Diamond no Ace by Terajima Yuuji

ONE DAY

Chap 3

By Whulan Yanagishita

Warning: BL, OOC, Typo bertebaran.

Enjoy and Happy Reading

Setelah berhasil melepaskan diri dari pandangan intimidasi dan pertanyaan penuh selidik dari Kominato Ryousuke, kini Sawamura dan Miyuki akhirnya dapat bernafas lega. Dengan tangan yang saling bergandengan, mereka bersama - sama berjalan santai menuju ke kamar nomor lima. Tempat dimana Sawamura tinggal.

Lirikan penuh arti terus menemani mereka dalam perjalanan kembali. Ingin bertanya, tapi malu memulai. Masih segar diingatan mereka tentang kejadian tadi. Hampir saja mereka saling memiliki namun dengan tak tahu dirinya Kominato bersaudara malah menghancurkannya. Dan sebagai gantinya, kini Sawamura dan Miyuki tiba - tiba merasa malu. Namun dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka sama - sama tak menyesalinya.

Terus mereka diam hingga mereka sampai didepan pintu nomor lima. Tak ada yang beranjak masuk ke dalam. Bahkan genggaman tangan kian mengerat. Kembali saling melirik hingga akhirnya tawa pun pecah.

"Hahaha ini sangat canggung Eijun" masih dengan tertawa Miyuki berucap.

Beberapa detikpun setelah dirasa cukup tenang, Sawamura pun mulai ingin melepaskan genggaman tangan mereka namun bukannya dilepas, Miyuki malah kian meremas. Menimpulkan kernyitan heran di dahi pemuda bermata emas.

"Aku mau masuk Kazuya" gumam Sawamura

Miyuki membawa tangan Sawamura ke bibir. Dikecupnya kembali punggung tangan Sawamura. Membuat lelaki didepannya merona. Dengan mata saling beradu, Miyuki terpesona menyaksikan bagaimana pipi Sawamura yang awalnya terlihat normal mulai dihinggapi rona kemerahan. Menggemaskan.

"Hei Eijun".

"Hemmmm".

Dikecup sekilas bibir lelaki didepannya. "Terus pikirkan aku ya" lanjut Miyuki kemudian.

Dan setelah itu, Miyuki pun berjalan pergi meninggalkan Sawamura yang masih diam mematung mencerna ucapan catcher utama Seidou.

.

.

.

Kuramochi dan Masuko tak bisa fokus. Padahal beberapa menit yang lalu mereka sama - sama bersemangat ingin memainkan game battle favorite mereka. Beberapa menit yang lalu pikiran mereka masih fokus tertuju pada game namun semua hancur ketika mereka menyaksikan kepulangan kouhai kesayangan mereka dalam keadaan yang tidak biasanya.

Kouhai kesayangan mereka yang biasanya berisik, tiba - tiba menjadi sangat pendiam. Cengiran tak pernah lepas dari sudut bibirnya dan kedua tangannya terus menerus menangkup pipinya yang terlihat memerah. Dan tak lama kemudian, dengan gerakan yang terburu - buru, Sawamura menuju ke arah lemarinya. Menarik kaos bermodel leher tinggi. Setelah itu dengan memunggungi Kuramochi dan Masuko, Sawamura mulai melepaskan kaos putih biru yang tadi dikenakanya dan mulai memakai kaos barusan yang ia ambil. Hingga leher Sawamura tertutup seluruhnya.

Dengan kejadian barusan membuat Kuramochi dan Masuko semakin dibuat penasaran. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dan kemana saja Sawamura pergi tadi. Begitulah kira - kira yang dipikirkan Kuramochi dan Masuko.

Hingga salah satu senpai yang sedari tadi penasaran pun tak kuasa menahan lagi. Lebih baik bertanya dari pada mereka kepikiran terus bukan.

"Sawamura-chan ada apa? Apa terjadi sesuatu hal yang menarik" tanya Masuko penasaran.

Sawamura bejengit sedikit. Matanya menatap Masuko. Sedikit melebar. Seolah - olah sedari tadi Sawamura tidak menyadari kehadiran kedua senpainya.

"Tidak ada apa - apa kok Masuko senpai hahahaha" jawabnya dan setelah itu Sawamura berbaring diranjangnya. Wajahnya di tenggelamkan dibantal. Menyembunyikan wajah bahagianya. Hal itu semakin sukses membuat kedua senpai didepannya melongo kebingungan. Namun mereka lebih memilih untuk berdiam. Tapi dalam hati, mereka bersumpah akan mencari tahu penyebab perubahan sikap aneh adik kesayangannya.

.

.

.

Siang telah berganti malam. Sawamura yang saat itu baru selesai makan kini mulai berjalan ke arah kamar nomor lima, tempat dimana dirinya tinggal. Namun kali ini ada yang berbeda dari lelaki yang mempunyai impian menjadi seorang ACE. Jika biasanya lelaki itu terlihat ceria dan mudah tersenyum, namun saat ini dia terlihat cemberut dan lesu. Dan penyebab dirinya menjadi seperti itu karena ketidak hadirnya Miyuki Kazuya.

Kata teman sekamarnya tadi, setelah sekembalian Miyuki ke kamarnya, tiba - tiba Chris datang ke kamar dan memberitahukan bahwa pelatih Kataoka memanggilnya. Tujuan pelatih Kataoka adalah untuk mengajak Miyuki menonton pertandingan sekolah Akikawa. Karena jadwal pertandingan selanjutnya, Seidou berkesempatan melawan Akikawa. Dan pelatih Kataoka meminta Miyuki untuk mengamati mereka, terutama pada sosok You Shunshin, ACE dari tim baseball Akikawa yang juga mendapat julukan Clock Work.

Mereka sudah pergi berjam - jam yang lalu, namun sampai sekarang Miyuki, pelatih Kataoka dan Chris belum juga kembali. Dan itu membuat Sawamura merasa sedih karena saat ini dirinya tidak bisa bertemu dengan Miyuki, lelaki yang tadi siang berhasil mencuri ciuman pertamanya.

Dengan masih memasang ekspresi masam diwajahnya, Sawamura pun membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk ke dalam. Didalam kamar sudah ada Kuramochi, Masuko dan Maezono yang sedang fokus bermain game. Tanpa memperdulikan ketiga senpainya, Sawamura mendekati ranjangnya dan mulai berbaring nyaman. Dari pada merasa jengkel, lebih baik dirinya tidur saja. Toh besok ia bisa bertemu kembali dengan Miyuki. Begitulah kira - kira yang dipikirkan Sawamura.

Beberapa menit kemudian, Sawamura merasa sisi ranjangnya tertekan. Memberitahukan jika ada seseorang yang sedang duduk di sisi ranjangnya. Sedikit membuka matanya hanya untuk menemukan Kuramochi, senpai berambut hijau yang suka mengerjainya sedang duduk menghadapnya. Matanya tak pernah lepas mengamati wajah Sawamura.

"Sedari tadi kau bersikap aneh. Apa kau sedang sakit?" tanya Kuramochi khawatir sambil meletakkan telapak tangannya ke dahi Sawamura. Mengecek keadaan adik kesayangannya.

Sawamura yang mendapatkan perhatian dari Kuramochi mulai gelagapan. Tidak mungkin kan dirinya bilang jika sedari tadi yang membuat dirinya bertingkah aneh adalah Miyuki. Apalagi jika dia menceritakan tentang kejadian tadi siang. Sawamura yakin Kuramochi tidak akan segan - segan untuk memukul rahang Miyuki. Belum juga ada Masuko. Entah apa yang terjadi jika Kuramochi dan Masuko sampai tahu. Sawamura masih berharap Ryousuke senpai tidak membocorkan kejadian tadi siang.

"Aku tidak sakit kok Kuramochi senpai" bohong Sawamura.

"Sawamura-chan jika kau sedang ada masalah, kau bisa bercerita dengan kami. Beban jangan disimpan sendiri. Jika kau tak lupa, kami para senpai selalu siap membantumu" dapat Sawamura liat dari sudut matanya, kini fokus Masuko dan Zono berpusat sepenuhnya ke arahnya. Sedangkan di layar tv terpampang besar tulisan game over. Sepertinya kedua para senpai masih tidak bisa fokus bermain karena memikirkan sikap aneh roommate kesayangan mereka.

Mendudukkan dirinya dan mencoba memasang wajah normal seperti biasanya, Sawamura mulai berkata "Sungguh aku tidak sakit. Hari ini tidak ada latihan jadi ya aku agak sedikit frustasi saja hahaha".

"Kalau kau sebegitu frustasinya kenapa tadi tidak berlari dengan membawa 'aibou'mu saja" kali ini Zono yang berbicara. Dan ucapan tak terduga dari Zono sukses membuat Sawamura kembali gelagapan. Sedangkan Kuramochi dan Masuko semakin curiga.

"Astaga kalian ini kenapa sih. Aku tidak sakit. Aku juga tidak kenapa - kenapa. Kenapa kalian terlalu berlebihan sih" kembali Sawamura membaringkan tubuhnya. Dengan membelakangi para senpainya, Sawamura menunjukkan sikap masa bodoh. Semoga mereka percaya. Begitulah doa Sawamura dalam hati.

Perempatan muncul di dahi Kuramochi. Dengan tidak prikemanusiaan, lelaki bernomor punggung 6 menendang pantat lelaki di depannya. Niatnya ingin membantu malah dicuekin. Siapa yang tidak gondok.

Tanpa memperdulikan teriakan protes dari Sawamura. Kuramochi masih menganiaya pantat pemuda beriris emas.

"Aduh Kuramochi senpai jangan ditendang lagi" protes Sawamura untuk kesekian kalinya.

"Dasar bocah tak tahu terima kasih" teriak Kuramochi.

"Tapi Sawamura" Zono mulai berucap. Membuat Sawamura dan Kuramochi terdiam. Melupakkan pertengkaran mereka tadi. "Jika kau tidak sakit, kenapa kau memakai pakaiannya yang tertutup. Kau bahkan memakai baju berkerah tinggi. Saat ini bukan musim dingin dan udara saat ini sedikit panas" lanjut Zono yang lagi - lagi membuat Sawamura kelabrakkan.

'Itu untuk menutupi bekas gigitan Miyuki' jerit Sawamura dalam hati. Namun tidak berani ia katakan. Sawamura tidak ingin Miyuki dihajar Kuramochi dan Masuko.

"Ah itu... Karena... Karena..." sial sawamura tidak dapat menemukan alasan lain. Saat ini otaknya tidak bisa memikirkan alasan yang logis. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Sawamura menampilkan cengiran bodohnya. "Hahaha".

"Woi teme, kami butuh jawaban bukan cengiran bodohmu" dengan mata memicing, Kuramochi menunggu penjelasan. Namun bukannya menjelaskan, Sawamura malah kembali berbaring.

"Sudah lah senpai, aku mau tidur".

"Woooiii... ".

"Sudahlah Kuramochi. Biarkan Sawamura-chan istirahat. Toh kita masih bisa MENCARI TAHU walaupun Sawamura-chan tutup mulut" kata Masuko dengan penuh penekanan.

OH SIAL. Masalah besar.

Menghela nafas kasar, Kuramochi mulai bangkit berdiri dan berjalan kembali ke tempat Masuko dan Zono berada. Dengan tangan masing - masing memegang stik, mereka mulai kembali melanjutkan permainan yang tadi sempat terabaikan.

Hening.

Satu - satunya suara yang tercipta adalah suara tv dan jari - jari yang menekan buas stik ps.

TOK TOK...

Diabaikan. Tak ada yang berniat untuk membukakan pintu.

TOOKK TOOKK...

Masih tak ada yang bergerak. Namun salah satu dari keempat orang mulai bergerak gelisah. Tangannya sudah gatal ingin memukul seseorang yang dengan kurang ajarnya berani mengganggu konsentrasinya.

TOK TOK TOK TOK TOK...

SIALAN!

Kuramochi meloncat berdiri. Dengan langkah yang dihentakkan, Kuramochi membuka pintu kamar dengan kasar dan mendapati lelaki yang mendapat julukan lemparam monster sedang berdiri tenang didepan pintu. Ekspresinya terlihat kalem seolah - olah dirinya tidak bersalah telah membuat pria didepannya marah.

"Apa mau mu teme" bentak Kuramochi.

"Kuramochi senpai, Sawamura ada?".

Mengerti maksud pemuda didepannya, Kuramochi menaikkan sebelah alisnya. "LAGI?" tanya Kuramochi.

Furuya diam. Kuramochi berdecak kesal. Membuka pintu lebih lebar. Mempersilahkan Furuya untuk masuk kedalam. Setelah masuk, Furuya segera menghampiri satu - satunya lelaki yang sedang berbaring nyaman diatas ranjangnya.

Sawamura yang saat itu sedang tidur ayam - ayaman merasa terusik karena tepukan yang dirasakan dibahunya. Masih dalam keadaan setengah sadar, Sawamura membalikkan badan dan menemukan Furuya -pelaku penepuk bahunya yang sedang duduk dekat dibelakangnya.

"Bolehkah aku tidur disini lagi Sawamura. Senpai sekamarku lagi - lagi berisik".

"Eh..." belum sempat menjawab, dengan seenaknya Furuya sudah membaringkan badannya disebelahnya. Sawamura yang mengerti bagaimana keras kepala rivalnya pun hanya bisa pasrah dan menggeser badannya, memberikan ruang agar Furuya lebih merasa nyaman. Di atas ranjang yang sempit dengan satu bantal saja. Mereka berdua berbaring bersebelahan dengan dekat. Bahkan pundak mereka saling menempel.

"Tidurlah yang nyenyak Sawamura" Furuya kini mengganti posisinya menyamping, hingga kini Furuya berhadapan langsung dengan Sawamura. Dengan jarak sedekat ini, Sawamura tiba - tiba menjadi gugup. Bahkan dirinya dapat merasakan deru nafas Furuya yang menerpa pipinya. Lalu kemudian jemari Furuya mulai mengelus lembut dahi Sawamura. Membuat mata Sawamura mulai memberat.

"Hem kau juga Furuya" menyerah dengan rasa kantuk, Sawamura mulai terlelep.

Suasana kembali hening. Lagi - lagi yang terdengar hanya suara tv dan jari - jari yang bercumbu ganas diatas stik. Baik ketiga orang yang sedang bermain game tidak mengeluarkan satu katapun. Hingga-

"Aduh Furuya kenapa kau menarik bantalnya. Hei kenapa hanya kau saja yang memakainya. BAGI".

"Berisik. Sini".

"Hei aku bilang bantal bukan tanganmu. Kemarikan bantalnya".

"Sudahlah kemari. Kau akan merasa lebih hangat".

"Hei mpphhh...".

"..."

Kembali suasana hening tercipta. Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara dengkuran halus. Sepertinya duo kelas satu sudah memasuki alam mimpi.

"Dasar modus kau Furuya" batin ketiga senpai yang masih asik bermain game. Mereka masih fokus bermain tanpa berniat mengecek keadaan kedua pemuda yang beberapa saat lalu bertengkar.

TOK TOK

Astaga siapa lagi yang bertamu malam - malam begini. Batin ketiga orang yang masih fokus ke layar tv.

TOK TOK

Masuko mulai menyikut Zono. Namun Zono malah memandang Kuramochi. Sedangkan yang ditatap balik menatap sok polos. Seolah - olah tidak mengerti isyarat mata yang diberikan kepada Zono.

TOOKK TOOKK

Kini Masuko ikut menatap Kuramochi. Memunculkan kembali perempatan didahi pria yang dijuluki cheetah.

TOK TOK TOK TOK TOK TOK...

BERENGSEK

Untuk kesekian kalinya Kuramochi kembali mengumpat dan sesegera mungkin menuju ke arah pintu. Namun sebelum membuka pintu, Kuramochi menyambar batt yang letaknya tak jauh di dekat pintu. Dengan memasang wajah galak dan batt yang dipanggul dibahu, Kuramochi membuka dengan kasar. Siap menghajar siapa saja yang lagi lagi merusak malam berharganya.

Sang pelakunya pengedoran seketika memasang ekspresi horor saat mendapati Kuramochi siap mengayunkan batt nya ke arahnya. Memundurkan sedikit, mencari jarak aman. Lelaki yang memakai kacamata itu mulai berkata "O-oi Kuramochi ini aku sial".

"Sialan kau Miyuki. Apa mau mu malam - malam begini hah".

Cengiran menyebalkan pun ditunjukkan. Membuat tangan Kuramochi gatal ingin memukul wajah pemuda didepannya. "Aku ingin bertemu dengan Sawamura hahaha".

Sudah diduga. Apalagi yang membuat sosok Miyuki Kazuya rela malam - malam begini datang jika tidak ingin bertemu dengan sosok yang disukainya. Namun sepertinya Miyuki harus menelan pahit - pahit. Mengingat sudah ada orang yang datang lebih dulu darinya.

"Ck kau sudah terlambat kawan".

"Hah?".

Kuramochi mengeser tubuhnya menjauh dan membuka pintu lebih lebar. Jempolnya menunjuk sesuatu yang bearada dibelakangnya. Penasaran, Miyuki pun maju mendekat. Dan seketika dirinya mengetahui apa maksud ucapan dari teman sebanyanya itu.

Diatas ranjang, terlihat dua sosok pemuda yang saling mendekap erat. Terlihat lelaki berambut coklat sedang tidur dengan posisi membelakangi lelaki yang satunya. Namun tangan pemuda berambut hitam memeluk erat pinggang Sawamura. Sedangkan tangan yang satu lagi diselipkan dibawah kepala pemuda didepannya, menjadikan sebagai bantal. Kakinya pun melingkar sempurna, seolah - olah pemuda yang didekapannya adalah guling. Bahkan dari sini Miyuki dapat melihat wajah Furuya ditenggelamkan dirambut Sawamura. Badan mereka menyatu dengan erat. Tanpa ruang dan celah. Membuat hati Miyuki berdenyut sakit.

Kuramochi menepuk pelan bahu sahabatnya. "Sudah kubilang kan kau terlambat kawan".

.

.

.

Hari telah berganti. Gelap malam sudah berganti dengan terangnya sinar mentari. Sama seperti biasanya, rutinitas awal bagi seluruh anggota tim baseball Seidou adalah latihan pagi. Tidak terkecuali bagi Miyuki Kazuya sang catcher utama Seidou. Setelah puas berlatih mengayun batt dan pergi mandi. Kini dengan keadaan segar bugar, Miyuki dan beberapa murid asrama lainnya sedang berkumpul dikantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Sekolah dimulai dari pukul 8 pagi dan sekarang masih pukul 7. Masih ada waktu 1 jam lagi, namun sudah banyak yang datang dikantin.

Mengedarkan pandangan kesekeliling, Miyuki mencari keberadaan kouhai kesayangannya. Namun mata coklatnya tak dapat menemukannya. Bahkan keberadaan Furuya pun juga tak terlihat. Dengan perasaan dongkol, Miyuki menghampiri salah satu bangku yang disana sudah ditempati Kuramochi dan Ryousuke.

"Pagi Miyuki. Ini masih pagi tapi mukamu masam sekali" sapa Kuramochi begitu Miyuki sudah duduk disebelahnya.

"Are ku kira dengan kejadian kemarin, hari ini kau lebih bersemangat lagi Miyuki hahaha" kata Ryousuke.

"O-oi Ryousuke senpai" Miyuki mulai panik. Sial jangan bilang senpainya ini mau membocorkan kejadian yang kemarin. Sebenarnya sih Miyuki tidak keberatan. Mungkin dengan menyebarnya tentang kejadian kemarin, murid - murid yang lainnya jadi tahu jika dirinya dan Sawamura memiliki hubungan yang lebih dari seorang pitcher dan catcher. Namun Miyuki tidak ingin bertindak egois. Bagaimanapun juga Miyuki harus memikirkan bagaimana perasaan Sawamura. Dirinya tidak ingin membuat Sawamura malu dan merasa tak nyaman.

"Hah kejadian apa?" Kuramochi menatap Miyuki dan Ryousuke bergantian. Hatinya sedikit tercubit mengetahui Miyuki dan Ryousuke merahasiakan sesuatu darinya.

"Lupakan. Ryousuke senpai hanya iseng".

"WOOIIII..."

"Hihihihi".

"Woi kalian ber-..." perkataan Kuramochi terputus karena merasakan usapan yang diberikan Ryousuke pada kepalanya.

"Mochi-chan hari ini sangat berisik. Jika masih berisik, aku akan membungkammu dengan bibirku ini lo" kata lelaki berambut merah muda yang sukses membuat pria disebelahkan bungkam seketika. Dengan wajah yang mulai merona, Kuramochi mulai melahap mangkuk keduanya.

Miyuki mendecih sebal. Merasa iri dengan pasangan kekasih disebelahnya ini.

"Uwoo kalian bertiga sudah ada disini ternyata. Selamat pagi Ryousuke senpai, Kuramochi senpai dan Miyuki senpai" seperti badai, kedatangan Sawamura selalu meramaikan disetiap keadaan. Dengan teriakannya yang khas dan wajah cerianya membuat siapa saja yang berada disana merasa senang. Tak terkecuali bagi pria bernomor punggung 2. Hari ini penampilan Sawamura terlihat lebih fresh dengan celana training putih dan kaos lengan panjang warna putih merah. Tak lupa senyuman yang tak pernah luntur disudut bibirnya. Sawamura dipagi hari ini terlihat sangat imut. Membuat Miyuki ingin mendekapnya saja.

Tepat dibelakang Sawamura ada Furuya dan Haruichi berada. Mereka berdua mengekori Sawamura yang saat ini sedang berjalan menuju ketempat Miyuki berada. Setelah sampai, Sawamura mendudukan dirinya tepat didepan Miyuki hingga posisi sekarang Sawamura berhadapan dengan Miyuki. Furuya berhadapan dengan Kuramochi. Sedangkan Kominato bersaudara saling berhadapan.

"Pagi senpai" sapa Furuya dan Hairuichi bersamaan.

"Pagi juga. Bagaimana tidur kalian. Nyenyak?" tanya Ryousuke.

"Lumayan aniki" jawab Haruichi.

Hening. Tak ada yang berbicara lagi. Kini mereka fokus untuk menghabiskan makanan didepan.

Mata Miyuki tak pernah lepas mengamati tingkah laku Sawamura. Dan kekehannya tak bisa ditahan lagi saat melihat pipi Sawamura yang sedikit chubby makin mengembung lucu karena banyaknya nasi yang dia masukkan kemulutnya. Seluruh penghuni yang menempati meja itu serempak menatap Miyuki dengan pandangan aneh.

"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" sambil mengambil kembali sumpitnya, Miyuki menyupit sosisnya lalu meletakkan sosis itu dipiring Sawamura. Membuat Sawamura mengernyit bingung.

"Makanlah yang banyak Sawamura".

"Miyuki senpai, kau ini sebenarnya perduli atau membenciku sih. Lihatlah ini" dengan mulut penuh, Sawamura menunjuk nampan didepannya. Tiga mangkuk penuh nasi yang menggunung, dua mangkuk penuh sayuran, ikan, telur dan sosis dengan masing - masing porsi besar memenuhi nampannya. "Lihat kan ini sudah banyak dan kau mau menambahinya lagi. Kau ini ingin membuatku menjadi gendut agar aku tidak bisa menjadi pitcher hah" lanjut Sawamura penuh protes.

"Hei aku tidak sejahat itu kau tau. Kau masih kelas satu Sawamura, dan kau masih dalam tahap pertumbuhan. Justru jika kau makan banyak, tubuhmu akan menjadi semakin kuat" jelas Miyuki.

Alis Sawamura semakin berkerut. Bagi dirinya penjelasanan Miyuki tidak masuk akal. Menurut Sawamura jika ingin semakin kuat, maka harus banyak - banyak berolah raga dan berlatih bukan malah memperbanyak porsi makanan.

"Tapi ide membuatmu gemuk bagus juga" lanjut Miyuki sembari memasang ekspresi serius. "Dengan begitu pipimu akan semakin membulat hahaha" dengan gerakan cepat Miyuki menoel pipi Sawamura yang sukses membuat pemilik pipi mengerutu tak terima.

Furuya yang sedari tadi mengamati Miyuki pun tidak mau kalah. Dirinya menyupit sosisnya lalu ikut menyodorkan kepada Sawamura. Bukan hanya itu saja, setelah memberikan semua sosisnya pada Sawamura, Furuya mulai mengambili dan memakan satu persatu sosis dari piring Miyuki, hingga ludes tak bersisa. Miyuki yang tak terima langsung menjitak kepala Furuya.

"Oi Furuya kenapa kau memakan semua sosis milikku" protes Miyuki.

Masih mengaduh kesakitan akibat jitakan Miyuki, Furuya menjawab "Kau bilang harus banyak - banyak makan agar tubuhku kuat. Jadi ya aku makan saja".

"Aku tadi bilang untuk Sawamura bukan padamu".

"Lantas apa bedanya? Sawamura kelas satu begitu juga denganku".

Miyuki kicep. Haruichi dan Ryousuke terkekeh. Kuramochi sudah tertawa terbahak - bahak. Tidak ada yang mau mengalah kalau sudah dalam urusan merebut hati seorang Sawamura.

Sawamura yang tak enak hati pada Miyuki mulai membagi sosis miliknya pada Miyuki dan Furuya namun malah ditolak oleh keduanya. Tak mau ambil repot lagi, Sawamura mulai kembali menyantap sarapannya tanpa menyadari pandangan Miyuki dan Furuya yang tak pernah lepas darinya.

Pandangan yang mengisyaratkan rasa tersiksa dan merana. Dan tak ada yang menyadarinya kecuali ketiga orang yang saat ini ikut duduk bersama mereka.

.

.

Ada dua hati yang sama - sama memanggil namamu.

Dan bila keduanya sudah rapuh dan siap meledak.

Nama siapakah yang kau ucap?

.

.

Bagi Sawamura baseball adalah nafasnya. Tanpa baseball, Sawamura merasa ada yang kurang dalam dirinya. Entah sejak kapan Sawamura menyukai baseball, sejak kapan dirinya tergila - gila ingin menjadi seorang ACE. Sawamura tidak ingat, namun yang pasti dirinya tidak akan pernah melupakan rasa ketika pertama kali tangannya memegang bola baseball,. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah melupakan suara pertama yang dihasilkan dari tangkapan mitt kakeknya. Sawamura mencintai olah raga baseball. Namun walaupun dirinya mencintai baseball, tapi entah bagaimana dirinya tidak pernah akur dengan olah raga sepak bola. Bagi Sawamura, lebih mengasyikan melempar bola ketimbang menendang bola. Dan baginya juga lebih mendebarkan ketika dirinya lari dari base ke base ketimbang lari dengan menggiring bola. Intinya Sawamura membenci sepak bola. Walau sama - sama berhubung dengan bola, Sawamura dan sepak bola tidak pernah akur.

Itu sebabnya ketika guru olah raganya memberitahu jika kelasnya akan bermain sepak bola, Sawamura ogah - ogahan menyetujuinya. Dan itulah yang membuat dirinya masih betah berlama - lama tertinggal diruang ganti pria. Dengan gerakkan lambat, Sawamura mengganti pakaian sekolahnya dengan baju olah raga.

"Astaga kau ini lelet sekali Sawamura. Lihatlah, teman - teman kita sudah mulai melakukan pemanasan" dengan bersandar santai di depan pintu loker, Furuya menggelengkan kepalanya melihat gerakan lambat jemari Sawamura. Mata Furuya tak pernah lepas menatapnya dan itu sedikit membuat Sawamura merasa gugup.

"Tidak ada yang memintamu menungguku Furuya" kata Sawamura sambil memasang kancing terakhir. Dirinya sudah rapi dan kini dirinya harus bermain dengan olah raga yang dibencinya. Masih memasang raut cemberut, Sawamura mulai berjalan ke arah Furuya. Siap untuk mengajak Furuya keluar dari ruang ganti. Namun belum sampai, Furuya sudah menarik Sawamura mendekat. Bukan hanya itu saja, Furuya mendorong Sawamura hingga punggungnya menghantam pintu loker yang tadi dibuat bersandar Furuya.

Sawamura tidak mengerti dengan tingkah Furuya yang tiba - tiba terlihat marah, namun ia tidak mencegah saat jemari lelaki berambut hitam didepannya melucuti satu persatu kancing baju yang tadi barusan dikancingkan hingga kini bagian lehernya tereksplor jelas. Menampilakan sesuatu yang membuat mata lelaki di depannya terlihat menakutkan.

"Fu... Furuya. Kau kenapa? " tanya Sawamura hati - hati.

Tak ada suara yang keluar dari mulut Furuya. Namun pandangan Furuya tak pernah lepas dari leher pria beriris emas.

"Siapa. Siapa yang sudah menciummu Sawamura".

"Eh... ".

"AKU BILANG SIAPA YANG SUDAH MEMBERI TANDA DILEHERMU SAWAMURA?".

Sawamura terdiam. Tubuhnya terasa kaku karena teriakan barusan Furuya. Dirinya tidak menduga, Furuya, sahabat sekaligus rivalnya berteriak seperti itu kepadanya. Dan itu membuat dirinya merasa takut luar biasa. Belum lagi dengan tatapan yang diberikan padanya.

"AKU TANYA SIAPA?" sekali lagi Furuya bertanya.

Sawamura tidak berani menjawab. Kepala ditundukkan, tidak berani menatap wajah lelaki dedepannya. Dan diamnya Sawamura membuat Furuya semakin yakin jika orang itulah yang sudah mencium Sawamura. Orang itulah yang sudah menandai orang yang dicintainya.

Dia.

Miyuki Kazuya.

SIALAN!

.

Mungkinkah semuanya akan sia - sia?

Apakah aku tidak boleh berjuang?

Apakah aku tidak pantas bertahan?

Siapa yang egois? Aku atau Takdir?

.

.

TBC

.

Maaf ya baru update sekarang. Sebenarnya ini chapter sudah kelar dari bulan lalu cuma belum sempat diedit aja. Pas mau edit, eh ada aja halangannya. Jadi mumpung ada waktu luang, yaudah aku publikin hehehe. Maaf yah jika chapter ini kurang memuaskan. Dan terima kasih buat yang sudah review di chapter 1 dan 2.