Crossover Naruto x Nanatsu no Taizai
Naruto by Masashi Kishimoto
Nanatsu no Taizai by Nakaba Suzuki
Rate : M for safe
Warning : Typo bertebaran, tidak sesuai eyd, alur beda, dan masih banyak lagi.
Genre : All aja dah :v
Summary : Antara benci dan sayang? entahlah dia memilih yang mana, Dia habiskan hidup demi adiknya yang merupakan pengkhianat dari klan. Rela tersegel karena tidak ingin melukai keluarganya. Inilah hidup yang dijalaninya di dunia yang semu yang akan hancur.
--Brother--
"Sepuluh Perintah Tuhan telah bangkit kembali". Ucapan Meliodas membuat Mereka minus Merlin tambah terkejut.
Pria bersurai pirang jabrik nampak duduk melihat ke arah depannya. Mata biru safirnya nampak menatap matahari yang akan terbenam sebentar lagi.
"Aku akan menunggumu, Meliodas". Gumamnya pelan.
Apa gunanya bangkit kembali jika nanti akan mati. Naruto menatap ke arah bulan yang bersinar menggantikan matahari yang telah melakukan tugasnya di pagi hingga petang hari.
Semakin menatap membuat pikirannya ikut melayang. Kepingan memori-memori masa lalunya saling berputar di pikirannya.
"Kau ternyata disini hm...". Suara halus dari wanita bertubuh kecil bersurai perak membuat lamunan Naruto buyar.
Matanya masih menatap ke langit di mana bulan bersinar indah. Seakan tak kalah, bintang-bintang pun juga unjuk gigi berkelip-kelip menambah keindahan langit malam.
"Kau dengar aku Koi?". Ucap wanita itu membuat Naruto menoleh sedikit terkejut dengan panggilan sayang yang ia gunakan.
"Sejak kapan kau belajar menggunakan panggilan Sayang Merascylla?". Bukannya Naruto tidak suka, hanya saja dia merasa malu jika dipanggil seperti itu.
Wanita itu aka Merascylla tersenyum tak menjawab, dia berjalan ke arah Naruto. Saat sampai dia mendudukan dirinya di sebelah Naruto.
"Kau suka?". Tanyanya penuh harap.
Naruto agak bimbang, meskipun dia malu dipanggil seperti itu tapi di sisi lain dia menyukainya seakan-akan Naruto hanya milik Merascylla dan juga sebaliknya.
"Sedikit, tapi aku juga tidak membencinya". Ucap Naruto seadanya.
Naruto lebih memilih jujur dan terbuka jika pada kekasihnya, panggilan itu meskipun lebih pas untuk pasangan suami istri tapi jika dilihat-lihat dia telah terikat oleh Merascylla selama beribu-ribu tahun walaupun belum menikah.
"Ne... Naruto-kun". Panggil wanita perak itu dengan pelan.
Naruto menoleh ke arah Merascylla menunggu sesuatu yang akan diutarakan kekasihnya itu.
"Dulu, aku tak pernah berpikir akan menjadi seperti ini". Merascylla menatap ke arah langit.
"Kau tahu, bersifat dingin, tak peduli kepada orang lain, membunuh seenaknya, dan masih banyak lagi. Bahkan aku tak memiliki ekspresi dan mungkin juga hati". Ujarnya lirih.
"Tawa pertamaku karenamu, tangisan pertamaku karenamu, kesal pertamaku karenamu. Jika kau pikir aku saat bayi tak menangis, kau sangat benar. Aku tak pernah menangis waktu kecil karena entah mengapa aku tidak bisa merasakan apa-apa".
Naruto masih diam mendengar utaran hati kekasihnya. Kekasih kecilnya ah salah mungkin akan lebih pas disebut istrinya ah mungkin itu juga kelebihan, oke lupakan itu. Merascylla, saat pertama bertemu dengannya, Naruto sudah menyukainya.
"Koi, masih ingatkah kau saat itu?". Tanya Merascylla penasaran.
Naruto melirik sedikit wanita itu, "Saat apa?". Ucapnya.
Flashback On (Ribuan tahun yang lalu)
Indahnya malam menghiasi wilayah Klan Iblis. Sinar bulan nampak menerangi sebuah tanah lapang yang terdapat seorang pria bersurai pirang yang bertelanjang dada.
Meskipun di gelapnya malam, sorotan mata biru itu nampak tajam dan penuh ketegasan. Tapi, itu tak bertahan lama saat seorang pria cebol bersurai sama dengannya datang.
Di Tempat Itu
"Ne... Onii-chan, bisakah kau membantuku besok?". Pintanya penuh harap. Naruto menatap adiknya itu dengan senyum tulus yang melekat di wajahnya.
"Mungkin aku bisa". Terima Naruto sedangkan Meliodas cemberut mendengar kakaknya berkata 'mungkin'.
"Ayolah Onii-chan, jawablah yang pasti". Tekan Meliodas pada Naruto membuat kaksknya itu terkekeh.
Meliodas menatap bingung ke arah Naruto yang terkekeh. Ayolah, dia tidak suka dikerjai terus.
"Hm... Jika begitu, aku harus membantu melakukan apa besok?". Tanya balik Naruto.
Meliodas kesal mendengar itu, pertanyaannya belum juga selesai dijawab mengapa kakaknya malah justru balik bertanya pada dirinya. Naruto semakin terkekeh melihat adiknya kesal karena ia goda.
"Bantu aku supaya lebih kuat". Naruto yang mendengar itu termenung sebentar kemudian tersenyum.
"Bukankah kau sudah sangat kuat ya". Ucap Naruto.
Meliodas memang sudah sangat kuat, tapi itu dalam mode iblis. Dia ingin seperti kakaknya yang memiliki tingkat kekuatan yang sangat besar di mode normalnya.
"Aku tak ingin bergantung pada mode iblisku, aku takut kemarahan menguasai diriku dan melukai seseorang yang ada di sekitarku". Jelas Meliodas.
Naruto memandang ke arah adiknya, oh jadi dia ingin memperkuat mode normalnya. Naruto menciptakan sesuatu yang berbentuk seperti bintang kecil lalu memegangnya.
"Kekuatan sihir 800, kekuatan fisik 1200, kekuatan tekad 1000, tingkat kekuatan 3000". Ujar Naruto setelah menganalisis tingkat kekuatan Meliodas.
"Hm... Itu terlalu kecil untuk klan iblis Otouto". Komentar Naruto.
Meliodas nampak murung mendengar tingkat kekuatan mode normalnya. Dia ingin lebih kuat agar Onii-chan nya bangga.
"Untuk itu, Onii-chan maukah kau membantuku menaikkan tingkat kekuatanku?". Pintanya memohon.
Naruto menatap adiknya dengan pandangan teduh, "Berikan aku satu alasan mengapa kau ingin kuat". Perintah Pria pirang dewasa itu.
"Aku ingin melindungi seseorang yang berharga bagiku, aku juga akan melindungi sesuatu yang berharga bagi orang lain". Tegas Meliodas.
Naruto terdiam mencerna kalimat yang diutarakan adiknya. Tak lama kemudian senyum menawan menghiasi wajahnya.
"Souka, aku akan membuatmu jauh lebih kuat". Yakin Naruto membuat Meliodas yang mendengar memeluknya.
"Arigatou... Onii-chan". Ucap Meliodas memeluk erat Kakaknya.
Naruto membalas pelukan itu, senyumnya belum luntur dari bibirnya. Dengan senang hati ia akan membuat adiknya jauh lebih kuat dari sekarang.
Skip
Setelah itu, Meliodas pamit untuk pulang. Meliodas sempat mengajak Naruto pulang tapi kakaknya itu ingin masih lama-lama di tempat itu.
Naruto berjalan ke arah bajunya berada lalu mengambil serta memakainya. Surai pirangnya berkibar karena hembusan angin yang melanda tempat itu. Mata birunya memandang bulan yang bersinar dengan eloknya.
Naruto semakin terbawa suasana dan memilih duduk ingin lebih lama merasakan keindahan malam hari. Netranya menatap ke langit dimana bintang juga pamer akan sinarnya.
"Kau juga suka langit malam kah?". Suara khas wanita tapi terkesan datar memasuki indra pendengarannya.
Naruto mengacuhkan wanita itu dan masih terus menatap ke arah langit. Si wanita yang diacuhkan nampak tak peduli dan ikut duduk di sebelahnya.
Keheningan terjadi di antara mereka, meskipun Naruto lebih suka diam tapi di situasi seperti ini yang belum terbiasa membuatnya sedikit tak nyaman.
Naruto menoleh ke samping kanannya, melihat seorang gadis bertubuh kecil bersurai perak menatap langit dengan pandangan kosongnya. Mata biru Naruto melihat betapa kosongnya tatapan dari gadis itu.
"Aku sepertinya pernah melihatmu". Naruto membuka pembicaraan.
Gadis itu menoleh menghadap Naruto, mata hitam kosongnya membuat Naruto sedikit tak enak jika melihatnya.
"Aku Merascylla, salah satu 10 Perintah Tuhan yang memegang perintah Keyakinan". Ucapnya dengan datar.
"Oh, jadi kau salah satu dari mereka ya". Kata Naruto.
Merascylla nampak mengangguk kecil kemudian kembali menatap langit. Pakaian putih miliknya yang terbilang minim tidak membuat tubuhnya kedinginan. Itu wajar karena Klan Iblis tahan dingin dan panas normal.
Naruto nampak penasaran dengan gadis dihadapannya, dia sedikit tertarik dengannya yang tak memiliki satupun ekspresi.
Singkat cerita, setiap malam mereka pasti akan bertemu disana dan menatap langit bersama. Hal itu mereka lakukan setiap hari tanpa bosan sedikitpun. Tapi untuk kali ini, pertemuan mereka berada di kerajaan iblis dimana sepuluh perintah tuhan akan menjalankan tugas mereka.
Di Istana Iblis
Tampak 10 Perintah Tuhan berjajar rapi menunggu tugas yang akan diberikan mereka. Sebuah pintu besar terbuka menampilkan seorang pria dewasa bersurai pirang keemasan dan dibelakangnya diikuti oleh pria bermata biru safir.
"Lucifer-sama". Hormat mereka dengan berlutut.
Pria itu yang diketahui Raja Iblis nampak mengibaskan tangannya menyuruh mereka berdiri.
"Kalian akan menjalankan tugas dariku. Seperti yang kalian tahu, Enam Ksatria Hitam tidak lama lagi akan memeberontak dan akan pergi ke permukaan untuk memporak-porandakan dunia manusia". Terang Lucifer.
"Aku ingin kalian membawa mereka ke hadapanku, tidak usah membunuh mereka jika tak diperlukan". Nasihatnya dengan tenang.
"Sepertinya mereka dendam terhadap Meliodas yang tak membuat salah satu dari mereka masuk ke jajaran 10 perintah Tuhan". Perkataan Lucifer membuat mereka mengerti.
"Untuk menghadapi Keenam Ksatria Hitam, bukankah berlebihan jika Anda mengirim kami semua". Ujar Estarossa membuat Raja Iblis menyeringai.
"Aku tak akan mengirim kalian semuanya sekaligus. Yang akan pergi adalah Perintah Keyakinan Merascylla, Perintah Kesabaran Dolor, Perintah Ketenangan Gloxinia dan untuk menjamin keberhasilan, Naruto akan menemani kalian". Ucapnya tegas.
Naruto yang merasa terpanggil maju sedikit menampakkan dirinya. Dengan santai dia mengangguk mengerti.
"Kau berhutang padaku lagi oyaji". Kata Naruto mendecih, mau tak mau dia harus mengikuti perintah ayahnya.
Sedangkan Lucifer terkekeh menanggapi perkataan putra sulungnya itu.
"Untuk yang lainnya kalian akan melakukan misi yang lebih penting". Mereka yang disana nampak penasaran dengan misi yang akan diberikan.
Naruto nampak tak peduli, lagian juga dia sedikit tidak suka dengan misi yang akan ayahnya berikan untuk 10 Perintah Tuhan yang lainnya.
"Carilah sebuah mawar hijau". Perintah Lucifer membuat keterkejutan diantara mereka.
"Nani? Tou-sama, apa ada mawar berwarna hijau". Sanggah Zeldris nampak terkejut mendengar misi aneh itu.
Lucifer menatap anak bungsunya itu dengan tatapan malasnya. "Tentu saja ada, jika tidak ada mengapa aku memberikan kalian misi ini". Jelas Lucifer.
Yang lainnya nampak mengerti, yah meskipun mereka tak yakin bisa menemukan mawar berwarna hijau.
"Untuk lebih jelasnya, kalian bisa bertanya pada Naruto". Mendengar namanya disebut lagi membuat Naruto sedikit kesal.
Ayahnya itu apa sengaja membuatnya repot. Padahal dia juga tahu tentang hal itu, cih Naruto sangat tak menyukai ini.
"Kenapa lagi-lagi aku oyaji". Naruto menanggapi dengan nada malasnya.
Lucifer sedikit terkekeh, "Aku hanya membuatmu sedikit berguna". Jujurnya.
Naruto sweatdrop, apa selama ini dia tidak berguna begitu. Dibalik kehebatannya, ayahnya senang sekali membuat anaknya repot. Bahkan dulu pernah Naruto keliling Wilayah Klan Iblis hanya untuk mencari ibunya yang ternyata berduaan dengan ayahnya.
"Mawar Hijau termasuk tumbuhan langka, hanya bisa dipetik seratus tahun sekali. Memiliki keistimewaan tersendiri yang hanya diketahui oya-ehem maksudku Lucifer-sama". Penjelasan dari Naruto membuat mereka sedikit mengerti.
"Lantas dimana bunga itu berada?". Tanya Gloxinia, sebagai penyuka tumbuhan dia tak sabar untuk melihat bunga langka tersebut.
"Rumor mengatakan bunga itu berada di wilayah iblis bagian dalam".
Dongg~
Mereka kompak jatuh dengan tidak elitnya. Jika berada di wilayah klan iblis, mengapa mereka disuruh repot-repot mencarinya.
"Eto... Onii-sama. Mengapa kita harus mencarinya jika itu berada di wilayah kita sendiri. Bukankah Tou-sama dapat mengambilnya sendiri". Bingung Estarossa.
Naruto nampak menghela nafas, "Kau tahu dia kan". Sambil menunjuk tak sopan ke arah Lucifer.
"Dia itu memiliki penyakit kemalasan tingkat akut. Entah mengapa jika tidak dipaksa Kaa-sama dia pasti tak akan mau melakukan hal merepotkan". Ucapan Naruto membuat yang disana sweatdrop mendengar sifat absurd dari Raja dari seluruh iblis itu.
"Jadi, apa kendalanya?". Tanya Monspeet.
"Kalian bisa menemukan bunga itu di Gua Kehampaan yang berada di sebelah barat kerajaan". Naruto pun melanjutkan, "Untuk sampai di tempat bunga itu kalian harus menghadapi replika dari diri kalian yang memiliki kekuatan yang sama dari kalian".
"Bukankah replika itu adalah mode iblis dari diri kita". Ujar gadis bersurai cokelat muda aka Derrerie.
Naruto mengangguk, "Benar, lawanlah menggunakan kekuatan normal kalian. Misi ini juga bisa membuat kalian bertambah kuat dan hitung-hitung sebagai latihan".
Kesepuluh Perintah Tuhan mengangguk mengerti, mereka sepertinya tertarik dengan hal yang akan menunggu mereka di Gua Kehampaan.
"Baiklah mungkin itu saja, oh ya disana kalian akan bertemu dengan Meliodas jika tidak salah". Ucapan Naruto membuat mereka penasaran.
"Mengapa dia disana Naruto?". Tanya Lucifer padanya.
"Dia ingin mode normalnya lebih kuat dan tak bergantung dengan mode iblisnya". Jawab Naruto.
"Souka. Ehem Kalian bisa melakukan misi itu sekarang!!". Perintah Lucifer.
Kesepuluh Perintah Tuhan mengangguk dan segera pergi menjalankan misinya masing-masing. Naruto dengan malas berjalan meninggalkan tempat itu.
Flashback Off
"Hm aku ingat. Kita telah berkali-kali seperti ini". Ujar Naruto.
Merascylla nampak tersenyum senang, "Kau benar Koi. Beginilah kita saat pertama kali bertemu".
Mata Naruto memandang ke arah wanita bersurai perak itu. Meskipun sudah sangat lama dia hidup, Merascylla masihlah sangat cantik dan imut dengan tubuh kecilnya.
Naruto bangkit dari duduknya diikuti oleh Merascylla. Perasaan ini, dia sangat ingin segera menemui adiknya tapi disisi lain, dia tak bisa meninggalkan kekasihnya bersama Perintah Tuhan yang lain.
"Ada apa Naru-koi?". Tanya Merascylla melihat Naruto bangkit dari duduknya.
Naruto melirik ke arah wanita itu kemudian menggeleng, "Iie, daijoubou". Elak Naruto tak ingin memberitahu kekasihnya.
Merascylla menaikkan alisnya, "Apa tentang Meliodas lagi?". Tebak wanita itu membuat Naruto menghela nafas.
"Mengapa kau selalu tau". Gerutu Naruto sedangkan Merascylla hanya terkikik geli.
"Sudah aku bilang jika apa yang kau pikirkan pasti aku tau karena kita telah menyatu". Terang wanita pemegang Perintah Keyakinan itu.
Naruto cemberut lucu, Merascylla semakin terkikik melihat ekspresi kekasih pirangnya itu.
~Cup
Merascylla mengecup pipi Naruto membuat yang dicium sedikit blushing dan terkejut. Ciuman itu hanya sebentar tapi sangat berefek bagi Naruto.
"Kau mencium pipiku lagi hm...". Ujar Naruto.
Merascylla sedikit was-was dengan ekspresi Naruto, dia segera menjauh dari dekat Naruto namun tidak bisa karena tangannya telah lebih dulu dipegang.
"Karena telah mencium pipiku tanpa ijin, kau akan kuberi hukuman". Kata Naruto menyeringai sedangkan Wanita perak itu nampak sedikit memerah.
"Ahhh~". Merascylla mendesah karena tangan Naruto meremas salah satu dadanya.
"Ahh~ maaf ahh kaahhhnn akuuhhh". Pinta Merascylla, desahannya tak bisa terbendung karena Naruto dengan ganas memainkan dadanya.
Naruto melepaskan tangannya dari dada kekasihnya, "Baiklah, kau kumaafkan". Ucap Naruto dengan senyum tak bersalah.
Merascylla masih mengeluarkan semburat merahnya, "Baka baka baka... HENTAI!!!". Teriak Merascylla sedikit malu.
Dengan cepat ia memeluk Naruto, menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya. Dia sungguh malu sekarang.
"Ne, payudaramu lembut juga". Kata Naruto kelewat jujur.
Bukannya marah Merascylla justru sedikit senang mendengar pujian itu, "Yokatta... Dengan itu aku masih terlihat menarik di matamu". Merascylla cukup bersyukur karena Naruto menyukai tubuhnya yang terbilang kecil.
Sementara itu di Tempat Nanatsu no Taizai
"Nani??? Kapan mereka bangkit?". Tanya pria bersurai orange, ditangannya terdapat sebuah bantal berwarna hijau.
"Entahlah, yang pasti jika mereka bangkit itu pertanda buruk". Meliodas mengatakan itu dengan serius.
Merlin memegang dagunya, "10 Perintah Tuhan akan membalas dendam atas kekalahan klan Iblis di perang 3000 tahun yang lalu". Ucapnya.
"Tidak hanya itu kan Merlin". Meliodas menoleh ke arah Merlin kemudian mendapat anggukan darinya.
Mereka yang ada disana saling berpikir dan merasa cemas akan bangkitnya 10 Perintah Tuhan.
Ban menaruh tangannya di saku celananya, "Tenang saja, itu sudah menjadi tugas dari Nanatsu no Taizai untuk menghentikan mereka".
Meliodas mengangguk setuju atas apa yang dikatakan Ban, "Tapi sebelum itu, Merlin jelaskan biodata dari semua anggota 10 Perintah Tuhan". Perintah Meliodas.
Merlin memegang bola hitam kecilnya kemudian menciptakan data yang mengambang di udara berisi gambar wajah dari 10 Perintah Tuhan.
"Yang pertama adalah Estarossa, dia adalah ketua dari 10 Perintah Tuhan yang memegang Perintah Kemurahan Hati. Dia juga yang terkuat dari 10 Perintah Tuhan yang lainnya". Terangnya.
Diane dan King melihat dengan pasti tato yang ada di kepala Estarossa.
"Kenapa tatoo di kepalanya sama dengan orang ini? ". Tanya Diane membandingkan gambar Estarossa dengan gambar di sebelahnya.
"Biarkan Merlin menyelesaikan penjelasannya dulu hoi". Ujarnya.
Merlin cuman tersenyum tak mempermasalahkan hal itu, "Mereka bersaudara". Ucapan Merlin membuat Diane mengangguk mengerti.
"Dia bernama Zeldris, seperti yang kusampaikan tadi dia adalah adik dari Estarossa. Dia memegang Perintah Keyakinan".
"Kemudian ada Gloxinia si Perintah Ketenangan, Dolor Perintah Kesabaran, Monspeet Perintah (entahlah author lupa), Derrerei Perintah (author juga lupa), Grayroad Perintah (Maaf author lupa lagi)". Merlin berhenti sejenak kemudian melanjutkan.
"Fraudrin pemegang Perintah Egois, sebenarnya dia hanya pengganti bukan yang asli". Merlin melirik ke arah Gowther.
"Yang Kesembilan adalah Galan si Perintah Kebenaran. Bagi siapa saja yang berbohong padanya maka akan dikutuk menjadi batu. Dan yang Kesepuluh adalah Merascylla pemegang Perintah Keyakinan, dia juga dikenal sebagai pelahap jiwa karena dia dapat menghidupkan jiwa-jiwa yang telah mati". Merlin menyelesaikan penjelasannya.
Mereka yang ada disana terdiam mencoba memasukkan informasi yang disampaikan Merlin ke otak mereka masing-masing.
"Merlin". Panggil Meliodas membuat atensi Merlin menuju ke arahnya.
"Apa 'dia' ikut bangkit?". Tanyanya dengan sedikit cemas.
Ban, King, dan Diane menaikkan alis mereka bingung.
"Apa maksudmu dengan 'dia' Danchou?". King penasaran, Danchounya itu tak pernah cemas karena suatu hal tapi untuk kali ini dia bisa cemas.
Meliodas nampak bimbang ingin mengungkapkan.
"Jika yang Danchou-dono maksud adalah Naruto-sama, maka kecemasanmu benar".
"Naruto? ". Ucap Ban dan King.
Merlin menghela nafas, "Naruto adalah yang terkuat dari Klan Iblis, kutukannya adalah kekuatan dari Raja Iblis itu sendiri. Dia biasa dikenal Si Absolut dan Si Kehampaan. 10 Perintah yang ada pada kesepuluh Perintah Tuhan juga merupakan bagian dari dirinya". Jelasnya.
"Entah mengapa aku takut mendengar namanya". Ucap Diane takut.
"Bagian terburuk kita adalah jika bertemu dengannya, Naruto memilik tingkat kekuatan 80000 di mode normalnya. Bahkan Raja Iblis bisa seimbang jika melawannya". Perkataan Merlin membuat Nanatsu no Taizai terkejut sekaligus khawatir.
Ban meskipun tampak biasa saja, tapi di dalam hatinya juga merasa takut.
"Jika kalian bertemu dengannya nanti segera lari dari pertempuran". Saran Merlin mendapat tolakan dari Ban.
"Jangan bercanda, aku tak akan sudi jika harus kabur saat bertarung". Ucap Ban sedikit tak suka.
Merlin mengendikkan bahunya, "Itu terserahmu, keabadian tak berlaku padanya". Lanjutnya.
Ban menggertakkan giginya, kenapa ada orang yang sekuat itu . Jika memang dia bertemu dengannya dia tak akan mundur dan rela mati melawannya.
"Ban, jangan keras kepala. Jika kau mati, siapa yang akan melanjutkan tujuanmu". Nasihat Meliodas.
Ban terkesiap, benar kata Danchounya. Jika dia mati siapa yang akan menghidupkan Elaine untuknya. Dia sudah berjanji akan membuat Elaine hidup kembali dan seterusnya hidup bersama-sama. Ban menatap ke arah Danchounya sebentar, dengan sedikit mendecih dia setuju akan hal itu.
"Aku mengerti Danchou". Terimanya pelan.
Skip
Saat ini Meliodas sedang membersihkan cangkir kayu dengan lap putih di tangannya. Dengan lembut dia menggosok bagian dalam dan luar cangkir.
"Meliodas-sama". Kegiatan Meliodas terganggu karena sebuah seruan dari gadis bersurai perak dengan poni menutup salah satu matanya.
Meliodas berpindah pandangannya yang semula dari cangkir ke gadis itu.
"Oh, Elizabeth". Balasnya.
"Apa Benar kau akan berpetualang lagi". Tanya gadis itu yang ternyata adalah Elizabeth.
"Ya". Jawaban singkat dari Meliodas membuat Elizabeth senang.
"Jika begitu, aku akan mengemasi barang-barangku". Ucapnya.
Meliodas terdiam sebentar, "Iie, kau tidak akan ikut". Senyum gadis berpakaian ala maid itu luntur mendengar perkataan Meliodas.
Meliodas menaruh cangkir yang ada di tangannya ke rak kemudian mengambil sebuah botol kaca lalu mengelapnya.
"Meliodas-sama, padahal kau sudah berjanji jika masalah selesai kita akan membuka kedai ini bersama". Elizabeth masih terkejut dengan penolakan Meliodas tadi.
Sedangkan Meliodas masih sibuk mengelap botol di tangannya, "Apa kau tidak salah dengar?". Elaknya kemudian pergi ke arah rak yang ada di belakangnya.
Elizabeth merasa curiga, "Ini aneh, apa ada yang kau sembunyikan?". Tanyanya pada Meliodas yang ingin meletakkan botol di tempat yang seharusnya.
Mata Meliodas menggelap sebentar, botol di tangannya masih ia pegang. Dengan cepat ia berbalik.
"Tidak ada yang kusembunyikan darimu". Lirihnya pelan.
Elizabeth menatap pria yang dicintainya itu dengan sedih, bisakah untuk sekali saja Meliodas terbuka meskipun menyangkut keselamatan dirinya.
"Aku mencoba membantumu sebisaku tapi, jika kau tak ingin memberitahu apa yang sebenarnya terjadi aku merasa tak berguna". Meliodas masih diam tak ingin menanggapi.
"Aku...tidak ingin selalu berada di belakangmu, mungkin bagimu tidak masalah tapi menurutku itu tidak pantas". Ucapan Elizabeth membuat Meliodas mendongak.
"Aku yang bukan siapa-siapa bagimu dan kelompokmu namun kau dengan senang hati selalu melindungiku. Apa artinya aku bagimu Meliodas? Aku...selalu memikirkan hal itu setiap hari bahkan setiap malam". Gadis bersurai perak itu menundukkan kepalanya, rasanya air mata miliknya akan tumpah sebentar lagi.
"Jika memang aku hanya sekedar temanmu, apa aku sangat begitu berharga bagimu hingga kau rela mengorbankan nyawamu demiku. Atau semua ini hanya karena aku seorang Putri dari Kerajaan Liones". Lirihnya.
~Grep
Pelukan hangat dirasakan oleh Elizabeth, si pelaku pemelukan yaitu Meliodas nampak memeluk dengan sayang gadis perak itu. Hati Meliodas sungguh sakit melihat Elizabeth sedih karenanya.
"Kau sesuatu yang berharga bagiku, jangan tanyakan itu lagi. Aku rela mati demi dirimu itu karena aku begitu tak ingin kehilanganmu". Jujurnya, untuk saat ini Meliodas tak ingin egois dan membuat gadis itu bersedih.
Elizabeth tersenyum senang, meskipun pelukan itu tak seimbang tapi dia masih bisa merasakan nyaman dibalik hal itu.
"Meliodas-sama, arigatou..". Ujarnya pelan.
Mereka mengakhiri pelukan yang tak seimbang itu. Meliodas tersenyum ke arah Elizabeth dan dibalas senyum indah dari gadis bersurai perak itu.
"Ngomong-ngomong". Meliodas berhenti berbicara.
~Wush
Dengan cepat ia berpindah ke belakang Elizabeth, tanpa aba-aba dia meremas dada gadis itu membuatnya mendesah.
"Hm...kau memakai baju baru, aku suka ketetatannya yang sangat pas". Ucapnya dan masih memainkan dadanya Elizabeth.
"Iyahhhhh~".
~Cuinggg ~Bugh
Tiba-tiba seekor babi berwarna pink menyundul meliodas membuatnya terpental jatuh di lantai. Hidungnya sudah mengeluarkan asap putih pertanda dia marah.
"Apa yang kau lakukan ero-Danchou". Ucap babi itu dengan marah.
"Yo, Hawk". Meliodas yang bangkit dari jatuhnya menyapa babi yang bernama Hawk dengan wajah innocent.
"Eto... Meliodas-sama, apa kau memperbolehkan aku ikut petualanganmu?". Tanya Elizabeth.
Meliodas memegang dagunya sedikit berpikir, "Tentu saja, tapi tetaplah bersamaku". Ujarnya.
Sedangkan Elizabeth nampak senang, matanya ikut menyipit saking senangnya. Dia mengangguk mengerti.
"Saa, aku ingin pergi berbelanja. Apa kau mau ikut Elizabeth?". Ajak pria cebol itu.
Tanpa pikir panjang Elizabeth menjawab, "Hai' ".
Skip
Di laboratorium Merlin
Terlihat pria berambut pink sedang memegang sebuah pil, dengan cepat ia menelannya.
"Gowther, minum ini setiap hari sekali". Suruh wanita berambut hitam keunguan yaitu Merlin sambil memberikan sebuah tabung kecil berisi banyak pil berwarna ungu.
"Hai' ". Gowther menerima tabung itu kemudian berjalan keluar.
Di luar Gowther membuang tabung berisi pil itu membuatnya tumpah berserakan di rumput. Dia memandang tabung itu dengan datar.
"Oi Gowther". Panggil seseorang yang setelah pria boneka itu berbalik melihat Danchounya aka Meliodas.
"Kita akan berangkat besok atau lusa". Ujar Meliodas dengan tangan berada di sakunya.
"Persiapkan dirimu baik-baik ya". Sarannya sedangkan Gowther masih menatap Meliodas.
"Apakah itu perintah?". Tanyanya dengan datar.
Meliodas berpikir, "Bukan perintah, sih". Ucapnya.
"Jika begitu, aku menolak". Tolak Gowther kemudian berjalan pergi meninggalkan Meliodas.
Meliodas nampak tersenyum melihat itu, tangannya masih setia berada di kedua saku celananya. Dia memejamkan matanya sambil melipatkan tangannya di dadanya saat melihat Gowther bersama dengan gadis bersurai hitam memakai pakaian berwarna biru muda.
"Tumben sekali mereka berduaan". Pikirnya tapi itu tak bertahan lama saat mendengar sebuah suara.
"Ah ini enak sekali". Ucap seekor babi yang sedang memakan sesuatu di rumput.
"Apa yang kau makan Hawk?". Tanyanya membuat Hawk menoleh padanya. Terlihat jika Hawk masih mengunyah makanannya dan sebuah tabung kecil berada di dekatnya.
"Akwu ngwakk mkwan apwa-apwa". Elaknya dengan mulut yang masih mengunyah.
Back to laboratorium
"Oy Merlin". Sapa Meliodas yang sedang melihat Merlin tangannya mengeluarkan sesuatu seperti petir.
"Sudah kuduga cepat atau lambat kau akan datang kemari, Danchou-dono". Duga Merlin yang sudah tau.
Raut muka Meliodas mulai serius, "Merlin, kembalikan apa yang sudah kau rebut di kerajaan 10 tahun yang lalu". Perintahnya.
Merlin menghentikan sihirnya, "Sepertinya berhubungan dengan 10 Perintah Tuhan ya?". Tebak Wanita itu.
"Baiklah kita langsung ke intinya". Lanjut Merlin.
To Be Continued
Hai hai bertemu lagi dengan saya author gaje ini.
Ehem pertama-tama saya mengucapkan banyak terima kasih bagi kalian yang senantiasa menunggu fic ini ataupun fic saya yang lain. Dan lagi, saya akan menjawab review kalian.
Main chara disini adalah tentu saja Naruto cuman saya belum terlalu menonjolkan Naruto di chap awalan.
Ehem untuk masa lalu naruto saya pure buat sendiri guys, saya juga menambah Lucifer sebagai OC di fic ini. Mungkin juga nanti istrinya mengikuti. Di warning udah saya tulis Alur beda jadi ga masalah.
Untuk yang sudah like dan review author mengucapkan banyak terimakasih. Bagi author kalian adalah penyemangat saya untuk menulis fic, meskipun saya jarang up sekarang yah karena tugas di real life banyak juga.
Oke mungkin segitu dulu dari author, jika ada yang kurang atau salah ketik bisa komen di review pasti author baca kok.
Daaa di next chap.
