sengaja Daiki melihat Satsuki sedang berjalan bersama Naruto. Satsuki terlihat membawa kotak bekal di tangannya.
Tck
Timbul kekesalan di hati Daiki
"Huh, kau belum tahu saja bagaimana masakan Satsuki."
Daiki lalu berbalik--menyandarkan punggungnya pada pagar. Perlahan, tubuhnya kian turun. Kakinya melemah, dan ia pun kembali terduduk di lantai.
"Siaaaaaal!" Daiki mengacak rambutnya.
.
"Dai-chan, bagaimana? Bagaimana? Enak kan tamagoyaki buatanku?" Senyum terulas di bibir Satsuki ketika menanyakan itu.
Telur dadar tersebut memiliki rasa yang hampir sama dengan telur dadar buatan ibunya di rumah. Heran, Satsuki sampai belajar memasak segala.
Masakan Satsuki sebelumnya tak dapat Daiki definisikan saking kacaunya; asin, pedas, pahit karena dibiarkan gosong, membentuk kombinasi rasa yang bahkan tidak layak dicicipi oleh seekor hewan peliharaan. Dan sekarang?
Daiki kembali melirik Satsuki,
Di hari kesembilan gadis itu baru menemuinya. Kelas mereka memang tidak sama lagi semenjak naik ke kelas dua. Jadi selama delapan hari kemarin, Daiki sebatas mampu melihat Satsuki dari jauh tanpa berani menyapa. Bukan lantaran takut, lebih sebab unsur gengsi saja.
Makanan yang Satsuki bawa hari ini, walau masih terasa sedikit asin, namun lumayan enak untuk dimakan. Satsuki pasti berusaha dengan keras. (Untuk diketahui. Sejauh pemahaman Daiki, kemampuan memasak gadis bernetra fuchsia itu sekadar sampai pada menghidupkan kompor di dapur ibunya, selebihnya, Satsuki tak mengerti apapun).
"Ini makanan?" Tanya Daiki balik, pura-pura memasang ekspresi kurang sedap di wajah, yang bila dijabar seolah bertanya masakan macam apa ini?!
"Aku sampai tak dapat merasakan lidahku. Benar-benar kacau!" Daiki mengambil tisu--meludahkan tamagoyaki yang ia kunyah, lalu melemparnya ke luar jendela. Kebetulan, kelasnya berada di lantai dua.
"Dai-chan?!" Terang Satsuki tak percaya.
"Apa? Rasanya memang aneh kok."
Tampak raut gadis itu seketika kesal sekaligus kecewa, "Aku sudah mencicipinya berulang kali kok. Dan rasanya tidak seburuk itu!" Satsuki menutup lagi kotak bekalnya.
"Akan kubuktikan jika tamagoyaki ini enak. Akan kubuktikan dengan Naruto-kun yang mencicipinya."
Naruto
Naruto
Naruto
Lagi-lagi nama itu yang disebut ...
Memuakkan!
"Terserah! Aku tidak peduli. Jika tidak bisa memasak, lebi baik kau diam Satsuki. Masakanmu bisa meracuni orang!"
"Kau keterlaluan, Dai-chan!"
Setelahnya, Satsuki berlari keluar kelas.
Sementara Daiki terus memaki, yang aslinya merupakan wujud kekesalannya di mana tersalurkan dengan salah.
"Kau saja yang tak mau menerima kenyataan, Satsuki! Kau dengar itu? Jangan lari!"
.
Peluh kian banyak mengucur dari tubuh semua pemain. Terutama bagian wajah, leher, dan punggung yang terlihat dari jersey mereka sedikit basah. Hanya latih tanding sebenarnya, namun ego kedua tim untuk menang sepertinya sama-sama besar.
Too Gakuen yang merupakan tuan rumah harus merasakan ketertinggalan poin sejak kuarter pertama hingga mendekati penghujung kuarter ketiga ini. 67 : 70 untuk keunggulan tim tamu.
Too tak menyangka jika tim yang gagal masuk 16 besar kejuaraan Winter Cup lalu, sekarang bisa sekuat ini.
Konoha Gakuen. Tak ada yang mengira mereka bakal merepotkan. Tiap serangan dan strategi yang Too lakukan bisa ditebak oleh Hyuuga Neji sang point guard, yang juga menjabat sebagai kapten tim.
Imayoshi bahkan tak berpikir bila ada pemain yang memiliki penglihatan bagus selain Akashi Seijuro dari Rakuzan.
Wakamatsu mengoper bola pada lmayoshi. Imayoshi kemudian melakukan drive cepat ke tengah lapangan. Di depannya, sudah menghadang seorang laki-laki berambut cokelat panjang terikat, Hyuuga Neji. Pemain berbakat yang jelas akan menyulitkan mereka di kejuaraan musim depan.
Bergerak secara acak guna mencari celah terus Imayoshi lakukan, tapi semua percuma.
Whuss
Imayoshi akhirnya mengoper bola tersebut pada Susa dan berhasil pemuda berambut cokelat tua itu tangkap dengan baik, kemudain segera mengopernya pada Daiki.
Sang ace tim mencoba melewati pemain lawan dengan seringai di ujung bibir serupa biasa.
Drive Daiki begitu cepat. Ia dengan mudah melewati penjagaan tim lawan. Hingga berada cukup dekat dengan ring, Daiki melakukan lay up, namun ...
Plak
... bola berhasil di blok laki-laki berkulit pucat yang memiliki senyum semenyebalkan Imayoshi.
"Bagus, Sai!" Teriak seorang rekan satu timnya.
Priiiittt!!
Peluit kuarter ke tiga selesai berbunyi.
"Oi, bodoh! Ada apa denganmu, Aomine?! Cara bermainmu buruk sekali!" Wakamatsu sudah tak tahan dengan Daiki yang sepanjang laga tadi terus bermain setengah-setengah.
Daiki tak biasanya tidak menanggapi apa yang sang center timnya katakan. Biasanya bila sudah seperti ini, mereka bakal terlibat adu mulut sampai Imayoshi atau Satsuki memisahnya. Satsuki, ya? Entah kenapa gadis itu hari ini tidak datang. Padahal dengan kemampuan analisisnya, pasti sangat membantu melawan tim dari Hokkaido itu.
Sret
"Bermain yang benar, pecundang!" Wakamatsu kembali berujar seraya menarik leher jersey Daiki.
"Hentikan, Wakatmatsu!" Susa memberi teguran keras.
"Cih!" Kemudian Wakamatsu melepas cengkeraman itu dengan kasar.
Priiiittt!
Peluit dimulainya kuarter ke-empat terdengar. Semua pemain lantas bergegas masuk ke dalam lapangan.
Bola dimulai oleh Konoha Gakuen. Neji mendribel bolanya dengan santai. Ia mengamati semua gerik pemain lawan sekaligus. Merasa yakin dengan strategi yang ada di kepalanya, Neji melakukan drive cepat ke arah ring lawan. Kemudian mengoper bola tersebut pada Gaara sang small foward timnya.
Langsung mendapat penjagaan, Gaara pun mengoper bola kepada Kankuro. Namun ...
Tap
... bola berhasil dipotong Susa yang menjaga Kankuro.
Sakurai yang mendapat bola segera melakuan drive mendekati garis three point ...
Blesh
... skor berhasil imbang.
Pertandingan terus berlanjut. Saling serang kedua tim lakukan demi menambah torehan angka untuk kemenangan.
Sisa waktu empat puluh detik. Dengan skor keunggulan tipis sang tuan rumah yang mulai bangkit.
Skor 86 : 85
Sakurai mendapatkan bola liar hasil blok yang dilakukan Wakamatsu. Mencoba mencuri sisa waktu yang tak kurang dari 30 detik, Sakurai mengoper bola pada sang kapten. Waktu 24 sekon hampir habis. Imayoshi segera menembak bola, tetapi meleset dan hanya membentur ring lawan. Bola rebound berhasil dimenangkan oleh Shino, center tim Konoha. Ia segera mengoper pada Neji yang melesat cepat ke area pertahanan lawan.
Waktu semakin tipis tersisa. Pada tiga detik terakhir, tak mampu Neji masuk ke dalam area free throw. Ia melakukan fake, mencoba mengelabuhi Imayoshi, namun berbekal pengalaman kapten tim Too tak terkecoh.
Neji menembak bola guna mendapatkan dua point terakhir, akan tetapi ...
Plak
... bola berhasil diblok.
Priiittt!!
Kuarter ke empat selesai dengan kemenangan Too Gakuen
.
Triiiingggg
Bel tanda istirahat berbunyi. Perutnya sudah keroncongan sejak pagi tadi. Akhir-akhir ini Daiki malas sarapan dan selalu bangun kesiangan. Malamnya ia habiskan untuk bermain game, menonton film yang ia beli, juga membaca komik sampai fajar menjelang. Rasanya kepalanya benar-benar penuh, sepenuh kantin sekolah sekarang. Daiki memang jarang ke sini. Namun ia tidak tahu jika di jam istirahat, suasana kantin begitu padat.
"Apa tak satupun di antara mereka membawa bekal dari rumah?" batinnya.
"Aaaaah ... aku yakin mereka pacaran." Celetuk seorang gadis berhelai merah jambu yang mengantre di depannya.
"Apa Satsuki mengatakan padamu langsung, Sakura?" Timpal gadis di sebelah pemilik rambut sebahu itu.
"Tidak. Tapi melihat wajah Satsuki yang selalu berbunga-bunga, kyaaaa ... Satsuki selalu saja berhasil menggaet cowok tampan."
"Haaah, belum seberapa. Terakhir dia ditembak Utakata Senpai, kapten tim voli. Aku iriiiiii. Aku kan menyukainya dari dulu."
"Oh iya, bagaimana dengan Aomine-kun? Bukankah selama ini mereka dekat?"
"Aomine itu hanya teman masa kecil Satsuki. Bukankah Satsuki berulang kali menegaskan i--"
"Ehem!" Daiki berdeham, tanpa sengaja mendengar obrolan dua gadis tersebut.
Melihat Aomine ternyata ada di belakangnya, ke-dua gadis itu langsung tergegau.
"A-eh, A-Aomine-kun? Se-sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak tadi." Ujar Daiki datar.
Rasanya perutnya yang tadi lapar seketika merasa kenyang. Dalam benaknya, ia ingin segera menemui Satsuki dan memintanya menghentikan semua ini. Persetan, Naruto mau bermain basket lagi atau tidak. Lebih baik Satsuki ada di sisinya, dan gemuruh dalam dadanya bakal kembali tenang.
Keluar dari kantin, Daiki melihat Satsuki berjalan cepat menuju taman belakang sekolah.
Dengan bergas Daiki mengikutinya. Tak butuh waktu lama bagi kaki jenjang Daiki menyusul gadis itu. Daiki menarik tangan Satsuki, ia mulai tidak bisa menahan diri. Sikap posesifnya terhadap gadis itu dan segalanya. Daiki menarik Satsuki ke belakang tembok sekolah. Hanya ada mereka berdua di sana.
"Kupikir kau tak perlu menemuinya setiap hari, Satsuki!" Daiki mendorong tubuh Satsuki ke tembok.
"Da-Dai-chan―?"
"Huh, bocah pirang itu akhir-akhir ini menjadi perhatianmu ya? Aku memang berharap jika kau dapat membawa dia kembali ke dalam permainan yang dulu disukainya. Tapi kurasa itu mustahil. Yang ada kau justru mengekorinya kemanapun tanpa hasil."
"Da-Dai-chan, apa maksudmu?" Satsuki mulai merasakan sakit pada pergelangan tangannya, karena Daiki mencengkeramnya dengan begitu kuat.
"Berhenti membuang tenaga untuk hal percuma, Satsuki! Pecundang seperti dia memang tak aneh jika menyerah karena hal paling menggelikan sekalipun!"
"Naruto takkan pernah kembali bermain basket. Jadi berhenti mengikutinya, atau memang kau sengaja karena kau menyukainya?!"
Plak!
Tamparan yang membuat pipi Daiki memerah, sekaligus matanya membelalak.
"Berhenti omong kosong, Dai-chan. Aku tidak memiliki perasaan semacam itu."
"..." Daiki memalingkan wajahnya.
"Atau ini hanya umpan untuk memancing amarahku? Terakhir kau mengatakan masakanku bisa meracuni orang. Padahal apa yang kulakukan, semua tidak lebih untukmu, Dai-chan! Bukankah kau yang memintaku membujuk Naruto-kun agar dia bermain basket lagi? Aku ingin melihat kalian bermain seperti dulu. Agar wajah angkuh Aomine Daiki di hadapanku ini runtuh, dan senyumnya kembali ramah seperti Dai-chan yang kukenal beberapa tahun lalu! Kau ingin tahu alasan mengapa Naruto-kun berhenti bermain kan?!"
"Jadi berhenti menuduhku yang bukan-bukan!"
Satsuki menghempaskan tangan Daiki. Ia berlari, tanpa sengaja menabrak Naruto yang kebetulan lewat di hadapannya.
Daiki melihat itu, dan disaat bersamaan Naruto pula melihat daiki.
"Daiki?"
Daiki berpaling. Ia lalu pergi.
Naruto ingin mengejar, Namun gadis yang sedang menangis dalam pelukannya sekarang tidak mungkin ia tinggalkan.
Satsuki?
Kenapa dia menangis? Apa yang terjadi di antara mereka?
.
Tiga jam kemudian,
Sekolah sudah terasa sepi sejak beberapa menit bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.
Jam pelajaran memang sudah usai. Namun itu bukan acuan untuk mendeklarasikan semua siswa telah pulang ke rumah masing-masing.
Di atap sekolah, berbaring sesosok laki-laki berkulit gelap berbantal kedua lengannya.
Laki-laki yang tak tampak memiliki beban, tetapi apa yang terlihat kadang tidak selalu benar. Pikirannya berkecamuk saat ini.
Brakkk
Pintu atap dibuka kasar. Pemuda yang berbaring di sana menoleh ke arah sumber suara.
Daiki kemudian menemukan siswa laki-laki berambut pirang yang sangat ia kenali melangkah mendekatinya.
"Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Satsuki?" Tanya Naruto tanpa basa-basi.
Daiki memilih tak menjawab, malah-malah memejamkan mata.
"Jawab aku!" Naruto mulai kesal sebab merasa diabaikan.
Sesungguhnya ia juga memiliki sifat temperamen seperti Daiki. Hanya saja, ia masih mampu mengendalikan emosi itu agar tak berbuat hal bodoh ketika amarahnya membuncah ke kepala. Terlebih yang menjadi penyebabnya adalah sang sahabat sendiri. Ia perlu mendengarkan penjelasan Daiki sekarang juga. Dan tiba-tiba, senyum menyebalkan hinggap di bibir Naruto saat sebuah ide terlintas begitu saja dalam benaknya.
"Ne Daiki, aku baru sadar Satsuki memiliki aroma tubuh yang memabukkan. Saat dia memelukku sambil menangis ... aku merasa seolah-olah hilang kendali. Tubuhnya begitu hangat dan lembut. Sampai-sampai aku ingin—"
"Jaga bicaramu!" Daiki bangkit dari baringannya. Ia marah mendengar ucapan Naruto perihal Satsuki.
Ah, semua hal yang berhubungan dengan gadis itu, pasti memprovokasi seorang Aomine Daiki.
"Kukira kau sudah bisu tadi." Ucap Naruto kian mendekat, "Jadi bisa jawab pertanyaanku soal kenapa Satsuki menangis?"
"Itu bukan urusan—"
Bough
Naruto sejujurnya sudah merasa emosi sejak Satsuki menangis dalam pelukannya. Naruto hilang kendali, dan memukul wajah sahabatnya hingga Daiki tersungkur ke lantai.
"Aku benci melihat wanita menangis! Aku lebih benci lagi saat ku tahu sebab tangisannya adalah orang bodoh yang sudah dia kenal lebih separuh hidupnya!"
Cukup! Daiki memang harus mendapat pelajaran atas sikapnya.
"Sudah kubilang bukan urusanmu, Naruto!"
Bough
Jawab Daiki tak kalah keras, disusul sebuah pukulan ke wajah Naruto.
Emosi dan ego masing-masing memperteguh keduanya untuk saling terpancing hingga adu pukul pun tak dapat dihindarkan
Daiki mendekati Naruto yang tersungkur, ia menarik kerah baju lelaki berambut pirang itu dengan kasar.
"Urus, urusanmu sendi—"
Bough
Perkataan Daiki terhenti kala kepalan tangan kiri Naruto mendarat keras di pipi kananya.
"Sikapmu perlu diberi pelajaran, Daiki!"
Ketika Daiki jatuh, Naruto langsung menduduki perut Daiki. Ia memukul wajah ace klub basket Too itu bertubi-tubi.
Tak ingin pasrah dipukuli, Daiki langsung mengarahkan sebelah tangannya memukul Naruto.
Naruto terdorong ke samping lalu segera bangkit, begitu pun dengan Daiki yang langsung bangun dan memberinya pukulan.
Bough
Naruto terdorong ke belakang, akan tetapi belum terjatuh. Baik Naruto maupun Daiki berdiri dengan napas terengah. Lelah juga rasa sakit yang menghinggapi keduanya membuat mereka berhenti saling memberi pukulan.
Cukup. Ini adalah perkelahian bodoh.
"Kau, kau menyukai Satsuki? Bukan sebagai sahabat, tetapi lebih dari itu, benar?" Naruto berujar, lalu mengusap sudut bibirnya yang sobek akibat pukulan Daiki.
"Ya." Jawab Daiki setelah beberapa detik berlalu.
Naruto terdiam beberapa saat, kemudian melanjut kalimatnya.
"Sudah kuduga memang seperti itu. Perasaanmu boleh jadi sudah ada sedari sebelum aku pindah ke sini. Hanya kau tak menyadarinya." Ucap Naruto sambil berjalan pelan menuju pintu.
Netra kelam Daiki mengamati ke mana Naruto melangkah hingga si pirang tersebut berhenti di depan pintu.
"Aku dan Satsuki memang dekat belakangan ini, meski dulu kami tidak cukup akrab. Aku benci melihatnya menangis. Bila kau menyukainya, aturlah perasanmu dengan benar. Setidaknya jika tidak bisa menjaga senyumnya, jangan buat matanya sembab." Naruto berkata sambil tersenyum dan kembali melangkah.
"... bila itu terulang, besok kujamin lebih dari ini." Lanjut Naruto kemudian benar-benar pergi.
.
.
.
Bersambung
