Itachi pun berhasil terpojokkan dan ia pun mengeluarkan keringat dingin, ditutupinya aset berharganya dengan kedua buah tangannya.
'Singkirkan tanganmu itu Itachi, kau menghalangi ku ke tujuan utamaku.'
'Atau apa kau menginginkan tanganmu kutebas juga??'
Itachi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Diliatnya wajah adiknya yang dalam mode sinting itu, kemudian seperti tidak terjadi apa-apa ia menyodorkan sesuatu di depan mata Sasuke..
"Ini aku tidak membuangnya tapi menyimpannya." Ia hanya bercanda dengan adiknya, ia hanya ingin bermain-main, dan tak menyangka kalau adiknya itu akan membunuh aset berharganya karena kotak merah itu. Baru kali ini Sasuke serius akan suatu hal.
Hal itu kemudian membuat Sasuke yang tadinya sinting menjadi normal dan ia kembali sadar setelah ia meraih benda merah kecilnya itu. Pedang kusanaginya pun ikut menghilang tanpa jejak.
Melihat sekeliling yang berantakan sana-sini, dan barang pecah di mana-mana,
'Aniki aku tak tahu apa yang telah kau lakukan, tapi kau telah membuat seluruh rumah ini berantakan. Segera kau bersihkan. Kau tahu kan aku selalu menyukai segala sesuatu tersusun rapi. Selain istriku yang berantakan karena ulahku, tak boleh ada yang berantakan di depan pandangan mataku.'
Itachi yang mendengar kata-kata adiknya hanya bisa sweat drop, yang berantakin sapa yang bersihin sapa. Tapi karena ia tak ingin burungnya di incar lagi, ia pun hanya bisa mengiyakan apa yang diminta adiknya itu.
Sasuke pun melihat jam tangannya kemudian bersiap-siap untuk pergi.
'Ckk.. Gara-gara kamu Itachi, aku jadi terlambat satu jam untuk menemui istriku tercinta.'
Seperti mengingat sesuatu..
"Kapan kau punya istri Sasuke?? Pacar saja kau belum punya."
'Aku tidak sepertimu Itachi, yang memakai 1001 cara untuk mendapatkan pacarmu itu, tapi sampai sekarang tak ada hasil. Sungguh sangat memalukan.
Aku tipe yang tak suka basa-basi, langsung ke intinya saja. Ini..'
Sambil menunjukkan sebuah buku yang judulnya "1001 Cara Untuk Mendapatkan Istri Idaman".
"Ini bukannya sama saja", kata Itachi heran, ia juga mempunyai buku yang sama sebagai pedomannya.
'Tentu saja, ini buku milikmu, aku mengambilnya. Buka halaman terakhir paragraf terakhir.'
Dan Itachi pun membuka halaman terakhir dan membaca paragraf terakhir, di situ tertulis..
Dan yang paling utama dan terakhir setelah kamu melakukan 1000 cara di atas, maka segera lah lakukan satu langkah terakhir yaitu dengan melamarnya. Otomatis segala jerih payah, pahit-manis, tarik-ulur dan bahkan kegagalan yang telah anda lakukan sebelumnya akan terbayarkan. Good luck and Ganbatte!!
"Jadi.." Kata Itachi tak berani meneruskan kata-katanya.
'Yupp.. Aku lakukan bagian terakhir itu..'
"Sejak kapan kau mengenalnya??"
'Kemarin, ketika aku tak sengaja lewat di depan warung ramen di pinggir kota. Aku lupa nama tempatnya.'
"Kemarin!! Kau mengenalnya kemarin!??"
'Yupp'
"Apa dia sudah mengenalmu??"
'Tentu saja belum, aku hanya melihatnya sekali saja dan kurasa dia tidak melihatku'.
"Dan kamu langsung melamarnya?? Kau tak gila kan Sasuke?? Aku tahu kamu terkadang sinting tapi kau tidak sesinting ini kan?? Kau masih punya otak kan?? Dia bahkan tak tahu siapa dirimu. Dan lagi apa kau tahu siapa dirinya??"
'Kau menanyaiku dengan pertanyaan yang beruntun, kau tak tahu aku sedang tergesa-gesa??'
Sasuke pun berbalik dan beranjak pergi, tapi sebelum ia melangkahkan kakinya lebih jauh, lengannya ditarik dari belakang.
"Kau tidak akan boleh pergi sebelum aku mendengar semuanya Sasuke. Ini menyangkut masa depan kamu."
Maka terjadi tatap-tatapan antara kakak beradik. Mereka sama-sama mengeluarkan death glare terbaiknya. Aura di sekitar mereka menghitam.
Sasuke yang tak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi, akhirnya menyerah. Ia tak ingin istrinya menunggu lebih lama lagi karena dirinya.
'Sebelum aku melamarnya tentu saja aku sudah mencari informasi mengenai dirinya Aniki. Untuk masalah dia kenal atau tidak, tak ada yang tak mengenal diriku. Dan tak ada yang menolak seorang Uchiha. Apalagi lelaki setampan aku. Aku tidak sepertimu Aniki, yang sudah keriput walau umur masih muda.
Jadi walau dia tak mengenalku sebelumnya, ketika dia melihatku, otomatis dia akan jatuh cinta kepadaku. Seperti aku yang jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama.'
Itachi yang mendengar penjelasannya hanya bisa menggeram dalam hati. Menyalahkan logika Sasuke yang diluar nalar manusia pada umumnya.
Arggg untung yang didepannya ini adik tercintanya, kalau orang lain sudah dibunuhnya dari tadi.
"Apa aku mengenalnya??"
'Kurasa tidak, dia sangat sibuk dan dia mempunyai kakak yang overprotective. Mungkin kau pernah bertemu dengannya. Dia yang mengepalai salah satu cabang besar dari perusahaan ayahnya.'
"Pekerjaannya??"
'Sama seperti kakaknya, hanya beda cabang. Sama seperti kau dan aku.'
"Kalau begitu kau tidak takut kalau tiba-tiba kakaknya itu muncul menghancurkan rencanamu??"
'Aku tidak bodoh sepertimu Aniki, tentu sebelumnya telah kubuat perusahaan yang di bawahi oleh kakaknya tertimpa masalah.'
"Yaitu dengan??"
'Mengebomnya. Kusuruh Deidara untuk melakukan eksperimen seni terbarunya di sana.
Ide yang bagus kan??' kata Sasuke dengan bangga.
'Aku tahu, aku selalu lebih pintar darimu.' lanjutnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Kakaknya.
'Dan kalau sesuatu yang terburuk terjadi dan Kakaknya masih datang ke kota ini. Kau yang akan mengurusnya Aniki.' katanya kemudian pergi meninggalkan Itachi yang masih benggong tak percaya atas apa yang telah didengarnya.
