Chapter 2

Hello, My First Love

University, Hurt/Comfort, Romance, Humor

Boy X Boy / YAOI

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Kim Jisoo

And Other Cast

With pairing : TaeKook - KookV

.

.

-Cinta pertama adalah cinta yang sulit dilupakan. Kebanyakan orang yang pernah merasakan cinta pertama pasti akan berpendapat demikian. Termasuk Taehyung yang hingga kini belum menemukan cara untuk melupakan cinta pertamanya itu, Jeon Jungkook-.

.

.

Dosen yang akan mengajar tengah melangkahkan kaki menuju kelas. Dengan sedikit terburu-buru, Taehyung dan Yuta berlari kecil menuju ruangan yang telah disediakan kampus untuk mata kuliahnya hari ini dari koridor yang berlawanan. Demi apapun, ini adalah hari senin, mereka tidak ingin terlambat di hari pertama setelah weekend.

Selain itu, Taehyung juga sudah cukup trauma dengan apa yang telah dilakukan dosen mata kuliahnya beberapa bulan lalu. Jadi, ia tak ingin membuat kesalahan lagi. Taehyung juga harus menjadi teman yang baik untuk Yuta yang baru datang ke korea khusus untuk belajar. Ia tak ingin mengecewakan Yuta karena kesalahan yang ia lakukan.

"Persetan denganmu, Yuta. Kenapa kau membiarkan gadis dari kelas sastra inggris itu untuk membuat fanfic tentang diriku?!"

Yuta tertawa, ia memegang kedua bahu Taehyung yang berada disampingnya. "Maaf, maaf. Lagipula, kau tidak boleh mencegah orang lain untuk berkarya, Taehyungie~"

"Kim Taehyung-ssi, bagaimana dengan perjalananmu? Kenapa kau tidak terlambat?"

Taehyung dan Yuta melirik sekilas seorang gadis di depan tempat duduk mereka. Helaan napas panjang mereka berikan setelah mengetahui siapa gadis yang berani mengganggu debat –tak penting- mereka. "Kenapa kau sangat senang jika aku terlambat?"

Gadis itu tersenyum. Sangat menawan, namun bagi Taehyung yang sudah mengenalnya selama dua semester ini pasti tahu makna dalam senyuman itu. "Karena aku suka jika siswa terkenal seperti dirimu dihukum" lanjut gadis itu seraya berbisik.

"Lee Daehyo-ssi, bukankah, kau juga siswi terkenal di kampus ini?" Tanya Taehyung kemudian lewat desisan tajam.

"Bukankah yang kalian maksud itu, 'mahasiswa dan mahasiswi', Taehyung-ssi, Daehyo-ssi?"

"Apa kau bisa diam, Nakamoto Yuta-san?!"

Gadis itu menatap Taehyung lekat dengan tampang datar. Sedangkan Taehyung lebih memilih tidak memperdulikan tatapan itu. Karena, Lee Daehyo adalah musuhnya nomor satu di kampus yang tidak akan pernah mau berhenti mengganggunya kecuali tidak ada yang mempedulikannya. Meski mereka satu jurusan. Kelas sastra Jepang, Taehyung hingga kini masih tidak paham atas kebencian yang dimiliki gadis itu terhadapnya.

.

Dosen dari kelas Taehyung berjalan keluar ruangan. Menandakan para mahasiswanya sudah bisa beristirahat. Melihat Yuta tengah asik mengobrol dengan teman-temannya yang lain. Membuat hati Taehyung sedikit cemburu. Tapi Taehyung bisa apa? karena Yuta bukanlah peliharaannya, melainkan sahabatnya. Jadi, ia lebih memilih tidak mengganggu Yuta dan melangkah pergi keluar kelas.

Kantin adalah tempat pilihannya. Selain kau bisa memakan makanan yang kau inginkan saat di rumah, ibumu melarang untuk memakannya. Taehyung juga bisa menggosip dengan temannya yang lain. Entah membicarakan komik keluaran terbaru atau yang lainnya, meski sesekali Taehyung harus menyapa balik para kenalannya maupun para penggemarnya.

Atensinya berubah ketika merasakan ada pergerakan disampingnya. Ada dua orang pemuda yang duduk di sisi kanan dan kirinya.

"Aku tahu banyak tentang kisah komik yang sedang kau baca" Ujar si pemuda bersurai blonde memulai perbincangan. Taehyung dengan tenang menutup komik dan menaruhnya di atas meja, menatap pemuda di samping kanan dengan tampang tak peduli.

"Apa kau tidak mau tahu kelanjutan komik yang sedang kau baca itu?" Tanya pemuda itu –lagi-. Mengangkat komik Taehyung dengan senyuman lebar.

Taehyung mengangkat sebelah alisnya. merespon pertanyaan pemuda di sampingnya dengan santai. "Tentu saja aku mau… tapi biarlah aku mencari tahu sendiri" Tangan kanannya meraih kembali komiknya dari genggaman pemuda itu.

"Oh ya, kenapa kau masih membaca chapter 56? Bukankah, minggu ini mereka merilis chapter 65?"

Taehyung yang hendak membaca kembali, mengalihkan atensinya pada pemuda di sebelah kirinya. "Apa urusannya denganmu? Bisakah kau diam sebentar?"

Pemuda itu terkesiap. Melebarkan kedua matanya. "A-aku minta maaf…"

"TaeTae~~"

"Diam, Jiminie!"

"Tae~~"

"Berisik Jisoo!"

"Ta—"

Drrttt. Taehyung meraih ponselnya di saku kanan jas almamaternya. Ada banyak notif pesan tertera di layarnya. Dua notif pesan masuk dari seorang temannya, sebanyak 999+ dari Group Chat dan Kontak resmi yang Taehyung ikuti.

Park Boram._.

Tae? Kemarin Jungkook meminta kontak ID Line-mu, ada apa? 10.25

Maaf, jika aku mengganggumu. Aku hanya penasaran hehe. 10.26

Taehyung diam memandangi pesan-pesan itu. Park Boram adalah gadis yang Taehyung percayakan pada Jungkook jika pemuda itu menginginkan kontak Line nya kemarin di perjalanan menuju kampus.

"Ada apa, Tae?"

Dia menggeleng lemah. Jika Taehyung menceritakan pesan masuk dari Boram pada Jisoo, pemuda itu pasti akan menceramahinya berjam-jam, ditambah Jimin yang mungkin –dan pasti- akan berteriak heboh lalu mencekik lehernya. Sadis? Memang. Karena mereka tidak pernah –sebelumnya- mendapatkan teman sebodoh Taehyung.

"Bukan apa-apa"

Setelah itu. Baik Taehyung, Jimin dan Jisoo kembali pada kesibukan mereka masing-masing dengan tenang. Tak menyadari seseorang sedang gelagapan mencari Taehyung di kelas.

.

~/(^o^)/~

.

Di saat semua aktivitas dalam kampus telah usai. Jam dua belas lebih sepuluh menit waktu setempat, Taehyung dan Yuta melangkah menuju gerbang universitas, bermaksud pulang meski teman-temannya sudah mengajak mereka untuk pergi ke game centre.

Dalam hati, sebenarnya Taehyung tengah memikirkan jawaban yang pantas untuk membalas chat Boram. Dia tidak mungkin membiarkan pesan itu berlumut di obrolan Line nya. Tapi sebelum itu, sebaiknya Taehyung pergi ke suatu tempat untuk menjernihkan pikirannya.

Setelah meninggalkan Yuta di halte bus depan kampus, Taehyung memilih berjalan kaki menuju sebuah tempat yang kemarin ia kunjungi. Mungkin menghirup udara sejuk bisa membuahkan ide untuk menjawab pesan Boram agar gadis itu tidak curiga padanya. Tapi tunggu?!—

Taehyung tak hentinya menyatukan kedua alis tebal matanya. Otaknya sedang berpikir keras. Kenapa aku yang harus menjawab pertanyaan Boram?, Kenapa aku yang was-was?, Kenapa aku yang ketakutan?. –Taehyung menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah bangku taman.

"Dasar aneh, seharusnya dia bertanya pada Jungkook, bukan padaku!—"

"—Atau sebaiknya aku chat Jungkook saja, meminta saran sebelum menjawab pertanyaan gadis itu? Atau… Memberitahu Jungkook saja soal pertanyaan gadis itu dan Jungkook pasti akan langsung memberikan jawaban pada Boram-ssi"

Dia duduk sambil bermonolog ria. Taehyung memijat keningnya saat pusing lagi-lagi mendera kepalanya. Dia hampir menutup mata ketika dia merasakan sebuah gerakan dari samping kiri. Buru-buru Taehyung mengalihkan atensinya pada seorang pemuda yang kini tengah tersenyum padanya.

Dia adalah orang yang sampai detik ini belum bisa Taehyung lupakan. dia adalah cinta pertama Taehyung di senior high school. Dia adalah orang yang barusan Taehyung sebut-sebut namanya.

"Aku bingung, kenapa kita baru bertemu jika kampus kita searah?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Jungkook.

"A-aku menunda satu tahunku untuk membantu eomma di toko kuenya"

"Ah— pantas saja"

Diam.

Setelah itu tak ada yang bicara. Taehyung dengan pikirannya dan Jungkook pun dengan pikirannya.

Taehyung tetap tidak bicara meski ada beberapa gadis yang tiba-tiba datang untuk meminta tanda tangan Jungkook. Taehyung sendiri baru tahu ternyata pekerjaan Jungkook adalah seseorang yang biasa mengcover lagu milik penyanyi menggunakan gitar dan mengunggah videonya ke akun youtube.

Di Jepang, pekerjaan seperti itu di sebut Uttaite. Sama seperti Sako Tomohisa yang sudah debut menjadi penyanyi 'sungguhan' di tahun 2012.

"Terima kasih"

Pemuda yang biasa dipanggil TaeTae oleh teman-temannya itu memandang Jungkook. Sedikit terkejut karena ia sempat melamun. "Terima kasih, untuk apa?"

"Terima kasih atas semua bantuanmu. Sehingga aku bisa masuk ke universitas"

Jungkook tersenyum padanya dengan lembut. Dia baru ingat jika dia sudah banyak membantu Jungkook di senior high school.

Menuliskan catatan Jungkook yang belum selesai, membantu Jungkook mengerjakan tugas bahasa inggris, berbagi buku paket milik sekolah disaat Jungkook tidak membawanya, membelikan Jungkook makanan ketika pemuda itu melupakan uang jajannya, dan banyak… banyak sekali bantuan yang telah Taehyung lakukan untuk Jungkook, termasuk tugas kelompok dan tugas individu mata pelajaran komputer.

"Ah ya… sama-sama— Tapi, Jungkook-ssi"

"Ya?"

"Ku dengar dari Boram-ssi, kau kuliah karena orang tuamu memintamu untuk menjaga sepupumu? Kau sebenarnya tidak mau kuliah, kau ingin langsung bekerja, ya 'kan? Aku benar?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Dulu saat ada reuni kecil-kecilan di rumah Boram-ssi, dia mengatakan itu"

"I-iya… seperti itulah. Oh?! Soal Yuta-kun…"

Tubuh Taehyung menegang. Dia lupa jika kemarin dia sangat membenci ucapan 'selamat' dari Jungkook ketika pemuda itu menanggapi kalimat 'bodoh' Yuta. Hingga membuat Taehyung benar-benar kesal. "Kau tahu namanya?"

Jungkook tertawa kecil, mendengar respon Taehyung yang berubah dingin. "Maaf soal kemarin! Aku tidak tahu jika Yuta-kun adalah siswa pertukaran hehehe…"

"Tidak apa-apa…"

"Jadi, itu artinya, aku masih punya kesempatan?"

"HAH?! APA?!" Jungkook buru-buru menggeleng. Ia hanya tersenyum tanpa melihat ekspresi bingung Taehyung.

Taehyung sendiri kesal dengan para penggemar seniornya di kampus, Lee Min Ho –yang tiba-tiba datang-, selalu saja merusak suasana bahagia orang! –Ya, Taehyung bahagia karena bertemu Jungkook lagi—.

Untuk apa mereka berteriak di tempat umum, heh?!. Taehyung tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Jungkook.

"MINHO OPPA, BIARKAN AKU MEMBAYAR MAKANANMU DI STARBUCKS NANTI!"

"Tidak perlu! Aku akan membayarnya sendiri"

"KYAAA~~~"

"Geez! Maaf, tadi aku tidak mendengarmu! Apa yang kau katakan tadi?"

"Bukan apa-apa…"

Taehyung ingin menangis. sebenarnya, ini bukan kali pertama dia meminta Jungkook untuk mengulang kata-katanya.

Dulu, saat di senior high school, saat guru Seni menyuruh mereka untuk membuat kelompok. Keadaan sedang ricuh dan tidak kondusif untuk membicarakan hal itu karena jam menunjukkan waktu istirahat pertama.

Jungkook duduk di belakang Taehyung, di depan mereka ada Junghwa yang sedang mengobrol dengan ketua kelas. Taehyung dengan jelas mendengar jika Jungkook bicara padanya, tapi Jungkook tidak ingin mengulangnya.

"Tae… ayo kita sekelompok…"

"Ya? apa katamu?"

Taehyung baru akan membalikkan tubuhnya menghadap Jungkook dan bersorak dalam hatinya saat Jungkook mengajaknya untuk satu kelompok. Mereka baru saja mengobrol meski dengan posisi Taehyung membelakangi Jungkook. Namun, jawaban pemuda Jeon membuat Taehyung hanya diam, tidak bisa memaksa kehendak pemuda itu untuk mengatakan ajakannya lagi.

"Tidak… bukan apa-apa…"

Setelahnya Taehyung hanya tersenyum. Memaklumi keadaan Jungkook. karena, jika kelompok tidak dibuat langsung oleh Seonsaengnim dan dibentuk dengan murid, Jungkook belum pernah satu kelompok dengannya. Dia akan bergabung dengan Junghwa, Minki, Sungjae dan yang lain.

Awalnya, Taehyung hanya ingin memastikan soal ajakan itu sembari mengira-ngira jika Jungkook juga menginginkan Taehyung berada di sampingnya. Tapi, setelah mendengar jawaban Jungkook yang menghancurkan harapannya… Taehyung semakin yakin, perasaan Jungkook padanya tidaklah lebih dari sekedar teman yang membantu teman yang sedang dalam kesulitan.

"O-oh ya… kenapa kau bisa tahu soal Yuta?"

Jungkook tersenyum, menatap Taehyung dengan pandangan geli. "Aku tidak sengaja melihat layar ponsel teman sekamarku di asrama, menunjukkan fotonya dan Yuta-kun. Ternyata mereka teman masa kecil"

"Apa mereka sama-sama mahasiswa pertukaran?"

Jungkook mengangguk.

"Eum— Kalau begitu, aku pulang duluan, Jungkook-ssi"

Taehyung menatap pergelangan tangan kirinya yang dipegang Jungkook, menahan pemuda Kim sebelum dia pergi. "Tidak perlu seformal itu. Panggil saja Jungkook"

Pemuda di depannya tampak menelan ludahnya sendiri. Taehyung gugup, dipandang Jungkook dan mendengar suara baritone milik teman lamanya. "Ba-baiklah…"

.

Kedua kaki jenjang Taehyung berjalan dengan santai menuju halte. Pikirannya melayang pada moment-moment ketika dia bersama Jungkook di senior high school hingga moment mereka beberapa saat lalu di taman kota.

Kemudian tangan kirinya dia angkat, menggenggam tepat di pergelangannya. Berusaha mengingat bagaimana sentuhan Jungkook itu terasa mengenai kulit luarnya. Membandingkan sentuhan-sentuhan Jungkook yang lalu. Adakah perubahan berarti yang menandakan pemuda itu menyukainya?. Sedetik kemudian, kedua matanya membola mengingat sesuatu.

"Arghh! Aku lupa membicarakan soal chat Boram-ssi!"

.

~/(^o^)/~

.

Keesokan harinya, Taehyung, Yuta, Jimin dan Jisoo menghabiskan waktu mereka di mall yang letaknya tidak jauh dari kampus. Tiga diantara mereka bersorak gembira kala movie yang ditunggu sejak jauh hari akhirnya rilis dan siap diputar beberapa menit lagi.

Taehyung memilih diam. Di kursi tunggu di luar gedung bioskop lantai dua itu. Dia sibuk dengan ponselnya, tak memperdulikan keributan yang berasal dari ketiga temannya; tidak sabar melihat artis favorite mereka, Son Yejin.

"Tae! Kau yakin tidak ikut masuk?!"

Merasa dipanggil, Taehyung menoleh ke arah tiga pemuda yang memandangnya khawatir. Masih ada sekitar delapan menit sebelum pintu teater 3 dibuka dan movie terbaru akan ditayangkan. Tapi Taehyung menggeleng, tetap pada tujuannya, hanya mengantar mereka sampai ruang tunggu di luar bioskop.

"Aku akan menunggu kalian saja"

"Dua jam lamanya Tae, kami takut ka—"

"Tidak apa-apa Jiminie, baterai ponselku masih delapan puluh tiga persen. Aku bisa menghabiskan waktuku untuk bermain game"

Yuta menghela napas. "Jangan pergi kemana-mana sebelum kami selesai, OK!"

"OK!"

Tak berselang lama, pintu yang menjadi pembatas ruang tunggu dan ruangan bioskop pun terbuka. Mempersilahkan semua orang yang ingin menonton movie berjalan rapi memasukinya. Meninggalkan Taehyung yang menyembunyikan sebuah senyuman misterius. "Aku bisa mengelilingi mall ini dulu sebelum mereka keluar, 'kan?"

.

Pemuda Kim itu masih asik dengan ponselnya sebelum melakukan petualangan kecilnya di mall. Hingga tidak menyadari ada seorang pemuda lain yang menatapnya dari jauh. Sedang menerka 'apakah pemuda yang sedang memainkan ponselnya itu adalah kenalannya atau bukan'.

Beberapa saat kemudian, pemuda dengan tas hitam itu melangkah maju dengan percaya diri. Menghampiri Taehyung yang sebelumnya mengangkat kepala untuk melihat keadaan sekitar –membuat pemuda yang menatapnya dari jauh tadi yakin jika itu adalah kenalannya-.

"Tae? Kau di sini?"

Mendongak. Taehyung mengangkat wajahnya dan melihat ada Jungkook yang duduk di samping kirinya. Jantungnya berdegup cepat bukan main. Dia sedikit meremat ponsel pintarnya sebelum mengangguk dengan gugup.

"Kau sendirian"

"A-aku dengan teman-temanku. Me-mereka sedang di Bi-Bioskop"

"Ah! Kenapa kau tidak ikut?"

"A-aku tidak suka. Itu membuat kepalaku sakit"

Jungkook bingung. Ok. Mungkin maksud Taehyung adalah 'ketika kau berada di Bioskop maka kau harus rela mendongakkan kepalamu'. Tapi, bukankah masih ada kursi di belakang? Dengan begitu, Taehyung tidak perlu mendongak. Dia hanya harus menatap lurus ke depan.

"Aku tidak suka melihat layar besar itu" Seakan mengerti tatapan Jungkook padanya, Taehyung menambahkan jawaban atas pertanyaan teman lamanya.

"Baiklah, tidak perlu dibahas"

"Bagaimana denganmu, Ju-Jungkook-ssi?"

"Aku baru saja selesai makan siang di MCd dan ingin berkeliling sebentar, jadi aku meninggalkan teman-temanku yang masih mengobrol di sana"

"O-oh…"

"Kau tidak pulang saja?"

"Ti-tidak! Aku ingin menghabiskan waktuku di sini sebelum pulang"

"Bagaimana kalau berkeliling bersama?"

Blush

Taehyung tidak tahan dengan kedua pipinya yang terasa panas mendadak. Dia menolehkan pandangannya ke arah lain dan mengangguki ajakan Jungkook. "Ta-tapi, bisakah kita pergi ke toko buku dulu?"

"Tentu!"

.

Dua teman lama di senior high school itu berjalan lurus melewati gedung bioskop untuk menuju toko buku yang letaknya tidak jauh dari sana. Meski kadang tawa terdengar dari bibir keduanya, tidak bisa dipungkiri jika Jungkook dan Taehyung sama-sama gugup. Ayolah, mereka tidak cukup dekat.

Tapi Taehyung suka. Dia sangat suka keadaan seperti ini. Ketika dia dan orang yang di sukainya melakukan perjalanan berdua, terlebih lagi degup jantungnya yang terus berdetak melewati batas normal dan kedua tangannya yang terasa dingin. Entah kenapa Taehyung tersenyum karena bisa merasakan kembali sensasi yang dulu pernah dirasakannya saat duduk berdua dengan Jungkook di dalam kelas.

Sensasi yang hampir setahun belakangan tidak lagi dirasakannya. Dan Taehyung berjanji untuk mengingat petualangan kecil ini sebelum ia mendapatkan pendamping hidup.

Menyadari otaknya memikirkan hal aneh, Taehyung menggelengkan kepalanya pelan. Dia yang jalannya sedikit di belakang Jungkook, menatap punggung pemuda itu dengan sendu. 'jika saja pendamping hidupku adalah Jungkook-ssi, aku tidak akan melupakan moment ini'. Tapi kalau bukan, tentu saja Taehyung berjanji pada pasangan hidupnya kelak untuk melupakan semua kenangan bersama cinta lamanya.

"Tae!"

"Ya?"

Jungkook terkekeh. Lucu melihat tingkah Taehyung yang terkejut karena di 'bangunkan' secara paksa dari lamunannya. "Maaf. Jadi, kau mau beli buku apa?"

Tanpa memperdulikan Jungkook yang mengikutinya dari belakang, Taehyung berjalan cepat menuju sebuah rak bertuliskan 'musik'. Di sana banyak macam-macam buku untuk mempelajari musik dan tentu… banyak juga majalah-majalah mengenai penyanyi, girlband-boyband, maupun band di Negara mereka.

"Kau— Ingin membeli yang seperti ini?"

Taehyung menoleh pada Jungkook dengan tatapan kesal. "Jika kau tidak suka! Jangan menyentuhnya!"

Kedua mata Jungkook membola. Terkejut dengan sikap Taehyung. Dia memang tahu bahwa Taehyung sangat menyukai hal-hal seperti itu. Dia adalah fanboy BTS, Jungkook tahu. Maka, ketika dia mendapat perlakuan seperti tadi, Jungkook berjanji untuk tidak menyinggung perasaan Taehyung lagi.

"O-ok… aku minta maaf"

Taehyung memilih tidak mendengarkan Jungkook. Dan Jungkook tahu, meski temannya tidak merespon, dia tahu jika Taehyung sudah memaafkannya dari ajakan Taehyung yang menyuruhnya untuk mengikuti langkahnya, berpindah menuju rak tempat komik di letakkan.

"Woah! Komik ini baru rilis! Aku harus membelinya!"

Jungkook hanya tersenyum maklum. Sikap kekanakan Taehyung satu itu sepertinya tidak akan pernah hilang.

Hingga tak terasa sudah tiga puluh menit, mereka berdua menghabiskan waktu di toko buku. Jungkook dan Taehyung berjalan ke kasir dengan membawa buku yang berbeda. Ada dua komik dan dua majalah di tangan Taehyung sedangkan Jungkook hanya membawa satu buku pelajaran yang Taehyung ketahui sebagai materi kuliah pemuda Jeon itu.

.

"Aku lapar~ Bisa kita pergi mencari makan?"

"Kau mau makan apa?"

Tanpa sadar Jungkook mengusak puncak kepala Taehyung kala pemuda itu berpikir dengan menampilkan ekspresi menggemaskan.

Taehyung yang menjadi korban hanya bisa diam setelahnya. Wajahnya memerah hingga ke telinga, dan diam-diam Jungkook memperhatikan perubahan ekspresi wajah Taehyung. Benar-benar lucu.

"Ba-bagaimana kalau ke sana! Aku ingin makan yang manis-manis!"

Jadilah mereka menaiki tangga berjalan menuju lantai tiga mall. Mencari makanan yang dimaksud Taehyung.

Makanan manis berbentuk pipih bundar yang terbuat dari tepung dan ditaburi cokelat-strawberry –topping kesukaan Taehyung-. Jungkook yang bahkan sudah kenyang setelah menghabiskan satu porsi burger bersama teman-temannya, merasa tergiur dengan semua topping yang di suguhkan dalam daftar menu.

"Aku choco-cheese"

.

Setelah melakukan petualangan kecil di dalam mall berdua dengan sang cinta lama. Taehyung tak lepas dari senyuman kotaknya yang selalu dia tunjukkan pada Jungkook kala pemuda itu berbincang dengannya.

Sekitar satu jam lebih empat puluh menit, keduanya sampai di tempat pertemuan pertama mereka –ruang tunggu bioskop-. Tinggal sebentar lagi, Yuta, Jimin dan Jisoo akan menampakkan batang hidung mereka di hadapan dua orang yang kini masih sibuk tertawa akibat lelucon dari Jungkook.

"Tae. Apa kau pulang dengan menaiki bus?"

"I-iya, aku harus dua kali turun di pemberhentian sebelum sampai ke rumah"

"Be-begini—" ujar Jungkook gugup. Sebenarnya besok adalah hari rabu dan dosen mata kuliahnya tidak bisa hadir. "Bagaimana kalau kau ikut denganku?"

Mendapatkan ajakan untuk yang kesekian kalinya, Taehyung hanya bisa diam dengan kedua pipi yang bersemu. "Ba-bagaimana bisa? Asramamu dan halte jaraknya cukup ja—"

"Tidak! Besok aku libur, jadi, aku ingin pulang ke rumah. Kau tahu jika kompleks kita searah 'kan?"

"Apa aku tidak merepotkanmu?"

"Tentu saja tidak!"

Mungkin ini adalah hari keberuntungan Taehyung. Jadi, dia mengangguki ajakan Jungkook. Untuk ikut pulang bersama pemuda itu menggunakan motor. Tidak apa-apa jika dia masuk angin, yang terpenting adalah . . . .pertamamu!.

Tiga puluh menit kemudian, pintu ruang bioskop yang dimasuki Jimin, Yuta dan Jisoo terbuka. Ketiga temannya keluar belakangan. Taehyung yang saat itu hendak pamit pulang harus terlibat cek-cok lebih dulu dengan Jisoo dan Jimin yang terus menanyakan 'akan bagaimana' jika Taehyung pulang naik motor bersama Jungkook. Mereka sangat khawatir.

Di sisi lain, Yuta yang menyadari keberadaan Jungkook hanya mendecih tidak suka akibat kejadian kemarin sore di taman kota.

"Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu teman-teman"

"Hati-hati Tae!"

"Jungkook-ssi, tolong jaga TaeTae dengan baik ya! Jangan cepat-cepat! Dia bisa kenapa-napa!"

"Jiminie!—"

HUP— Jungkook membuka lebar kedua bola matanya –lagi-. Saat dengan posesifnya Yuta memeluk pinggang ramping Taehyung. Membisikkan kata-kata sebelum sahabatnya dan musuhnya –Jungkook- pergi dari hadapan mereka untuk pulang.

.

.

.

.

-ToBeContinued-

Maaf lama readers-nim otakku mentok :'((
Sekarang balas review (y) :-D

Odorayaki

Jungkook : berani bayar berapa kalau mau tahu pengakuanku? Kkk~

Nabilla Taehyung

Huaaaa makasih banget udah mau baca ffnya. Iya, ini udah lanjut ya ^^

Dedek (?)

Uname mu bagus Dek! Ohya, saat kamu baca prolog aku udah update chap 1 nya loh ^O^.
Makasih semangat dan reviewnya. Silahkan baca chapter selanjutnya(?) ya hehe

7D

Iya, aku juga kesel sama Jungkook. Seolah-olah nyindir Tae gitu. Nyebelin deh /akungomongapa/ , . Dan ini lanjutannya, terima kasih sudah mampir beybehhh~ *huekk

Ismafebry

Terima kasih atas pujiannya ~^O^~ aku malu tingkat dewa deh ;-D
Sudah di update ya lanjutannya, terima kasih sduah mampir :-*

Kwoshistar

Apanya yang sangar? ;-)
Sudah aku update ya lanjutannya, terima kasih juga semangatnya muachh~~

Kyunie

Iya, Tae ketemu Kookie . dan Tae kayanya bakal GAMON deh ya… apalagi Jungkooknya minta kontaknya dia.
Dan Jungkook ngomong kaya gitu karena mungkin ada alasannya *maybe atau… dia nyindir Tae? hmm… /akungomongapa/(2)

Park Rinhyun-Uchiha

Kecewa? Kookie gak kecewa cuma... 😂😂

Ahra – Joonjin105

Aduhhh~ Kenapa kesel sama ayang-ayangku? ,
Yuta salah apa? Jungkook salah apa? Maafin mereka~~~

GestiPark

Hooh, beraninya nyindir doang(?). Kalau soal Jung-hwa... Eum... Gak koment deh ya hahaha...hooh, Tae GAMON gara2 ketemu JK 😂😂